{"id":71533,"date":"2021-03-15T07:42:55","date_gmt":"2021-03-15T00:42:55","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=71533"},"modified":"2021-03-15T07:42:55","modified_gmt":"2021-03-15T00:42:55","slug":"tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/71533\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun","title":{"rendered":"Tak Terbeli dengan Uang: Saat Penghasilan Naik, Kualitas Diet Penduduk Desa Malah Turun"},"content":{"rendered":"<p>Tampaknya logis saat orang mendapatkan penghasilan lebih, hidupnya jadi \u201clebih baik\u201d. Mungkin benar, pembangunan ekonomi sering berkorelasi dengan peningkatan, antara lain kesehatan dan pendidikan.<\/p>\n<p>Akan tetapi uang tidak bisa membeli semua hal. Dalam soal kesehatan pangan, bukti yang ada dari seluruh dunia tidak semua sama. Kita tahu, orang membelanjakan uangnya untuk makanan berlemak, minuman bergula dan makanan ringan tinggi sodium. Uang banyak tidak selalu berarti memilih makanan yang lebih sehat.<\/p>\n<p>Sebuah <a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/pii\/S2211912421000122\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penelitian<\/a> terbaru dari para peneliti <a href=\"http:\/\/www.uni-goettingen.de\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Universitas Goettingen <\/a> dan <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat penelitian Kehutanan Internasional<\/a> (CIFOR), yang mengeksaminasi relasi antara kualitas diet, keragaman produksi pertanian dan penghasilan rumah tangga desa di Indonesia dalam periode 2000-2015, menyajikan perspektif segar.<\/p>\n<p>\u201cAda argumen, ketika ekonomi negara bertumbuh, kualitas diet penduduknya otomatis meningkat. Akan tetapi apa yang ada tidak selurus seperti yang kita pikirkan,\u201d kata ketua peneliti, Nadjia Mehraban, yang tengah menyelesaikan penelitian doktoral di Universitas Goettingen.<\/p>\n<p>Dalam dua dekade terakhir, ekonomi Indonesia bertumbuh pesat dan kemiskinan menurun signifikan, antara lain karena transisi pertanian tradisional, budi daya dan teknik multi-tanaman menuju pertanian intensif, tanaman tunggal dan komersialisasi \u2013 dengan fokus pada tanaman bernilai tinggi seperti kelapa sawit.<\/p>\n<p>Meluasnya mosaik desa di Indonesia yang berubah menjadi tanaman-tunggal, makin sedikit keluarga dan masyarakat yang membudidayakan dan\/atau memetik keragaman alam, yang seringkali memasok pangan padat nutrisi yang penting dalam diet mereka sebelumnya. Argumen ekonomi konvensional menyatakan, dengan pendapatan uang lebih besar dari pertanian, akses pasar akan meningkat, dan penduduk desa akan mulai membeli pangan yang beragam dan bergizi, daripada menanam atau berburu sendiri.<\/p>\n\n<p>Ternyata rumus ini tidak berlaku. Tentu saja, pertumbuhan ekonomi di Indonesia memberi beberapa dampak positif pada diet: kurang gizi, misalnya, menurun secara signifikan, dari 17 persen populasi pada 1999, menjadi 8,3 persen pada 2017. Namun, malnutrisi tetap menjadi masalah besar, dan tetap bercokolnya tingginya angka kekerdilan (36 persen dari populasi), beriring dengan masalah pertumbuhan lain, serta kegemukan dan obesitas.<\/p>\n<p>Jadi apa yang terjadi? Menggunakan panel data dari Survey Keluarga Indonesia dan data sampel 2.785 keluarga desa, para peneliti melangkah lebih jauh. Sebagai proksi kualitas diet, para peneliti menganalisa dua elemen: keragaman diet dan konsumsi grup pangan kaya-nutrisi.<\/p>\n<p>Peneliti menemukan, sejalan dengan penurunan keragaman produksi \u2013 rumah tangga beralih pada pertanian spesifik \u2013kualitas diet juga cenderung turut menurun.<\/p>\n<p>\u201cApa yang membuat penelitian ini spesial, kami bisa mendapatkan data rumah tangga yang sama dalam rangkaian waktu,\u201d kata ilmuwan senior CIFOR, Amy Ickowitz, salah seorang penulis laporan.<\/p>\n<p>\u201cKami mengamati mereka pada tiga titik antara 2000 dan 2015, hingga mampu melihat perubahan budi daya serta apa yang mereka konsumsi,\u201d katanya. \u201cPetani membudidayakan lebih sedikit jenis pangan dalam rentang tahun dan keragaman pangan yang mereka konsumsi juga menurun. Agak mengejutkan pada beberapa kelompok pangan \u2013 ketika orang kurang menanam buah, sayur, dan legum, mereka juga kurang mengonsumsi pangan bernutrisi bahkan ketika penghasilan meningkat.\u201d<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Konsumi beberapa kelompok pangan padat-nutrisi \u2013 misalnya produk hewan seperti susu, telur dan daging \u2013 memang meningkat sejalan dengan peningkatan penghasilan, meski tidak berbanding lurus dengan kualitas diet. Konsumsi berlebihan jenis pangan ini bisa mengarah pada masalah obesitas, jantung dan darah tinggi.<\/p>\n<p>Beberapa faktor berperan, antara lain ketersediaan dan biaya variasi pangan, akses informasi nutrisi dan nilai kultural yang terdapat pada beragam opsi. Kelemahan manusia yang tidak selalu membuat keputusan yang baik \u2013 terutama soal makanan \u2013 mungkin juga relevan dalam hal ini.<\/p>\n<p>\u201cPilihan makanan kita tidak selalu rasional, jadi mungkin urgensi sistem pangan, dan apa yang tersedia juga berperan,\u201d kata Mehraban. \u201cSeringkali kita perlu sentuhan dari luar untuk memilih hal yang benar.<\/p>\n<p>Pada titik inilah pengambil kebijakan dan masyarakat sipil bisa berperan lebih aktif. \u201cPenelitian ini menyarankan, saat kita ingin meningkatkan diet \u2013 yang merupakan tujuan sangat penting karena malnutrisi berbiaya sangat tinggi bagi kesehatan manusia \u2013 kita perlu mengambil aksi terarah dalam menangani hal ini,\u201d kata Mehraban. \u201cKarena tidak lantas berbanding lurus dengan pembangunan ekonomi.\u201d<\/p>\n<p>Negara berkembang bisa bekerja untuk menghindari penyakit terkait diet yang prevalen di banyak tempat maju secara ekonomi. \u201c[Diet barat] bisa menjadi arahan salah untuk diikuti,\u201d kata Mehraban. \u201cSaya pikir agar tren mengarah pada arah yang tepat, kita perlu juga menargetkan (peningkatan) nutrisi.\u201d<\/p>\n<p>Ickowitz menyatakan, para ilmuwan tidak mencoba berargumen bahwa  peningkatan penghasilan atau akses pasar adalah hal yang buruk.<\/p>\n<p>\u201cSecara sederhana, kami memandang hasil penelitian ini menunjukkan kita tidak bisa hanya berasumsi bahwa peningkatan penghasilan akan menyelesaikan seluruh tantangan diet,\u201d katanya.<\/p>\n<p>\u201cTampaknya ketika para petani menanam lebih sedikit buah dan sayuran, konsumsi terhadap pangan sehat berkurang, jadi perlu desain kebijakan untuk mendorong agar pertanian spesifik dikawal dengan kebijakan yang mendorong sumber alternatif pangan sehat dan menorong perilaku makan yang sehat.\u201d<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tampaknya logis saat orang mendapatkan penghasilan lebih, hidupnya jadi \u201clebih baik\u201d. Mungkin benar, pembangunan ekonomi sering berkorelasi dengan peningkatan, antara lain kesehatan dan pendidikan. Akan tetapi uang tidak bisa membeli semua hal. Dalam soal kesehatan pangan, bukti yang ada dari seluruh dunia tidak semua sama. Kita tahu, orang membelanjakan uangnya untuk makanan berlemak, minuman bergula [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":264,"featured_media":71538,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[2550,7446],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[7144],"class_list":["post-71533","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-ketahanan-pangan","tag-bahasa-pangan","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Tak Terbeli dengan Uang: Saat Penghasilan Naik, Kualitas Diet Penduduk Desa Malah Turun - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/71533\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Tak Terbeli dengan Uang: Saat Penghasilan Naik, Kualitas Diet Penduduk Desa Malah Turun\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Tampaknya logis saat orang mendapatkan penghasilan lebih, hidupnya jadi \u201clebih baik\u201d. Mungkin benar, pembangunan ekonomi sering berkorelasi dengan peningkatan, antara lain kesehatan dan pendidikan. Akan tetapi uang tidak bisa membeli semua hal. Dalam soal kesehatan pangan, bukti yang ada dari seluruh dunia tidak semua sama. Kita tahu, orang membelanjakan uangnya untuk makanan berlemak, minuman bergula [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/71533\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2021-03-15T00:42:55+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/35504974520_fd10e42fed_k.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2048\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1360\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Monica Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/71533\\\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/71533\\\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun\"},\"author\":{\"name\":\"Monica Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\"},\"headline\":\"Tak Terbeli dengan Uang: Saat Penghasilan Naik, Kualitas Diet Penduduk Desa Malah Turun\",\"datePublished\":\"2021-03-15T00:42:55+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/71533\\\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun\"},\"wordCount\":750,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/71533\\\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/03\\\/35504974520_fd10e42fed_k.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/71533\\\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2021\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/71533\\\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/71533\\\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun\",\"name\":\"Tak Terbeli dengan Uang: Saat Penghasilan Naik, Kualitas Diet Penduduk Desa Malah Turun - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/71533\\\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/71533\\\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/03\\\/35504974520_fd10e42fed_k.jpg\",\"datePublished\":\"2021-03-15T00:42:55+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/71533\\\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/71533\\\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/71533\\\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/03\\\/35504974520_fd10e42fed_k.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/03\\\/35504974520_fd10e42fed_k.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1360,\"caption\":\"Masyarakat memanen padi di Desa Dintor, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Foto oleh:\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/71533\\\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Tak Terbeli dengan Uang: Saat Penghasilan Naik, Kualitas Diet Penduduk Desa Malah Turun\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/71533\\\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/71533\\\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\",\"name\":\"Monica Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Monica Evans\"},\"description\":\"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/monica-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/71533\\\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Tak Terbeli dengan Uang: Saat Penghasilan Naik, Kualitas Diet Penduduk Desa Malah Turun - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/71533\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Tak Terbeli dengan Uang: Saat Penghasilan Naik, Kualitas Diet Penduduk Desa Malah Turun","og_description":"Tampaknya logis saat orang mendapatkan penghasilan lebih, hidupnya jadi \u201clebih baik\u201d. Mungkin benar, pembangunan ekonomi sering berkorelasi dengan peningkatan, antara lain kesehatan dan pendidikan. Akan tetapi uang tidak bisa membeli semua hal. Dalam soal kesehatan pangan, bukti yang ada dari seluruh dunia tidak semua sama. Kita tahu, orang membelanjakan uangnya untuk makanan berlemak, minuman bergula [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/71533\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2021-03-15T00:42:55+00:00","og_image":[{"width":2048,"height":1360,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/35504974520_fd10e42fed_k.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Monica Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/71533\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/71533\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun"},"author":{"name":"Monica Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70"},"headline":"Tak Terbeli dengan Uang: Saat Penghasilan Naik, Kualitas Diet Penduduk Desa Malah Turun","datePublished":"2021-03-15T00:42:55+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/71533\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun"},"wordCount":750,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/71533\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/35504974520_fd10e42fed_k.jpg","articleSection":["Forests News"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/71533\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun#respond"]}],"copyrightYear":"2021","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/71533\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/71533\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun","name":"Tak Terbeli dengan Uang: Saat Penghasilan Naik, Kualitas Diet Penduduk Desa Malah Turun - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/71533\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/71533\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/35504974520_fd10e42fed_k.jpg","datePublished":"2021-03-15T00:42:55+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/71533\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/71533\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/71533\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/35504974520_fd10e42fed_k.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/35504974520_fd10e42fed_k.jpg","width":2048,"height":1360,"caption":"Masyarakat memanen padi di Desa Dintor, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Foto oleh:"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/71533\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Tak Terbeli dengan Uang: Saat Penghasilan Naik, Kualitas Diet Penduduk Desa Malah Turun"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/71533\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/71533\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70","name":"Monica Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","caption":"Monica Evans"},"description":"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/monica-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/71533\/tak-terbeli-dengan-uang-saat-penghasilan-naik-kualitas-diet-penduduk-desa-malah-turun#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/35504974520_fd10e42fed_k.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/71533","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/264"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=71533"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/71533\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":71535,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/71533\/revisions\/71535"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/71538"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=71533"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=71533"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=71533"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=71533"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=71533"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=71533"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=71533"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=71533"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=71533"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=71533"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=71533"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=71533"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=71533"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}