{"id":70929,"date":"2021-02-09T14:33:44","date_gmt":"2021-02-09T07:33:44","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=70929"},"modified":"2021-03-09T16:54:01","modified_gmt":"2021-03-09T09:54:01","slug":"cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/70929\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia","title":{"rendered":"Cagar Burung dan Anggrek Papua Menampilkan Kekayaan Keanekaragaman Hayati Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>Papua, wilayah paling timur Indonesia, merupakan wilayah kaya dengan keanekaragaman hayati, menawarkan peluang pengembangan ekowisata, pendidikan lingkungan dan konservasi. Berada di bagian barat Pulau Papua Nugini, sebagian besar wilayahnya ditutupi hutan alam, lahan gambut dan ekosistem lain yang merupakan  \u201clahan pertahanan terakhir\u201d, karena menurut para ilmuwan, wilayah ini merupakan rumah bagi banyak spesies yang belum teridentifikasi. Wilayah ini juga meliputi <a href=\"https:\/\/www.wri.org\/blog\/2018\/11\/indonesias-last-forest-frontier-3-facts-know-about-papua\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">lebih dari sepertiga<\/a> hutan alam yang tersisa di Indonesia.<\/p>\n<p>Spesies anggrek asli ditemukan di Papua pada 2018 dinamai <em>Bulbophyllum irianae<\/em>, diambil dari nama Ibu Negara Indonesia, Iriana.<\/p>\n<p>\u201cPotensi keanekaragaman hayatinya sangat tinggi, spesies baru terus ditemukan,\u201d kata John Mampioper, ketua cagar burung dan anggrek di Pulau Biak.<\/p>\n<p>Pulau Biak memiliki beragam anggrek yang dikenal indah. Sekitar 2.500 \u2013 atau hampir separuh spesies yang ada di Indonesia \u2013 dapat ditemukan di sini. Sebagian anggrek paling spektakuler merupakan anggrek asli Papua, seperti <em>Paphiopedilum glanduliferum<\/em>, <em>Grammitis ceratocarpa<\/em>, <em>Grammitis coredrosora<\/em> dan <em>Grammitis habbensis<\/em>. Salah satu spesies paling terkenal adalah angrek raksasa Irian, <em>Grammatophyllum papuanuum<\/em>.<\/p>\n<p>Papua juga menjadi rumah bagi banyak spesies burung unik, <a href=\"https:\/\/www.bird-watching-papua-adventure-travel.com\/listbirdspapua.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">sebuah survey terbaru<\/a> melaporkan sebanyak 716 burung terpantau di pulau ini.<\/p>\n<p>\u201cIndonesia memiliki 17 persen keanekearagaman hayati dunia, sekitar 50 persennya ada di Papua, termasuk di Pulau Biak,\u201d kata Mampioper. \u201cPotensi keanekaragaman hayati yang berada di hutan maupun di lautan seharusnya memotivasi kita untuk melakukan lebih banyak riset di Papua.\u201d<\/p>\n<p>Dan kini, spesies dan habitat ini berada dalam ancaman deforestasi, kerusakan lingkungan, perburuan dan perdagangan ilegal. Menghadapi tantangan-tantangan tersebut, berbagai upaya dilakukan banyak aktor dalam melindungi spesies endemik melalui berbagai cara, salah satunya taman konservasi eksitu, yang telah ada sejak beberapa waktu lalu.<\/p>\n<p><strong>Cagar burung dan anggrek Biak<\/strong><\/p>\n<p>Taman Burung dan Taman Anggrek di Pulau Biak (TBTA Biak), didirikan oleh Pemerintah Provinsi Papua pada akhir 1980-an, sebagai sebuah upaya untuk melindungi keanekaragaman hayati, khususnya burung dan anggrek endemik Papua.<\/p>\n<p>Taman seluas 28 hektare ini terletak di hutan primer dengan flora dan fauna yang terlindung baik. Taman ini berfungsi sebagai kawasan eksitu untuk melindungi spesies di luar habitatnya, dan dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Papua, sejalan dengan upaya konservasi insitu dan konservasi spesies tumbuhan dan satwa endemik. Pada inaugurasi 1990, sekitar 5 hektare lahan dibangun sebagai sebuah cagar, sementara sisanya tak dikelola.<\/p>\n<p>Tiga dekade setelah pendirian, pengelola taman dan aktor terkait mengidentifikasi sejumlah kelemahan, seperti kurangnya pengembangan potensi jasa lingkungan melalui pendidikan dan pariwisata.<\/p>\n<p>Mereka mendapati belum adanya rencana induk yang dapat memandu implementasi strategi dan rencana pengembangan dan manajemen taman, yang telah berdiri 30 tahun lalu \u2013 untuk lebih mendorong mereka mewujudkan dua tujuan utama taman. Tujuan pertama yaitu mengoleksi, melindungi dan konservasi anggrek, burung dan spesies dilindungi, khususnya spesies asli Papua. Kedua, mengembangkan taman menjadi pusat ekowisata dan edukasi lingkungan di Papua.<\/p>\n<p>Dengan rencana induk dan strategi yang lengkap, manajer taman dapat secara efektif memimpin TBTA Biak dalam mendapatkan manfaat konservasi dan sosial. Cagar juga dapat mendapat manfaat dari pengembangan dan kerjasama lebih jauh dengan jaringan penelitian dan konservasi lain.<\/p>\n\n<p>Di bawah <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.24259\/fs.v3i1.6067\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Deklarasi Manokwari<\/a> 2008, pemerintah Provinsi Papua berkomitmen untuk meningkatkan upaya konservasi. Menyadari pentingnya menyokong komitmen ini, Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) telah bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Papua untuk memastikan bahwa rancangan rencana induk taman dalam meningkatkan upaya konservasi spesies anggrek dan burung benar-benar dimengerti, dan pembelajaran serupa dari inisiatif sebelumnya dapat tersebarluaskan.<\/p>\n<p>Dua seminar \u2013 atau acara berbagi pengetahuan \u2013 dilaksanakan oleh TBTA Biak Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Biak, dengan dukungan dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) dan Unit Perubahan Iklim Inggris (UKCCU). Acara digelar pada 2019 dan 2020 di Biak. Disiarkan secara daring, seminar ini menggali potensi kolaborasi dengan berbagai organisasi.<\/p>\n<p>Peserta pada kedua acara ini mendiskusikan cara menjaga agar hasil konservasi bisa optimal, dan cara  mewujudkan tujuan membangunan pusat ekowisata dan edukasi lingkungan di Papua.<\/p>\n<p>Seminar menghadirkan sejumlah pembicara dari manajemen TBTA Biak, taman budaya <a href=\"http:\/\/www.tamanmini.com\/pesona_indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Taman Mini Indonesia Indah<\/a> Jakarta, perusahan konsultan PT Tranadi Tata Utami yang menyusun rencana induk, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta para ilmuwan terkemuka dari lembaga pendidikan setempat yaitu  <a href=\"http:\/\/unipa.ac.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Universitas Papua<\/a>, <a href=\"https:\/\/www.uncen.ac.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Universitas Cendrawasih<\/a> dan <a href=\"http:\/\/uogp.ac.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Universitas Ottow Geissler<\/a>.<\/p>\n<p>Para peneliti CIFOR berbagi pengalaman dari aktivitas konservasi anggrek berbasis komunitas di Kalimantan Barat.<\/p>\n<p><strong>Keanekaragaman hayati untuk masyarakat<\/strong><\/p>\n<p>Hubungan simbiosis antara masyarakat sekitar hutan dan ekosistemnya membuka peluang untuk meningkatkan  penghasilan melalui pemanfaatan hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan.<\/p>\n<p>Dengan meningkatkan pariwisata, ekonomi lokal mendapatkan manfaat, kata Mampioper.<\/p>\n<p>\u201cTren saat ini menunjukkan, banyak wisatawan lebih menyukai wisata alam sebagai destinasi,\u201d katanya.  \u201cDengan tingginya kunjungan wisatawan, tingkat kesejahteraan masyarakat sekitar hutan juga meningkat.\u201d<\/p>\n<p>Sekitar 80 hingga 90 persen masyarakat Papua bergantung pada hasil hutan, khususnya hasil hutan bukan kayu seperti sagu. Ia menjelaskan bahwa sagu, yang merupakan salah satu jenis pohon sawit (<em>Metroxylon sagu Rottb.<\/em>) dapat ditemukan di banyak wilayah di Indonesia. Sagu dipanen untuk diambil pati-nya dari bagian inti pohon. Pati sagu merupakan makanan pokok di Papua.<\/p>\n<p>\u201cSeluruh bagian pohon sagu termanfaatkan, mulai akar hingga daun. Masyarakat menggunakan batang pohon sagu untuk membangun rumah. Sagu juga merupakan sumber makanan pokok,\u201d kata Mampioper.<\/p>\n<p>Namun, ancaman serius bagi upaya konservasi muncul dari aktivitas perburuan illegal serta degradasi hutan dan lahan, tambahnya. Ia mengingatkan bahwa \u201cancaman terhadap konservasi tersebut dapat mengakibatkan kehilangan data keanekaragaman hutan yang belum terdokumentasi, dan akibat terburuk: kepunahan.\u201d<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Papua, wilayah paling timur Indonesia, merupakan wilayah kaya dengan keanekaragaman hayati, menawarkan peluang pengembangan ekowisata, pendidikan lingkungan dan konservasi. Berada di bagian barat Pulau Papua Nugini, sebagian besar wilayahnya ditutupi hutan alam, lahan gambut dan ekosistem lain yang merupakan \u201clahan pertahanan terakhir\u201d, karena menurut para ilmuwan, wilayah ini merupakan rumah bagi banyak spesies yang belum [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":272,"featured_media":70934,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[10355,10353,2489,2788,10354],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[6545],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[7230],"class_list":["post-70929","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-anggrek","tag-bahasa-burung","tag-bahasa-keanekaragaman-hayati","tag-bahasa-papua","tag-bahasa-suaka-margasatwa","type-bahasa-liputan-acara"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Cagar Burung dan Anggrek Papua Menampilkan Kekayaan Keanekaragaman Hayati Indonesia - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/70929\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Cagar Burung dan Anggrek Papua Menampilkan Kekayaan Keanekaragaman Hayati Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Papua, wilayah paling timur Indonesia, merupakan wilayah kaya dengan keanekaragaman hayati, menawarkan peluang pengembangan ekowisata, pendidikan lingkungan dan konservasi. Berada di bagian barat Pulau Papua Nugini, sebagian besar wilayahnya ditutupi hutan alam, lahan gambut dan ekosistem lain yang merupakan \u201clahan pertahanan terakhir\u201d, karena menurut para ilmuwan, wilayah ini merupakan rumah bagi banyak spesies yang belum [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/70929\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2021-02-09T07:33:44+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-03-09T09:54:01+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2021\/02\/35381462404_f10154e306_k-e1612836641936.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2048\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1269\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Nabiha Shahab\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/70929\\\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/70929\\\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia\"},\"author\":{\"name\":\"Nabiha Shahab\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4d4c3fe3b57374ced46d23770b6f72bd\"},\"headline\":\"Cagar Burung dan Anggrek Papua Menampilkan Kekayaan Keanekaragaman Hayati Indonesia\",\"datePublished\":\"2021-02-09T07:33:44+00:00\",\"dateModified\":\"2021-03-09T09:54:01+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/70929\\\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia\"},\"wordCount\":850,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/70929\\\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/02\\\/35381462404_f10154e306_k-e1612836641936.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/70929\\\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2021\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/70929\\\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/70929\\\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia\",\"name\":\"Cagar Burung dan Anggrek Papua Menampilkan Kekayaan Keanekaragaman Hayati Indonesia - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/70929\\\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/70929\\\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/02\\\/35381462404_f10154e306_k-e1612836641936.jpg\",\"datePublished\":\"2021-02-09T07:33:44+00:00\",\"dateModified\":\"2021-03-09T09:54:01+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/70929\\\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/70929\\\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/70929\\\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/02\\\/35381462404_f10154e306_k-e1612836641936.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/02\\\/35381462404_f10154e306_k-e1612836641936.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1269,\"caption\":\"Burung Rangkong (Rhyticeros plicatus), Papua, Indonesia. Foto oleh:\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/70929\\\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Cagar Burung dan Anggrek Papua Menampilkan Kekayaan Keanekaragaman Hayati Indonesia\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/70929\\\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/70929\\\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4d4c3fe3b57374ced46d23770b6f72bd\",\"name\":\"Nabiha Shahab\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=gf0899e66b7fe5227e359732c0f65f0d9\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Nabiha Shahab\"},\"description\":\"Nabiha Shahab is a writer for Forest News. She has worked both in the media and media campaigning with environmental NGOs in Indonesia since 1997. She holds an MA in environmental management from the University of Nottingham.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/nabiha-shahab\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/70929\\\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Cagar Burung dan Anggrek Papua Menampilkan Kekayaan Keanekaragaman Hayati Indonesia - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/70929\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Cagar Burung dan Anggrek Papua Menampilkan Kekayaan Keanekaragaman Hayati Indonesia","og_description":"Papua, wilayah paling timur Indonesia, merupakan wilayah kaya dengan keanekaragaman hayati, menawarkan peluang pengembangan ekowisata, pendidikan lingkungan dan konservasi. Berada di bagian barat Pulau Papua Nugini, sebagian besar wilayahnya ditutupi hutan alam, lahan gambut dan ekosistem lain yang merupakan \u201clahan pertahanan terakhir\u201d, karena menurut para ilmuwan, wilayah ini merupakan rumah bagi banyak spesies yang belum [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/70929\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2021-02-09T07:33:44+00:00","article_modified_time":"2021-03-09T09:54:01+00:00","og_image":[{"width":2048,"height":1269,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2021\/02\/35381462404_f10154e306_k-e1612836641936.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Nabiha Shahab","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/70929\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/70929\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia"},"author":{"name":"Nabiha Shahab","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4d4c3fe3b57374ced46d23770b6f72bd"},"headline":"Cagar Burung dan Anggrek Papua Menampilkan Kekayaan Keanekaragaman Hayati Indonesia","datePublished":"2021-02-09T07:33:44+00:00","dateModified":"2021-03-09T09:54:01+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/70929\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia"},"wordCount":850,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/70929\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2021\/02\/35381462404_f10154e306_k-e1612836641936.jpg","articleSection":["Forests News"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/70929\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia#respond"]}],"copyrightYear":"2021","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/70929\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/70929\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia","name":"Cagar Burung dan Anggrek Papua Menampilkan Kekayaan Keanekaragaman Hayati Indonesia - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/70929\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/70929\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2021\/02\/35381462404_f10154e306_k-e1612836641936.jpg","datePublished":"2021-02-09T07:33:44+00:00","dateModified":"2021-03-09T09:54:01+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/70929\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/70929\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/70929\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2021\/02\/35381462404_f10154e306_k-e1612836641936.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2021\/02\/35381462404_f10154e306_k-e1612836641936.jpg","width":2048,"height":1269,"caption":"Burung Rangkong (Rhyticeros plicatus), Papua, Indonesia. Foto oleh:"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/70929\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Cagar Burung dan Anggrek Papua Menampilkan Kekayaan Keanekaragaman Hayati Indonesia"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/70929\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/70929\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4d4c3fe3b57374ced46d23770b6f72bd","name":"Nabiha Shahab","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=gf0899e66b7fe5227e359732c0f65f0d9","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=g","caption":"Nabiha Shahab"},"description":"Nabiha Shahab is a writer for Forest News. She has worked both in the media and media campaigning with environmental NGOs in Indonesia since 1997. She holds an MA in environmental management from the University of Nottingham.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/nabiha-shahab"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/70929\/cagar-burung-dan-anggrek-papua-menampilkan-kekayaan-keanekaragaman-hayati-indonesia#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2021\/02\/35381462404_f10154e306_k-e1612836641936.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/70929","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/272"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=70929"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/70929\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":71442,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/70929\/revisions\/71442"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/70934"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=70929"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=70929"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=70929"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=70929"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=70929"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=70929"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=70929"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=70929"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=70929"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=70929"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=70929"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=70929"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=70929"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}