{"id":69068,"date":"2020-11-04T11:46:23","date_gmt":"2020-11-04T04:46:23","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=69068"},"modified":"2020-11-04T11:52:35","modified_gmt":"2020-11-04T04:52:35","slug":"kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/69068\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia","title":{"rendered":"Kemajuan dan tantangan dalam perjalanan restorasi lahan gambut Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>Kepulauan Indonesia memiliki lebih dari sepertiga lahan gambut tropis dunia. Hutan lembap berair hitam ini menyimpan <a href=\"https:\/\/peatlands.org\/assets\/uploads\/2019\/06\/ipc2008p254-256-siegert-estimation-of-carbon-storage-in-indonesian-peatlands.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">sekira 55 hingga 61 gigaton<\/a> karbon dioksida, yang menjadikannya sebagai ekosistem penting untuk dikonservasi di tengah upaya menjaga perubahan iklim global.<\/p>\n<p>Meskipun demikian, <a href=\"https:\/\/www.wri.org\/blog\/2018\/01\/save-indonesias-carbon-rich-peatlands-start-mapping-them\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">sekitar separuh<\/a> lahan gambut berharga ini telah terdegradasi akibat pengeringan, deforestasi dan pembakaran \u2013 sebagian besar dibersihkan atas nama perhutanan dan pertanian. Degradasi ini memicu emisi gas rumah kaca (GRK) dan menempatkan Indonesia menjadi lima negara pengemisi tertinggi di dunia.<\/p>\n<p>Indonesia berkomitmen untuk merestorasi lebih dari dua juta hektare lahan gambut terdegradasi di bawah <a href=\"https:\/\/unfccc.int\/process-and-meetings\/the-paris-agreement\/the-paris-agreement\/nationally-determined-contributions-ndcs\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Komitmen Kontribusi Nasional<\/a> (NDC)  Perjanjian Paris mengenai perubahan iklim. Namun, restorasi gambut merupakan proses yang kompleks, dan memerlukan pemantauan seksama untuk memungkinkan pendekatan adaptif dan iteratif yang sesuai dengan kondisi dan realitas lokal.<\/p>\n<p>Pada momentum inilah digelar serial lokakarya daring <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional<\/a> (CIFOR), <a href=\"https:\/\/www2.cifor.org\/swamp\/exploring-criteria-and-indicators-for-tropical-peatland-restoration\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Menelaah Kriteria dan Indikator Restorasi Lahan Gambut Tropis<\/a>, yang bertujuan mengembangkan sekumpulan kriteria dan indikator berbasis sains dan relevan secara lokal agar mudah mengenali, mengukur dan memantau lahan gambut dalam rentang waktu tertentu.<\/p>\n<p>\u201cBerkumpul seperti ini membantu kita berjalan bersama untuk restorasi lahan gambut berbasis sains terbaik,\u201d kata Haris Gunawan, deputi Badan Restorasi Gambut Indonesia, dalam sambutannya pada sesi kedua, Atribusi Biofisik dan Kebakaran Gambut, yang digelar pekan lalu. Sesi ini dihadiri 172 orang dari 21 negara.<\/p>\n\n<p>Beberapa pembicara dalam sesi ini menggali beragam aspek sains lahan gambut. Gusti Anshari, pakar gambut tropis dan guru besar Universitas Tanjungpura Pontianak, ibu kota provinsi Kalimantan Barat, mengajak peserta membahas sebuah kerangka kerja untuk merestorasi hutan rawa gambut tropis terdegradasi.<\/p>\n<p>\u201cTujuan restorasi adalah memfasilitasi hutan rawa gambut sebagai sebentuk \u2018organisme super\u2019 \u2013 memperbaiki fungsi ekonomi dan ekologi,\u201d katanya. \u201cIni tidak mudah, dan mungkin tidak murah, tetapi saya percaya ini bisa dikelola.\u201d Ia menekankan urgensi merestorasi tingkat air lahan gambut yang biasanya terganggu; mendorong proses regenerasi alami; dan pelibatan jangka panjang seluruh aktor hingga tujuan tercapai.<\/p>\n<p>Dalam sebuah presentasi yang mengangkat nilai pelibatan dalam proses tersebut, Muh Taufik, guru besar di Institut Pertanian Bogor, memaparkan penelitiannya mengenai komparasi risiko kebakaran pada lahan gambut terdegrasi dan terestorasi, terutama ketika wilayahnya mengalami kekeringan. Penelitian ini mengungkap bahwa ancaman kebakaran tertinggi terjadi saat tinggi air lebih dari 40 cm  (15,7 inch) dari permukaan tanah \u2013 dan penggenangan gambut terdegradasi bisa mengurangi risiko kebakaran hingga lebih dari 30 persen.<\/p>\n<p>\u201cMemantau dan meningkatkan tinggi air [pada lahan gambut terdegradasi] menjadi krusial dan secara teknologi dimungkinkan, sebagai perangkat manajemen, dan bisa menjadi mekanisme kepatuhan untuk memperbaiki ekosistem dengan meminimalkan ancaman alam,\u201d katanya. Seorang peserta, Adnan Zainorabidin bertanya apakah ada metode pemantauan yang dapat berfungsi sebagai sistem peringatan dini potensi kebakaran gambut. Taufik menegaskan, bahwa sudah tersedia teknologi pemantauan tinggi air, termasuk pengukuran tinggi air manual dan otomatis  yang bisa dimanfaatkan.<\/p>\n<p>Sisi lain kebutuhan pemantauan adalah kemampuan kita untuk melacak lokasi dan luasan kebakaran lahan gambut, dan menentukan potensi emisi GRK akibat kebakaran, tambahnya.<\/p>\n<p>Solichin Manuri, penasihat senior Daemeter Consulting di Bogor, kota tempat kantor pusat CIFOR, telah menelaah bagaimana memetakan kebakaran secara akurat dan reliabel, menggunakan radar dan perangkat penghitungan GRK. \u201cKami memiliki sejumlah inisiatif yang bertujuan memetakan kebakaran,\u201d katanya. \u201cKini, krieria ekplisit-spasial pemetaan kebakaran bisa disusun secara spesifik, bergantung pada metode dan penggunaan data, digabungkan dengan informasi survei lapangan atau aerial.<\/p>\n\n<p>Kristell Hergoualc\u2019h, ilmuwan senior CIFOR, mempersempit beberapa kompleksitas dan celah pengetahuan mengenai penghitungan GRK lahan gambut, dan menjelaskan bagaimana emisi terjadi akibat berbagai aktivitas dan proses mikrobiologis, yang bervariasi menurut tutupan vegetasi dan dinamikan lingkungan.<\/p>\n<p>\u201cHal tersebut menunjukkan kompleksitas mekanisme di balik emisi GRK dan upaya yang diperlukan untuk menghitungnya,\u201d katanya. Banyak hal masih belum kita ketahui mengenai bagaimana laju emisi GRK berubah ketika lahan gambut digenangi dan direstorasi, dan riset berikutnya mengenai topik ini akan memberi pengetahuan bagi keputusan manajemen terinformasi, tambahnya.<\/p>\n<p>Dengan tinjauan lebih luas, Mark Reed, guru besar inovasi sosio-teknik Universitas Newcastle Inggris, mengangkat urgensi menselaraskan riset lahan gambut di seluruh dunia, agar pengambil keputusan dan pengguna mendapatkan informasi terbaik untuk memandu tindakannya. Ia memaparkan sebuah proyek yang dikolaborasikannya dengan <a href=\"https:\/\/www.tropicalpeatlands.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Gambut Internasional<\/a>, dan sekitar 50 peneliti lahan gambut tropis lain berbagai lokasi, yang dilakukan untuk tujuan tersebut.<\/p>\n<p>\u201cTarget kami cukup besar; kami ingin mengubah cara pengumpulan data masyarakat dan pelaporan di seluruh dunia, agar lebih banyak lagi masyarakat mengumpulkan data dengan variabel yang sama agar dapat disintesiskan,\u201d katanya. \u201cTujuan utama kami adalah memfasilitasi meta-analisis yang dapat mendorong kebijakan berbasis bukti.\u201d<\/p>\n<p>Beberapa peserta bertanya bagaimana gagasan \u201catas-ke-bawah\u201d ini bisa berselaras dengan kebutuhan menemkan metode pengumpulan dan interpretasi data yang sesuai dengan pemahaman dan realitas lokal. \u201cKuncinya adalah kita tidak bisa mendramatisir dan menerima seluruh pengetahuan lokal, dan sama halnya kita seharusnya menerima apa yang kita pikir sebagai kebijakan yang diterima dalam dunia akademik,\u201d kata Reed. \u201cIni semua perlu diuji dan dipertimbangkan, apa yang akan berjalan. Tetapi, Anda dapat menggabungkan dua basis pengetahuan; ini dimungkinkan.\u201d<\/p>\n<p>Melanjutkan diskusi tersebut, pembicara Ravi Prabu, Direktur Inonovsi, Investasi dan Dampak CIFOR-ICRAF, menekankan bahwa meski kriteria dan indikator perlu validitas sains dan replikabilitas di area tertentu \u2013 keduanya tidak perlu sempurna. \u201cSemuanya itu alat,\u201d katanya. \u201cJadi, fokuslah agar cukup bagus. Praktis. Pertimbangan pengorbanan mendapatkan informasi yang membantu kita memahami apa yang ingin kita capai.\u201d<\/p>\n\n<p>Ia menyatakan bahwa jalan pada kebijaksanaan mengikuti langkah dari data menjadi informasi, menjadi pengetahuan, dan identifikasi kriteria dan indikator seharusnya dipahami sebagai proses serupa.<\/p>\n<p>Ravi menyoroti pentingnya memfokuskan perhatian pada masyarakat di lapangan yang akan menggunakan kriteria  dan indikator atau pemantauan dan asesmen restorasi lahan gambut, dan berupaya agar tersusun instruksi yang lengkap dan tugas yang mungkin dikerjakan.<\/p>\n<p>Pertimbangannya tersebut diperkuat oleh Ilmuwan Utama CIFOR, Daniel Murdiyarso.<\/p>\n<p>\u201cPengumpulan informasi teknis makin lama makin mudah hari ini,\u201d kata Murdiyarso pada pidato penutupan. \u201cTetapi bagaimana kita dapat mengkomunikasikannya? Membawa hal ini dalam perbincangan sehari-hari masyarkaat tidak mudah: apa artinya kriteria dan indikator ini bagi masyarakat? Kita menghadapi tantangan besar untuk membuat hal ini sebagai proses yang berpusat pada masyarakat.\u201d<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kepulauan Indonesia memiliki lebih dari sepertiga lahan gambut tropis dunia. Hutan lembap berair hitam ini menyimpan sekira 55 hingga 61 gigaton karbon dioksida, yang menjadikannya sebagai ekosistem penting untuk dikonservasi di tengah upaya menjaga perubahan iklim global. Meskipun demikian, sekitar separuh lahan gambut berharga ini telah terdegradasi akibat pengeringan, deforestasi dan pembakaran \u2013 sebagian besar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":264,"featured_media":69069,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[2622,7522,7007],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[6545],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[7144],"class_list":["post-69068","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-lahan-gambut","tag-bahasa-pemulihan-lahan-gambut","tag-bahasa-restorasi-gambut","type-bahasa-liputan-acara"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Kemajuan dan tantangan dalam perjalanan restorasi lahan gambut Indonesia - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/69068\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Kemajuan dan tantangan dalam perjalanan restorasi lahan gambut Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Kepulauan Indonesia memiliki lebih dari sepertiga lahan gambut tropis dunia. Hutan lembap berair hitam ini menyimpan sekira 55 hingga 61 gigaton karbon dioksida, yang menjadikannya sebagai ekosistem penting untuk dikonservasi di tengah upaya menjaga perubahan iklim global. Meskipun demikian, sekitar separuh lahan gambut berharga ini telah terdegradasi akibat pengeringan, deforestasi dan pembakaran \u2013 sebagian besar [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/69068\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-11-04T04:46:23+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2020-11-04T04:52:35+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/32062812957_5fb3f9bada_k.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2048\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1365\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Monica Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/69068\\\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/69068\\\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia\"},\"author\":{\"name\":\"Monica Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\"},\"headline\":\"Kemajuan dan tantangan dalam perjalanan restorasi lahan gambut Indonesia\",\"datePublished\":\"2020-11-04T04:46:23+00:00\",\"dateModified\":\"2020-11-04T04:52:35+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/69068\\\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia\"},\"wordCount\":966,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/69068\\\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/11\\\/32062812957_5fb3f9bada_k.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/69068\\\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2020\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/69068\\\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/69068\\\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia\",\"name\":\"Kemajuan dan tantangan dalam perjalanan restorasi lahan gambut Indonesia - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/69068\\\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/69068\\\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/11\\\/32062812957_5fb3f9bada_k.jpg\",\"datePublished\":\"2020-11-04T04:46:23+00:00\",\"dateModified\":\"2020-11-04T04:52:35+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/69068\\\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/69068\\\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/69068\\\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/11\\\/32062812957_5fb3f9bada_k.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/11\\\/32062812957_5fb3f9bada_k.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1365,\"caption\":\"Para perempuan dari Desa Perigi, Kecamatan Pangkalan Lampam, Kabupaten Ogan Komering Ilir, mengikuti kanal untuk memanen tumbuhan Purun. Foto oleh:\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/69068\\\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Kemajuan dan tantangan dalam perjalanan restorasi lahan gambut Indonesia\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/69068\\\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/69068\\\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\",\"name\":\"Monica Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Monica Evans\"},\"description\":\"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/monica-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/69068\\\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Kemajuan dan tantangan dalam perjalanan restorasi lahan gambut Indonesia - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/69068\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Kemajuan dan tantangan dalam perjalanan restorasi lahan gambut Indonesia","og_description":"Kepulauan Indonesia memiliki lebih dari sepertiga lahan gambut tropis dunia. Hutan lembap berair hitam ini menyimpan sekira 55 hingga 61 gigaton karbon dioksida, yang menjadikannya sebagai ekosistem penting untuk dikonservasi di tengah upaya menjaga perubahan iklim global. Meskipun demikian, sekitar separuh lahan gambut berharga ini telah terdegradasi akibat pengeringan, deforestasi dan pembakaran \u2013 sebagian besar [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/69068\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2020-11-04T04:46:23+00:00","article_modified_time":"2020-11-04T04:52:35+00:00","og_image":[{"width":2048,"height":1365,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/32062812957_5fb3f9bada_k.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Monica Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/69068\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/69068\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia"},"author":{"name":"Monica Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70"},"headline":"Kemajuan dan tantangan dalam perjalanan restorasi lahan gambut Indonesia","datePublished":"2020-11-04T04:46:23+00:00","dateModified":"2020-11-04T04:52:35+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/69068\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia"},"wordCount":966,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/69068\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/32062812957_5fb3f9bada_k.jpg","articleSection":["Forests News"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/69068\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia#respond"]}],"copyrightYear":"2020","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/69068\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/69068\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia","name":"Kemajuan dan tantangan dalam perjalanan restorasi lahan gambut Indonesia - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/69068\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/69068\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/32062812957_5fb3f9bada_k.jpg","datePublished":"2020-11-04T04:46:23+00:00","dateModified":"2020-11-04T04:52:35+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/69068\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/69068\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/69068\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/32062812957_5fb3f9bada_k.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/32062812957_5fb3f9bada_k.jpg","width":2048,"height":1365,"caption":"Para perempuan dari Desa Perigi, Kecamatan Pangkalan Lampam, Kabupaten Ogan Komering Ilir, mengikuti kanal untuk memanen tumbuhan Purun. Foto oleh:"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/69068\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Kemajuan dan tantangan dalam perjalanan restorasi lahan gambut Indonesia"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/69068\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/69068\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70","name":"Monica Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","caption":"Monica Evans"},"description":"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/monica-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/69068\/kemajuan-dan-ancaman-dalam-perjalanan-restorasi-lahan-gambut-indonesia#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/32062812957_5fb3f9bada_k.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/69068","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/264"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=69068"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/69068\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":69077,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/69068\/revisions\/69077"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/69069"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=69068"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=69068"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=69068"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=69068"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=69068"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=69068"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=69068"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=69068"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=69068"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=69068"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=69068"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=69068"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=69068"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}