{"id":68941,"date":"2020-11-02T12:30:07","date_gmt":"2020-11-02T05:30:07","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=68941"},"modified":"2020-11-02T13:08:06","modified_gmt":"2020-11-02T06:08:06","slug":"reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68941\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal","title":{"rendered":"Reforestasi dapat menghentikan sindrom kekeringan-banjir, kata pemenang Penghargaan Pangan Dunia Rattan Lal"},"content":{"rendered":"<p>Dari Afghanistan ke Kamboja, seluruh dataran rendah Himalaya, kondisi cuaca ekstrem menjadi hal biasa. Seabad lalu, bukit-bukit ditutupi hutan. Kini sudah terbuka akibat pertumbuhan penduduk, ekspansi pertanian serta kebutuhan kayu bakar dan kayu.<\/p>\n<p>Deforestasi dan degradasi bentang alam berarti bahwa monsoon membawa banjir besar dan kemarau yang diiringi kekeringan menjadi tantangan yang menghambat produksi pertanian, kata pakar tanah Rattan Lal, yang menerima <a href=\"https:\/\/www.worldfoodprize.org\/en\/laureates\/2020_lal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Penghargaan Pangan Dunia<\/a> 2020 pada <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=lGveq7GBC6c\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">upacara virtual<\/a> yang dipancarkan dari Ibukota Negara Bagian Iowa di Des Moines, Kamis.<\/p>\n<p>\u201cTentu saja tidak ada air, karena air terbuang percuma,\u201d kata Lal pada wawancara telefon dengan <em>Kabar Hutan<\/em>. \u201cSolusinya adalah reforestasi perbukitan seperti seratus atau 150 tahun lalu \u2013 dan ini memerlukan komitmen serta kerjasama lintas negara tempat daerah aliran sungai berada.\u201d<\/p>\n<p>Reforestasi di Himalaya tidak akan menghentikan sindrom kekeringan-banjir dalam semalam, tetapi 25 hingga 30 tahun mendatang, perlu satu generasi. \u201cIni bukan kemewahan, ini kebutuhan,\u201d kata Lal, yang mulai melakukan inovasi teknik restorasi tanah, yang mengantarnya pada visi \u201ctanah sentris\u201d, pada 1990 di <a href=\"https:\/\/www.osu.edu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Ohio State University<\/a> (OSU), kampus tempatnya mengabdi sebagai guru besar ilmu tanah.<\/p>\n\n<p>Ia mengadvokasi reforestasi seluruh lahan yang memiliki lebih dari 5 hingga 7 persen kemiringan untuk membantu manajemen daerah aliran sungai, mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.<\/p>\n<p><strong>PENGGALIAN<\/strong><\/p>\n<p>Selama lima dekade, dan di seluruh empat benua, Lal mengasah kepakarannya dalam kebijakan dan ilmu tanah. Penghargaan Pangan Dunia mengakui karyanya \u201cmengembangkan dan mengarusutamakan pendekatan tanah-sentris dalam meningkatkan produksi pangan yang merestorasi dan mengkonservasi sumber alam dan memitigasi perubahan iklim.\u201d<\/p>\n<p><div class='short-video sv_new short-video--left' >\n            <a class='short-video-trigger GTMshortVideo' href='#' data-video-url=''>\n                <div class='short-video__thumb'>\n                    <img src='' width='260' alt=''>\n                    <div class='short-video__icon'><i class='fa fa-play-circle-o'><\/i><\/div>\n                <\/div>\n                <div class='short-video__type'><\/div>\n                <div class='short-video__title'><\/div>\n            <\/a>\n        <\/div> Ia juga dipuji atas inovasi teknik pertanian konservasi yang diperkenalkannya, dan sejauh ini telah memberi manfaat pada penghidupan lebih dari 500 juta petani kecil, meningkatkan keamanan pangan dan nutrisi bagi lebih dari 2 miliar orang, serta menyelamatkan ratusan juga ekosistem tropis alami.<\/p>\n<p>Dalam sebuah <a href=\"https:\/\/science.sciencemag.org\/content\/304\/5677\/1623\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">makalah penelitian penting<\/a> yang dipubikasikan dalam <em>Science<\/em> pada 2004, Lal menunjukkan bahwa merestorasi tanah terdegradasi dengan meningkatkan karbon tanah dan materi organik dapat meningkatkan kesehatan tanah, menyerap karbon atmosfer dan emisi bahan bakar fosil.<\/p>\n<p>Ia diakui atas berbagai temuan \u2013 yang diadopsi oleh <a href=\"https:\/\/www.ipcc.ch\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Panel Perubahan Iklim Antar-pemerintah<\/a> \u2014 ketika pada 2007  badan PBB menjadi penerima <a href=\"https:\/\/www.nobelprize.org\/prizes\/peace\/2007\/summary\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penghargaan Nobel Perdamaian<\/a> bersama mantan Wakil Presiden AS, Al Gore. Senin lalu, Gore dan Lal berbicara pada <a href=\"https:\/\/www.worldfoodprize.org\/index.cfm?nodeID=96107&amp;audienceID=1\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">sesi virtual<\/a> berjudul \u201cMenterjemahkan Sains menjadi Aksi\u201d pada <a href=\"https:\/\/www.worldfoodprize.org\/en\/borlaug_dialogue\/2020_borlaug_dialogue\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Dialog Borlaug<\/a>, konferensi sepekan bersamaan dengan Penghargaan Pangan Dunia setiap tahun.<\/p>\n<p>\u201cBerada dalam program yang sama dengan Dr Rattan Lal adalah kehormatan,\u201d kata Gore. \u201cIa teman lama dan mentor saya.\u201d<\/p>\n<p><strong>REMUNERASI UNTUK PETANI<\/strong><\/p>\n<p>Lal menyatakan, petani seharusnya mendapat pembayaran untuk jasa lingkungan jika menggunakan teknik sekuestrasi karbon di pohon dan tanah.<\/p>\n<p>\u201cMereka seharusnya dikompensasi jika kita ingin mereka mengadopsi praktik yang direkomendasikan \u2013 jika kita hanya sekadar berbicara ini baik bagi dunia dan kemanusiaan, tidak akan pernah terjadi,\u201d kata Lal, yang tumbuh di lingkungan pertanian kecil di India dan belajar membajak tanah ditarik lembu, dan kemudian mengadvokasi praktik tanpa pengolahan tanah.<\/p>\n<p>Lal percaya, kesehatan tanah, tumbuhan, hewan, manusia dan ekosistem saling berkelindan. \u201cKetika lahan dibiarkan sendiri, kesehatan dan kualitas tanah menurun,\u201d katanya. \u201cTanah tidak bisa menyimpan nutrisi, menahan air, mengurai pestisida dan polutan. Mereka berakhir di air atau udara. Jika berakhir di air, kesehatan manusia akan terdampak, dan jika berakhir di udara, menyebabkan pemanasan global dan masalah lain.\u201d<\/p>\n<p><strong>PENELITIAN TERKEMUKA<\/strong><\/p>\n<p>Selama bertugas di <a href=\"https:\/\/www.iita.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">International Institute of Tropical Agriculture<\/a> (IITA) di Nigeria 1970-an hingga 1980-an, Lal meneliti dampak deforestasi pada perubahan iklim dan hidrologi, dengan fokus pada limpasan permukaan dan erosi di sub-Sahara Afrika.<\/p>\n<p><div class='short-video sv_new short-video--left' >\n            <a class='short-video-trigger GTMshortVideo' href='#' data-video-url=''>\n                <div class='short-video__thumb'>\n                    <img src='' width='260' alt=''>\n                    <div class='short-video__icon'><i class='fa fa-play-circle-o'><\/i><\/div>\n                <\/div>\n                <div class='short-video__type'><\/div>\n                <div class='short-video__title'><\/div>\n            <\/a>\n        <\/div> Ia memantau dampak deforestasi pada iklim dan keseimbangan air. Pada saat itu, penelitiannya tidak terfokus pada perubahan iklim, tetapi terutama pada manajemen sumber alam berkelanjutan &#8212; pengendalian erosi limpasan dan pencegahan degradasi lahan. Ia tidak hanya menunjukkan bahwa deforestasi tidak boleh terjadi, tetapi juga merekomendasikan restorasi lahan, jika terjadi.<\/p>\n<p>Pada paruh 1980-an, ia mendapat kunjugan dari mendiang ilmuwan Roger Revelle, yang terkenal secara dini <a href=\"https:\/\/www.nytimes.com\/1991\/07\/17\/obituaries\/roger-revelle-82-early-theorist-in-global-warming-and-geology.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">memprediksi pemanasan global<\/a>. Revelle penasaran terkait observasi bahwa deforestasi mengubah iklim dan iklim mikro, dan bahwa tanah terdegradasi akibat kehilangan materi organik karena sebagian limpasannya masuk ke danau akibat erosi, sementara sebagiannya diserap ke atmosfer.<\/p>\n<p>Revelle menanyakan apakah Lal bisa mengembalikannya. Dari situ muncullah gagasan mengenai restorasi dan secara khusus, Lal tertarik apakah karbon bisa dikembalikan ke tanah dari perspektif perubahan iklim.<\/p>\n<p>\u201cSaya masih mencoba melakukannya,\u201d kata Lal. \u201cJawabannya belum didapat, tetapi saat itulah transformasi terjadi \u2013 dan restorasi menjadi komponen penting, mesipun tanah dimanapun, semua tanah pertanian, khususnya di negara berkembang, sudah sangat terkuras karena petani mengambil semuanya \u2013 lahan dibiarkan memulihkan dirinya sendiri dan konsekuensinya karbon terus terkuras, dan berkontribusi pada pemanasan global.<\/p>\n<figure id=\"attachment_68286\" aria-describedby=\"caption-attachment-68286\" style=\"width: 623px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-68286 size-large\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/2014_RLal0375-623x415.jpg\" alt=\"Men conducting soil research\" width=\"623\" height=\"415\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/2014_RLal0375-623x415.jpg 623w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/2014_RLal0375-566x377.jpg 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/2014_RLal0375-263x176.jpg 263w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/2014_RLal0375-768x511.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/2014_RLal0375-220x146.jpg 220w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/2014_RLal0375-610x406.jpg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/2014_RLal0375-152x102.jpg 152w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/2014_RLal0375-670x446.jpg 670w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/2014_RLal0375-75x49.jpg 75w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/2014_RLal0375.jpg 1532w\" sizes=\"auto, (max-width: 623px) 100vw, 623px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-68286\" class=\"wp-caption-text\">Pemenang Penghargaan Pangan Dunia 2020 Rattan Lal (kanan) bekerja dengan seorang peneliti. Foto oleh: Kenneth D. Chamberlain, Sekolah Tinggi Ilmu Pangan, Pertanian, dan Lingkungan, Universitas Negeri Ohio. Foto ini adalah milik Sekolah Tinggi Ilmu Pangan, Pertanian, dan Lingkungan.<\/figcaption><\/figure>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>SOLUSI PERTANIAN<\/strong><\/p>\n<p>Mengurangi ekspansi pertanian pada hutan membutuhkan investasi kesehatan tanah agar produksi bisa meningkat pada lahan yang ada. Di sub-Sahara Afrika produktivitas pada lahan yang ada bisa ditingkatkan dua atau tiga kali lipat, kata Lal.<\/p>\n<p>\u201cBagi sebagian besar konservasionis, pertanian adalah masalah,\u201d katanya. \u201cSaya pikir ini agak kurang adik karena kita semua suka makan, dan makanan datang dari pertanian, jadi saya pikir ini kewajiban kita membuat pertanian jadi solusi, bukannya masalah.\u201d<\/p>\n<p><div class='short-video sv_new short-video--left' >\n            <a class='short-video-trigger GTMshortVideo' href='#' data-video-url=''>\n                <div class='short-video__thumb'>\n                    <img src='' width='260' alt=''>\n                    <div class='short-video__icon'><i class='fa fa-play-circle-o'><\/i><\/div>\n                <\/div>\n                <div class='short-video__type'><\/div>\n                <div class='short-video__title'><\/div>\n            <\/a>\n        <\/div> Lahan dapat menjadi lebih produktif dengan menangkap karbon melalui peningkatan materi organik, meningkatkan kapasitas air, memutar siklus nutrisi, efisiensi pupuk dan realisasi penuh potensi plasma nutfah \u2013 maka pertanian menjadi solusi.<\/p>\n<p>Lahan gambut tidak boleh dikeringkan dan digunduli untuk pertanian atau hutan tanaman karena merupakan simpanan karbon \u2013 ketika dikeringkan, lahan tersebut menjadi sumber metana dan nitrogen oksida, kata Lal.<\/p>\n<p>\u201cMenggunduli lahan gambut, mengeringkan dan menanam kelapa sawit atau karet seharusnya diredam,\u201d tambahnya. \u201cKita punya banyak lahan lain, yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan \u2013 ini titik kebijakan sangat penting \u2013 kepentingan kebijakan, tidak boleh membangun perkebunan di lahan gambut \u2013 jika lahan gambut telah gundul, solusi terbaiknya adalah merestorasi kembali.<\/p>\n<p><strong>PENGHARGAAN<\/strong><\/p>\n<p>Dalam era pra-pandemi, Penghargaan Pangan Dunia, yang pada sektor pertanian setara dengan penghargaan Nobel, diberikan tiap tahun di tengah berbagai kondisi, dan ditutup dengan makan malam pemberian penghargaan.<\/p>\n<p>Tahun ini agak berbeda.<\/p>\n<p>Lal disambut secara daring oleh <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=lGveq7GBC6c&amp;feature=youtu.be&amp;t=2679\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Barbara Stinson<\/a>, presiden Yayasan Penghargaan Pangan Dunia, diiringi <a href=\"https:\/\/youtu.be\/lGveq7GBC6c?t=2755\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penampilan<\/a> spektakuler komposer dan musisi India, A.R. Rahman, yang kontribusi musiknya pada <em>Slumdog Millionaire<\/em> pada 2009 meraih <a href=\"https:\/\/www.reuters.com\/article\/idINIndia-38155020090224\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">dua Academy Awards<\/a>.<\/p>\n\n<p>\u201cApa yang membuat saya bahagia, mereka mengakui tanah,\u201d kata Lal. Ia akan  menginvestasikan hadiah 250.000 dolar AS untuk dana hibah <a href=\"https:\/\/cmasc.osu.edu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Manajemen dan Sekuestrasi Karbon <\/a> OSU \u2014 yang baru disematkan <a href=\"https:\/\/news.osu.edu\/naming-of-ohio-state-center-cements-lals-legacy\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">namanya<\/a> oleh pihak universitas pada Jumat \u2013 untuk membiayai penelitian dan pendidikan. Ia juga sudah menyumbangkan 450.000 dolar AS dari Penghargaan Jepang <a href=\"https:\/\/www.bizjournals.com\/columbus\/news\/2019\/04\/22\/ohio-state-just-got-a-half-million-dollar-gift.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">yang ia peroleh tahun lalu<\/a>, selain beberapa penghargaan lain.<\/p>\n<p>Ia berharap pihak lain akan menambah dana hibah tersebut, yang kini telah mencapai sekitar 1 juta dolar AS.<\/p>\n<p>\u201cSaya menargetkan 5 juta dolar AS \u2013 yang akan cukup untuk membiayai empat atau lima mahasiswa pasca-sarjana setiap tahun untuk penelitian terkait selamanya,\u201d katanya. \u201cIni cita-cita, dan ini yang saya lakukan, semoga ada seseorang mendengar dan berkata, hey, kami akan menandingimu.\u201d<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dari Afghanistan ke Kamboja, seluruh dataran rendah Himalaya, kondisi cuaca ekstrem menjadi hal biasa. Seabad lalu, bukit-bukit ditutupi hutan. Kini sudah terbuka akibat pertumbuhan penduduk, ekspansi pertanian serta kebutuhan kayu bakar dan kayu. Deforestasi dan degradasi bentang alam berarti bahwa monsoon membawa banjir besar dan kemarau yang diiringi kekeringan menjadi tantangan yang menghambat produksi pertanian, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":91,"featured_media":68950,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090],"tags":[],"language":[2171],"location":[],"tag-bahasa":[7446,7719],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[989],"class_list":["post-68941","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","language-bahasa-indonesia","tag-bahasa-pangan","tag-bahasa-reforestasi","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Reforestasi dapat menghentikan sindrom kekeringan-banjir, kata pemenang Penghargaan Pangan Dunia Rattan Lal - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68941\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Reforestasi dapat menghentikan sindrom kekeringan-banjir, kata pemenang Penghargaan Pangan Dunia Rattan Lal\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Dari Afghanistan ke Kamboja, seluruh dataran rendah Himalaya, kondisi cuaca ekstrem menjadi hal biasa. Seabad lalu, bukit-bukit ditutupi hutan. Kini sudah terbuka akibat pertumbuhan penduduk, ekspansi pertanian serta kebutuhan kayu bakar dan kayu. Deforestasi dan degradasi bentang alam berarti bahwa monsoon membawa banjir besar dan kemarau yang diiringi kekeringan menjadi tantangan yang menghambat produksi pertanian, [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68941\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-11-02T05:30:07+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2020-11-02T06:08:06+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/2019_RLal_Portaits009.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2004\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1336\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Julie Mollins\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@jmollins\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68941\\\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68941\\\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal\"},\"author\":{\"name\":\"Julie Mollins\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/18a6edef8169e1c81d3306a074a16467\"},\"headline\":\"Reforestasi dapat menghentikan sindrom kekeringan-banjir, kata pemenang Penghargaan Pangan Dunia Rattan Lal\",\"datePublished\":\"2020-11-02T05:30:07+00:00\",\"dateModified\":\"2020-11-02T06:08:06+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68941\\\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal\"},\"wordCount\":1149,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68941\\\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/11\\\/2019_RLal_Portaits009.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68941\\\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2020\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68941\\\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68941\\\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal\",\"name\":\"Reforestasi dapat menghentikan sindrom kekeringan-banjir, kata pemenang Penghargaan Pangan Dunia Rattan Lal - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68941\\\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68941\\\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/11\\\/2019_RLal_Portaits009.jpg\",\"datePublished\":\"2020-11-02T05:30:07+00:00\",\"dateModified\":\"2020-11-02T06:08:06+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68941\\\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68941\\\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68941\\\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/11\\\/2019_RLal_Portaits009.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/11\\\/2019_RLal_Portaits009.jpg\",\"width\":2004,\"height\":1336,\"caption\":\"Pemenang Penghargaan Pangan Dunia 2020, Rattan Lal. Foto oleh: Kenneth D. Chamberlain, Sekolah Tinggi Ilmu Pangan, Pertanian, dan Lingkungan, Universitas Negeri Ohio. Foto ini adalah milik Sekolah Tinggi Ilmu Pangan, Pertanian, dan Lingkungan.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68941\\\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Reforestasi dapat menghentikan sindrom kekeringan-banjir, kata pemenang Penghargaan Pangan Dunia Rattan Lal\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68941\\\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68941\\\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/18a6edef8169e1c81d3306a074a16467\",\"name\":\"Julie Mollins\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=gd7b35bd5dbca81f466deabc370b98c72\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Julie Mollins\"},\"description\":\"Since 2013, Julie Mollins has served in various editorial and outreach roles with CGIAR-affiliated organizations, including as editor of Forests News for CIFOR (2013-2014, 2018 and November 2019 to June 2022), editor of Landscape News for the Global Landscapes Forum (GLF) and news editor and media manager for the International Maize and Wheat Improvement Center (CIMMYT). She also works in communications at the World Bank. Previously, she worked for Reuters in Toronto and London, the former Reuters Foundation humanitarian website AlertNet in London, and several national news and business publications in Canada.\",\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.linkedin.com\\\/in\\\/juliemollins\\\/\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/jmollins\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/jmollins\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68941\\\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Reforestasi dapat menghentikan sindrom kekeringan-banjir, kata pemenang Penghargaan Pangan Dunia Rattan Lal - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68941\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Reforestasi dapat menghentikan sindrom kekeringan-banjir, kata pemenang Penghargaan Pangan Dunia Rattan Lal","og_description":"Dari Afghanistan ke Kamboja, seluruh dataran rendah Himalaya, kondisi cuaca ekstrem menjadi hal biasa. Seabad lalu, bukit-bukit ditutupi hutan. Kini sudah terbuka akibat pertumbuhan penduduk, ekspansi pertanian serta kebutuhan kayu bakar dan kayu. Deforestasi dan degradasi bentang alam berarti bahwa monsoon membawa banjir besar dan kemarau yang diiringi kekeringan menjadi tantangan yang menghambat produksi pertanian, [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68941\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2020-11-02T05:30:07+00:00","article_modified_time":"2020-11-02T06:08:06+00:00","og_image":[{"width":2004,"height":1336,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/2019_RLal_Portaits009.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Julie Mollins","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@jmollins","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68941\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68941\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal"},"author":{"name":"Julie Mollins","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/18a6edef8169e1c81d3306a074a16467"},"headline":"Reforestasi dapat menghentikan sindrom kekeringan-banjir, kata pemenang Penghargaan Pangan Dunia Rattan Lal","datePublished":"2020-11-02T05:30:07+00:00","dateModified":"2020-11-02T06:08:06+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68941\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal"},"wordCount":1149,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68941\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/2019_RLal_Portaits009.jpg","articleSection":["Forests News"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68941\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal#respond"]}],"copyrightYear":"2020","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68941\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68941\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal","name":"Reforestasi dapat menghentikan sindrom kekeringan-banjir, kata pemenang Penghargaan Pangan Dunia Rattan Lal - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68941\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68941\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/2019_RLal_Portaits009.jpg","datePublished":"2020-11-02T05:30:07+00:00","dateModified":"2020-11-02T06:08:06+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68941\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68941\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68941\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/2019_RLal_Portaits009.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/2019_RLal_Portaits009.jpg","width":2004,"height":1336,"caption":"Pemenang Penghargaan Pangan Dunia 2020, Rattan Lal. Foto oleh: Kenneth D. Chamberlain, Sekolah Tinggi Ilmu Pangan, Pertanian, dan Lingkungan, Universitas Negeri Ohio. Foto ini adalah milik Sekolah Tinggi Ilmu Pangan, Pertanian, dan Lingkungan."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68941\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Reforestasi dapat menghentikan sindrom kekeringan-banjir, kata pemenang Penghargaan Pangan Dunia Rattan Lal"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68941\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68941\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/18a6edef8169e1c81d3306a074a16467","name":"Julie Mollins","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=gd7b35bd5dbca81f466deabc370b98c72","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=g","caption":"Julie Mollins"},"description":"Since 2013, Julie Mollins has served in various editorial and outreach roles with CGIAR-affiliated organizations, including as editor of Forests News for CIFOR (2013-2014, 2018 and November 2019 to June 2022), editor of Landscape News for the Global Landscapes Forum (GLF) and news editor and media manager for the International Maize and Wheat Improvement Center (CIMMYT). She also works in communications at the World Bank. Previously, she worked for Reuters in Toronto and London, the former Reuters Foundation humanitarian website AlertNet in London, and several national news and business publications in Canada.","sameAs":["https:\/\/www.linkedin.com\/in\/juliemollins\/","https:\/\/x.com\/jmollins"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/jmollins"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68941\/reforestasi-dapat-menghentikan-sindrom-kekeringan-banjir-kata-pemenang-penghargaan-pangan-dunia-rattan-lal#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/2019_RLal_Portaits009.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/68941","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/91"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=68941"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/68941\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68968,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/68941\/revisions\/68968"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/68950"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=68941"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=68941"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=68941"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=68941"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=68941"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=68941"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=68941"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=68941"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=68941"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=68941"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=68941"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=68941"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=68941"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}