{"id":68321,"date":"2020-10-20T07:36:36","date_gmt":"2020-10-20T00:36:36","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=68321"},"modified":"2020-10-20T09:51:56","modified_gmt":"2020-10-20T02:51:56","slug":"bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68321\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus","title":{"rendered":"Bagaimana pilihan pangan kita menghancurkan hutan dan mendekatkan kita dengan virus"},"content":{"rendered":"<p>Jumlah populasi global yang meningkat 2 kali lipat menjadi 7,8 milyar dalam waktu kurang lebih 50 tahun telah mendorong industri agrikultur meningkatkan produksi pertanian dan peternakan untuk kebutuhan pangan manusia.<\/p>\n<p>Dampak negatif yang ditimbulkan adalah <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1007\/s10980-020-01012-w\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penyederhanaan sistem ekologis<\/a> yang ekstrem, yaitu mengubah lanskap yang kompleks dengan fungsi berbeda-beda menjadi monokultur.<\/p>\n<p>Dibandingkan peternakan sapi dan perkebunan kelapa sawit, industri agrikultur merupakan <a href=\"https:\/\/psmag.com\/environment\/whats-driving-global-deforestation\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">pendorong deforestitasi<\/a> yang besar, terutama di wilayah tropis.<\/p>\n<p>Ketika aktivitas agrikultur semakin meluas dan <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.gfs.2019.07.002\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">meningkat<\/a>, maka ekosistem akan kehilangan <a href=\"http:\/\/www.fao.org\/news\/story\/en\/item\/1180463\/icode\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">tumbuhan, binatang liar, dan keanekaragaman hayati lainnya<\/a>.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.doi.org\/10.1126\/science.aau3445\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Transformasi lanskap hutan secara permanen<\/a> demi tanaman komoditas mendorong lebih dari seperempat dari total deforestasi global.<\/p>\n<p>Tanaman komoditas ini termasuk kacang kedelai, kelapa sawit, daging sapi, kopi, kakao, gula, dan bahan utama lainnya untuk memenuhi pola makan manusia yang semakin disederhanakan dan banyak melibatkan <a href=\"https:\/\/www.theguardian.com\/food\/2020\/feb\/13\/how-ultra-processed-food-took-over-your-shopping-basket-brazil-carlos-monteiro\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">olahan<\/a>.<\/p>\n<p>Erosi batas hutan juga meningkatkan kerentanan kita terhadap <a href=\"https:\/\/ipbes.net\/covid19stimulus\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penyakit menular<\/a>, seperti <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1038\/s41598-017-14727-9\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Ebola<\/a>, <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.ecolecon.2018.08.005\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">malaria<\/a>, dan <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1038\/s41586-020-2562-8\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penyakit zoonosis<\/a> lainnya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1177%2F0030727020931122\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Insiden <em>spillover<\/em> (penyebaran) akan lebih sedikit terjadi<\/a> jika tidak ada penjarahan hutan oleh manusia.<\/p>\n<p>Kita juga harus mengevaluasi <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/publications\/pdf_files\/articles\/ABahar2001.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">sistem makanan global<\/a>: apakah sistem tersebut berperan dalam kerusakan hutan dan hilangnya <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1007\/s10980-020-01092-8\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">keanekaragaman hayati<\/a> dan berisiko bagi nyawa manusia?<\/p>\n\n<p><strong>Apa yang kita makan?<\/strong><\/p>\n<p>Jenis makanan berkaitan dengang hilangnya keragaman hayati cenderung <a href=\"http:\/\/www.fao.org\/3\/a-i7846e.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">tidak sehat<\/a>.<\/p>\n<p>Lima puluh tahun telah berlalu sejak manusia melakukan <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1073\/pnas.0912953109\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Revolusi Hijau<\/a>, yaitu transisi ke produk pangan bergantung pada sejumlah spesies tanaman dan hewan ternak tertentu.<\/p>\n<p>Namun, hingga kini, sekitar 800 juta orang masih kekurangan makanan harian; satu dari 3 orang kekurangan gizi; dan 2 miliar orang masih kekurangan mikronutrien tertentu dan menderita dampak kesehatan, seperti <em>stunting<\/em> atau <em>wasting<\/em>.<\/p>\n<figure style=\"width: 754px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/images.theconversation.com\/files\/353908\/original\/file-20200820-20-4t5bzv.jpg?ixlib=rb-1.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip\" alt=\"Pembukaan hutan untuk agrikultu.\" width=\"754\" height=\"505\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\">Ladang kedelai dan hutan di Brazil. Foto oleh: Shutterstock<\/figcaption><\/figure>\n<p><a href=\"https:\/\/ora.ox.ac.uk\/objects\/uuid:25c20aa7-88b3-4457-9e4d-8ffbf57fc943\/download_file?safe_filename=Campbell%2Bet%2Bal%2B2017%2BAgriculture%2Bproduction%2Bas%2Ba%2Bmajor%2Bdriver%2Bof%2Bthe%2BEarth%2Bsystem.pdf&amp;file_format=application%2Fpdf&amp;type_of_work=Journal+article\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Dampak lingkungan<\/a> dari sistem agrikultur kita sangat besar.<\/p>\n<p>Sektor agrikultur bertanggung jawab atas <a href=\"https:\/\/www.doi.org\/10.1038\/nature.2012.11708\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">30% emisi gas rumah kaca<\/a>, erosi tanah, penggunaan air secara berlebihan, hilangnya polinator yang penting dan munculnya polusi kimia, serta dampak lainnya.<\/p>\n<p>Ini mendesak <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.5751\/ES-09595-220408\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">kapasitas planet<\/a> kita lebih jauh lagi.<\/p>\n<p>Singkatnya, agrikultur modern gagal mempertahankan kesejahteraan manusia dan sumber ekologis yang diandalkan. Meningkatnya penyakit menular terkait erat dengan hilangnya keragaman hayati yang terjadi saat ini.<\/p>\n\n<p><strong>Deforestasi dan penyakit<\/strong><\/p>\n<p>Tidak banyak virus yang mengakibatkan respons global seperti virus SARS-CoV-2 penyebab pandemi saat ini.<\/p>\n<p>Namun, <a href=\"https:\/\/dx.doi.org\/10.3389%2Ffmicb.2018.00702\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">dalam 20 tahun terakhir<\/a>, manusia telah menghadapi SARS, MERS, H1N1, Chikungunya, Zika, dan wabah-wabah ebola lokal.<\/p>\n<p>Semua penyakit ini adalah penyakit zoonosis dan setidaknya salah satunya, Ebola, berkaitan dengan deforestasi.<\/p>\n<p>Peternakan skala besar pada hewan ternak yang memiliki genetik yang sama di dekat hutan bisa <a href=\"https:\/\/www.independent.co.uk\/environment\/coronavirus-meat-animal-farming-pandemic-disease-wet-markets-a9505626.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">menyediakan jalur bagi patogen<\/a> untuk bermutasi dan berpindah ke manusia.<\/p>\n<p>Hilangnya hutan dan perubahan lanskap mendekatkan manusia dengan kehidupan liar, meningkatkan <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1098\/rspb.2019.2736\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penyebaran penyakit menular<\/a>.<\/p>\n<p>Sekitar <a href=\"https:\/\/www.doi.org\/10.1126\/sciadv.1500052\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">70% kawasan hutan global hanya berjarak 1 kilometer dari tepi hutan<\/a>, sebuah statistik yang mengilustrasikan masalah yang terjadi. Kita sedang menghancurkan penyangga kritis yang disediakan oleh hutan.<\/p>\n<p>Zoonosis lebih sering terjadi pada sistem yang disederhanakan dengan tingkat keanekaragaman hayati yang rendah.<\/p>\n<p>Sebaliknya, keanekaragaman hayati tinggi mengurangi risiko <em>spillover<\/em> ke populasi manusia.<\/p>\n<p>Hal ini membentuk kontrol alami yang disebut sebagai \u201c<em>dilution effect<\/em>\u201d dan menggambarkan bagaimana keanekaragaman hayati merupakan mekanisme pengaturan yang penting.<\/p>\n<p>Pandemi <a href=\"https:\/\/news.mongabay.com\/2020\/07\/covid-19-lockdown-precipitates-deforestation-across-asia-and-south-america\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">meningkatkan tekanan yang lebih besar pada hutan<\/a>.<\/p>\n<p>Pemutusan hubungan kerja yang meningkat, kemiskinan dan kerentanan pangan di daerah urban <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.arcmed.2020.06.003\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">memaksa migrasi internal<\/a>, banyak orang kembali pulang ke kampung halaman, terutama di daerah tropis.<\/p>\n<p>Tren ini dipastikan akan meningkatkan permintaan akan sumber daya hutan untuk kayu bakar, kayu, dan konversi ke agrikultur skala kecil.<\/p>\n\n<p><strong>Pasar basah di bawah pengawasan<\/strong><\/p>\n<p>Hubungan antara zoonosis dan kehidupan liar menghasilkan <a href=\"https:\/\/www.worldwildlife.org\/stories\/why-we-must-close-high-risk-wildlife-markets\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">banyak seruan<\/a> selama pandemi untuk melarang pemburuan dan penjualan daging hewan liar dan bentuk lainnya sebagai sumber makanan.<\/p>\n<p>Ini mungkin <a href=\"https:\/\/theconversation.com\/banning-bushmeat-could-make-it-harder-to-stop-future-pandemics-138735\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">reaksi tergesa-gesa<\/a>: daging binatan liar adalah <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/64855\/covid-19-led-ban-on-wild-meat-could-take-protein-off-the-table-for-millions-of-forest-dwellers?\">sumber utama<\/a> bagi berjuta-juta orang di pedesaan, terutama yang tidak memiliki alternatif sumber pangan.<\/p>\n<p>Bagi penduduk urban, posisi daging binatang liar tidak begitu genting. Mereka memiliki sumber protein alternatif dan bagi mereka daging binatang liar adalah barang \u201cmewah\u201d.<\/p>\n<p>Pasar di daerah urban yang menjual daging hewan liar meningkatkan risiko penyebaran zoonosis, tapi tidak semua pasar basah.<\/p>\n<p>Banyak pasar basah di dunia yang tidak menjual produk binatang liar dan pasar ini <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1007\/s10460-019-09987-2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penting untuk menjami ketersediaan pangan dan nutrisi serta mata pencaharian<\/a> bagi ratusan juta orang.<\/p>\n<figure style=\"width: 600px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/images.theconversation.com\/files\/353904\/original\/file-20200820-18-12tkksx.jpg?ixlib=rb-1.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip\" sizes=\"auto, (min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px\" srcset=\"https:\/\/images.theconversation.com\/files\/353904\/original\/file-20200820-18-12tkksx.jpg?ixlib=rb-1.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=400&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https:\/\/images.theconversation.com\/files\/353904\/original\/file-20200820-18-12tkksx.jpg?ixlib=rb-1.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=400&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https:\/\/images.theconversation.com\/files\/353904\/original\/file-20200820-18-12tkksx.jpg?ixlib=rb-1.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=400&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https:\/\/images.theconversation.com\/files\/353904\/original\/file-20200820-18-12tkksx.jpg?ixlib=rb-1.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=503&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https:\/\/images.theconversation.com\/files\/353904\/original\/file-20200820-18-12tkksx.jpg?ixlib=rb-1.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=503&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https:\/\/images.theconversation.com\/files\/353904\/original\/file-20200820-18-12tkksx.jpg?ixlib=rb-1.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=503&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w\" alt=\"Pembeli dan penjual di pasar terbuka, dekat dengan buah-buahan dan sayuran.\" width=\"600\" height=\"400\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\">Para pedagang di pasar basah Bangkok, Thailand. Foto oleh: Gemunu Amarasinghe\/AP Photo<\/figcaption><\/figure>\n<p>Sebelum pandemi COVID-19, agensi internasional, termasuk Komite Ketahanan Pangan Dunia, <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1016\/S0140-6736(15)60901-1\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">mencemaskan<\/a> keberlangsungan jangka panjang dari sistem makanan kita yang sekarang: bisakah sistem itu menyediakan pola makan yang beragam dan kaya nutrisi sekaligus mempertahankan keberlangsungan lingkungan dan keanekaragaman lanskap?<\/p>\n<p>Pandemi ini memperlihatkan <a href=\"https:\/\/www.theguardian.com\/environment\/2020\/mar\/18\/tip-of-the-iceberg-is-our-destruction-of-nature-responsible-for-covid-19-aoe\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">kekurangan utama<\/a> di pengelolaan lingkungan hidup.<\/p>\n<p>Kita harus memanfaatkan hubungan hutan dan sistem makanan dengan lebih efektif bila ingin menghindari krisis lain di masa depan.<\/p>\n<p>Integrasi hutan, <em>agroforest<\/em> (penggabungan pohon ke dalam sistem agrikultur) dengan <a href=\"https:\/\/ecoagriculture.org\/blog\/how-to-reimagine-our-food-systems-for-a-post-covid-world-taking-a-landscape-perspective\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">skala lanskap lebih luas<\/a>, melihat kembali pemisahan institusi, ekonomi, politik, dan spasial antara hutan dan agrikultur, bisa memberikan kunci untuk masa depan yang lebih berkelanjutan, memiliki ketahanan pangan, dan lebih sehat.<\/p>\n<p><em>Artikel ini pertama kali dipublikasikan oleh <a href=\"https:\/\/theconversation.com\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus-147749?utm_source=twitter&amp;utm_medium=bylinetwitterbutton\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">The Conversation<\/a> pada 13 Oktober 2020.<\/em><\/p>\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jumlah populasi global yang meningkat 2 kali lipat menjadi 7,8 milyar dalam waktu kurang lebih 50 tahun telah mendorong industri agrikultur meningkatkan produksi pertanian dan peternakan untuk kebutuhan pangan manusia. Dampak negatif yang ditimbulkan adalah penyederhanaan sistem ekologis yang ekstrem, yaitu mengubah lanskap yang kompleks dengan fungsi berbeda-beda menjadi monokultur. Dibandingkan peternakan sapi dan perkebunan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":21,"featured_media":68338,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090],"tags":[],"language":[2171],"location":[],"tag-bahasa":[5854,7446,10127],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[207],"class_list":["post-68321","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","language-bahasa-indonesia","tag-bahasa-hutan","tag-bahasa-pangan","tag-bahasa-penyebaran-virus","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Bagaimana pilihan pangan kita menghancurkan hutan dan mendekatkan kita dengan virus - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68321\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Bagaimana pilihan pangan kita menghancurkan hutan dan mendekatkan kita dengan virus\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Jumlah populasi global yang meningkat 2 kali lipat menjadi 7,8 milyar dalam waktu kurang lebih 50 tahun telah mendorong industri agrikultur meningkatkan produksi pertanian dan peternakan untuk kebutuhan pangan manusia. Dampak negatif yang ditimbulkan adalah penyederhanaan sistem ekologis yang ekstrem, yaitu mengubah lanskap yang kompleks dengan fungsi berbeda-beda menjadi monokultur. Dibandingkan peternakan sapi dan perkebunan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68321\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-10-20T00:36:36+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2020-10-20T02:51:56+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/27925898909_1012ec1485_k.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2048\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1367\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Terry Sunderland\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@TCHSunderland\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68321\\\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68321\\\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus\"},\"author\":{\"name\":\"Terry Sunderland\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/19f9fac49c9f6390f787c3f02a53110d\"},\"headline\":\"Bagaimana pilihan pangan kita menghancurkan hutan dan mendekatkan kita dengan virus\",\"datePublished\":\"2020-10-20T00:36:36+00:00\",\"dateModified\":\"2020-10-20T02:51:56+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68321\\\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus\"},\"wordCount\":824,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68321\\\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/10\\\/27925898909_1012ec1485_k.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68321\\\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2020\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68321\\\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68321\\\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus\",\"name\":\"Bagaimana pilihan pangan kita menghancurkan hutan dan mendekatkan kita dengan virus - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68321\\\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68321\\\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/10\\\/27925898909_1012ec1485_k.jpg\",\"datePublished\":\"2020-10-20T00:36:36+00:00\",\"dateModified\":\"2020-10-20T02:51:56+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68321\\\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68321\\\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68321\\\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/10\\\/27925898909_1012ec1485_k.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/10\\\/27925898909_1012ec1485_k.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1367,\"caption\":\"Hutan menyediakan beragam kebutuhan pangan. Potret seorang perempuan memanen daun pakis dari hutan. Foto oleh:\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68321\\\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Bagaimana pilihan pangan kita menghancurkan hutan dan mendekatkan kita dengan virus\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68321\\\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68321\\\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/19f9fac49c9f6390f787c3f02a53110d\",\"name\":\"Terry Sunderland\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/6acb2ec33870622974e5596a351588784b9aa47d2f1f87c6cf2c17f652c91ed0?s=96&d=mm&r=gc47b59bc99d133b77c2ff86ea5f18756\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/6acb2ec33870622974e5596a351588784b9aa47d2f1f87c6cf2c17f652c91ed0?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/6acb2ec33870622974e5596a351588784b9aa47d2f1f87c6cf2c17f652c91ed0?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Terry Sunderland\"},\"description\":\"Terry Sunderland is a Principal Scientist with CIFOR's Forests and Livelihoods programme, and leads the research domain 'Managing trade-offs between conservation and development at the landscape scale'. Prior to joining CIFOR, Terry was based in Central Africa for many years. Terry holds a Ph.D. from University College London and has published extensively on conservation and livelihood issues.\",\"sameAs\":[\"\\\/\\\/www.cifor.org\\\/nc\\\/about-us\\\/cifor-scientist-profiles\\\/scientist-profile.html?tx_ciforwebse\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/@TCHSunderland\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/terrysunderland\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/68321\\\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Bagaimana pilihan pangan kita menghancurkan hutan dan mendekatkan kita dengan virus - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68321\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Bagaimana pilihan pangan kita menghancurkan hutan dan mendekatkan kita dengan virus","og_description":"Jumlah populasi global yang meningkat 2 kali lipat menjadi 7,8 milyar dalam waktu kurang lebih 50 tahun telah mendorong industri agrikultur meningkatkan produksi pertanian dan peternakan untuk kebutuhan pangan manusia. Dampak negatif yang ditimbulkan adalah penyederhanaan sistem ekologis yang ekstrem, yaitu mengubah lanskap yang kompleks dengan fungsi berbeda-beda menjadi monokultur. Dibandingkan peternakan sapi dan perkebunan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68321\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2020-10-20T00:36:36+00:00","article_modified_time":"2020-10-20T02:51:56+00:00","og_image":[{"width":2048,"height":1367,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/27925898909_1012ec1485_k.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Terry Sunderland","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@TCHSunderland","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68321\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68321\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus"},"author":{"name":"Terry Sunderland","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/19f9fac49c9f6390f787c3f02a53110d"},"headline":"Bagaimana pilihan pangan kita menghancurkan hutan dan mendekatkan kita dengan virus","datePublished":"2020-10-20T00:36:36+00:00","dateModified":"2020-10-20T02:51:56+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68321\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus"},"wordCount":824,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68321\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/27925898909_1012ec1485_k.jpg","articleSection":["Forests News"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68321\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus#respond"]}],"copyrightYear":"2020","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68321\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68321\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus","name":"Bagaimana pilihan pangan kita menghancurkan hutan dan mendekatkan kita dengan virus - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68321\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68321\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/27925898909_1012ec1485_k.jpg","datePublished":"2020-10-20T00:36:36+00:00","dateModified":"2020-10-20T02:51:56+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68321\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68321\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68321\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/27925898909_1012ec1485_k.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/27925898909_1012ec1485_k.jpg","width":2048,"height":1367,"caption":"Hutan menyediakan beragam kebutuhan pangan. Potret seorang perempuan memanen daun pakis dari hutan. Foto oleh:"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68321\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Bagaimana pilihan pangan kita menghancurkan hutan dan mendekatkan kita dengan virus"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68321\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68321\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/19f9fac49c9f6390f787c3f02a53110d","name":"Terry Sunderland","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/6acb2ec33870622974e5596a351588784b9aa47d2f1f87c6cf2c17f652c91ed0?s=96&d=mm&r=gc47b59bc99d133b77c2ff86ea5f18756","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/6acb2ec33870622974e5596a351588784b9aa47d2f1f87c6cf2c17f652c91ed0?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/6acb2ec33870622974e5596a351588784b9aa47d2f1f87c6cf2c17f652c91ed0?s=96&d=mm&r=g","caption":"Terry Sunderland"},"description":"Terry Sunderland is a Principal Scientist with CIFOR's Forests and Livelihoods programme, and leads the research domain 'Managing trade-offs between conservation and development at the landscape scale'. Prior to joining CIFOR, Terry was based in Central Africa for many years. Terry holds a Ph.D. from University College London and has published extensively on conservation and livelihood issues.","sameAs":["\/\/www.cifor.org\/nc\/about-us\/cifor-scientist-profiles\/scientist-profile.html?tx_ciforwebse","https:\/\/x.com\/@TCHSunderland"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/terrysunderland"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/68321\/bagaimana-pilihan-pangan-kita-menghancurkan-hutan-dan-mendekatkan-kita-dengan-virus#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/27925898909_1012ec1485_k.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/68321","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/21"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=68321"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/68321\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68340,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/68321\/revisions\/68340"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/68338"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=68321"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=68321"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=68321"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=68321"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=68321"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=68321"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=68321"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=68321"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=68321"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=68321"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=68321"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=68321"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=68321"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}