{"id":67033,"date":"2020-08-28T10:00:47","date_gmt":"2020-08-28T03:00:47","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=67033"},"modified":"2020-08-27T20:56:15","modified_gmt":"2020-08-27T13:56:15","slug":"desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/67033\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi","title":{"rendered":"Desain bentang alam produksi pangan sebagai panduan tujuan nutrisi"},"content":{"rendered":"<p>Hutan dan pepohonan berkontribusi penting bagi ketersediaan pangan di daerah pedesaan di banyak negara berkembang. Selain sebagai penyedia nutrisi penting dari sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/62213\/keeping-wild-meat-on-the-table?fnl=en\">daging satwa liar<\/a>, hutan dan pepohonan meningkatkan variasi makanan yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, khususnya anak-anak.<\/p>\n<p>Namun, setidaknya terdapat 2 miliar orang \u2013 atau lebih dari 30 persen dari populasi dunia \u2013 menderita kekurangan vitamin dan mineral, yang juga dikenal sebagai \u201c<a href=\"https:\/\/www.who.int\/nutrition\/topics\/WHO_FAO_ICN2_videos_hiddenhunger\/en\/#:~:text=Hidden%20hunger%20is%20a%20lack,for%20their%20growth%20and%20development.\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">kelaparan tersembunyi<\/a>\u201d.<\/p>\n<p>Bagi negara-negara yang miskin akan sumber daya, <a href=\"https:\/\/www.who.int\/nutrition\/topics\/ida\/en\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">kekurangan zat besi<\/a> secara khusus merupakan masalah utama kesehatan yang dapat menyebabkan anemia, diikuti dengan kurangnya asupan vitamin B12, seng, folat, dan vitamin A dalam konsumsi pangan masyarakat. Konsumsi pangan olahan tinggi garam, lemak jenuh, dan gula hanya memperburuk kondisi kekurangan gizi dan obesitas di seluruh dunia, menyebabkan penyakit kronis atau kematian yang seharusnya dapat dicegah.<\/p>\n<p>Untuk mengatasi masalah ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa menargetkan untuk mengakhiri malnutrisi di seluruh dunia pada tahun 2030, sebagaimana yang diuraikan dalam <a href=\"https:\/\/sdgs.un.org\/goals\/goal2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">target<\/a> Nol Kelaparan dalam program <a href=\"https:\/\/sdgs.un.org\/goals\/goal2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Tujuan Pembangunan Berkelanjutan<\/a>.<\/p>\n<p>Pendekatan kebijakan yang ada saat ini terfokus pada pertanian, peternakan, dan perikanan dengan penekanan pada peningkatan hasil tanaman pokok bagi pemenuhan kebutuhan pangan dunia yang terus meningkat. Sebuah <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/knowledge\/publication\/7678\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">makalah<\/a> terbaru dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) dan Badan Pembangunan Internasional AS menunjukkan bagaimana pola diet dan nutrisi dapat memperoleh manfaat dari perspektif bentang alam yang lebih luas. Perspektif ini tidak hanya membahas tentang pertanian saja, tetapi juga mengintegrasikan prinsip konservasi dan restorasi hutan di dalamnya.<\/p>\n\n<p>Integrasi ini dapat dicapai dengan memanfaatkan pedoman gizi dan pola diet yang tersedia sebagai dasar pengembangan strategi bentang alam terpadu.<\/p>\n<p>Menurut para peneliti studi ini, pemahaman hubungan antara pola diet dan bentang alam dapat lebih ditingkatkan melalui penelitian multidisiplin dengan fokus pada pemenuhan tujuan ketahanan pangan dan gizi secara berkelanjutan.<\/p>\n<p>Riset ini merupakan hasil kolaborasi 14 ilmuwan dari berbagai universitas dan pusat penelitian di seluruh dunia dalam kelompok kerja tentang \u201cKeragaman Pangan dan Bentang Alam\u201d yang didanai oleh <a href=\"https:\/\/www.sesync.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Sintesis Sosial-Lingkungan Nasional AS<\/a> (SESYNC).<\/p>\n<p>\u201cMemberi konsumen kesempatan untuk mengonsumsi makanan yang beragam dan sehat menuntut kami untuk melihat lebih dari sekedar potensi dari sektor pertanian,\u201d kata <a href=\"https:\/\/profiles.forestry.ubc.ca\/person\/sarah-gergel\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Sarah Gergel<\/a>, seorang profesor ekologi bentang alam dan konservasi di universitas <a href=\"https:\/\/www.ubc.ca\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">British Columbia Kanada<\/a> dan penulis utama laporan tersebut. \u201cPerguruan tinggi memiliki peran penting dalam menjawab tantangan ini. Kita harus melakukan lebih dari sekadar melatih ilmuwan di bidang pertanian atau pengelolaan hutan, dan harus lebih banyak melatih para sarjana untuk lebih memahami titik temu dari disiplin ilmu ini.\u201d<\/p>\n<p>Tutupan pohon di daerah tropis memiliki keterkaitan dengan kualitas dan keanekaragaman pangan dalam berbagai penelitian.<\/p>\n<p>Anak-anak pada khususnya, yang memperoleh nutrisi dari kawasan hutan di sekitar tempat mereka tinggal akan memiliki akses ke sumber makanan yang lebih sedikit ketika hutan di sekitar mereka hilang atau terdegradasi. Menurut penulis, tipe bentang alam ini berkontribusi pada keanekaragaman nutrisi melalui empat cara: jalur langsung (daging satwa liar dan makanan yang bersumber dari hutan); jalur agroekologi (kesuburan tanah, penyerbukan, pengendalian hama, dan jasa ekosistem lainnya yang mendukung produksi pertanian); jalur energi (<a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/knowledge\/forests-news\/66346\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">kayu bakar<\/a> untuk memasak); dan jalur pendapatan (hasil hutan menyediakan mata pencaharian bagi masyarakat pedesaan).<\/p>\n\n<p>Keragaman bentang alam \u2013 dengan ladang pertanian dan tutupan hutan \u2013 dapat menawarkan berbagai fungsi pemenuhan nutrisi. Hutan sekunder kerap kali menyediakan makanan yang tidak tersedia di hutan primer. Habitat <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/50974\/on-the-edge-of-forests-change-comes-in-many-forms?fnl=en\">tepi hutan<\/a> mungkin memiliki lebih banyak spesies hewan dan tumbuhan, termasuk buah-buahan seperti jambu biji, sekaligus menjadi pintu bagi kegiatan berburu hewan. Petak pertanian dengan keanekaragaman hayati dapat menghasilkan lebih banyak <a href=\"http:\/\/www.fao.org\/3\/y5740e\/y5740e0f.htm\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">produk yang kaya nutrisi<\/a> dan merupakan sumber bagi sebagian besar produksi pangan di sub-Sahara Afrika, Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Cina. Laporan mencatat, menghargai peran penting bentang alam dapat membantu dalam mengintegrasikan berbagai aspek terkait ekosistem hutan, pepohonan, dan pertanian serta mendukung beragam pola diet.<\/p>\n<p>\u201cBentang alam yang beragam dengan pepohonan dan hutan menyediakan habitat bagi berbagai spesies satwa liar, termasuk spesies penyerbuk yang membantu kegiatan pertanian,\u201d kata Gergel. \u201cHutan yang berada di dekat sungai juga membantu dalam mencegah polutan masuk ke sungai dan saluran perairan. Oleh karena itu, hutan memiliki peran penting dalam penyediaan pangan yang selanjutnya mendukung kesehatan dan nutrisi manusia.\u201d<\/p>\n<p>Rumitnya hubungan antara hutan dan pola diet membutuhkan pemahaman yang lebih tentang sumber makanan dan variasi musim. Buah, sayur, dan daging yang dibeli di pasar misalnya, seringkali berasal dari lokasi yang kurang jelas, apakah berasal dari hutan, ladang pertanian, atau berasal dari negara lain. Kurangnya informasi ini menghalangi upaya mengidentifikasi kontribusi bentang alam terhadap nutrisi. Demikian pula, <a href=\"http:\/\/www.foodsecurityportal.org\/seasonality-tool\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">variasi musim<\/a> memengaruhi ketersediaan dan konsumsi makanan dari hutan, dan menghadirkan kesenjangan pengetahuan untuk penilaian asupan makanan. Dengan demikian, peningkatan metrik keragaman diet juga diperlukan untuk menilai kontribusi nutrisi dari bentang alam yang ada, menurut makalah tersebut.<\/p>\n\n<p>Dari perspektif teknologi, penulis merekomendasikan penggunaan <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/65871\/new-technology-transforms-study-of-tree-crowns-and-congo-basin-dynamics?fnl=en\">citra spasial beresolusi tinggi dari satelit<\/a> untuk meningkatkan pemantauan serta pemetaan hutan dan pepohonan untuk lebih mengkarakterisasi keanekaragaman bentang alam yang ada. Penelusuran mendetail seperti petak kecil pohon penghasil buah misalnya, dapat membantu proses perencanaan nutrisi. Melacak sisa-sisa tutupan hutan juga sangat membantu mendorong inisiatif konservasi dan restorasi, yang dapat terjadi pada tipe bentang alam yang sama di mana keamanan pangan menjadi perhatian.<\/p>\n<p>\u201cKemajuan luar biasa dalam pengembangan citra satelit beresolusi tinggi akan merubah pemahaman kita tentang hutan dan perannya bagi pemenuhan nutrisi,\u201d kata Gergel. \u201cPohon buah-buahan yang merupakan sumber penting vitamin A misalnya, dapat dipetakan dari luar angkasa. Pemanfaatan citra satelit juga dapat membantu dalam memprediksi dan melacak ketepatan waktu puncak kesuburan vegetasi dan kondisi kekeringan dengan tingkat detail tinggi. Hal ini dapat membantu kami dalam memahami perubahan musiman pada sumber makanan hutan yang kemungkinan besar tersedia di lapangan.\u201d<\/p>\n<p>Bentang alam berhutan dapat memainkan peran penting dalam memerangi \u201ckelaparan tersembunyi\u201d jika diintegrasikan ke dalam strategi pengentasan kemiskinan dan nutrisi. Konservasi keanekaragaman hayati, perubahan iklim dan tata guna lahan, pertanian, kesehatan manusia, dan nutrisi dipengaruhi oleh keanekaragaman bentang alam. &#8220;Dengan mengenali kebutuhan yang mendesak ini, para pemangku kebijakan dapat mengadopsi sistem pendekatan ketahanan pangan dan gizi yang memiliki dampak lebih besar di negara berkembang,&#8221; tutup Gergel.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hutan dan pepohonan berkontribusi penting bagi ketersediaan pangan di daerah pedesaan di banyak negara berkembang. Selain sebagai penyedia nutrisi penting dari sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan daging satwa liar, hutan dan pepohonan meningkatkan variasi makanan yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, khususnya anak-anak. Namun, setidaknya terdapat 2 miliar orang \u2013 atau lebih dari 30 persen dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":364,"featured_media":67035,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090],"tags":[],"language":[2171],"location":[],"tag-bahasa":[2587,2550,7446],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[9822],"class_list":["post-67033","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","language-bahasa-indonesia","tag-bahasa-bentang-alam","tag-bahasa-ketahanan-pangan","tag-bahasa-pangan","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Desain bentang alam produksi pangan sebagai panduan tujuan nutrisi - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/67033\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Desain bentang alam produksi pangan sebagai panduan tujuan nutrisi\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Hutan dan pepohonan berkontribusi penting bagi ketersediaan pangan di daerah pedesaan di banyak negara berkembang. Selain sebagai penyedia nutrisi penting dari sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan daging satwa liar, hutan dan pepohonan meningkatkan variasi makanan yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, khususnya anak-anak. Namun, setidaknya terdapat 2 miliar orang \u2013 atau lebih dari 30 persen dari [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/67033\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-08-28T03:00:47+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/08\/36243127706_8c3680c344_k.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2048\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1365\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"David Henry\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/67033\\\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/67033\\\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi\"},\"author\":{\"name\":\"David Henry\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/50e9456cf00fbdb5ebf3b62a9f434f18\"},\"headline\":\"Desain bentang alam produksi pangan sebagai panduan tujuan nutrisi\",\"datePublished\":\"2020-08-28T03:00:47+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/67033\\\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi\"},\"wordCount\":981,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/67033\\\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/08\\\/36243127706_8c3680c344_k.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/67033\\\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2020\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/67033\\\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/67033\\\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi\",\"name\":\"Desain bentang alam produksi pangan sebagai panduan tujuan nutrisi - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/67033\\\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/67033\\\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/08\\\/36243127706_8c3680c344_k.jpg\",\"datePublished\":\"2020-08-28T03:00:47+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/67033\\\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/67033\\\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/67033\\\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/08\\\/36243127706_8c3680c344_k.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/08\\\/36243127706_8c3680c344_k.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1365,\"caption\":\"Makanan hutan yang beragam dan kaya akan nutrisi di Luwingu, Zambia. Foto oleh:\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/67033\\\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Desain bentang alam produksi pangan sebagai panduan tujuan nutrisi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/67033\\\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/67033\\\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/50e9456cf00fbdb5ebf3b62a9f434f18\",\"name\":\"David Henry\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8874b5188eb7260580c0e8383196e0aad0f00be894c8054313ae894b6407b5f4?s=96&d=mm&r=g495ca2761fca34dfb5a2f6b5d002bf4a\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8874b5188eb7260580c0e8383196e0aad0f00be894c8054313ae894b6407b5f4?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8874b5188eb7260580c0e8383196e0aad0f00be894c8054313ae894b6407b5f4?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"David Henry\"},\"description\":\"David Henry is a freelance writer who focuses on issues relating to climate change, food security and sustainable development.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/davidhenry\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/67033\\\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Desain bentang alam produksi pangan sebagai panduan tujuan nutrisi - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/67033\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Desain bentang alam produksi pangan sebagai panduan tujuan nutrisi","og_description":"Hutan dan pepohonan berkontribusi penting bagi ketersediaan pangan di daerah pedesaan di banyak negara berkembang. Selain sebagai penyedia nutrisi penting dari sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan daging satwa liar, hutan dan pepohonan meningkatkan variasi makanan yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, khususnya anak-anak. Namun, setidaknya terdapat 2 miliar orang \u2013 atau lebih dari 30 persen dari [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/67033\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2020-08-28T03:00:47+00:00","og_image":[{"width":2048,"height":1365,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/08\/36243127706_8c3680c344_k.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"David Henry","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/67033\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/67033\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi"},"author":{"name":"David Henry","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/50e9456cf00fbdb5ebf3b62a9f434f18"},"headline":"Desain bentang alam produksi pangan sebagai panduan tujuan nutrisi","datePublished":"2020-08-28T03:00:47+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/67033\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi"},"wordCount":981,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/67033\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/08\/36243127706_8c3680c344_k.jpg","articleSection":["Forests News"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/67033\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi#respond"]}],"copyrightYear":"2020","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/67033\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/67033\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi","name":"Desain bentang alam produksi pangan sebagai panduan tujuan nutrisi - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/67033\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/67033\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/08\/36243127706_8c3680c344_k.jpg","datePublished":"2020-08-28T03:00:47+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/67033\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/67033\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/67033\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/08\/36243127706_8c3680c344_k.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/08\/36243127706_8c3680c344_k.jpg","width":2048,"height":1365,"caption":"Makanan hutan yang beragam dan kaya akan nutrisi di Luwingu, Zambia. Foto oleh:"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/67033\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Desain bentang alam produksi pangan sebagai panduan tujuan nutrisi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/67033\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/67033\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/50e9456cf00fbdb5ebf3b62a9f434f18","name":"David Henry","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8874b5188eb7260580c0e8383196e0aad0f00be894c8054313ae894b6407b5f4?s=96&d=mm&r=g495ca2761fca34dfb5a2f6b5d002bf4a","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8874b5188eb7260580c0e8383196e0aad0f00be894c8054313ae894b6407b5f4?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8874b5188eb7260580c0e8383196e0aad0f00be894c8054313ae894b6407b5f4?s=96&d=mm&r=g","caption":"David Henry"},"description":"David Henry is a freelance writer who focuses on issues relating to climate change, food security and sustainable development.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/davidhenry"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/67033\/desain-bentang-alam-produksi-pangan-sebagai-panduan-tujuan-nutrisi#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/08\/36243127706_8c3680c344_k.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/67033","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/364"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=67033"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/67033\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":67036,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/67033\/revisions\/67036"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/67035"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=67033"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=67033"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=67033"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=67033"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=67033"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=67033"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=67033"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=67033"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=67033"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=67033"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=67033"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=67033"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=67033"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}