{"id":66186,"date":"2020-07-13T07:30:39","date_gmt":"2020-07-13T00:30:39","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=66186"},"modified":"2020-07-10T15:37:41","modified_gmt":"2020-07-10T08:37:41","slug":"memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/66186\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan","title":{"rendered":"Memperbesar peluang kesetaraan gender melalui reformasi tenurial hutan"},"content":{"rendered":"<p>Reformasi tenurial hutan memiliki ragam derajat pengaruh pada bagaimana pemerintah dan masyarakat mengelola sumber daya bentang alam. Beberapa perubahan berpihak pada perempuan, dan menunjukkan langkah kecil ke arah pemberdayaan.<\/p>\n<p>Baru-baru ini, para peneliti Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) mendalami kondisi perempuan dan tenurial lahan di Provinsi Lampung dan Maluku. Penelitian ini dilakukan untuk lebih memahami dampak kebijakan reformasi tenurial hutan dan program kesetaraan gender.<\/p>\n<p>\u201cPartisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan di tingkat keluarga dan masyarakat tampak meningkat, meski masih terbatas,\u201d kata Anne Larson, ketua tim Kesetaraan Peluang, Keadilan Gender dan Tenurial CIFOR yang memimpin penelitian ini.<\/p>\n<p>Komitmen pemerintah Indonesia untuk memasukkan pengarusutamaan jender dalam pembangunan nasional dikunci pada 2000 melalui mandat yang dirancang untuk diturunkan pada semua kebijakan dan program di seluruh kementerian. Bahkan sebelum penggabungan dengan Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan telah mengarusutamakan gender, selain telah merajutnya melalui berbagai kebijakan dan program. Praktik ini terus berlanjut. Partisipasi perempuan didorong melalui berbagai program Pengarusutamaan Gender (PUG). Program ini dirancang untuk mengarusutamakan gender dalam kebijakan hutan dan lingkungan hidup, termasuk dalam tenurial hutan.<\/p>\n<p>\u201cMeski kebijakan nasional kesetaraan gender berkontribusi pada pengarusutamaan kebijakan gender pada sektor kehutanan, kebijakan dan program reformasi tenurial hutan masih sedikit mempertimbangkan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan,\u201d kata Mia Siscawati, ketua Program Kajian Gender di <a href=\"https:\/\/www.ui.ac.id\/en\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Universitas Indonesia<\/a>. Kesimpulan itu diambil setelah wawancara, survei dan diskusi terpumpun di 16 desa yang memiliki aturan tenurial berbeda.<\/p>\n<p>Penelitian ini melibatkan laki-laki dan perempuan di tingkat nasional, provinsi, dan lokal di dua provinsi.<\/p>\n\n<p><strong>TUJUAN SEJALAN<\/strong><\/p>\n<p>Perubahan kebijakan nasional tenurial hutan \u2013 yang menentukan hak kepemilikan dan bagaimana sumber daya hutan dimanfaatkan, jangka waktu dan kondisinya \u2013 berjalan bersamaan dengan upaya mengakhiri diskriminasi terhadap perempuan dan anak gadis.<\/p>\n<p>Akses lebih bagi perempuan atas lahan dan sumber daya alam merupakan inti dari upaya kesetaraan gender, yang juga berlangsung di tingkat internasional, dan dinyatakan dalam <a href=\"https:\/\/sustainabledevelopment.un.org\/?menu=1300\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Tujuan Pembangunan Berkelanjutan<\/a> (SDG) PBB, sebuah kerangka kerja yang berisi 15 target penghapusan kemiskinan pada 2030.<\/p>\n<p>Bersama dengan <a href=\"https:\/\/www.ohchr.org\/en\/professionalinterest\/pages\/cedaw.aspx\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Konvensi Internasional Penghapusan Segala Bentuk Diskrimasi Perempuan<\/a> (CEDAW), <a href=\"https:\/\/www.un.org\/development\/desa\/indigenouspeoples\/declaration-on-the-rights-of-indigenous-peoples.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Deklarasi Hak Masyarakat Adat PBB<\/a> dan <a href=\"http:\/\/www.fao.org\/cfs\/home\/activities\/vggt\/en\/#:~:text=The%20Voluntary%20Guidelines%20on%20the,poverty%2C%20supporting%20sustainable%20development%20and\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Panduan Tata Kelola Bertanggung Jawab<\/a>, terbentuk kerangka kerja kebijakan global sebagai panduan untuk pemenuhan hak.<\/p>\n<p>Meski mengisi lebih dari separuh dari 2,5 miliar penduduk yang secara adat memiliki dan memanfaatkan lahan komunitas, perempuan adat dan pedesaan seringkali absen dari pembahasan hak kepemilikan dan agenda pembangunan lebih besar lain. Kondisi ini diungkap dalam <a href=\"https:\/\/rightsandresources.org\/en\/blog\/power-potential-new-report-womens-rights-community-forests\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Laporan Inisiatif atas Hak dan Sumber Daya<\/a> (RRI) pada bagian hak perempuan pada hutan masyarakat.<\/p>\n<p>Melalui asesmen 80 kerangka legal yang mengatur hak perempuan adat dan pedesaan atas hutan masyarakat di 30 negara, serta mencakup 78 persen hutan negara berkembang, laporan RRI menyatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu dari dua negara yang tidak secara eksplisit menjamin perlindungan kesetaraan dalam konstitusinya.<\/p>\n\n<p>Namun, banyak pihak di Indonesia menyatakan bahwa Pasal 27 UUD 1945, yang menyatakan \u201cseluruh warga negara memiliki hak sama di depan hukum,\u201d merupakan dasar bagi pemenuhan hak-hak perempuan. Meskipun undang-undang itu tidak secara spesifik membedakan warga negara laki-laki dan perempuan.<\/p>\n<p>Sebagai salah satu penandatangan CEDAW pada 1984, negara berkomitmen menghapus diskriminasi terhadap perempuan di pedesaan. Regulasi dan aturan nasional spesifik gender lain sudah tersedia untuk mendukung pengarusutamaan gender dalam sektor kehutanan.<\/p>\n<p><strong>PARAMETER KERANGKA KERJA<\/strong><\/p>\n<p>Para peneliti menggunakan kerangka kerja konseptual \u201c<a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/publications\/pdf_files\/OccPapers\/OP-82.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Kotak Gender<\/a>,\u201d yang dikembangkan oleh Carol Colfer, ilmuwan senior mitra CIFOR, untuk meneliti gender dan reformasi tenurial hutan.<\/p>\n<p>Kerangka ini memungkinkan analisis sistematis peran gender dalam manajemen hutan pada tiga tingkat berbeda. Colfer menamainya, makro, meso dan mikro, untuk menentukan bagaimana perempuan dan laki-laki memanfaatkan sumber daya dan memetik manfaat hutan.<\/p>\n<p>Makro mencakup pertimbangan kebijakan, peraturan dan parameter kultural dan religius kurang formal pada skala global. Meso menawarkan cara menganalisis pola sosial dari bentang alam hingga tingkat nasional yang mempengaruhi perilaku terkait hutan. Sementara, mikro menyoroti kluster masalah lebih rinci, seperti demografi, ekonomi lokal dan peran keluarga.<\/p>\n<p>\u201cSaya sedikit memodifikasi pendekatan konseptual Colfer untuk mengembangkan kerangka analisis,\u201d  kata Siscawati. \u201cSaya mempertimbangkan irisan reformasi tenurial hutan dan dimensi gender, serta dinamika pada tiga tingkat ini.\u201d<\/p>\n\n<p>Sebagian besar praktik tenurial dan tata kelola hutan di Indonesia, kata Siscawati, dikembangkan di seputar kompetisi proses antara negara dan masyarakat hutan, khususnya Masyarakat Adat, komunitas tradisional dan komunitas lokal lain.<\/p>\n<p>\u201cBanyak penelitian, seperti juga kebijakan dan program memandang \u2018masyarakat\u2019 sebagai entitas homogen dan sedikit pertimbangan pada gender, kelas, etnisitas, agama, dan aspek sosio-kultural lain yang berkontribusi penting pada pembentukan sub-grup dalam sebuah \u2018masyarakat\u2019 serta ragam identitas anggota tiap sub-grup,\u201d katanya.<\/p>\n<p>\u201cOleh karena itu, ketidakadilan gender dalam tenurial dan tata kelola hutan, sebagaimana yang banyak dialami perempuan, belum sepenuhnya teratasi.\u201d<\/p>\n<p><strong>PERAN GENDER<\/strong><\/p>\n<p>Secara umum, pada kedua provinsi, kerja ekonomi perempuan, meliputi membantu pekerjaan di sawah, kebun, panen dan pengolahan biji kopi, ubi kayu, gula kelapa, pisang, ketan, membuat kerajinan, menjual dan memasarkan produk. Peran domestiknya, antara lain memasak, mencuci, belanja serta merawat anak dan suami. Mereka sering kali dibantu anak perempuan mereka, dan bekerja lebih lama dibanding laki-laki.<\/p>\n<p>Laki-laki bekerja di kebun, sawah dan mengurus ternak. Peran domestik mereka antara lain membersihkan rumah dan mencuci pakaian sendiri, serta seringkali dibantu anak laki-laki.<\/p>\n<p>Di Lampung, penelitian menunjukkan, terdapat dua izin perhutanan sosial, yaitu <em>hutan kemasyarakatan<\/em> dan<em> hutan tanaman rakyat<\/em>.<\/p>\n\n<p>Penerapan reformasi di Lampung tidak berkontribusi secara signifikan pada transformasi norma gender. Meski terdapat peningkatan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan di tingkat keluarga dan masyarakat, namun masih terbatas.<\/p>\n<p>Peningkatan potensi penghasilan membuka peluang anak perempuan bersekolah lebih tinggi. Pernikahan dini menurun. Perempuan merasa lebih aman dan terjamin dalam mengelola lahan karena tidak lagi mengkhawatirkan otoritasnya. Hal ini berarti, mereka dapat berkontribusi pada manajemen hutan berkelanjutan dengan penanaman kembali agar terhindar dari kepunahan dan mendapatkan penghasilan dari hasil hutan bukan kayu, yang menutupi pengeluaran sehari-hari. Manfaat lain yang teramati, bahwa jumlah laki-laki yang melakukan migrasi temporer menurun karena hak tenurial yang lebih terjamin.<\/p>\n<p>Di Maluku, para peneliti mengamati sejumlah besar hutan adat, dan masyarakat lokal terus mengupayakan skema reformasi tenurial hutan yang dapat melindungi hak tenurialnya atas lahan dan sumber daya hutan.<\/p>\n<p>Reformasi tenurial hutan di Lampung dan Maluku tidak mengubah peran domestik dan sosial perempuan, kata Siscawati.<\/p>\n<p>\u201cNamun, peningkatan pendidikan anak perempuan, sejalan dengan peningkatan penghasilan bisa berkontribusi pada perubahan norma gender di masa depan, dan memungkinkan perempuan berpartisipasi aktif dalam aktivitas mengelola hutan.<\/p>\n<div class=\"tlid-results-container results-container\">\n<div class=\"tlid-result result-dict-wrapper\">\n<div class=\"result tlid-copy-target\">\n<div class=\"text-wrap tlid-copy-target\">\n<div class=\"result-shield-container tlid-copy-target\" tabindex=\"0\"><em><span class=\"tlid-translation translation\" lang=\"id\"><span class=\"\" title=\"\">Penelitian ini dilakukan sebagai bagian dari Program Penelitian CGIAR tentang Kebijakan, Lembaga, dan Pasar (PIM) yang dipimpin oleh Lembaga Penelitian Kebijakan Pangan Internasional (IFPRI), dan Hutan, Pohon dan Agroforestri (FTA) yang dipimpin oleh CIFOR.<\/span> <span title=\"\">&#8216;Studi Komparatif Global CIFOR tentang Reformasi Penguasaan Hutan&#8217; didanai oleh Komisi Eropa dan Fasilitas Lingkungan Global (GEF) dengan dukungan teknis dari Dana Internasional untuk Pengembangan Pertanian (IFAD) dan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO).<\/span><\/span><\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Reformasi tenurial hutan memiliki ragam derajat pengaruh pada bagaimana pemerintah dan masyarakat mengelola sumber daya bentang alam. Beberapa perubahan berpihak pada perempuan, dan menunjukkan langkah kecil ke arah pemberdayaan. Baru-baru ini, para peneliti Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) mendalami kondisi perempuan dan tenurial lahan di Provinsi Lampung dan Maluku. Penelitian ini dilakukan untuk lebih memahami [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":91,"featured_media":66319,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[6582],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[989],"class_list":["post-66186","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-gender","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Memperbesar peluang kesetaraan gender melalui reformasi tenurial hutan - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/66186\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Memperbesar peluang kesetaraan gender melalui reformasi tenurial hutan\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Reformasi tenurial hutan memiliki ragam derajat pengaruh pada bagaimana pemerintah dan masyarakat mengelola sumber daya bentang alam. Beberapa perubahan berpihak pada perempuan, dan menunjukkan langkah kecil ke arah pemberdayaan. Baru-baru ini, para peneliti Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) mendalami kondisi perempuan dan tenurial lahan di Provinsi Lampung dan Maluku. Penelitian ini dilakukan untuk lebih memahami [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/66186\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-07-13T00:30:39+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/37720459214_9679b7ce8e_e.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"499\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"333\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Julie Mollins\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@jmollins\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/66186\\\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/66186\\\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan\"},\"author\":{\"name\":\"Julie Mollins\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/18a6edef8169e1c81d3306a074a16467\"},\"headline\":\"Memperbesar peluang kesetaraan gender melalui reformasi tenurial hutan\",\"datePublished\":\"2020-07-13T00:30:39+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/66186\\\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan\"},\"wordCount\":1085,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/66186\\\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/07\\\/37720459214_9679b7ce8e_e.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/66186\\\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2020\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/66186\\\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/66186\\\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan\",\"name\":\"Memperbesar peluang kesetaraan gender melalui reformasi tenurial hutan - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/66186\\\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/66186\\\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/07\\\/37720459214_9679b7ce8e_e.jpg\",\"datePublished\":\"2020-07-13T00:30:39+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/66186\\\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/66186\\\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/66186\\\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/07\\\/37720459214_9679b7ce8e_e.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/07\\\/37720459214_9679b7ce8e_e.jpg\",\"width\":499,\"height\":333,\"caption\":\"Ibu- ibu pengangkut resin berjalan membawa resin dari ladang ke desa Penengahan, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/66186\\\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Memperbesar peluang kesetaraan gender melalui reformasi tenurial hutan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/66186\\\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/66186\\\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/18a6edef8169e1c81d3306a074a16467\",\"name\":\"Julie Mollins\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=gd7b35bd5dbca81f466deabc370b98c72\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Julie Mollins\"},\"description\":\"Since 2013, Julie Mollins has served in various editorial and outreach roles with CGIAR-affiliated organizations, including as editor of Forests News for CIFOR (2013-2014, 2018 and November 2019 to June 2022), editor of Landscape News for the Global Landscapes Forum (GLF) and news editor and media manager for the International Maize and Wheat Improvement Center (CIMMYT). She also works in communications at the World Bank. Previously, she worked for Reuters in Toronto and London, the former Reuters Foundation humanitarian website AlertNet in London, and several national news and business publications in Canada.\",\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.linkedin.com\\\/in\\\/juliemollins\\\/\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/jmollins\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/jmollins\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/66186\\\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Memperbesar peluang kesetaraan gender melalui reformasi tenurial hutan - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/66186\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Memperbesar peluang kesetaraan gender melalui reformasi tenurial hutan","og_description":"Reformasi tenurial hutan memiliki ragam derajat pengaruh pada bagaimana pemerintah dan masyarakat mengelola sumber daya bentang alam. Beberapa perubahan berpihak pada perempuan, dan menunjukkan langkah kecil ke arah pemberdayaan. Baru-baru ini, para peneliti Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) mendalami kondisi perempuan dan tenurial lahan di Provinsi Lampung dan Maluku. Penelitian ini dilakukan untuk lebih memahami [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/66186\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2020-07-13T00:30:39+00:00","og_image":[{"width":499,"height":333,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/37720459214_9679b7ce8e_e.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Julie Mollins","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@jmollins","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/66186\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/66186\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan"},"author":{"name":"Julie Mollins","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/18a6edef8169e1c81d3306a074a16467"},"headline":"Memperbesar peluang kesetaraan gender melalui reformasi tenurial hutan","datePublished":"2020-07-13T00:30:39+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/66186\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan"},"wordCount":1085,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/66186\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/37720459214_9679b7ce8e_e.jpg","articleSection":["Forests News"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/66186\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan#respond"]}],"copyrightYear":"2020","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/66186\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/66186\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan","name":"Memperbesar peluang kesetaraan gender melalui reformasi tenurial hutan - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/66186\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/66186\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/37720459214_9679b7ce8e_e.jpg","datePublished":"2020-07-13T00:30:39+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/66186\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/66186\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/66186\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/37720459214_9679b7ce8e_e.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/37720459214_9679b7ce8e_e.jpg","width":499,"height":333,"caption":"Ibu- ibu pengangkut resin berjalan membawa resin dari ladang ke desa Penengahan, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/66186\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Memperbesar peluang kesetaraan gender melalui reformasi tenurial hutan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/66186\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/66186\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/18a6edef8169e1c81d3306a074a16467","name":"Julie Mollins","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=gd7b35bd5dbca81f466deabc370b98c72","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=g","caption":"Julie Mollins"},"description":"Since 2013, Julie Mollins has served in various editorial and outreach roles with CGIAR-affiliated organizations, including as editor of Forests News for CIFOR (2013-2014, 2018 and November 2019 to June 2022), editor of Landscape News for the Global Landscapes Forum (GLF) and news editor and media manager for the International Maize and Wheat Improvement Center (CIMMYT). She also works in communications at the World Bank. Previously, she worked for Reuters in Toronto and London, the former Reuters Foundation humanitarian website AlertNet in London, and several national news and business publications in Canada.","sameAs":["https:\/\/www.linkedin.com\/in\/juliemollins\/","https:\/\/x.com\/jmollins"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/jmollins"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/66186\/memperbesar-peluang-kesetaraan-gender-melalui-reformasi-tenurial-hutan#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/37720459214_9679b7ce8e_e.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/66186","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/91"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=66186"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/66186\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":66316,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/66186\/revisions\/66316"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/66319"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=66186"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=66186"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=66186"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=66186"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=66186"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=66186"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=66186"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=66186"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=66186"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=66186"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=66186"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=66186"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=66186"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}