{"id":63446,"date":"2020-01-07T11:58:16","date_gmt":"2020-01-07T04:58:16","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=63446"},"modified":"2021-04-30T13:49:47","modified_gmt":"2021-04-30T06:49:47","slug":"restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/63446\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim","title":{"rendered":"Restorasi lahan gambut yang inovatif, kunci mitigasi perubahan iklim"},"content":{"rendered":"<p>Indonesia adalah rumah bagi area lahan gambut yang kaya akan karbon, menopang keanekaragaman hayati dan mata pencaharian masyarakat di sekitarnya. Sekitar 30 hingga 40 persen karbon global tersimpan di lahan gambut, meskipun hanya meliputi sekitar tiga persen keseluruhan area permukaan bumi. Sebaliknya, lahan gambut mengeluarkan gas rumah kaca dalam jumlah besar jika terdegradasi.<\/p>\n<p>\u201cSebagian besar emisi gas rumah kaca di Indonesia disebabkan oleh alihfungsi lahan, terutama lahan gambut yang menyimpan banyak karbon. Jadi sangat penting bagi Indonesia untuk melestarikan dan memulihkan area lahan gambut,\u201d ujar Daniel Murdiyarso,  ilmuwan utama Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR).<\/p>\n<p>Pemerintah Indonesia baru-baru ini mengeluarkan moratorium permanen pembukaan hutan untuk perkebunan sawit atau penebangan kayu. Moratorium yang melindungi sekitar 66 juta hektar hutan primer dan lahan gambut ini pertama kali dikeluarkan pada 2011. Pada 2019, moratorium ini menjadi permanen setelah Presiden Joko Widodo menetapkan Instruksi Presiden yang melarang para Menteri, gubernur, dan pejabat lainnya mengeluarkan perijinan baru di dalam area yang dilindungi moratorium.<\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"Peatlands, earth&#039;s hidden treasure in the fight against climate change\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/nZT4sJrHc60?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Langkah awal dalam restorasi lahan gambut adalah mengembalikan dan menjaga kadar air setinggi mungkin agar material organik berhenti beroksidasi. Selanjutnya mengembalikan vegetasi lokal yang telah beradaptasi dengan lingkungan gambut untuk menjaga pasokan bahan organik yang akan melestarikan lahan gambut.<\/p>\n<p>Metode membakar umumnya digunakan dalam pembukaan lahan secara tradisional sebagai cara murah untuk meningkatkan kesuburan lahan serta mengendalikan hama dan rumput liar. Namun cara ini sangat berbahaya bagi iklim dan kesehatan ketika terbakar di luar kendali karena jumlah gas rumah kaca dan kabut asap yang dihasilkan sangat tinggi.<\/p>\n<p><strong>Memulihkan lahan gambut bersama masyarakat setempat<\/strong><\/p>\n<p>Pada 2016, Pemerintah Indonesia mendirikan Badan Restorasi Gambut (BRG) yang ditugaskan untuk memulihkan 2 juta hektar lahan gambut terdegradasi hingga 2020. Pemberdayaan masyarakat dalam upaya pelestarian menjadi sangat penting.<\/p>\n<p>\u201cHutan dikelilingi oleh masyarakat, jadi kita tidak bisa membatasinya begitu saja,\u201d ujar Murdiyarso. \u201cKita perlu melibatkan masyarakat dan menjadikan mereka bagian dari upaya restorasi, bukannya mengesampingkan mereka dari program,\u201d ujarnya, menegaskan pentingnya memberikan lapangan pekerjaan yang memberikan alternatif selain penebangan dan degradasi hutan.<\/p>\n\n<p>Johan Kieft, Penasihat Utama untuk <a href=\"https:\/\/www.un-redd.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">U.N. Programme on Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (UN-REDD Programme)<\/a> di Indonesia, menekankan pentingnya mempromosikan mata pencaharian alternatif yang berkelanjutan untuk komunitas lokal. UN-REDD, sebuah upaya gabungan dari U.N. Food and Agriculture Organization (FAO), U.N. Development Programme, dan U.N. Environment Programme, didirikan untuk memajukan U.N. Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) pada 2008. Sejak saat itu, UN-REDD Programme menjadi mitra utama PBB untuk melaksanakan Persetujuan Paris dan agenda pengembangan berkelanjutan.<\/p>\n<p>Kieft menekankan pentingnya mempromosikan mata pencaharian alternatif yang berkelanjutan untuk komunitas lokal. Ia menganjurkan penanaman tanaman komersial yang secara alami dapat tumbuh di lahan gambut, seperti Jelutung (<em>Dyera costulata<\/em>) yang dapat disadap untuk lateks. Ini adalah contoh tanaman bernilai tinggi yang dapat tumbuh secara alami di lahan gambut. Terdapat sekitar 83 spesies lain tanaman dengan nilai komersial tinggi. \u201cDengan ini, kita dapat menghasilkan pendapatan untuk masyarakat yang bergantung pada lahan gambut,\u201d ujar Kieft.<\/p>\n<p><strong>Upaya konservasi yang dipimpin bisnis<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/katinganproject.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Katingan Mentaya Project<\/a> adalah sebuah proyek restorasi dan konservasi lahan gambut di Provinsi Kalimantan Tengah, berlokasi di antara Sungai Katingan dan Sungai Mentaya. Proyek ini meliputi kawasan lahan gambut seluas kurang lebih 120.000 hektar, membentang sepanjang lebih dari 100km dari utara ke selatan dan sekitar 30km dari timur ke barat.<\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"Keeping the peatlands safe for the sake of the planet\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/wNTOprgzyOI?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Proyek karbon REDD+ swasta ini didasarkan pada konsep pencegahan deforestasi.<\/p>\n<p>\u201cLahan gambut menyimpan lebih banyak karbon dibanding hutan pada umumnya; gambut dapat menyimpan karbon 10-20% lebih banyak dari hutan mineral biasa,\u201c kata Dharsono Hartono, pendiri dan Direktur Utama proyek, menegaskan nilai gambut sebagai penyerap karbon yang menjadi alasannya memilih kawasan ini untuk bisnisnya. \u201cDari sudut pandang proyek karbon, (lahan gambut) menyimpan lebih banyak karbon dibandingkan jumlah yang berpotensi dikeluarkan. Jadi jika Anda melindungi dan melestarikannya, Anda akan mendapat lebih banyak kredit karbon.\u201d<\/p>\n<p>Dua belas tahun lalu, Hartono dan rekan bisnisnya mengambil risiko melalui gagasan bahwa bekerja sama dengan komunitas yang mencari penghasilan justru akan menyelamatkan lahan gambut. \u201cSaya sempat berpikir bahwa (gagasan) ini agak tidak realistis,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Hartono mengatakan <a href=\"https:\/\/katinganproject.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">PT Rimba Makmur Utama<\/a> menitikberatkan pelibatan masyarakat sekitar dalam usahanya. \u201cKelebihan proyek kami adalah kami bekerja sama dengan masyarakat, kami menempatkan mereka sebagai pemegang saham, bukan hanya pemangku kepentingan,\u201d kata Hartono. \u201cDan dengan restorasi gambut, kami juga mencegah terjadinya perubahan iklim yang lebih lanjut.\u201d<\/p>\n\n<p>Menurut Hartono, beberapa kelompok masyarakat merasa memiliki sebagian lahan di kawasan Katingan Mentaya Project dan menawarkan untuk menjualnya kepada perusahaan seharga Rp 2.000.000 per hektar. Namun, alih-alih membeli lahan tersebut, perusahaan menawarkan kepada komunitas kesempatan untuk bergabung dengan proyek ini dan memulihkan hutan. \u201cKami menyediakan bibitnya, tetapi masyarakat yang harus memastikan bahwa bibit tersebut bertahan dan jika mereka berhasil, kami akan membayar mereka sebesar Rp 2.000.000 per tahun untuk area yang mereka awasi,\u201d ujar Hartono. Alasan perusahaan menggunakan pendekatan ini adalah untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang proyek ini.<\/p>\n<p>Muhammad Zainuddin, petani yang tinggal di sekitar desa Mentaya Seberang, Kelurahan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, mengatakan bahwa sebelumnya ia tidak yakin dengan proyek ini. Tetapi, setelah tiga tahun mendapatkan pelatihan gratis dan melaksanakan pertanian ramah iklim, ia melihat keuntungan langsung baik secara finansial maupun peningkatan mutu lingkungan.<\/p>\n<p><strong>Masa depan proyek REDD+<\/strong><\/p>\n<p>Peneliti senior CIFOR dan kepala tim penelitian perubahan iklim, Amy Duchelle, telah mengikuti prakarsa lokal ini selama delapan tahun hingga saat ini. Evaluasi dampak Katingan Mentaya Project merupakan bagian dari <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/gcs\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">studi komparatif global CIFOR terhadap REDD+.<\/a><\/p>\n\n<p>\u201cAspek penting dari proyek yang dipimpin sektor swasta ini adalah fokusnya terhadap pelibatan masyarakat setempat,\u201d ucap Duchelle. \u201cSangat jelas bahwa terdapat kemitraan jangka panjang antara RMU dan 34 komunitas di batas area proyek dalam mengangkat hak dan mata pencaharian lokal.\u201d<\/p>\n<p>Ia menjelaskan bahwa saat ini terdapat sekitar 350 proyek REDD+ lokal yang aktif di seluruh dunia. Inisiatif tersebut berbeda satu sama lain, beberapa dipimpin oleh sektor swasta, beberapa dipimpin oleh organisasi non-pemerintah, dan beberapa lainnya dipimpin oleh pemerintah dengan penerapan intervensi yang berbeda pula.<\/p>\n<p>\u201cYang menarik adalah evaluasi ketat dari prakarsa awal ini dapat memberikan pelajaran untuk program REDD+ pada tingkat yurisdiksi lebih tinggi, &#8220;ucapnya.<\/p>\n<p>Meskipun para pelaksana sektor privat saat ini lebih terlibat dalam REDD+ dibandingkan sebelumnya akibat peningkatan permintaan untuk kredit karbon hutan, proyek-proyek ini harus ditempatkan dalam konteks <a href=\"https:\/\/unfccc.int\/process-and-meetings\/the-paris-agreement\/nationally-determined-contributions-ndcs\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><em>Nationally Determined Contributions <\/em>(NDC)<\/a> negara terhadap Perjanjian Paris.<\/p>\n<p>Sejauh ini, sangat <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/63274\/peatland-potential-untapped-in-nationally-determined-contributions-cop25-delegates-say?fnl=en\">sedikit negara yang memasukkan lahan gambut ke dalam NDC<\/a>, meskipun terdapat pada 180 negara.<\/p>\n\n<p>Indonesia adalah pengecualian dengan <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/publications\/pdf_files\/infobrief\/6449-infobrief.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">komitmen mereka untuk memulihkan 2,4 juta hektar lahan gambut<\/a> terdegradasi pada 2030.<\/p>\n<p>Proyek REDD+ di Indonesia berpotensi mendukung target tersebut. \u201c(Di sini) Anda memiliki proyek swasta yang baik\u2026keuntungan bagi masyarakat lokal dapat menjadi sebaik keuntungan bagi ekosistem setempat,\u201d ujar Duchelle. \u201cMari kita pelajari bagaimana menghubungkan prakarsa baik ini dengan pendekatan di tingkat yang lebih tinggi  untuk manajemen lahan berkelanjutan.\u201d<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Indonesia adalah rumah bagi area lahan gambut yang kaya akan karbon, menopang keanekaragaman hayati dan mata pencaharian masyarakat di sekitarnya. Sekitar 30 hingga 40 persen karbon global tersimpan di lahan gambut, meskipun hanya meliputi sekitar tiga persen keseluruhan area permukaan bumi. Sebaliknya, lahan gambut mengeluarkan gas rumah kaca dalam jumlah besar jika terdegradasi. \u201cSebagian besar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":272,"featured_media":63448,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[2476,2503,2522,2500,2567,2680,2622],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[6545,3085],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[7230],"class_list":["post-63446","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-adaptasi","tag-bahasa-cadangan-karbon","tag-bahasa-deforestasi","tag-bahasa-emisi-karbon","tag-bahasa-gas-rumah-kaca","tag-bahasa-lahan-basah","tag-bahasa-lahan-gambut","type-bahasa-liputan-acara","type-bahasa-video"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Restorasi lahan gambut yang inovatif, kunci mitigasi perubahan iklim - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/63446\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Restorasi lahan gambut yang inovatif, kunci mitigasi perubahan iklim\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Indonesia adalah rumah bagi area lahan gambut yang kaya akan karbon, menopang keanekaragaman hayati dan mata pencaharian masyarakat di sekitarnya. Sekitar 30 hingga 40 persen karbon global tersimpan di lahan gambut, meskipun hanya meliputi sekitar tiga persen keseluruhan area permukaan bumi. Sebaliknya, lahan gambut mengeluarkan gas rumah kaca dalam jumlah besar jika terdegradasi. \u201cSebagian besar [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/63446\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-01-07T04:58:16+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-04-30T06:49:47+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/49168657041_a6882b4cc3_c.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"799\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"533\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Nabiha Shahab\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/63446\\\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/63446\\\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim\"},\"author\":{\"name\":\"Nabiha Shahab\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4d4c3fe3b57374ced46d23770b6f72bd\"},\"headline\":\"Restorasi lahan gambut yang inovatif, kunci mitigasi perubahan iklim\",\"datePublished\":\"2020-01-07T04:58:16+00:00\",\"dateModified\":\"2021-04-30T06:49:47+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/63446\\\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim\"},\"wordCount\":1104,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/63446\\\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/01\\\/49168657041_a6882b4cc3_c.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/63446\\\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2020\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/63446\\\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/63446\\\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim\",\"name\":\"Restorasi lahan gambut yang inovatif, kunci mitigasi perubahan iklim - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/63446\\\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/63446\\\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/01\\\/49168657041_a6882b4cc3_c.jpg\",\"datePublished\":\"2020-01-07T04:58:16+00:00\",\"dateModified\":\"2021-04-30T06:49:47+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/63446\\\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/63446\\\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/63446\\\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/01\\\/49168657041_a6882b4cc3_c.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/01\\\/49168657041_a6882b4cc3_c.jpg\",\"width\":799,\"height\":533,\"caption\":\"Sebagian besar emisi gas rumah kaca disebabkan oleh alihfungsi lahan, terutama lahan gambut yang menyimpan banyak karbon.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/63446\\\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Restorasi lahan gambut yang inovatif, kunci mitigasi perubahan iklim\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/63446\\\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/63446\\\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4d4c3fe3b57374ced46d23770b6f72bd\",\"name\":\"Nabiha Shahab\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=gf0899e66b7fe5227e359732c0f65f0d9\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Nabiha Shahab\"},\"description\":\"Nabiha Shahab is a writer for Forest News. She has worked both in the media and media campaigning with environmental NGOs in Indonesia since 1997. She holds an MA in environmental management from the University of Nottingham.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/nabiha-shahab\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/63446\\\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Restorasi lahan gambut yang inovatif, kunci mitigasi perubahan iklim - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/63446\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Restorasi lahan gambut yang inovatif, kunci mitigasi perubahan iklim","og_description":"Indonesia adalah rumah bagi area lahan gambut yang kaya akan karbon, menopang keanekaragaman hayati dan mata pencaharian masyarakat di sekitarnya. Sekitar 30 hingga 40 persen karbon global tersimpan di lahan gambut, meskipun hanya meliputi sekitar tiga persen keseluruhan area permukaan bumi. Sebaliknya, lahan gambut mengeluarkan gas rumah kaca dalam jumlah besar jika terdegradasi. \u201cSebagian besar [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/63446\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2020-01-07T04:58:16+00:00","article_modified_time":"2021-04-30T06:49:47+00:00","og_image":[{"width":799,"height":533,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/49168657041_a6882b4cc3_c.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Nabiha Shahab","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/63446\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/63446\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim"},"author":{"name":"Nabiha Shahab","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4d4c3fe3b57374ced46d23770b6f72bd"},"headline":"Restorasi lahan gambut yang inovatif, kunci mitigasi perubahan iklim","datePublished":"2020-01-07T04:58:16+00:00","dateModified":"2021-04-30T06:49:47+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/63446\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim"},"wordCount":1104,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/63446\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/49168657041_a6882b4cc3_c.jpg","articleSection":["Forests News"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/63446\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim#respond"]}],"copyrightYear":"2020","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/63446\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/63446\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim","name":"Restorasi lahan gambut yang inovatif, kunci mitigasi perubahan iklim - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/63446\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/63446\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/49168657041_a6882b4cc3_c.jpg","datePublished":"2020-01-07T04:58:16+00:00","dateModified":"2021-04-30T06:49:47+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/63446\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/63446\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/63446\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/49168657041_a6882b4cc3_c.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/49168657041_a6882b4cc3_c.jpg","width":799,"height":533,"caption":"Sebagian besar emisi gas rumah kaca disebabkan oleh alihfungsi lahan, terutama lahan gambut yang menyimpan banyak karbon."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/63446\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Restorasi lahan gambut yang inovatif, kunci mitigasi perubahan iklim"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/63446\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/63446\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4d4c3fe3b57374ced46d23770b6f72bd","name":"Nabiha Shahab","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=gf0899e66b7fe5227e359732c0f65f0d9","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=g","caption":"Nabiha Shahab"},"description":"Nabiha Shahab is a writer for Forest News. She has worked both in the media and media campaigning with environmental NGOs in Indonesia since 1997. She holds an MA in environmental management from the University of Nottingham.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/nabiha-shahab"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/63446\/restorasi-lahan-gambut-yang-inovatif-kunci-mitigasi-perubahan-iklim#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/49168657041_a6882b4cc3_c.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63446","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/272"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=63446"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63446\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":63463,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63446\/revisions\/63463"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/63448"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=63446"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=63446"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=63446"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=63446"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=63446"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=63446"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=63446"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=63446"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=63446"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=63446"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=63446"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=63446"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=63446"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}