{"id":61954,"date":"2019-09-03T13:44:23","date_gmt":"2019-09-03T06:44:23","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=61954"},"modified":"2019-09-03T13:44:23","modified_gmt":"2019-09-03T06:44:23","slug":"bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61954\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia","title":{"rendered":"Bagaimana memaknai kebakaran hutan di Amazon dan Indonesia?"},"content":{"rendered":"<p>Dalam sepekan terakhir, foto api yang mencabik hutan dan asap yang mengepung kota mendominasi berita dan menarik kesadaran publik. Ketika kebakaran tidak hanya terjadi di Brasil, tetapi juga di Asia, Artik, Afrika dan Eropa, sepertinya tidak ada wilayah di dunia yang terbebas dari jilatan api.<\/p>\n<p>Dari perspektif mitigasi perubahan iklim dan konservasi, kebakaran hutan di Indonesia dan Basin Amazon tahun ini khususnya, yang terjadi di daerah yang juga merupakan kawasan serapan karbon dan keragaman hayati penting, jadi <a href=\"https:\/\/news.globallandscapesforum.org\/34468\/burn-notice-fires-reality-in-the-21st-century\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">sangat mengkhawatirkan<\/a>. Namun, sebagian pendapat berargumen bahwa kebakaran ini bersifat musiman dan tidak perlu terlalu dikhawatirkan.<\/p>\n<p><strong>Apa kata ilmu pengetahuan?<\/strong><\/p>\n<p>Jelas sekali bahwa kebakaran tidak muncul tanpa preseden. Para petani telah melakukan pembakaran dalam membersihkan lahan untuk pertanian di kedua wilayah ini selama berabad, jika tidak beribu tahun. \u201cTiap tahun, Basin Amazon terbakar,\u201d kata Manuel Guariguata, ilmuwan utama <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional<\/a> (CIFOR). \u201cSetiap musim kering \u2013 masyarakat membakar robohan kayu tebangan hutan untuk lahan pertanian.\u201d<\/p>\n<figure class=\"wp-block-image alignwide size-large\">\n\t\t\t\t<img width=\"623\" height=\"415\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/42727437014_7622e5e0f0_k-623x415.jpg\" class=\"wp-image-61967\" alt=\"\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/42727437014_7622e5e0f0_k-623x415.jpg 623w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/42727437014_7622e5e0f0_k-263x176.jpg 263w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/42727437014_7622e5e0f0_k-566x377.jpg 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/42727437014_7622e5e0f0_k-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/42727437014_7622e5e0f0_k-610x407.jpg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/42727437014_7622e5e0f0_k-152x102.jpg 152w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/42727437014_7622e5e0f0_k-669x446.jpg 669w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/42727437014_7622e5e0f0_k-75x49.jpg 75w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/42727437014_7622e5e0f0_k.jpg 1140w\" sizes=\"auto, (max-width: 623px) 100vw, 623px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Ladang terbakar di dekat Yangambi, Republik Kongo pada tahun 2018.<\/figcaption>\n\t\t\t<\/figure>\n<p>Di seluruh dunia, para pengelola lahan \u2013 mulai dari petani kecil, menengah hingga perusahaan besar \u2013 juga menggunakan pembakaran sebagai metode pembersihan lahan. Pembakaran bisa meningkatkan kesuburan tanah, menurunkan salinitas, mencegah hama, dan meningkatkan nilai lahan di pasar lahan lokal karena telah siap tanam.<\/p>\n<p>Meski demikian, alasan utama popularitas api adalah biaya yang relatif efektif dibanding cara lain penyiapan lahan. Menurut ilmuwan CIFOR, Herry Purnomo, dalam konteks Indonesia, pembakaran hanya menelan biaya sekitar 20 dolar AS per hektare, sementara metode lain menelan biaya sekitar 400 dolar AS per hektare. Apalagi dalam konteks ketidakpastian tenurial, \u201cinvestasi untuk persiapan lahan berisiko tinggi,\u201d kata Purnomo, pengelolaan lahan yang cepat dan murah jadi alasan finansial. \u201cRingkasnya,\u201d katanya, \u201cada alasan ekonomi yang kuat untuk melakukan pembakaran.\u201d<\/p>\n<p>Metode ini, kata Guariguata, sejatinya tidak selalu bermasalah. \u201cSelama <a href=\"https:\/\/news.globallandscapesforum.org\/37693\/7-ways-indigenous-knowledge-is-changing-landscapes\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">pembakaran dalam kondisi terkontrol<\/a> dan api terus diperiksa, tidak apa-apa.\u201d Namun ketika tidak dijaga secara hati-hati dan dalam kondisi kering, api sering kali menjalar dan menyulut hutan sekitar.<\/p>\n<p>Waktu yang akan menjawab apakah kebakaran tahun ini akan memecahkan rekor. Pada 24 Agustus, data <a href=\"http:\/\/www.inpe.br\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Badan Antariksa Brasil<\/a> (INPE) mencatatkan 41.858 titik api di Basin Amazon wilayah Brasil pada 2019. <a href=\"https:\/\/www.earthobservatory.nasa.gov\/images\/145498\/uptick-in-amazon-fire-activity-in-2019\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Badan Antariksa AS NASA melaporkan<\/a> tahun ini menjadi tahun kebakaran paling aktif di wilayah ini sejak 2010. Sebelumnya, jumlah titik api secara reguler melampaui 60.000 pada periode serupa, dan mencapai rekor sebanyak 94.780 paa Agustus 2005.<\/p>\n\n<p>Di Indonesia, menurut angka dari pemerintah, area terbakar hingga akhir Juli (138.000 hektare) masih lebih rendah dibanding luas total tahun lalu (sekitar 511.000 hektare) dan jauh lebih rendah dibanding luas total 2015 (2,6 juta hektare). Meski masih ada kebakaran di Sumatera, Kalimantan dan bagian lain Indonesia, \u201cSaya yakin jumlah kebakaran tahun ini tidak akan melampaui angka tahun lalu,\u201d kata Purnomo.<\/p>\n<p><strong>Seberapa berbahaya angka itu?<\/strong><\/p>\n<p>Menempatkan angka-angka tersebut dalam konteksnya, kata Guariguata, kebakaran Amazon 2005 relatif lebih buruk, meskipun saat itu musimnya sangat kering. Tahun ini, \u201cjadi mengkhawatirkan karena bukan tahun kering,\u201d kata Louis Verchot, direktur <a href=\"https:\/\/ciat.cgiar.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Pertanian Internasional<\/a> (CIAT). \u201cINPE menunjukkan bahwa curah hujan hanya sedikit di bawah rata-rata.\u201d<\/p>\n<p>Hal tersebut memicu dugaan tren mengkhawatirkan terjadinya deforestasi di wilayah tersebut. Sejak akhir 2000-an hingga akhir tahun lalu, laju deforestasi Brasil terendah selama beberapa dekade. Hal ini berkat dukungan kebijakan dan makin sempurnyanya pemantauan dan penegakkan hukum.<\/p>\n<p>Ketika Jair Bolsonaro menjadi Presiden Brasil, Januari tahun ini, ia merombak kementerian lingkungan hidup, melemahkan regulasi lingkungan hidup dan memberi \u201ckeleluasaan pada bisnis pertanian\u201d. Hal ini, menurut Guariguata, memicu konsekuensi negatif bagi hutan atas nama perluasan perkebunan tanaman komersial dan peternakan.<\/p>\n<p>Pada akhir Juli, laju deforestasi tercatat 57 persen lebih besar dari tahun lalu. Sejak saat itu, gambaran yang ada makin tidak jelas karena INPE berhenti mengeluarkan data kepada masyarakat setelah <a href=\"https:\/\/news.mongabay.com\/2019\/08\/future-of-amazon-deforestation-data-in-doubt-as-research-head-sacked\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Bolsonaro memecat pimpinan INPE<\/a>.<\/p>\n<p>Akan tetapi, sebagian narasi yang terbangun di seputar kebakaran Brasil, digambarkan sebagai salah langkah sejak sebelum Bolsonaro menjadi presiden. Mantan presiden Michel Temer melakukan pemangkasan anggaran besar-besaran sejak 2017. Ia menurunkan dana ilmu pengetahuan federal serta dana untuk badan perlindungan lingkungan federal <a href=\"https:\/\/www.ibama.gov.br\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">IBAMA<\/a>. Anggaran yang terpangkas pada kedua lembaga itu, masing-masing 44 dan 43 persen.<\/p>\n<p>\u201cLokasi kebakaran hutan tertinggi saat ini, merupakan negara bagian yang memiliki pemangku kepentingan terbesar dalam ekspansi agribisnis,\u201d kata Guariguata. \u201cJadi sangat mungkin bahwa apa yang terjadi di Brasil saat ini terkait dengan deforestasi aktual.\u201d<\/p>\n<figure class=\"wp-block-image alignwide size-large\">\n\t\t\t\t<img width=\"625\" height=\"415\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/35084226693_30e4301f9d_c-625x415.jpg\" class=\"wp-image-61973\" alt=\"\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/35084226693_30e4301f9d_c-625x415.jpg 625w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/35084226693_30e4301f9d_c-263x176.jpg 263w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/35084226693_30e4301f9d_c-566x376.jpg 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/35084226693_30e4301f9d_c-768x510.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/35084226693_30e4301f9d_c-610x405.jpg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/35084226693_30e4301f9d_c-152x102.jpg 152w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/35084226693_30e4301f9d_c-672x446.jpg 672w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/35084226693_30e4301f9d_c-75x49.jpg 75w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/35084226693_30e4301f9d_c.jpg 800w\" sizes=\"auto, (max-width: 625px) 100vw, 625px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Api terlihat ketika lahan gambut terbakar di Tumbang Nusa, di luar Palangka Raya, Kalimantan Tengah.<\/figcaption>\n\t\t\t<\/figure>\n<p>Di Indonesia, pemerintah pusat mengambil langkah mitigasi sejak 2015, seperti restorasi dan melindungi <a href=\"https:\/\/news1.globallandscapesforum.org\/31561\/comparing-the-three-peatland-regions-most-crucial-for-climate-change\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">hutan gambut<\/a>, yang rentan terhadap kebakaran dan melepas sejumlah besar karbon jika tersulut; memperluas moratorium deforestasi, menetapkan <a href=\"https:\/\/brg.go.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">badan pemerintah<\/a> khusus untuk lahan gambut; memberi insentif ekonomi untuk tidak membakar; mendukung komunitas pemadam kebakaran dan kapabilitas pemantauan; meningkatkan penegakkan hukum; membangun infrastruktur hidrologis dan mendorong kapasitas respon dini.<\/p>\n<p>Namun, menurut Purnomo, tidak lantas selalu ada tindak lanjutnya di daerah. Dalam sebuah makalah penelitian yang akan dipublikasikan di <a href=\"http:\/\/www.cfa-international.org\/international_forestry_review.php\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><em>International Forestry Review<\/em><\/a>, Purnomo dan rekan-rekannya menemukan bahwa kebakaran cenderung meningkat setahun sebelum pemilihan lokal. \u201cBerdekatan dengan tahun pemilihan, penegakan hukum atas pembakaran lahan lebih lemah,\u201d katanya. \u201cDeforestasi, perebutan dan pembakaran lahan terjadi jauh sebelum dan selama tahun pemilihan.\u201d<\/p>\n<p>Kebakaran tahun ini juga menunjukkan beberapa infrastruktur mitigasi dan pencegahan <a href=\"https:\/\/news.mongabay.com\/2019\/01\/hazy-figures-cloud-indonesias-peat-restoration-as-fire-season-looms\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">tidak bekerja sebagaimana mestinya<\/a>, akibat kurang atau tidak terurus. Meski pemerintah mengerahkan tentara dan polisi untuk membantu meredam kebakaran di kawasan terdampak (dan menangkap mereka yang bertanggung jawab menyulut api secara ilegal), \u201csecara umum kapasitas para aktor tersebut, dalam hal sumber daya manusia, pengetahuan dan anggaran, masih kurang untuk mencegah, mengidentifikasi dan melawan kebakaran,\u201d kata Purnomo.<\/p>\n\n<p><strong>Apa yang bisa membantu memitigasi pembakaran tak terkendali di masa depan?<\/strong><\/p>\n<p>\u201cApa yang saya ingin lihat adalah komitmen terhadap tata kelola yang baik di wilayah Amazon,\u201d kata Verchot. \u201cKeberhasilan sebelumnya dalam menurunkan laju deforestasi memberi bukti besar bahwa jika sumber daya dialokasikan dengan tepat, deforestasi dan kebakaran bisa dikurangi.\u201d<\/p>\n<p>\u201cSaya mengerti, ada timbal balik saat sumber daya negara harus dialokasikan,\u201d tambahnya. \u201cNamun, aktivitas ilegal menyebabkan kehilangan pemasukan bagi negara, jadi seharusnya ada jalan membangun keseimbangan dari apa yang kita saksikan hari ini.\u201d<\/p>\n<p>Dalam kasus Indonesia, Purnomo menyatakan, <a href=\"https:\/\/news.mongabay.com\/2019\/06\/indonesian-ban-on-clearing-new-swaths-of-forest-to-be-made-permanent\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">instruksi presiden terakhir<\/a> untuk moratorium permanen izin kelapa sawit, kayu pulp atau aktivitas penebangan di hutan primer dan lahan gambut \u201cmerupakan langkah besar mengurangi kebakaran di masa depan.\u201d<\/p>\n<p>Ia ingin melihat strategi pemerintah dalam <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/library\/6669\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Rencana Induk Pencegahan Kebakaran 2017-2019<\/a>, yang ia turut susun, diimplementasikan dan dievaluasi sepenuhnya. \u201cSaat ini, baru sebagian yang diimplementasikan; Saya ingin melihat ada aliran uang yang cukup untuk mengurangi kebakaran hingga separuh dari kondisi biasa. Biaya tersebut tidak perlu hanya dari pemerintah, tetapi juga dari sektor swasta, masyarakat dan donor.\u201d<\/p>\n<figure class=\"wp-block-image alignwide size-large\">\n\t\t\t\t<img width=\"625\" height=\"415\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/Amazon-2011-1-1-625x415.jpg\" class=\"wp-image-61976\" alt=\"\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/Amazon-2011-1-1-625x415.jpg 625w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/Amazon-2011-1-1-263x176.jpg 263w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/Amazon-2011-1-1-566x376.jpg 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/Amazon-2011-1-1-768x510.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/Amazon-2011-1-1-610x405.jpg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/Amazon-2011-1-1-152x102.jpg 152w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/Amazon-2011-1-1-672x446.jpg 672w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/Amazon-2011-1-1-75x49.jpg 75w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/Amazon-2011-1-1.jpg 1140w\" sizes=\"auto, (max-width: 625px) 100vw, 625px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Pandangan udara dari Amazon Brazil di negara bagian Amazonas, diambil pada tahun 2011. Amazonas adalah salah satu negara yang paling banyak terkena dampak kebakaran tahun ini.<\/figcaption>\n\t\t\t<\/figure>\n<p>Meski bantuan asing dapat dan seharusnya pula berperan, kontribusi pada kebakaran Brasil, khususnya dari negara yang ekonomi paling maju pada pertemuan G7, \u201csedikit terlambat,\u201d kata Direktur Jenderal CIFOR, Robert Nasi, terlepas <a href=\"https:\/\/www.nytimes.com\/2019\/08\/27\/world\/americas\/brazil-amazon-aid.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">apakah Bolsonaro mau menerima atau tidak bantuan tersebut<\/a>.<\/p>\n<p>\u201cPencegahan dan manajemen kebakaran aktif yang lebih kuat harus dikedepankan,\u201d kata Nasi.<\/p>\n<p>Nasi <a href=\"https:\/\/www.bloomberg.com\/news\/articles\/2019-08-23\/more-fires-now-burning-in-angola-congo-than-amazon-maps\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">berulang kali<\/a> <a href=\"https:\/\/news.trust.org\/item\/20190827095446-xvj1c\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">menyatakan<\/a> bahwa media harus memberi perhatian lebih pada kejadian kebakaran di luar Brasil, untuk membangun lapangan permainan kesadaran yang rata dengan wilayah atau ekosistem lain.<\/p>\n<p>Meskipun hal ini merupakan tindakan penyeimbang, karena urgensi Amazon juga tidak bisa dikecilkan. \u201cSemua orang bilang ini \u2018paru-paru dunia,\u2019 malah lebih dari itu,\u201d kata Guariguata. \u201cPeran Basin Amazon dalam memompa dan mengirim air ke tempat yang jauh sudah terbukti.\u201d<\/p>\n<p>\u201cJuga ada masyarakat bergantung hutan yang hidup di sana, dan ia merupakan harta karun keragaman hayati. Ada nilai sosial. Ada nilai keragaman hayati, yang penting bagi pertanian. Apa yang terjadi di Amazon dapat dirasakan dari ribuan kilometer jauhnya.\u201d<\/p>\n\n<p>Artikel asli dengan judul &#8216;What should we make of the fires in the Amazon and Indonesia?&#8217; tersedia di <a href=\"https:\/\/news.globallandscapesforum.org\/38411\/what-should-we-make-of-the-fires-in-the-amazon-and-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Landscape News.<\/a><\/p>\n<h1 class=\"single-title\"><\/h1>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam sepekan terakhir, foto api yang mencabik hutan dan asap yang mengepung kota mendominasi berita dan menarik kesadaran publik. Ketika kebakaran tidak hanya terjadi di Brasil, tetapi juga di Asia, Artik, Afrika dan Eropa, sepertinya tidak ada wilayah di dunia yang terbebas dari jilatan api. Dari perspektif mitigasi perubahan iklim dan konservasi, kebakaran hutan di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":264,"featured_media":61956,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[2548],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[7144],"class_list":["post-61954","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-kebakaran-hutan","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Bagaimana memaknai kebakaran hutan di Amazon dan Indonesia? - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61954\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Bagaimana memaknai kebakaran hutan di Amazon dan Indonesia?\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Dalam sepekan terakhir, foto api yang mencabik hutan dan asap yang mengepung kota mendominasi berita dan menarik kesadaran publik. Ketika kebakaran tidak hanya terjadi di Brasil, tetapi juga di Asia, Artik, Afrika dan Eropa, sepertinya tidak ada wilayah di dunia yang terbebas dari jilatan api. Dari perspektif mitigasi perubahan iklim dan konservasi, kebakaran hutan di [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61954\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2019-09-03T06:44:23+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/48635653476_85388771cd_c.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"799\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"362\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Monica Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61954\\\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61954\\\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia\"},\"author\":{\"name\":\"Monica Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\"},\"headline\":\"Bagaimana memaknai kebakaran hutan di Amazon dan Indonesia?\",\"datePublished\":\"2019-09-03T06:44:23+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61954\\\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia\"},\"wordCount\":1244,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61954\\\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/09\\\/48635653476_85388771cd_c.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61954\\\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2019\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61954\\\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61954\\\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia\",\"name\":\"Bagaimana memaknai kebakaran hutan di Amazon dan Indonesia? - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61954\\\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61954\\\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/09\\\/48635653476_85388771cd_c.jpg\",\"datePublished\":\"2019-09-03T06:44:23+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61954\\\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61954\\\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61954\\\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/09\\\/48635653476_85388771cd_c.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/09\\\/48635653476_85388771cd_c.jpg\",\"width\":799,\"height\":362,\"caption\":\"Masyarakat Peduli Api memadamkan kebakaran hutan dekat area perumahan di desa Pakning Asal, Riau, Indonesia.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61954\\\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Bagaimana memaknai kebakaran hutan di Amazon dan Indonesia?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61954\\\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61954\\\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\",\"name\":\"Monica Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Monica Evans\"},\"description\":\"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/monica-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61954\\\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Bagaimana memaknai kebakaran hutan di Amazon dan Indonesia? - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61954\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Bagaimana memaknai kebakaran hutan di Amazon dan Indonesia?","og_description":"Dalam sepekan terakhir, foto api yang mencabik hutan dan asap yang mengepung kota mendominasi berita dan menarik kesadaran publik. Ketika kebakaran tidak hanya terjadi di Brasil, tetapi juga di Asia, Artik, Afrika dan Eropa, sepertinya tidak ada wilayah di dunia yang terbebas dari jilatan api. Dari perspektif mitigasi perubahan iklim dan konservasi, kebakaran hutan di [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61954\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2019-09-03T06:44:23+00:00","og_image":[{"width":799,"height":362,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/48635653476_85388771cd_c.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Monica Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61954\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61954\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia"},"author":{"name":"Monica Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70"},"headline":"Bagaimana memaknai kebakaran hutan di Amazon dan Indonesia?","datePublished":"2019-09-03T06:44:23+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61954\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia"},"wordCount":1244,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61954\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/48635653476_85388771cd_c.jpg","articleSection":["Forests News"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61954\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia#respond"]}],"copyrightYear":"2019","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61954\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61954\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia","name":"Bagaimana memaknai kebakaran hutan di Amazon dan Indonesia? - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61954\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61954\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/48635653476_85388771cd_c.jpg","datePublished":"2019-09-03T06:44:23+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61954\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61954\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61954\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/48635653476_85388771cd_c.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/48635653476_85388771cd_c.jpg","width":799,"height":362,"caption":"Masyarakat Peduli Api memadamkan kebakaran hutan dekat area perumahan di desa Pakning Asal, Riau, Indonesia."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61954\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Bagaimana memaknai kebakaran hutan di Amazon dan Indonesia?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61954\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61954\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70","name":"Monica Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","caption":"Monica Evans"},"description":"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/monica-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61954\/bagaimana-memaknai-kebakaran-hutan-di-amazon-dan-indonesia#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/48635653476_85388771cd_c.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61954","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/264"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=61954"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61954\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":61965,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61954\/revisions\/61965"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/61956"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=61954"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=61954"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=61954"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=61954"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=61954"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=61954"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=61954"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=61954"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=61954"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=61954"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=61954"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=61954"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=61954"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}