{"id":61620,"date":"2019-07-30T13:07:22","date_gmt":"2019-07-30T06:07:22","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=61620"},"modified":"2019-07-30T13:07:22","modified_gmt":"2019-07-30T06:07:22","slug":"memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61620\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan","title":{"rendered":"Memprioritaskan pangan dalam reformasi lahan"},"content":{"rendered":"<p>Berbagai jenis status lahan dan bentuk reformasi untuk masyarakat bergantung hutan di Indonesia Uganda dan Peru umumnya telah mampu meningkatkan kehidupan \u2013 namun, penelitian terbaru mengungkap bahwa ketidakamanan pangan tetap menjadi masalah besar.<\/p>\n<p>Penelitian \u2013 yang disajikan dalam <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/publications\/pdf_files\/infobrief\/7273-infobrief.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">InfoBrief<\/a> terbaru \u2013 tersebut merupakan bagian dari <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/gcs-tenure\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Studi Komparatif Global mengenai Reformasi Tenurial Hutan<\/a>  <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional<\/a> (CIFOR). Para peneliti membagi reformasi tenurial dalam tiga kelompok: adat, atau status lahan informal; reformasi yang memberi peruntukkan lahan hutan kepada masyarakat secara temporer; dan kepemilikan penuh, di mana masyarakat mendapat hak milik permanen atas lahan.<\/p>\n<p>Reformasi tenurial, khususnya pada model kepemilikan penuh, menurut Ilmuwan Senior CIFOR, Anne Larson, memberi banyak manfaat bagi masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cBagi kelompok dengan klaim adat atau klaim historis atas sebuah kawasan, bisa mendapatkan status lahan sendiri merupakan langkah besar. Hal ini bisa sangat bermakna, dan lebih memberi keamanan jangka panjang. Walaupun sebagian besar masyarakat <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/41555\/land-tenure-and-livelihoods-whats-the-connection\">memandang<\/a> status lahan formal merupakan langkah untuk meningkatkan hidup mereka, <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/publications\/pdf_files\/infobrief\/7273-infobrief.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penelitian<\/a> kami menunjukkan, di lapangan langkah ini tidak lantas mengarah ke sana.\u201d<\/p>\n\n<p>Para peneliti mensurvei 55 komunitas di tiga benua: 22 di <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/41555\/land-tenure-and-livelihoods-whats-the-connection\">Peru<\/a>, 16 di Uganda dan 17 di Indonesia. Secara total survei dilakukan pada 2.075 rumah tangga, 164 diskusi grup terpumpun yang dilakukan terpisah antara lelaki dan perempuan, dan wawancara 136 informan kunci tokoh masyarakat.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/publications\/pdf_files\/infobrief\/7273-infobrief.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Hasilnya<\/a> menunjukkan, ketika berbicara soal penghidupan, keberadaan reformasi hampir selalu lebih baik daripada tidak ada reformasi.<\/p>\n<p>Peningkatan paling positif terlihat pada lahan yang diperuntukan untuk pemanfaatan masyarakat di Uganda (47 persen responden mengaku mengalami peningkatan penghasilan setelah reformasi) dan di lahan milik masyarakat di Peru (45 persen).<\/p>\n<p>Hal ini menunjukkan, bukan <em>jenis<\/em> rezim (kepemilikan atau peruntukan lahan) yang menentukan hasil, namun lebih pada prioritas dan kebijakan tertentu yang diterapkan di tiap lokasi. Konteks juga penting: responden di Uganda hidup dan bekerja di \u201ckeranjang roti\u201d negeri itu dan menarik untung dari kenaikan harga produk mereka, saat dijual di pasar.<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<h4><strong>KEKURANGAN PANGAN <\/strong><\/h4>\n<p>Bahkan pada masyarakat yang memiliki tenurial lahan formal, para peneliti <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/publications\/pdf_files\/infobrief\/7273-infobrief.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">menemukan<\/a> tingginya ketidakamanan pangan.<\/p>\n<p>Sebanyak 38 hingga 57 persen masyarakat yang tinggal dalam lokasi reformasi lahan mengalami kesulitan menafkahi keluarga di sebagian tahun (dibanding dengan 41-84 persen pada lokasi tenurial adat). Apalagi, meski banyak orang melaporkan peningkatan atau tidak ada perubahan, 20-33 persen melaporkan penurunan penghasilan pertanian sejak dilakukan reformasi.<\/p>\n<p>\u201cSaya pikir ini cukup tinggi,\u201d kata Larson. \u201cMereka memang masyarakat desa dan seringkali merupakan kelompok termarjinalkan, namun mengejutkan juga mendapati begitu banyak orang mengalami ketidakamanan pangan.\u201d<\/p>\n<p>Pertanyaan ini menjadi ruang gelap dalam diskusi dan penelitian mengenai tenurial lahan, padahal ini penting, kata Larson. \u201cKetidakamanan pangan adalah masalah besar. Ada potensi terabaikannya keamanan tenurial, masa depan, kemampuan mereka untuk bertahan di atas lahannya dalam jangka pajang.<\/p>\n<p>Saat masyarakat tidak mampu menafkahi keluarganya, mereka cenderung mengirim anak muda ke luar komunitas untuk mencari kerja, kata Larson.<\/p>\n<p>\u201cPada kondisi ini, tidak tercipta ketahanan atau determinasi masyarakat, atau keberlangsungan kulturan jangka panjangnya. Kemampuan mereka dalam menjaga kesehatan budaya dan penghidupan di masa depan akan lumpuh jika masalah penghidupan tidak diatasi.\u201d<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<h4><strong>\u00a0<\/strong><strong>MENGUBAH PRIORITAS<\/strong><\/h4>\n<p>Sebagian besar reformasi tenurial, menurut Larson sangat terfokus pada pemenuhan hak atau konservasi. <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/publications\/pdf_files\/infobrief\/7273-infobrief.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Penelitian<\/a> menunjukkan kebutuhan untuk secara spesifik menargetkan penghidupan.<\/p>\n<p>\u201cBiasanya prioritas tidak tertulis \u2018memperkuat masyarakat adat dan memungkinkan mereka memanfaatkan hutan untuk penghidupan,\u201d katanya. \u201cUjung-ujungnya adalah aturan ketat seputar pemanfaatan hutan, khususnya penebangan.\u201d<\/p>\n<p>Memantapkan tujuan penghidupan dan keamanan pangan sebagai sasaran reformasi lengkap dengan target dan indikator merupakan langkah awal yang krusial. Agar penghidupan meningkat, masyarakat perlu sumber baru penghasilan, atau bisa dengan mengatasi masalah yang menghambat langkah majunya.<\/p>\n<p>\u201cJika ada yang melanggar perbatasan, mencuri kayu atau merambah lahan kita, maka memiliki status bisa mengatasi masalah itu \u2013 meskipun, ini juga berarti harus ada orang yang menegakkan aturannya, dan ini tidak lantas ada.\u201d<\/p>\n<p>Pemerintah bisa membantu penegakkan aturan, atau membantu desa mendirikan usaha kecil atau perhutanan sosial \u2013 apa pun yang diperlukan penduduk.<\/p>\n<p>\u201cKita tidak bermaksud mendorong lebih banyak eksporasi minyak atau tambang, atau bahwa pemerintah datang dan memberitahu masyarakat bagaimana menjalankan urusan masyarakat. Masyarakat seharusnya memutuskan apa yang mereka ingin bagi penghidupannya \u2013 negara seharusnya membangun kondisi yang memungkinkan hal-hal itu terlaksana.<\/p>\n<p>Koordinasi lebih baik antara berbagai cabang dan tingkat pemerintah juga krusial, katanya. Misalnya, badan pemberi status lahan, khususnya ketika di level daerah, jarang sekali bekerja sama dengan lembaga kehutanan nasional. Pejabat kehutanan tidak berkoordinasi dengan departemen pertanian, dan seterusnya.<\/p>\n<p>Untuk itu, diperlukan penelitian lebih lanjut. Walaupun <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/publications\/pdf_files\/infobrief\/7273-infobrief.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penelitian in<\/a>i baru berdasarkan sedikit pertanyaan dalam survei besar \u2013 namun sudah mencuitkan tanda bahaya, kata Larson.<\/p>\n<p>\u201cFakta bahwa kita belum melihat perbedaan besar antara bentuk reformasi lahan yang lebih aman (kepemilikan) dan yang lebih lemah (hak pemanfaatan) menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak berjalan \u2013 status saja tidak cukup.\u201d<\/p>\n<p>\u201cKita memerlukan lebih banyak penelitian mengenai reformasi dan keamanan pangan untuk memahami apa yang salah \u2013 dan di mana penghidupan meningkat, mempelajari apa yang bisa kita peroleh dari kasus-kasus tersebut, agar reformasi jadi lebih baik.\u201d<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berbagai jenis status lahan dan bentuk reformasi untuk masyarakat bergantung hutan di Indonesia Uganda dan Peru umumnya telah mampu meningkatkan kehidupan \u2013 namun, penelitian terbaru mengungkap bahwa ketidakamanan pangan tetap menjadi masalah besar. Penelitian \u2013 yang disajikan dalam InfoBrief terbaru \u2013 tersebut merupakan bagian dari Studi Komparatif Global mengenai Reformasi Tenurial Hutan Pusat Penelitian Kehutanan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":63,"featured_media":61635,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[2550],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[545],"class_list":["post-61620","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-ketahanan-pangan","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Memprioritaskan pangan dalam reformasi lahan - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61620\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Memprioritaskan pangan dalam reformasi lahan\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Berbagai jenis status lahan dan bentuk reformasi untuk masyarakat bergantung hutan di Indonesia Uganda dan Peru umumnya telah mampu meningkatkan kehidupan \u2013 namun, penelitian terbaru mengungkap bahwa ketidakamanan pangan tetap menjadi masalah besar. Penelitian \u2013 yang disajikan dalam InfoBrief terbaru \u2013 tersebut merupakan bagian dari Studi Komparatif Global mengenai Reformasi Tenurial Hutan Pusat Penelitian Kehutanan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61620\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2019-07-30T06:07:22+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/27925859779_a3e07364e3_c.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"799\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"534\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Kate Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61620\\\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61620\\\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan\"},\"author\":{\"name\":\"Kate Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e\"},\"headline\":\"Memprioritaskan pangan dalam reformasi lahan\",\"datePublished\":\"2019-07-30T06:07:22+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61620\\\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan\"},\"wordCount\":788,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61620\\\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/07\\\/27925859779_a3e07364e3_c.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61620\\\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2019\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61620\\\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61620\\\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan\",\"name\":\"Memprioritaskan pangan dalam reformasi lahan - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61620\\\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61620\\\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/07\\\/27925859779_a3e07364e3_c.jpg\",\"datePublished\":\"2019-07-30T06:07:22+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61620\\\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61620\\\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61620\\\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/07\\\/27925859779_a3e07364e3_c.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/07\\\/27925859779_a3e07364e3_c.jpg\",\"width\":799,\"height\":534,\"caption\":\"Pangan dari hutan. Mendapatkan status lahan sendiri bisa memberi keamanan jangka panjang bagi masyarakat.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61620\\\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Memprioritaskan pangan dalam reformasi lahan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61620\\\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61620\\\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e\",\"name\":\"Kate Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g3f27c3c2db0b6432a0c0a78c2749a7a0\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Kate Evans\"},\"description\":\"Kate Evans is a freelance journalist originally from New Zealand. After studying journalism at the University of Sydney and international relations at the Australian National University, she worked as a multimedia journalist at the Australian Broadcasting Corporation for three years...and then ran off to West Africa armed with a video camera and a love of African dance. She is now a writer, filmmaker and photographer.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/kate-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/61620\\\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Memprioritaskan pangan dalam reformasi lahan - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61620\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Memprioritaskan pangan dalam reformasi lahan","og_description":"Berbagai jenis status lahan dan bentuk reformasi untuk masyarakat bergantung hutan di Indonesia Uganda dan Peru umumnya telah mampu meningkatkan kehidupan \u2013 namun, penelitian terbaru mengungkap bahwa ketidakamanan pangan tetap menjadi masalah besar. Penelitian \u2013 yang disajikan dalam InfoBrief terbaru \u2013 tersebut merupakan bagian dari Studi Komparatif Global mengenai Reformasi Tenurial Hutan Pusat Penelitian Kehutanan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61620\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2019-07-30T06:07:22+00:00","og_image":[{"width":799,"height":534,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/27925859779_a3e07364e3_c.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Kate Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61620\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61620\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan"},"author":{"name":"Kate Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e"},"headline":"Memprioritaskan pangan dalam reformasi lahan","datePublished":"2019-07-30T06:07:22+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61620\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan"},"wordCount":788,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61620\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/27925859779_a3e07364e3_c.jpg","articleSection":["Forests News"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61620\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan#respond"]}],"copyrightYear":"2019","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61620\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61620\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan","name":"Memprioritaskan pangan dalam reformasi lahan - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61620\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61620\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/27925859779_a3e07364e3_c.jpg","datePublished":"2019-07-30T06:07:22+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61620\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61620\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61620\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/27925859779_a3e07364e3_c.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/27925859779_a3e07364e3_c.jpg","width":799,"height":534,"caption":"Pangan dari hutan. Mendapatkan status lahan sendiri bisa memberi keamanan jangka panjang bagi masyarakat."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61620\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Memprioritaskan pangan dalam reformasi lahan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61620\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61620\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e","name":"Kate Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g3f27c3c2db0b6432a0c0a78c2749a7a0","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g","caption":"Kate Evans"},"description":"Kate Evans is a freelance journalist originally from New Zealand. After studying journalism at the University of Sydney and international relations at the Australian National University, she worked as a multimedia journalist at the Australian Broadcasting Corporation for three years...and then ran off to West Africa armed with a video camera and a love of African dance. She is now a writer, filmmaker and photographer.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/kate-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/61620\/memprioritaskan-pangan-dalam-reformasi-lahan#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/27925859779_a3e07364e3_c.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61620","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/63"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=61620"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61620\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":61633,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/61620\/revisions\/61633"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/61635"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=61620"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=61620"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=61620"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=61620"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=61620"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=61620"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=61620"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=61620"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=61620"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=61620"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=61620"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=61620"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=61620"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}