{"id":60906,"date":"2019-05-31T12:35:21","date_gmt":"2019-05-31T05:35:21","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=60906"},"modified":"2019-05-31T12:50:02","modified_gmt":"2019-05-31T05:50:02","slug":"mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60906\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut","title":{"rendered":"Mencari keseimbangan: Menahan emisi dan memaksimalkan produksi pangan di lahan gambut"},"content":{"rendered":"<p>Peran lahan gambut sangat signifikan dalam memerangi perubahan iklim. Menempati posisi tinggi dalam daftar aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dengan melindungi lahan gambut adalah mengurangi emisi gas rumah kaca melalui dekomposisi gambut. Manajemen air adalah kunci upaya ini.<\/p>\n<p>\u201cLahan gambut memainkan  peran penting dalam merawat keragaman hayati, mengurangi emisi gas rumah kaca, menyediakan penghidupan sosio-ekonomi bagi masyarakat yang bergantung pada ekosistem ini, melindungi daratan dari bencana alam, dan sebagai simpanan karbon,\u201d kata Agus Justianto, wakil dari Pemerintah Indonesia dan anggota <em>ex-officio<\/em> Dewan Penyantun CIFOR.<\/p>\n<p>\u201cNamun di balik tingginya nilai tersebut, lahan gambut merupakan ekosistem paling rentan terancam oleh aktivitas antropogenik.\u201d<\/p>\n<p>Pada 13 Mei 2019, Pusat Penelitian Lahan Gambut Tropis Internasional (ITPC) dan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) menggelar Forum Bentang Alam Global (GLF) di Kyoto, Jepang. Dalam kegiatan tersebut didiskusikan berbagai tekanan atas lahan gambut tropis. GLF Kyoto 2019, merupakan bagian dari rangkaian kegiatan dunia tahun ini, termasuk pertemuan tahunan GLF di Bonn Juni lalu. GLF fokus pada bentang alam berkelanjutan sebagai bagian kritis solusi iklim.<\/p>\n\n<p>Justianto menjelaskan bahwa tujuan sesi ini adalah \u201cberbagi pengetahuan dan pengalaman baru di seputar implementasi konservasi dan restorasi lahan gambut. \u201cPembicara sesi ini antara lain perwakilan dari sektor swasta, komunitas penelitian dan pemerintah. Mereka mendiskusikan kemajuan dan tantangan restorasi lahan gambut terdegradasi; teknologi untuk asesmen emisi GRK lahan gambut; hidrologi gambut, risiko kebakaran dan provisi jasa ekosistem.<\/p>\n<p>Salah satu dari lima usulan resolusi dari Indonesia dan didukung oleh negara anggota dan pemangku kepentingan lain pada sesi keempat Sidang Umum Lingkungan Hidup Program Lingkungan Perserikatan Bangsa Bangsa yang digelar di Nairobi, 11-15 Maret 2019, adalah adopsi resolusi penting mengenai lahan gambut: \u2018konservasi dan manajemen berkelanjutan lahan gambut\u2019.<\/p>\n<p>\u201cResolusi ini menyeru negara anggota dan pemangku kepentingan lain untuk memberi penekanan lebih dalam melakukan konservasi, manajemen berkelanjutan dan restorasi lahan gambut di seluruh dunia untuk mendukung praktik manajemen lahan gambut berkelanjutan,\u201d kata Justianto.<\/p>\n<p>ITPC didirikan bersama oleh Republik Demokratik Kongo, Republik Kongo, dan Republik Indonesia pada 2018. Pusat penelitian ini berfungsi sebagai pusat keunggulan bagi penelitian lahan gambut tropis dalam rangka mendukung pengembangan kebijakan dan melakukan peningkatan kapasitas, penelitian dan asistensi teknis. Saat ini, Indonesia menjadi tuan rumah ITPC.<\/p>\n<p><strong>Lahan Gambut Harus Tetap Basah<\/strong><\/p>\n<p>Ilmuwan CIFOR, Kristell Hergoualc\u2019h menjelaskan, \u201cDalam kondisi alami, lahan gambut berada dalam kondisi banjir sepanjang tahun, sehingga kondisi anaerobik ini menghambat dekomposisi. Hasilnya, sebagian besar lahan gambut merupakan serapan CO2, namun mereka juga sumber besar metana dan sebagian kecil nitrogen oksida.\u201d<\/p>\n<figure class=\"wp-block-image alignwide size-large\">\n\t\t\t\t<img width=\"622\" height=\"415\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/47064849764_b467750bb0_k-622x415.jpg\" class=\"wp-image-60915\" alt=\"\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/47064849764_b467750bb0_k-622x415.jpg 622w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/47064849764_b467750bb0_k-263x176.jpg 263w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/47064849764_b467750bb0_k-566x378.jpg 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/47064849764_b467750bb0_k-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/47064849764_b467750bb0_k-610x407.jpg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/47064849764_b467750bb0_k-152x102.jpg 152w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/47064849764_b467750bb0_k-669x446.jpg 669w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/47064849764_b467750bb0_k-75x49.jpg 75w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/47064849764_b467750bb0_k.jpg 850w\" sizes=\"auto, (max-width: 622px) 100vw, 622px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Panelis sesi lahan gambut di GLF Kyoto sepakat menjaga agar lahan gambut tetap berair menjadi penting dalam mencegah kebakaran dan mengurangi emisi gas rumah kaca.<\/figcaption>\n\t\t\t<\/figure>\n<p>\u201cIntervensi manusia untuk pertanian atau kehutanan memodifikasi keseimbangan gas rumah kaca, dan sering mengakibatkan peningkatan signifikan emisi CO2 dan perubahan aliran metana dan nitrogen oksida yang akan bergantung pada aktivitas dan praktik yang dilakukan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Pengeringan tanah gambut untuk pertanian dan peternakan, secara bertahap mendorong dekomposisi gambut dan melepas sejumlah besar emisi gas rumah kaca ke atmosfer. Oleh karena itu, menjaga agar lahan gambut tetap berair menjadi penting dalam mencegah kebakaran dan mengurangi emisi gas rumah kaca.<\/p>\n<p>\u201cSecara umum, total emisi gas rumah kaca akan lebih tinggi ketika pengeringan makin dalam,\u201d kata Hergoualc\u2019h. \u201cMeningkatkan tinggi air di lahan hutan tanaman bisa menurunkan emisi gas rumah kaca, namun upaya ini hanya akan memperlambat proses dekomposisi gambut. Di sisi lain, meningkatkan tinggi air bisa menjadi cara efektif mengurangi risiko kebakaran.\u201d<\/p>\n<p><strong>Paludikultur: Budi Daya Gambut Tanpa Pengeringan<\/strong><\/p>\n<p>Budi daya lahan gambut berkelanjutan dengan tetap menjaga agar tetap basah dikenal sebagai paludikultur. Pejabat kehutanan lahan gambut FAO, Maria Nuutinen menyatakan bahwa kata kuncinya adalah \u201cbasah\u201d. \u201cProduk paludikultur perlu tetap basah, ini berarti menaikan tinggi air hingga 30 cm, ini titik manisnya di mana di banyak kasus emisi GRK teroptimalkan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Nuutinen menyatakan bahwa paludikultur juga perlu berkelanjutan. \u201cSistem paludikultur memanfaatkan spesies lahan basah yang dapat mengembalikan keragaman hayati dan mengurangi emisi gas rumah kaca.\u201d<\/p>\n\n<p>Ia menyatakan, sistem yang saat ini diterapkan di zona suhu sedang, memicu sejumlah inovasi untuk mengatasi tantangan yang muncul.<\/p>\n<p>Menurut Nuutien, lahan gambut juga penting bagi produksi pangan, namun \u201ctidak semua spesies secara alami dapat digunakan dalam paludikultur cocok untuk produksi pangan.\u201d<\/p>\n<p>Ia menyatakan, selain menghasilkan buah-buahan, beri, kacang dan madu, potensi lahan gambut untuk produksi ikan berkelanjutan merupakan \u201csalah satu area penting yang terabaikan. \u2026 Ini sudah dipraktikkan di beberapa kawasan di Indonesia. Hal serupa diterapkan di Kongo, ikan sangat bernilai tinggi.\u201d<\/p>\n<p>\u201cKeamanan air merupakan bagian keamanan pangan, dan penanaman spesies rakus air di lahan gambut sangat merusak bentang alam,\u201d kata Nuutinen.<\/p>\n<p>Profesor Mitsuru Osaki dari Universitas Hokkaido, yang telah melakukan penelitian ekstensif di lahan gambut Indonesia, mengembangkan sistem transfer data semi <em>real-time<\/em> untuk memantau tinggi air permukaan. Sistem tersebut, SESAME, akronim dari \u201cSensory data transmission service assisted by Midori Enginering Lab\u2019 atau layanan transmisi data sensor oleh Lab Rekayasa Midori, memonitor nyaris secara <em>real-time<\/em> menggunakan jaringan telepon seluler.<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p>\u201cTelah lama kami meneliti lahan gambut di Indonesia, dan bekerja sama dengan banyak institusi di Indonesia. Kami fokus pada seluruh parameter pemantauan lahan gambut, dan kami menyimpulkan bahwa air merupakan elemen terpenting dalam lahan gambut,\u201d kata Osaki.<\/p>\n<p><strong>Upaya Restorasi Gambut<\/strong><\/p>\n<p>Kebakaran besar gambut dan asap di Indonesia telah berulang hampir selama dua dekade. \u201cKebakaran merupakan metode termurah untuk membersihkan lahan dan juga secara sementara meningkatkan kesuburan tanah serta mengendalikan hama dan gulma. Namun, pembersihan lahan dengan api yang biasa dipraktikkan di Indonesia sangat mengancam iklim, katrns melepas sejumlah besar CO2 dan metana ke atmosfer,\u201d kata Hergoualc\u2019h.<\/p>\n<p>\u201cKebakaran tunggal di sekitar 10 cm gambut, sama dengan 100 tahun akumulasi gambut. \u2026 Api sangat merusak lingkungan, dan juga membawa risiko merugikan bagi kesehatan masyarakat dan ekonomi,\u201d lanjutnya.<\/p>\n<p>Sebagai penduduk asli kawasan kaya gambut di Riau, Indonesia, Haris Gunawan, Deputi Penelitian dan Pengembangan Badan Restorasi Gambut Indonesia, mengaku sempat mengalami secara langsung bencana asap dalam 17 tahun terakhir.<\/p>\n<p>Bertugas melakukan restorasi sekitar dua juta hektare lahan gambut di Indonesia, Gunawan percaya bahwa \u201cunit hidrologis gambut sangat penting dalam menyangga lahan gambut, karena 80% lahan gambut mengandung air.\u201d<\/p>\n<p>Meskipun begitu, ia menyatakan bahwa \u201csejatinya restorasi tidak mungkin mengembalikan lahan gambut pada kondisi aslinya, \u2026 namun penting untuk memulai restorasi gambut dengan merestorasi unit hidrologi gambut.\u201d<\/p>\n<p>Restrorasi Ekosistem Riau (RER) merupakan salah satu proyek restorasi ekosistem swasta yang bekerja untuk melakukan restorasi dan konservasi kawasan hutan gambut di Tanjung Kampar, provinsi Riau, Indonesia.<\/p>\n<div class=\"wp-block-group is-content-justification-center is-nowrap is-layout-flex wp-container-core-group-is-layout-23441af8 wp-block-group-is-layout-flex\">\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\">\n\t\t\t\t\t<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img width=\"623\" height=\"415\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/44846140695_bd55c67dce_c-1-623x415.jpg\" class=\"wp-image-60922\" alt=\"\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/44846140695_bd55c67dce_c-1-623x415.jpg 623w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/44846140695_bd55c67dce_c-1-263x176.jpg 263w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/44846140695_bd55c67dce_c-1-566x377.jpg 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/44846140695_bd55c67dce_c-1-768x511.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/44846140695_bd55c67dce_c-1-610x406.jpg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/44846140695_bd55c67dce_c-1-152x102.jpg 152w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/44846140695_bd55c67dce_c-1-670x446.jpg 670w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/44846140695_bd55c67dce_c-1-75x49.jpg 75w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/44846140695_bd55c67dce_c-1.jpg 799w\" sizes=\"auto, (max-width: 623px) 100vw, 623px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Sistem transfer data semi real-time untuk memantau tinggi air permukaan lahan gambut. <a href=\"https:\/\/www.flickr.com\/photos\/cifor\/44846140695\/in\/album-72157673193887267\/\">Ricky Martin\/CIFOR<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\">\n\t\t\t\t\t<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img width=\"622\" height=\"415\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/40039546323_516dd8da70_c-622x415.jpg\" class=\"wp-image-60929\" alt=\"\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/40039546323_516dd8da70_c-622x415.jpg 622w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/40039546323_516dd8da70_c-263x176.jpg 263w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/40039546323_516dd8da70_c-566x378.jpg 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/40039546323_516dd8da70_c-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/40039546323_516dd8da70_c-610x407.jpg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/40039546323_516dd8da70_c-152x102.jpg 152w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/40039546323_516dd8da70_c-669x446.jpg 669w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/40039546323_516dd8da70_c-75x49.jpg 75w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/40039546323_516dd8da70_c.jpg 799w\" sizes=\"auto, (max-width: 622px) 100vw, 622px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Pengecekan kanal rutin oleh Komunitas Desa Perigi, Kecamatan Pangkalan Lampam, Kabupaten Ogan Komering Ilir. <a href=\"https:\/\/www.flickr.com\/photos\/cifor\/40039546323\/in\/album-72157689462620553\/\">Rifky\/CIFOR<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t<\/div>\n<p>\u201cTotal kawasan yang kami kelola sekitar 150.000 ha, ini dua kali luas Singapura,\u201d kata Nyowan Iswarayoga, Direktur urusan luar RER. Ia menambahkan, \u201clebih dari 50% tutupan hutan di kawasan yang kami kelola masih tutupan hutan yang medium dan baik dengan spesies alami hutan Riau.\u201d<\/p>\n<p>Perusahaannya mengelola lahan dengan pendekatan bentang alam holistik, melibatkan masyarakat lokal, dan sejauh ini telah melangkah maju. \u201cKami telah menutup sekitar 38% total panjang kanal di lahan kami, ini lebih dari 65 km kanal,\u201d kata Iswarayoga.<\/p>\n<p>\u201cSejak 2015 relatif telah bebas kebakaran,\u201d katanya, \u201crestorasi mungkin dilakukan dengan model yang tepat.\u201d<\/p>\n<p>Sumber artikel dari berita ITPC dengan judul &#8220;<a href=\"https:\/\/www.tropicalpeatlands.org\/article\/finding-the-balance-curbing-emissions-and-maximising-food-production-in-peatlands\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Finding the balance: Curbing emissions and maximising food production in peatlands<\/a>.&#8221;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Peran lahan gambut sangat signifikan dalam memerangi perubahan iklim. Menempati posisi tinggi dalam daftar aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dengan melindungi lahan gambut adalah mengurangi emisi gas rumah kaca melalui dekomposisi gambut. Manajemen air adalah kunci upaya ini. \u201cLahan gambut memainkan peran penting dalam merawat keragaman hayati, mengurangi emisi gas rumah kaca, menyediakan penghidupan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":272,"featured_media":60910,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[2622],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[7230],"class_list":["post-60906","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-lahan-gambut","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Mencari keseimbangan: Menahan emisi dan memaksimalkan produksi pangan di lahan gambut - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60906\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mencari keseimbangan: Menahan emisi dan memaksimalkan produksi pangan di lahan gambut\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Peran lahan gambut sangat signifikan dalam memerangi perubahan iklim. Menempati posisi tinggi dalam daftar aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dengan melindungi lahan gambut adalah mengurangi emisi gas rumah kaca melalui dekomposisi gambut. Manajemen air adalah kunci upaya ini. \u201cLahan gambut memainkan peran penting dalam merawat keragaman hayati, mengurangi emisi gas rumah kaca, menyediakan penghidupan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60906\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2019-05-31T05:35:21+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2019-05-31T05:50:02+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/47004154041_2d81ae4e3f_c.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"799\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"533\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Nabiha Shahab\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60906\\\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60906\\\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut\"},\"author\":{\"name\":\"Nabiha Shahab\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4d4c3fe3b57374ced46d23770b6f72bd\"},\"headline\":\"Mencari keseimbangan: Menahan emisi dan memaksimalkan produksi pangan di lahan gambut\",\"datePublished\":\"2019-05-31T05:35:21+00:00\",\"dateModified\":\"2019-05-31T05:50:02+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60906\\\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut\"},\"wordCount\":1144,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60906\\\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/05\\\/47004154041_2d81ae4e3f_c.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60906\\\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2019\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60906\\\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60906\\\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut\",\"name\":\"Mencari keseimbangan: Menahan emisi dan memaksimalkan produksi pangan di lahan gambut - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60906\\\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60906\\\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/05\\\/47004154041_2d81ae4e3f_c.jpg\",\"datePublished\":\"2019-05-31T05:35:21+00:00\",\"dateModified\":\"2019-05-31T05:50:02+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60906\\\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60906\\\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60906\\\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/05\\\/47004154041_2d81ae4e3f_c.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/05\\\/47004154041_2d81ae4e3f_c.jpg\",\"width\":799,\"height\":533,\"caption\":\"Warga desa memasang 3-5 pasang bubu di lahan gambut dan biasanya mendapat 1-2 kilo dari masing-masing bubu.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60906\\\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mencari keseimbangan: Menahan emisi dan memaksimalkan produksi pangan di lahan gambut\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60906\\\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60906\\\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4d4c3fe3b57374ced46d23770b6f72bd\",\"name\":\"Nabiha Shahab\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=gf0899e66b7fe5227e359732c0f65f0d9\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Nabiha Shahab\"},\"description\":\"Nabiha Shahab is a writer for Forest News. She has worked both in the media and media campaigning with environmental NGOs in Indonesia since 1997. She holds an MA in environmental management from the University of Nottingham.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/nabiha-shahab\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60906\\\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Mencari keseimbangan: Menahan emisi dan memaksimalkan produksi pangan di lahan gambut - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60906\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Mencari keseimbangan: Menahan emisi dan memaksimalkan produksi pangan di lahan gambut","og_description":"Peran lahan gambut sangat signifikan dalam memerangi perubahan iklim. Menempati posisi tinggi dalam daftar aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dengan melindungi lahan gambut adalah mengurangi emisi gas rumah kaca melalui dekomposisi gambut. Manajemen air adalah kunci upaya ini. \u201cLahan gambut memainkan peran penting dalam merawat keragaman hayati, mengurangi emisi gas rumah kaca, menyediakan penghidupan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60906\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2019-05-31T05:35:21+00:00","article_modified_time":"2019-05-31T05:50:02+00:00","og_image":[{"width":799,"height":533,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/47004154041_2d81ae4e3f_c.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Nabiha Shahab","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60906\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60906\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut"},"author":{"name":"Nabiha Shahab","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4d4c3fe3b57374ced46d23770b6f72bd"},"headline":"Mencari keseimbangan: Menahan emisi dan memaksimalkan produksi pangan di lahan gambut","datePublished":"2019-05-31T05:35:21+00:00","dateModified":"2019-05-31T05:50:02+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60906\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut"},"wordCount":1144,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60906\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/47004154041_2d81ae4e3f_c.jpg","articleSection":["Forests News"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60906\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut#respond"]}],"copyrightYear":"2019","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60906\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60906\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut","name":"Mencari keseimbangan: Menahan emisi dan memaksimalkan produksi pangan di lahan gambut - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60906\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60906\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/47004154041_2d81ae4e3f_c.jpg","datePublished":"2019-05-31T05:35:21+00:00","dateModified":"2019-05-31T05:50:02+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60906\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60906\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60906\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/47004154041_2d81ae4e3f_c.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/47004154041_2d81ae4e3f_c.jpg","width":799,"height":533,"caption":"Warga desa memasang 3-5 pasang bubu di lahan gambut dan biasanya mendapat 1-2 kilo dari masing-masing bubu."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60906\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mencari keseimbangan: Menahan emisi dan memaksimalkan produksi pangan di lahan gambut"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60906\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60906\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4d4c3fe3b57374ced46d23770b6f72bd","name":"Nabiha Shahab","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=gf0899e66b7fe5227e359732c0f65f0d9","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=g","caption":"Nabiha Shahab"},"description":"Nabiha Shahab is a writer for Forest News. She has worked both in the media and media campaigning with environmental NGOs in Indonesia since 1997. She holds an MA in environmental management from the University of Nottingham.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/nabiha-shahab"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60906\/mencari-keseimbangan-menahan-emisi-dan-memaksimalkan-produksi-pangan-di-lahan-gambut#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/47004154041_2d81ae4e3f_c.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60906","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/272"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=60906"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60906\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":60931,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60906\/revisions\/60931"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/60910"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=60906"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=60906"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=60906"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=60906"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=60906"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=60906"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=60906"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=60906"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=60906"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=60906"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=60906"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=60906"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=60906"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}