{"id":60588,"date":"2019-05-02T17:38:30","date_gmt":"2019-05-02T10:38:30","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=60588"},"modified":"2019-05-02T17:38:30","modified_gmt":"2019-05-02T10:38:30","slug":"restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60588\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini","title":{"rendered":"Restorasi bentang alam: Pentingnya pemantauan kolaboratif sejak dini"},"content":{"rendered":"<p>Bayangkan, Anda menjadi rimbawan yang memimpin proyek restorasi. Lokasinya terpencar, dan berbeda\u2014hutan hujan, padang rumput kering, dan daerah aliran sungai gunung. Kita perlu melibatkan para pemangku kepentingan, penduduk, peternak, pengelola sumber daya air lokal, dan pejabat pusat. Dari mana mulainya?<\/p>\n<p>Peneliti <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR)<\/a> percaya telah membantu memberi solusi dengan meluncurkan sebuah <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/library\/7159\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">perangkat diagnostik<\/a> khusus bagi praktisi restorasi bentang alam hutan. Perangkat ini ditujukan untuk mereka yang siap mengadopsi gaya pemantauan proyek, namun merasa terbebani oleh besarannya.<\/p>\n<p>Proyek restorasi bentang alam hutan di AS, Brasil, dan seluruh Afrika menemukan bahwa pemantauan kolaboratif, yang juga disebut pemantauan partisipatoris, berperan penting dalam restorasi hutan. Cara ini lebih dari sekadar bertanya pada penduduk saat mengumpulkan data. Pemantauan melibatkan masyarakat mulai dari perencanaan proyek restorasi, kemudian berbagi dan belajar dari orang lain yang terlibat di setiap tingkatan.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/www.bonnchallenge.org\/content\/challenge\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Tantangan Bonn<\/a>, sebuah upaya dunia untuk merestorasi 150 juta hektare lahan terdeforestasi dan terdegradasi pada 2020, dan 350 juta hektare pada 2030, juga mengakui keberhasilan perencanaan restorasi berlandaskan pemantauan kolaboratif.<\/p>\n<p>Dikembangkan oleh peneliti CIFOR, Kristen Evans dan Manuel Guariguata, perangkat diagnostik ini membantu praktisi mengetahui kondisi yang diperlukan agar pemantauan kolaboratif berhasil.<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p>\u201cMasih menjadi tantangan dalam mengajak pejabat pemerintah, organisasi masyarakat, dan lembaga donor untuk mengakui pentingnya melibatkan masyarakat terdampak langsung aktivitas restorasi ini,\u201d kata Jeffrey Sayer, profesor Kehutanan dan Konservasi Universitas British Columbia, dan pakar restorasi bentang alam.<\/p>\n<p>\u201cSeperti arahan Tantangan Bonn, dan harapannya, terdapat ekspansi besar dalam restorasi bentang alam, maka harus ada banyak orang yang merasakan manfaat dari perangkat diagnostik ini,\u201d kata Sayer.<\/p>\n<p>Perangkat diagnostik ini telah diperiksa oleh para ahli dunia dan siap dicoba di lapangan. Perangkat ini menggabungkan pemantauan kolaboratif sejak awal, langkah penting yang sering kali hanya diperkenalkan di paruh atau akhir proyek.<\/p>\n\n<p><strong>Diawali dengan pemantauan<\/strong><\/p>\n<p>Menurut Evans, meski para profesional mengakui pentingnya pemantauan, tahap ini tidak lantas berada \u201cdi depan dan di tengah\u201d perencanaan awal. \u201cOrang ingin proyek berjalan dan mendapat hasil,\u201d katanya. Ia menambahkan, semangat ini mendorong praktisi memulai aktivitas tanpa memutuskan bagaimana memantau kemajuan.<\/p>\n<p>\u201cMengembangkan rencana pemantauan berarti memeriksa ulang perencanaan \u2013 jika kita tidak tahu bagaimana memantau langkah mencapai tujuan, mungkin tujuannya perlu diperiksa lagi,\u201d tambah Evan. \u201cJika kita simpan rencana pemantauan hingga setelah kita memulai aktivitas implementasi, kita kehilangan potensi sinergi antara pemantauan dan aktivitas.\u201d<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p>Perangkat diagnostik ini juga memandu para praktisi merancang rencana yang dapat menjejak kemajuan di beragam lokasi dan beragam tingkat\u2014memberi apa yang diperlukan masyarakat lokal dan apa yang diprioritaskan pemangku kepentingan nasional, sambil menjawab apa yang diinginkan pemangku kepentingan global.<\/p>\n<p>\u201cMenerapkan perangkat diagnostik ini juga memberitahukan dimensi kunci proses pemantauan kolaboratif yang diperlukan untuk memperkuat implementasi restorasi bentang alam hutan. Dengan kata lain, menyediakan mekanisme peningkatan,\u201d kata Guariguata.<\/p>\n<p>\u201cSudah ada beberapa upaya global, seperti Tantangan Bonn, untuk memantau apa yang terjadi pada restorasi bentang alam hutan dan komitmen global terkait. Posisinya berada di level puncak dan sering bergantung pada data penginderaan jarak jauh dan laporan umum,\u201d kata Evans. \u201cMaka di beberapa lokasi pemantauan kolaboratif dilakukan, kita bisa memperoleh data dan pembelajaran yang besar. Namun dua tingkat ini tidak benar-benar saling berbicara.\u201d<\/p>\n<p>\u201cAkibatnya, potensi agar pelaksana lokal, wilayah dan negara bisa saling belajar hilang,\u201d kata Evans.<\/p>\n<p><strong>Pelajaran dari Brasil<\/strong><\/p>\n<p>Evans mengutip proyek restorasi di Brasil sebgai contoh rencana pemantauan kolaboratif yang berhasil melibatkan pemangku kepentingan lokal pada tingkat lokal dan nasional, namun terkendala dalam memantau proyek secara lokal, nasional dan global.  <a href=\"http:\/\/www.bonnchallenge.org\/content\/brazils-atlantic-forest-restoration-pact\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pakta Restorasi Hutan Altantik<\/a> adalah proyek besar merestorasi 15 juta hektare hutan mangrove, tropis dan subtropis berdaun lebar pada 2050. Sekitar 260 organisasi masyarakat, perusahaan swasta, lembaga penelitian, dan pemerintah mendukung proyek ini, hingga sangat berpotensi untuk pemantauan kolaboratif.<\/p>\n<p>\u201cMereka mengembangkan <a href=\"https:\/\/journals.sagepub.com\/doi\/10.1177\/1940082917697265\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">protokol pemantauan<\/a> yang merinci sejumlah hal yang diperlukan untuk memantau,\u201d kata Evans. Akhirnya, protok merinci 19 kriteria 41 indikator dan 74 metrik yang harus diukur secara rutin.<\/p>\n<p>\u201cAkhirnya tidak berjalan karena terlalu padat,\u201d kata Evan. \u201cTerlalu banyak yang dipantau. Dan pembelajarannya, lebih baik memantau beberapa hal saja dengan baik. Kemudian jika ingin memperluas skala laporan ke tingkat nasional dan internasional, pilih saja mungkin lima indikator yang digunakan setiap orang.\u201d<\/p>\n<p>Proyek ini juga gagal memasukan dan menetapkan titik picu dalam rencana pemantauan. Titik picu adalah nilai target yang perlu dicapai pada waktu tertentu, dan jika tidak tercapai, perlu dilakukan tindakan tambahan. Misalnya, jika persentase tanaman asli tidak tercapai pada periode waktu tertentu, proyek ini perlu menanam  lebih banyak bibit untuk mencapai target itu.<\/p>\n<p>Perangkat diagnostik CIFOR dapat membantu pimpinan proyek restorasi belajar dari contoh Brasil dengan mengembangkan rencana monitoring yang memungkinkan kelompok lokal di lapangan, badan nasional dan organisasi internasional yang mendukung proyek berbagai informasi terbaru agar setiap level dapat mendukung satu sama lain.<\/p>\n<p>\u201cPerangkat diagnostik ini dipersiapkan untuk membantu masyarakat menyusun pemantauan,\u201d kata Evan. \u201cPerangkat ini membantu menciptakan sistem pemantauan di mana orang dapat berbagi informasi satu sama lain dan menciptakan komunitas pembelajaran secara daring atau dalam pertemuan lokal.\u201d<\/p>\n<p>\u201cPerangkat ini juga mendefinisikan elemen yang harus ada di tingkat sub-nasional dan nasional dalam mengaitkan dan memperluas skala pemantauan kolaboratif,\u201d kata Evans.<\/p>\n<p>\u201cSelain juga bisa menjadi kerangka kerja penilaian,\u201d tambah Guariguata. \u201cMisalnya, perangkat ini bisa diadaptasi untuk mengukur kapasitas yang diperlukan di tingkat nasional dan subnasional dalam merancang dan mengimplementasikan intervensi restorasi bentang alam.\u201d<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p><strong>Peta jalan menuju kolaborasi dan restorasi<\/strong><\/p>\n<p>Perangkat diagnostik Evans dan Guariguata ini berisi matrik inti dari 42 faktor keberhasilan dan saran untuk melakukan asesmen. Para peneliti menurunkan faktor keberhasilan ini dari lebih 80 sumber terpublikasi mengenai pemantauan partisipatoris dan kolaboratif. Faktor ini kemudian dievaluasi oleh kelompok beranggotakan 20 pakar global dan diperingkat menurut kemanfaatan, relevansi dan urgensi.<\/p>\n<p>Perangkat ini ditujukan untuk profesional atau tim lintas-disiplin yang berpengalaman dalam metode partisipasi, restorasi hutan, dan pemantauan manajemen sumber daya alam.<\/p>\n<p>\u201cSaya berharap masyarakat mulai melihat bahwa pemantauan menjadi inti dari restorasi bentang alam apa pun jenis hutan, dan bahwa khususnya pemantauan kolaboratif menjadi dasarnya,\u201d kata Evans. \u201cPerangkat diagnostik ini akan mempermudah praktisi melibatkan masyaarakat lokal dan gagasan-gagasannya. Kami tidak hanya melempar sesuatu yang menambah beban pekerjaan para praktisi.\u201d<\/p>\n<p>\u201cKami telah berbicara dengan banyak praktisi restorasi bentang alam hutan dan mereka yang telah mulai menggunakan pemantauan kolaboratif merasa tidak ada pilihan lain saat ini, kata Evans. \u201cNamun perlu terobosan untuk mewujudkannya. Kami berharap perangkat ini akan membantu.\u201d<\/p>\n\n<p><strong>Bacaan lebih lanjut<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/56345\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna?fnl=id\">Memperbaiki bentang alam: Gunakan alat tepat guna<\/a><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/56192\/pemantauan-partisipatif-kunci-keberhasilan-restorasi?fnl=id\">Pemantauan partisipatif kunci keberhasilan restorasi<\/a><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/43804\/restorasi-bentang-alam-hutan-pembelajaran-dari-amerika-latin?fnl=id\">Restorasi bentang alam: Pembelajaran dari Amerika Latin<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bayangkan, Anda menjadi rimbawan yang memimpin proyek restorasi. Lokasinya terpencar, dan berbeda\u2014hutan hujan, padang rumput kering, dan daerah aliran sungai gunung. Kita perlu melibatkan para pemangku kepentingan, penduduk, peternak, pengelola sumber daya air lokal, dan pejabat pusat. Dari mana mulainya? Peneliti Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) percaya telah membantu memberi solusi dengan meluncurkan sebuah perangkat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":308,"featured_media":60591,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[2647],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[8751],"class_list":["post-60588","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-restorasi","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Restorasi bentang alam: Pentingnya pemantauan kolaboratif sejak dini - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60588\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Restorasi bentang alam: Pentingnya pemantauan kolaboratif sejak dini\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Bayangkan, Anda menjadi rimbawan yang memimpin proyek restorasi. Lokasinya terpencar, dan berbeda\u2014hutan hujan, padang rumput kering, dan daerah aliran sungai gunung. Kita perlu melibatkan para pemangku kepentingan, penduduk, peternak, pengelola sumber daya air lokal, dan pejabat pusat. Dari mana mulainya? Peneliti Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) percaya telah membantu memberi solusi dengan meluncurkan sebuah perangkat [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60588\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2019-05-02T10:38:30+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/35502951440_097876ab26_c.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"534\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Natasha Vizcarra\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60588\\\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60588\\\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini\"},\"author\":{\"name\":\"Natasha Vizcarra\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/460cb6b00f6d4962adc2c456a722bd1b\"},\"headline\":\"Restorasi bentang alam: Pentingnya pemantauan kolaboratif sejak dini\",\"datePublished\":\"2019-05-02T10:38:30+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60588\\\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini\"},\"wordCount\":1041,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60588\\\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/05\\\/35502951440_097876ab26_c.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60588\\\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2019\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60588\\\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60588\\\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini\",\"name\":\"Restorasi bentang alam: Pentingnya pemantauan kolaboratif sejak dini - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60588\\\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60588\\\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/05\\\/35502951440_097876ab26_c.jpg\",\"datePublished\":\"2019-05-02T10:38:30+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60588\\\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60588\\\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60588\\\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/05\\\/35502951440_097876ab26_c.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/05\\\/35502951440_097876ab26_c.jpg\",\"width\":800,\"height\":534,\"caption\":\"Pemantauan kolaboratif, yang juga disebut pemantauan partisipatoris, berperan penting dalam restorasi hutan.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60588\\\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Restorasi bentang alam: Pentingnya pemantauan kolaboratif sejak dini\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60588\\\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60588\\\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/460cb6b00f6d4962adc2c456a722bd1b\",\"name\":\"Natasha Vizcarra\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/de9fead00d6d9892eb771a9de8199c01eabfde8c2bb644cd26c7fc91e83b4149?s=96&d=mm&r=g95d6868597613c27dc9440e022d48b3f\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/de9fead00d6d9892eb771a9de8199c01eabfde8c2bb644cd26c7fc91e83b4149?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/de9fead00d6d9892eb771a9de8199c01eabfde8c2bb644cd26c7fc91e83b4149?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Natasha Vizcarra\"},\"sameAs\":[\"http:\\\/\\\/ciforblogger\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/natasha\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/60588\\\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Restorasi bentang alam: Pentingnya pemantauan kolaboratif sejak dini - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60588\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Restorasi bentang alam: Pentingnya pemantauan kolaboratif sejak dini","og_description":"Bayangkan, Anda menjadi rimbawan yang memimpin proyek restorasi. Lokasinya terpencar, dan berbeda\u2014hutan hujan, padang rumput kering, dan daerah aliran sungai gunung. Kita perlu melibatkan para pemangku kepentingan, penduduk, peternak, pengelola sumber daya air lokal, dan pejabat pusat. Dari mana mulainya? Peneliti Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) percaya telah membantu memberi solusi dengan meluncurkan sebuah perangkat [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60588\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2019-05-02T10:38:30+00:00","og_image":[{"width":800,"height":534,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/35502951440_097876ab26_c.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Natasha Vizcarra","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60588\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60588\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini"},"author":{"name":"Natasha Vizcarra","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/460cb6b00f6d4962adc2c456a722bd1b"},"headline":"Restorasi bentang alam: Pentingnya pemantauan kolaboratif sejak dini","datePublished":"2019-05-02T10:38:30+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60588\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini"},"wordCount":1041,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60588\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/35502951440_097876ab26_c.jpg","articleSection":["Forests News"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60588\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini#respond"]}],"copyrightYear":"2019","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60588\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60588\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini","name":"Restorasi bentang alam: Pentingnya pemantauan kolaboratif sejak dini - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60588\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60588\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/35502951440_097876ab26_c.jpg","datePublished":"2019-05-02T10:38:30+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60588\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60588\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60588\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/35502951440_097876ab26_c.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/35502951440_097876ab26_c.jpg","width":800,"height":534,"caption":"Pemantauan kolaboratif, yang juga disebut pemantauan partisipatoris, berperan penting dalam restorasi hutan."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60588\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Restorasi bentang alam: Pentingnya pemantauan kolaboratif sejak dini"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60588\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60588\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/460cb6b00f6d4962adc2c456a722bd1b","name":"Natasha Vizcarra","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/de9fead00d6d9892eb771a9de8199c01eabfde8c2bb644cd26c7fc91e83b4149?s=96&d=mm&r=g95d6868597613c27dc9440e022d48b3f","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/de9fead00d6d9892eb771a9de8199c01eabfde8c2bb644cd26c7fc91e83b4149?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/de9fead00d6d9892eb771a9de8199c01eabfde8c2bb644cd26c7fc91e83b4149?s=96&d=mm&r=g","caption":"Natasha Vizcarra"},"sameAs":["http:\/\/ciforblogger"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/natasha"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/60588\/restorasi-bentang-alam-pentingnya-pemantauan-kolaboratif-sejak-dini#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/35502951440_097876ab26_c.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60588","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/308"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=60588"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60588\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":60602,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60588\/revisions\/60602"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/60591"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=60588"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=60588"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=60588"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=60588"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=60588"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=60588"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=60588"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=60588"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=60588"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=60588"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=60588"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=60588"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=60588"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}