{"id":59654,"date":"2019-01-30T11:53:19","date_gmt":"2019-01-30T04:53:19","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=59654"},"modified":"2019-01-30T11:53:19","modified_gmt":"2019-01-30T04:53:19","slug":"apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59654\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat","title":{"rendered":"Apa yang dilakukan pepohonan saat tidak kita lihat?"},"content":{"rendered":"<p>Mencari alasan mendasar apa,  mengapa dan bagaimana peri laku pohon mungkin menjadi obsesi bagi para peneliti hutan. Dan bagi teman-teman yang sama-sama memiliki obsesi ini \u2013 kesamaan kami lainnya adalah soal akurasi. Jadi mengapa sulit diwujudkan?<\/p>\n<p>Akurasi merupakan hal mendasar jika kita ingin secara tepat memahami detail terkait bagaimana hutan, dan besarnya simpanan karbon, berperilaku dalam berbagai keadaan. Akurasi juga menjadi vital di luar lingkup penelitian, misalnya mulai dari pembayaran hingga kepemilikan hutan, serta hal terkait berapa besar karbon tersimpan seiring waktu.<\/p>\n<p>Namun, seberapa besar pun perhatian diberikan dalam upaya pengukuran pohon, tetap ada tantangan dalam mengelola data untuk membuat analisis akurat terkait produksi dan kehilangan biomassa hutan. Dalam <a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/pii\/S0378112718313641?via%3Dihub#!\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">artikel terbaru<\/a>, rekan saya Profesor Takashi Kohyama, Dr Tetsuo Kohyama dan saya sendiri berbagi, memaparkan dan mengilustrasikan bagaimana estimasi itu dapat ditingkatkan.<\/p>\n<p>Pengukuran akurat bagaimana hutan berubah memang menyita waktu dan perhatian. Umumnya, cara paling presisi menganalisis perubahan hutan seiring waktu adalah dengan mengukur sejumlah besar individu pohon dan menunggu setahun atau lebih untuk diukur dan diukur lagi \u2013 dan dengan ini pengetahuan ilmiah detail mengenai perubahan hutan dilakukan. Namun pengukuran pohon tidak sama dengan pengukuran biomassa, dan terdapat banyak perhitungan dan asumsi yang menggunakan berbagai data tersebut untuk estimasi perubahan biomassa.<\/p>\n<p>Salah satu tantangan spesifiknya adalah, pada observasi terselang waktu, kita harus mengambil kesimpulan apa yang terjadi di antara waktu observasi. Ini analoginya. Bayangkan jika kita ingin mengetahui rata-rata jumah siswa di sebuah kelas selama delapan jam sehari dan harus memeriksa dua kelas berbeda: kita akan lihat siswa sebagian sama dan kadang berbeda. Kita ingin tahu apa yang terjadi, ketika kita tidak melihat langsung\u2014apa yang terjadi, misalnya saat istirahat makan siang? Ketidakpastian serupa muncul saat kita menghitung dan mengukur pohon\u2014mereka tentu tidak makan siang (tapi benarkah begitu?), kita tidak tahu secara tepat apa yang terjadi pada selang waktu di antara pengukuran kita\u2014dan ketidakpastian ini meningkat seiring dengan makin panjangnya jeda waktu pengukuran.<\/p>\n<p>Ketidaktahuan itu memiliki konsekuensi. Memang, hingga saat ini tidak ada cara yang disepakati dan cukup sederhana untuk membandingkan perubahan hutan yang katakanlah dicatat dalam dua tahun dengan yang sepuluh tahun. Hingga saat ini, beragam penetapan yang masih gamang digunakan dan diterapkan. Hal ini menciptakan ketidakpastian atas interpretasi: ketika nilainya berbeda, kita tidak bisa yakin sejauh mana perbedaan ini mencerminkan hutan atau metodenya..<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/pii\/S0378112718313641?via%3Dihub\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Dalam artikel kami<\/a>, dipaparkan contoh dari empat hutan (di Indonesia dan Jepang) untuk mengilustrasikan peningkatan akurasi dengan menggunakan pendekatan-pendekatan tersebut. Contoh kami menunjukkan bahwa perbedaan penggunaan metode standar dengan metode kami, umumnya antara satu dan tujuh persen dalam periode lima tahun \u2013 dengan perbedaan terbesar muncul dalam data hutan Sumatra, yang tampaknya disebabkan oleh sangat beragamnya spesies dan perilakunya.<\/p>\n<p>Apakah tingkat kesalahan ini penting? Tujuh persen tidak terdengar besar\u2014tapi ingat bahwa kami hanya memantau empat lokasi dalam jangka waktu singkat. Secara teoritis tingkat kesalahan lebih tinggi mungkin terjadi: khususnya dalam periode lebih panjang dan ketika hutan sangat beragam atau ketika vegetasi berubah. Bagi peneliti yang sangat teliti, dan ingin menemukan bagaimana hutan berubah seakurat mungkin, tingkat kesalahan satu persen akan menjadi pertimbang\u2014dan dihindari. Bayangkan pula, jika kita pemilik hutan yang ingin dibayar atau pembeli yang ingin tahu apa yang dibeli\u2014tujuh persen menjadi satu hal yang tidak lantas bisa diabaikan. Idealnya, semua penelitian dan sistem pembayaran akan sepakat pada cara terbaik melakukan kalkulasi, untuk menghindari kebingungan dan konflik. Idealnya setiap metode perhitungan harus akurat, reliabel, dan se-konsisten mungkin. Pendekatan kami tampak menjadi klaim terbaik untuk standar tersebut, dan juga memberikan solusi.<\/p>\n<p>Kami mengembangkannya dari <a href=\"https:\/\/besjournals.onlinelibrary.wiley.com\/doi\/10.1111\/2041-210X.12929\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">pendekatan-pendekatan sebelumnya<\/a> dan secara teliti memeriksa tantangan dan memaparkan teori dan perhitungan yang mendasari penyempurnaan pendekatan estimasinya. Metode yang telah disempurnakan ini akan sangat berharga ketika akurasi menjadi penting. Ketika ada kebutuhan untuk membandingkan penelitian dalam durasi berbeda. Ketika hutan menghadirkan pertanyaan mengenai laju pertumbuhan pohon berbeda saat pergantian populasi, dan ketika komposisi berubah.<\/p>\n<p>Kami juga menyediakan persamaan dan kode untuk digunakan dalam perangkat lunak bebas angka \u2018R\u2019 agar memungkinkan peneliti lain menerapkan metode ini. Dengan makin pentingnya peran hutan dalam menyerap karbon dari atmosfer \u2013 kami tahu akan banyak pihak menyambut peningkatan akurasi dalam asesmen peran hutan tersebut. Setidaknya sebagian masalah pengukuran yang dihadapi para peneliti hutan telah terjawab.<\/p>\n<p>Penyempurnaan akurasi akan mendorong analisis lebih dalam, dan tentu saja, ilmu pengetahuan lebih baik. Dan pada rekan-rekan yang memiliki obsesi serupa\u2014silahkan gunakan pendekatan yang telah disempurnakan ini\u2026 mengembangkannya\u2026 mengisinya dengan data Anda sendiri\u2026<\/p>\n<p>Toh pada akhirnya, kita tidak bisa mengalahkan keganasan perubahan iklim tanpa bekerja bersama.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mencari alasan mendasar apa, mengapa dan bagaimana peri laku pohon mungkin menjadi obsesi bagi para peneliti hutan. Dan bagi teman-teman yang sama-sama memiliki obsesi ini \u2013 kesamaan kami lainnya adalah soal akurasi. Jadi mengapa sulit diwujudkan? Akurasi merupakan hal mendasar jika kita ingin secara tepat memahami detail terkait bagaimana hutan, dan besarnya simpanan karbon, berperilaku [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":45,"featured_media":59655,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090,186],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[6961,8195],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3100],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[240],"class_list":["post-59654","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","category-production-forests","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-biomassa-hutan","tag-bahasa-degradasi-hutan","type-bahasa-fitur"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Apa yang dilakukan pepohonan saat tidak kita lihat? - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59654\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Apa yang dilakukan pepohonan saat tidak kita lihat?\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Mencari alasan mendasar apa, mengapa dan bagaimana peri laku pohon mungkin menjadi obsesi bagi para peneliti hutan. Dan bagi teman-teman yang sama-sama memiliki obsesi ini \u2013 kesamaan kami lainnya adalah soal akurasi. Jadi mengapa sulit diwujudkan? Akurasi merupakan hal mendasar jika kita ingin secara tepat memahami detail terkait bagaimana hutan, dan besarnya simpanan karbon, berperilaku [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59654\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2019-01-30T04:53:19+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/26658592329_dc8a561ac9_c.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"534\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Douglas Sheil\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59654\\\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59654\\\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat\"},\"author\":{\"name\":\"Douglas Sheil\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/1f9ca383ac3d7ce01750067ee6920702\"},\"headline\":\"Apa yang dilakukan pepohonan saat tidak kita lihat?\",\"datePublished\":\"2019-01-30T04:53:19+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59654\\\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat\"},\"wordCount\":734,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59654\\\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/01\\\/26658592329_dc8a561ac9_c.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\",\"Production forests\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59654\\\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2019\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59654\\\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59654\\\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat\",\"name\":\"Apa yang dilakukan pepohonan saat tidak kita lihat? - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59654\\\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59654\\\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/01\\\/26658592329_dc8a561ac9_c.jpg\",\"datePublished\":\"2019-01-30T04:53:19+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59654\\\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59654\\\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59654\\\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/01\\\/26658592329_dc8a561ac9_c.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/01\\\/26658592329_dc8a561ac9_c.jpg\",\"width\":800,\"height\":534},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59654\\\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Apa yang dilakukan pepohonan saat tidak kita lihat?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59654\\\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59654\\\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/1f9ca383ac3d7ce01750067ee6920702\",\"name\":\"Douglas Sheil\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/82537190cb1b073ba3f1025568fa1bb77d6d55f1b58ca5dffa18d1cf31c0e31f?s=96&d=mm&r=g163326888d3b853929ac58b98a2395db\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/82537190cb1b073ba3f1025568fa1bb77d6d55f1b58ca5dffa18d1cf31c0e31f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/82537190cb1b073ba3f1025568fa1bb77d6d55f1b58ca5dffa18d1cf31c0e31f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Douglas Sheil\"},\"description\":\"Douglas's training is in forest ecology, management and conservation and his multidisciplinary research interests address the assessment and management of biodiversity and ecological processes in changing forest landscapes. His main field experience is in East Africa and Southeast Asia and worked at CIFOR from 1998 to 2008 to lead the \u201cMultidisciplinary Landscape Assessment\u201d and \u201cLife After Logging\u201d activities among others. He remains a CIFOR senior associate and now works at the Norwegian University of Life Sciences.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/douglas-sheil\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59654\\\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Apa yang dilakukan pepohonan saat tidak kita lihat? - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59654\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Apa yang dilakukan pepohonan saat tidak kita lihat?","og_description":"Mencari alasan mendasar apa, mengapa dan bagaimana peri laku pohon mungkin menjadi obsesi bagi para peneliti hutan. Dan bagi teman-teman yang sama-sama memiliki obsesi ini \u2013 kesamaan kami lainnya adalah soal akurasi. Jadi mengapa sulit diwujudkan? Akurasi merupakan hal mendasar jika kita ingin secara tepat memahami detail terkait bagaimana hutan, dan besarnya simpanan karbon, berperilaku [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59654\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2019-01-30T04:53:19+00:00","og_image":[{"width":800,"height":534,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/26658592329_dc8a561ac9_c.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Douglas Sheil","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59654\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59654\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat"},"author":{"name":"Douglas Sheil","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/1f9ca383ac3d7ce01750067ee6920702"},"headline":"Apa yang dilakukan pepohonan saat tidak kita lihat?","datePublished":"2019-01-30T04:53:19+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59654\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat"},"wordCount":734,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59654\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/26658592329_dc8a561ac9_c.jpg","articleSection":["Forests News","Production forests"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59654\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat#respond"]}],"copyrightYear":"2019","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59654\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59654\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat","name":"Apa yang dilakukan pepohonan saat tidak kita lihat? - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59654\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59654\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/26658592329_dc8a561ac9_c.jpg","datePublished":"2019-01-30T04:53:19+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59654\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59654\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59654\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/26658592329_dc8a561ac9_c.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/26658592329_dc8a561ac9_c.jpg","width":800,"height":534},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59654\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Apa yang dilakukan pepohonan saat tidak kita lihat?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59654\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59654\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/1f9ca383ac3d7ce01750067ee6920702","name":"Douglas Sheil","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/82537190cb1b073ba3f1025568fa1bb77d6d55f1b58ca5dffa18d1cf31c0e31f?s=96&d=mm&r=g163326888d3b853929ac58b98a2395db","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/82537190cb1b073ba3f1025568fa1bb77d6d55f1b58ca5dffa18d1cf31c0e31f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/82537190cb1b073ba3f1025568fa1bb77d6d55f1b58ca5dffa18d1cf31c0e31f?s=96&d=mm&r=g","caption":"Douglas Sheil"},"description":"Douglas's training is in forest ecology, management and conservation and his multidisciplinary research interests address the assessment and management of biodiversity and ecological processes in changing forest landscapes. His main field experience is in East Africa and Southeast Asia and worked at CIFOR from 1998 to 2008 to lead the \u201cMultidisciplinary Landscape Assessment\u201d and \u201cLife After Logging\u201d activities among others. He remains a CIFOR senior associate and now works at the Norwegian University of Life Sciences.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/douglas-sheil"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59654\/apa-yang-dilakukan-pepohonan-saat-tidak-kita-lihat#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/26658592329_dc8a561ac9_c.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59654","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/45"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=59654"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59654\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/59655"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=59654"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=59654"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=59654"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=59654"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=59654"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=59654"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=59654"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=59654"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=59654"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=59654"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=59654"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=59654"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=59654"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}