{"id":59619,"date":"2019-01-28T15:00:30","date_gmt":"2019-01-28T08:00:30","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=59619"},"modified":"2021-04-30T14:12:24","modified_gmt":"2021-04-30T07:12:24","slug":"bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59619\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam","title":{"rendered":"Bonus kecil: Manfaat positif kebijakan migrasi bagi bentang alam"},"content":{"rendered":"<p>Dalam upaya melunasi hutang, suami Sita Paryar meminjam uang untuk bisa bekerja di Qatar. Namun, setelah beberapa bulan dipindahkan dari pedesaan Nepal, ia tidak diberi pekerjaan atau upah oleh pemberi kerjanya.<\/p>\n<p>Sita tinggal di rumah bersama dua anaknya. Ia memelihara kambing dan mendapat sedikit penghasilan bekerja di sebuah pertanian lokal. Ia tidak punya waktu bercocok tanam di tanahnya untuk menambah penghasilan. Ia khawatir tidak sanggup membayar uang sekolah anaknya.<\/p>\n<p>\u201cSemua lelaki cenderung pindah ke luar negeri,\u201d katanya. \u201cDengan kepergian mereka, yang tinggal hanya yang lemah atau renta. Sulit sekali mencari orang yang bisa membajak tanah.\u201d<\/p>\n<p>Keluarga Parvar menghadapi masalah dan terus berjuang menjawab tantangan yang dihadapi <a href=\"https:\/\/www.ilo.org\/wcmsp5\/groups\/public\/---dgreports\/---dcomm\/---publ\/documents\/publication\/wcms_652029.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">jutaan orang<\/a> di seluruh dunia dengan memilih bekerja migran.<\/p>\n<p>Meski menghadapi berbagai kesulitan terkait relokasi, uang kiriman (remitansi) membantu meningkatkan penghidupan, dan menciptakan stabilitas ekonomi di tingkat nasional, serta mencegah seluruh keluarga <a href=\"https:\/\/www.washingtonpost.com\/world\/national-security\/at-the-us-border-a-diminished-migrant-caravan-readies-for-an-unwelcoming-reception\/2018\/04\/27\/7946a154-4a52-11e8-827e-190efaf1f1ee_story.html?utm_term=.51da927ee802\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">menjadi pengungsi<\/a>.<\/p>\n\n<h4>PERENCANAAN TEPAT<\/h4>\n<p>Dengan memahami akar masalah dan pola migrasi manusia, para pakar dapat menyusun strategi manajemen lahan yang efektif, menjaga agar pembangunan internasional dan tujuan restorasi iklim tercapai. Demikian dikatakan Kartika Sari Juniwaty, dosen ekonomi pembangunan <a href=\"http:\/\/www.ui.ac.id\/en\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Universitas Indonesia<\/a>, dan mitra peneliti Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR).<\/p>\n<p>Aspek migrasi dan target remitansi terserak di seluruh 17 <a href=\"https:\/\/sustainabledevelopment.un.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB <\/a>(SDG), dan secara khusus disebutkan dalam dimensi sosial SDG 10 dan 17. <a href=\"https:\/\/sustainabledevelopment.un.org\/sdg10\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">SDG 10<\/a> bertujuan mengurangi ketidakadilan di dalam dan antar negara. <a href=\"https:\/\/sustainabledevelopment.un.org\/sdg17\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">SDG 17<\/a> bertujuan memperkuat implementasi dan revitalisasi kemitraan global.<\/p>\n<p>Namun, kritik menunjukkan bahwa terdapat diskoneksi antara tujuan tersebut dengan target lingkungan, kata Juniway, moderator <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=pQJ8e7xzarE\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">sebuah diskusi panel<\/a> pada konferensi <a href=\"https:\/\/www.globallandscapesforum.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Forum Bentang Alam Global<\/a> (GLF) di Bonn, Jerman.<\/p>\n<p>Pada sesi tersebut, para panelis mendiskusikan kebutuhan data yang lebih efektif mengenai migrasi dan remitansi untuk membantu transformasi adaptif kebijakan perlindungan bentang alam, menjamin kesejahteraan masyarakat dan resiliensi iklim.<\/p>\n\n<h4>PENGHIDUPAN KOTA-DESA<\/h4>\n<p>\u201cDi tengah kuatnya kepentingan akademik dan media dalam krisis pengungsi dan perpindahan, kita dengan mudah mengabaikan fakta bahwa mayoritas migrasi global adalah untuk pekerjaan,\u201d kata Fraser Sugden, dosen senior geografi manusia di <a href=\"https:\/\/www.birmingham.ac.uk\/index.aspx\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Universitas Birmingham<\/a> Inggris.<\/p>\n<p>Pola migrasi internal mengalami perubahan besar sejak revolusi industri abad 19 di Inggris. Ketika itu migran \u2013 sebagian besar pekerja pria \u2013 meninggalkan lahan dan membawa keluarganya ke kota untuk mencari pekerjaan yang aman dan stabil.<\/p>\n<p>\u201cMereka menciptakan kehidupan baru di kota, dan dampaknya adalah upah yang mulai naik diiringi munculnya sistem kesejahteraan untuk menyokong populasi baru pekerja, yang perlu mereproduksi dirinya sendiri,\u201d kata Sugden.<\/p>\n<p>Kini, akibat tingginya biaya hidup di kota, lebih banyak pekerja migran pergi sendiri, dan mengirim uang pada keluarga. Menurut Sugden, mereka meninggalkan lahan dalam pengelolaan perempuan, orang tua antara usia kerja atau pensiun.<\/p>\n<p>\u201cPara petani tidak sepenuhnya terpisah dari lahan. Mereka cenderung makin bergeser pada strategi penghidupan ganda, karena baik pertanian atau bekerja migran tidak sepenuhnya menyokong seluruh keluarga,\u201d katanya. \u201cPertanian mensubsidi banyak masyarakat berupah rendah di selatan.\u201d<\/p>\n<p>Sebagian besar migrasi terjadi secara internal, lanjut Sugden, ketika masyarakat berpindah dari satu bagian negara untuk bekerja. Migrasi internasional, tambahnya sebagian besar terjadi di selatan, dibanding di utara. Antara 2000 dan 2015, migrasi internasional meningkat 63 persen.<\/p>\n<p>Peningkatan ini, sebagian besar terkait dengan perubahan biofisik, iklim, ekonomi dan budaya yang kompleks.<\/p>\n<p>\u201cEkonomi berbasis remitansi melekat secara struktural pada tidak berkembangnya pembangunan dalam ekonomi global neoliberal,\u201d kata Sugden. Ia menambahkan, pengambil kebijakan perlu mengimplementasikan perubahan di bawah <a href=\"http:\/\/www.undp.org\/content\/undp\/en\/home\/sustainable-development-goals\/goal-13-climate-action.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">SDG 13<\/a> mengenai aksi iklim, dengan memasukkan aksi iklim maupun peran pertanian dalam pertimbangan saat mendefinisikan strategi sosioekonomi untuk menyokong migrasi.<\/p>\n<p>Kiriman remitansi juga dapat berperan besar dalam ekonomi nasional, meningkatkan <a href=\"https:\/\/www.washingtonpost.com\/world\/national-security\/us-embassy-cables-warned-against-expelling-300000-immigrants-trump-officials-did-it-anyway\/2018\/05\/08\/065e5702-4fe5-11e8-b966-bfb0da2dad62_story.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">produk domestik bruto<\/a>, menstabilkan ekonomi dan mencegah migrasi susulan.<\/p>\n\n<h4>KERANGKA ADAPTASI<\/h4>\n<p>Memahami dampak masyarakat migran terhadap lahan menjadi bagian penting dalam melindungi hutan hujan Amazon di Peru. Demikian dikatakan Peter Cronkleton, antropologis CIFOR. Para pengambil kebijakan, menurutnya, perlu menjadikan <a href=\"https:\/\/sustainabledevelopment.un.org\/sdg15\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">SDG 15<\/a>, Kehidupan di Bumi, sebagai inti perencanaan.<\/p>\n<p>Pemerintah sering menyatakan bahwa 80 persen deforestasi disebabkan oleh \u201cpertanian migran\u201d dari dataran tinggi Andes. Namun,  menurut Cronkleton, penelitian menyangsikan klaim ini. Ia menambahkan, fenomena yang ada mengungkap fondasi yang lemah dalam penyusunan strategi mengatasi masalah deforestasi di Amazon.<\/p>\n<p>\u201cHasil kami menunjukkan, mayoritas migran adalah masyarakat Amazon, dan mereka yang lahir di Andes, menghabiskan sebagaian besar waktunya tinggal di Amazon \u2013 rata-rata 23 tahun.\u201d<\/p>\n<p>Berbagai temuan ini menunjukkan bahwa pemerintah perlu lebih memahami faktor pengambilan keputusan migrasi, dan bagaimana pola migrasi terkait dengan perubahan pemanfaatan lahan di Amazon.<\/p>\n<p>Cronkleton mengamati bahwa migran berpindah pada lahan yang dipersepsi tidak termanfaatkan dan bisa ditinggali. Lahan tersebut biasanya adalah hutan yang dibersihkan untuk pertanian. Secara bertahap, lembaga pemerintah masuk untuk menyediakan pelayanan, membangun sekolah, jalan dan jembatan. Hak kepemilikan mulai diformalkan, saat lahan sudah terdeforestasi.<\/p>\n<p>\u201cSpontanitas migrasi ke dalam hutan, diikuti pembangunan infrastruktur dukungan pemerintah dan hak kepemilikan bagi penghuni yang menggunduli hutan, mengungkap bagaimana kebijakan lintas sektor berdampak besar pada deforestasi dibanding masyarakat menguasai bentang alam,\u201d kata Crongkleton.<\/p>\n<p>Penelitiannya terfokus pada empat bentang alam multi-desa di Amazon-Peru tengah, dua lokasi terakses jalan, dan dua lainnya terakses hanya melalui sungai.<\/p>\n<p>\u201cHingga akhir abad 20, kawasan tersebut terpencil dan tidak terakses, sebagian besar desa berada di pinggir sungai atau jalur penebangan yang telah ditinggalkan,\u201d kata Cronkleton. \u201cKondisi ini berubah saat kerusuhan berdarah dan produksi kokain mendorong pergeseran populasi desa, dan diikuti oleh pasifikasi, eradikasi obat-obatan terlarang dan substiusi tanaman.\u201d<\/p>\n<p>Kemudian petani kecil pindah ke kawasan itu.<\/p>\n<p>Sebuah survei pada lebih dari 300 keluarga di kawasan tersebut menunjukkan bahwa 71 persen adalah keluarga migran. Penginderaan jarak jauh yang dilakukan <a href=\"https:\/\/www.temple.edu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Universitas Temple<\/a> Amerika Serikat menghitung laju deforestasi bentang alam di sekitar desa-desa itu, dengan mengukur pemanfaatan lahan tiap interval dua tahun, dari 1985 hingga 2015. Mereka menemukan, dua bentang alam yang tidak terakses jalan, dan hanya melalui sungai, hampir tidak mengalami perubahan tutupan lahan selama waktu observasi. Sebagai perbandingan, lokasi terakses jalan kehilangan 20 hingga 40 persen tutupan hutan.<\/p>\n<p>Kawasan berhutan yang berada lebih dekat ke sungai lebih terjaga karena praktik pertanian subsisten. Makin jauh dari sungai, di lokasi terakses jalan, para peneliti mengamati masuknya investasi pertanian komersial, antara lain cokelat, kelapa sawit dan peternakan mengganti hutan.<\/p>\n<p>\u201cStrategi kebijakan yang efektif dalam manajemen lahan berkelanjutan memerlukan pemahaman lebih baik mengenai bagaimana kerangka kebijakan yang ada menciptakan konteks, bagaimana agenda dan aksi berbagai lembaga bersaing dalam bentang alam dan bagaimana tidak jelasnya kebijakan dan tujuan pemerintah bisa mengarah pada konsekuensi yang tidak diinginkan,\u201d kata Cronkleton.<\/p>\n\n<h4>MENDEFINISIKAN PERPINDAHAN<\/h4>\n<p>Penyebab mendasari dari migrasi adalah kebijakan terkait, kata Charles Martin-Shields, peneliti <a href=\"https:\/\/www.die-gdi.de\/en\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">German Development Institute<\/a>. Orang yang sama berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan alasan berbeda.<\/p>\n<p>\u201cAnda bisa menemukan bahwa seseorang meninggalkan satu tempat karena kekerasan, kemudian mereka pergi ke tempat kedua karena pekerjaan menghilang,\u201d kata Martin-Shield. \u201cMereka menghadapi lemahnya hak, mereka menghadapi minimnya peluang ekonomi, mereka menghadapi buruknya layanan sosial. Ini menjadi pertanyaan kebijakan apakah seseorang itu pengungsi atau migran ekonomi.\u201d<\/p>\n<p>Kerjasama internasional mengenai inisiatif pembangunan mempengaruhi pola kekuasaan, pola akses suber daya dan pola kekerasan. Migrasi terpaksa dan perubahan lingkungan merupakan tantangan multi-dimensi yang menciptakan kurangnya keamanan, meningkatnya kekerasan dan degradasi ekonomi.<\/p>\n<p>Kerentanan kondisi negara, kata Martin, juga penting dipertimbangkan sebagai penyebab migrasi dan perpindahan paksa. Seiring waktu, konsep dan definis kerentanan negara juga berubab.<\/p>\n<p>Sekitar 20 tahun lalu, sebuah negara disebut rentan jika dalam kondisi miskin dan terlibat konflik. Konsep ini berubah, dan kini kondisi tersebut ditentukan oleh otoritas, kemampuan menjaga keamanan wilayah dalam perbatasan, kemampuan menjalankan layanan publik, dan memasok barang kebutuhan. Kerentanan juga ditentukan oleh bagaimana penduduk memandang legitimasi pemerintah dan penghormatan atas hak.<\/p>\n<p>\u201cBisa saja, pada awalnya migran pindah karena menghindari kekerasan, kemudian mereka terus pindah karena tidak menemukan pekerjaan,\u201d kata Martin-Shields. \u201cMereka mungkin ya atau mungkin tidak diperlakukan sebagai pengungsi. Anda bisa menyatakan mereka migran ekonomi dan seperti itulah keadannya. Di sisi lain, ini bukankah orang yang awalnya pergi karena kekerasan yang perlu perlindungan?<\/p>\n<p>Ruang hukum seputar kemunculan pola perpindahan paksa menciptakan area abu-abu hukum yang menantang. Menurut dia, membangun kebijakan pada kerjasama pembangunan  berdasarkan premis bahwa migrasi akan berakhir merupakan arah yang buruk dalam diskusi.<\/p>\n<p>\u201cAnda tidak bisa menghentikan migrasi. Masyarakat akan bergerak. Bukti empiris sejauh yang saya lihat, mobilitas adalah realitas dunia, dan akan terus meningkat. Di sisi lain, Anda tidak lantas bisa membuka perbatasan. Saya tidak berpendapat, kita bisa bergerak ke arah dunia tanpa batas.\u201d<\/p>\n<p>Negara penerima memiliki tanggung jawab untuk memberikan perlindungan, pelayan dan menjamin hak asasi \u2013 artinya diperlukan strategi manajemen migrasi.<\/p>\n<p>SDG memberi kerangka mengelola penyebab perpindahan paksa, dan target <a href=\"https:\/\/sustainabledevelopment.un.org\/sdg17\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">17<\/a> menawarkan kendaraan bagi pengembangan kemitraan global.<\/p>\n\n<h4>PERTIMBANGAN IKLIM<\/h4>\n<p>Menggunakan pendekatan kewilayahan dalam mengelola migrasi dalam konteks perubahan iklim menjadi penting, kata Paola Agostini, kepala bidang bentang alam di Eropa dan Asia Tengah <a href=\"https:\/\/www.worldbank.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Bank Dunia.<\/a> \u201cJika kita tidak  mempertimbangkan perubahan iklim, migran internal bisa menjadi masalah besar,\u201d katanya. \u201cDari sekarang hingga 2050, di tiga wilayah dunia \u2013 di Afrika Selatan, Asia Selatan dan Amerika Latin \u2013 akan mendapati lebih dari 140 juta migran internal.\u201d<\/p>\n<p>Perubahan besar iklim yang terkait migrasi, antara lain penurunan produktivitas tanaman, kekurangan air dan kenaikan permukaan laut.<\/p>\n<p>\u201cBerita baiknya, kita bisa mengambil langkah dan benar-benar mengurangi dampak seperti ini.\u201d<\/p>\n<p>Sebagai nomaden, kita sadar bahwa kita hidup dalam bentang alam yang sangat rentan dan menghadapi kekeringan parah, kata Lampat Parashina, ketua suku Maasai serta praktisi rentang lahan dari Kenya Selatan, <a href=\"http:\/\/soralo.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">South Rift Association of Land Owners<\/a>.<\/p>\n<p>\u201cKita membutuhkan kemitraan, bukan patronasi,\u201d kata Parashina. Masyarakat harus dipandang sebagai pemangku kepentingan utama dan kita perlu fokus memberi solusi pada tingkat penghidupan agar masyarakat mau tinggal di tanahnya.<\/p>\n<p>Migrasi merupakan masalah kompleks, namun jika kita menambahkan elemen etnis dan membicarakan migrasi masyarakat adat, situasi makin rumit, kata Eileen Mairenna-Cunningham dari <a href=\"https:\/\/www.indigenouspeoples-sdg.org\/index.php\/english\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Indigenous Peoples Major Group on Sustainable Development<\/a>.<\/p>\n<p>\u201cTerlepas dari penyebab migrasi masyarakat adat, perempuan, pemuda dan anak-anak, efeknya sama: tercerabutnya teritorial dan kemudian hilangnya pengetahuan adat dan budaya,\u201d katanya.<\/p>\n<p>\u201cSebelum membincangkan efek proses itu pada bentang alam dan hutan alam, kita harus ingat bahwa masyarakat adat memiliki hubungan spiritual dengan tanah, wilayah dan sumber daya alam kita. Bagi pihak lain, lahan memiliki peluang ekonomi, bagi kita lahan dan wilayah adalah ibu, ruang reproduksi budaya dan Laman Laka (kesejahteraan).\u201d<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam upaya melunasi hutang, suami Sita Paryar meminjam uang untuk bisa bekerja di Qatar. Namun, setelah beberapa bulan dipindahkan dari pedesaan Nepal, ia tidak diberi pekerjaan atau upah oleh pemberi kerjanya. Sita tinggal di rumah bersama dua anaknya. Ia memelihara kambing dan mendapat sedikit penghasilan bekerja di sebuah pertanian lokal. Ia tidak punya waktu bercocok [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":91,"featured_media":59621,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[182,95],"tags":[],"language":[2171],"location":[12331],"tag-bahasa":[6348,2602,8241,2675],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[6545,3085],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[989],"class_list":["post-59619","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-community-forestry","category-human-wellbeing","language-bahasa-indonesia","location-bonn-2","tag-bahasa-imigrasi","tag-bahasa-migrasi","tag-bahasa-transmigrasi","tag-bahasa-urbanisasi","type-bahasa-liputan-acara","type-bahasa-video"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Bonus kecil: Manfaat positif kebijakan migrasi bagi bentang alam - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59619\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Bonus kecil: Manfaat positif kebijakan migrasi bagi bentang alam\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Dalam upaya melunasi hutang, suami Sita Paryar meminjam uang untuk bisa bekerja di Qatar. Namun, setelah beberapa bulan dipindahkan dari pedesaan Nepal, ia tidak diberi pekerjaan atau upah oleh pemberi kerjanya. Sita tinggal di rumah bersama dua anaknya. Ia memelihara kambing dan mendapat sedikit penghasilan bekerja di sebuah pertanian lokal. Ia tidak punya waktu bercocok [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59619\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2019-01-28T08:00:30+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-04-30T07:12:24+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/37720459214_9679b7ce8e_c.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"534\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Julie Mollins\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@jmollins\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59619\\\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59619\\\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam\"},\"author\":{\"name\":\"Julie Mollins\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/18a6edef8169e1c81d3306a074a16467\"},\"headline\":\"Bonus kecil: Manfaat positif kebijakan migrasi bagi bentang alam\",\"datePublished\":\"2019-01-28T08:00:30+00:00\",\"dateModified\":\"2021-04-30T07:12:24+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59619\\\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam\"},\"wordCount\":1617,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59619\\\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/01\\\/37720459214_9679b7ce8e_c.jpg\",\"articleSection\":[\"Community forestry\",\"Human well-being\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59619\\\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2019\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59619\\\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59619\\\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam\",\"name\":\"Bonus kecil: Manfaat positif kebijakan migrasi bagi bentang alam - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59619\\\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59619\\\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/01\\\/37720459214_9679b7ce8e_c.jpg\",\"datePublished\":\"2019-01-28T08:00:30+00:00\",\"dateModified\":\"2021-04-30T07:12:24+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59619\\\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59619\\\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59619\\\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/01\\\/37720459214_9679b7ce8e_c.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/01\\\/37720459214_9679b7ce8e_c.jpg\",\"width\":800,\"height\":534,\"caption\":\"Pengangkut damar wanita, berjalan seperti membawa damar dari desa, seharga satu pon mereka mendapat Rp. 600, - dan biasanya mereka dapat membawa lima puluh kilo satu arah di desa Penengahan, Kabupaten Pesisir Barat, provinsi Lampung, Indonesia pada 08 November 2017.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59619\\\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Bonus kecil: Manfaat positif kebijakan migrasi bagi bentang alam\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59619\\\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59619\\\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/18a6edef8169e1c81d3306a074a16467\",\"name\":\"Julie Mollins\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=gd7b35bd5dbca81f466deabc370b98c72\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Julie Mollins\"},\"description\":\"Since 2013, Julie Mollins has served in various editorial and outreach roles with CGIAR-affiliated organizations, including as editor of Forests News for CIFOR (2013-2014, 2018 and November 2019 to June 2022), editor of Landscape News for the Global Landscapes Forum (GLF) and news editor and media manager for the International Maize and Wheat Improvement Center (CIMMYT). She also works in communications at the World Bank. Previously, she worked for Reuters in Toronto and London, the former Reuters Foundation humanitarian website AlertNet in London, and several national news and business publications in Canada.\",\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.linkedin.com\\\/in\\\/juliemollins\\\/\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/jmollins\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/jmollins\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/59619\\\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Bonus kecil: Manfaat positif kebijakan migrasi bagi bentang alam - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59619\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Bonus kecil: Manfaat positif kebijakan migrasi bagi bentang alam","og_description":"Dalam upaya melunasi hutang, suami Sita Paryar meminjam uang untuk bisa bekerja di Qatar. Namun, setelah beberapa bulan dipindahkan dari pedesaan Nepal, ia tidak diberi pekerjaan atau upah oleh pemberi kerjanya. Sita tinggal di rumah bersama dua anaknya. Ia memelihara kambing dan mendapat sedikit penghasilan bekerja di sebuah pertanian lokal. Ia tidak punya waktu bercocok [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59619\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2019-01-28T08:00:30+00:00","article_modified_time":"2021-04-30T07:12:24+00:00","og_image":[{"width":800,"height":534,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/37720459214_9679b7ce8e_c.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Julie Mollins","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@jmollins","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59619\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59619\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam"},"author":{"name":"Julie Mollins","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/18a6edef8169e1c81d3306a074a16467"},"headline":"Bonus kecil: Manfaat positif kebijakan migrasi bagi bentang alam","datePublished":"2019-01-28T08:00:30+00:00","dateModified":"2021-04-30T07:12:24+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59619\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam"},"wordCount":1617,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59619\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/37720459214_9679b7ce8e_c.jpg","articleSection":["Community forestry","Human well-being"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59619\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam#respond"]}],"copyrightYear":"2019","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59619\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59619\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam","name":"Bonus kecil: Manfaat positif kebijakan migrasi bagi bentang alam - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59619\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59619\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/37720459214_9679b7ce8e_c.jpg","datePublished":"2019-01-28T08:00:30+00:00","dateModified":"2021-04-30T07:12:24+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59619\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59619\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59619\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/37720459214_9679b7ce8e_c.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/37720459214_9679b7ce8e_c.jpg","width":800,"height":534,"caption":"Pengangkut damar wanita, berjalan seperti membawa damar dari desa, seharga satu pon mereka mendapat Rp. 600, - dan biasanya mereka dapat membawa lima puluh kilo satu arah di desa Penengahan, Kabupaten Pesisir Barat, provinsi Lampung, Indonesia pada 08 November 2017."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59619\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Bonus kecil: Manfaat positif kebijakan migrasi bagi bentang alam"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59619\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59619\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/18a6edef8169e1c81d3306a074a16467","name":"Julie Mollins","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=gd7b35bd5dbca81f466deabc370b98c72","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=g","caption":"Julie Mollins"},"description":"Since 2013, Julie Mollins has served in various editorial and outreach roles with CGIAR-affiliated organizations, including as editor of Forests News for CIFOR (2013-2014, 2018 and November 2019 to June 2022), editor of Landscape News for the Global Landscapes Forum (GLF) and news editor and media manager for the International Maize and Wheat Improvement Center (CIMMYT). She also works in communications at the World Bank. Previously, she worked for Reuters in Toronto and London, the former Reuters Foundation humanitarian website AlertNet in London, and several national news and business publications in Canada.","sameAs":["https:\/\/www.linkedin.com\/in\/juliemollins\/","https:\/\/x.com\/jmollins"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/jmollins"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/59619\/bonus-kecil-manfaat-positif-kebijakan-migrasi-yang-baik-bagi-bentang-alam#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/37720459214_9679b7ce8e_c.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59619","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/91"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=59619"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59619\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":72312,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59619\/revisions\/72312"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/59621"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=59619"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=59619"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=59619"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=59619"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=59619"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=59619"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=59619"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=59619"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=59619"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=59619"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=59619"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=59619"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=59619"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}