{"id":58973,"date":"2018-12-13T15:26:06","date_gmt":"2018-12-13T08:26:06","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=58973"},"modified":"2021-04-30T14:20:29","modified_gmt":"2021-04-30T07:20:29","slug":"jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58973\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional","title":{"rendered":"Jalan berliku menuju perubahan transformasional"},"content":{"rendered":"<p>Dalam 10 tahun pertama, REDD+ memicu antusias dan harapan bagi sebuah transisi global dari praktik yang  mengancam hutan tropis menuju mitigasi iklim jangka panjang. Meski menghadapi isu pendanaan dan berbagai tantangan tak terduga, REDD+ mulai menunjukkan potensinya \u2013 memang lebih lambat dari harapan.<\/p>\n<p>Sebuah buku baru, yang diluncurkan pada Konferensi Para Pihak (COP) Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai Perubahan Iklim (UNFCCC) di Katowice, Polandia, tahun ini, mencatat berbagai upaya reduksi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan serta peningkatan stok karbon (REDD+) di berbagai tingkat.<\/p>\n<p>Pada UNFCCC COP 2007 di Bali, Indonesia, REDD+ lahir sebagai skenario global dengan harapan membangun jembatan menuju ekonomi netral-karbon \u2013 dengan cepat, mudah dan murah.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>\u201cREDD+ tidak mengambil rute terencana dari A ke B \u2013 yakni menyediakan negara berkembang kaya hutan dengan insentif langsung untuk mendorong mitigasi iklim dalam sektor hutan dan pemanfaatan lahan,\u201d kata Arild Angelsen, profesor di Universitas Ilmu Hayati Norwegia dan mitra senior Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR). \u201cTetapi kita dapat belajar banyak dari perjalanan sejauh ini.\u201d<\/p>\n<p>Mengapa REDD+ tidak sesuai harapan? Kurangnya pendanaan adalah alasan utama, terutama fakta bahwa pembayaran berbasis hasil \u2013 membayar negara berkembang yang menjaga atau meningkatkan stok karbon \u2013 tidak dirancang sebagai pendorong utama. REDD+ dimaksudkan sebagai bagian integral pasar karbon global, meski pasar ini tidak terwujud. Sebaliknya, sebagian besar pendanaan datang dari bantuan pembangunan, sedikit negara donor, dan sebagian negara berkembang menanggung bagian besar biaya penerapan REDD+.<\/p>\n<p>\u201cJuga terdapat banyak perbedaan, benturan gagasan mengenai REDD+,\u201d kata Christopher Martius, koordinator <a href=\"cifor.org\/gcs\">Studi Komparatif G <\/a> dan ko-editor buku ini. \u201cMemisahkan antara REDD+ sebagai hasil (reduksi emisi) dan kerangka spesifik (aktivitas) pencapaian hasil akan menjernihkan banyak kebingungan.\u201d<\/p>\n\n<p><strong>TANDA-TANDA VITAL<\/strong><\/p>\n<p>Kini, banyak pengamat bertanya apakah REDD+ telah mencapai tujuan reduksi deforestasi dan degradasi hutan atau apakah telah meningkatkan penghidupan lokal dan tata kelola hutan.<\/p>\n<p>Menjawab pertanyaan tersebut, para penulis melakukan analisis berdasarkan 10 tahun penelitian dan hampir 500 publikasi ilmiah dari GCS REDD+, menyarikan dari literatur lebih luas, kontribusi mitra peneliti, dan perdebatan kebijakan pada tingkat global, nasional, subnasional dan lokal.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Dengan lebih dari 350 proyek dan program REDD+, kini terdapat cukup data \u2013 meski jauh dari sempurna \u2013 untuk menarik kesimpulan pertama mengenai jenis dampak lokal inisiatif REDD+ terhadap hutan dan masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cSecara ringkas, hasilnya masih terbatas dan bercampur,\u201d kata Amy Duchelle, ko-editor dan ilmuwan senior CIFOR yang memimpin penelitian mengenai inisiatif subnasional dalam GCS REDD+. \u201cTemuan dari beberapa penelitian mengenai karbon hutan dan hasil pemanfaatan lahan cukup bagus. Dampak REDD+ terhadap kesejahteraan masih bercampur \u2013 tetapi mengarah pada hal positif manakala insentif terlibat. Meski ada kemajuan dalam hal tenurial lahan dan hak masyarakat adat dan masyarakat lokal, aksi lokal perlu lebih didukung kebijakan nasional agar efektif.\u201d<\/p>\n<p>Kebijakan konservasi hutan nasional dan subnasional terlihat memberi dampak positif pada hutan, tetapi tidak ada instrumen kebijakan tertentu yang muncul sebagai \u201cpeluru perak\u201d. Kondisi pendorong seperti komitmen politik, kepemilikan nasinal, pengambilan keputusan inklusif dan ketersediaan pendanaan berbasis hasil sudah harus ada dan terjaga agar REDD+ bisa bertransformasi.<\/p>\n<p>Banyak Komitmen Kontribusi Nasional berdasar Perjanjian Paris PBB 2015 mengenai perubahan iklim, dan inisiatif pembangunan berkelanjutan nasional seperti strategi pertumbuhan hijau, mengakui peran hutan dalam mitigasi perubahan iklim. Namun, sebagaimana dinyatakan Pham Thu Thuy, ko-editor dan ilmuwan serta direktur CIFOR di Vietnam, kebijakan dan inisiatif hijau tersebut tidak akan mencapai tujuan jika tidak memiliki kebijakan yang jelas dan efektif serta tindakan dalam mengatasi penyebab deforestasi dan degradasi.<\/p>\n\n<p><strong>APA LANGKAH BERIKUTNYA?  <\/strong><\/p>\n<p>Para penulis menunjukkan bahwa REDD+, yang sempat diarahkan sebagai alat perubahan transformasional, juga mengalami transformasi. Mereka menunjukkan, REDD+ berubah menjadi beragam intervensi, dan meski para pemangku kepentingan berbeda dalam pilihan visi mengenai bagaimana REDD+ berubah, semuanya bisa sepakat bahwa secara substansi tujuan utamanya tidak boleh diubah atau dikaburkan.<\/p>\n<p>\u201cDunia tidak bisa mencapai target 1,5\u00b0C atau bahkan 2\u00b0C tanpa reduksi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan serta peningkatan stok karbon hutan secara masif,\u201d tulis buku itu.<\/p>\n<p>Agar menjadi \u2018obat\u2019 efektif bagi \u2018penyakit\u2019 deforestasi dan degradasi hutan, REDD+ perlu diadaptasi lebih jauh \u2013 ke dalam arsitektur baru perubahan iklim global, cepatnya pergeseran politik global, dan beragam ekspektasi dari donor, negara REDD+, sektor swasta dan masyarakat lokal.<\/p>\n<p>\u201cREDD+ perlu kejelasan perubahan teori \u2013 sebuah peta jalan menuju ekonomi netral-karbon melalui transformasi praktik biasa business-as-usual,\u201d kata Martius.<\/p>\n<p>Para peneliti memetakan jalur kunci dalam mewujudkan REDD+ yang efektif, efisien dan berkeadilan, termasuk menekankan efek samping positif REDD+, serta memperpendek jalan pemulihan melalui eksperimentasi dan pendekatan yang tegas.<\/p>\n<p>Pembayaran berbasis hasil akan terus memainkan peran besar, namun reformasi kebijakan nasional dan subnasional perlu melangkah melampaui pendekatan ini agar fokus pada isu seperti perencanaan pemanfaatan lahan, tenurial dan pertanian, serta mengatasi beragam penyebab dan masalah dalam kondisi spesifik nasional dan regionalnya. Pendanaan internasional dapat memberi dorongan ke arah yang benar, namun berbagai negara harus secara khusus menetapkan insentif ekonomi bagi aktor pemerintah dan swasta agar menselaraskan aktivitas mereka dengan strategi pembangunan hijau.<\/p>\n<p>\u201cReformasi bisa mewujudkan menang-menang bagi ekonomi dan lingkungan, seperti memotong subsidi bagi tanaman deforestasi dan menambah kriteria hutan dalam transfer fiskal dari pemerintah pusat ke daerah, seperti dilakukan India,\u201d kata Angelsen.<\/p>\n<p>Menelaah tata kelola dan koordinasi multi-tingkat, para penulis juga menyimpulkan bahwa beberapa masalah tidak lantas bisa diselesaikan melalui koordinasi lebih baik.<\/p>\n<p>\u201cRealitasnya, pelaku deforestasi seringkali lebih efektif berkoordinasi dibanding mereka yang mendukung REDD+ atau inisiatif serupa,\u201d kata Anne Larson, ilmuwan utama CIFOR yang memimpin penelitian mengenai tata kelola multi-tingkat dalam GCS REDD+. \u201cUntuk melawan lintasan business-as-usual dan menjawab tujuan efektivitas maupun keadilan, kita perlu membangun pemahaman lebih dalam mengenai dinamika mendasar antar aktor dalam konteks tertentu.\u201d<\/p>\n\n<p><strong>TEGAS DAN BERANI<\/strong><\/p>\n<p>Brasil, Kosta Rika, Ethiopia, India dan Korea Selatan telah mengeluarkan inisiatif konservasi dan restorasi hutan yang kuat. Para penulis menyatakan, berbagai negara lain perlu melakukan hal serupa. Inisiatif nasional dengan narasi pro-hutan dapat memanen kepemilikan politik dan intelektual yang diperlukan untuk membangun koordinasi lintas kementerian dan berdampak jangka panjang.<\/p>\n<p>\u201cPerubahan perlu dilakukan dari atas maupun bawah,\u201d kata Duchelle. \u201cProgram yurisdiksional untuk REDD+ dan pembangunan emisi-rendah pada tingkat subnasional juga cukup menjanjikan bagi perlindungan hutan tropis serta menjaga hak dan penghidupan lokal.\u201d<\/p>\n<p>Para penulis juga menyeru berbagai negara agar berani dan mengukur dampak. Data dan informasi yang jelas menjadi penting pada tiap tahapan REDD+, mulai dari perencanaan dan desain kebijkan hingga implementasi dan evaluasi. Meski evaluasi mandiri berisiko, karena evaluasi dampak jangka pendek yang mengecewakan dalam tahap pembelajaran bisa membahayakan pendanaan masa depan. Untuk alasan ini dan alasan lain, terdapat kekurangan data pada beragam penyebab perubahan pemanfaatan lahan yang mempengaruhi emisi hutan.<\/p>\n<p>\u201cRealitasnya adalah bahwa agen deforestasi dan degradasi yang kuat dapat mempengaruhi bagaimana informasi mengenai penyebab dibangun, dan seberapa jelas hal ini terlihat,\u201d kata Veronique De Sy, ko-editor dan Peneliti pasca-doktoral di Universitas &amp; Pusat Penelitian Wageningen Belanda. \u201cMenghadapi hal ini, sistem pemantauan hutan nasional perlu mengatasi masalah partisipasi, transparansi, akuntabilitas dan koordinasi.\u201d<\/p>\n<p>Terakhir, para peneliti menelaah empat strategi terbaru yang bisa membantu mencapai tujuan reduksi emisi dari hutan dan sektor pemanfaatan lahan \u2013 dengan beberapa penyesuaian. Strategi tersebut adalah: nol-deforestasi dan komitmen sektor swasta lain, pertanian cerdas-iklim, pendekatan yurisdiksional pada pembangunan desa rendah-emisi, dan restorasi bentang alam hutan. Buku ini mempersembahkan sebuah bab lengkap pada tiap pendekatan ini, mengupas bukti dampak dan menarik pembelajaran untuk pendekatan komplementer dan lebih selaras.<\/p>\n<p>\u201cTujuan kami sebagai editor,\u201d kata Angelsen, \u201cadalah memberi analisis kritis, berbasis bukti terhadap implementasi REDD+ sejauh ini, tanpa kehilangan pandangan mengenai kebutuhan urgen reduksi emisi berbasis hutan dalam mencegah bencana perubahan iklim.\u201d<\/p>\n<p>\u201cFokus pada narasi positif mengenai bagaimana hutan berkontribusi pada pembangunan ekonomi dan tujuan iklim dapat memperkuat dukungan dan mengembangkan momentum baru,\u201d tambahnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam 10 tahun pertama, REDD+ memicu antusias dan harapan bagi sebuah transisi global dari praktik yang mengancam hutan tropis menuju mitigasi iklim jangka panjang. Meski menghadapi isu pendanaan dan berbagai tantangan tak terduga, REDD+ mulai menunjukkan potensinya \u2013 memang lebih lambat dari harapan. Sebuah buku baru, yang diluncurkan pada Konferensi Para Pihak (COP) Konvensi Kerangka [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":205,"featured_media":59026,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,6090,151],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[7202,2875,2880,2882,3181,8192,2522,8195,2869,7327,6368,3680,4844,2819,6464,4898],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[6545,3085],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[5290],"class_list":["post-58973","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-forests-news","category-redd-2","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-adaptasi-perubahan-iklim","tag-bahasa-amy-duchelle","tag-bahasa-anne-larson","tag-bahasa-arild-angelsen","tag-bahasa-christopher-martius","tag-bahasa-cop24","tag-bahasa-deforestasi","tag-bahasa-degradasi-hutan","tag-bahasa-konvensi-kerangka-kerja-tentang-perubahan-iklim-pbb","tag-bahasa-mitigasi-perubahan-iklim","tag-bahasa-perjanjian-paris","tag-bahasa-perubahan-iklim","tag-bahasa-pham-thu-thuy","tag-bahasa-redd","tag-bahasa-unfccc","tag-bahasa-veronique-de-sy","type-bahasa-liputan-acara","type-bahasa-video"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Jalan berliku menuju perubahan transformasional - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58973\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Jalan berliku menuju perubahan transformasional\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Dalam 10 tahun pertama, REDD+ memicu antusias dan harapan bagi sebuah transisi global dari praktik yang mengancam hutan tropis menuju mitigasi iklim jangka panjang. Meski menghadapi isu pendanaan dan berbagai tantangan tak terduga, REDD+ mulai menunjukkan potensinya \u2013 memang lebih lambat dari harapan. Sebuah buku baru, yang diluncurkan pada Konferensi Para Pihak (COP) Konvensi Kerangka [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58973\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-12-13T08:26:06+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-04-30T07:20:29+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/Book-Launch-REDD-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1550\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Erin O&#039;Connell\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58973\\\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58973\\\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional\"},\"author\":{\"name\":\"Erin O'Connell\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4321dbbeb2df2292d427c086c5a41a26\"},\"headline\":\"Jalan berliku menuju perubahan transformasional\",\"datePublished\":\"2018-12-13T08:26:06+00:00\",\"dateModified\":\"2021-04-30T07:20:29+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58973\\\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional\"},\"wordCount\":1226,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58973\\\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/12\\\/Book-Launch-REDD-1.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Forests News\",\"REDD+\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58973\\\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2018\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58973\\\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58973\\\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional\",\"name\":\"Jalan berliku menuju perubahan transformasional - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58973\\\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58973\\\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/12\\\/Book-Launch-REDD-1.jpg\",\"datePublished\":\"2018-12-13T08:26:06+00:00\",\"dateModified\":\"2021-04-30T07:20:29+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58973\\\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58973\\\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58973\\\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/12\\\/Book-Launch-REDD-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/12\\\/Book-Launch-REDD-1.jpg\",\"width\":1550,\"height\":800,\"caption\":\"Publikasi REDD+ terbaru menelaah pembayaran berbasis hasil; mengintegrasikan REDD + ke dalam kontribusi yang ditentukan secara nasional (NDC); tata kelola multi-level; dampak kesejahteraan; sektor swasta dll.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58973\\\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Jalan berliku menuju perubahan transformasional\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58973\\\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58973\\\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4321dbbeb2df2292d427c086c5a41a26\",\"name\":\"Erin O'Connell\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/176dc2b7704cb1d533b3cd067376e8ca274640239721493586228886ee90c975?s=96&d=mm&r=gfad45f168c9f21c9e4b1750c8aa9b8af\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/176dc2b7704cb1d533b3cd067376e8ca274640239721493586228886ee90c975?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/176dc2b7704cb1d533b3cd067376e8ca274640239721493586228886ee90c975?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Erin O'Connell\"},\"description\":\"Erin O\u2019Connell is a science writer based in Montreal.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/erin\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58973\\\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Jalan berliku menuju perubahan transformasional - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58973\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Jalan berliku menuju perubahan transformasional","og_description":"Dalam 10 tahun pertama, REDD+ memicu antusias dan harapan bagi sebuah transisi global dari praktik yang mengancam hutan tropis menuju mitigasi iklim jangka panjang. Meski menghadapi isu pendanaan dan berbagai tantangan tak terduga, REDD+ mulai menunjukkan potensinya \u2013 memang lebih lambat dari harapan. Sebuah buku baru, yang diluncurkan pada Konferensi Para Pihak (COP) Konvensi Kerangka [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58973\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2018-12-13T08:26:06+00:00","article_modified_time":"2021-04-30T07:20:29+00:00","og_image":[{"width":1550,"height":800,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/Book-Launch-REDD-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Erin O'Connell","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58973\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58973\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional"},"author":{"name":"Erin O'Connell","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4321dbbeb2df2292d427c086c5a41a26"},"headline":"Jalan berliku menuju perubahan transformasional","datePublished":"2018-12-13T08:26:06+00:00","dateModified":"2021-04-30T07:20:29+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58973\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional"},"wordCount":1226,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58973\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/Book-Launch-REDD-1.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Forests News","REDD+"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58973\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional#respond"]}],"copyrightYear":"2018","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58973\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58973\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional","name":"Jalan berliku menuju perubahan transformasional - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58973\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58973\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/Book-Launch-REDD-1.jpg","datePublished":"2018-12-13T08:26:06+00:00","dateModified":"2021-04-30T07:20:29+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58973\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58973\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58973\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/Book-Launch-REDD-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/Book-Launch-REDD-1.jpg","width":1550,"height":800,"caption":"Publikasi REDD+ terbaru menelaah pembayaran berbasis hasil; mengintegrasikan REDD + ke dalam kontribusi yang ditentukan secara nasional (NDC); tata kelola multi-level; dampak kesejahteraan; sektor swasta dll."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58973\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Jalan berliku menuju perubahan transformasional"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58973\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58973\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4321dbbeb2df2292d427c086c5a41a26","name":"Erin O'Connell","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/176dc2b7704cb1d533b3cd067376e8ca274640239721493586228886ee90c975?s=96&d=mm&r=gfad45f168c9f21c9e4b1750c8aa9b8af","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/176dc2b7704cb1d533b3cd067376e8ca274640239721493586228886ee90c975?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/176dc2b7704cb1d533b3cd067376e8ca274640239721493586228886ee90c975?s=96&d=mm&r=g","caption":"Erin O'Connell"},"description":"Erin O\u2019Connell is a science writer based in Montreal.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/erin"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58973\/jalan-berliku-menuju-perubahan-transformasional#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/Book-Launch-REDD-1.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58973","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/205"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=58973"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58973\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":72315,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58973\/revisions\/72315"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/59026"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=58973"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=58973"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=58973"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=58973"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=58973"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=58973"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=58973"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=58973"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=58973"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=58973"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=58973"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=58973"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=58973"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}