{"id":58764,"date":"2018-11-23T17:30:35","date_gmt":"2018-11-23T10:30:35","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=58764"},"modified":"2018-12-02T17:47:32","modified_gmt":"2018-12-02T10:47:32","slug":"mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58764\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara","title":{"rendered":"Mencari resep meredakan konflik di kawasan hutan negara"},"content":{"rendered":"<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">Seiring perkembangan pasar global untuk biofuel dan minyak masak, investasi untuk perkebunan kelapa sawit di Indonesia juga meningkat. Keuntungan finansial yang diraup negara cukup signifikan, namun begitu pula risiko konflik masyarakat, di antara masyarakat itu sendiri maupun antara masyarakat dengan korporasi. Kelapa sawit <\/span><a href=\"http:\/\/www.thejakartapost.com\/news\/2017\/12\/28\/cases-of-agrarian-conflict-increase-in-2017-consortium.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"color: #24a2b8;\">dilaporkan<\/span><\/a><span style=\"color: #333333;\"> berkontribusi sebanyak 49 persen dari total area perkebunan yang terdampak masalah konflik lahan. Pada 2017, luas area ini meliputi 194.000 hektare.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">Di Provinsi Kalimantan Tengah \u2013 yang 52 persen wilayahnya ditanami kelapa sawit \u2013 sudah bertahun-tahun terjadi konflik tata ruang antara pemerintah pusat dengan daerah. Pada 2001, hampir 87 persen dari 325 perusahaan perkebunan kelapa sawit di provinsi ini yang belum menuntaskan rencana tata guna lahan, diduga memanfaatkan kawasan hutan tanpa prosedur. Dengan kata lain, kegiatan mereka ilegal.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">Apa akar masalah ini? Ketidakpastian tenurial lahan, terutama di kawasan hutan negara.<\/span><\/p>\n\n<p>Sekitar 2,5 juta hektare perkebunan kelapa sawit berada di kawasan hutan negara, dan menurut data Direktorat Jenderal Perkebunan, <a href=\"https:\/\/ipfs.io\/ipfs\/QmXoypizjW3WknFiJnKLwHCnL72vedxjQkDDP1mXWo6uco\/wiki\/Ministry_of_Agriculture_(Indonesia).html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Kementerian Pertanian<\/a> Indonesia, sebanyak 1,7 juta hektare dimiliki petani.<\/p>\n<p>Konflik atas keberadaan kelapa sawit dalam kawasan hutan negara terjadi dengan beragam alasan.<\/p>\n<p>Salah satu di antaranya adalah alokasi lahan yang kurang terkoordinasi dan terus berubahnya kebijakan pemerintah pusat dan daerah disertai kurangnya kesadaran mengenai batas kawasan hutan negara diantara masyarakat lokal yang terdorong untuk memperluas kebun sawit yang menguntungkan tersebut. Selain itu, belum tuntasnya proses pengukuhan kawasan hutan \u2013 yang menyatakan bahwa kawasan tertentu sebagai hutan negara melalui proses penunjukan, penataan batas, pemetaan dan penetapan kawasan hutan, yang dituangkan dalam Surat Keputusan Menteri\u2013 mengakibatkan ketidakpastian tenurial lahan.<\/p>\n<p>Penyebab lain adalah kurangnya tanggung jawab dan pengawasan petugas. Kondisi ini diperburuk dengan terbatasnya personil dan anggaran, sehingga perluasan kebun kelapa sawit ke dalam kawasan hutan tidak bisa dihindarkan.<\/p>\n<p>Konflik berbasis lahan ini tidak hanya membuat masyarakat sulit mendapatkan manfaat optimal dari produk yang mereka jual ke pasar, tetapi juga merugikan ekonomi nasional sebesar hampir 2 miliar dolar AS (Rp 27,6 triliun) tiap tahun, jika dihitung berdasarkan sewa lahan Rp 1 juta per hektare.<\/p>\n<p>Di tengah berbagai upaya yang terus dilakukan pemerintah dalam mencari solusi, konflik tenurial terus terjadi. Di balik tantangan yang ada, terdapat peluang untuk menemukan solusi atas masalah perkebunan kelapa sawit ilegal di kawasan hutan negara, khususnya yang diklaim oleh petani.<\/p>\n<p>Mengharapkan solusi permanen mungkin masih mimpi, namun terobosan baru tetap diperlukan dan bisa membuat perbedaan. Kami menelaah beragam peluang yang didiskusikan oleh para pengambil kebijakan di sektor kelapa sawit di Indonesia.<\/p>\n\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">SOLUSI DI DEPAN MATA<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">Pertama, kita harus mengetahui tipologi pekebun sawit yang membukan kebun di dalam kawasan hutan. Petani tidak homogen, namun sangat bervariasi dalam hal sumber daya, modal dan kemampuan mengakses dana, jasa dan pasar.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">Mereka juga berbeda dalam strategi penghidupan dan kapasitas mengelola kebun. <\/span><a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/publications\/pdf_files\/WPapers\/WP210CIFOR.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><span style=\"color: #24a2b8;\">Petani dikelompokkan dalam 6 jenis<\/span><\/a><span style=\"color: #333333;\">, mulai dari petani migran kecil dengan luas kebun rata-rata 2,1 hektare hingga produsen besar dengan luas kebun rata-rata 217,8 hektare. Untuk menjaga keadilan sosial pada tiap tingkat, kami berpendapat bahwa metode mengatasi masalah tenurial lahan seharusnya berbeda bagi petani kecil dan produsen besar, dan berbeda antara petani untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan mereka yang memiliki jaringan pasar lebih luas. Oleh karena itu, memahami heterogenitas petani menjadi penting.<\/span><\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">Sebelumnya, ketika masyarakat secara ilegal menguasai lahan dalam kawasan hutan dan menamami kelapa sawit, mereka bisa diancam hukuman penjara. Pendekatan represif seperti penggusuran dan penahanan perambah hutan mungkin tidak selamanya berhasil. Penegakkan hukum jadi sandaran terakhir.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">\u201cKini kementerian mengambil pendekatan baru: penegakan hukum tidak lagi memburu masyarakat yang melakukan aktivitas ilegal di hutan negara,\u201d kata Eka Soegiri, direktur Penanganan Konflik Tenurial dan Hutan Adat, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Solusi seperti reformasi agraria dan program perhutanan sosial lebih dikedepankan.<\/span><\/p>\n\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">Meski reformasi agraria dan program perhutanan sosial diklaim pemerintah sebagai solusi cerdas mengatasi konflik di atas kawasan hutan, beberapa pertanyaan muncul. Tidak jelas bagaimana program ini membantu petani kecil mendapat akses legal atas lahan, mengingat terdapat ketidaksesuaian antara sebaran petani dan lokasi target sebagaimana tertuang dalam peta indikatif alokasi kawasan hutan untuk penyediaan sumber tanah obyek reforma agraria yang dikeluarkan kementerian. Kurangnya basis data perkebunan petani dan kompleksitas di lapangan dengan beragamnya klaim atas tenurial lahan terus menjadi tantangan dalam memastikan implementasi program tepat sasaran.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">\u201cProgram reformasi agraria menawarkan peluang besar bagi masyarakat untuk memperoleh lahan yang legal, namun kita tidak tahu persisnya lokasi geografisnya dan kita tidak mampu menentukan lokasi lahan di wilayah Kalimantan Tengah yang sangat luas,\u201d kata Rawing Rambang, kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">Menyimpulkan hasil diskusi kelompok mengenai tenurial dan kelapa sawit, Erdi Abidin, dosen <\/span><a href=\"https:\/\/www.untan.ac.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"color: #24a2b8;\">Universitas Tanjungpura<\/span><\/a><span style=\"color: #333333;\"> di Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat menyatakan, \u201cPrioritas reformasi agraria menyasar petani kecil yang saat ini menguasai lahan hutan negara agar legal dan kemudian \u2013 dengan dukungan finansial dari dana sawit \u2013 mendapatkan hak sertifikasi produk dari Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan skema lain.\u201d<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">Dengan memberi masyarakat lokal hak pemanfaatan lahan melalui skema perhutanan sosial, konflik juga bisa dikurangi. Namun, kelapa sawit tidak dapat dibudidayakan di lahan perhutanan sosial, dan regulasi yang ada menyatakan bahwa petani hanya boleh menanam dan memanen tanaman ini maksimum 12 tahun sejak penanaman. Perdebatan muncul di antara para pemangku kepentingan mengenai masalah pembatasan ini. Beberapa pakar menyarankan agar petani diperbolehkan memanen dalam sekali siklus kelapa sawit \u2013 misalnya, 25 tahun bukan 12 tahun.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">Norman Jiwan dari organisasi hak <\/span><a href=\"https:\/\/www.tuk.or.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><span style=\"color: #24a2b8;\">Transformasi untuk Keadilan<\/span><\/a><span style=\"color: #333333;\"> Indonesia menyarankan solusi berbeda. Jika kelapa sawit ditanam di kawasan hutan sebelum Undang Undang tentang Kehutanan No 41\/1999 dikeluarkan, maka hak kepemilikan harus diakui dan diberikan. Namun, jika ditanam setelahnya, maka aturan harus diikuti dan bisa diterapkan program seperti perhutanan sosial, sehingga kebun kelapa sawit di kawasan hutan bisa ditetapkan ilegal dan tidak bisa disertifikasi. Secara ringkas, Jiwan mengingatkan untuk soal batas waktu kapan kebun sawit dibangun di kawsan hutan.<\/span><\/p>\n\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">RINGKASAN: SEBUAH TEROBOSAN<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">Untuk mempercepat upaya pemerintah mengatasi konflik sosial, ketidakadilan distribusi kepemilikan lahan dan memberi masyakarat lokal akses atas sumber daya dan lahan, disarankan agar program reformasi agraria dikombinasikan dengan amnesti lahan. Langkah terobosan ini mengambil pendekatan berbeda. Sementara program reformasi agraria dipimpin oleh negara, partisipasi masyarakat mendorong amnesti lahan.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">Pada satu titik ekstrem, petani yang secara ilegal menguasai kawasan hutan, dapat diberikan ampunan. Namun setelah diberi sertifikat, mereka harus membayar seluruh pajak dan mematuhi aturan lain. Di titik ekstrem lain, amnesti diberikan tanpa syarat kepada penguasa atau perambah kawasan hutan secara ilegal. Mereka dibebaskan dari kewajiban apapun terkait lahan, namun negara bisa mengambil alih lahan tersebut.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">\u201cSaya pikir amnesti lahan menjadi terobosan yang baik untuk menyelesaikan permasalahan kelapa sawit,\u201d kata Karyadi, ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kalimantan Tengah. \u201cPertanyaannya, siapa target subyek kebijakan amnesti lahan ini?\u201d<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">Idealnya, targetnya adalah petani yang berjuang memperoleh kepastian lahan bagi penghidupannya, dan yang sedang dalam konflik yang perlu segera diselesaikan. <\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">Terdapat beberapa pembelajaran dari amnesti <\/span><a href=\"http:\/\/science.sciencemag.org\/content\/344\/6182\/363\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"color: #24a2b8;\">Brazil Forest Code<\/span><\/a><span style=\"color: #333333;\"> 2012 untuk pemilik lahan kecil yang secara ilegal menggunduli hutan. Di bawah aturan tersebut, 90 persen properti desa masuk amnesti jika deforestasi ilegal terjadi sebelum Juli. Apakah amnesti memberikan kepastian legal untuk pemilik lahan, mendorong mereka menjaga hutan, atau justru memperluas deforestasi, masih bisa diperdebatkan.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">Namun, mungkin berharga untuk mengadopsi amnesti dalam kasus khusus seperti Indonesia \u2013 sambil mengambil hikmah dari Brasil.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">Yang pasti, perlu kebijakan yang efektif agar program reformasi agraria dan amnesti mengarah pada pengurangan konflik, legalisasi kepemilikan perkebunan petani kelapa sawit kecil, mendorong investasi dan produktivitas \u2013 menjaga petani agar tidak merambah hutan. Selain itu, kapasitas masyarakat lokal harus ditingkatkan untuk lebih mampu mengelola rencata tata ruang desa dan menerapkan sistem berbasis masyarakat dalam mencegah perambahan hutan. <\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><em><span style=\"color: #333333;\">Blog ini merupakan bagian dari proyek <\/span><\/em><a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/peatlands\/gols-governing-oil-palm-landscapes\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><i><span style=\"color: #24a2b8;\">Mengelola Bentang Alam Kelapa Sawit (Governing Oil Palm Landscapes for Sustainability<\/span><\/i><\/a><em><span style=\"color: #333333;\">\/GOLS), didukung oleh Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (United States Agency for International Development\/USAID).<\/span><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seiring perkembangan pasar global untuk biofuel dan minyak masak, investasi untuk perkebunan kelapa sawit di Indonesia juga meningkat. Keuntungan finansial yang diraup negara cukup signifikan, namun begitu pula risiko konflik masyarakat, di antara masyarakat itu sendiri maupun antara masyarakat dengan korporasi. Kelapa sawit dilaporkan berkontribusi sebanyak 49 persen dari total area perkebunan yang terdampak masalah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":301,"featured_media":58765,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090,13],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[5854,8163,2721,8162,7727],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3087],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[8140,8139,8017,8138],"class_list":["post-58764","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","category-governance","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-hutan","tag-bahasa-hutan-negara","tag-bahasa-indonesia","tag-bahasa-konflik","tag-bahasa-penguasaan-lahan","type-bahasa-analisis"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Mencari resep meredakan konflik di kawasan hutan negara - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58764\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mencari resep meredakan konflik di kawasan hutan negara\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Seiring perkembangan pasar global untuk biofuel dan minyak masak, investasi untuk perkebunan kelapa sawit di Indonesia juga meningkat. Keuntungan finansial yang diraup negara cukup signifikan, namun begitu pula risiko konflik masyarakat, di antara masyarakat itu sendiri maupun antara masyarakat dengan korporasi. Kelapa sawit dilaporkan berkontribusi sebanyak 49 persen dari total area perkebunan yang terdampak masalah [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58764\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-11-23T10:30:35+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-12-02T10:47:32+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/25832549908_1da46ec304_k.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2048\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1364\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Lukas R. Wibowo, Ismatul Hakim, Heru Komarudin, Dewi Ratna\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58764\\\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58764\\\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara\"},\"author\":{\"name\":\"Lukas R. Wibowo\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/5fbfcdd9eecdbd474bd0b3a88e514ff5\"},\"headline\":\"Mencari resep meredakan konflik di kawasan hutan negara\",\"datePublished\":\"2018-11-23T10:30:35+00:00\",\"dateModified\":\"2018-12-02T10:47:32+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58764\\\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara\"},\"wordCount\":1244,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58764\\\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/11\\\/25832549908_1da46ec304_k.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\",\"Governance\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58764\\\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2018\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58764\\\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58764\\\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara\",\"name\":\"Mencari resep meredakan konflik di kawasan hutan negara - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58764\\\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58764\\\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/11\\\/25832549908_1da46ec304_k.jpg\",\"datePublished\":\"2018-11-23T10:30:35+00:00\",\"dateModified\":\"2018-12-02T10:47:32+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58764\\\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58764\\\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58764\\\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/11\\\/25832549908_1da46ec304_k.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/11\\\/25832549908_1da46ec304_k.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1364,\"caption\":\"Pemandangan dusun Sekateng, Desa Ribangkadeng di Kalis, Kabupaten Kapuas Hulu di Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58764\\\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mencari resep meredakan konflik di kawasan hutan negara\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58764\\\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58764\\\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/5fbfcdd9eecdbd474bd0b3a88e514ff5\",\"name\":\"Lukas R. Wibowo\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/a85b32edde0145074b061e7bfaacb47e1083d2d7736ed712c579828cc2f73992?s=96&d=mm&r=gbdc7c58820f60c929aefe8aae593851b\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/a85b32edde0145074b061e7bfaacb47e1083d2d7736ed712c579828cc2f73992?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/a85b32edde0145074b061e7bfaacb47e1083d2d7736ed712c579828cc2f73992?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Lukas R. Wibowo\"},\"description\":\"Lukas R. Wibowo is a scientist working with the Centre for Research and Development on Social, Economics, Policy and Climate Change and the Research, Development and Innovation Agency of the Indonesian Ministry of Environment. A social scientist, he has focused on a range of research topics including: governance; the politics of natural resources; tenure and conflict; rural development and sustainable palm oil development. He graduated from Indonesia's Gadjah Mada University and Australia's Charles Sturt University.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/lukas\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58764\\\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Mencari resep meredakan konflik di kawasan hutan negara - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58764\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Mencari resep meredakan konflik di kawasan hutan negara","og_description":"Seiring perkembangan pasar global untuk biofuel dan minyak masak, investasi untuk perkebunan kelapa sawit di Indonesia juga meningkat. Keuntungan finansial yang diraup negara cukup signifikan, namun begitu pula risiko konflik masyarakat, di antara masyarakat itu sendiri maupun antara masyarakat dengan korporasi. Kelapa sawit dilaporkan berkontribusi sebanyak 49 persen dari total area perkebunan yang terdampak masalah [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58764\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2018-11-23T10:30:35+00:00","article_modified_time":"2018-12-02T10:47:32+00:00","og_image":[{"width":2048,"height":1364,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/25832549908_1da46ec304_k.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Lukas R. Wibowo, Ismatul Hakim, Heru Komarudin, Dewi Ratna","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58764\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58764\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara"},"author":{"name":"Lukas R. Wibowo","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/5fbfcdd9eecdbd474bd0b3a88e514ff5"},"headline":"Mencari resep meredakan konflik di kawasan hutan negara","datePublished":"2018-11-23T10:30:35+00:00","dateModified":"2018-12-02T10:47:32+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58764\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara"},"wordCount":1244,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58764\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/25832549908_1da46ec304_k.jpg","articleSection":["Forests News","Governance"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58764\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara#respond"]}],"copyrightYear":"2018","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58764\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58764\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara","name":"Mencari resep meredakan konflik di kawasan hutan negara - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58764\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58764\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/25832549908_1da46ec304_k.jpg","datePublished":"2018-11-23T10:30:35+00:00","dateModified":"2018-12-02T10:47:32+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58764\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58764\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58764\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/25832549908_1da46ec304_k.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/25832549908_1da46ec304_k.jpg","width":2048,"height":1364,"caption":"Pemandangan dusun Sekateng, Desa Ribangkadeng di Kalis, Kabupaten Kapuas Hulu di Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58764\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mencari resep meredakan konflik di kawasan hutan negara"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58764\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58764\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/5fbfcdd9eecdbd474bd0b3a88e514ff5","name":"Lukas R. Wibowo","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a85b32edde0145074b061e7bfaacb47e1083d2d7736ed712c579828cc2f73992?s=96&d=mm&r=gbdc7c58820f60c929aefe8aae593851b","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a85b32edde0145074b061e7bfaacb47e1083d2d7736ed712c579828cc2f73992?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a85b32edde0145074b061e7bfaacb47e1083d2d7736ed712c579828cc2f73992?s=96&d=mm&r=g","caption":"Lukas R. Wibowo"},"description":"Lukas R. Wibowo is a scientist working with the Centre for Research and Development on Social, Economics, Policy and Climate Change and the Research, Development and Innovation Agency of the Indonesian Ministry of Environment. A social scientist, he has focused on a range of research topics including: governance; the politics of natural resources; tenure and conflict; rural development and sustainable palm oil development. He graduated from Indonesia's Gadjah Mada University and Australia's Charles Sturt University.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/lukas"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58764\/mencari-resep-meredakan-konflik-di-kawasan-hutan-negara#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/25832549908_1da46ec304_k.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58764","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/301"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=58764"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58764\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/58765"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=58764"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=58764"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=58764"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=58764"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=58764"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=58764"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=58764"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=58764"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=58764"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=58764"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=58764"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=58764"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=58764"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}