{"id":58706,"date":"2018-11-19T17:57:13","date_gmt":"2018-11-19T10:57:13","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=58706"},"modified":"2018-11-19T17:58:36","modified_gmt":"2018-11-19T10:58:36","slug":"sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58706\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan","title":{"rendered":"Sumberdaya hutan Bhutan dalam tekanan: Adaptasi penduduk menghadapi perubahan"},"content":{"rendered":"<p>Tshewang Dorji adalah seorang peneliti kehutanan. Saat di Bhutan, biasanya ia bekerja di kota \u2013 dan seperti banyak masyarakat Bhutan lain, pada saat liburan, ia meluangkan waktu pergi ke hutan, mengunjungi situs keramat, dan berdoa.<\/p>\n<p>\u201cSaya merasa lebih tenang, bahagia dan berisi setelahnya,\u201d katanya. \u201cTerasa dorongan ketenangan dan spiritualitas. Orang dengan berbagai jalan hidup di Bhutan pergi dan mengunjungi tempat-tempat itu.\u201d<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Salah satu situs itu adalah gua pertapaan, <a href=\"http:\/\/ugyen-norbu.blogspot.com\/2015\/11\/tselung-nye-sacred-place-of-prophetic.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Tselung Nye<\/a>, yang pada abad 9 SM dikatakan sempat dikunjungi oleh <a href=\"http:\/\/www.kuenselonline.com\/guru-rinpoches-time-in-bhutan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Guru Rinpoche<\/a> \u2013 figur yang dikenal masyarakat Bhutan sebagai \u201cBuddha kedua.\u201d Situs lain adalah pohon oak raksasa di tengah desa Sehling di Bhutan tengah yang disebut Gomju Drake. Pohon ini diselimuti anggrek dan pakis, air jernih mengalir dari mata air di bawahnya. Penduduk desa, kata Dorji percaya pohon mulia ini tumbuh saat seorang guru menanam tongkatnya secara terbalik di tanah keramat.<\/p>\n<p>\u201cMereka percaya, jika mengganggu kawasan itu akan menjadi kutukan atas desa \u2013 terjadi perubahan pola cuaca mendadak, atau badai akan datang dan menghancurkan pertanian, atau tidak turun hujan pada musimnya.\u201d<\/p>\n\n<p><strong>PEMIMPIN HIJAU <\/strong><\/p>\n<p>Di Bhutan yang masih kental dengan ajaran Budha, di ketinggian Himalaya, hutan memiliki peran budaya, spiritual, dan keseharian yang penting \u2013 dan hal ini membantu membuatnya menjadi negara paling berhutan di dunia. Lebih dari 70 persen negeri ditutupi hutan. Konstitusi menyatakan bahwa minimum 60 persen total lahan Bhutan harus melanggengkan tutupan hutan.<\/p>\n<p>Negara ini juga terkenal dengan pendekatan \u201chijau\u201d. Nilai lokal dan kepercayaan religius berdampingan dengan konservasi.<\/p>\n<p>Seluruh kebijakan pemerintah diukur melalui kerangka inovatif pembangunan <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/53479\/how-happiness-impacts-forestry-and-vice-versa-in-bhutan?fnl=en\">\u201cTingkat Kebahagiaan Nasional<\/a>\u201d, yang secara setara memprioritaskan kelestarian lingkungan dengan pemeliharaan budaya, pembangunan sosioekonomi dan tata kelola. Tutupan hutan dan rendahnya populasi membuat Bhutan menjadi satu-satunya negara \u201cnegatif-karbon\u201d di dunia, dan <a href=\"http:\/\/www.guinnessworldrecords.com\/news\/charity\/2015\/6\/bhutan-guinness-world-records-title-most-trees-planted-in-one-hour\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">mengantungi<\/a> Rekor Dunia Guinness untuk pohon terbanyak yang ditanam dalam satu jam.<\/p>\n<p>Namun di lapangan, bagaimana masyarakat lokal memandang hutan mereka?<\/p>\n<p>Peneliti <a href=\"http:\/\/www.uwice.gov.bt\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Ugyen Wangchuck Institute for Conservation and Environmental Research<\/a> (UWICER), bersama mitra dari <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional<\/a> (CIFOR), telah mulai melakukan asesmen mengenai beragam jasa lingkungan yang diberikan oleh hutan Bhutan, termasuk persepsi lokal mengenai perannya.<\/p>\n<p>Diawali dengan <a href=\"https:\/\/www.mdpi.com\/1999-4907\/9\/11\/675\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">kajian literatur<\/a>, mereka mencari <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/53479\/how-happiness-impacts-forestry-and-vice-versa-in-bhutan?fnl=en\">bukti<\/a> hubungan antara hutan dan ukuran Tingkat Kebahagiaan Nasional. Kemudian, peneliti melakukan asesmen lapangan terhadap tiga jenis hutan dalam rejim manajemen berbeda: hutan oak lebat dataran tinggi, perkebunan masyarakat dan unit manajemen hutan lindung negara.<\/p>\n<p>Hasil tahap pertama penelitian tersebut dilaporkan dalam sebuah <a href=\"https:\/\/www.mdpi.com\/1999-4907\/9\/11\/675\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">artikel<\/a> dalam jurnal <em>Forests.<\/em><\/p>\n\n<p><strong>PANGAN, BAHAN BAKAR, JAMUR DAN PAKAN TERNAK<\/strong><\/p>\n<p>Dorji memimpin <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/library\/6287\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penelitian<\/a> pada bagian hutan lebat dataran tinggi, yang berada pada ketinggian antara 2.200 hingga 3.500 meter di atas permukaan laut. Hutan tersebut sangat penting bagi petani di daerah bersuhu sedang.<\/p>\n<p>\u201cMasyarakat mendapatkan sebagian besar barang kebutuhan dan jasa dari hutan-hutan tersebut,\u201d kata Dorji. \u201cHal terpenting, sebagaimana yang mereka soroti adalah air bersih. Hutan bertindak sebagai menara air \u2013 menangkap lelehan salju dan hujan, kemudian melepaskan air secara bertahap kepada masyarakat di hilir, hingga sungai mengalir sepanjang tahun.\u201d<\/p>\n<p>Masyarakat lokal memanfaatkan kayu untuk membangun rumah, mengumpulkan kayu bakar, menggembalakan sapi dan yaks di padang rumput dataran tinggi dan di bawah pohon. \u201cSecara tradisi dan budaya, menggembala ternak merupakan bagian yang sangat penting dalam gaya hidup masyarakat tersebut,\u201d kata Dorji.<\/p>\n<p>Manajemen hutan konvensional menentang penggembalaan, karena kerusakan yang terjadi pada pohon muda \u2013 namun, lanjut Dorji menghambat aksesnya di Bhutan akan memberi dampak ekonomi dan sosial yang besar. Oleh karena itu, otoritas tengah menimbang agar bagaimana penggembalaan bisa dipadukan dalam rencana manajemen.<\/p>\n<p>Hal penting lain adalah pengumpulan serasah daun di permukaan hutan. Selama ribuan tahun, praktik tradisional telah mengatur aktivitas ini, siapa yang boleh mengambil serasah, lokasi dan waktunya, kata Robin Sears, peneliti <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">CIFOR<\/a> yang terlibat dalam penelitian ini.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>\u201cTidaklah berlebihan menekankan pentingnya pakan ternak dan pengumpulan serasah dalam hutan bagi masyarakat,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Petani membawa serasah daun dan memanfaatkannya untuk alas ternak mereka. Saat sudah lapuk karena urin dan tinja, mereka mengolahnya menjadi kompos untuk ditebar di ladang \u2013 pupuk kaya dan organik sebagai nutrisi dari hutan ke ladang.<\/p>\n<p>Menurut Sears, Bhutan menargetkan <a href=\"https:\/\/www.reuters.com\/article\/us-bhutan-emissions-farming-idUSKCN0RS0DO20150928\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">100 persen organik<\/a> pada 2020. \u201cMemelihara sistem pengumpulan serasah menjadi penting dalam mewujudkan hal tersebut.\u201d<\/p>\n<p>Jamur merupakan hasil hutan bernilai tinggi lainnya, tambah Sears. \u201cSejumlah spesies jamur diambil dari semua jenis tipe hutan \u2013 sangat penting secara ekonomi, ada pasar besar untuk jamur, namun juga sangat diterima oleh masyarakat Bhutan untuk konsumsi rumahan \u2013 rasanya sangat enak.<\/p>\n<p>Sebagian keluarga menjemur jamur untuk masa paceklik, yang kata Dorji, merupakan menu favoritnya. \u201cDigoreng dengan daging, rasanya sangat enak.\u201d<\/p>\n\n<p><strong>SETIAP GARIS PERAK MEMILIK AWAN<\/strong><\/p>\n<p>Tutupan hutan Bhutan memang meningkat pada beberapa tahun terakhir, antara lain akibat urbanisasi masyarakat meninggalkan pertaniannya. \u201cTerdapat dorongan besar untuk modernisasi dan migrasi besar-besaran penduduk desa ke kawasan kota,\u201d kata Sears. \u201cPemuda pergi ke kota, dan \u2013 predator \u2013 liar kembali.\u201d<\/p>\n<p>Menurut Dorji, kondisi ini mengarah pada konflik. \u201cDi hutan penelitian kami, masyarakat memiliki persepsi meningkatnya satwa liar seperti rusa, beruang, dan babi hutan \u2013 dan masyarakat menghadapi masalah dengan konflik manusia-satwa liar.\u201d<\/p>\n<p>\u201cPenelitian lebih dalam untuk menemukan cara bermakna mengatasi konflik ini akan membantu.\u201d<\/p>\n<p>Bahkan meski keseluruhan kawasan hutan meningkat, di desa terdekat, kayu dan kayu bakar makin sulit dicari. Penduduk mengkhawatirkan kelestarian sumber daya hutan mereka.<\/p>\n<p>\u201cDi masa lalu, sekitar 20 tahun lalu, kita bisa mendapat kayu untuk membangun dan renovasi rumah dari hutan terdekat, sekitar 10 hingga 15 menit berjalan kaki dari rumah,\u201d kata seorang pria berusia 45 tahun pada peneliti. \u201cKini, kita harus menggunakan truk 5-6 jam untuk mencari kayu bakar dan kayu.\u201d<\/p>\n<p><strong>MENGHITUNG MANFAAT<\/strong><\/p>\n<p>Himlal Barar, ilmuwan CIFOR yang menjadi pengawas penelitian \u2013 yang merupakan bagian dari inisiatif \u201cLahan Miring dalam Transisi\u201d <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/slant\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">(SLANT)<\/a> \u2013 ini, menyatakan bahwa penelitian memberi informasi bermanfaat bagi pengambil kebijakan, serta pembelajaran bagi negara-negara lain.<\/p>\n<p>\u201cPenelitian kami menunjukkan bahwa kesimpulan penting dapat diambil menggunakan pendekatan konseptual yang relatif sederhana, serta data dan perangkat tersedia, yang dapat diterapkan pada wilayah bergunung dan minim data lainnya.\u201d<\/p>\n<p>Namun, penelitian kualitatif ini baru tahap pertama dari harapan para peneliti untuk penelitian lebih lama dan lebih kuantitatif. Jika ada pendanaan, mereka ingin mengukur jasa lingkungan yang diberikan hutan tersebut.  Seberapa banyak bahan bakar, pakan dan pangan yang diberikan? Apa sebenarnya efek hilir dari aktivitas kehutanan di hulu? Bagaimana praktik manajemen hutan berbeda berdampak pada jasa lingkungan?<\/p>\n<p>Apa yang ditunjukkan penelitian ini adalah bahwa masyarakat memandang hutan sebagai infrastruktur yang memberi kebutuhan dasar \u2013 air bersih, udara segara, pupuk untuk ladang, budaya dan jasa lingkungan, kata Sears.<\/p>\n<p>Tata kelola hutan di Bhutan terbagi dengan masyarakat, pemilik lahan swasta dan pemerintah. Salah satu tujuan proyek ini adalah memberi umpat balik pada para pemangku kepentingan mengenai bagaimana aktivitas manajemen hutan berjalan \u2013 dan hal yang bisa membantu menjaganya.<\/p>\n<p>\u201cMasyarakat memahami hutan mereka, menyadari peran pentingnya, dan membutuhkan barang dan jasa yang diberikan,\u201d kata Sears.<\/p>\n<p>\u201cIni merupakan bagian dari identitas Bhutan sebagai negara sangat berhutan \u2013 Bhutan sangat identik dengan hutannya.\u201d<\/p>\n<p>Dalam banyak hal, hutan merupakan inti dari arti menjadi orang Bhutan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tshewang Dorji adalah seorang peneliti kehutanan. Saat di Bhutan, biasanya ia bekerja di kota \u2013 dan seperti banyak masyarakat Bhutan lain, pada saat liburan, ia meluangkan waktu pergi ke hutan, mengunjungi situs keramat, dan berdoa. \u201cSaya merasa lebih tenang, bahagia dan berisi setelahnya,\u201d katanya. \u201cTerasa dorongan ketenangan dan spiritualitas. Orang dengan berbagai jalan hidup di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":63,"featured_media":58707,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[7471,8134,8129,5854,8132,2532,2671,2558,7472,8131,8130,8133],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[545],"class_list":["post-58706","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-bhutan","tag-bahasa-binatang-buas","tag-bahasa-budha","tag-bahasa-hutan","tag-bahasa-jamur","tag-bahasa-jasa-ekosistem","tag-bahasa-kayu","tag-bahasa-kayu-bakar","tag-bahasa-kebahagiaan-nasional-bruto","tag-bahasa-konflik-manusia-dan-hewan","tag-bahasa-rusa","tag-bahasa-uwicer","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Sumberdaya hutan Bhutan dalam tekanan: Adaptasi penduduk menghadapi perubahan - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58706\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Sumberdaya hutan Bhutan dalam tekanan: Adaptasi penduduk menghadapi perubahan\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Tshewang Dorji adalah seorang peneliti kehutanan. Saat di Bhutan, biasanya ia bekerja di kota \u2013 dan seperti banyak masyarakat Bhutan lain, pada saat liburan, ia meluangkan waktu pergi ke hutan, mengunjungi situs keramat, dan berdoa. \u201cSaya merasa lebih tenang, bahagia dan berisi setelahnya,\u201d katanya. \u201cTerasa dorongan ketenangan dan spiritualitas. Orang dengan berbagai jalan hidup di [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58706\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-11-19T10:57:13+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-11-19T10:58:36+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/Bhutan-1-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1920\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Kate Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58706\\\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58706\\\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan\"},\"author\":{\"name\":\"Kate Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e\"},\"headline\":\"Sumberdaya hutan Bhutan dalam tekanan: Adaptasi penduduk menghadapi perubahan\",\"datePublished\":\"2018-11-19T10:57:13+00:00\",\"dateModified\":\"2018-11-19T10:58:36+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58706\\\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan\"},\"wordCount\":1117,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58706\\\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/11\\\/Bhutan-1-scaled.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58706\\\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2018\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58706\\\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58706\\\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan\",\"name\":\"Sumberdaya hutan Bhutan dalam tekanan: Adaptasi penduduk menghadapi perubahan - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58706\\\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58706\\\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/11\\\/Bhutan-1-scaled.jpg\",\"datePublished\":\"2018-11-19T10:57:13+00:00\",\"dateModified\":\"2018-11-19T10:58:36+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58706\\\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58706\\\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58706\\\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/11\\\/Bhutan-1-scaled.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/11\\\/Bhutan-1-scaled.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1920,\"caption\":\"Jamur Matsutake (Tricholoma matsutake) tumbuh di hutan Bhutan. Foto CIFOR\\\/ Tshewang Dorji\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58706\\\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Sumberdaya hutan Bhutan dalam tekanan: Adaptasi penduduk menghadapi perubahan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58706\\\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58706\\\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e\",\"name\":\"Kate Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g3f27c3c2db0b6432a0c0a78c2749a7a0\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Kate Evans\"},\"description\":\"Kate Evans is a freelance journalist originally from New Zealand. After studying journalism at the University of Sydney and international relations at the Australian National University, she worked as a multimedia journalist at the Australian Broadcasting Corporation for three years...and then ran off to West Africa armed with a video camera and a love of African dance. She is now a writer, filmmaker and photographer.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/kate-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/58706\\\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Sumberdaya hutan Bhutan dalam tekanan: Adaptasi penduduk menghadapi perubahan - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58706\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Sumberdaya hutan Bhutan dalam tekanan: Adaptasi penduduk menghadapi perubahan","og_description":"Tshewang Dorji adalah seorang peneliti kehutanan. Saat di Bhutan, biasanya ia bekerja di kota \u2013 dan seperti banyak masyarakat Bhutan lain, pada saat liburan, ia meluangkan waktu pergi ke hutan, mengunjungi situs keramat, dan berdoa. \u201cSaya merasa lebih tenang, bahagia dan berisi setelahnya,\u201d katanya. \u201cTerasa dorongan ketenangan dan spiritualitas. Orang dengan berbagai jalan hidup di [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58706\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2018-11-19T10:57:13+00:00","article_modified_time":"2018-11-19T10:58:36+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1920,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/Bhutan-1-scaled.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Kate Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58706\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58706\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan"},"author":{"name":"Kate Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e"},"headline":"Sumberdaya hutan Bhutan dalam tekanan: Adaptasi penduduk menghadapi perubahan","datePublished":"2018-11-19T10:57:13+00:00","dateModified":"2018-11-19T10:58:36+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58706\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan"},"wordCount":1117,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58706\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/Bhutan-1-scaled.jpg","articleSection":["Forests News"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58706\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan#respond"]}],"copyrightYear":"2018","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58706\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58706\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan","name":"Sumberdaya hutan Bhutan dalam tekanan: Adaptasi penduduk menghadapi perubahan - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58706\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58706\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/Bhutan-1-scaled.jpg","datePublished":"2018-11-19T10:57:13+00:00","dateModified":"2018-11-19T10:58:36+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58706\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58706\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58706\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/Bhutan-1-scaled.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/Bhutan-1-scaled.jpg","width":2560,"height":1920,"caption":"Jamur Matsutake (Tricholoma matsutake) tumbuh di hutan Bhutan. Foto CIFOR\/ Tshewang Dorji"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58706\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Sumberdaya hutan Bhutan dalam tekanan: Adaptasi penduduk menghadapi perubahan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58706\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58706\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e","name":"Kate Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g3f27c3c2db0b6432a0c0a78c2749a7a0","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g","caption":"Kate Evans"},"description":"Kate Evans is a freelance journalist originally from New Zealand. After studying journalism at the University of Sydney and international relations at the Australian National University, she worked as a multimedia journalist at the Australian Broadcasting Corporation for three years...and then ran off to West Africa armed with a video camera and a love of African dance. She is now a writer, filmmaker and photographer.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/kate-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/58706\/sumberdaya-hutan-bhutan-dalam-tekanan-adaptasi-penduduk-menghadapi-perubahan#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/Bhutan-1-scaled.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58706","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/63"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=58706"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58706\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/58707"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=58706"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=58706"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=58706"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=58706"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=58706"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=58706"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=58706"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=58706"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=58706"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=58706"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=58706"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=58706"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=58706"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}