{"id":57736,"date":"2018-08-29T10:22:11","date_gmt":"2018-08-29T03:22:11","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=57736"},"modified":"2018-08-29T10:22:11","modified_gmt":"2018-08-29T03:22:11","slug":"menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57736\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia","title":{"rendered":"Menyelamatkan hutan musim yang tersisa di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>Pulau Yamdena di kepulauan Tanimbar mempunyai tiga jenis hutan penuh dengan pohon-pohon berdaun lebar bernilai tinggi, namun terjadinya kerusakan merupakan ancaman bagi kesuburan tanah dan ketersediaan air di kepulauan ini.<\/p>\n<p>Kepulauan Tanimbar merupakan bagian dari provinsi Maluku, berseberangan tepat di utara Darwin, Australia, antara perbatasan laut Banda dan Arafura. Wilayah ini tidak terhubung dengan satu pulau dengan pulau lainnya, Tanimbar juga tidak memiliki pelabuhan resmi, jumlah penduduk kurang lebih 100.000 kepala tersebar di 30 kepulauan di wilayah itu.<\/p>\n<p>\u201cSangat mahal ongkos pergi dan bekerja di sana,\u201d ujar Robert Nasi, Direktur Jenderal <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional<\/a> (CIFOR), yang bekerja sama dengan Yves Laumonier, peneliti CIFOR dan CIRAD (<a href=\"https:\/\/www.cirad.fr\/en\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian dan Agronomi dan Pembangunan Perancis<\/a>) melakukan monitoring kelestarian hutan di pulau-pulau itu sejak awal tahun 2000-an. &#8220;Kami pernah terjebak di Ambon saat semua penerbangan dibatalkan.&#8221;<\/p>\n<p>Tertutupnya kepulauan Tanibar merupakan perisau mempertahankan tutupan hutan selama beberapa dekade, terutama setelah masyarakat lokal melakukan gerakan penolakan terhadap perusahaan-perusahaan penebangan kayu yang masuk saat era presiden Suharto.<\/p>\n<p>Sayangnya, citra satelit terbaru menunjukkan timbulnya kembali deforestasi yang dapat mengancam kehidupan alam dan social kepulauan Tanimbar.<\/p>\n<p>Menghadapi perkembangan yang tak dapat dihindari ini, Laumonier dan Robert Nasi menerbitkan <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/library\/6840\/the-last-natural-seasonal-forests-of-indonesia-implications-for-forest-management-and-conservation\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">artikel baru<\/a> tentang penelitian yang menyerukan perlindungan nasional terhadap hutan yang terancam punah ini, perlunya lebih banyak riset kerapuhan hutan, dan pendekatan pembangunan yang akan mendukung tanah juga masyarakat kepulauan Tanimbar.<\/p>\n\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p><strong>TETAP KERING<\/strong><\/p>\n<p>Fokus riset (saat ini seluas 3.300 kilometer) mencakup pulau terbesar, Yamdena, dan dibagi dalam tiga jenis hutan: lembab gugur, kering gugur dan hutan basah sepanjang tahun. Dipenuhi beberapa pohon kayu paling berharga di dunia &#8211; <em>Pterocarpus indicus<\/em>, lebih dikenal sebagai angsana atau sonokembang; <em>dan Intsia bijuga <\/em>atau merbau &#8211; flora asiatik hutan di Tanimbar mengarahkan para ilmuwan untuk percaya bahwa <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/55418\/the-tropical-family-tree-tracking-forests-evolutionary-past?fnl=en\">nenek moyang<\/a> masyarakat berasal dari utara dan barat, dengan saudara-saudara musiman yang sudah ada di Jawa Timur, Flores, bagian utara Timor.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>\u201cJika Anda berpindah dari satu tipe hutan ke tipe yang lain, Anda akan tahu. Agak sulit untuk diceritakan dengan data citra satelit, tetapi jika Anda berjalan di lapangan, Anda dapat melihat, terutama di musim kemarau,\u201d kata Nasi. &#8220;Pepohonan terkering merontokkan semua daun-daunnya.&#8221;<\/p>\n<p>Di bagian dunia yang lebih terbiasa dengan iklim lembab, kondisi gersang ini membuat bentang alam menjadi unik &#8211; dan menantang. Sumber air tawar berasal dari beberapa DAS utama yang memenuhi jaringan sungai kecil, yang bila kondisinya terganggu, dapat dengan mudah menyebabkan kelangkaan air bagi 40 desa. Mengingat dasar pulau Tanimbar berada di atas batu karang, maka hutan memainkan peran penting dalam pemeliharaan air dengan menahan air di tanah dan menjaga tanah di tempat selama badai tropis.<\/p>\n<p>Karena kecenderungan tanah rentan terhadap erosi, tingkat pH basa dan berbatu, sulit untuk melakukan penanaman, tanah merupakan basis yang sangat sulit untuk pertumbuhan kembali. Sehingga bila lingkungan terganggu, sangat sulit untuk memulihkan dan merehabilitasi tanah.<\/p>\n<p>\u201cDi wilayah seperti Flores, Anda dapat melihat bentang alam seperti savana sekarang,\u201d kata Laumonier, memberi analogi kondisi Yamdena. \u201cWilayah Flores jelas dulunya adalah hutan, kami memiliki catatan dari Belanda tentang hal itu. Tapi kondisi wilayah amat rapuh. Jika Anda menebang pohon dan melakukan praktik pertanian secara masif dengan membakar, kondisi semula tidak akan kembali. Hutan berubah menjadi semak lebat dan savana.\u201d<\/p>\n<p>\u201cDan di Tanimbar, Anda dapat melihatnya sebagai bukti kesalahan asumsi, saat status hutan Indonesia dan klasifikasi fungsi dibangun: bahwa ada lebih sedikit erosi terjadi di wilayah iklim yang lebih kering,\u201d lanjutnya. \u201cKetika durasi hujan pendek namun intens, semuanya tersapu ke laut.\u201d<\/p>\n<p>Kekeringan membuat pemantauan tutupan hutan lebih mudah; bayangan awan jarang menghalangi citra satelit. Hal ini mengingatkan para ilmuwan ketika perusahaan datang sekitar tahun 2014 dan mulai menebangi sisi timur pulau.<\/p>\n<p>\u201cSaya khawatir jika mereka (perusahaan) menggunakan teknik penebangan yang sama seperti di Sumatera atau Kalimantan, itu tidak akan berfungsi dengan baik karena kondisi ekologi yang sangat berbeda,\u201d kata Laumonier.<\/p>\n<p>\u201cDan sekarang kita dapat melihat di satelit bahwa mereka (perusahaan) mulai masuk merambah daratan, mendekati sumber sungai utama. Lokasi itu benar-benar tempat terburuk untuk bekerja. \u201d<\/p>\n<p>Keterpencilan pulau Tanimnbar menarik bagi perusahaan penebangan kayu, kata para ilmuwan, karena membuat operasi penebangan lebih aman, tersembunyi dari pengawasan. Dan, karena tidak ada kawasan hutan lindung nasional, teoritisnya hutan di pulau Tanimbar secara komersial dapat ditebangi semuanya.<\/p>\n\n<div class=\"wp-block-group is-content-justification-center is-nowrap is-layout-flex wp-container-core-group-is-layout-23441af8 wp-block-group-is-layout-flex\">\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\">\n\t\t\t\t\t<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img width=\"311\" height=\"415\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/Tanimbar2-311x415.jpg\" class=\"wp-image-57640\" alt=\"\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/Tanimbar2-311x415.jpg 311w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/Tanimbar2-300x400.jpg 300w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/Tanimbar2-768x1024.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/Tanimbar2-610x813.jpg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/Tanimbar2-335x446.jpg 335w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/Tanimbar2.jpg 960w\" sizes=\"auto, (max-width: 311px) 100vw, 311px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">The local communities of Tanimbar still use traditional &#039;sasi&#039; governance systems to manage their ecosystems. <a href=\"\">CIFOR Photo\/Robert Nasi, Jean-Marc Roda<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\">\n\t\t\t\t\t<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img width=\"311\" height=\"415\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/Intsia-palembanica-311x415.jpg\" class=\"wp-image-57641\" alt=\"\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/Intsia-palembanica-311x415.jpg 311w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/Intsia-palembanica-300x400.jpg 300w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/Intsia-palembanica-768x1024.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/Intsia-palembanica-610x813.jpg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/Intsia-palembanica-335x446.jpg 335w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/Intsia-palembanica.jpg 960w\" sizes=\"auto, (max-width: 311px) 100vw, 311px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">The valuable Intsia palembanica tree, also known as Borneo Teak or Merbau. <a href=\"\">CIFOR Photo\/Robert Nasi, Jean-Marc Roda<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t<\/div>\n\n<p><strong>KERJA SAMA MASYARAKAT<\/strong><\/p>\n<p>Laumonier pertama kali terpesona oleh kepulauan Tanimbar ketika membaca tentang <a href=\"https:\/\/www.amazon.com\/dp\/B009SC138E\/ref=dp-kindle-redirect?_encoding=UTF8&amp;btkr=1\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pulau Terlupakan di Indonesia<\/a>, sebuah buku foto tentang budaya Maluku oleh antropolog Nico de Jonge dan Toos van Dijk. &#8220;Saya tidak tahu mengapa, tapi itu seperti sebuah petualangan dalam pikiran saya,&#8221; kenangnya, &#8220;dan kemudian tiba-tiba saya di sana.&#8221;<\/p>\n<p>Masa lalu Tanimbar dipadati dengan suku-suku pekerja pemburu kepala sampai misionaris datang pada akhir abad ke-19, dan budaya pelaut lokal diabadikan dalam konstruksi pemerintahan desa, dengan kepemimpinan sebagai kapten, pilot dan tangan kapal lainnya saat Anda turun pangkat.<\/p>\n<p>Pengelolaan lahan dan air &#8211; terutama di wilayah pesisir &#8211; sebagian besar masih diatur oleh sistem sasi tradisional Maluku dari zona dan kuota pergiliran rotasi, atau oleh &#8216;sasi gereja&#8217; yang sedikit berbeda di mana \u201cAnda tidak didenda oleh nenek moyang, Anda didenda oleh gereja,\u201d kata Laumonier. Ini adalah hubungan yang mendalam ke tanah yang telah membuat penduduk setempat sangat menentang perusahaan-perusahaan luar yang masuk.<\/p>\n<p>\u201cKadang-kadang saya mendapat panggilan telepon dari para pimpinan desa setempat yang mengatakan bahwa perusahaan penebangan ingin kembali. Dan mereka bertanya apakah saya dapat memanggil Uni Eropa untuk mendapatkan bantuan,\u201d tawa Laumonier.<\/p>\n<p>Gencarnya kegiatan penebangan baru-baru ini dimulai di bagian pulau terpencil dan belum berkembang, menunjukkan bahwa sulit untuk tetap kebal terhadap manfaat pembangunan &#8211; terutama di wilayah miskin dan kurang penduduk. Poin utama artikel ini yaitu upaya menghambat pulau dari pembalakan dan pembangunan, tetapi menempatkan perlindungan di sekitar kawasan hutan kritis yang perlu dilindungi oleh hukum nasional.<\/p>\n<p>Secara umum, artikel ini bertujuan untuk mendapatkan perhatian karena Tanimbar telah berubah dan membutuhkan dukungan. Meski hutan musim tropis adalah salah satu bentang alam paling terancam di dunia, hutan jenis ini termasuk yang paling banyak diteliti.<\/p>\n<p>\u201cUntuk mengubah cara Anda melkukan penebangan disini, dibutuhkan lebih banyak penelitian tentang silvikultur, ekologi dan regenerasi hutan musim ini\u201d kata Laumonier.<\/p>\n<p>Ia dan Robert Nasi menganggap penebangan harus dilakukan terutama melalui usaha kehutanan berbasis masyarakat, dilakukan dalam skala kecil dengan menghormati batas-batas kawasan yang seharusnya dan tidak boleh ditebang, dan diperhitungkan kondisi tertentu. Mereka juga membuat keputusan untuk perencanaan penggunaan lahan di daerah-daerah penghasil pendapatan lainnya, seperti mangrove yang dapat dipertahankan dengan budidaya udang berkelanjutan.<\/p>\n<p>Laumonier mengingat satu cerita yang menjadi pertanda baik bagi Tanimbar tentang seorang pria yang bekerja di penebangan di Papua, kemudian kembali dengan gergaji. Dia membuka usaha kecil di desanya, yang sekarang disebut oleh para ilmuwan sebagai &#8216;desa penebang kayu&#8217; karena telah menjadi sangat terspesialisasi. &#8220;Dan mereka tidak ada hubungannya dengan perusahaan,&#8221; kata Laumonier. &#8220;Mereka pergi ke hutan, memotong beberapa pohon, membuat papan untuk pasar lokal.&#8221; Dengan sedikit bantuan, mereka dapat dengan mudah mengatur perdagangan mereka dengan Darwin, katanya, memungkinkan mereka untuk mencapai pasar yang lebih baik dalam satu atau dua hari menggunakan perahu, daripada seminggu atau lebih dibutuhkan untuk mencapai Surabaya.<\/p>\n<p>&#8220;Dan bagi mereka, itu sudah cukup.&#8221;<\/p>\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pulau Yamdena di kepulauan Tanimbar mempunyai tiga jenis hutan penuh dengan pohon-pohon berdaun lebar bernilai tinggi, namun terjadinya kerusakan merupakan ancaman bagi kesuburan tanah dan ketersediaan air di kepulauan ini. Kepulauan Tanimbar merupakan bagian dari provinsi Maluku, berseberangan tepat di utara Darwin, Australia, antara perbatasan laut Banda dan Arafura. Wilayah ini tidak terhubung dengan satu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":259,"featured_media":57740,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,161,137,186],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[2522,7934,6579,7607,2671,7935,2777,7936,7933],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3100],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[7023],"class_list":["post-57736","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-deforestation","category-forest-management-restoration","category-production-forests","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-deforestasi","tag-bahasa-hutan-musim","tag-bahasa-hutan-tanaman","tag-bahasa-hutan-tropis","tag-bahasa-kayu","tag-bahasa-ketahanan-air","tag-bahasa-maluku","tag-bahasa-mata-air","tag-bahasa-penebangan","type-bahasa-fitur"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Menyelamatkan hutan musim yang tersisa di Indonesia - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57736\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Menyelamatkan hutan musim yang tersisa di Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Pulau Yamdena di kepulauan Tanimbar mempunyai tiga jenis hutan penuh dengan pohon-pohon berdaun lebar bernilai tinggi, namun terjadinya kerusakan merupakan ancaman bagi kesuburan tanah dan ketersediaan air di kepulauan ini. Kepulauan Tanimbar merupakan bagian dari provinsi Maluku, berseberangan tepat di utara Darwin, Australia, antara perbatasan laut Banda dan Arafura. Wilayah ini tidak terhubung dengan satu [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57736\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-08-29T03:22:11+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/36699908170_4c503b3dd5_k-739x415.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"739\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"415\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Gabrielle Lipton\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57736\\\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57736\\\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia\"},\"author\":{\"name\":\"Gabrielle Lipton\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/765401318cb29a487ccdb9c913f91481\"},\"headline\":\"Menyelamatkan hutan musim yang tersisa di Indonesia\",\"datePublished\":\"2018-08-29T03:22:11+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57736\\\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia\"},\"wordCount\":1170,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57736\\\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/08\\\/36699908170_4c503b3dd5_k.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Deforestation\",\"Forest management &amp; restoration\",\"Production forests\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57736\\\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2018\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57736\\\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57736\\\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia\",\"name\":\"Menyelamatkan hutan musim yang tersisa di Indonesia - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57736\\\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57736\\\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/08\\\/36699908170_4c503b3dd5_k.jpg\",\"datePublished\":\"2018-08-29T03:22:11+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57736\\\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57736\\\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57736\\\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/08\\\/36699908170_4c503b3dd5_k.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/08\\\/36699908170_4c503b3dd5_k.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1150},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57736\\\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Menyelamatkan hutan musim yang tersisa di Indonesia\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57736\\\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57736\\\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/765401318cb29a487ccdb9c913f91481\",\"name\":\"Gabrielle Lipton\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/46dbcff6d2395ce72464543eb11c846060fe4786524237e1a4d13c97db814bcb?s=96&d=mm&r=g97ba9d991e9e2538aba894dd8855aba2\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/46dbcff6d2395ce72464543eb11c846060fe4786524237e1a4d13c97db814bcb?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/46dbcff6d2395ce72464543eb11c846060fe4786524237e1a4d13c97db814bcb?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Gabrielle Lipton\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/gabrielle-lipton\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57736\\\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Menyelamatkan hutan musim yang tersisa di Indonesia - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57736\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Menyelamatkan hutan musim yang tersisa di Indonesia","og_description":"Pulau Yamdena di kepulauan Tanimbar mempunyai tiga jenis hutan penuh dengan pohon-pohon berdaun lebar bernilai tinggi, namun terjadinya kerusakan merupakan ancaman bagi kesuburan tanah dan ketersediaan air di kepulauan ini. Kepulauan Tanimbar merupakan bagian dari provinsi Maluku, berseberangan tepat di utara Darwin, Australia, antara perbatasan laut Banda dan Arafura. Wilayah ini tidak terhubung dengan satu [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57736\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2018-08-29T03:22:11+00:00","og_image":[{"width":739,"height":415,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/36699908170_4c503b3dd5_k-739x415.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Gabrielle Lipton","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57736\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57736\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia"},"author":{"name":"Gabrielle Lipton","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/765401318cb29a487ccdb9c913f91481"},"headline":"Menyelamatkan hutan musim yang tersisa di Indonesia","datePublished":"2018-08-29T03:22:11+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57736\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia"},"wordCount":1170,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57736\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/36699908170_4c503b3dd5_k.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Deforestation","Forest management &amp; restoration","Production forests"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57736\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia#respond"]}],"copyrightYear":"2018","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57736\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57736\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia","name":"Menyelamatkan hutan musim yang tersisa di Indonesia - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57736\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57736\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/36699908170_4c503b3dd5_k.jpg","datePublished":"2018-08-29T03:22:11+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57736\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57736\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57736\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/36699908170_4c503b3dd5_k.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/36699908170_4c503b3dd5_k.jpg","width":2048,"height":1150},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57736\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Menyelamatkan hutan musim yang tersisa di Indonesia"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57736\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57736\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/765401318cb29a487ccdb9c913f91481","name":"Gabrielle Lipton","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/46dbcff6d2395ce72464543eb11c846060fe4786524237e1a4d13c97db814bcb?s=96&d=mm&r=g97ba9d991e9e2538aba894dd8855aba2","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/46dbcff6d2395ce72464543eb11c846060fe4786524237e1a4d13c97db814bcb?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/46dbcff6d2395ce72464543eb11c846060fe4786524237e1a4d13c97db814bcb?s=96&d=mm&r=g","caption":"Gabrielle Lipton"},"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/gabrielle-lipton"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57736\/menyelamatkan-hutan-musim-yang-tersisa-di-indonesia#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/36699908170_4c503b3dd5_k.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57736","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/259"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=57736"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57736\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/57740"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=57736"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=57736"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=57736"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=57736"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=57736"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=57736"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=57736"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=57736"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=57736"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=57736"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=57736"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=57736"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=57736"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}