{"id":57669,"date":"2018-08-24T10:51:36","date_gmt":"2018-08-24T03:51:36","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=57669"},"modified":"2018-08-24T10:51:36","modified_gmt":"2018-08-24T03:51:36","slug":"di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57669\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam","title":{"rendered":"Di jalan kembali dari &#8216;ilmu safari&#8217; menuju kolaborasi yang tertanam"},"content":{"rendered":"<p>Duduk dalam sesi pada <a href=\"https:\/\/unfccc.int\/process-and-meetings\/conferences\/past-conferences\/copenhagen-climate-change-conference-december-2009\/cop-15\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Konferensi Para Pihak ke-15 untuk Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim<\/a> (UNFCCC) pada tahun 2009, peneliti kehutanan dan ahli konservasi, Agni Klintuni Boedhihartono, membuat sketsa dua segitiga pada buku catatan yang ada di depannya.<\/p>\n<p>Di daerah yang luas dari segitiga pertama, ia mengisi beberapa karakter, warna dan kompleksitas lanskap tropis, termasuk pohon, hewan, pertanian, dan orang-orang yang melakukan berbagai kegiatan. Di puncak segitiga, ada meja perundingan kecil dengan beberapa orang berkumpul di sekitarnya. Gambar ini menggambarkan bagaimana kebijakan konservasi tropis dibuat hingga tahun 1980-an: oleh sekelompok kecil ahli dengan pengalaman jangka panjang dan hubungan dengan tanah dan masyarakat yang dipengaruhi oleh keputusan mereka.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Segitiga berikutnya yang digambar secara terbalik: separuh bagian atas didominasi oleh massa negosiator yang cocok dalam bentang alam perkotaan, dan di titik terendah, bentang alam tropis yang dibatasi oleh sebuah keterangan yang terhubung dengan satu orang yang mencoba, dengan keterbatasan, untuk mendapatkan perhatian dari &#8220;narasumber&#8221; di atas. Ini diwakili, untuk Boedhihartono, cara kebijakan bentang alam tropis sebagian besar dibuat saat ini: oleh kelompok besar negosiator elit dengan sedikit koneksi ke realitas lokal.<\/p>\n<p>Boedhihartono, yang sekarang menjadi Professor Bentang Alam Tropis dan Penghidupan di <a href=\"https:\/\/www.ubc.ca\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Universitas British Colombia<\/a> (UBC), telah menghabiskan waktu puluhan tahun bekerja erat dengan masyarakat di bentang alam yang kompleks di Indonesia dan Lembah Kongo. Berbicara dengan rekan-rekan di konferensi yang juga, di masa muda mereka, menghabiskan banyak waktu di lapangan sebagai ilmuwan dan aktivis, ia mengamati bagaimana jalan mereka kontras dengan jalan karir kontemporer bagi para ilmuwan dan pembuat kebijakan. Jelas baginya bahwa \u201cbanyak orang yang datang ke pertemuan internasional besar &#8211; terutama yang lebih muda &#8211; sebenarnya tidak memiliki pengalaman di lapangan.<\/p>\n<p>&#8220;Dan kami berbicara tentang betapa pentingnya memiliki pengalaman itu, sebelum Anda dapat membuat keputusan atas nama orang-orang yang tinggal di sana.&#8221;<\/p>\n<p>Ini adalah langkah penting dalam percakapan yang sedang berlangsung tentang bagaimana menghubungkan kembali pembuat kebijakan dan peneliti dengan orang-orang dan tempat-tempat yang berdampak pada pekerjaan mereka. Pada sebuah<a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/library\/6911\/conservation-science-and-practice-must-engage-with-the-realities-of-complex-tropical-landscapes\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"> artikel baru<\/a> di <a href=\"http:\/\/www.tropicalconservationscience.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Ilmu Konservasi Tropis<\/a>, Boedhihartono dan sekelompok rekan penulis berpendapat bahwa banyak inisiatif konservasi global tidak mencapai hasil yang diinginkan untuk konservasi di daerah tropis, dan kurangnya kesadaran para peneliti dan pembuat kebijakan untuk konteks lokal harus memikul bagian penting dari kesalahan.<\/p>\n\n<p><strong>DESENTRALISASI TATA KELOLA &amp; PENGETAHUAN TERPUSAT<\/strong><\/p>\n<p>Menurut penulis, kenyataan di lapangan ini menjadi semakin kompleks. Ketika permintaan untuk komoditas naik, bentang alam berubah dengan cepat ketika hutan alam ditebangi untuk pertanian dan pertanian agroforestri. Tata kelola hutan juga menjadi semakin terdesentralisasi, sehingga jumlah pemangku kepentingan telah tumbuh di banyak bentang alam hutan.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Sementara itu, prioritas dan kebijakan konservasi bergerak ke arah yang berlawanan, dan menjadi terlalu terpusat dan disederhanakan, kata para penulis. Dalam proses kebijakan tingkat tinggi, ada kecenderungan ke arah keyakinan yang menggoda tetapi mengganggu bahwa &#8220;solusi mudah yang dapat diterapkan secara global dapat diidentifikasi,&#8221; kata mereka. Hal ini mengarah pada fenomena &#8216;siklus masalah&#8217;, di mana perhatian internasional terfokus secara berlebihan pada \u201csolusi jangka pendek sederhana, dalam kenyataannya, masalah jangka panjang yang sangat kompleks.\u201d Dengan berfokus pada komponen individual sistem yang kompleks, solusi ini &#8220;Sementara menarik bagi pemberi dana dan pembuat kebijakan, tidak cenderung mengambil pendekatan terpadu untuk mengatasi masalah yang sebenarnya di tangan.<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p>Kapasitas penelitian juga menjadi lebih terpusat. \u201cPusat gravitasi ilmu konservasi tropis telah bergeser ke utara,\u201d kata para penulis: menuju negara maju, dan jauh dari bentang alam yang sedang dipelajari. Para peneliti diberi insentif dan diberi penghargaan terutama melalui publikasi dalam jurnal berdampak tinggi, dan dengan demikian didorong untuk pindah ke pusat-pusat penelitian dan universitas elit, yang sebagian besar sekarang berada di negara-negara maju. \u201cCara universitas dan lembaga penelitian kami didanai, orang-orang akan pergi untuk hal-hal yang sangat sederhana yang menghasilkan artikel di jurnal elit, dan mereka tidak terlalu peduli tentang dampak konservasi di lapangan,\u201d mengamati Jeff Sayer, rekan penulis lain koran, yang juga seorang profesor di UBC. &#8220;Insentif bagi peneliti tidak mendorong mereka untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat.&#8221;<\/p>\n<p>Sementara itu, banyak fasilitas penelitian yang terletak di kawasan kunci keanekaragaman hayati di daerah tropis telah mengalami penurunan pendanaan, dan beberapa terpaksa ditutup. <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional<\/a> (CIFOR) telah berusaha untuk melawan kecenderungan ini, tetapi masih tetap mempertahankan pendanaan sebagai upaya yang konstan. Organisasi konservasi di negara-negara tropis yang sedang berkembang sering memiliki sedikit kapasitas penelitian, sering kali tergantung pada para ilmuwan &#8216;safari&#8217; pada tugas-tugas yang sangat singkat. \u201cKami memanggil mereka &#8216;burung camar,&#8217;\u201d Boedhihartono tertawa masam, \u201ckarena mereka seperti burung yang terbang masuk, dan meninggalkan kotoran mereka di mana-mana, dan kemudian terbang lagi!\u201d<\/p>\n\n<p><strong>MENGHUBUNGKAN TITIK-TITIK<\/strong><\/p>\n<p>Dalam mengkritisi status quo, rekan penulis tidak menganjurkan kembali ke model yang digerakkan oleh ahli sebelumnya (gambar segitiga 1 dari Boedhihartono) dari kebijakan konservasi hutan tropis. Mereka mengakui bahwa ada lebih banyak masalah konservasi &#8211; dan inisiatif &#8211; di masa lalu, dan ini pasti membutuhkan lebih banyak pertemuan dan negosiasi. Tetapi mereka memang menyerukan manajemen terpadu, kepemimpinan lokal yang sejati, dan hubungan mendalam dengan realitas mendasar yang kompleks, mencari harapan ke arah &#8220;masa depan di mana strategi dan keputusan dihasilkan oleh mereka yang hidupnya akan terkena dampak.&#8221;<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Ini berarti memberi ruang bagi kepemimpinan lokal. &#8220;Kami tidak berpikir bahwa kita sebagai orang luar harus memimpin hal-hal ini terlalu banyak,&#8221; kata Sayer. &#8220;Ada kecenderungan bagi LSM internasional besar untuk datang dan ingin mengibarkan bendera mereka dan memberi cap logo mereka pada hal-hal yang mereka lakukan, dan saya pikir itu berbahaya.&#8221; Sebaliknya, dia berkata, &#8220;Kita harus bersembunyi di dalam sayap. Kami tidak ingin mengadakan sesuatu; kami ingin mendorong mereka untuk terjadi dan berfungsi. \u201d<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p>Para rekan penulis percaya bahwa <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/56472\/progress-on-the-process-of-managing-landscapes?fnl=en\">pendekatan bentang alam<\/a>, yang memberikan prinsip, pedoman, dan alat untuk konservasi adaptif pada skala lokal, memiliki potensi untuk membantu melakukan perubahan yang diperlukan. Mereka menyerukan model produksi bersama pengetahuan eksperimental yang lebih terintegrasi, dengan mekanisme umpan balik yang ditingkatkan antara mereka yang merancang intervensi konservasi dan mereka yang menerapkan dan mengalaminya. Rekan penulis dan ilmuwan CIFOR James Reed, yang merupakan salah satu dari enam pemimpin <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/57339\/getting-landscape-approaches-off-the-ground-on-the-ground?fnl=en\">proyek baru<\/a> tentang penerapan pendekatan bentang alam, mengatakan bahwa keterlibatan rutin antara peneliti, pengambil keputusan dan penduduk bentang alam dapat berfungsi untuk mengidentifikasi dan menegosiasikan area konsensus &#8211; dan ketidaksetujuan &#8211; untuk menginformasikan pengelolaan penggunaan lahan di masa depan dengan lebih baik.<\/p>\n<p>\u201cHarapannya adalah bahwa negosiasi semacam itu dapat berfungsi untuk menyelaraskan keputusan penggunaan lahan dan memacu inovasi di antara para pemangku kepentingan yang diinvestasikan,\u201d katanya, \u201csementara pengakuan timbal balik dapat membantu mengurangi potensi konflik penggunaan lahan dan memberikan dukungan bagi kelompok yang terpinggirkan atau kurang beruntung.\u201d<\/p>\n\n<p><strong>MENGHARGAI KETERLIBATAN JANGKA PANJANG<\/strong><\/p>\n<p>Para rekan penulis juga meminta lebih banyak insentif dan jalur karir yang layak bagi para ilmuwan yang memilih untuk menghabiskan lebih banyak kehidupan kerja mereka di lapangan. Boedhihartono menekankan bahwa konservasi yang sukses dalam bentang alam tropis adalah proses jangka panjang. \u201cKami harus memiliki kepercayaan dari orang-orang yang ada di sana, dan jika Anda hanya terbang dalam waktu singkat, sulit untuk membuatnya,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Untuk bagiannya sendiri, dia memastikan untuk kembali ke lokasi penelitian yang telah dia kerjakan setiap tahun jika memungkinkan &#8211; dan untuk membawa mahasiswa pascasarjana dengannya setiap waktu, untuk memulai jenis pengalaman lapangan yang dia yakini begitu penting untuk generasi ilmuwan berikutnya. \u201cMereka harus tinggal di desa selama dua bulan, di tempat-tempat yang sangat terpencil,\u201d dia menjelaskan. \u201cDan sekarang, beberapa mahasiswa PhD telah datang ke lokasi-lokasi lapangan ini selama beberapa tahun. Jadi itu cara yang bagus untuk mempertahankan pertunangan kami dengan orang-orang di sana. \u201d<\/p>\n<p>Sayer menguatkan bahwa ada beberapa jalan pintas dalam proses memahami lanskap tertentu. \u201cPekerjaan kami di Malinau [hutan penelitian di Kalimantan Timur] sekarang berusia lebih dari 20 tahun,\u201d katanya. \u201cDan saya pikir setelah jangka waktu itu, Anda mulai mulai memahami apa yang sedang terjadi, dan untuk melihat bagaimana Anda dapat membuat perbedaan. Memang butuh waktu lama, \u201dtegasnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Duduk dalam sesi pada Konferensi Para Pihak ke-15 untuk Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) pada tahun 2009, peneliti kehutanan dan ahli konservasi, Agni Klintuni Boedhihartono, membuat sketsa dua segitiga pada buku catatan yang ada di depannya. Di daerah yang luas dari segitiga pertama, ia mengisi beberapa karakter, warna dan kompleksitas lanskap [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":264,"featured_media":57670,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,1072],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[2587,7916,7917,7918,2586],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[7144],"class_list":["post-57669","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-landscapes","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-bentang-alam","tag-bahasa-kebijakan-konservasi","tag-bahasa-pembuat-kebijakan","tag-bahasa-pembuatan-kebijakan","tag-bahasa-pendekatan-bentang-alam","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Di jalan kembali dari &#039;ilmu safari&#039; menuju kolaborasi yang tertanam - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57669\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Di jalan kembali dari &#039;ilmu safari&#039; menuju kolaborasi yang tertanam\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Duduk dalam sesi pada Konferensi Para Pihak ke-15 untuk Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) pada tahun 2009, peneliti kehutanan dan ahli konservasi, Agni Klintuni Boedhihartono, membuat sketsa dua segitiga pada buku catatan yang ada di depannya. Di daerah yang luas dari segitiga pertama, ia mengisi beberapa karakter, warna dan kompleksitas lanskap [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57669\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-08-24T03:51:36+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/35449632004_a411d632fb_k-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2048\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1466\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Monica Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57669\\\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57669\\\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam\"},\"author\":{\"name\":\"Monica Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\"},\"headline\":\"Di jalan kembali dari &#8216;ilmu safari&#8217; menuju kolaborasi yang tertanam\",\"datePublished\":\"2018-08-24T03:51:36+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57669\\\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam\"},\"wordCount\":1289,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57669\\\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/08\\\/35449632004_a411d632fb_k-1.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Landscapes\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57669\\\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2018\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57669\\\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57669\\\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam\",\"name\":\"Di jalan kembali dari 'ilmu safari' menuju kolaborasi yang tertanam - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57669\\\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57669\\\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/08\\\/35449632004_a411d632fb_k-1.jpg\",\"datePublished\":\"2018-08-24T03:51:36+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57669\\\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57669\\\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57669\\\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/08\\\/35449632004_a411d632fb_k-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/08\\\/35449632004_a411d632fb_k-1.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1466},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57669\\\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Di jalan kembali dari &#8216;ilmu safari&#8217; menuju kolaborasi yang tertanam\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57669\\\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57669\\\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\",\"name\":\"Monica Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Monica Evans\"},\"description\":\"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/monica-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57669\\\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Di jalan kembali dari 'ilmu safari' menuju kolaborasi yang tertanam - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57669\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Di jalan kembali dari 'ilmu safari' menuju kolaborasi yang tertanam","og_description":"Duduk dalam sesi pada Konferensi Para Pihak ke-15 untuk Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) pada tahun 2009, peneliti kehutanan dan ahli konservasi, Agni Klintuni Boedhihartono, membuat sketsa dua segitiga pada buku catatan yang ada di depannya. Di daerah yang luas dari segitiga pertama, ia mengisi beberapa karakter, warna dan kompleksitas lanskap [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57669\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2018-08-24T03:51:36+00:00","og_image":[{"width":2048,"height":1466,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/35449632004_a411d632fb_k-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Monica Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57669\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57669\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam"},"author":{"name":"Monica Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70"},"headline":"Di jalan kembali dari &#8216;ilmu safari&#8217; menuju kolaborasi yang tertanam","datePublished":"2018-08-24T03:51:36+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57669\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam"},"wordCount":1289,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57669\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/35449632004_a411d632fb_k-1.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Landscapes"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57669\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam#respond"]}],"copyrightYear":"2018","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57669\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57669\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam","name":"Di jalan kembali dari 'ilmu safari' menuju kolaborasi yang tertanam - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57669\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57669\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/35449632004_a411d632fb_k-1.jpg","datePublished":"2018-08-24T03:51:36+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57669\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57669\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57669\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/35449632004_a411d632fb_k-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/35449632004_a411d632fb_k-1.jpg","width":2048,"height":1466},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57669\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Di jalan kembali dari &#8216;ilmu safari&#8217; menuju kolaborasi yang tertanam"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57669\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57669\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70","name":"Monica Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","caption":"Monica Evans"},"description":"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/monica-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57669\/di-jalan-kembali-dari-ilmu-safari-menuju-kolaborasi-yang-tertanam#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/35449632004_a411d632fb_k-1.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57669","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/264"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=57669"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57669\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/57670"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=57669"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=57669"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=57669"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=57669"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=57669"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=57669"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=57669"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=57669"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=57669"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=57669"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=57669"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=57669"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=57669"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}