{"id":57368,"date":"2018-08-07T15:50:37","date_gmt":"2018-08-07T08:50:37","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=57368"},"modified":"2018-08-07T15:50:37","modified_gmt":"2018-08-07T08:50:37","slug":"kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57368\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035","title":{"rendered":"Kembali ke masa depan: Merancang skenario kelapa sawit hingga 2035"},"content":{"rendered":"<p>Kita mungkin belum bisa melakukan perjalanan waktu, namun pemodelan data bisa membantu kita menyusun prediksi terukur mengenai masa depan, dan diharapkan membantu melakukan perencanaan yang lebih baik pada saat ini. Demikian dikatakan ilmuwan dan pakar mitigasi perubahan iklim <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional<\/a> (CIFOR), Sunil Sharma.<\/p>\n<p>Sharma memimpin <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/library\/6953\/an-analysis-of-multiple-ecosystem-services-under-future-oil-palm-expansion-scenarios-in-central-and-west-kalimantan-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">sebuah penelitian terbaru<\/a> yang memproyeksikan skenario potensial masa depan <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/peatlands\/gols-governing-oil-palm-landscapes\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">budi daya kelapa sawit<\/a> di provinsi Kalimantan Barat dan Tengah Indonesia dari 2017 hingga 2035, dan memetakan dampak jasa ekosistem (ES) pada setiap skenario.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Dengan memetakan skenario yang dapat terjadi (berbeda dengan apa yang akan terjadi), kita bisa belajar dari masa depan dalam menentukan apa yang dapat kita lakukan saat ini, kata Herry Purnomo, mitra Ilmuwan CIFOR dan contributor penelitian.<\/p>\n<p>Provinsi-provinsi tersebut merupakan salah satu dari \u2018hotspots,\u2019 keragaman hayati dunia, yang secara global diidentifikasi sebagai kawasan konservasi prioritas atas tegakkan hutan hujannya yang menyangga sejumlah besar spesies endemik, selain penghidupan jutaan orang. Namun, wilayah ini juga dipandang sebagai hotspots ekspansi kelapa sawit, dengan laju pertumbuhan sektoral tertinggi di seluruh Indonesia. Indonesia merupakan produsen dan eksportir terbesar komoditas aneka guna ini, ditambah estimasi permintaan global dua kali lipat pada 2050, ekspansi perkebunan akan berlanjut jika tidak diawasi.<\/p>\n<p>Perencanaan cermat yang mempertimbangkan timbal balik perubahan pemanfaatan lahan bagi masyarakat, ekonomi dan lingkungan, menurut Sharma, menjadi sangat penting.<\/p>\n\n<div class=\"wp-block-group is-content-justification-center is-nowrap is-layout-flex wp-container-core-group-is-layout-23441af8 wp-block-group-is-layout-flex\">\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\">\n\t\t\t\t\t<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img width=\"278\" height=\"415\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/36643290082_83bd9d059f_z-278x415.jpg\" class=\"wp-image-57310\" alt=\"\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/36643290082_83bd9d059f_z-278x415.jpg 278w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/36643290082_83bd9d059f_z-268x400.jpg 268w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/36643290082_83bd9d059f_z-298x446.jpg 298w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/36643290082_83bd9d059f_z.jpg 428w\" sizes=\"auto, (max-width: 278px) 100vw, 278px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Bunches of oil palm fruits next to individual fruits. <a href=\"https:\/\/www.flickr.com\/photos\/cifor\/36643290082\/\">CIFOR Photo\/Icaro Cooke Vieira<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\">\n\t\t\t\t\t<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img width=\"278\" height=\"415\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/36417047550_a1a4145b03_z-278x415.jpg\" class=\"wp-image-57311\" alt=\"palm oil farmer, oil palm, EU phase out, CPO\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/36417047550_a1a4145b03_z-278x415.jpg 278w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/36417047550_a1a4145b03_z-268x400.jpg 268w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/36417047550_a1a4145b03_z-298x446.jpg 298w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/36417047550_a1a4145b03_z.jpg 428w\" sizes=\"auto, (max-width: 278px) 100vw, 278px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Yuliana, a local oil palm farmer, carrying a bucket with fruits.\n\n <a href=\"https:\/\/www.flickr.com\/photos\/cifor\/36417047550\/\">CIFOR Photo\/Icaro Cooke Vieira<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t<\/div>\n<p><strong>MEMILIH JALUR UNTUK MASA DEPAN KELAPA SAWIT <\/strong><\/p>\n<p>Tiga skenario potensial ekspansi kelapa sawit di dua provinsi tersebut terdiri dari skenario biasa business-as-usual, intensifikasi berkelanjutan dan konservasi. \u201cKami ingin mendapat ide apa yang akan terjadi jika memilih salah satu jalur itu: dari sudut pandang ES, apa yang hilang dan apa yang diraih?\u201d papar Sharma. ES mempertimbangkan kondisi air, simpanan karbon, habitat, dan produksi kayu dan kelapa sawit.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Dalam skenario biasa, para peneliti berasumsi bahwa pemegang lisensi kelapa sawit akan mengembangkan perkebunan mereka ke seluruh area konsesi, untuk memaksimalkan potensi ekonomi. Penelitian menunjukkan, jika ini terjadi, seluruh ES akan terdampak negatif, karena perkebunan akan merambah hutan tua dan hutan regenerasi.<\/p>\n<p>Dalam skenario konservasi, kriteria ketat diterapkan untuk menjaga integritas dan keberlanjutan lingkungan hidup, termasuk pemantauan ketat untuk menghindari penggundulan tegakkan hutan dan lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit dan kayu.<\/p>\n<p>Bukan hal mengejutkan, para peneliti menemukan bahwa nilai ES tertinggi dihasilkan dari situasi ini. Stok karbon akan meningkat, kualitas habitat relatif stabil terhadap perubahan pemanfaatan lahan aktual.<\/p>\n<p>Skenario intensifikasi berkelanjutan menggunakan asumsi bahwa ekspansi masa depan akan terjadi pada lahan yang paling cocok untuk perkebunan kelapa sawit dan menerapkan teknologi panen. Dalam kasus ini, stok karbon akan terdampak positif, karena intensifikasi perkebunan sawit mampu menyerap dan menyimpan lebih banyak karbon dari pada lahan terdegradasi atau lahan pertanian. Tingkat air juga mendapat manfaat, meski kualitas habitat akan sedikit terganggu.<\/p>\n<p>Para peneliti menemukan bahwa intensifikasi berkelanjutan menawarkan semacam \u2018solusi kompromi,\u2019 karena pasokan ES masih dapat dibandingkan dengan skenario konservasi,  sementara produksi kelapa sawit tidak terlalu jauh berbeda dengan skenario biasa. Namun, menurut catatan para peneliti, skenario ini berdampak pada  keamanan pangan, karena membutuhkan konversi besar-besaran area pertanian menjadi perkebunan kelapa sawit.<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n\n<p><strong>MEMANDANG LEBIH JAUH<\/strong><\/p>\n<p>Mana yang cenderung terjadi? Setiap skenarionya sangat mungkin, kata Himlal Baral, salah seorang penulis dan ilmuwan CIFOR. Dari sudut pandang reduksi emisi dan perlindungan keragaman hayati, skenario konservasi tak perlu diragukan lagi. Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa melindungi hutan lebih bernilai, dalam nilai ekonomi total dan ES yang diberikan, dibanding menggundulinya. \u201cNamun sangat sulit membuktikan hal itu pada pemerintah atau perusahaan atau masyarakat lokal yang memerlukan sumber daya yang dapat mereka beli dan jual di pasar sebagai sumber penghasilan langsung,\u201d katanya.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Mempertimbangkan hal tersebut, Baral menyimpulkan bahwa skenario intensifikasi berkelanjutan sangat berpotensi menjawab meningkatnya permintan kelapa sawit dan menyangga penghidupan, seraya melindungi alam. Ia berharap penelitian ini akan membantu pengambil keputusan untuk mempertimbangkan alternatif lebih jelas, dan secara ideal memilih jalur tengah yang seimbang antara kebutuhan manusia dan lingkungan.<\/p>\n<p>\u201cSaya pikir ini langkah tepat untuk ditempuh, kita bisa mewujudkan konservasi sambil tetap memenuhi permintaan pasar dan masyarakat,\u201d kata Baral.<\/p>\n<p>\u201cMengkomunikasikan dan meyakinkan bahwa intensifikasi berkelanjutan adalah alternatif terbaik merupakan tantangan besar di wilayah kebijakan,\u201d kata Purnomo. \u201cProses kebijakan dipengaruhi oleh aktor politik yang memiliki perbedaan kepentingan dan seringkali bersilangan. Setidaknya penelitian ini dapat menjadi landasan informasi bagi mereka mengenai timbal balik antara pembangunan dan konservasi dalam konteks pengembangan kelapa sawit.\u201d<\/p>\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kita mungkin belum bisa melakukan perjalanan waktu, namun pemodelan data bisa membantu kita menyusun prediksi terukur mengenai masa depan, dan diharapkan membantu melakukan perencanaan yang lebih baik pada saat ini. Demikian dikatakan ilmuwan dan pakar mitigasi perubahan iklim Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), Sunil Sharma. Sharma memimpin sebuah penelitian terbaru yang memproyeksikan skenario potensial masa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":264,"featured_media":57370,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1072,186,184],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[2696,2616,7880,7878,7881,7879,7877],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[7144],"class_list":["post-57368","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-landscapes","category-production-forests","category-value-chains-finance","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-kalimantan","tag-bahasa-kelapa-sawit","tag-bahasa-kelapa-sawit-indonesia-berkelanjutan","tag-bahasa-komoditas","tag-bahasa-komoditas-berkelanjutan","tag-bahasa-minyak-sawit","tag-bahasa-tanaman-komersial","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Kembali ke masa depan: Merancang skenario kelapa sawit hingga 2035 - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57368\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Kembali ke masa depan: Merancang skenario kelapa sawit hingga 2035\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Kita mungkin belum bisa melakukan perjalanan waktu, namun pemodelan data bisa membantu kita menyusun prediksi terukur mengenai masa depan, dan diharapkan membantu melakukan perencanaan yang lebih baik pada saat ini. Demikian dikatakan ilmuwan dan pakar mitigasi perubahan iklim Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), Sunil Sharma. Sharma memimpin sebuah penelitian terbaru yang memproyeksikan skenario potensial masa [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57368\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-08-07T08:50:37+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/36643114342_dc16a73c4d_z.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"334\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Monica Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57368\\\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57368\\\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035\"},\"author\":{\"name\":\"Monica Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\"},\"headline\":\"Kembali ke masa depan: Merancang skenario kelapa sawit hingga 2035\",\"datePublished\":\"2018-08-07T08:50:37+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57368\\\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035\"},\"wordCount\":729,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57368\\\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/08\\\/36643114342_dc16a73c4d_z.jpg\",\"articleSection\":[\"Landscapes\",\"Production forests\",\"Value chains &amp; finance\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57368\\\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2018\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57368\\\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57368\\\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035\",\"name\":\"Kembali ke masa depan: Merancang skenario kelapa sawit hingga 2035 - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57368\\\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57368\\\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/08\\\/36643114342_dc16a73c4d_z.jpg\",\"datePublished\":\"2018-08-07T08:50:37+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57368\\\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57368\\\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57368\\\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/08\\\/36643114342_dc16a73c4d_z.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/08\\\/36643114342_dc16a73c4d_z.jpg\",\"width\":500,\"height\":334,\"caption\":\"Menuju panen kelapa sawit di Kalimantan, tempat tanaman komersial ini memberi penghidupan bagi jutaan orang.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57368\\\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Kembali ke masa depan: Merancang skenario kelapa sawit hingga 2035\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57368\\\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57368\\\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\",\"name\":\"Monica Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Monica Evans\"},\"description\":\"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/monica-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57368\\\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Kembali ke masa depan: Merancang skenario kelapa sawit hingga 2035 - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57368\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Kembali ke masa depan: Merancang skenario kelapa sawit hingga 2035","og_description":"Kita mungkin belum bisa melakukan perjalanan waktu, namun pemodelan data bisa membantu kita menyusun prediksi terukur mengenai masa depan, dan diharapkan membantu melakukan perencanaan yang lebih baik pada saat ini. Demikian dikatakan ilmuwan dan pakar mitigasi perubahan iklim Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), Sunil Sharma. Sharma memimpin sebuah penelitian terbaru yang memproyeksikan skenario potensial masa [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57368\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2018-08-07T08:50:37+00:00","og_image":[{"width":500,"height":334,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/36643114342_dc16a73c4d_z.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Monica Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57368\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57368\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035"},"author":{"name":"Monica Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70"},"headline":"Kembali ke masa depan: Merancang skenario kelapa sawit hingga 2035","datePublished":"2018-08-07T08:50:37+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57368\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035"},"wordCount":729,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57368\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/36643114342_dc16a73c4d_z.jpg","articleSection":["Landscapes","Production forests","Value chains &amp; finance"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57368\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035#respond"]}],"copyrightYear":"2018","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57368\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57368\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035","name":"Kembali ke masa depan: Merancang skenario kelapa sawit hingga 2035 - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57368\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57368\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/36643114342_dc16a73c4d_z.jpg","datePublished":"2018-08-07T08:50:37+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57368\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57368\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57368\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/36643114342_dc16a73c4d_z.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/36643114342_dc16a73c4d_z.jpg","width":500,"height":334,"caption":"Menuju panen kelapa sawit di Kalimantan, tempat tanaman komersial ini memberi penghidupan bagi jutaan orang."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57368\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Kembali ke masa depan: Merancang skenario kelapa sawit hingga 2035"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57368\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57368\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70","name":"Monica Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","caption":"Monica Evans"},"description":"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/monica-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57368\/kembali-ke-masa-depan-merancang-skenario-kelapa-sawit-hingga-2035#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/36643114342_dc16a73c4d_z.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57368","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/264"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=57368"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57368\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/57370"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=57368"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=57368"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=57368"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=57368"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=57368"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=57368"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=57368"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=57368"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=57368"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=57368"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=57368"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=57368"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=57368"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}