{"id":57360,"date":"2018-08-07T08:00:48","date_gmt":"2018-08-07T01:00:48","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=57360"},"modified":"2018-08-08T08:08:30","modified_gmt":"2018-08-08T01:08:30","slug":"interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57360\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan","title":{"rendered":"Interseksionalitas juga penting untuk hutan"},"content":{"rendered":"<p>Aristokrat seperti kayu ulin abadi, dan rakyat jelata seperti ara yang mencekik yang membunuh. Namun, ketika <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Center for International Forestry Research<\/a> Senior Associate Carol J. Pierce Colfer <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/library\/2689\/the-longhouse-of-the-tarsier-changing-landscape-gender-and-well-being-in-borneo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">tinggal selama satu tahun di masyarakat adat Dayak di Indonesia<\/a> dimana ajaran ini muncul, mereka adalah rakyat jelata &#8211; orang yang sangat pandai, berlidah tajam yang bisa berdebat semua saingan kelas atas &#8211; yang terpilih sebagai Kepala Suku.<\/p>\n<p>&#8220;Ini penting karena keputusan yang dibuat oleh Kepala Suku bisa dilemahkan oleh antagonisme faksional ini,&#8221; katanya. Dan pembagian kelas ini hanya satu elemen dalam narasi komunitas, pada waktu yang berbeda berbagi panggung dengan usia, gender, dan sistem kepercayaan animisme yang mendasarinya bercampur dengan perbedaan agama antara Katolik dan Protestan; di lain waktu, tersembunyi di balik tirai sementara yang lain datang ke kedepan di sub-plot yang berbeda. &#8220;Tapi kamu tidak akan tahu semua itu kecuali kamu menghabiskan waktu di sana.&#8221;<\/p>\n<p>Kata \u201cinterseksionalitas\u201d adalah fokus dari <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/library\/6793\/making-sense-of-intersectionality-a-manual-for-lovers-of-people-and-forests\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penelitian baru<\/a> oleh Colfer dan dua ilmuwan CIFOR lainnya, Bimbika Sijapati Basnett dan Markus Ihalainen, yang mendefinisikannya sebagai \u201cpengaruh berinteraksi dari banyak identitas pada orang tertentu ketika mereka berinteraksi dengan meminggirkan atau memberdayakan. struktur, norma, dan narasi. \u201dNamun, itu tidak ada dalam kamus Merriam Webster. Juga tidak ada di ejaan Microsoft Word. Itu menghasilkan 19 hasil di mesin pencari online Al Jazeera, 35 hasil di The Economist&#8217;s dan 64 di The New York Times \u2019- yang terakhir mungkin karena peningkatan istilah dalam bahasa Amerika setelah #MeToo dan gerakan pasca-Trump lainnya.<\/p>\n<p>\u201cTujuh suku kata. Benar-benar tidak perlu membuat kata-kata yang panjang,\u201d ungkap Colfer, sambil tersenyum. \u201cTetapi kadang-kadang hal yang gila akan terjadi, dan sepertinya itu terjadi dengan interseksionalitas.\u201d Tujuan dari penelitian ini untuk menyarankan bagaimana cara terbaik untuk digunakan di sektor kehutanan.<\/p>\n\n<div style=\"aspect-ratio:16\/9;min-height:unset;\" class=\"wp-block-cover alignfull has-parallax has-custom-content-position is-position-bottom-center has-aspect-ratio\">\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-cover__image-background wp-image-57098 size-full has-parallax\" style=\"background-position:50% 50%;\n\t\t\t\tbackground-image:url(https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/35977383344_35bfe12f8a_k.jpg)\">\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow\">\n\t\t\t\t\t<p class=\"has-text-align-center has-base-color has-text-color has-link-color has-small-font-size wp-elements-c7274f9a76ff948295c72066c2502b23\">Topista Lumama, a community farmer trainer in Uganda\u2019s Mpigi district, where the confluence of age and gender issues has affected tree planting on farms.<\/p>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t<\/div>\n<p><strong>SAYA MENGUASAI BANYAK ORANG<\/strong><\/p>\n<p>Bertentangan dengan lonjakan popularitasnya baru-baru ini, pemberian foto dengan satu tagar dan sedikit lagi, interseksionalitas bukanlah ide baru maupun ide yang tidak masuk akal.<\/p>\n<p>Ini adalah kata desas-desus di komunitas gender sejak tahun 1980-an, kata Ihalainen, dan munculnya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) memberi lebih banyak ruang untuk tumbuh, berguna untuk mencapai Tujuan 5 (kesetaraan gender) dan 10 (mengurangi ketidaksetaraan). Tetapi diskusi seputar istilah tersebut tampaknya sebagian besar terhenti dalam mode teori, menjelaskannya dengan cara-cara yang beraneka ragam seperti orang-orang dan komunitas yang ingin digambarkannya &#8211; sebuah prisma, alih-alih cermin, untuk mencerminkan prisma lain.<\/p>\n<p>Penelitian ini, dalam karya-karya selama tiga tahun, dimulai dengan merangkum literatur primer yang ada sebelum pindah ke penawaran yang lebih beralasan sendiri untuk percakapan: seperempat lensa di mana peneliti dapat melihat komunitas untuk lebih melihat dan memahami poin-poin penting persimpangan identitas di dalamnya.<\/p>\n<p>&#8220;Semua orang mengatakan interseksionalitas sangat penting dan menarik dan sleharusnya menjadi mantra baru, tetapi sebenarnya orang-orang memiliki begitu banyak pemahaman yang berbeda tentang itu,&#8221; kata Sijapati Basnett. \u201cLiteratur teoritis benar-benar rumit. Lensa mungkin membuatnya lebih mudah dimengerti.\u201d<\/p>\n<p>Singkatnya, kelima lensa tersebut adalah:<\/p>\n<ul>\n<li>Lensa kognitif: Bagaimana individu melihat dunia, dan bagaimana norma sosial memengaruhi titik pandang mereka;<\/li>\n<li>Lensa emosional: Bagaimana marjinalisasi (atau elitisme) mempengaruhi kesadaran diri dan kemampuan seseorang;<\/li>\n<li>Lensa sosial: Persepsi, narasi dan norma yang digunakan orang lain untuk mendefinisikan yang terpinggirkan;<\/li>\n<li>Lensa ekonomi: Bagaimana pekerjaan, kepemilikan, aturan warisan dan sejenisnya memengaruhi individu; dan<\/li>\n<li>Lensa politik: Distribusi kekuasaan dan sumber daya dalam suatu masyarakat.<\/li>\n<\/ul>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p>Para ilmuwan mengembangkan lensa berdasarkan pemahaman mereka tentang literatur teoritis pada topik dan pengalaman pribadi mereka di lapangan, serta dengan harapan bahwa dengan peralatan baru, sehingga untuk berbicara, mereka akan mampu menangkap lebih banyak pemahaman holistik. komunitas &#8211; atau, di leas bergerak di luar lensa ekonomi semata, yang secara tidak sengaja mendapatkan jarak tempuh paling banyak dalam penelitian hutan sejauh ini.<\/p>\n<p>&#8220;Ekonomi itu kuantitatif, dan ada hubungan cinta dengan itu, terutama di Barat,&#8221; kata Colfer. \u201cDan sejarah kehutanan sangat berorientasi pada pohon kayu, periode. Baru pada tahun 1970-an orang mulai berbicara tentang makanan, dan baru-baru ini, berkembang menjadi keanekaragaman hayati dan orang-orang.\u201d<\/p>\n<p>Sementara penelitian di sekitar &#8216;orang&#8217; aspek hutan telah meningkat dalam 40 tahun terakhir, itu sering datang dengan pandangan biner yang menyimpang tentang gender (laki-laki versus perempuan), dengan &#8216;perempuan&#8217; dilihat sebagai tidak bersuara dan secara seragam terpinggirkan oleh struktur sosial. Tujuan lain dari makalah ini adalah untuk mendorong sisi sosial dari penelitian kehutanan untuk terbiasa melampaui kerangka kerja gender yang kaku &#8211; dengan mempertimbangkan masalah-masalah yang berkaitan dengan usia, kekayaan, etnis, dll. &#8211; jika perubahan selanjutnya adalah untuk menghindari diskriminasi dan menjadi benar-benar produktif.<\/p>\n<p>Ihalainen memunculkan, misalnya, kasus pertanian agroforestry di <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/gender\/videos\/uganda\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Uganda<\/a>, di mana ketidaksetaraan gender dalam penguasaan lahan sangat penting. Ketika orang tua menyerahkan tanah kepada anak laki-laki, bukan anak perempuan, perempuan memiliki sedikit prospek manfaat masa depan dari pohon yang mereka tanam di tanah orang tua mereka. Tetapi lebih lanjut menekan, orang menemukan bahwa semua penghasilan dari memanen pohon pergi ke pria yang lebih tua, memberikan pemuda dari kedua jenis kelamin sedikit insentif untuk menanam pohon di pertanian mereka. Lanskap semakin kurang subur, karena persimpangan usia dan ketidakadilan jender.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Atau di Nepal, negara asal Sijapati Basnett di mana dia telah <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/library\/6093\/gender-migration-and-forest-governance-re-thinking-community-forestry-policies-in-nepal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">melakukan penelitian ekstensif<\/a>, pengalaman wanita sangat bervariasi tergantung pada siapa &#8211; dan di mana mereka berada. Di beberapa desa, perempuan berkasta rendah dan bermaretnis secara etnis mampu membuat pilihan hidup yang strategis (siapa yang harus menikah, berapa banyak anak yang harus dimiliki) dan mempengaruhi keputusan rumah tangga, sementara yang lain tidak mendapat otonomi semacam itu. Melangkah lebih tinggi ke kelompok pengguna hutan masyarakat, beberapa desa juga mengizinkan perempuan kasta rendah untuk memiliki suara dalam penggunaan hutan, sementara yang lain memiliki hak seperti itu untuk pria yang lebih tua dan lebih kuat, meskipun taruhan tinggi untuk wanita yang bergantung pada hutan.<\/p>\n<p>Di tingkat nasional, dia mengatakan wacana tentang inklusi dan marginalisasi lebih maju di Nepal daripada di banyak negara lain. \u201cIni bukan hanya tentang kaya versus miskin, tetapi kelompok miskin mana yang Anda bicarakan, dan mengapa mereka miskin? Apakah ini masalah spasial? Masalah etnis? Kasta? Pendapatan? Sementara ini berarti marjinalisasi diterima sebagai fenomena multi-dimensi, ada semua kelompok sosial ini di titik-titik persimpangan yang tidak tercakup. \u201dDia menggunakan jari-jari penunjuk dan jempolnya untuk membuat simpul-simpul yang digabungkan, seperti rantai berantai, untuk dijelaskan.<\/p>\n<p>Ini penting, katanya, karena kelompok-kelompok ini terus dibiarkan di luar pandangan gerakan sosial, pembuat kebijakan dan inklusi umum, dan dampak ekonomi dan sosial yang kuat.<\/p>\n\n<div class=\"wp-block-group is-content-justification-center is-nowrap is-layout-flex wp-container-core-group-is-layout-23441af8 wp-block-group-is-layout-flex\">\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\">\n\t\t\t\t\t<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img width=\"424\" height=\"415\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/36538876072_fce51db7d6_k-2-424x415.jpg\" class=\"wp-image-57102\" alt=\"\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/36538876072_fce51db7d6_k-2-424x415.jpg 424w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/36538876072_fce51db7d6_k-2-409x400.jpg 409w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/36538876072_fce51db7d6_k-2-768x751.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/36538876072_fce51db7d6_k-2-610x597.jpg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/36538876072_fce51db7d6_k-2-32x32.jpg 32w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/36538876072_fce51db7d6_k-2-64x64.jpg 64w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/36538876072_fce51db7d6_k-2-50x50.jpg 50w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/36538876072_fce51db7d6_k-2-456x446.jpg 456w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/36538876072_fce51db7d6_k-2.jpg 1340w\" sizes=\"auto, (max-width: 424px) 100vw, 424px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">A Dayak elder in Malinau, East Kalimantan, not far from the area where Colfer worked for decades. <a href=\"https:\/\/www.flickr.com\/photos\/cifor\/36538876072\/\">CIFOR Photo\/Eko Prianto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\">\n\t\t\t\t\t<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img width=\"276\" height=\"415\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/35355291144_4fc8a55bf0_k-276x415.jpg\" class=\"wp-image-57100\" alt=\"\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/35355291144_4fc8a55bf0_k-276x415.jpg 276w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/35355291144_4fc8a55bf0_k-266x400.jpg 266w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/35355291144_4fc8a55bf0_k-768x1157.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/35355291144_4fc8a55bf0_k-610x919.jpg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/35355291144_4fc8a55bf0_k-296x446.jpg 296w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/35355291144_4fc8a55bf0_k.jpg 1360w\" sizes=\"auto, (max-width: 276px) 100vw, 276px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">A portrait of a Dayak couple in East Kalimantan. <a href=\"https:\/\/www.flickr.com\/photos\/cifor\/35355291144\/in\/photolist-23uztv8-XEPhRW-VV3kMc-VSd5iL-X5wgeu-VSd3DJ-23uzsFT-XEPikw-Wb1e7c-WNokV9-WNokqG-X9y4Gu-VSSTmN-WTWfLE-WTWdks-WxzYa1-WTkDkh-VSe8NE-VSe83S-VSe7if-VSe6y9-VSe5KL-WxyTrq-VV3NX4-VSd4Ts-VSd32G-Wxy7mW-WFeZTf-VEaCwG\">CIFOR Photo\/Moses Ceasar<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t<\/div>\n<p><strong>AMBIL BAGIAN UNTUK KEMBALI BERSAMA<\/strong><\/p>\n<p>Di AS pada tahun 1976, lima wanita Afrika Amerika menggugat General Motors di bawah Judul VII dari Undang-undang Hak Sipil tahun 1964, untuk diskriminasi berbasis ras dan gender. Namun, perusahaan mengklaim bahwa karena mereka mempekerjakan wanita kulit putih dan pria kulit hitam, tuduhan tidak berlaku dalam kategori baik. &#8220;Kerangka hukum tidak dapat menangani masalah ketidaksetaraan ganda,&#8221; kata Ihalainen.<\/p>\n<p>Dalam kasus ini, Degraffenreid v. General Motors, yang memicu advokat hak-hak sipil dan sekarang sarjana intersektionalitas ternama Kimberl\u00e9 Crenshaw untuk mulai menulis tentang gagasan tersebut &#8211; dan urgensi untuk itu diterapkan pada kebijakan.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Pada akhirnya, tujuan dari makalah ini juga adalah untuk membantu penelitian membentuk dirinya sendiri dengan cara yang pada gilirannya dapat membentuk kebijakan untuk melihat marjinalisasi dengan cara yang lebih bernuansa dan menghindari situasi seperti kasus GM, di negara berkembang dan negara maju.<\/p>\n<p>Sijapati Basnett mengatakan bahwa selain menggunakan lensa, penelitian harus didekati dalam tiga bagian. Satu, menetapkan kerangka kerja konseptual, persimpangan khusus untuk diperiksa. Dua, pilih satu unit penyelidikan &#8211; individu, kelompok atau masyarakat tingkat makro &#8211; dan tentukan apakah data yang tersedia dapat diandalkan atau penelitian lapangan diperlukan. Ketiga, sesuaikan proyek Anda dengan penggunaan praktisnya, seperti menarik perhatian kelompok dan individu yang terpinggirkan atau mengadvokasi keadilan sosial dengan mendukung orang-orang seperti itu dan lingkungan yang mereka butuhkan.<\/p>\n<p>Salah satu metode yang ada yang mencapai ini, kata Colfer, adalah<a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/library\/6093\/gender-migration-and-forest-governance-re-thinking-community-forestry-policies-in-nepal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"> &#8216;manajemen kolaboratif adaptif&#8217;<\/a>, melihat tim peneliti multidisiplin bekerja bersama dengan masyarakat yang bergantung pada hutan. Dia dan timnya mengembangkan pendekatan yang diinformasikan antropologi ini di CIFOR pada awal tahun 2000, membangun hubungan dan pengaturan dengan perempuan dan laki-laki yang terpinggirkan di komunitas hutan, pada akhirnya membangun mereka untuk menerapkan solusi terhadap ketidaksesuaian masyarakat sebelum &#8211; atau tanpa, bahkan &#8211; kebijakan mulai berlaku .<\/p>\n<p>\u201cKemudian, tim [riset] juga dapat berfungsi sebagai saluran komunikasi dengan pihak luar seperti pemerintah, LSM dan orang lain dengan kekuatan lebih untuk mempengaruhi kebijakan dan praktik,\u201d tambahnya, menekankan pentingnya suara yang terpinggirkan dalam proses pembuatan kebijakan dan kemampuannya. untuk orang luar, seperti peneliti, untuk membantu mereka di sana.<\/p>\n<p>&#8220;Untuk saat ini, itu benar-benar terserah pada kita,&#8221; kata Ihalainen.<\/p>\n\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Aristokrat seperti kayu ulin abadi, dan rakyat jelata seperti ara yang mencekik yang membunuh. Namun, ketika Center for International Forestry Research Senior Associate Carol J. Pierce Colfer tinggal selama satu tahun di masyarakat adat Dayak di Indonesia dimana ajaran ini muncul, mereka adalah rakyat jelata &#8211; orang yang sangat pandai, berlidah tajam yang bisa berdebat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":259,"featured_media":57361,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[173],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[7875,2560,2696,6810,7876,7179,6836,2733,7874,2756],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3100],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[7023],"class_list":["post-57360","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gender-justice-tenure","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-interseksionalitas","tag-bahasa-jender","tag-bahasa-kalimantan","tag-bahasa-kesetaraan-jender","tag-bahasa-kesetaraan-sosial","tag-bahasa-masyarakat","tag-bahasa-masyarakat-hutan","tag-bahasa-nepal","tag-bahasa-pengelolaan-adaptif-kolaboratif","tag-bahasa-uganda","type-bahasa-fitur"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Interseksionalitas juga penting untuk hutan - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57360\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Interseksionalitas juga penting untuk hutan\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Aristokrat seperti kayu ulin abadi, dan rakyat jelata seperti ara yang mencekik yang membunuh. Namun, ketika Center for International Forestry Research Senior Associate Carol J. Pierce Colfer tinggal selama satu tahun di masyarakat adat Dayak di Indonesia dimana ajaran ini muncul, mereka adalah rakyat jelata &#8211; orang yang sangat pandai, berlidah tajam yang bisa berdebat [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57360\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-08-07T01:00:48+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-08-08T01:08:30+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/36804896990_39a791c01f_z.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"640\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"427\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Gabrielle Lipton\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57360\\\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57360\\\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan\"},\"author\":{\"name\":\"Gabrielle Lipton\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/765401318cb29a487ccdb9c913f91481\"},\"headline\":\"Interseksionalitas juga penting untuk hutan\",\"datePublished\":\"2018-08-07T01:00:48+00:00\",\"dateModified\":\"2018-08-08T01:08:30+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57360\\\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan\"},\"wordCount\":1397,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57360\\\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/08\\\/36804896990_39a791c01f_z.jpg\",\"articleSection\":[\"Gender, justice &amp; tenure\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57360\\\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2018\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57360\\\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57360\\\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan\",\"name\":\"Interseksionalitas juga penting untuk hutan - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57360\\\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57360\\\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/08\\\/36804896990_39a791c01f_z.jpg\",\"datePublished\":\"2018-08-07T01:00:48+00:00\",\"dateModified\":\"2018-08-08T01:08:30+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57360\\\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57360\\\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57360\\\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/08\\\/36804896990_39a791c01f_z.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/08\\\/36804896990_39a791c01f_z.jpg\",\"width\":640,\"height\":427,\"caption\":\"Di desa Nalma di Nepal, migrasi laki-laki dewasa ke luar negeri telah membuat identitas titik-temu dari mereka yang ditinggalkan lebih jelas - dan penting bagi pengelolaan lahan.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57360\\\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Interseksionalitas juga penting untuk hutan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57360\\\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57360\\\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/765401318cb29a487ccdb9c913f91481\",\"name\":\"Gabrielle Lipton\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/46dbcff6d2395ce72464543eb11c846060fe4786524237e1a4d13c97db814bcb?s=96&d=mm&r=g97ba9d991e9e2538aba894dd8855aba2\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/46dbcff6d2395ce72464543eb11c846060fe4786524237e1a4d13c97db814bcb?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/46dbcff6d2395ce72464543eb11c846060fe4786524237e1a4d13c97db814bcb?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Gabrielle Lipton\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/gabrielle-lipton\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57360\\\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Interseksionalitas juga penting untuk hutan - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57360\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Interseksionalitas juga penting untuk hutan","og_description":"Aristokrat seperti kayu ulin abadi, dan rakyat jelata seperti ara yang mencekik yang membunuh. Namun, ketika Center for International Forestry Research Senior Associate Carol J. Pierce Colfer tinggal selama satu tahun di masyarakat adat Dayak di Indonesia dimana ajaran ini muncul, mereka adalah rakyat jelata &#8211; orang yang sangat pandai, berlidah tajam yang bisa berdebat [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57360\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2018-08-07T01:00:48+00:00","article_modified_time":"2018-08-08T01:08:30+00:00","og_image":[{"width":640,"height":427,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/36804896990_39a791c01f_z.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Gabrielle Lipton","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57360\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57360\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan"},"author":{"name":"Gabrielle Lipton","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/765401318cb29a487ccdb9c913f91481"},"headline":"Interseksionalitas juga penting untuk hutan","datePublished":"2018-08-07T01:00:48+00:00","dateModified":"2018-08-08T01:08:30+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57360\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan"},"wordCount":1397,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57360\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/36804896990_39a791c01f_z.jpg","articleSection":["Gender, justice &amp; tenure"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57360\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan#respond"]}],"copyrightYear":"2018","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57360\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57360\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan","name":"Interseksionalitas juga penting untuk hutan - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57360\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57360\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/36804896990_39a791c01f_z.jpg","datePublished":"2018-08-07T01:00:48+00:00","dateModified":"2018-08-08T01:08:30+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57360\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57360\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57360\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/36804896990_39a791c01f_z.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/36804896990_39a791c01f_z.jpg","width":640,"height":427,"caption":"Di desa Nalma di Nepal, migrasi laki-laki dewasa ke luar negeri telah membuat identitas titik-temu dari mereka yang ditinggalkan lebih jelas - dan penting bagi pengelolaan lahan."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57360\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Interseksionalitas juga penting untuk hutan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57360\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57360\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/765401318cb29a487ccdb9c913f91481","name":"Gabrielle Lipton","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/46dbcff6d2395ce72464543eb11c846060fe4786524237e1a4d13c97db814bcb?s=96&d=mm&r=g97ba9d991e9e2538aba894dd8855aba2","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/46dbcff6d2395ce72464543eb11c846060fe4786524237e1a4d13c97db814bcb?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/46dbcff6d2395ce72464543eb11c846060fe4786524237e1a4d13c97db814bcb?s=96&d=mm&r=g","caption":"Gabrielle Lipton"},"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/gabrielle-lipton"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57360\/interseksionalitas-juga-penting-untuk-hutan#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/36804896990_39a791c01f_z.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57360","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/259"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=57360"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57360\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/57361"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=57360"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=57360"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=57360"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=57360"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=57360"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=57360"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=57360"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=57360"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=57360"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=57360"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=57360"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=57360"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=57360"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}