{"id":57278,"date":"2018-07-30T10:39:14","date_gmt":"2018-07-30T03:39:14","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=57278"},"modified":"2018-10-26T11:20:58","modified_gmt":"2018-10-26T04:20:58","slug":"padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57278\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan","title":{"rendered":"Padang rumput di laut yang terlupakan"},"content":{"rendered":"<p>Menyalahkan kenyataan karena kita adalah makhluk visual, pandangan dan perhatian konservasi global masih tertuju pada mangrove, rawa asin dan ekosistem pesisir lainnya (dan memang demikian), tampaknya ada yang tertinggal secara harfiah: padang lamun.<\/p>\n<p>Di bawah air yang tersembunyi, padang lamun menutupi kurang lebih 2% dasar laut, namun mempunyai peran penyerapan sekitar 10% atau lebih dari karbon &#8216;biru&#8217; lautan setiap tahunnya, padang lamun juga menyimpan karbon hanya sedikit dibawah bakau per hektarnya. Dan tidak seperti hutan, yang melepaskan kembali karbon yang telah disimpan setelah puluhan tahun atau berabad-abad, padang lamun menahan stok karbon selama ribuan tahun.<\/p>\n<p>Berfungsi seperti paru-paru, satu meter persegi lamun dapat menghasilkan 10 liter oksigen setiap hari ke perairan sekitarnya sekaligus menyaring polutan dan menambah nutrisi untuk memberi makan manate, kura-kura, kuda laut, hiu, ikan duyung dan ikan lain-lain. Menurut riset terbaru padang lamun menduduki urutan lima besar dari 25 perkarangan perikanan dunia terbaik, menjadikan padang lamun penting bagi keamanan pangan global dan mata pencaharian.<\/p>\n\n<p>Sayangnya, ekosistem ini memburuk dengan cepat, laju penurunan 0,9% sebelum tahun 1940 meningkat menjadi 7% sejak tahun 1990. Secara total, sekitar 29% dari semua padang lamun telah lenyap. Para ilmuwan mengatakan angka ini sama dengan hilangnya padang lamun seukuran lapangan sepak bola setiap setengah jam. Karena itu, cadangan karbon padang lamun dapat &#8211; dan sering &#8211; dilepaskan dalam sekejap.<\/p>\n<p>Ditemukan juga bahwa peningkatan suhu air akibat perubahan iklim, atau jatuhnya jangkar, dapat juga melepaskan karbon yang tersimpan selama ribuan tahun.<\/p>\n<p>Pada acara Blue Carbon Summit baru-baru ini di Jakarta, para peneliti padang lamun di Indonesia berbagi temuan tentang ekosistem yang belum diteliti ini, dan apa yang perlu dilakukan untuk memastikan umur panjang padang lamun terus berlanjut.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p><strong>DARI DARAT KE LAUT<\/strong><\/p>\n<p>Sekitar 100 juta tahun yang lalu, spesies tanaman berbunga bermigrasi dari terestrial ke lingkungan akuatik, mempertahankan akar, vena, dan kemampuan menghasilkan bunga dan biji. Lamun memiliki hubungan yang lebih dekat dengan palem dan bunga lili ketimbang rumput laut sebagai kembarannya yang jauh lebih sederhana, lamun berreproduksi melalui penyerbukan hidrofilik dan pertukaran nutrisi serta gas dengan air melalui daunnya.<\/p>\n<p>Saat ini, sekitar 72 spesies lamun ada di seluruh dunia, memiliki adaptasi bervariasi di berbagai lintang, suhu air, pasang surut, paparan gelombang dan jenis substrat sedimen dari dasar laut. Padang lamun dapat membuat di kedalaman sub-pasang surut hingga 40 meter, di lumpur dan endapan, di pasir kasar atau halus, di karang hidup dan mati, serta di area dengan spesies pesaing lainnya.<\/p>\n<p>Selanjutnya, cara lamun menyimpan karbon juga bervariasi dari satu tempat ke tempat lain, tergantung pada faktor-faktor serupa. Jika padang  terdiri dari satu atau banyak spesies lamun, penyimpanan karbon juga dapat terpengaruh. Jika spesiesnya besar atau kecil, penyimpanan karbon juga dapat terpengaruh. Jika air menjadi lebih hangat, atau ukuran partikel pasir menjadi lebih besar, atau spesies yang bermigrasi datang melewatinya, penyimpanan karbon juga dapat terpengaruh.<\/p>\n<p>Melindungi, mengelola dan memulihkan padang lamun dimulai dengan mengetahui kekhususan tempat hidup spesies dan penyimpanan karbon seperti apa. Di lepas pantai selatan pulau Sulawesi, misalnya, Rohani Ambo-Rappe, peneliti dari fakultas kelautan dan perikanan Universitas Hasanuddin, menemukan bahwa padang dengan paparan yang tinggi terhadap gelombang menyimpan lebih banyak karbon dalam bentuk biomassa di atas permukaan tanah dari lamunnya, sementara pada zona paparan rendah lebih banyak karbon tersimpan di akar di bawah permukaan tanah.<\/p>\n\n<p>Sementara itu, di Jawa Barat dan Jawa Timur, Dr. Devi Choesin dari Institut Teknologi Bandung menemukan sebagian besar karbon disimpan di bawah sedimen di seluruh papan, meskipun dengan tingkat variabilitas yang tinggi. Mengingat banyaknya kemungkinan dalam penelitian, metode penelitian untuk lamun, katanya, sulit untuk dibakukan, penelitian ini berkontribusi sebagian karena kurangnya data relatif pada lamun sejauh ini.<\/p>\n<p>\u201cBerapa lamun yang tersisa di Indonesia? Jika Anda bertanya kepada 10 orang, Anda akan mendapatkan 10 jawaban berbeda, \u201dkata Tonny Wagey, Direktur Eksekutif Dana Perwalian Perubahan Iklim Indonesia.<\/p>\n<p><strong>FAKTOR TAK TERBATAS<\/strong><\/p>\n<p>Alasan menurunnya lamun berkisar pada alasan yang biasa &#8211; pencemaran air, limbah plastik, eutrofikasi, pengembangan pariwisata &#8211; hingga yang kurang jelas, seperti penyu yang makan berlebihan, gelombang dan arus air yang berlebihan.<\/p>\n<p>Namun karena kurangnya perhatian dan penelitian ilmiah pada ekosistem ini, lamun belum secara resmi dimasukkan dalam inisiatif utama global dan platform global utama, seperti REDD + dan agenda UNFCCC.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Dalam agenda Indonesia &#8211; yang memiliki bentang alam lamun terbesar kedua secara global, setelah Australia &#8211; tujuan nasional yang ambisius untuk mengurangi emisi gas rumah kaca 26% pada tahun 2020 dapat menggunakan bantuan lamun, menurut salah satu pembicara di Blue Carbon Summit, ketimbang menempatkan semua tekanan pada ekosistem daratan.<\/p>\n<p>Pengelolaan yang berkelanjutan dan pengembangan lamun di sektor-sektor seperti perikanan juga dapat berkontribusi terhadap inisiatif Pembangunan Rendah Karbon suatu negara, dan perusahaan lokal dapat memanfaatkan lamun dalam tujuan yang lebih tradisional: untuk pupuk, furnitur dan bahan bangunan, serta perban dan perlengkapan medis . Guna memenuhi keinginan Presiden Joko Widodo mengurangi sampah plastik hingga 70% pada tahun 2025, Menteri Koordinator Bidang Kelautan dan Sumber Daya Alam mengatakan bahwa lamun dan singkong dapat digunakan sebagai pengganti plastik dalam botol air minum.<\/p>\n<p>Diatas &#8216;kertas&#8217; yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) dan mitra untuk menginformasikan kebijakan Indonesia di masa depan &#8211; hasil paling utama dari KTT &#8211; lamun dimasukkan dalam rekomendasi pertama, menyoroti peran pentingnya untuk menjaga level kenaikan lautan, langkah penting menuju perubahan laut untuk ekosistem ini.<\/p>\n\n\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_box related_promo_blue-carbon'>\n\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_fullwidth'>\n\t\t\t\t\t\t<div class='bg_sevent_box'><img src='https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/Blue-Carbon-Summit-Web-banner_2.jpg'><\/div>\n\t\t\t\t\t\t<div class='sevent'>\n\t\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_left'>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\n\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_right'>\n\t\t\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_right_text'>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_right_text_heading'>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<h1>BLUE CARBON SUMMIT<\/h1>\r\n<h5>17-18 July 2018 - Jakarta, Indonesia<\/h5>\r\nMainstreaming blue carbon into the national \r\nagenda to meet global commitments\r\n<h3><a href=\"http:\/\/events.globallandscapesforum.org\/blue-carbon-summit\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">LEARN MORE<\/a><\/h3>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t<\/div><div class='clear clearfix'><\/div>\n\t\t\t\t\t\t<\/div><div class='clear clearfix'><\/div>\n\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t<div class='clear clearfix'><\/div>\n\t\t\t\t\t<style>\n\t\t\t\t\t.related_promo_blue-carbon .bg_sevent_box {\n\t\t\t\t\t\tposition: absolute;\n\t\t\t\t\t\ttop: 0;\n\t\t\t\t\t\theight: 230px;\n\t\t\t\t\t\tleft: -315px;\n\t\t\t\t\t\toverflow: hidden;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_blue-carbon .bg_sevent_box img{ height:100%; }\n\t\t\t\t\t.related_promo_blue-carbon .sevent {\n\t\t\t\t\t\twidth: 100%;\n\t\t\t\t\t\tmargin: 0 auto;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_blue-carbon .sevent_main_heading{\n\t\t\t\t\t\tfont-size: 24px;\n\t\t\t\t\t\tfont-weight: bold;\n\t\t\t\t\t\tfont-family: \"PT Serif\", serif;\n\t\t\t\t\t\tline-height: 30px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_blue-carbon a .sevent_main_heading{\n\t\t\t\t\t\tcolor:#444;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_blue-carbon .sevent_view_link{\n\t\t\t\t\t\tdisplay: block;\n\t\t\t\t\t\tmargin: 0px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_blue-carbon .sevent_aprs_logo{\n\t\t\t\t\t\tmargin-top: 16px;\n\t\t\t\t\t\tdisplay: block;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_blue-carbon .sevent_sub_heading{\n\t\t\t\t\t\tfont-size: 18px;\n\t\t\t\t\t\tdisplay: block;\n\t\t\t\t\t\tfont-family: roboto;\n\t\t\t\t\t\tfont-weight: normal;\n\t\t\t\t\t\tcolor: #a4a4a4;\n\t\t\t\t\t\tpadding-top:10px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_blue-carbon .sevent_sub_desc{\n\t\t\t\t\t\tfont-size: 15px;\n\t\t\t\t\t\tdisplay: block;\n\t\t\t\t\t\tfont-family: roboto;\n\t\t\t\t\t\tfont-weight: normal;\n\t\t\t\t\t\tcolor: #a4a4a4;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_blue-carbon .sevent_left{\n\t\t\t\t\t\tpadding-top: 35px;\n\t\t\t\t\t\tpadding-left: 35px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_blue-carbon .sevent_right{\n\t\t\t\t\t\twidth:80%;\n\t\t\t\t\t\tpadding:20px 25px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_blue-carbon .sevent_fullwidth{\n\t\t\t\t\t\tbackground-color: #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\tborder-left: 600rem solid #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\tborder-right: 600rem solid #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\tpadding:0px 0px;\n\t\t\t\t\t\toverflow: hidden;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t\n\t\t\t\t\t@media all and (max-width: 767px){\n\t\t\t\t\t\t.related_promo_blue-carbon .sevent_fullwidth{\n\t\t\t\t\t\t\tborder-left: 0rem solid #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\t\tborder-right: 0rem solid #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t\t.related_promo_blue-carbon .sevent_right {\n\t\t\t\t\t\t\twidth: 100%;\n\t\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t\t.sevent_main_heading br{\n\t\t\t\t\t\t\tdisplay:none;\n\t\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t\t.related_promo_blue-carbon .sevent_aprs_logo img{\n\t\t\t\t\t\t\tmax-width:100%;\n\t\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t<\/style>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menyalahkan kenyataan karena kita adalah makhluk visual, pandangan dan perhatian konservasi global masih tertuju pada mangrove, rawa asin dan ekosistem pesisir lainnya (dan memang demikian), tampaknya ada yang tertinggal secara harfiah: padang lamun. Di bawah air yang tersembunyi, padang lamun menutupi kurang lebih 2% dasar laut, namun mempunyai peran penyerapan sekitar 10% atau lebih dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":259,"featured_media":57289,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1072,96],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[2503,7865,7868,2493,7863,2596,7862,7866,7864,7867],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[6545],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[7023],"class_list":["post-57278","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-landscapes","category-mangroves","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-cadangan-karbon","tag-bahasa-devi-choesin","tag-bahasa-institut-teknologi-bandung","tag-bahasa-karbon-biru","tag-bahasa-lamun","tag-bahasa-mangrove","tag-bahasa-padang-lamun","tag-bahasa-rohani-ambo-rappe","tag-bahasa-tonny-wagey","tag-bahasa-universitas-hasanuddin","type-bahasa-liputan-acara"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Padang rumput di laut yang terlupakan - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57278\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Padang rumput di laut yang terlupakan\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Menyalahkan kenyataan karena kita adalah makhluk visual, pandangan dan perhatian konservasi global masih tertuju pada mangrove, rawa asin dan ekosistem pesisir lainnya (dan memang demikian), tampaknya ada yang tertinggal secara harfiah: padang lamun. Di bawah air yang tersembunyi, padang lamun menutupi kurang lebih 2% dasar laut, namun mempunyai peran penyerapan sekitar 10% atau lebih dari [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57278\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-07-30T03:39:14+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-10-26T04:20:58+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/Rhizophora-2.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"900\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Forests News staff\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57278\\\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57278\\\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan\"},\"author\":{\"name\":\"Gabrielle Lipton\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/765401318cb29a487ccdb9c913f91481\"},\"headline\":\"Padang rumput di laut yang terlupakan\",\"datePublished\":\"2018-07-30T03:39:14+00:00\",\"dateModified\":\"2018-10-26T04:20:58+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57278\\\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan\"},\"wordCount\":857,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57278\\\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/07\\\/Rhizophora-2.jpg\",\"articleSection\":[\"Landscapes\",\"mangroves\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57278\\\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57278\\\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57278\\\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan\",\"name\":\"Padang rumput di laut yang terlupakan - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57278\\\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57278\\\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/07\\\/Rhizophora-2.jpg\",\"datePublished\":\"2018-07-30T03:39:14+00:00\",\"dateModified\":\"2018-10-26T04:20:58+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57278\\\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57278\\\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57278\\\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/07\\\/Rhizophora-2.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/07\\\/Rhizophora-2.jpg\",\"width\":1200,\"height\":900,\"caption\":\"View of seagrass on peat swamp forest, Central Kalimantan, Indonesia.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57278\\\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Padang rumput di laut yang terlupakan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57278\\\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57278\\\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/765401318cb29a487ccdb9c913f91481\",\"name\":\"Gabrielle Lipton\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/46dbcff6d2395ce72464543eb11c846060fe4786524237e1a4d13c97db814bcb?s=96&d=mm&r=g97ba9d991e9e2538aba894dd8855aba2\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/46dbcff6d2395ce72464543eb11c846060fe4786524237e1a4d13c97db814bcb?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/46dbcff6d2395ce72464543eb11c846060fe4786524237e1a4d13c97db814bcb?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Gabrielle Lipton\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/gabrielle-lipton\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/57278\\\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Padang rumput di laut yang terlupakan - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57278\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Padang rumput di laut yang terlupakan","og_description":"Menyalahkan kenyataan karena kita adalah makhluk visual, pandangan dan perhatian konservasi global masih tertuju pada mangrove, rawa asin dan ekosistem pesisir lainnya (dan memang demikian), tampaknya ada yang tertinggal secara harfiah: padang lamun. Di bawah air yang tersembunyi, padang lamun menutupi kurang lebih 2% dasar laut, namun mempunyai peran penyerapan sekitar 10% atau lebih dari [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57278\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2018-07-30T03:39:14+00:00","article_modified_time":"2018-10-26T04:20:58+00:00","og_image":[{"width":1200,"height":900,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/Rhizophora-2.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Forests News staff","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57278\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57278\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan"},"author":{"name":"Gabrielle Lipton","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/765401318cb29a487ccdb9c913f91481"},"headline":"Padang rumput di laut yang terlupakan","datePublished":"2018-07-30T03:39:14+00:00","dateModified":"2018-10-26T04:20:58+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57278\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan"},"wordCount":857,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57278\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/Rhizophora-2.jpg","articleSection":["Landscapes","mangroves"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57278\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57278\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57278\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan","name":"Padang rumput di laut yang terlupakan - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57278\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57278\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/Rhizophora-2.jpg","datePublished":"2018-07-30T03:39:14+00:00","dateModified":"2018-10-26T04:20:58+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57278\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57278\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57278\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/Rhizophora-2.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/Rhizophora-2.jpg","width":1200,"height":900,"caption":"View of seagrass on peat swamp forest, Central Kalimantan, Indonesia."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57278\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Padang rumput di laut yang terlupakan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57278\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57278\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/765401318cb29a487ccdb9c913f91481","name":"Gabrielle Lipton","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/46dbcff6d2395ce72464543eb11c846060fe4786524237e1a4d13c97db814bcb?s=96&d=mm&r=g97ba9d991e9e2538aba894dd8855aba2","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/46dbcff6d2395ce72464543eb11c846060fe4786524237e1a4d13c97db814bcb?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/46dbcff6d2395ce72464543eb11c846060fe4786524237e1a4d13c97db814bcb?s=96&d=mm&r=g","caption":"Gabrielle Lipton"},"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/gabrielle-lipton"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/57278\/padang-rumput-di-laut-yang-tak-terlupakan#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/Rhizophora-2.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57278","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/259"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=57278"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57278\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/57289"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=57278"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=57278"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=57278"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=57278"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=57278"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=57278"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=57278"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=57278"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=57278"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=57278"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=57278"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=57278"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=57278"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}