{"id":56345,"date":"2018-05-22T11:32:42","date_gmt":"2018-05-22T04:32:42","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=56345"},"modified":"2018-05-22T11:32:42","modified_gmt":"2018-05-22T04:32:42","slug":"memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56345\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna","title":{"rendered":"Memperbaiki bentang alam: Gunakan alat tepat guna"},"content":{"rendered":"<p>Dengan kesepakatan untuk memulihkan jutaan hektar lahan terdegradasi dan terdeforestasi, banyak negara mengambil langkah pertama dengan jalan yang dibentuk oleh berbagai keputusan lokal. Regenerasi alami, hutan tanaman atau keduanya? Bagaimana dengan bentang alam mosaik hutan alam, pertanian dan agroforestri?<\/p>\n<p>Untungnya, para peneliti, praktisi, dan pengambil keputusan memiliki semakin banyak alat di tangan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, mengevaluasi imbal balik dan membuat pilihan. Tetapi pengalaman di lapangan mengungkapkan kesenjangan kritis belum ditangani oleh metode apa pun, menurut <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/library\/6792\/decision-support-tools-for-forest-landscape-restoration-current-status-and-future-outlook\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penelitian baru<\/a>.<\/p>\n<p>\u201cAlat untuk membantu dalam restorasi bentang alam hutan terus berkembang, dan yang sudah ada sedang disempurnakan,\u201d kata Robin Chazdon, profesor riset dari Universitas Sunshine Coast di Queensland, Australia, dan rekan penulis riset ini, yang mengulas alat-alat yang tersedia dan menawarkan rekomendasi untuk pengembangan di masa depan.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>\u201cKami ingin mengetahui dimana kami berada, mengidentifikasi celah dan melihat dimana mengisi celah itu akan benar-benar membuat perbedaan.\u201d<\/p>\n<p>Di seluruh dunia, hampir 50 negara telah berjanji untuk merestorasi 160 juta hektar lahan terdegradasi dan terdeforestasi sebagai bagian dari <a href=\"http:\/\/www.bonnchallenge.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Tantangan Bonn 2011<\/a>. Tujuannya adalah 150 juta hektar di bawah restorasi pada tahun 2020 dan 350 juta hektar pada tahun 2030.<\/p>\n<p>\u201cTujuan restorasi bentang alam hutan bukan sekedar meningkatkan tutupan pohon atau menangkap karbon &#8211; terutama di negara-negara dimana deforestasi adalah sumber utama emisi gas rumah kaca \u2013 namun juga untuk memulihkan fungsi ekosistem dan meningkatkan mata pencaharian lokal,\u201d kata Manuel Guariguata, rekan penulis dan ilmuwan utama <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR)<\/a>.<\/p>\n<p>&#8220;Untuk tujuan ini, latihan prioritas melalui penerapan alat pendukung keputusan untuk membimbing tujuan restorasi adalah yang terpenting.&#8221;<\/p>\n\n<p><strong>MENJELAJAH DI SELURUH DUNIA<\/strong><\/p>\n<p>Para ahli memperkirakan kurang lebih restorasi akan dilakukan di 350 juta hektar lahan terdegradasi dan terdeforestasi tahun 2030 &#8211; tujuan dari Tantangan Bonn yang didukung secara global &#8211; akan menghasilkan sebanyak US$ 170 miliar setiap tahun berupa manfaat bersih dengan melindungi daerah aliran sungai, mendukung produksi tanaman dan hasil hutan, meningkatkan pembangunan pedesaan dan mengurangi kemiskinan.<\/p>\n<p>Namun, tantangannya adalah menempatkan janji reboisasi dan restorasi nasional ke dalam tindakan di tingkat lokal, seperti dikatakan Chazdon, \u201ctidak ada solusi satu ukuran sama untuk semua.\u201d Kebutuhan dan peluang bervariasi dari satu negara ke negara lain, tetapi bahkan di satu negara atau wilayah saja, restorasi dapat mengambil berbagai bentuk, tergantung pada jenis ekosistem, tingkat degradasi dan kebutuhan masyarakat lokal.<\/p>\n<p>Beberapa metodologi telah dirancang untuk membantu negara atau wilayah untuk menganalisis kemungkinan dalam <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/peatlands\/forest-landscape-restoration\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">restorasi bentang alam hutan<\/a> (FLR). <a href=\"https:\/\/www.wri.org\/sites\/default\/files\/WRI_Restoration_Diagnostic_0.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Diagnostik restorasi<\/a> adalah alat untuk mengembangkan strategi nasional atau regional, sementara <strong><em>Restoration Opportunities Assessment Methodology<\/em><\/strong> atau <a href=\"https:\/\/www.iucn.org\/theme\/forests\/our-work\/forest-landscape-restoration\/restoration-opportunities-assessment-methodology-roam\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Metodologi Penilaian Peluang Restorasi<\/a> (ROAM) membantu perencana nasional mengidentifikasi area prioritas untuk pemulihan di wilayah mereka.<\/p>\n<p>\u201cBeberapa negara telah menggunakan ROAM sebagai persiapan untuk melakukan restorasi, tetapi berangkat dari latihan perencanaan tingkat tinggi ini untuk melaksanakan restorasi di bentang alam nyata melibatkan serangkaian langkah lain, dan tidak banyak alat di luar sana untuk membantu proses itu, &#8220;Kata Chazdon.<\/p>\n<p>Selain itu, penekanan berlebihan pada degradasi lahan sebagai &#8216;masalah&#8217; dan pemulihan sebagai &#8216;solusi&#8217; dapat menyebabkan fokus yang terlalu sempit, Chazdon dan Guariguata mengatakan.<\/p>\n<p>Dalam laporan itu, mereka menyatakan: \u201cKenyataannya, masalahnya adalah kurangnya keamanan pangan, pasokan air yang tidak memadai, risiko tinggi bencana kebakaran, perubahan iklim dan hilangnya spesies. Program restorasi bentang alam hutan yang terencana dengan baik dapat berjalan jauh untuk menyelesaikan masalah ini tanpa perlu penilaian degradasi lahan.\u201d<\/p>\n<p>Daripada mempertimbangkan hanya degradasi, penulis menyarankan \u201cfokus pada area dimana beberapa manfaat restorasi dapat dicapai dengan biaya minimal.\u201d<\/p>\n<p>Mereka memberi rekomendasi menggabungkan opsi restorasi yang berbeda dalam <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/tag\/mosaic-landscape\/\">bentang alam mosaik<\/a>, dengan melibatkan mengubah daerah yang sangat terdegradasi menjadi lahan pertanian yang berkelanjutan, area agroforestri atau <em>woodlots<\/em> spesies asli.<\/p>\n<p>Selain menyediakan mata pencaharian dan layanan ekosistem bagi masyarakat setempat, pendekatan model ini juga dapat menghasilkan laba atas investasi keuangan, pendapat peneliti.<\/p>\n<p>Jenis perencanaan seperti itu membutuhkan keputusan penggunaan lahan dan restorasi lahan yang dibuat secara lokal, dengan keterlibatan masyarakat, pemerintah daerah, bisnis dan pemangku kepentingan lainnya. Karena sebagian besar alat yang tersedia saat ini dirancang untuk perencanaan pemulihan di tingkat nasional, ada kebutuhan untuk metodologi untuk membantu pengambilan keputusan lokal, kata Chazdon.<\/p>\n<p>\u201cSemakin banyak masyarakat lokal yang bersiap untuk restorasi bentang alam,\u201d katanya. \u201cMereka mengakui kebutuhan untuk merestorasi tanah mereka dan meningkatkan mata pencaharian mereka. Kita perlu menjangkau kelompok-kelompok itu dan membantu mereka memulai dan mencapai tujuan mereka.\u201d<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p class=\"p1\">\n\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_box related_promo_aprs-new'>\n\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_fullwidth'>\n\t\t\t\t\t\t<div class='bg_sevent_box'><img src='https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/03\/forestnews-APRS-2018-566x270.jpg'><\/div>\n\t\t\t\t\t\t<div class='sevent'>\n\t\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_left'>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\n\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_right'>\n\t\t\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_right_text'>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_right_text_heading'>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<h1>3rd ASIA-PACIFIC RAINFOREST SUMMIT<\/h1>\r\n<h5>23-25 April 2018 - Yogyakarta, Indonesia<\/h5>\r\nProtecting forests and people, supporting \r\neconomic growth\r\n<h3><a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/asia-pacific-rainforest-summit-2018\/aprs-2018-as-it-happened\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">VIEW SUMMARY<\/a><\/h3>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t<\/div><div class='clear clearfix'><\/div>\n\t\t\t\t\t\t<\/div><div class='clear clearfix'><\/div>\n\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t<div class='clear clearfix'><\/div>\n\t\t\t\t\t<style>\n\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new .bg_sevent_box {\n\t\t\t\t\t\tposition: absolute;\n\t\t\t\t\t\ttop: 0;\n\t\t\t\t\t\theight: 230px;\n\t\t\t\t\t\tleft: -315px;\n\t\t\t\t\t\toverflow: hidden;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new .bg_sevent_box img{ height:100%; }\n\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new .sevent {\n\t\t\t\t\t\twidth: 100%;\n\t\t\t\t\t\tmargin: 0 auto;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new .sevent_main_heading{\n\t\t\t\t\t\tfont-size: 24px;\n\t\t\t\t\t\tfont-weight: bold;\n\t\t\t\t\t\tfont-family: \"PT Serif\", serif;\n\t\t\t\t\t\tline-height: 30px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new a .sevent_main_heading{\n\t\t\t\t\t\tcolor:#444;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new .sevent_view_link{\n\t\t\t\t\t\tdisplay: block;\n\t\t\t\t\t\tmargin: 0px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new .sevent_aprs_logo{\n\t\t\t\t\t\tmargin-top: 16px;\n\t\t\t\t\t\tdisplay: block;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new .sevent_sub_heading{\n\t\t\t\t\t\tfont-size: 18px;\n\t\t\t\t\t\tdisplay: block;\n\t\t\t\t\t\tfont-family: roboto;\n\t\t\t\t\t\tfont-weight: normal;\n\t\t\t\t\t\tcolor: #a4a4a4;\n\t\t\t\t\t\tpadding-top:10px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new .sevent_sub_desc{\n\t\t\t\t\t\tfont-size: 15px;\n\t\t\t\t\t\tdisplay: block;\n\t\t\t\t\t\tfont-family: roboto;\n\t\t\t\t\t\tfont-weight: normal;\n\t\t\t\t\t\tcolor: #a4a4a4;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new .sevent_left{\n\t\t\t\t\t\tpadding-top: 35px;\n\t\t\t\t\t\tpadding-left: 35px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new .sevent_right{\n\t\t\t\t\t\twidth:80%;\n\t\t\t\t\t\tpadding:20px 25px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new .sevent_fullwidth{\n\t\t\t\t\t\tbackground-color: #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\tborder-left: 600rem solid #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\tborder-right: 600rem solid #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\tpadding:0px 0px;\n\t\t\t\t\t\toverflow: hidden;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t\n\t\t\t\t\t@media all and (max-width: 767px){\n\t\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new .sevent_fullwidth{\n\t\t\t\t\t\t\tborder-left: 0rem solid #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\t\tborder-right: 0rem solid #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new .sevent_right {\n\t\t\t\t\t\t\twidth: 100%;\n\t\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t\t.sevent_main_heading br{\n\t\t\t\t\t\t\tdisplay:none;\n\t\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new .sevent_aprs_logo img{\n\t\t\t\t\t\t\tmax-width:100%;\n\t\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t<\/style><\/p>\n<p><strong>MELENGKAPI ALAT-ALAT<\/strong><\/p>\n<p>Beberapa alat sudah ada untuk membantu para perencana memetakan berbagai cara penggunaan bentang alam. Guna membantu mempertimbangkan imbal balik yang pasti muncul dengan keputusan penggunaan lahan, maka akan lebih banyak data tentang biaya ekonomi dan manfaat restorasi bentang alam, kata Chazdon.<\/p>\n<p>Juga diperlukan alat yang dirancang untuk perencana lokal dan anggota masyarakat yang mungkin tidak memiliki pengalaman atau keterampilan teknis yang diperlukan untuk menggunakan teknik pemodelan yang canggih.<\/p>\n<p>\u201cAlat-alat lain dapat membantu mereka melihat manfaat ekonomi dan mengembangkan skenario, seperti di mana mereka membangun agroforestri, persemaian untuk kayu komersial, kebun atau sistem <a href=\"http:\/\/ciat.cgiar.org\/silvopastoral-systems-an-option-for-sustainable-livestock-in-post-conflict-colombia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">silvopastura<\/a>,\u201d kata Chazdon.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Aplikasi online atau game dapat memberikan cara mudah yang digunakan untuk menguji berbagai kombinasi opsi restorasi untuk bentang alam mosaik, menghitung berapa banyak karbon yang dapat mereka simpan dari waktu ke waktu atau bagaimana mereka akan memengaruhi suplai air. Mereka juga harus memasukkan dampak sosial, seperti sumber pendapatan potensial, yang sering diabaikan dalam perencanaan bentang alam, katanya.<\/p>\n<p>Memulihkan fungsi ekosistem mungkin memerlukan waktu puluhan tahun, tetapi anggota masyarakat setempat membutuhkan sumber pendapatan langsung. Dengan menguji skenario yang berbeda, orang dapat melihat efek potensial dari menggabungkan produksi jangka pendek dari tanaman atau spesies kayu cepat tumbuh &#8211; seperti eukaliptus &#8211; dengan tindakan jangka panjang, seperti mendorong regenerasi alami atau menanam spesies kayu mewah yang dapat tumbuh selama 30 hingga 40 tahun untuk siap tebang tetapi akan mengambil harga yang lebih tinggi di pasar.<\/p>\n<p>Bagian dari kerumitan restorasi bentang alam hutan adalah keputusan yang dibuat hari ini mungkin hanya berbuah beberapa dekade &#8211; atau bahkan beberapa generasi &#8211; dari sekarang. Pemantauan, sehingga penyesuaian dapat dilakukan untuk beradaptasi dengan kondisi yang berubah, menimbulkan tantangan lain bagi desainer alat.<\/p>\n<p>\u201cApa yang saya temukan menarik mengenai merancang alat pendukung keputusan adalah bahwa mereka memberikan kesempatan untuk koordinasi di antara peneliti, praktisi, dan pembuat kebijakan,\u201d kata Chazdon. \u201cMereka menyediakan cara untuk bekerja bersama, karena banyak orang di tiga wilayah tersebut dapat terlibat dalam mencoba mereka dan memberikan umpan balik.\u201d<\/p>\n<p>Kepentingan internasional dalam restorasi bentang alam hutan semakin berkembang, dengan <a href=\"http:\/\/www.wri.org\/our-work\/project\/initiative-20x20%5D\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">negara-negara Amerika Latin berkomitmen untuk membawa 20 juta hektar ke dalam restorasi pada tahun 2020<\/a> dan janji Afrika untuk membawa 100 juta hektar ke dalam restorasi pada tahun 2030.<\/p>\n<p>Para pembuat kebijakan, pejabat pemerintah, anggota masyarakat dan ilmuwan sekarang menghadapi tantangan untuk mengubah komitmen tersebut ke dalam rencana yang akan menghasilkan bentang alam yang lebih hijau dan mata pencaharian yang lebih baik bagi masyarakat setempat. Tak lama, peneliti mungkin menemukan bahwa ada aplikasi untuk itu.<\/p>\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dengan kesepakatan untuk memulihkan jutaan hektar lahan terdegradasi dan terdeforestasi, banyak negara mengambil langkah pertama dengan jalan yang dibentuk oleh berbagai keputusan lokal. Regenerasi alami, hutan tanaman atau keduanya? Bagaimana dengan bentang alam mosaik hutan alam, pertanian dan agroforestri? Untungnya, para peneliti, praktisi, dan pengambil keputusan memiliki semakin banyak alat di tangan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":84,"featured_media":56348,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[137],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[7619,7336,7717,7719,7718,7720,7072],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[831],"class_list":["post-56345","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forest-management-restoration","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-aprs2018","tag-bahasa-flr","tag-bahasa-pembuatan-keputusan","tag-bahasa-reforestasi","tag-bahasa-restorasi-bentang-alam-hutan","tag-bahasa-roam","tag-bahasa-tantangan-bonn","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Memperbaiki bentang alam: Gunakan alat tepat guna - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56345\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Memperbaiki bentang alam: Gunakan alat tepat guna\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Dengan kesepakatan untuk memulihkan jutaan hektar lahan terdegradasi dan terdeforestasi, banyak negara mengambil langkah pertama dengan jalan yang dibentuk oleh berbagai keputusan lokal. Regenerasi alami, hutan tanaman atau keduanya? Bagaimana dengan bentang alam mosaik hutan alam, pertanian dan agroforestri? Untungnya, para peneliti, praktisi, dan pengambil keputusan memiliki semakin banyak alat di tangan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56345\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-05-22T04:32:42+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/35492433974_02725352f3_k.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2048\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1363\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Forests News staff\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@barbara_fraser\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56345\\\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56345\\\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna\"},\"author\":{\"name\":\"Barbara Fraser\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/3f84c53b70c9b8fa7a5689aaa3c5076f\"},\"headline\":\"Memperbaiki bentang alam: Gunakan alat tepat guna\",\"datePublished\":\"2018-05-22T04:32:42+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56345\\\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna\"},\"wordCount\":1101,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56345\\\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/05\\\/35492433974_02725352f3_k.jpg\",\"articleSection\":[\"Forest management &amp; restoration\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56345\\\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56345\\\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56345\\\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna\",\"name\":\"Memperbaiki bentang alam: Gunakan alat tepat guna - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56345\\\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56345\\\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/05\\\/35492433974_02725352f3_k.jpg\",\"datePublished\":\"2018-05-22T04:32:42+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56345\\\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56345\\\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56345\\\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/05\\\/35492433974_02725352f3_k.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/05\\\/35492433974_02725352f3_k.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1363,\"caption\":\"Mulai dari metodologi tingkat tinggi hingga aplikasi dan game ponsel, alat pendukung keputusan sangat penting bagi keberhasilan restorasi bentang alam.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56345\\\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Memperbaiki bentang alam: Gunakan alat tepat guna\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56345\\\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56345\\\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/3f84c53b70c9b8fa7a5689aaa3c5076f\",\"name\":\"Barbara Fraser\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1599345ef9d1d6961691591c0797e4b826044aa2a784b0c28436e3e6469a0b88?s=96&d=mm&r=g1ae95544d84bf46eb90aaaeb70d88c67\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1599345ef9d1d6961691591c0797e4b826044aa2a784b0c28436e3e6469a0b88?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1599345ef9d1d6961691591c0797e4b826044aa2a784b0c28436e3e6469a0b88?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Barbara Fraser\"},\"description\":\"Barbara Fraser has lived for more than two decades in Peru, where her work as a freelance journalist has taken her from the desert coast to the foot of Andean glaciers to native communities in the Amazon basin. She has a bachelor's degree in communications and a Master's in environmental studies and specializes in reporting on environmental, public health, indigenous and social issues.\",\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/x.com\\\/@barbara_fraser\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/barbara-fraser\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56345\\\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Memperbaiki bentang alam: Gunakan alat tepat guna - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56345\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Memperbaiki bentang alam: Gunakan alat tepat guna","og_description":"Dengan kesepakatan untuk memulihkan jutaan hektar lahan terdegradasi dan terdeforestasi, banyak negara mengambil langkah pertama dengan jalan yang dibentuk oleh berbagai keputusan lokal. Regenerasi alami, hutan tanaman atau keduanya? Bagaimana dengan bentang alam mosaik hutan alam, pertanian dan agroforestri? Untungnya, para peneliti, praktisi, dan pengambil keputusan memiliki semakin banyak alat di tangan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56345\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2018-05-22T04:32:42+00:00","og_image":[{"width":2048,"height":1363,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/35492433974_02725352f3_k.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Forests News staff","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@barbara_fraser","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56345\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56345\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna"},"author":{"name":"Barbara Fraser","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/3f84c53b70c9b8fa7a5689aaa3c5076f"},"headline":"Memperbaiki bentang alam: Gunakan alat tepat guna","datePublished":"2018-05-22T04:32:42+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56345\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna"},"wordCount":1101,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56345\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/35492433974_02725352f3_k.jpg","articleSection":["Forest management &amp; restoration"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56345\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56345\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56345\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna","name":"Memperbaiki bentang alam: Gunakan alat tepat guna - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56345\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56345\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/35492433974_02725352f3_k.jpg","datePublished":"2018-05-22T04:32:42+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56345\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56345\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56345\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/35492433974_02725352f3_k.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/35492433974_02725352f3_k.jpg","width":2048,"height":1363,"caption":"Mulai dari metodologi tingkat tinggi hingga aplikasi dan game ponsel, alat pendukung keputusan sangat penting bagi keberhasilan restorasi bentang alam."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56345\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Memperbaiki bentang alam: Gunakan alat tepat guna"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56345\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56345\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/3f84c53b70c9b8fa7a5689aaa3c5076f","name":"Barbara Fraser","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1599345ef9d1d6961691591c0797e4b826044aa2a784b0c28436e3e6469a0b88?s=96&d=mm&r=g1ae95544d84bf46eb90aaaeb70d88c67","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1599345ef9d1d6961691591c0797e4b826044aa2a784b0c28436e3e6469a0b88?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1599345ef9d1d6961691591c0797e4b826044aa2a784b0c28436e3e6469a0b88?s=96&d=mm&r=g","caption":"Barbara Fraser"},"description":"Barbara Fraser has lived for more than two decades in Peru, where her work as a freelance journalist has taken her from the desert coast to the foot of Andean glaciers to native communities in the Amazon basin. She has a bachelor's degree in communications and a Master's in environmental studies and specializes in reporting on environmental, public health, indigenous and social issues.","sameAs":["https:\/\/x.com\/@barbara_fraser"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/barbara-fraser"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56345\/memperbaiki-bentang-alam-gunakan-alat-tepat-guna#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/35492433974_02725352f3_k.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56345","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/84"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=56345"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56345\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/56348"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=56345"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=56345"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=56345"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=56345"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=56345"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=56345"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=56345"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=56345"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=56345"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=56345"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=56345"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=56345"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=56345"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}