{"id":56021,"date":"2018-05-03T14:20:48","date_gmt":"2018-05-03T07:20:48","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=56021"},"modified":"2018-05-03T16:29:29","modified_gmt":"2018-05-03T09:29:29","slug":"apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56021\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018","title":{"rendered":"Laporan terbaru dari Asia-Pacific Rainforest Summit 2018"},"content":{"rendered":"<p>Asia-Pasifik merupakan kawasan dengan pertumbuhan tercepat, sekaligus menjadi tempat tiga kota terbesar dunia.<\/p>\n<p>Kawasan ini juga memiliki <a href=\"http:\/\/www.fao.org\/asiapacific\/apfc\/en\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">740 juta hektare hutan<\/a>, 26% dari total area lahannya atau 18% dari tutupan hutan global. Lebih dari 450 juta orang bergantung pada hutan sebagai penghidupannya.<\/p>\n<p>Melalui tema \u201cMelindungi hutan dan masyarakat, menopang pertumbuhan ekonomi,\u201d <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/asia-pacific-rainforest-summit-2018\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Asia-Pacific Rainforest Summit<\/a> (APRS) ketiga menelaah bagaimana pembangunan ekonomi dan sosial regional lebih terintegrasi dengan tujuan perubahan iklim dan pengurangan emisi karbon.<\/p>\n<p>Setelah <a href=\"https:\/\/www.asiapacificrainforestpartnership.org\/summits\/sydney-2014\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">APRS pertama di Syney pada 2014<\/a> dan <a href=\"https:\/\/www.asiapacificrainforestpartnership.org\/summits\/brunei-2016\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">kedua di Brunei Darussalam pada 2016<\/a>, APRS yang digelar di pusat budaya Jawa, Yogyakarta tahun ini merupakan yang terbesar. Pada 23-25 April, lebih dari 1.200 perwakilan dari akademisi, masyarakat sipil, pelaku usaha, pemerintah dan lembaga penelitian berkumpul mengikuti panel, diskusi, lokakarya dan kunjungan lapangan.<\/p>\n<p>Para pemimpin kawasan ini membentuk <a href=\"https:\/\/www.asiapacificrainforestpartnership.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Asia-Pacific Rainforest Partnership<\/a> (APRP) dan melakukan pertemuan dua tahunan untuk turut mewujudkan tujuan global menghentikan kehilangan hutan pada 2030, mengentaskan kemiskinan melalui <a href=\"https:\/\/www.un.org\/sustainabledevelopment\/sustainable-development-goals\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Sustainable Development Goals<\/a> (SDGs), mengurangi emisi karbon melalui <a href=\"http:\/\/www.un-redd.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">REDD+<\/a>, dan perubahan iklim melalui <a href=\"https:\/\/unfccc.int\/process-and-meetings\/the-paris-agreement\/the-paris-agreement\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Perjanjian Paris<\/a> \u2013 sebagaimana didiskusikan panel tingkat tinggi di hari pertama.<\/p>\n<p>\u201cSejak pertemuan di Brunei, saya senang dengan kemajuan signifikan terkait REDD+ baik secara regional maupun global,\u201d kata Menteri Lingkungan Hidup dan Energi Ausralia, Josh Frydenberg pada upacara pembukaan.<\/p>\n<p>\u201cKita perlu menjaga momentum ini dan mempercepat perubahan jika hendak melindungi hutan dan masyarakat kita, seraya menjaga pertumbuhan ekonomi.\u201d<\/p>\n<p>Sebagai negara tuan rumah \u2013 dan didukung oleh Pemerintah Australia dan <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional<\/a> (CIFOR) \u2013 Indonesia mengangkat pencapaian aktualnya.<\/p>\n<p>\u201cDalam tiga tahun terakhir, kami berhasil mengurangi laju deforestasi (tahunan) dari 1,09 juta hektare menjadi 610.000 hektare, dan pada 2017 menjadi 480.000 juta hektare,\u201d kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia, Siti Nurbaya.<\/p>\n<p>\u201cKami sadar bahwa hutan merupakan kontributor utama emisi karbon, terutama akibat kebakaran hutan \u2013 khususnya di lahan gambut. Hutan menyumbang 18% target reduksi emisi kami dan diharapkan berkontribusi pada lebih dari separuh target (Perjanjian Paris) kami.\u201d<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Menteri Siti Nurbaya juga memaparkan hutan kemasyarakatan dan perhutanan sosial sebagai tema utama Konferensi. Indonesia menetapkan target untuk mengalokasikan 12,7 juta hektare lahan untuk dikelola bersama masyarakat dalam lima skema perhutanan sosial. Nurbaya berharap negara lain juga turut memprioritaskan tata kelola hutan berbasis masyarakat.<\/p>\n<p>Hutan kemasyarakatan menjadi salah satu sub-topik yang dibahas dalam panel ahli di hari kedua. Selain itu, dibahas pula restorasi dan manajemen lestari lahan gambut, mangrove dan karbon biru, ekowisata dan konservasi keragaman hayati, hutan produksi, serta pembiayaan hutan, investasi dan perdagangan. Fokus isu yang dibahas dirinci di bawah ini.<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p><strong>PERMODALAN SWASTA<\/strong><\/p>\n<p>Para pembicara dalam konferensi menyuarakan perlunya meningkatkan dukungan sektor swasta dalam mengurangi emisi gas rumah kaca \u2013 dan disertai kebijakan yang dapat mendorong langkah ini.<\/p>\n<p>Perusahaan-perusahaan perlu insentif \u2013 dan jaminan profitabilitas \u2013 jika dituntut menyeimbangkan aktivitas bisnis dengan perlindungan ekologi dan mendukung masyarakat lokal. Selain itu, terdapat pula kebutuhan bukti profitabilitas untuk mendorong investasi swasta dalam upaya menjaga lingkungan hidup.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p><a href=\"https:\/\/www.greenclimate.fund\/500m\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Komitmen 500 juta dolar AS dari Green Climate Fund<\/a> (GCF) diangkat sebagai contoh praktik-terbaik. Ikrar yang diumumkan pada Mei 2017 ini digunakan untuk mendukung usulan bisnis terpilih yang secara kreatif mampu mengatasi perubahan iklim.<\/p>\n<p>Juan Chang, seorang spesialis hutan dan pemanfaatan lahan senior GCF yang menjadi pembicara Konferensi, menyatakan bahwa portofolio kehutanan dan pemanfaatan lahan GCF untuk 10 proyek di seluruh dunia yang didanai saat ini, melibatkan 2 proyek REDD+.<\/p>\n<p>Dalam portofolio GCF secara keseluruhan, sekitar sepertiga dari 3,7 miliar dolar AS masuk ke proyek di kawasan Asia-Pasifik.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image alignwide size-large\">\n\t\t\t\t<img width=\"623\" height=\"415\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/39857678040_f6382fecd9_k-623x415.jpg\" class=\"wp-image-55898\" alt=\"\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/39857678040_f6382fecd9_k-623x415.jpg 623w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/39857678040_f6382fecd9_k-263x176.jpg 263w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/39857678040_f6382fecd9_k-566x377.jpg 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/39857678040_f6382fecd9_k-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/39857678040_f6382fecd9_k-610x407.jpg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/39857678040_f6382fecd9_k-152x102.jpg 152w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/39857678040_f6382fecd9_k-669x446.jpg 669w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/39857678040_f6382fecd9_k-75x49.jpg 75w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/39857678040_f6382fecd9_k.jpg 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 623px) 100vw, 623px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">More than 1,200 attendees included regional government ministers, academics, researchers and business leaders.<\/figcaption>\n\t\t\t<\/figure>\n<p><strong>REDD+ DAN HUTAN<\/strong><\/p>\n<p>APRS tahun ini digelar hampir satu dekade setelah COP13 UNFCCC di Bali melahirkan REDD (reduksi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan). REDD adalah sebuah inisiatif yang \u2013 sesuai namanya \u2013 berupaya menurunkan emisi karbon global dengan melindungi hutan tropis.<\/p>\n<p>Tujuan tersebut diperluas dengan menambahkan manajemen hutan lestari dan stok karbon, untuk menjadi REDD+. Kini, REDD+ tengah menggelar sejumlah proyek pengembangan dan penelitian di kawasan ini.<\/p>\n<p>Sekitar 2 miliar hektare hutan Asia-Pasifik telah terdegradasi. Para ahli menyatakan bahwa hutan produksi \u2013 seperti hutan untuk <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/48299\/bioenergy-in-indonesia?fnl=en\">bioenergi<\/a> \u2013 memiliki potensi dalam implementasi REDD+.<\/p>\n<p>Namun, di sisi lain, sejumlah delegasi negara mengaku menghadapi kesulitan dalam mengelola begitu banyak faktor dalam menjalankan langkah detail seperti REDD+.<\/p>\n<p>Meski Indonesia dan Papua Nugini telah memiliki dan menjalankan arsitektur REDD+, kedua negara menghadapi kendala dalam menerapkan sistem <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/gcs\/modules\/redd-subnational-initiatives\/measuring-reporting-verification-mrv\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">pengukuran, pelaporan, dan verifikasi<\/a> (MRV) emisi, serta <a href=\"http:\/\/redd.unfccc.int\/fact-sheets\/redd-mrv-and-results-based-payments.html%20http:\/redd.unfccc.int\/fact-sheets\/redd-mrv-and-results-based-payments.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">mekanisme pembayaran berbasis-hasil<\/a>.<\/p>\n<p>Emma Rachmawaty, Direktur Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia, menyatakan, \u201cKami dalam proses mengembangkan lembaga keuangan untuk mengelola pembiayaan REDD+. [Hingga lembaga itu terbentuk] kami belum bisa menjalankan pembayaran berbasis hasil untuk REDD+.\u201d<\/p>\n<p>Danae Maniatis dari <a href=\"http:\/\/www.undp.org\/content\/undp\/en\/home.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Program Pembangunan PBB (United Nations Development Programme<\/a>\/UNDP) menganalogikan konstruksi kerangka REDD+ sebagaimana bangunan.<\/p>\n<p>\u201cPilar REDD+ harus benar-benar kuat di fase kesiapan,\u201d katanya. \u201cJika kita punya rumah yang hanya ada atapnya saja, apakah kita akan tinggal di dalamnya? Tidak. Kita perlu kerangka ini fungsional. Jadi, tantangan yang kita hadapi adalah bagaimana mengelola elemen-elemen tersebut dan membuatnya fungsional.<\/p>\n\n<p><strong>CARA BARU MITIGASI PERUBAHAN IKLIM<\/strong><\/p>\n<p>Mangrove dan <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/55358\/what-is-blue-carbon?fnl=en\">karbon biru<\/a> \u2013 karbon yang diserap dan disimpan di laut dan pesisir \u2013 menjadi topik hangat akhir-akhir ini.<\/p>\n<p>\u201cTerdapat satu ekosistem yang dekat di hati saya selama ini, melampaui seluruh isu terkait hutan, yaitu lahan gambut dan mangrove,\u201d kata Direktur Jenderal CIFOR, Dr. Robert Nasi.<\/p>\n<p>\u201cMeski hanya bagian kecil dari keseluruhan hutan, mereka adalah ekosistem karbon terkaya di dunia \u2013 dan paling terancam. Saya hanya dapat terus mendorong dan memuji Indonesia untuk segenap upaya yang dilakukan terkait restorasi dan rehabilitasi lahan gambut dan mangrove.\u201d<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Relatif sedikit penelitian dilakukan pada ekosistem ini. Namun, serapan karbon yang masif di kawasan mangrove Indonesia \u2013 seluas 3,5 juta hektare, dan terbesar di dunia \u2013 mulai masuk dalam agenda nasional. Langkah ini berpotensi untuk berkontribusi pada komitmen negara pada Perjanjian Paris, serta menjadi dasar bagi dukungan finansial untuk masyarakat lokal melalui <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/project-websites\/payment-environmental-services\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">pembayaran jasa lingkungan<\/a> (PJL).<\/p>\n<p>Adakah cara lain untuk mengaitkan masyarakat lokal pada lembaga keuangan dan pasar global? Ekowisata \u2013 aktivitas rekreasi yang mendorong konservasi dan melindungi keragaman hayati.<\/p>\n<p>Para panelis menyeru lembaga filantropis dan organisasi pembangunan memberi perhatian lebih pada sektor yang tengah bertumbuh ini. Dalam upaya pembangunan berkelanjutan, ekowisata adalah sebentuk kerja lapangan untuk membantu rehabilitasi lahan dan konservasi keragaman hayati, sambil mendapat keuntungan \u2013 sekecil apapun keuntungan itu.<\/p>\n<p>Hal ini disuarakan pula oleh Dr. Nasi pada pidato pembukaan. Kawasan Asia-Pasifik merupakan \u201csebuah kawasan utama dan kawasan yang memiliki banyak kontradiksi,\u201d dengan berbagai bentuk usaha, keragaman bentang alam, tingkat sosioekonomi dan pemerintahan.<\/p>\n<p>Namun, semua yang datang pada APRS \u201cberkumpul untuk satu alasan: karena hutan itu penting.\u201d<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Asia-Pasifik merupakan kawasan dengan pertumbuhan tercepat, sekaligus menjadi tempat tiga kota terbesar dunia. Kawasan ini juga memiliki 740 juta hektare hutan, 26% dari total area lahannya atau 18% dari tutupan hutan global. Lebih dari 450 juta orang bergantung pada hutan sebagai penghidupannya. Melalui tema \u201cMelindungi hutan dan masyarakat, menopang pertumbuhan ekonomi,\u201d Asia-Pacific Rainforest Summit (APRS) [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":272,"featured_media":56027,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[7619,6598,2535,2500,2493,2622,2596,2663,6368,2819,6550],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[6545],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[7230],"class_list":["post-56021","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-aprs2018","tag-bahasa-asia-pasifik","tag-bahasa-ekowisata","tag-bahasa-emisi-karbon","tag-bahasa-karbon-biru","tag-bahasa-lahan-gambut","tag-bahasa-mangrove","tag-bahasa-pembangunan-berkelanjutan","tag-bahasa-perjanjian-paris","tag-bahasa-redd","tag-bahasa-sdgs","type-bahasa-liputan-acara"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Laporan terbaru dari Asia-Pacific Rainforest Summit 2018 - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56021\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Laporan terbaru dari Asia-Pacific Rainforest Summit 2018\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Asia-Pasifik merupakan kawasan dengan pertumbuhan tercepat, sekaligus menjadi tempat tiga kota terbesar dunia. Kawasan ini juga memiliki 740 juta hektare hutan, 26% dari total area lahannya atau 18% dari tutupan hutan global. Lebih dari 450 juta orang bergantung pada hutan sebagai penghidupannya. Melalui tema \u201cMelindungi hutan dan masyarakat, menopang pertumbuhan ekonomi,\u201d Asia-Pacific Rainforest Summit (APRS) [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56021\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-05-03T07:20:48+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-05-03T09:29:29+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/26771232557_ec25ac7bdf_k-1-623x415.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"623\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"415\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Nabiha Shahab\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56021\\\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56021\\\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018\"},\"author\":{\"name\":\"Nabiha Shahab\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4d4c3fe3b57374ced46d23770b6f72bd\"},\"headline\":\"Laporan terbaru dari Asia-Pacific Rainforest Summit 2018\",\"datePublished\":\"2018-05-03T07:20:48+00:00\",\"dateModified\":\"2018-05-03T09:29:29+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56021\\\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018\"},\"wordCount\":1049,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56021\\\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/05\\\/26771232557_ec25ac7bdf_k-1.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56021\\\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2018\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56021\\\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56021\\\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018\",\"name\":\"Laporan terbaru dari Asia-Pacific Rainforest Summit 2018 - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56021\\\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56021\\\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/05\\\/26771232557_ec25ac7bdf_k-1.jpg\",\"datePublished\":\"2018-05-03T07:20:48+00:00\",\"dateModified\":\"2018-05-03T09:29:29+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56021\\\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56021\\\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56021\\\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/05\\\/26771232557_ec25ac7bdf_k-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/05\\\/26771232557_ec25ac7bdf_k-1.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1365,\"caption\":\"Menteri dari Australia dan Indonesia, Josh Frydenbert dan Siti Nurbaya membuka Asia-Pacific Rainforest Summit di Yogyakarta, Indonesia, 23 April 2018\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56021\\\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Laporan terbaru dari Asia-Pacific Rainforest Summit 2018\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56021\\\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56021\\\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4d4c3fe3b57374ced46d23770b6f72bd\",\"name\":\"Nabiha Shahab\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=gf0899e66b7fe5227e359732c0f65f0d9\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Nabiha Shahab\"},\"description\":\"Nabiha Shahab is a writer for Forest News. She has worked both in the media and media campaigning with environmental NGOs in Indonesia since 1997. She holds an MA in environmental management from the University of Nottingham.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/nabiha-shahab\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/56021\\\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Laporan terbaru dari Asia-Pacific Rainforest Summit 2018 - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56021\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Laporan terbaru dari Asia-Pacific Rainforest Summit 2018","og_description":"Asia-Pasifik merupakan kawasan dengan pertumbuhan tercepat, sekaligus menjadi tempat tiga kota terbesar dunia. Kawasan ini juga memiliki 740 juta hektare hutan, 26% dari total area lahannya atau 18% dari tutupan hutan global. Lebih dari 450 juta orang bergantung pada hutan sebagai penghidupannya. Melalui tema \u201cMelindungi hutan dan masyarakat, menopang pertumbuhan ekonomi,\u201d Asia-Pacific Rainforest Summit (APRS) [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56021\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2018-05-03T07:20:48+00:00","article_modified_time":"2018-05-03T09:29:29+00:00","og_image":[{"width":623,"height":415,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/26771232557_ec25ac7bdf_k-1-623x415.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Nabiha Shahab","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56021\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56021\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018"},"author":{"name":"Nabiha Shahab","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4d4c3fe3b57374ced46d23770b6f72bd"},"headline":"Laporan terbaru dari Asia-Pacific Rainforest Summit 2018","datePublished":"2018-05-03T07:20:48+00:00","dateModified":"2018-05-03T09:29:29+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56021\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018"},"wordCount":1049,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56021\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/26771232557_ec25ac7bdf_k-1.jpg","articleSection":["Forests News"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56021\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018#respond"]}],"copyrightYear":"2018","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56021\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56021\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018","name":"Laporan terbaru dari Asia-Pacific Rainforest Summit 2018 - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56021\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56021\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/26771232557_ec25ac7bdf_k-1.jpg","datePublished":"2018-05-03T07:20:48+00:00","dateModified":"2018-05-03T09:29:29+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56021\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56021\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56021\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/26771232557_ec25ac7bdf_k-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/26771232557_ec25ac7bdf_k-1.jpg","width":2048,"height":1365,"caption":"Menteri dari Australia dan Indonesia, Josh Frydenbert dan Siti Nurbaya membuka Asia-Pacific Rainforest Summit di Yogyakarta, Indonesia, 23 April 2018"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56021\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Laporan terbaru dari Asia-Pacific Rainforest Summit 2018"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56021\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56021\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4d4c3fe3b57374ced46d23770b6f72bd","name":"Nabiha Shahab","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=gf0899e66b7fe5227e359732c0f65f0d9","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=g","caption":"Nabiha Shahab"},"description":"Nabiha Shahab is a writer for Forest News. She has worked both in the media and media campaigning with environmental NGOs in Indonesia since 1997. She holds an MA in environmental management from the University of Nottingham.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/nabiha-shahab"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/56021\/apa-yang-terjadi-pada-asia-pacific-rainforest-summit-2018#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/26771232557_ec25ac7bdf_k-1.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56021","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/272"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=56021"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56021\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/56027"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=56021"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=56021"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=56021"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=56021"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=56021"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=56021"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=56021"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=56021"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=56021"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=56021"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=56021"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=56021"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=56021"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}