{"id":55879,"date":"2018-04-24T13:46:31","date_gmt":"2018-04-24T06:46:31","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=55879"},"modified":"2018-04-24T13:46:32","modified_gmt":"2018-04-24T06:46:32","slug":"memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55879\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi","title":{"rendered":"Memancing dengan metode penelitian baru menjaring banyak informasi"},"content":{"rendered":"<p>Mengapa stok ikan makin berkurang di dalam kawasan laut lindung (marine protected area\/MPA) dibanding di luar kawasan?<\/p>\n<p>Misteri ini dan misteri lainnya diuraikan dalam sebuah <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/library\/6635\/fisheries-property-regimes-and-environmental-outcomes-a-realist-synthesis-review\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penelitian<\/a>  yang dilakukan <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/54760\/rights-land-doesnt-mean-rights-resources?fnl=en\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional<\/a> (CIFOR). Penelitian ini menggunakan pendekatan \u2018sintesis realis\u2019 untuk memahami kapan, bagaimana, di mana dan mengapa penetapan MPA dapat memberi hasil lebih baik bagi kondisi lingkungan dibanding pengaturan kepemilikan.<\/p>\n<p>Laporan penelitian ini menggabungkan bukti dari 31 artikel mengenai MPA dari beragam konteks di Afrika, Asia dan Amerika Latin. Pada praktiknya, penelitian ini menggunakan perikanan sebagai lensa besar dalam menjawab pertanyaan luas mengenai tata kelola sumber daya alam. Dalam kompleksitas dan beragamnya sistem sosioekologi dunia, bagaimana kita dapat menetapkan intervensi terbaik yang mampu meningkatkan kelestarian?<\/p>\n<p>Tampaknya, jawaban pertanyaan tersebut tidak hanya pada bentuk intervensi, tetapi juga pada metode penelitian yang dirancang.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p><strong>PENANDA KONTEKS<\/strong><\/p>\n<p>Sintesis realis merupakan sebuah teknik kajian bukti untuk mengungkap kaitan antara konteks, mekanisme dan hasil dalam sistem yang kompleks.<\/p>\n<p>Laporan ini merupakan sintesis realis kedua yang digunakan dalam studi kajian-setara bidang kebijakan konservasi. Pilihan ini muncul dari kekecewaan para peneliti terhadap metode analisis konvensional.<\/p>\n<p>Kajian sistematik kuantitatif yang menggunakan metodologi kuat dalam mencari, memilih, menilai dan mensintesis laporan penelitian primer pada topik tertentu, sudah sering digunakan pada sektor tata kelola sumber daya alam.<\/p>\n<p>Namun, untuk jenis kajian serupa yang diterapkan di bidang medis, dan kemudian diterapkan di bidang ilmu sosial, menurut Direktur Penelitian CIFOR, Steve Lawry, \u201cseperti cari-cari masalah.\u201d<\/p>\n<p>\u201cMenemukan penelitian yang memenuhi standar kriteria inklusi data untuk melakukan kajian sistematis dalam kondisi masyarakat yang sangat kompleks adalah mimpi buruk. Percayalah, karena saya telah melakukan <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/library\/6070\/the-impact-of-land-property-rights-interventions-on-investment-and-agricultural-productivity-in-developing-countries-a-systematic-review\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">kajian sistematik mengenai dampak investasi dan produktivitas pada jaminan hak lahan yang lebih baik<\/a>.\u201d<\/p>\n<p>Dalam proses penelitian tersebut, \u201ckami memeriksa 25.000 penelitian di awal. Di akhir proses, kami hanya menemukan 25 penelitian yang memenuhi standar metodogi inklusi.\u201d<\/p>\n<p>Terlebih, katanya, meski kajian menghasilkan beberapa temuan menarik mengenai variasi peningkatan produktivitas di berbagai wilayah di dunia, upaya ini gagal menjawab pertanyaan penting: mengapa variasi ini terjadi?<\/p>\n<p>\u201cMasalahnya, kajian sistematik tidak membolehkan kita menarik kesimpulan langsung dari data penyebab perbedaan hasil dari berbagai masyarakat atau wilayah. Konteksnya berbeda, dan inilah masalahnya.\u201d<\/p>\n<p>Sebagai salah seorang peneliti kajian ini, Konsultan CIFOR, Rebecca McLain menjelaskan, sintesis realis \u201ctidak hanya berupaya memaparkan hasil intervensi kebijakan dalam sistem kompleks, tetapi juga mencoba menemukan bagaimana hasil itu muncul, dan pada kondisi berbeda hasil itu terjadi.\u201d<\/p>\n<p>Intinya, kata McLain, \u201cia menekankan perlunya memahami apa yang mendorong masyarakat mengubah \u2013 atau tidak mengubah \u2013 perilaku di beragam situasi.\u201d<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/26469\/indigenous-participation-land-use-management-philippines-forests-protected-areas?fnl=en\">Baca juga<strong> Agar suara masyarakat adat diperhatikan dalam pemanfaatan lahan, keikutsertaan saja tidak lantas cukup <\/strong><\/a><\/p>\n\n<p><strong>KAYA INTERAKSI <\/strong><\/p>\n<p>Pada tingkat dasar, para peneliti sintesis realis MPA mengungkap bahwa persepsi legitimasi peraturan berperan penting bagi keberlanjutan jangka panjang dan efektivitas biaya<\/p>\n<p>\u201cTetapi ceritanya lebih rumit,\u201d kata McLain<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Pada awal, para peneliti menelaah beragam mekanisme yang mempengaruhi hasil jangka panjang untuk bisa beroperasi secara simultan satu sama lain, meski tetap independen. \u201cNamun, kami menemukan bahwa setidaknya tiga jenis legitimasi \u2013 legal, sosial dan ekologis \u2013 biasanya \u2018dalam satu paket\u2019 yang tidak mudah diurai,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Ketika satu atau lebih aspek ini lemah, masyarakat mungkin akan bersikap bahwa ada masalah dengan tujuan konservasi dalam MPA. Ketika ada legitimasi \u201ckuat\u201d di seluruh tiga sektor, menurut McLain, mereka cenderung mematuhi regulasi.<\/p>\n<p>\u201cPada praktiknya, hal ini berarti bahwa nelayan di kawasan penerapan MPA tidak hanya perlu mengakui bahwa negara atau masyarakat yang menerapkan larangan memiliki otoritas legal dalam melakukannya, tetapi mereka juga perlu melihat bahwa larangan ini berterima secara sosial dan kredibel secara ekologis,\u201d paparnya.<\/p>\n<p>Di salah satu studi kasus yang dianalisis, misalnya, koperasi nelayan di Puerto Puerto Pen\u0303asco, Meksiko, menetapkan zona larangan untuk bentik invertebrata (krustasea, moluska, cacing dan makluk konsumsi dasar laut lain).<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p>Pada awalnya, inisiatif ini berhasil. Secara sukarela, anggota koperasi mematuhi aturan dengan memegang keyakinan yang sama, bahwa langkah ini akan mendukung keseluruhan sehatnya kawasan perikanan (legitimasi ekologi), dan didukung oleh kuatnya modal sosial dalam kelompok (legitimasi sosial). Seorang pejabat lokal menjamin bahwa nelayan luar tidak akan memancing di kawasan tersebut (legitimasi legal).<\/p>\n<p>Namun, saat inisiatif berjalan, pejabat itu kemudian digantikan oleh orang lain yang tidak tertarik menegakkan peraturan perlindungan kawasan. Nelayan luar mulai memancing di kawasan terlarang. Ketika anggota koperasi melihat tindakan tersebut lepas dari sanksi, mereka juga mulai memancing di kawasan tersebut. Akibatnya, populasi bentik invertebrata di kawasan itu jatuh ke tingkat lebih rendah dibanding kawasan pembanding.<\/p>\n<p>Kasus ini menunjukkan betapa rentannya sebuah sistem akibat tindakan satu orang, sekaligus pula menekankan pentingnya mengidentifikasi \u201ctitik lemah\u201d seperti ini serta menemukan jalan untuk melindunginya.<\/p>\n\n<p><strong>KEUNGGULAN SINTESIS<\/strong><\/p>\n<p>Para peneliti sangat menyambut potensi menerapkan sintesis realis pada evaluasi intervensi kebijakan lain dalam manajemen sumber daya alam. Metode ini menawarkan informasi mendalam pada sebuah sistem kompleks seperti perikanan dan perhutanan.<\/p>\n<p>\u201cBisa dengan mudah diadaptasi,\u201d kata McLain, \u201csepanjang ada penelitian yang cukup yang memberi informasi yang juga cukup mengenai konteks, mekanisme yang mengarah pada perubahan perilaku dan hasilnya untuk memungkinkan dibuatnya analisis kualitatif.<\/p>\n<p>\u201cKami berpikir ini memberi semacam kekuatan nyata untuk mengembangkan informasi mengenai faktor-faktor yang berkontribusi pada keberhasilan dan kegagalan kebijakan dalam beragam konteks,\u201d kata Lawry.<\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><em><span style=\"color: #333333;\">Penelitian ini didukung oleh pendanaan dari <\/span><\/em><a href=\"http:\/\/pim.cgiar.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><i><span style=\"color: #24a2b8;\">Program penelitian CGIAR mengenai Kebijakan, Kelembagaan dan Pasar<\/span><\/i><\/a><em><span style=\"color: #333333;\">.<\/span><\/em><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/?attachment_id=55880\" rel=\"attachment wp-att-55880\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft wp-image-55880\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/PIM_Logo_White_OrangeText_LG-566x307.jpeg\" alt=\"\" width=\"263\" height=\"142\" \/><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mengapa stok ikan makin berkurang di dalam kawasan laut lindung (marine protected area\/MPA) dibanding di luar kawasan? Misteri ini dan misteri lainnya diuraikan dalam sebuah penelitian yang dilakukan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR). Penelitian ini menggunakan pendekatan \u2018sintesis realis\u2019 untuk memahami kapan, bagaimana, di mana dan mengapa penetapan MPA dapat memberi hasil lebih baik bagi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":264,"featured_media":55881,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,188,180],"tags":[],"language":[2171],"location":[],"tag-bahasa":[7665,7662,2598,7664,2564,7344,7663],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[7144],"class_list":["post-55879","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-food-and-diets","category-mitigating-climate-change","language-bahasa-indonesia","tag-bahasa-alam","tag-bahasa-data","tag-bahasa-kehidupan-laut","tag-bahasa-kelestarian","tag-bahasa-pemerintahan","tag-bahasa-perikanan","tag-bahasa-wilayah-perlindungan-laut","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Memancing dengan metode penelitian baru menjaring banyak informasi - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55879\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Memancing dengan metode penelitian baru menjaring banyak informasi\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Mengapa stok ikan makin berkurang di dalam kawasan laut lindung (marine protected area\/MPA) dibanding di luar kawasan? Misteri ini dan misteri lainnya diuraikan dalam sebuah penelitian yang dilakukan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR). Penelitian ini menggunakan pendekatan \u2018sintesis realis\u2019 untuk memahami kapan, bagaimana, di mana dan mengapa penetapan MPA dapat memberi hasil lebih baik bagi [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55879\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-04-24T06:46:31+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-04-24T06:46:32+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/35895075375_da6b618818_k-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2048\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1365\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Monica Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55879\\\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55879\\\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi\"},\"author\":{\"name\":\"Monica Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\"},\"headline\":\"Memancing dengan metode penelitian baru menjaring banyak informasi\",\"datePublished\":\"2018-04-24T06:46:31+00:00\",\"dateModified\":\"2018-04-24T06:46:32+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55879\\\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi\"},\"wordCount\":856,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55879\\\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/04\\\/35895075375_da6b618818_k-1.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Food &amp; diets\",\"Mitigation\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55879\\\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2018\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55879\\\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55879\\\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi\",\"name\":\"Memancing dengan metode penelitian baru menjaring banyak informasi - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55879\\\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55879\\\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/04\\\/35895075375_da6b618818_k-1.jpg\",\"datePublished\":\"2018-04-24T06:46:31+00:00\",\"dateModified\":\"2018-04-24T06:46:32+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55879\\\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55879\\\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55879\\\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/04\\\/35895075375_da6b618818_k-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/04\\\/35895075375_da6b618818_k-1.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1365},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55879\\\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Memancing dengan metode penelitian baru menjaring banyak informasi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55879\\\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55879\\\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\",\"name\":\"Monica Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Monica Evans\"},\"description\":\"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/monica-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55879\\\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Memancing dengan metode penelitian baru menjaring banyak informasi - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55879\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Memancing dengan metode penelitian baru menjaring banyak informasi","og_description":"Mengapa stok ikan makin berkurang di dalam kawasan laut lindung (marine protected area\/MPA) dibanding di luar kawasan? Misteri ini dan misteri lainnya diuraikan dalam sebuah penelitian yang dilakukan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR). Penelitian ini menggunakan pendekatan \u2018sintesis realis\u2019 untuk memahami kapan, bagaimana, di mana dan mengapa penetapan MPA dapat memberi hasil lebih baik bagi [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55879\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2018-04-24T06:46:31+00:00","article_modified_time":"2018-04-24T06:46:32+00:00","og_image":[{"width":2048,"height":1365,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/35895075375_da6b618818_k-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Monica Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55879\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55879\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi"},"author":{"name":"Monica Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70"},"headline":"Memancing dengan metode penelitian baru menjaring banyak informasi","datePublished":"2018-04-24T06:46:31+00:00","dateModified":"2018-04-24T06:46:32+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55879\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi"},"wordCount":856,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55879\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/35895075375_da6b618818_k-1.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Food &amp; diets","Mitigation"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55879\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi#respond"]}],"copyrightYear":"2018","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55879\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55879\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi","name":"Memancing dengan metode penelitian baru menjaring banyak informasi - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55879\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55879\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/35895075375_da6b618818_k-1.jpg","datePublished":"2018-04-24T06:46:31+00:00","dateModified":"2018-04-24T06:46:32+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55879\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55879\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55879\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/35895075375_da6b618818_k-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/35895075375_da6b618818_k-1.jpg","width":2048,"height":1365},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55879\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Memancing dengan metode penelitian baru menjaring banyak informasi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55879\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55879\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70","name":"Monica Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","caption":"Monica Evans"},"description":"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/monica-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55879\/memancing-dengan-metode-penelitian-baru-menjaring-banyak-informasi#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/35895075375_da6b618818_k-1.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55879","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/264"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=55879"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55879\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/55881"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=55879"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=55879"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=55879"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=55879"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=55879"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=55879"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=55879"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=55879"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=55879"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=55879"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=55879"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=55879"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=55879"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}