{"id":55680,"date":"2018-04-12T14:44:48","date_gmt":"2018-04-12T07:44:48","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=55680"},"modified":"2018-04-12T14:44:48","modified_gmt":"2018-04-12T07:44:48","slug":"hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55680\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan","title":{"rendered":"Hitung mundur: Ilmuwan isyaratkan \u2018lampu kuning\u2019 berkurangnya  orangutan Kalimantan"},"content":{"rendered":"<p>Dulu, masih ada ratusan ribu orangutan menjelajah pulau Kalimantan. Tetapi dalam beberapa dekade terakhir \u2013 saat gergaji mesin dan traktor menggunduli jutaan hektar hutan perawan \u2013 jumlah kera besar ini menyusut.<\/p>\n<p>Sebuah <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/library\/6791\/global-demand-for-natural-resources-eliminated-more-than-100000-bornean-orangutans\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penelitian terbaru<\/a> mengungkap betapa mengkhawatirkan laju penyusutan itu.  Dalam 16 tahun saja, para peneliti menemukan bahwa separuh populasi spesies kategori kritis ini menghilang. Estimasi menyatakan, hanya tersisa 70.000 individu saja di pulau itu.<\/p>\n<p>\u201cEstimasi kami, 148.500 orangutan menghilang dari Kalimantan antara 1999 hingga 2015,\u201d kata Maria Voigt, ilmuwan German Centre for Integrative Biodiversity Research, yang menjadi penulis utama penelitian ini.<\/p>\n<p>\u201cSalah satu alasan orangutan sangat rentan, adalah karena kenyataan bahwa reproduksi mereka sangat lambat, melahirkan sekali tiap enam atau delapan tahun, dan umumnya hanya satu. Kehilangan orangutan relatif kecil saja bisa berdampak besar pada keselamatan spesies ini.\u201d<\/p>\n<p>Voigt adalah salah satu dari 41 peneliti yang berkontribusi pada penelitian yang menggunakan survei pengumpulan data lapangan dan helikopter untuk mengidentifikasi sarang orangutan. Pendekatan pemodelan rumit digabung dengan pengetahuan mengenai habitat dan ancaman terhadap orangutan digunakan untuk melakukan estimasi jumlah orangutan tersisa.<\/p>\n<p>Penelitian ini juga menelisik ukuran populasi orangutan.<\/p>\n<p>\u201cOrangutan lebih berpeluang selamat jika mereka hidup dalam populasi lebih dari 100,\u201d kata Voigt. \u201cDari 64 populasi yang diidentifikasi para ahli di Kalimantan, hanya 38 yang cukup besar untuk selamat.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n\n<div style=\"aspect-ratio:16\/9;min-height:unset;\" class=\"wp-block-cover alignfull has-parallax has-custom-content-position is-position-bottom-center has-aspect-ratio\">\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-cover__image-background wp-image-55668 size-full has-parallax\" style=\"background-position:50% 50%;\n\t\t\t\tbackground-image:url(https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/IMG_5076.jpg)\">\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow\">\n\t\t\t\t\t<p class=\"has-text-align-center has-base-color has-text-color has-link-color has-small-font-size wp-elements-c7274f9a76ff948295c72066c2502b23\">A female Bornean orangutan with her offspring.<\/p>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t<\/div>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p><strong>SEMUA BERAWAL DARI RUMAH<\/strong><\/p>\n<p>Kehilangan orangutan berawal dari kehilangan habitat, yang merupakan dampak langsung dari meningkatnya permintaan sumber alam global.<\/p>\n<p>Untuk lebih memahami kehilangan habitat, tim peneliti memanfaatkan sebuah <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/map\/atlas\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">peta interaktif Kalimantan<\/a> yang dikembangkan oleh <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internsional<\/a> (CIFOR). Peta ini mengukur perubahan bentang alam dengan menunjukkan dampak kebakaran, tanaman industri dan penebangan selama 40 tahun. Lebih jauh lagi, peta ini mengidentifikasi  perusahaan mana yang beroperasi dalam kawasan tertentu dan seberapa cepat hutan dikonversi.<\/p>\n<p>Penelitian menemukan bahwa dalam periode 16 tahun, separuh populasi orangutan di pulau tersebut terdampak oleh penebangan, deforestasi atau perkebunan.<\/p>\n<p>\u201cDalam <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/library\/6552\/what-a-difference-4-decades-make-deforestation-in-borneo-since-1973\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penelitian terdahulu<\/a> kami menghitung, Kalimantan telah kehilangan 6,3 juta hektare hutan tua \u2013 15% dari total tutupan hutan \u2013 sejak 2000,\u201d kata ilmuwan CIFOR, David Gaveau, dan salah seorang penulis penelitian ini.<\/p>\n<p>Kepadatan populasi orangutan lebih rendah di area terdeforestasi \u2013 namun yang mengejutkan, banyak orangutan menghilang dari kawasan berhutan. Karena tidak ada dukungan untuk penjelasan alternatif seperti kematian akibat infeksi atau penyakit, Voigt menyatakan, bahwa fakta ini menunjukkan bahwa orangutan dibunuh. Ketika habitat alaminya menyusut, orangutan sering menjadi sasaran ketika mereka mencari makan di desa.<\/p>\n<p>\u201cPembunuhan akibat konflik di masyarakat dan  perburuan, menjadi penyebab utama penurunan jumlah orangutan,\u201d kata penulis lain, Erik Meijaard, Direktur inisiatif penelitian <a href=\"http:\/\/www.borneofutures.org\/about.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Borneo Futures<\/a> dan kepala satuan tugas kelapa sawit <a href=\"https:\/\/www.iucn.org\/id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">International Union for Conservation of Nature<\/a>.<\/p>\n<p>\u201cSetelah berbincang dengan para pemburu, kami menemukan bahwa sebagian besar umumnya berburu babi liar dan rusa untuk makanan. Namun, jika tidak beruntung dan bertemu orangutan, mereka bisa saja membunuhnya.\u201d<\/p>\n<p>Membunuh orangutan betina subur juga menjadi ancaman utama keberlangsungan spesies ini. Misalnya ketika induk dibunuh dan bayinya dijual ke perdagangan satwa ilegal. Meski pembunuhan orangutan itu ilegal di Indonesia dan Malaysia, praktik ini masih ada \u2013 terutama di kawasan terpencil.<\/p>\n<p>\u201cHukum Indonesia dan Malaysia seharusnya tidak hanya menyebutkan bahwa kera \u2018bukan sekadar sesuatu\u2019, tetapi \u2018individu legal\u2019 yang memiliki hak untuk hidup,\u201d kata Gaveau. \u201cSanksi membunuh orangutan seharusnya lebih berat, dan ditegakkan.\u201d<\/p>\n\n<div class=\"wp-block-group is-content-justification-center is-nowrap is-layout-flex wp-container-core-group-is-layout-23441af8 wp-block-group-is-layout-flex\">\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\">\n\t\t\t\t\t<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img width=\"626\" height=\"415\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/DSC_2780-626x415.jpg\" class=\"wp-image-55669\" alt=\"oil palm, palm oil, EU phase out, EU ban on palm oil, EU ban, Malaysia, WTO, Indonesia\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/DSC_2780-626x415.jpg 626w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/DSC_2780-566x375.jpg 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/DSC_2780-768x509.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/DSC_2780-610x404.jpg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/DSC_2780-152x102.jpg 152w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/DSC_2780-382x252.jpg 382w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/DSC_2780-672x446.jpg 672w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/DSC_2780-75x49.jpg 75w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/DSC_2780.jpg 1800w\" sizes=\"auto, (max-width: 626px) 100vw, 626px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">HUTAN\/KOCP Photo <a href=\"\">HUTAN\/KOCP Photo<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\">\n\t\t\t\t\t<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img width=\"553\" height=\"415\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Sumirail1sep03-553x415.jpg\" class=\"wp-image-55670\" alt=\"\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Sumirail1sep03-553x415.jpg 553w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Sumirail1sep03-533x400.jpg 533w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Sumirail1sep03-768x576.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Sumirail1sep03-610x458.jpg 610w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Sumirail1sep03-400x300.jpg 400w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Sumirail1sep03-595x446.jpg 595w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/Sumirail1sep03.jpg 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 553px) 100vw, 553px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">A female orangutan on the tracks. <a href=\"\">Serge Wich<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t<\/div>\n<p><strong>BERADAPTASI DAN BERTINDAK<\/strong><\/p>\n<p>Meski hasil keseluruhan penelitian ini memicu kekhawatiran, beberapa aspek positif muncul. Jumlah orangutan relatif stabil di wilayah Kalimantan-Malaysia, dan dalam lokasi konservasi besar di wilayah Indonesia.<\/p>\n<p>Para peneliti juga menemukan bahwa orangutan ternyata sedikit lebih mampu beradaptasi pada perubahan habitat dibanding dugaan sebelumnya. Mereka mampu melakukan perjalanan jauh dengan berjalan atau berayun di pohon.<\/p>\n<p>\u201cKami juga menemukan, meski orangutan bergantung pada pangan hutan seperti buah, daun dan serangga, mereka dapat mengadaptasi diet dengan mengkonsumsi kelapa sawit dan akasia,\u201d kata Voigt.<\/p>\n<p>\u201cSelama mereka tidak diburu, terungkap dari penelitian bahwa orangutan berpeluang selamat dalam bentang alam terfragmentasi selama ada hutan tersisa dan dilindung.\u201d<\/p>\n<p>Meskipun, ia menambahkan bahwa bukti jangka panjang masih kurang, dan temuan ini seharusnya tidak digunakan untuk mengabaikan masalah degradasi.<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Ada upaya membalikkan hitung mundur ini. Pemerintah di Malaysia maupun Indonesia berencana mensertifikasi sawit agar lestari pada 2025 \u2013 dan ini berarti memformalkan kebijakan nol-pembunuhan.<\/p>\n<p>Kalimantan telah lama menjadi simpul aktivitas perlindungan orangutan, dengan fokus pada penyelamatan dan rehabilitasi. Namun para peneliti menyatakan upaya ini tidak cukup.<\/p>\n<p>\u201cSeperti tetes air di lautan,\u201d kata Meijaard. \u201cJika kita ingin menyelamatkan spesies ini, kita perlu strategi besar. Strategi yang menjawab penyebab mendasarnya.\u201d<\/p>\n<p>Meijaard menyatakan bahwa penyebabnya tidak hitam-putih. Selama ini, segala sesuatunya ditudingkan pada pemburu dan penduduk desa hingga kelapa sawit, perubahan iklim, penebangan dan perdagangan satwa ilegal.<\/p>\n<p>\u201cJika kita ingin menyelamatkan orangutan, kita perlu proses lebih transparan \u2013 rencana dengan tahapan dan tujuan yang jelas,\u201d kata Meijaard. \u201cHarus ada komitmen lebih kuat dari pemerintah, kesadaran masyarakat, dan keterlibatan sektor swasta.\u201d<\/p>\n<p>\u201cKita perlu meningkatkan kesadaran publik mengenai menghilangnya orangutan, dan penelitian seperti ini bisa membantu itu,\u201d kata Gaveau.<\/p>\n\n\n\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_box related_promo_aprs-new'>\n\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_fullwidth'>\n\t\t\t\t\t\t<div class='bg_sevent_box'><img src='https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/03\/forestnews-APRS-2018-566x270.jpg'><\/div>\n\t\t\t\t\t\t<div class='sevent'>\n\t\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_left'>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\n\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_right'>\n\t\t\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_right_text'>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_right_text_heading'>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<h1>3rd ASIA-PACIFIC RAINFOREST SUMMIT<\/h1>\r\n<h5>23-25 April 2018 - Yogyakarta, Indonesia<\/h5>\r\nProtecting forests and people, supporting \r\neconomic growth\r\n<h3><a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/asia-pacific-rainforest-summit-2018\/aprs-2018-as-it-happened\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">VIEW SUMMARY<\/a><\/h3>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t<\/div><div class='clear clearfix'><\/div>\n\t\t\t\t\t\t<\/div><div class='clear clearfix'><\/div>\n\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t<div class='clear clearfix'><\/div>\n\t\t\t\t\t<style>\n\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new .bg_sevent_box {\n\t\t\t\t\t\tposition: absolute;\n\t\t\t\t\t\ttop: 0;\n\t\t\t\t\t\theight: 230px;\n\t\t\t\t\t\tleft: -315px;\n\t\t\t\t\t\toverflow: hidden;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new .bg_sevent_box img{ height:100%; }\n\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new .sevent {\n\t\t\t\t\t\twidth: 100%;\n\t\t\t\t\t\tmargin: 0 auto;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new .sevent_main_heading{\n\t\t\t\t\t\tfont-size: 24px;\n\t\t\t\t\t\tfont-weight: bold;\n\t\t\t\t\t\tfont-family: \"PT Serif\", serif;\n\t\t\t\t\t\tline-height: 30px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new a .sevent_main_heading{\n\t\t\t\t\t\tcolor:#444;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new .sevent_view_link{\n\t\t\t\t\t\tdisplay: block;\n\t\t\t\t\t\tmargin: 0px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new .sevent_aprs_logo{\n\t\t\t\t\t\tmargin-top: 16px;\n\t\t\t\t\t\tdisplay: block;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new .sevent_sub_heading{\n\t\t\t\t\t\tfont-size: 18px;\n\t\t\t\t\t\tdisplay: block;\n\t\t\t\t\t\tfont-family: roboto;\n\t\t\t\t\t\tfont-weight: normal;\n\t\t\t\t\t\tcolor: #a4a4a4;\n\t\t\t\t\t\tpadding-top:10px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new .sevent_sub_desc{\n\t\t\t\t\t\tfont-size: 15px;\n\t\t\t\t\t\tdisplay: block;\n\t\t\t\t\t\tfont-family: roboto;\n\t\t\t\t\t\tfont-weight: normal;\n\t\t\t\t\t\tcolor: #a4a4a4;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new .sevent_left{\n\t\t\t\t\t\tpadding-top: 35px;\n\t\t\t\t\t\tpadding-left: 35px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new .sevent_right{\n\t\t\t\t\t\twidth:80%;\n\t\t\t\t\t\tpadding:20px 25px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new .sevent_fullwidth{\n\t\t\t\t\t\tbackground-color: #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\tborder-left: 600rem solid #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\tborder-right: 600rem solid #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\tpadding:0px 0px;\n\t\t\t\t\t\toverflow: hidden;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t\n\t\t\t\t\t@media all and (max-width: 767px){\n\t\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new .sevent_fullwidth{\n\t\t\t\t\t\t\tborder-left: 0rem solid #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\t\tborder-right: 0rem solid #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new .sevent_right {\n\t\t\t\t\t\t\twidth: 100%;\n\t\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t\t.sevent_main_heading br{\n\t\t\t\t\t\t\tdisplay:none;\n\t\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t\t.related_promo_aprs-new .sevent_aprs_logo img{\n\t\t\t\t\t\t\tmax-width:100%;\n\t\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t<\/style>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dulu, masih ada ratusan ribu orangutan menjelajah pulau Kalimantan. Tetapi dalam beberapa dekade terakhir \u2013 saat gergaji mesin dan traktor menggunduli jutaan hektar hutan perawan \u2013 jumlah kera besar ini menyusut. Sebuah penelitian terbaru mengungkap betapa mengkhawatirkan laju penyusutan itu. Dalam 16 tahun saja, para peneliti menemukan bahwa separuh populasi spesies kategori kritis ini menghilang. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":214,"featured_media":55682,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[137],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[7629,7619,6910,7006,7627,2520,7628],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[6193],"class_list":["post-55680","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forest-management-restoration","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-alam-liar","tag-bahasa-aprs2018","tag-bahasa-borneo","tag-bahasa-fauna","tag-bahasa-hewan","tag-bahasa-konservasi","tag-bahasa-orangutan","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Hitung mundur: Ilmuwan isyaratkan \u2018lampu kuning\u2019 berkurangnya orangutan Kalimantan - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55680\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Hitung mundur: Ilmuwan isyaratkan \u2018lampu kuning\u2019 berkurangnya orangutan Kalimantan\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Dulu, masih ada ratusan ribu orangutan menjelajah pulau Kalimantan. Tetapi dalam beberapa dekade terakhir \u2013 saat gergaji mesin dan traktor menggunduli jutaan hektar hutan perawan \u2013 jumlah kera besar ini menyusut. Sebuah penelitian terbaru mengungkap betapa mengkhawatirkan laju penyusutan itu. Dalam 16 tahun saja, para peneliti menemukan bahwa separuh populasi spesies kategori kritis ini menghilang. [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55680\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-04-12T07:44:48+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/36173283541_80ef8d0618_k-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2048\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1367\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Forests News staff\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55680\\\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55680\\\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan\"},\"author\":{\"name\":\"Suzanna Dayne\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/58a733990351598cdbdb28584f5f3abd\"},\"headline\":\"Hitung mundur: Ilmuwan isyaratkan \u2018lampu kuning\u2019 berkurangnya orangutan Kalimantan\",\"datePublished\":\"2018-04-12T07:44:48+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55680\\\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan\"},\"wordCount\":818,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55680\\\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/04\\\/36173283541_80ef8d0618_k-1.jpg\",\"articleSection\":[\"Forest management &amp; restoration\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55680\\\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55680\\\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55680\\\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan\",\"name\":\"Hitung mundur: Ilmuwan isyaratkan \u2018lampu kuning\u2019 berkurangnya orangutan Kalimantan - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55680\\\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55680\\\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/04\\\/36173283541_80ef8d0618_k-1.jpg\",\"datePublished\":\"2018-04-12T07:44:48+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55680\\\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55680\\\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55680\\\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/04\\\/36173283541_80ef8d0618_k-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/04\\\/36173283541_80ef8d0618_k-1.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1367,\"caption\":\"Orangutan jantan di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, Indonesia.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55680\\\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Hitung mundur: Ilmuwan isyaratkan \u2018lampu kuning\u2019 berkurangnya orangutan Kalimantan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55680\\\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55680\\\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/58a733990351598cdbdb28584f5f3abd\",\"name\":\"Suzanna Dayne\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c29181bddd0ffefe3699042513c74c7ab9ae0054fd6d5dfbfcd1fecf62127869?s=96&d=mm&r=g8f9b7cd57542c3c1abe44e5e11afc6e7\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c29181bddd0ffefe3699042513c74c7ab9ae0054fd6d5dfbfcd1fecf62127869?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c29181bddd0ffefe3699042513c74c7ab9ae0054fd6d5dfbfcd1fecf62127869?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Suzanna Dayne\"},\"description\":\"Suzanna Dayne is a communication consultant and writer\\\/producer. She currently works with UN agencies and non profits on issues linked to the SDGs, including the environment and climate change. She is a former writer\\\/producer for CNN International and international broadcaster for Voice of America radio.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/suzanna\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55680\\\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Hitung mundur: Ilmuwan isyaratkan \u2018lampu kuning\u2019 berkurangnya orangutan Kalimantan - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55680\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Hitung mundur: Ilmuwan isyaratkan \u2018lampu kuning\u2019 berkurangnya orangutan Kalimantan","og_description":"Dulu, masih ada ratusan ribu orangutan menjelajah pulau Kalimantan. Tetapi dalam beberapa dekade terakhir \u2013 saat gergaji mesin dan traktor menggunduli jutaan hektar hutan perawan \u2013 jumlah kera besar ini menyusut. Sebuah penelitian terbaru mengungkap betapa mengkhawatirkan laju penyusutan itu. Dalam 16 tahun saja, para peneliti menemukan bahwa separuh populasi spesies kategori kritis ini menghilang. [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55680\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2018-04-12T07:44:48+00:00","og_image":[{"width":2048,"height":1367,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/36173283541_80ef8d0618_k-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Forests News staff","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55680\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55680\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan"},"author":{"name":"Suzanna Dayne","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/58a733990351598cdbdb28584f5f3abd"},"headline":"Hitung mundur: Ilmuwan isyaratkan \u2018lampu kuning\u2019 berkurangnya orangutan Kalimantan","datePublished":"2018-04-12T07:44:48+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55680\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan"},"wordCount":818,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55680\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/36173283541_80ef8d0618_k-1.jpg","articleSection":["Forest management &amp; restoration"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55680\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55680\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55680\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan","name":"Hitung mundur: Ilmuwan isyaratkan \u2018lampu kuning\u2019 berkurangnya orangutan Kalimantan - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55680\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55680\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/36173283541_80ef8d0618_k-1.jpg","datePublished":"2018-04-12T07:44:48+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55680\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55680\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55680\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/36173283541_80ef8d0618_k-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/36173283541_80ef8d0618_k-1.jpg","width":2048,"height":1367,"caption":"Orangutan jantan di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, Indonesia."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55680\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Hitung mundur: Ilmuwan isyaratkan \u2018lampu kuning\u2019 berkurangnya orangutan Kalimantan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55680\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55680\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/58a733990351598cdbdb28584f5f3abd","name":"Suzanna Dayne","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c29181bddd0ffefe3699042513c74c7ab9ae0054fd6d5dfbfcd1fecf62127869?s=96&d=mm&r=g8f9b7cd57542c3c1abe44e5e11afc6e7","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c29181bddd0ffefe3699042513c74c7ab9ae0054fd6d5dfbfcd1fecf62127869?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c29181bddd0ffefe3699042513c74c7ab9ae0054fd6d5dfbfcd1fecf62127869?s=96&d=mm&r=g","caption":"Suzanna Dayne"},"description":"Suzanna Dayne is a communication consultant and writer\/producer. She currently works with UN agencies and non profits on issues linked to the SDGs, including the environment and climate change. She is a former writer\/producer for CNN International and international broadcaster for Voice of America radio.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/suzanna"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55680\/hitung-mundur-ilmuwan-isyaratkan-lampu-kuning-berkurangnya-orangutan-kalimantan#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/36173283541_80ef8d0618_k-1.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55680","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/214"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=55680"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55680\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/55682"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=55680"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=55680"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=55680"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=55680"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=55680"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=55680"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=55680"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=55680"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=55680"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=55680"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=55680"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=55680"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=55680"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}