{"id":55058,"date":"2018-03-08T06:00:08","date_gmt":"2018-03-07T23:00:08","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=55058"},"modified":"2018-03-08T11:43:52","modified_gmt":"2018-03-08T04:43:52","slug":"seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55058\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita","title":{"rendered":"Seberapa aman suaka margasatwa kita?"},"content":{"rendered":"<p style=\"line-height: 18.0pt; background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><em><span style=\"color: #333333;\">Merayakan <\/span><\/em><a href=\"http:\/\/www.wildlifeday.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><i><span style=\"color: #24a2b8;\">Hari Satwa Liar Dunia<\/span><\/i><\/a><em><span style=\"color: #333333;\"> pada 3 Maret 2018, sebagai peringatan tahunan penandatanganan Konvensi Internasional Perdagangan Spesies Terancam Satwa dan Tumbuhan Liar (CITES).<\/span><\/em><\/p>\n<p style=\"line-height: 18.0pt; background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">Kawasan lindung merupakan kunci dalam upaya konservasi keragaman hayati global. Tetapi, <\/span><a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/library\/6759\/an-assessment-of-threats-to-terrestrial-protected-areas\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><span style=\"color: #24a2b8;\">penelitian terbaru<\/span><\/a><span style=\"color: #333333;\"> menunjukkan bahwa perburuan dan aktivitas rekreasi menjadi ancaman signifikan bagi suaka satwa liar tersebut di seluruh dunia.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 18.0pt; background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">Penelitian ini menggabungkan data dari hampir 2000 kawasan lindung (KL) di 149 negara. Sebanyak enam puluh persen lokasi survey menyatakan perburuan sebagai ancaman, sementara 55 persen menunjuk pada aktivitas rekreasional. Hasil ini sekaligus mengungkap perbedaan geografis. Aktivitas rekreasional menjadi ancaman terbesar di daerah \u2018maju\u2019 seperti Amerika Utara dan Eropa. Sementara perburuan mendominasi daerah \u2018berkembang\u2019 seperti Afrika Tengah dan sebagian Amerika Selatan dan Asia.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 18.0pt; background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">\u201cPenelitian ini benar-benar menunjukkan perbedaan pemanfaatan oleh masyarakat terhadap KL di wilayah berbeda di dunia,\u201d kata Lauren Coad, peneliti <\/span><a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/bushmeat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><span style=\"color: #24a2b8;\">Inisiatif Penelitian Pangan Satwa Liar<\/span><\/a><span style=\"color: #333333;\"> (Bushmeat Research Initiative\/BRI) di Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) yang menjadi salah seorang penulis laporan ini.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 18.0pt; background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">Di wilayah maju, lanjutnya, upaya memperkuat perlindungan bisa relatif langsung: misalnya, melarang kunjungan turis ke KL. Meski bukan langkah populer, namun tidak akan membuat ada yang kelaparan. Namun, di wilayah berkembang, mengatasi ancaman terbesarnya \u2013 perburuan \u2013 merupakan proposisi yang lebih kompleks.<\/span><\/p>\n\n<div style=\"aspect-ratio:16\/9;min-height:unset;\" class=\"wp-block-cover alignfull has-parallax has-custom-content-position is-position-bottom-center has-aspect-ratio\">\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-cover__image-background wp-image-55063 size-full has-parallax\" style=\"background-position:50% 50%;\n\t\t\t\tbackground-image:url(https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/03\/36189810701_095409ace0_o-3.jpg)\">\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow\">\n\t\t\t\t\t<p class=\"has-text-align-center has-base-color has-text-color has-link-color has-small-font-size wp-elements-c7274f9a76ff948295c72066c2502b23\">Seekor macan tutul Jawa tertangkap kamera di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, Jawa Barat, Indonesia.<\/p>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t<\/div>\n<p><strong>BERBURU UNTUK HIDUP <\/strong><\/p>\n<p>Masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan, telah berburu satwa liar selama ratusan tahun. Di banyak permukiman terpencil, <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/51900\/a-window-on-wild-meat-in-colombia?fnl=en\">masyarakat  masih bergantung pada daging satwa liar<\/a> sebagai sumber penting protein dan mikronutrisi. Menghalangi masyarakat di wilayah tersebut untuk berburu akan menjadi tidak etis, karena menurut Coad, dapat berdampak negatif bagi penghidupan dan keamanan pangan lokal.<\/p>\n<p>John Fa, mitra peneliti senior CIFOR dan salah seorang pimpinan BRI, menceritakan sebuah pertemuan ketika tim penelitiannya bertanya pada anggota masyarakat, alternatif apa yang akan dilakukan jika mereka berhenti berburu. \u201cDan saya ingat, seorang pria berusia 70 tahun menjawab ingin menjadi pilot. Tentu saja ini bergurau \u2013 cara lain berkata, \u2018Yang benar saja, Anda sedang berbicara di mana?\u2019\u201d<\/p>\n<p>Lebih dari itu, menurut Coad, jenis perburuan subsisten \u2013 jika dikelola dengan baik oleh masyarakat lokal dan staf KL \u2013 bisa berkelanjutan. Tentu saja, tegasnya, jika jumlah penduduknya besar yang tinggal dekat KL yang relatif kecil, perburuan subsisten akan berdampak signifikan pada satwa liar. \u201cDan dalam kasus itu, kita harus bekerja sama dengan masyarakat lokalnya untuk mencari solusi,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Apalagi, ketika kepentingan komersial skala besar terlibat, pengaturan untuk menjaga keberlanjutan akan lebih sulit.<\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"Let\u2019s talk about bushmeat\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/mVZR1xv0IuY?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p><strong>GENG BERSENJATA <\/strong><\/p>\n<p>\u201cSebagian masyarakat menyebut perburuan komersial sebagai \u2018penambangan terbuka satwa liar\u2019, karena mereka memasuki satu wilayah dan mengambil semua yang bisa dibawa, dan ini jelas tidak kondusif bagi pemanfaatan lestari satwa liar,\u201d kata Fa.<\/p>\n<p>Pemburu jenis ini biasanya berpindah-pindah, memiliki persenjataan lengkap, dan cenderung mengincar spesies bernilai tinggi \u2013 dan sangat terancam \u2013 seperti gajah, singa, harimau dan trenggiling untuk pasar urban dan internasional.<\/p>\n<p>\u201cSaya pikir \u2018berburu\u2019 seringkali ditempatkan sebagai aktivitas homogen,\u201d kata Coad, \u201cDan ini bisa membentuk asumsi bahwa perburuan subsisten merupakan sebuah masalah. Namun, seringkali bukan masyarakat lokal terpencil di hutan yang berdampak besar pada satwa liar. Padahal adanya sekelompok pemburu komersial yang datang, lebih sulit dihadapi di tingkat lokal. Perlu penguatan hukum satwa liar di tingkat nasional dan internasional.\u201d<\/p>\n<p>Menjadi penting untuk tidak mengaburkan perburuan subsisten dengan proses ektraktif skala besar tersebut, tegas Fa. \u201cPerburuan merupakan masalah besar bagi kawasan lindung, tetapi kita perlu membedakan jenis-jenis perburuan yang terjadi.\u201d<\/p>\n<div style=\"aspect-ratio:16\/9;min-height:unset;\" class=\"wp-block-cover alignfull has-parallax has-custom-content-position is-position-bottom-center has-aspect-ratio\">\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-cover__image-background wp-image-55064 size-full has-parallax\" style=\"background-position:50% 50%;\n\t\t\t\tbackground-image:url(https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/03\/35381462404_f10154e306_k.jpg)\">\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow\">\n\t\t\t\t\t<p class=\"has-text-align-center has-base-color has-text-color has-link-color has-small-font-size wp-elements-c7274f9a76ff948295c72066c2502b23\">Seekor burung Blyth&#039;s Hornbill (Rhyticeros plicatus). Foto CIFOR\/Manuel Boissi\u00e8re<\/p>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t<\/div>\n<p style=\"line-height: 18.0pt; background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><strong>MASALAH LOKAL, SOLUSI GLOBAL <\/strong><\/p>\n<p style=\"line-height: 18.0pt; background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">Oleh karena itu, mengurangi permintaan nasional dan global, sama pentingnya dengan bekerja sama dengan masyarakat lokal dalam mengelola akses terhadap satwa liar. Menyediakan alternatif daging satwa liar di perkotaan, kata Coad, merupakan satu kotak teka-teki tersendiri. Ini pun menghadapi tantangan lain, urbanisasi aktual di banyak wilayah berkembang berarti banyak penduduk baru kota masih ingin membeli dan mengkonsumsi daging satwa liar, \u201csebagian karena sudah familiar, dan lebih disukai dibanding daging domestik seperti babi atau ayam,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 18.0pt; background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">Coad sendiri bisa jadi contoh: saat ini ia tinggal di Bogor, Indonesia, dan daripada makanan Indonesia, \u201cSaya masih pergi ke supermarket di Jakarta untuk belanja barang yang saya tahu dari Eropa: bukan karena lebih enak; hanya lebih familiar saja, dan saya tahu bagaimana memasaknya. Dan saya sering lupa elemen itu ketika diperkenalkan hal baru.\u201d<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 18.0pt; background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">Coad mengutip <\/span><a href=\"http:\/\/onlinelibrary.wiley.com\/doi\/10.1111\/conl.12391\/full\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><span style=\"color: #24a2b8;\">penelitian di Brasil<\/span><\/a><span style=\"color: #333333;\"> ketika ayam pertama kali diperkenalkan dengan harga diskon sebagai alternatif daging satwa liar. Upaya ini tidak berdampak pada konsumsi daging satwa liar hingga para peneliti menjalankan strategi pemasaran sosial, termasuk kelas memasak untuk menunjukkan bagaimana mempersiapkan menu ayam. \u201cDan tiba-tiba, konsumsi daging satwa liar berkurang lebih dari 60 persen. Ini benar-benar menunjukkan, jika kita tidak tahu bagaimana mempersiapkan sesuatu, kita tidak akan mengubah preferensi. Ini juga menunjukkan bagaimana kita harus memikirkan pendekatan berbeda.\u201d<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 18.0pt; background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">Elemen lain manajemen yang baik, kata Coad, adalah akses pada informasi yang baik. Dan salah satu fokus kunci BRI adalah menggabungkan data, seberapa besar masyarakat lokal memanfaatkan daging satwa liar untuk nutrisi dan penghasilan. Dari titik itu, mereka berharap pemerintah nasional memberi estimasi kontribusi pada GDP, agar hal ini bisa dikelola, seperti sektor lainnya. \u201cKarena seringkali, kita manusia, jika tidak menempatkan nilai pada sesuatu maka kita tidak menjaganya, karena kita tidak menganggapnya penting,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 18.0pt; background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">Selain itu, kata Coad, perlu juga untuk memelihara lobi dalam menurunkan permintaan nasional produk turunan spesies terancam, seperti gading gajah, dan <\/span><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/50886\/pangolins-under-pressure?fnl=en\"><span style=\"color: #24a2b8;\">produk pengobatan dari trenggiling<\/span><\/a><span style=\"color: #333333;\">.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 18.0pt; background: white; margin: 11.25pt 0in 15.0pt 0in;\"><span style=\"color: #333333;\">\u201cKita hidup dalam masyarakat yang makin terhubung. Untuk melindungi trenggiling di Gabon diperlukan perubahan preferensi konsumen yang berada di belahan bumi lain. Sebagai konsumen, kita memberi dampak pada ekologi, dan kita harus menjadi bagian dari solusi.\u201d<\/span><\/p>\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Merayakan Hari Satwa Liar Dunia pada 3 Maret 2018, sebagai peringatan tahunan penandatanganan Konvensi Internasional Perdagangan Spesies Terancam Satwa dan Tumbuhan Liar (CITES). Kawasan lindung merupakan kunci dalam upaya konservasi keragaman hayati global. Tetapi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa perburuan dan aktivitas rekreasi menjadi ancaman signifikan bagi suaka satwa liar tersebut di seluruh dunia. Penelitian ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":264,"featured_media":55067,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[188],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[2497,2489,2520,2681,2627,6935,2682,7568],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[7144],"class_list":["post-55058","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-food-and-diets","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-daging-satwa-liar","tag-bahasa-keanekaragaman-hayati","tag-bahasa-konservasi","tag-bahasa-margasatwa","tag-bahasa-perburuan-liar","tag-bahasa-perdagangan-ilegal-satwa-liar","tag-bahasa-perdagangan-satwa-liar","tag-bahasa-taman-nasional","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Seberapa aman suaka margasatwa kita? - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55058\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Seberapa aman suaka margasatwa kita?\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Merayakan Hari Satwa Liar Dunia pada 3 Maret 2018, sebagai peringatan tahunan penandatanganan Konvensi Internasional Perdagangan Spesies Terancam Satwa dan Tumbuhan Liar (CITES). Kawasan lindung merupakan kunci dalam upaya konservasi keragaman hayati global. Tetapi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa perburuan dan aktivitas rekreasi menjadi ancaman signifikan bagi suaka satwa liar tersebut di seluruh dunia. Penelitian ini [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55058\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-03-07T23:00:08+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-03-08T04:43:52+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/03\/36266279446_3692bea56d_k.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2048\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1367\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Monica Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55058\\\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55058\\\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita\"},\"author\":{\"name\":\"Monica Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\"},\"headline\":\"Seberapa aman suaka margasatwa kita?\",\"datePublished\":\"2018-03-07T23:00:08+00:00\",\"dateModified\":\"2018-03-08T04:43:52+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55058\\\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita\"},\"wordCount\":921,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55058\\\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/03\\\/36266279446_3692bea56d_k.jpg\",\"articleSection\":[\"Food &amp; diets\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55058\\\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2018\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55058\\\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55058\\\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita\",\"name\":\"Seberapa aman suaka margasatwa kita? - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55058\\\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55058\\\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/03\\\/36266279446_3692bea56d_k.jpg\",\"datePublished\":\"2018-03-07T23:00:08+00:00\",\"dateModified\":\"2018-03-08T04:43:52+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55058\\\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55058\\\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55058\\\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/03\\\/36266279446_3692bea56d_k.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/03\\\/36266279446_3692bea56d_k.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1367,\"caption\":\"Orangutan saat ini terancam punah dalam Daftar Merah IUCN, karena sejumlah faktor: kehilangan habitat, kebakaran, eksploitasi habitat dan pembalakan liar, fragmentasi habitat, perburuan dan perdagangan hewan liar. Malinau, Kalimantan Timur, Indonesia.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55058\\\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Seberapa aman suaka margasatwa kita?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55058\\\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55058\\\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\",\"name\":\"Monica Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Monica Evans\"},\"description\":\"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/monica-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/55058\\\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Seberapa aman suaka margasatwa kita? - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55058\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Seberapa aman suaka margasatwa kita?","og_description":"Merayakan Hari Satwa Liar Dunia pada 3 Maret 2018, sebagai peringatan tahunan penandatanganan Konvensi Internasional Perdagangan Spesies Terancam Satwa dan Tumbuhan Liar (CITES). Kawasan lindung merupakan kunci dalam upaya konservasi keragaman hayati global. Tetapi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa perburuan dan aktivitas rekreasi menjadi ancaman signifikan bagi suaka satwa liar tersebut di seluruh dunia. Penelitian ini [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55058\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2018-03-07T23:00:08+00:00","article_modified_time":"2018-03-08T04:43:52+00:00","og_image":[{"width":2048,"height":1367,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/03\/36266279446_3692bea56d_k.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Monica Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55058\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55058\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita"},"author":{"name":"Monica Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70"},"headline":"Seberapa aman suaka margasatwa kita?","datePublished":"2018-03-07T23:00:08+00:00","dateModified":"2018-03-08T04:43:52+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55058\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita"},"wordCount":921,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55058\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/03\/36266279446_3692bea56d_k.jpg","articleSection":["Food &amp; diets"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55058\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita#respond"]}],"copyrightYear":"2018","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55058\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55058\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita","name":"Seberapa aman suaka margasatwa kita? - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55058\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55058\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/03\/36266279446_3692bea56d_k.jpg","datePublished":"2018-03-07T23:00:08+00:00","dateModified":"2018-03-08T04:43:52+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55058\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55058\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55058\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/03\/36266279446_3692bea56d_k.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/03\/36266279446_3692bea56d_k.jpg","width":2048,"height":1367,"caption":"Orangutan saat ini terancam punah dalam Daftar Merah IUCN, karena sejumlah faktor: kehilangan habitat, kebakaran, eksploitasi habitat dan pembalakan liar, fragmentasi habitat, perburuan dan perdagangan hewan liar. Malinau, Kalimantan Timur, Indonesia."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55058\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Seberapa aman suaka margasatwa kita?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55058\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55058\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70","name":"Monica Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","caption":"Monica Evans"},"description":"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/monica-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/55058\/seberapa-aman-suaka-margasatwa-kita#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2018\/03\/36266279446_3692bea56d_k.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55058","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/264"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=55058"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55058\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/55067"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=55058"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=55058"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=55058"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=55058"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=55058"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=55058"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=55058"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=55058"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=55058"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=55058"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=55058"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=55058"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=55058"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}