{"id":53275,"date":"2017-12-20T13:00:29","date_gmt":"2017-12-20T06:00:29","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=53275"},"modified":"2018-02-07T15:47:22","modified_gmt":"2018-02-07T08:47:22","slug":"mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/53275\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam","title":{"rendered":"Mengukir jejak: Bagaimana pergerakan manusia membentuk bentang alam"},"content":{"rendered":"<p>Saat populasi bergerak, kita cenderung berasumsi mengenai hal yang buruk. Perang, kemiskinan atau degradasi lingkungan menjadi kambing hitam pertama. Namun, penelitian di Sahel menunjukkan bahwa pola mobilitas lebih kompleks, sekaligus pula mengungkap contoh positif, populasi yang secara aktif memilih bergerak, karena dibentuk sekaligus membentuk bentang alam menjadi lebih baik.<\/p>\n<p>Fenomena mobilitas dan migrasi bukan hal baru, dan telah lama menjadi hal biasa di wilayah seperti hutan lahan kering Sahel, kata Houria Djoudi, ilmuwan <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional <\/a> (CIFOR).<\/p>\n<p>\u201cDi banyak tempat mobilitas selalu ada. Masyarakat telah mengelola bentang alam mereka, sekaligus pula penghidupan mereka dengan melakukan mobilitas,\u201d kata Djoudi.<\/p>\n<p>\u201cHubungan antara bentang alam dan migrasi saling memengaruhi \u2013 bukan sesuatu yang searah. Masyarakat bermigrasi juga disebabkan oleh alasan-alasan yang terjadi di dalam bentang alamnya. Mereka juga mengubah bentang alam menggunakan kemampuan dan uang yang mereka dapat melalui migrasi,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Menjelang <a href=\"http:\/\/events.globallandscapesforum.org\/bonn-2017\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Forum Bentang Alam Global<\/a> di Bonn, Jerman, pekan ini, <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/\">Kabar Hutan<\/a> berkesempatan mendengar pandangan Djoudi mengenai pentingnya mobilitas dan migrasi, serta apa yang didapat dari penelitian yang tengah dilakukan terkait hubungan keduanya pada bentang alam.<\/p>\n\n\n\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_box related_promo_glf-bonn-2017'>\n\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_fullwidth'>\n\t\t\t\t\t\t<div class='bg_sevent_box'><img src='https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/bonn-2017-forestnews-1.png'><\/div>\n\t\t\t\t\t\t<div class='sevent'>\n\t\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_left'>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\n\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_right'>\n\t\t\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_right_text'>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_right_text_heading'>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<div>\r\n<a href=\"http:\/\/events.globallandscapesforum.org\/bonn-2017\/?utm_source=Forests+News&utm_medium=Widget+single+button&utm_campaign=cop13\" target=\"_blank\">\r\n<span class=\"sevent_sub_heading\">Be part of the movement <\/span>\r\n<span class=\"sevent_main_heading\">Global Landscapes Forum: Bonn 2017<\/span>\r\n<span class=\"sevent_sub_desc\">19-20 December<\/span>\r\n<span class=\"sevent_view_link\">See event details here<\/span>\r\n<\/a>\r\n<\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t<\/div><div class='clear clearfix'><\/div>\n\t\t\t\t\t\t<\/div><div class='clear clearfix'><\/div>\n\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t<div class='clear clearfix'><\/div>\n\t\t\t\t\t<style>\n\t\t\t\t\t.related_promo_glf-bonn-2017 .bg_sevent_box {\n\t\t\t\t\t\tposition: absolute;\n\t\t\t\t\t\ttop: 0;\n\t\t\t\t\t\theight: 230px;\n\t\t\t\t\t\tleft: -315px;\n\t\t\t\t\t\toverflow: hidden;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_glf-bonn-2017 .bg_sevent_box img{ height:100%; }\n\t\t\t\t\t.related_promo_glf-bonn-2017 .sevent {\n\t\t\t\t\t\twidth: 100%;\n\t\t\t\t\t\tmargin: 0 auto;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_glf-bonn-2017 .sevent_main_heading{\n\t\t\t\t\t\tfont-size: 24px;\n\t\t\t\t\t\tfont-weight: bold;\n\t\t\t\t\t\tfont-family: \"PT Serif\", serif;\n\t\t\t\t\t\tline-height: 30px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_glf-bonn-2017 a .sevent_main_heading{\n\t\t\t\t\t\tcolor:#444;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_glf-bonn-2017 .sevent_view_link{\n\t\t\t\t\t\tdisplay: block;\n\t\t\t\t\t\tmargin: 0px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_glf-bonn-2017 .sevent_aprs_logo{\n\t\t\t\t\t\tmargin-top: 16px;\n\t\t\t\t\t\tdisplay: block;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_glf-bonn-2017 .sevent_sub_heading{\n\t\t\t\t\t\tfont-size: 18px;\n\t\t\t\t\t\tdisplay: block;\n\t\t\t\t\t\tfont-family: roboto;\n\t\t\t\t\t\tfont-weight: normal;\n\t\t\t\t\t\tcolor: #a4a4a4;\n\t\t\t\t\t\tpadding-top:10px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_glf-bonn-2017 .sevent_sub_desc{\n\t\t\t\t\t\tfont-size: 15px;\n\t\t\t\t\t\tdisplay: block;\n\t\t\t\t\t\tfont-family: roboto;\n\t\t\t\t\t\tfont-weight: normal;\n\t\t\t\t\t\tcolor: #a4a4a4;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_glf-bonn-2017 .sevent_left{\n\t\t\t\t\t\tpadding-top: 35px;\n\t\t\t\t\t\tpadding-left: 35px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_glf-bonn-2017 .sevent_right{\n\t\t\t\t\t\twidth:80%;\n\t\t\t\t\t\tpadding:20px 25px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_glf-bonn-2017 .sevent_fullwidth{\n\t\t\t\t\t\tbackground-color: #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\tborder-left: 600rem solid #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\tborder-right: 600rem solid #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\tpadding:0px 0px;\n\t\t\t\t\t\toverflow: hidden;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_glf-bonn-2017 .bg_sevent_box {\r\n    height: 175px;\r\n    left: -210px;\r\n}\r\n\n\t\t\t\t\t@media all and (max-width: 767px){\n\t\t\t\t\t\t.related_promo_glf-bonn-2017 .sevent_fullwidth{\n\t\t\t\t\t\t\tborder-left: 0rem solid #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\t\tborder-right: 0rem solid #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t\t.related_promo_glf-bonn-2017 .sevent_right {\n\t\t\t\t\t\t\twidth: 100%;\n\t\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t\t.sevent_main_heading br{\n\t\t\t\t\t\t\tdisplay:none;\n\t\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t\t.related_promo_glf-bonn-2017 .sevent_aprs_logo img{\n\t\t\t\t\t\t\tmax-width:100%;\n\t\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t<\/style>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p><strong>Apakah mobilitas ini fenomena baru, atau sudah berlangsung lama?<\/strong><\/p>\n<p>Di banyak wilayah dan budaya, sebenarnya mobilitas itu hal yang biasa \u2013 bagaimana masyarakat mengelola penghidupan dan juga bentang alamnya. Jika kita lihat Sahel, misalnya, para penggembala selalu bergerak dengan hewan ternaknya. Di bentang alam ini, terjadi variabilitas besar sebaran sumber daya pada sebagian besar waktunya, terutama hujan. Ini merupakan strategi adaptif terhadap variabilitas iklim itu, selain juga strategi penghidupan masyarakat dalam mendiversifikasi penghidupannya.<\/p>\n<p><strong>Apa hubungannya dengan Bentang Alam?<\/strong><\/p>\n<p>Jika kita melihat penelitian mengenai migrasi yang telah dilakukan, sebagian besar berkaitan dengan isu dari sudut pandang ekonomi. Hanya sedikit penelitian, atau proyek, yang mengaitkan migrasi dengan perubahan lingkungan, migrasi dengan perubahan sosial dan dengan perubahan lingkungan yang terjadi dalam bentang alam. Ini yang kita coba lakukan di CIFOR, mengangkat mobilitas dan migrasi ke tengah perdebatan mengenai perubahan dalam bentang alam. Kita ingin berkontribusi untuk lebih mengintegrasikan mobilitas manusia sebagai proses inheren dalam dinamika bentang alam lebih luas.<\/p>\n<p>Kita mendapati, misalnya, di Burkina Faso masyarakat berpindah dari utara ke selatan untuk mencari peluang bertani karena kesuburan tanah di utara tidak sebaik di selatan. Bentang alam membentuk pergerakan ini. Namun pada saat yang sama, kita mendapati masyarakat mengirimkan remitansi, mengirim uang dan berinvestasi dalam strategi atau aktivitas berbasis lahan. Mereka membentuk bentang alam di desa asal.<\/p>\n<p>Jika kita memandang migrasi sebagai proses pasif, reaktif dan konfliktual, bahwa masyarakat seperti terpaksa untuk bergerak, khususnya di Sahel, alasan itu tidak terbukti. Masyarakat tidak hanya bereaksi terhadap sesuatu untuk bermigrasi. Migrasi merupakan bentuk diversifikasi penghidupan, sebentuk strategi. Masyarakat melakukannya secara aktif dan sebagai sebuah pilihan, yang terjadi di level rumah tangga atau bahkan sering kali di level komunitas.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p><strong>Dapatkah diberikan contoh dari penelitian Anda?<\/strong><\/p>\n<p>Salah satu kisah di Burkina Faso, kita mendapati perempuan-perempuan penggembala migran yang pindah ke sebuah desa di selatan Burkina Faso. Penggembala perempuan biasanya tidak memiliki akses pada jenis pohon sumber makanan tertentu, seperti Nere. Namun melalui survei, kita mendapati mereka menjual produk dari pepohonan ini. Ketika memeriksa data lebih dalam, kita temukan, karena para penggembala perempuan ini lebih cekatan memanjat pohon dibanding perempuan asli, mereka membantu memetik buah-buahan di atas pohon. Hal yang tidak dilakukan perempuan penduduk asli. Di sini, kita dapati pola umum, bagaimana kapabilitas, pengetahuan dan kemampuan menjadi penting alam konteks migrasi.<\/p>\n<p>Cerita seperti ini penting karena menunjukkan pada kita bagaimana migrasi tidak selalu soal konflik. Seringkali, migrasi juga mengenai penguasaan kemampuan \u2013 memiliki kemampuan baru dan berbeda \u2013 dan memanfaatkan kemampuan tersebut untuk mengelola bentang alam dengan lebih baik.<\/p>\n<p><strong>Apa yang akan Anda sampaikan pada Forum Bentang Alam Global?<\/strong><\/p>\n<p>Pada GLF, saya akan berbicara mengenai proyek yang sedang kita lakukan di Burkina Faso dan mengangkat wacana migrasi jenis ini, atau mendorong isu migrasi ke tengah perdebatan. Sebenarnya, migrasi sudah ada di posisi itu, namun tampaknya, seperti yang saya katakan sebelumnya, hanya sebagai sebuah kekecualian, bukan kebiasaan. Dan harapan kami dalam proyek ini adalah untuk lebih memahami: Bagaimana migrasi berkontribusi pada perubahan dalam bentang alam?<\/p>\n<p>Terdapat pula dimensi gender, mengingat migrasi adalah juga perubahan demografi. Kita mendapati desa, yang misalnya, <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/52031\/in-nepal-what-migration-means-on-the-home-front?fnl=en\">seluruh lelaki muda pergi<\/a><u>,<\/u> dan meninggalkan perempuan dan anak-anak di desa tersebut. Kita ingin memahami: Apa artinya ini dalam pengelolaan sumber daya, dalam hal peran gender dan relasi gender? Kemudian, secara khusus, apa yang terjadi ketika para perantau kembali dengan pengalaman dan kemampuan berbeda. Inilah isu-isu yang ingin saya sampaikan pada GLF.<\/p>\n<p><strong>Apa yang diharapkan ingin dicapai melalui penelitian Anda, dan melalui paparan Anda di GLF?<\/strong><\/p>\n<p>Proyek ini masih berlangsung, namun satu hal yang kita coba lakukan adalah menciptakan debat di tingkat nasional. Seperti, mengaitkan realitas lokal migrasi dan remitansi, serta mengangkat temuan ini ke tingkat nasional, untuk kemudian membangun debat mengenai bagaimana kebijakan \u2013 khususnya kebijakan yang terkait pada lingkungan, perencanaan lahan, pemanfaatan lahan. Bagaimana agar temuan ini dapat benar-benar menyempurnakan atau meningkatkan pengambilan keputusan di seputar bentang alam secara umum.<\/p>\n<p>Fokusnya adalah benar-benar untuk lebih membawa para pengambil kebijakan di level nasional mengintegrasikan, bukan hanya migrasi tetapi juga mobilitas secara umum dalam pengambilan keputusan mereka dalam hal bentang alam.<\/p>\n<p>Saya berharap pada GLF nanti tercipta hubungan dengan orang-orang yang juga bekerja di topik ini, selain juga karena audiens-nya beragam \u2013 para pengambil kebijakan, pemangku kepentingan, dan donor \u2013 saya ingin membangun debat di seputar peran migrasi dan mobilitas dalam mengelola bentang alam. Dan inilah tujuannya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saat populasi bergerak, kita cenderung berasumsi mengenai hal yang buruk. Perang, kemiskinan atau degradasi lingkungan menjadi kambing hitam pertama. Namun, penelitian di Sahel menunjukkan bahwa pola mobilitas lebih kompleks, sekaligus pula mengungkap contoh positif, populasi yang secara aktif memilih bergerak, karena dibentuk sekaligus membentuk bentang alam menjadi lebih baik. Fenomena mobilitas dan migrasi bukan hal [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":221,"featured_media":53278,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,182,6090,95,180,151],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[2687,2587,2699,7280,7279,7179,2602,7418,2819,2745],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3094],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[6538],"class_list":["post-53275","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-community-forestry","category-forests-news","category-human-wellbeing","category-mitigating-climate-change","category-redd-2","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-afrika","tag-bahasa-bentang-alam","tag-bahasa-burkina-faso","tag-bahasa-forum-bentang-alam-global","tag-bahasa-glf","tag-bahasa-masyarakat","tag-bahasa-migrasi","tag-bahasa-nere","tag-bahasa-redd","tag-bahasa-sahel","type-bahasa-wawancara"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Mengukir jejak: Bagaimana pergerakan manusia membentuk bentang alam - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/53275\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mengukir jejak: Bagaimana pergerakan manusia membentuk bentang alam\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Saat populasi bergerak, kita cenderung berasumsi mengenai hal yang buruk. Perang, kemiskinan atau degradasi lingkungan menjadi kambing hitam pertama. Namun, penelitian di Sahel menunjukkan bahwa pola mobilitas lebih kompleks, sekaligus pula mengungkap contoh positif, populasi yang secara aktif memilih bergerak, karena dibentuk sekaligus membentuk bentang alam menjadi lebih baik. Fenomena mobilitas dan migrasi bukan hal [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/53275\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-12-20T06:00:29+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-02-07T08:47:22+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/35835286116_33194a39a1_k-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2048\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1536\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Forests News staff\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/53275\\\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/53275\\\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam\"},\"author\":{\"name\":\"Catriona Croft-Cusworth\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/f35814b7624c461123485a4cba48f021\"},\"headline\":\"Mengukir jejak: Bagaimana pergerakan manusia membentuk bentang alam\",\"datePublished\":\"2017-12-20T06:00:29+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:47:22+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/53275\\\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam\"},\"wordCount\":895,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/53275\\\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/12\\\/35835286116_33194a39a1_k-1.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Community forestry\",\"Forests News\",\"Human well-being\",\"Mitigation\",\"REDD+\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/53275\\\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/53275\\\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/53275\\\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam\",\"name\":\"Mengukir jejak: Bagaimana pergerakan manusia membentuk bentang alam - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/53275\\\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/53275\\\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/12\\\/35835286116_33194a39a1_k-1.jpg\",\"datePublished\":\"2017-12-20T06:00:29+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:47:22+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/53275\\\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/53275\\\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/53275\\\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/12\\\/35835286116_33194a39a1_k-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/12\\\/35835286116_33194a39a1_k-1.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1536,\"caption\":\"Seekor keledai dan gerobak membawa orang bepergian. Hutan kering dan hutan di Afrika mencakup 54% benua dan mendukung sekitar 64% penduduknya melalui penyediaan berbagai macam barang dan jasa lingkungan seperti di Burkina Faso.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/53275\\\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mengukir jejak: Bagaimana pergerakan manusia membentuk bentang alam\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/53275\\\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/53275\\\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/f35814b7624c461123485a4cba48f021\",\"name\":\"Catriona Croft-Cusworth\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/41f574f15320751606cc8609c99c5f07245c52bb9eb9f3f255f4265d480dbaa5?s=96&d=mm&r=g77fddd7045adb9631a1f5570fbaec8b8\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/41f574f15320751606cc8609c99c5f07245c52bb9eb9f3f255f4265d480dbaa5?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/41f574f15320751606cc8609c99c5f07245c52bb9eb9f3f255f4265d480dbaa5?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Catriona Croft-Cusworth\"},\"description\":\"Catriona Croft-Cusworth is an editor and writer. She was formerly editor of Forests News (2017-2018). She has worked in media and communications in Indonesia since 2010, and holds degrees in Arts and Asian Studies from the Australian National University.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/c-cusworth\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/53275\\\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Mengukir jejak: Bagaimana pergerakan manusia membentuk bentang alam - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/53275\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Mengukir jejak: Bagaimana pergerakan manusia membentuk bentang alam","og_description":"Saat populasi bergerak, kita cenderung berasumsi mengenai hal yang buruk. Perang, kemiskinan atau degradasi lingkungan menjadi kambing hitam pertama. Namun, penelitian di Sahel menunjukkan bahwa pola mobilitas lebih kompleks, sekaligus pula mengungkap contoh positif, populasi yang secara aktif memilih bergerak, karena dibentuk sekaligus membentuk bentang alam menjadi lebih baik. Fenomena mobilitas dan migrasi bukan hal [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/53275\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2017-12-20T06:00:29+00:00","article_modified_time":"2018-02-07T08:47:22+00:00","og_image":[{"width":2048,"height":1536,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/35835286116_33194a39a1_k-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Forests News staff","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/53275\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/53275\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam"},"author":{"name":"Catriona Croft-Cusworth","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/f35814b7624c461123485a4cba48f021"},"headline":"Mengukir jejak: Bagaimana pergerakan manusia membentuk bentang alam","datePublished":"2017-12-20T06:00:29+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:47:22+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/53275\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam"},"wordCount":895,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/53275\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/35835286116_33194a39a1_k-1.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Community forestry","Forests News","Human well-being","Mitigation","REDD+"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/53275\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/53275\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/53275\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam","name":"Mengukir jejak: Bagaimana pergerakan manusia membentuk bentang alam - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/53275\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/53275\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/35835286116_33194a39a1_k-1.jpg","datePublished":"2017-12-20T06:00:29+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:47:22+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/53275\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/53275\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/53275\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/35835286116_33194a39a1_k-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/35835286116_33194a39a1_k-1.jpg","width":2048,"height":1536,"caption":"Seekor keledai dan gerobak membawa orang bepergian. Hutan kering dan hutan di Afrika mencakup 54% benua dan mendukung sekitar 64% penduduknya melalui penyediaan berbagai macam barang dan jasa lingkungan seperti di Burkina Faso."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/53275\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mengukir jejak: Bagaimana pergerakan manusia membentuk bentang alam"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/53275\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/53275\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/f35814b7624c461123485a4cba48f021","name":"Catriona Croft-Cusworth","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/41f574f15320751606cc8609c99c5f07245c52bb9eb9f3f255f4265d480dbaa5?s=96&d=mm&r=g77fddd7045adb9631a1f5570fbaec8b8","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/41f574f15320751606cc8609c99c5f07245c52bb9eb9f3f255f4265d480dbaa5?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/41f574f15320751606cc8609c99c5f07245c52bb9eb9f3f255f4265d480dbaa5?s=96&d=mm&r=g","caption":"Catriona Croft-Cusworth"},"description":"Catriona Croft-Cusworth is an editor and writer. She was formerly editor of Forests News (2017-2018). She has worked in media and communications in Indonesia since 2010, and holds degrees in Arts and Asian Studies from the Australian National University.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/c-cusworth"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/53275\/mengukir-jejak-bagaimana-pergerakan-membentuk-bentang-alam#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/12\/35835286116_33194a39a1_k-1.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53275","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/221"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=53275"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53275\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/53278"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=53275"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=53275"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=53275"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=53275"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=53275"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=53275"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=53275"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=53275"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=53275"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=53275"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=53275"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=53275"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=53275"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}