{"id":52276,"date":"2017-10-30T10:00:00","date_gmt":"2017-10-30T03:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=52276"},"modified":"2017-10-30T09:22:52","modified_gmt":"2017-10-30T02:22:52","slug":"masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52276\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat","title":{"rendered":"Masyarakat inginkan kolaborasi, dan hukum adat"},"content":{"rendered":"<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">Di bawah payung hukum adat berabad lamanya, masyarakat di Maluku, wilayah timur Indonesia, hidup sejahtera dari hutan mereka tanpa kendala. Dari hutan, mereka mendapatkan kayu untuk rumah, memanen sagu dan gula, berburu babi dan mengumpulkan kayu bakar untuk memasak.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">Melalui <\/span><span lang=\"EN-US\"><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/48963\/three-decades-of-tenure-reform-in-indonesia?fnl=en\"><span style=\"color: #24a2b8; text-decoration: none; text-underline: none;\">berbagai perubahan regulasi kehutanan di Indonesia<\/span><\/a><span style=\"color: #333333;\"> sejak 1960 hingga kini, hukum adat tetap menjadi prinsip informal panduan manajemen hutan dalam mewujudkan hutan lestari di Maluku. Namun, meningkatnya kebutuhan lahan akibat pertambahan penduduk, migrasi dan pembangunan, membuat hukum adat dan hutan yang disangga berada dalam ancaman.<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">Meski hak masyarakat untuk memanfaatkan dan mengelola hutan diakui oleh Undang-Undang Kehutanan No.41\/1999, sebagian besar pelaku informal adat tetap sulit mendapatkan hak adat atas tenurial di bawah regulasi nasional.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">Tanpa keamanan tenurial, masyarakat terancam kehilangan hutan adat akibat ekspansi perumahan, jalan dan pertanian, atau perusahan perkebunan swasta, industri kayu atau tambang. Ini berimplikasi tidak hanya pada hutan, tetapi juga pada masyarakat yang masih bergantung pada hutan untuk penghidupannya.<\/span><\/p>\n<p>Menurut <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/library\/6399\/securing-tenure-rights-in-maluku-indonesia-searching-for-common-action\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penelitian terbaru<\/a> yang dipimpin <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional <\/a> (CIFOR), manajemen kolaboratif adat tetap menjadi skenario pilihan bagi masyarakat di Maluku, dengan tujuan menyangga masyarakat dan hutan lestari di masa depan.<\/p>\n<p>Temuan terbaru ini muncul sebagai bagian dari <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/gcs-tenure\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Studi Komparatif Global mengenai Reformasi Tenurial<\/a>, yang bertujuan mengungkap bagaimana reformasi tenurial hutan diterapkan, dan hasilnya bagi keamanan tenurial. Studi dilakukan secara simultan di Indonesia, Peru dan Uganda.<\/p>\n<p>Di Indonesia, tiga lokasi \u2013 Maluku, Lampung dan Kalimantan \u2013 dipilih untuk mendapatkan pemahaman komprehensif reformasi tenurial negara tersebut. Maluku dipilih karena memiliki sistem manajemen hutan adat yang kuat, sebagaimana ditemukan penelitian CIFOR 2010-2014 lalu, dan menjadi data dasar penelitian ini. Lampung telah menerapkan perhutanan sosial sekitar satu dekade, sementara Kalimantan baru mulai memperkenalkan reformasi tenurial.<\/p>\n<p>Penelitian di Maluku bertujuan meningkatkan pemahaman mengenai faktor yang mempengaruhi keamanan tenurial masyarakat dalam rangka menyusun rencana aksi menjamin hak masyarakat lokal dan meningkatkan dampak penghidupan dari skenario yang diterima.<\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><em><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">Topik ini didiskusikan dalam <\/span><\/em><span lang=\"EN-US\"><a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/event\/indonesia-tenure-conference-2017\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><span style=\"color: #24a2b8;\">Konferensi Tenurial 2017<\/span><\/a><em><span style=\"color: #333333;\"> pada 25-27 Oktober di Jakarta, Indonesia.<\/span><\/em><\/span><\/p>\n\n<div style=\"aspect-ratio:16\/9;min-height:unset;\" class=\"wp-block-cover alignfull has-parallax has-custom-content-position is-position-bottom-center has-aspect-ratio\">\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-cover__image-background wp-image-52279 size-full has-parallax\" style=\"background-position:50% 50%;\n\t\t\t\tbackground-image:url(https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/36907779826_544d218a4a_k-1.jpg)\">\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow\">\n\t\t\t\t\t<p class=\"has-text-align-center has-base-color has-text-color has-link-color has-small-font-size wp-elements-c7274f9a76ff948295c72066c2502b23\">Tampak atas Desa Honitetu, Maluku. Desa ini merupakan salah satu tempat penelitian di masyarakat dilibatkan<\/p>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t<\/div>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><strong><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">PELUANG MASA DEPAN<\/span><\/strong><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">Pendekatan analisis prospektif partisipatoris (PPA) dipilih oleh para peneliti untuk memfasilitasi interaksi intensif antar spektrum luas pemangku kepentingan, yang sulit terbentuk dalam situasi normal.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">\u201cKami menggunakan PPA sebagai titik masuk penelitian di sebuah wilayah dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, dari tingkat kabupaten hingga provinsi,\u201d kata Nining Liswanti, peneliti CIFOR dan koordinator penelitian Indonesia. \u201cSaat mereka setuju berpartisipasi, mereka harus berpartisipasi di seluruh tahapan penelitian.\u201d<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">Sebanyak 19 peserta bergabung dalam kelompok ahli, yang dipilih berdasarkan pengalaman mereka dalam manajemen hutan, termasuk tokoh masyarakat, akademisi, dan representasi lembaga pemerintah daerah, organisasi non-pemerintah dan sektor swasta.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">Serangkaian lokakarya digelar dengan menempatkan seluruh pemangku kepentingan secara setara dan diberikan kebebasan mengekspresikan pendapatnya. Melalui cara ini, kelompok ahli mengidentifikasi kekuatan perubahan yang dapat mempengaruhi keamanan tenurial masyarakat lokal.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">Terdapat lima tahap dalam lokakarya PPA. Pertama, peserta diberi pertanyaan inti: \u201cBagaimana masa depan keamanan tenurial hutan di Maluku?\u201d Mereka diminta menggambarkan sistem manajemen hutan ideal jangka panjang dalam lingkup wilayah mereka, misalnya, 20 tahun ke depan.<\/span><\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">Lokakarya awal, masing-masing selama dua hari dibagi dalam tiga pertemuan di tingkat provinsi. Pertemuan pertama ditujukan untuk mengidentifikasi kekuatan perubahan, dan menganalisisnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">Pada tahap kedua dan ketiga, peserta terlibat mendeteksi dan mendefinisikan kekuatan perubahan, serta mengidentifikasi dan memilih kekuatan pendorong dan bagaimana mereka saling mempengaruhi.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">Kekuatan pendorong utama keamanan tenurial lokal yang teridentifikasi adalah: pemerintah daerah, anggaran pemerintah lokal, potensi wisata, hak dan lembaga adat, penguatan hak dan suara perempuan adat, konversi lahan dan rencana tata ruang, regulasi daerah, pengetahuan masyarakat, kesadaran dan pemberdayaan masyarakat.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">Tahap berikut menghasilkan lima skenario berbeda, menangkap harapan keamanan tenurial masyarakat lokal, dengan kombinasi berbeda dari delapan faktor pembentuk keamanan tenurial.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">\u201cKami biasanya menyusun skenario berbeda. Satu yang kolaboratif, di mana seluruh pemangku kepentingan terlibat \u2013 sebagai skenario ideal. Skenario lain menempatkan empasis pada perempuan. Skenario lain di titik beratkan pada satu sisi, yang lebih berpengaruh pada yang lain, dan menciptakan konflik,\u201d papar Liswanti.<\/span><\/p>\n<div style=\"aspect-ratio:16\/9;min-height:unset;\" class=\"wp-block-cover alignfull has-parallax has-custom-content-position is-position-bottom-center has-aspect-ratio\">\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-cover__image-background wp-image-52280 size-full has-parallax\" style=\"background-position:50% 50%;\n\t\t\t\tbackground-image:url(https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/36179849764_84ac1c36e5_k-1.jpg)\">\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow\">\n\t\t\t\t\t<p class=\"has-text-align-center has-base-color has-text-color has-link-color has-small-font-size wp-elements-c7274f9a76ff948295c72066c2502b23\">Kaum perempuan berpartisipasi dalam pemetaan sumber daya alam di desa Honitetu, Maluku.<\/p>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t<\/div>\n<p><strong>BERTINDAK<\/strong><\/p>\n<p>Langkah terakhir adalah mengelaborasi rencana aksi berdasar pada skenario pilihan. Jadi bagaimana masyarakat Maluku memandang masa depan hutan mereka?<\/p>\n<p>Para pemangku kepentingan mempersepsi keamanan tenurial secara multi dimensi dan beragam. Anggota kelompok ahli sepakat, jika masyarakat diberi hak dan jaminan kepemilikan penuh, hasilnya  akan memperkuat pemanfaatan dan manajemen lestari sumber daya hutan.<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p>Bagi masyarakat lokal, hak penuh kepemilikan dan pengakuan atas lembaga adat menjadi kunci, sementara bagi pemerintahan daerah, pemanfaatan lahan dan sumber daya hutan lestari merupakan pertimbangan utama.<\/p>\n<p>\u201cKini masyarakat terpaksa mengakui bahwa lahan adat berada di dalam, atau beririsan dengan, wilayah hutan negara, baik hutan produksi atau hutan lindung,\u201d kata Liswanti.<\/p>\n<p>\u201cAkibat tumpang tindih ini, ada batasan hukum masyarakat tidak lagi boleh menebang pohon tanpa ijin \u2013 atau jika boleh, hanya kayu untuk kebutuhan dasar, tidak boleh dijual.\u201d<\/p>\n<p>Aktor non-pemerintah memandang ambiguitas aturan dan praktik antar lembaga merupakan ancaman bagi keamanan tenurial, sementara pemerintah pusat memandang praktik adat sebagai sorotan utama.<\/p>\n<p>\u201cDalam masyarakat ada ketidaksepakatan atas isu perhutanan sosial. Mereka ingin status hutan lebih tegas,\u201d kata Liswanti. \u201cSebelumnya, mereka tidak pernah berpikir bahwa perhutanan sosial sebagai solusi menang-menang.\u201d<\/p>\n<p>Skenario pilihan masyarakat menekankan pada tata kelola yang baik, kolaborasi, penghargaan dan pengakuan hak dan lembaga adat, serta menolak skenario di bawah kontrol eksklusif dominan pemerintah atau aktor sektor swasta.<\/p>\n<p>\u201cMereka sepakat pada skenario ideal ini,\u201d kata Liswanti. \u201cJadi apa yang perlu kita lakukan untuk mewujudkannya? Masyarakat ingin reformasi tenurial, namun mereka ingin hal itu berada di dalam skema hutan adat.\u201d<\/p>\n\n<div style=\"aspect-ratio:16\/9;min-height:unset;\" class=\"wp-block-cover alignfull has-parallax has-custom-content-position is-position-bottom-center has-aspect-ratio\">\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-cover__image-background wp-image-52281 size-full has-parallax\" style=\"background-position:50% 50%;\n\t\t\t\tbackground-image:url(https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/36618597250_56e9ac331b_k-1.jpg)\">\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow\">\n\t\t\t\t\t<p class=\"has-text-align-center has-base-color has-text-color has-link-color has-small-font-size wp-elements-c7274f9a76ff948295c72066c2502b23\">Yokbet Yawate di desa Honitetu, Maluku membawa kayu bakar. Hutan adat di sini telah menjadi sumber penghidupan rumah tangga selama berabad-abad. <\/p>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t<\/div>\n<p><strong>MELANGKAH MAJU<\/strong><\/p>\n<p>Berbagai skenario, terlepas kepentingannya, berhasil menunjukkan isu kunci keberhasilan reformasi saat ini dalam mewujudkan keamanan tenurial bagi masyarakat lokal di Maluku<\/p>\n<p>Pertimbangan penting implementasi reformasi antara lain alokasi anggaran, koordinasi, perubahan kebijakan dan regulasi, lemahnya data rencana tata ruang dan rendahnya pengakuan hak adat. Faktor-faktor tersebut penting dalam implementasi reformasi tenurial dan dapat menjadi ancaman bagi keamanan tenurial.<\/p>\n<p>Semua pemangku kepentingan sepakat untuk mengintegrasikan rencana aksi ke dalam aktivitas program pemerintahan di Maluku, untuk mengawal implementasi. Namun, masih ada kebutuhan untuk lebih dinegosiasikan oleh para aktor terkait.<\/p>\n<p>\u201cKesatuan pemangku hutan, sebagai tulang punggung reformasi tenurial hutan di tingkat lapangan, bekerja sama dengan Badan Perhutanan Sosial di Ambon, perlu lebih terlibat dengan masyarakat dalam memahami kebutuhan masyarakat dalam mewujudkan keamanan tenurial masa depan yang lebih baik,\u201d kata Liswanti.<\/p>\n<p>\u201cKami berharap pemerintah daerah mengerti karakter masyarakatnya, dan memanfaatkan konsep yang sesuai untuk mereka,\u201d tambahnya.<\/p>\n\n<p><em>Para peneliti mengucapkan terima kasih atas kontribusi kelompok ahli PPA di Maluku, yang merepresentasikan pemangku kepentingan berbeda, termasuk di dalamnya pejabat pemerintah dan tokoh non-pemerintah.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di bawah payung hukum adat berabad lamanya, masyarakat di Maluku, wilayah timur Indonesia, hidup sejahtera dari hutan mereka tanpa kendala. Dari hutan, mereka mendapatkan kayu untuk rumah, memanen sagu dan gula, berburu babi dan mengumpulkan kayu bakar untuk memasak. Melalui berbagai perubahan regulasi kehutanan di Indonesia sejak 1960 hingga kini, hukum adat tetap menjadi prinsip [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":272,"featured_media":52290,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[182,173,1072],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[7267,7241,7180,6913,2721,7260,7247,7263,7264,2520,7261,2777,2590,7262,2591,7259,5224,6959,7266,7265,2562,6521],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[7230],"class_list":["post-52276","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-community-forestry","category-gender-justice-tenure","category-landscapes","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-badan-perhutanan-sosial","tag-bahasa-gcs-tenurial","tag-bahasa-hak-hutan","tag-bahasa-hutan-adat","tag-bahasa-indonesia","tag-bahasa-kearifan-lokal","tag-bahasa-keberlanjutan","tag-bahasa-keberlanjutan-hutan","tag-bahasa-keberlanjutan-pengunaan-lahan","tag-bahasa-konservasi","tag-bahasa-lanskap","tag-bahasa-maluku","tag-bahasa-masyarakat-lokal","tag-bahasa-partisipasi","tag-bahasa-partisipasi-lokal","tag-bahasa-penduduk-lokal","tag-bahasa-perhutanan-sosial","tag-bahasa-reformasi-tenurial","tag-bahasa-seram-bagian-barat","tag-bahasa-sistem-tenurial","tag-bahasa-studi-komparatif-global","tag-bahasa-tenurial","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Masyarakat inginkan kolaborasi, dan hukum adat - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52276\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Masyarakat inginkan kolaborasi, dan hukum adat\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Di bawah payung hukum adat berabad lamanya, masyarakat di Maluku, wilayah timur Indonesia, hidup sejahtera dari hutan mereka tanpa kendala. Dari hutan, mereka mendapatkan kayu untuk rumah, memanen sagu dan gula, berburu babi dan mengumpulkan kayu bakar untuk memasak. Melalui berbagai perubahan regulasi kehutanan di Indonesia sejak 1960 hingga kini, hukum adat tetap menjadi prinsip [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52276\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-10-30T03:00:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/37015570195_fef8b65a0c_k.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2048\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1365\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Nabiha Shahab\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52276\\\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52276\\\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat\"},\"author\":{\"name\":\"Nabiha Shahab\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4d4c3fe3b57374ced46d23770b6f72bd\"},\"headline\":\"Masyarakat inginkan kolaborasi, dan hukum adat\",\"datePublished\":\"2017-10-30T03:00:00+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52276\\\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat\"},\"wordCount\":1087,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52276\\\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/10\\\/37015570195_fef8b65a0c_k.jpg\",\"articleSection\":[\"Community forestry\",\"Gender, justice &amp; tenure\",\"Landscapes\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52276\\\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2017\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52276\\\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52276\\\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat\",\"name\":\"Masyarakat inginkan kolaborasi, dan hukum adat - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52276\\\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52276\\\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/10\\\/37015570195_fef8b65a0c_k.jpg\",\"datePublished\":\"2017-10-30T03:00:00+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52276\\\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52276\\\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52276\\\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/10\\\/37015570195_fef8b65a0c_k.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/10\\\/37015570195_fef8b65a0c_k.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1365,\"caption\":\"Silas Matoko dan istrinya Yordana Yawate berada di tepi sungai Tuba untuk memanen sagu atau yang dikenal sebagai \u2018pangkur\u2019 di Desa Honitetu, Kabupaten Seram Barat, provinsi Maluku, Indonesia. Dalam sebuah studi baru-baru ini, masyarakat di wilayah tersebut mengidentifikasi pengelolaan lahan dan hutan kolaboratif di bawah hukum adat menjadi skenario yang mereka pilih untuk reformasi penguasaan lahan.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52276\\\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Masyarakat inginkan kolaborasi, dan hukum adat\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52276\\\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52276\\\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4d4c3fe3b57374ced46d23770b6f72bd\",\"name\":\"Nabiha Shahab\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=gf0899e66b7fe5227e359732c0f65f0d9\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Nabiha Shahab\"},\"description\":\"Nabiha Shahab is a writer for Forest News. She has worked both in the media and media campaigning with environmental NGOs in Indonesia since 1997. She holds an MA in environmental management from the University of Nottingham.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/nabiha-shahab\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52276\\\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Masyarakat inginkan kolaborasi, dan hukum adat - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52276\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Masyarakat inginkan kolaborasi, dan hukum adat","og_description":"Di bawah payung hukum adat berabad lamanya, masyarakat di Maluku, wilayah timur Indonesia, hidup sejahtera dari hutan mereka tanpa kendala. Dari hutan, mereka mendapatkan kayu untuk rumah, memanen sagu dan gula, berburu babi dan mengumpulkan kayu bakar untuk memasak. Melalui berbagai perubahan regulasi kehutanan di Indonesia sejak 1960 hingga kini, hukum adat tetap menjadi prinsip [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52276\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2017-10-30T03:00:00+00:00","og_image":[{"width":2048,"height":1365,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/37015570195_fef8b65a0c_k.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Nabiha Shahab","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52276\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52276\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat"},"author":{"name":"Nabiha Shahab","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4d4c3fe3b57374ced46d23770b6f72bd"},"headline":"Masyarakat inginkan kolaborasi, dan hukum adat","datePublished":"2017-10-30T03:00:00+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52276\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat"},"wordCount":1087,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52276\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/37015570195_fef8b65a0c_k.jpg","articleSection":["Community forestry","Gender, justice &amp; tenure","Landscapes"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52276\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat#respond"]}],"copyrightYear":"2017","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52276\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52276\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat","name":"Masyarakat inginkan kolaborasi, dan hukum adat - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52276\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52276\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/37015570195_fef8b65a0c_k.jpg","datePublished":"2017-10-30T03:00:00+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52276\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52276\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52276\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/37015570195_fef8b65a0c_k.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/37015570195_fef8b65a0c_k.jpg","width":2048,"height":1365,"caption":"Silas Matoko dan istrinya Yordana Yawate berada di tepi sungai Tuba untuk memanen sagu atau yang dikenal sebagai \u2018pangkur\u2019 di Desa Honitetu, Kabupaten Seram Barat, provinsi Maluku, Indonesia. Dalam sebuah studi baru-baru ini, masyarakat di wilayah tersebut mengidentifikasi pengelolaan lahan dan hutan kolaboratif di bawah hukum adat menjadi skenario yang mereka pilih untuk reformasi penguasaan lahan."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52276\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Masyarakat inginkan kolaborasi, dan hukum adat"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52276\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52276\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4d4c3fe3b57374ced46d23770b6f72bd","name":"Nabiha Shahab","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=gf0899e66b7fe5227e359732c0f65f0d9","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f229f92919930d42425e142903950ff0ca2bed57b1de3748aef9b8bdaa4c70bf?s=96&d=mm&r=g","caption":"Nabiha Shahab"},"description":"Nabiha Shahab is a writer for Forest News. She has worked both in the media and media campaigning with environmental NGOs in Indonesia since 1997. She holds an MA in environmental management from the University of Nottingham.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/nabiha-shahab"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52276\/masyarakat-inginkan-kolaborasi-dan-hukum-adat#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/37015570195_fef8b65a0c_k.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52276","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/272"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52276"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52276\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/52290"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52276"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52276"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52276"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=52276"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=52276"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=52276"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=52276"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=52276"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=52276"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=52276"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=52276"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=52276"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=52276"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}