{"id":52089,"date":"2017-10-16T13:53:53","date_gmt":"2017-10-16T06:53:53","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=52089"},"modified":"2018-02-07T15:47:46","modified_gmt":"2018-02-07T08:47:46","slug":"merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52089\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia","title":{"rendered":"Merawat mangrove: Dari Tanzania hingga Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>Mangrove hanya mencakup 0,5 persen wilayah hutan dunia, namun menjadi gantungan jutaan orang untuk memperoleh makanan, penghasilan dan perlindungan terhadap abrasi pesisir. Sejak 1980, sekitar seperlima mangrove dunia telah hilang. Meski tekanan manusia merupakan ancaman utama, belum banyak diketahui kondisi tata kelola yang mampu mendorong konservasi jangka panjang dan restorasi hutan pesisir ini \u2013 pertanyaan yang sangat relevan sejalan dengan upaya berbagai negara mengembangkan kerangka aksi menghadapi perubahan iklim.<\/p>\n<p>\u201cHingga saat ini, penelitian biasanya terfokus pada dimensi biofisik mangrove, kurangnya pengetahuan di area ini dipandang sebagai kendala utama mengelolanya,\u201d papar Nining Liswanti, Koordinator Indonesia pada <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/gcs-tenure\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Studi Komparatif Global mengenai Reformasi Tenurial Hutan<\/a> (GCS-Tenure), seraya menambahkan bahwa  tata kelola mangrove, relatif tak tereksplorasi.<\/p>\n<p>Untuk mengisi celah kritis ini, para ilmuwan dari <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional <\/a>(CIFOR), dipimpin oleh Ilmuwan Utama Esther Mwangi, mencoba mengeksplorasi pengaturan tenurial dan tata kelola mangrove melalui kajian global.<\/p>\n<p>Mereka juga melakukan <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/library\/6596\/governing-mangroves-unique-challenges-for-managing-tanzanias-coastal-forests\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">studi kasus di delta Rufiji Tanzania<\/a>, satu dari dua wilayah mangrove terluas di Afrika Timur, dan di <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/library\/6595\/governing-mangroves-unique-challenges-for-managing-indonesias-coastal-forests\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Provinsi Lampung Indonesia<\/a>, negara yang memiliki tutupan hutan mangrove terbesar, dengan 22 persen mangrove dunia.<\/p>\n<p>Di lokasi-lokasi tersebut, para ilmuwan menganalisis kerangka legal dan kebijakan tingkat nasional, koordinasi lintas lembaga pemerintah, dan pengaturan kelembagaan di tingkat lokal \u2013 dengan melihat \u201cbagaimana keputusan dibuat dan kemampuan mengimplementasikannya, terkait sumber daya dan kapasitas yang ada,\u201d kata Koordinator studi Tanzania, Baruani Mshale.<\/p>\n\n\n<p><strong>MELIBATKAN MASYARAKAT<\/strong><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">Di Tanzania, ancaman utama bagi mangrove adalah pembukaan lahan sawah dan tambak garam, penebangan liar untuk arang dan kayu, serta meningkatnya kompetisi antar berbagai pengguna lahan luar negeri dan lokal.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">\u201cHutan mangrove di Indonesia terus menghadapi ancaman besar dari aktivitas ekonomi seperti akuakultur dan penebangan kayu,\u201d dan separuhnya telah rusak selama 1970 dan 2001, tulis penelitian tersebut.<\/span><\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">Selama lebih dari 20 tahun, Pemerintah Indonesia melakukan intervensi untuk meredam deforestasi mangrove. Sementara di Tanzania, seluruh hutan mangrove dimiliki negara dan dikelola di bawah perlindungan ketat, dan pemanfaatan terbatas masyarakat. Namun, ancaman terhadap sistem mangrove terus berlangsung. Apa yang bisa dilakukan?<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">\u201cMengembangkan dan memperkuat hak tenurial masyarakat lokal atas mangrove seharusnya menjadi komponen inti pengelolaan berkelanjutan dan konservasi,\u201d kata kesimpulan studi kasus Tanzania. Peneliti menemukan, kuncinya adalah dengan menyeimbangkan pemanfaatan hutan dan konservasi, serta melibatkan masyarakat dalam manajemen mangrove dengan melimpahkan hak tenurial. <\/span><\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p>Pendekatan partisipatoris ini,  kata Mshale, diperkuat bukti dari hutan terestrial dunia, \u201cKetika hak diserahkan pada masyarakat, mereka bisa memetik manfaat penghidupan dari sumber daya alam, dan menjadi agen konservasi aktif, hingga hutan terkelola secara lestari.\u201d<\/p>\n<p>Melimpahkan hak atas tenurial dan manajemen mangrove memberi manfaat lebih: menjadi insentif bagi masyarakat melakukan konservasi mangrove, dan mengurangi ketidakpercayaan antar badan konservasi daerah dan pusat \u2013 lembaga yang secara historis bertugas agar daerah tidak terlibat dalam hutan dan pemanfaatan sumber dayanya.<\/p>\n<p>Pendekatan berbasis-masyarakat ini juga efisien. \u201cPendekatan proteksi yang ketat umumnya gagal dalam pengelolaan sumber daya tempat masyarakat menggantungkan penghidupan,\u201d kata Mshale. Sejalan dengan pertumbuhan manusia dan peningkatan tekanan terhadap sumber daya, lanjutnya, penutupan akses dan pemanfaatan makin mahal dan tidak efektif.<\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">Menurut Liswanti, \u201ctidak mungkin masyarakat melakukan rehabilitasi mangrove tanpa partisipasi masyarakat.\u201d<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><strong><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">PRIORITAS AKSI<\/span><\/strong><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">Manajemen hutan mangrove berbasis-masyarakat mendapatkan momentum penting. Di Tanzania, pemerintah menerapkan pemanfaatan teratur di delta Rufiji melalui berbagai proyek percontohan. Provinsi Lampung Indonesia telah memperlihatkan inisiatif rehabilitasi masyarakat muncul dalam 10 hingga 20 tahun terakhir.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">Agar manajemen lestari berkembang, sejumlah langkah kebijakan, praktik dan penelitian harus dilakukan. Menurut analisis penelitian ini, prioritas pertama adalah \u201ckoordinasi regulasi dan kebijakan pusat dan daerah yang lebih baik,\u201d serta memperkuat kolaborasi antara sektor kehutanan, perikanan dan pertanian.<\/span><\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">Tanzania tidak memiliki kebijakan spesifik untuk kebutuhan unik sistem mangrove, dan di Indonesia, \u201ctidak ada otoritas dan kebijakan nasional terkait manajemen hutan mangrove bekerja dalam praktiknya,\u201d meski regulasi spesifik mangrove di tingkat lokal mengisi kekosongan tersebut.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">Di Lampung, misalnya, tokoh masyarakat berperan sentral menggerakkan aksi lokal dan berhubungan dengan aktor eksternal untuk perlindungan mangrove, meski \u201ckaitan ini perlu diatur untuk keberlangsungan jangka panjang upaya ini,\u201d kata temuan penelitian ini.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">Seraya menekankan kebutuhan kerangka kerja spesifik-mangrove, para peneliti menemukan, bahwa di tingkat lokal, regulasi spesifik mangrove telah melunakkan atau mengganti serangkaian regulasi nasional.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">Menjamin kapasitas finansial dan teknik dalam manajemen pemerintahan dan masyarakat juga menjadi kunci, karena akan membuka peluang peningkatan penghasilan masyarakat, termasuk akses pasar untuk produk mangrove tertentu.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">Perempuan umumnya terlibat dalam pemanfaatan mangrove, namun seringkali ditinggalkan dalam pengambilan keputusan dan bagi manfaat. \u201cNorma sosiokultur dan relijius mencegah perempuan berpartisipasi dalam diskusi di ruang publik,\u201d kata Mshale. Terlepas provisi legal dan institusional, proses partisipatoris alternatif perlu dipertimbangkan untuk menjamin agar suara perempuan didengar. <\/span><\/p>\n<p><strong>MENDORONG PERUBAHAN<\/strong><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">Priorias lain adalah mendukung manajemen partisipatoris di seluruh pengaturan tenurial, mengarahkan pengaruh politik di tingkat pusat dan daerah, serta menerapkan <\/span><span lang=\"EN-US\"><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/46327\/from-marrakesh-to-bali-what-does-the-landscape-approach-look-like-in-practice?fnl=en\"><span style=\"color: #24a2b8;\">pendekatan bentang alam<\/span><\/a><span style=\"color: #333333;\"> yang mempertimbangkan seluruh aktivitas terkait magrove, antara lain pertanian, peternakan dan aktivitas investor asing berbasis-lahan.<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">Desa-desa di Indonesia di luar zona hutan negara, misalnya, telah terlibat dalam rehabilitasi mangrove sejak 1995 untuk mengendalikan abrasi. Namun, mereka tidak memiliki akses reguler pada sumber daya pemerintah. \u201cSaya mengagumi kesabaran mereka,\u201d kata Liswanti, \u201cNamun akan sulit bagi masyarakat untuk terus seperti itu tanpa dukungan finansial.\u201d<\/span><\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">Di Tanzania, politisi mendorong pembukaan lahan mangrove untuk sawah agar mendapat dukungan dalam pemilihan. \u201cPolitisi menjadi kunci untuk mengubah perilaku masyarakat, jadi kita harus menemukan cara bekerja sama dalam mendukung strategi manajemen mewujudkan manfaat lingkungan dan penghidupan,\u201d tegas Mshale.<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">Studi kasus CIFOR telah dipresentasikan pada para pemangku kepentingan di Tanzania dan Indonesia, dan memicu dialog antara otoritas, masyarakat, lembaga non-pemerinah, akademisi dan donor. Para ilmuwan juga meneliti tata kelola mangrove di Kenya (2017) dan Vietnam (2018).<\/span><\/p>\n<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><span lang=\"EN-US\" style=\"color: #333333;\">Penelitian lebih jauh ke dalam aspek tata kelola dan tenurial menjadi krusial. Namun langkah awal telah dinyalakan. \u201cTiap aktor memiliki tanggung jawab, menjaga dialog merupakan langkah awal yang penting menuju perubahan positif.\u201d <\/span><\/p>\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mangrove hanya mencakup 0,5 persen wilayah hutan dunia, namun menjadi gantungan jutaan orang untuk memperoleh makanan, penghasilan dan perlindungan terhadap abrasi pesisir. Sejak 1980, sekitar seperlima mangrove dunia telah hilang. Meski tekanan manusia merupakan ancaman utama, belum banyak diketahui kondisi tata kelola yang mampu mendorong konservasi jangka panjang dan restorasi hutan pesisir ini \u2013 pertanyaan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":265,"featured_media":52099,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,182,173,1072,96,190],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[2587,7026,7240,2899,7241,2721,7242,2516,2520,2680,2596,7179,2590,3511,2591,2564,3680,2562,2753,6521],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[7135],"class_list":["post-52089","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-community-forestry","category-gender-justice-tenure","category-landscapes","category-mangroves","category-peatlands","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-bentang-alam","tag-bahasa-bentang-alam-berkelanjutan","tag-bahasa-buruani-mshale","tag-bahasa-esther-mwangi","tag-bahasa-gcs-tenurial","tag-bahasa-indonesia","tag-bahasa-kebijakan","tag-bahasa-kehutanan-masyarakat","tag-bahasa-konservasi","tag-bahasa-lahan-basah","tag-bahasa-mangrove","tag-bahasa-masyarakat","tag-bahasa-masyarakat-lokal","tag-bahasa-nining-liswanti","tag-bahasa-partisipasi-lokal","tag-bahasa-pemerintahan","tag-bahasa-perubahan-iklim","tag-bahasa-studi-komparatif-global","tag-bahasa-tanzania","tag-bahasa-tenurial","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Merawat mangrove: Dari Tanzania hingga Indonesia - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52089\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Merawat mangrove: Dari Tanzania hingga Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Mangrove hanya mencakup 0,5 persen wilayah hutan dunia, namun menjadi gantungan jutaan orang untuk memperoleh makanan, penghasilan dan perlindungan terhadap abrasi pesisir. Sejak 1980, sekitar seperlima mangrove dunia telah hilang. Meski tekanan manusia merupakan ancaman utama, belum banyak diketahui kondisi tata kelola yang mampu mendorong konservasi jangka panjang dan restorasi hutan pesisir ini \u2013 pertanyaan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52089\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-10-16T06:53:53+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-02-07T08:47:46+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/23814746868_8ab137eda7_k.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2048\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1365\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Gloria Pallares\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52089\\\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52089\\\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia\"},\"author\":{\"name\":\"Gloria Pallares\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/390ed4e4c0b6a6a26f9df9e38dd6da99\"},\"headline\":\"Merawat mangrove: Dari Tanzania hingga Indonesia\",\"datePublished\":\"2017-10-16T06:53:53+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:47:46+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52089\\\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia\"},\"wordCount\":940,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52089\\\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/10\\\/23814746868_8ab137eda7_k.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Community forestry\",\"Gender, justice &amp; tenure\",\"Landscapes\",\"mangroves\",\"Peatlands\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52089\\\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2017\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52089\\\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52089\\\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia\",\"name\":\"Merawat mangrove: Dari Tanzania hingga Indonesia - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52089\\\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52089\\\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/10\\\/23814746868_8ab137eda7_k.jpg\",\"datePublished\":\"2017-10-16T06:53:53+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:47:46+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52089\\\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52089\\\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52089\\\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/10\\\/23814746868_8ab137eda7_k.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/10\\\/23814746868_8ab137eda7_k.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1365},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52089\\\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Merawat mangrove: Dari Tanzania hingga Indonesia\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52089\\\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52089\\\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/390ed4e4c0b6a6a26f9df9e38dd6da99\",\"name\":\"Gloria Pallares\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/3bb16ffed3ceca2fc2dea220e1063db65eaa68cc0fa9fc6992cfff05c50c462d?s=96&d=mm&r=ga8d208240b0c91fd63e9432e9acfbb23\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/3bb16ffed3ceca2fc2dea220e1063db65eaa68cc0fa9fc6992cfff05c50c462d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/3bb16ffed3ceca2fc2dea220e1063db65eaa68cc0fa9fc6992cfff05c50c462d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Gloria Pallares\"},\"description\":\"Gloria Pallares is a journalist reporting on global development and the environment from Africa, Asia and Latin America. Her work has appeared in a range of publications, including El Pais, CNN and Forbes. As part of her scientific background, Gloria conducted research on agroforestry and land use in Kenya in collaboration with CGIAR. She holds a bachelor's of science in journalism, a master's of science in biology from the Swedish University of Agricultural Sciences and a second bachelor's of science in biotechnology.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/gloria-pallares\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/52089\\\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Merawat mangrove: Dari Tanzania hingga Indonesia - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52089\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Merawat mangrove: Dari Tanzania hingga Indonesia","og_description":"Mangrove hanya mencakup 0,5 persen wilayah hutan dunia, namun menjadi gantungan jutaan orang untuk memperoleh makanan, penghasilan dan perlindungan terhadap abrasi pesisir. Sejak 1980, sekitar seperlima mangrove dunia telah hilang. Meski tekanan manusia merupakan ancaman utama, belum banyak diketahui kondisi tata kelola yang mampu mendorong konservasi jangka panjang dan restorasi hutan pesisir ini \u2013 pertanyaan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52089\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2017-10-16T06:53:53+00:00","article_modified_time":"2018-02-07T08:47:46+00:00","og_image":[{"width":2048,"height":1365,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/23814746868_8ab137eda7_k.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Gloria Pallares","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52089\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52089\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia"},"author":{"name":"Gloria Pallares","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/390ed4e4c0b6a6a26f9df9e38dd6da99"},"headline":"Merawat mangrove: Dari Tanzania hingga Indonesia","datePublished":"2017-10-16T06:53:53+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:47:46+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52089\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia"},"wordCount":940,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52089\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/23814746868_8ab137eda7_k.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Community forestry","Gender, justice &amp; tenure","Landscapes","mangroves","Peatlands"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52089\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia#respond"]}],"copyrightYear":"2017","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52089\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52089\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia","name":"Merawat mangrove: Dari Tanzania hingga Indonesia - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52089\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52089\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/23814746868_8ab137eda7_k.jpg","datePublished":"2017-10-16T06:53:53+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:47:46+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52089\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52089\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52089\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/23814746868_8ab137eda7_k.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/23814746868_8ab137eda7_k.jpg","width":2048,"height":1365},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52089\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Merawat mangrove: Dari Tanzania hingga Indonesia"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52089\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52089\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/390ed4e4c0b6a6a26f9df9e38dd6da99","name":"Gloria Pallares","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/3bb16ffed3ceca2fc2dea220e1063db65eaa68cc0fa9fc6992cfff05c50c462d?s=96&d=mm&r=ga8d208240b0c91fd63e9432e9acfbb23","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/3bb16ffed3ceca2fc2dea220e1063db65eaa68cc0fa9fc6992cfff05c50c462d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/3bb16ffed3ceca2fc2dea220e1063db65eaa68cc0fa9fc6992cfff05c50c462d?s=96&d=mm&r=g","caption":"Gloria Pallares"},"description":"Gloria Pallares is a journalist reporting on global development and the environment from Africa, Asia and Latin America. Her work has appeared in a range of publications, including El Pais, CNN and Forbes. As part of her scientific background, Gloria conducted research on agroforestry and land use in Kenya in collaboration with CGIAR. She holds a bachelor's of science in journalism, a master's of science in biology from the Swedish University of Agricultural Sciences and a second bachelor's of science in biotechnology.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/gloria-pallares"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/52089\/merawat-mangrove-dari-tanzania-hingga-indonesia#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/23814746868_8ab137eda7_k.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52089","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/265"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52089"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52089\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/52099"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52089"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52089"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52089"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=52089"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=52089"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=52089"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=52089"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=52089"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=52089"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=52089"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=52089"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=52089"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=52089"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}