{"id":51618,"date":"2017-09-18T15:15:30","date_gmt":"2017-09-18T08:15:30","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=51618"},"modified":"2017-09-18T15:04:17","modified_gmt":"2017-09-18T08:04:17","slug":"hutan-versus-badai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51618\/hutan-versus-badai","title":{"rendered":"Hutan versus Badai"},"content":{"rendered":"<p>Tidak terjadinya badai topan besar yang melanda daratan Amerika Serikat selama 12 tahun terakhir berakhir tahun ini: Badai Harvey, Badai Irma &#8230; mungkin daftar dan kerusakan ini akan berlanjut. Tapi apa hubungan kejadian ini dengan hutan?<\/p>\n<p>Sebagai ahli ekologi yang peduli dengan bagaimana hutan merespons kerusakan, saya tahu betapa badai besar yang merusak &#8211; badai, topan dan siklon (untuk selanjutnya dinyatakan dengan &#8216;siklon&#8217;) &#8211; dapat terjadi. Namun, terlepas dari dampak ekologi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa hutan dan siklon memiliki hubungan yang lebih mendasar: hubungannya dengan kelembaban atmosfer.<\/p>\n<p>Baik hutan dan siklon ditandai dengan volume hujan yang sangat besar. Sebagai bandingan, hutan Amazon, bahkan jauh di dalam benua Amerika Selatan, dapat mempertahankan curah hujan lebih dari dua meter per tahun. Sementara badai siklon tunggal bisa menghasilkan hujan sebanyak dua kilometer kubik per hari. Hujan sebesar ini berasal dari atmosfer.<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p>Jika rekan saya <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/13658\/forests-as-rainmakers-cifor-scientist-gains-support-for-a-controversial-hypothesis?fnl=en\">Anastassia Makarieva dan Victor Gorshkov<\/a> benar, proses yang mendukung siklon juga mendukung sebagian besar hutan dunia. Pada saat yang sama, lebih banyak hutan dapat berarti siklon yang lebih sedikit dan kurang merusak.<\/p>\n<p>Baru-baru ini, kami telah mengusulkan dan mengilustrasikan gagasan baru yang melibatkan prinsip-prinsip fisik yang menjaga curah hujan di interior daratan berhutan, yang merupakan hal yang sama yang membangkitkan siklon. Apakah gagasan ini sesuai dengan penelitian ilmiah atau tidak (dan sejauh ini semua bukti menunjukkan demikian), terdapat alasan bagus untuk memercayai bahwa area hutan yang luas dapat mengurangi kemungkinan dan tingkat keparahan siklon.<\/p>\n<div style=\"aspect-ratio:16\/9;min-height:unset;\" class=\"wp-block-cover alignfull has-parallax has-custom-content-position is-position-bottom-center has-aspect-ratio\">\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-cover__image-background wp-image-51643 size-full has-parallax\" style=\"background-position:50% 50%;\n\t\t\t\tbackground-image:url(https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/36753324195_ace77e82be_c.jpg)\">\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow\">\n\t\t\t\t\t<p class=\"has-text-align-center has-base-color has-text-color has-link-color has-small-font-size wp-elements-c7274f9a76ff948295c72066c2502b23\">Teori baru menunjukkan bahwa penguapan dan kondensasi memengaruhi dinamika atmosfer. <\/p>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Sementara pandangan yang berlaku adalah bahwa angin ditentukan oleh gradien suhu, Anastassia, Victor dan lainnya, termasuk saya, telah mengembangkan sebuah teori yang menggambarkan bagaimana penguapan dan kondensasi memengaruhi dinamika atmosfer.<\/p>\n<p>Meskipun <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/13658\/forests-as-rainmakers-cifor-scientist-gains-support-for-a-controversial-hypothesis?fnl=en\">teori ini pernah dipandang kontroversial<\/a>, akumulasi pemahaman dan bukti berarti bahwa hal ini semakin diterima.<\/p>\n<p>Salah satu wawasan penting dari teori ini adalah bahwa kawasan yang mempertahankan tingkat curah hujan tinggi, seperti hutan dan siklon, juga menghasilkan tekanan atmosfer pada permukaan yang rendah yang menarik udara tingkat rendah sekitarnya dan uap air yang dikandungnya. Udara dan uap air ini kemudian konvergen dan naik, menyebabkan kondensasi kelembaban yang dikandungnya, selanjutnya menurunkan tekanan lebih lanjut dan menghasilkan umpan balik positif yang dapat dipertahankan selama tersedianya udara lembab. Mekanisme ini menjelaskan bagaimana hutan dan siklon menangkap dan mengonsentrasi tingginya tingkat hujan yang seperti ini.<\/p>\n\n<div class=\"extra-box full\"><strong>Terkumpulnya bukti<\/strong><br \/>\nIlmu atmosfer konvensional mengasumsikan bahwa perubahan kepadatan partikel yang terjadi saat air menguap dan mengondensasi sebagian besar tidak relevan untuk memahami angin, karena perbedaan tekanan skala besar utamanya didominasi oleh suhu. Pekerjaan kami menunjukkan bahwa pengabaian ini tidak dapat dibenarkan dan bahwa perubahan jumlah molekul selama penguapan dan kondensasi adalah mekanisme utama yang membentuk pola angin dan transportasi kelembaban di atmosfer. Rincian fisik teori dan implikasinya telah dipublikasikan di jurnal fisika yang telah melalui telaahan sejawat (<em>peer-reviewed<\/em>) <sup>( <a href=\"https:\/\/link.springer.com\/article\/10.1134\/S106377611209004X\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">1<\/a>,<a href=\"http:\/\/www.bioticregulation.ru\/common\/pdf\/pla09b-en.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">2<\/a>,<a href=\"http:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/pii\/S0375960113010682\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">3<\/a>)<\/sup> dan jurnal sains atmosfer <sup>(<a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/library\/4761\/where-do-winds-come-from-a-new-theory-on-how-water-vapor-condensation-influences-atmospheric-pressure-and-dynamics\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">4<\/a>,<a href=\"https:\/\/link.springer.com\/article\/10.1007\/s00704-012-0643-9\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">5<\/a>,<a href=\"http:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/pii\/S0169809516306469\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">6<\/a>,<a href=\"http:\/\/www.tandfonline.com\/doi\/full\/10.1080\/16000870.2016.1272752\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">7<\/a>)<\/sup> dan kompilasi terbitan yang relevan dapat ditemukan <a href=\"http:\/\/www.bioticregulation.ru\/pump\/pump.php\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">di sini<\/a>. Kami telah mengembangkan pengantar dan ringkasan untuk yang bukan spesialis juga <sup>(<a href=\"https:\/\/www.researchgate.net\/publication\/228528788_The_Biotic_Pump_Condensation_atmospheric_dynamics_and_climate\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">8<\/a>,<a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/library\/2770\/how-forests-attract-rain-an-examination-of-a-new-hypothesis\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">9<\/a>,<a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/library\/4454\/how-plants-water-our-planet-advances-and-imperatives\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">10<\/a>)<\/sup>. Dalam memajukan gagasan ini, kita telah menggambarkan kegagalan teori angin yang didorong suhu <sup>(<a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/library\/5728\/comments-on-the-tropospheric-land-sea-warming-contrast-as-the-driver-of-tropical-sea-level-pressure-changes\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">11<\/a>)<\/sup> dan merevisi persamaan mendasar yang mengatur dinamika atmosfer <sup>(<a href=\"http:\/\/onlinelibrary.wiley.com\/doi\/10.1002\/2017JD026773\/full\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">12<\/a>)<\/sup>.<\/div>\n<p>Mekanisme fisik yang diusulkan konsisten dengan hukum energi dan termodinamika. Uap air menjadi sumber energi, sebagian besar dapat mempercepat udara saat uap mengembun, sehingga menyebabkan angin (proses ini dapat didorong lebih lanjut oleh aerosol &#8211; yaitu, oleh partikel dan senyawa yang dilepaskan dari hutan ke atmosfir). Teori ini menjelaskan bagaimana curah hujan yang tinggi dapat dipertahankan di dalam interior daratan dan bagaimana siklon bisa menjadi sangat kuat dengan mengonsentrasi begitu banyak energi yang ada.<\/p>\n<p>Apakah ada bukti untuk gagasan ini? Ya. Sebagai contoh, teori tersebut memprediksi bahwa curah hujan di hutan yang aktif melepaskan uap air akan lebih tinggi kemungkinan terjadinya bila lebih banyak kelembaban terakumulasi secara lokal. Hal ini menunjukkan akan ada perbedaan positif pada tekanan atmosfir lokal sebelum hujan (ketika perbedaannya berubah menjadi negatif). Hal tersebut telah diamati dalam <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/library\/4234\/why-does-air-passage-over-forest-yield-more-rain-examining-the-coupling-between-rainfall-pressure-and-atmospheric-moisture-content\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">data jangka panjang<\/a> dari banyak lokasi di Amazon, dan tidak ditemui di wilayah bersebelahan yang kerapatan hutannya lebih rendah.<\/p>\n<p>Selanjutnya, jika bertahannya curah hujan tinggi di interior daratan bergantung pada hutan yang aktif melepas uap air, hal ini harusnya tidak terjadi pada hutan setiap musim dingin di Siberia. Sekali lagi, prediksi ini sesuai dengan <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/library\/4454\/how-plants-water-our-planet-advances-and-imperatives\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">pengamatan<\/a>.<\/p>\n<p>Kami juga bisa mengklaim berbagai capaian lainnya. Misalnya, jika kami memperkirakan tingkat global di mana energi kinetik angin dihasilkan (daya atmosfir), kami menemukan bahwa ini juga sesuai dengan <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/library\/4269\/the-key-physical-parameters-governing-frictional-dissipation-in-a-precipitating-atmosphere\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">prediksi teoritis <\/a>kami.<\/p>\n<div style=\"aspect-ratio:16\/9;min-height:unset;\" class=\"wp-block-cover alignfull has-parallax has-custom-content-position is-position-bottom-center has-aspect-ratio\">\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-cover__image-background wp-image-51655 size-full has-parallax\" style=\"background-position:50% 50%;\n\t\t\t\tbackground-image:url(https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/35743361712_3044cb10dd_b.jpg)\">\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow\">\n\t\t\t\t\t<p class=\"has-text-align-center has-base-color has-text-color has-link-color has-small-font-size wp-elements-c7274f9a76ff948295c72066c2502b23\">Teori memprediksi bahwa curah hujan di hutan yang melepas uap air secara aktif akan lebih mungkin terjadi ketika lebih banyak kelembaban terakumulasi secara lokal, seperti yang diamati di Amazon. <\/p>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t<\/div>\n<p><strong>HUTAN PENCEGAH BADAI?<\/strong><\/p>\n<p>Memprediksi intensitas siklon tropis telah diakui sebagai tantangan. Sementara upaya masa lalu berfokus pada energi yang berasal dari panas laut, teori baru ini menunjukkan bahwa kekuatan badai secara keseluruhan ditentukan oleh kondensasi kelembaban atmosfer yang sudah ada sebelumnya. Selanjutnya, kami memprediksi bahwa kekuatan ini berhubungan lurus dengan tingkat presipitasi total sebagaimana telah dikonfirmasi baik oleh <a href=\"http:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/pii\/S0375960115006441\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penelitian kami<\/a> sendiri maupun <a href=\"http:\/\/onlinelibrary.wiley.com\/doi\/10.1002\/2015GL063785\/pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">peneliti lain<\/a>.<\/p>\n<p>Pekerjaan kami menunjukkan bahwa hutan dapat melindungi wilayah kontinen dari badai ekstrim. Baik formasi dan bertahannya siklon tampaknya bergantung pada persediaan uap air yang memadai. Hutan yang luas menarik kelembaban di atas daratan. Ketika siklon terbentuk di dekat pantai daratan Afrika Barat, hal ini terjadi pada garis lintang dimana uap air cukup tersedia, yaitu antara hutan basah dan gurun kering (gurun hanya menghasilkan udara kering), di mana efek pengeringan keduanya tidak mendominasi. Hal ini membantu menjelaskan mengapa badai laut ini terbentuk dalam dua bentang 10\u00b0 -20\u00b0 lintang utara dan selatan dari khatulistiwa.<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p>Bukti menunjukkan bahwa dengan mengimpor kelembaban atmosfer dari lautan, hutan menyedot uap yang tersedia untuk membangkitkan dan mempertahankan siklon. Mengingat emisi uapnya yang tinggi, mungkin tampak logis bahwa hutan itu sendiri harusnya membangkitkan dan mendukung badai siklon. Tapi ini tidak terjadi karena besarnya friksi gesekan (drag-friction di atas hutan menyerap energi dan memperlambat angin.<\/p>\n<p>Selanjutnya, hutan memiliki siklus diurnal yang kuat, dan transpirasi berhenti pada malam hari (tidak seperti penguapan laut). Selanjutnya, saat badai siklon memusatkan aliran udara dan menghasilkan kondensasi ke dalam pusat badai, hutan melepaskan kelembaban dan aerosol dalam bentuk yang lebih menyebar, memastikan kondensasi tetap menyebar lebih luas baik dalam ruang dan waktu. Dengan demikian, kami percaya bahwa badai siklon tidak dapat mempertahankan diri di atas, atau di dekat hutan yang luas. Meskipun ketika badai tetap terjadi di tempat lain, pada akhirnya mereka mungkin akan tertarik ke hutan.<\/p>\n<div style=\"aspect-ratio:16\/9;min-height:unset;\" class=\"wp-block-cover alignfull has-parallax has-custom-content-position is-position-bottom-center has-aspect-ratio\">\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-cover__image-background wp-image-51648 size-full has-parallax\" style=\"background-position:50% 50%;\n\t\t\t\tbackground-image:url(https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/36352267430_86f0028403_c.jpg)\">\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow\">\n\t\t\t\t\t<p class=\"has-text-align-center has-base-color has-text-color has-link-color has-small-font-size wp-elements-c7274f9a76ff948295c72066c2502b23\">Hilangnya hutan dapat meningkatkan frekuensi dan intensitas badai. <\/p>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t<\/div>\n<p><strong>BERKURANGNYA HUTAN, MENINGKATNYA BADAI<\/strong><\/p>\n<p>Pertimbangan dan spekulasi semacam itu menunjukkan mengapa badai siklon hampir tidak terjadi di Atlantik Selatan di mana badai harus muncul sementara diapit oleh hutan hujan utama Amerika Selatan dan Afrika (Badai Catarina pada tahun 2004 adalah satu-satunya pengecualian). Hilangnya hutan-hutan ini akan meningkatkan kelembaban di atas samudera bersebelahan, dan friksi gesekan yang lebih rendah, dan dengan demikian meningkatkan kemungkinan badai. Memang semua siklon bisa menjadi lebih sering dan lebih kuat karena tutupan hutan yang berdekatan menurun.<\/p>\n<p>Semua pengaruh yang diusulkan ini bergantung pada skala, dan sementara pengaruh hutan besar seperti di Amazon cenderung tinggi, sekelompok pohon yang sempit akan memiliki dampak yang lebih kecil. Ini menunjukkan bahwa, sayangnya, hutan basah Australia yang tersisa, dan hutan pantai Timur Madagaskar yang tersisa hanya memiliki sedikit kemampuan untuk mengurangi badai siklon &#8211; meskipun hal ini dapat didorong dengan rehabilitasi skala besar.<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p>Kita sudah tahu bahwa hilangnya hutan menyebabkan penurunan kelembaban atmosfir yang nyata di banyak daerah dengan konsekuensi negatif pada daerah yang bergantung pada hujan. Begitu hutan menjadi lebih terfragmentasi dan berkurang luasnya, mereka tidak hanya akan menghasilkan sedikit kelembaban pada angin tetapi juga akan berdampak pada iklim lokal, <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/26559\/the-science-is-clear-forest-loss-behind-brazils-drought?fnl=en\">dengan meningkatnya kemungkinan kekeringan<\/a>. Kekeringan dan selanjutnya kebakaran pada gilirannya dapat memulai siklus hilangnya dan terus menurunnya hutan yang menyebabkan pengeringan lebih lanjut.<\/p>\n<p>Hutan memainkan <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/49010\/linking-trees-and-water?fnl=en\">banyak peran dalam mempertahankan siklus air global dan menstabilkan iklim<\/a>, dan menebangi habis hutan akan mempengaruhi proses ini secara negatif. Kita sekarang juga dapat menambahkan kemungkinan peningkatan badai siklon ke daftar dampak potensial. Mengabaikan penderitaan hutan sama saja dengan mencari masalah.<\/p>\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tidak terjadinya badai topan besar yang melanda daratan Amerika Serikat selama 12 tahun terakhir berakhir tahun ini: Badai Harvey, Badai Irma &#8230; mungkin daftar dan kerusakan ini akan berlanjut. Tapi apa hubungan kejadian ini dengan hutan? Sebagai ahli ekologi yang peduli dengan bagaimana hutan merespons kerusakan, saya tahu betapa badai besar yang merusak &#8211; badai, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":45,"featured_media":51621,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[2679,7186,7187,7188,7185,2640,4365,6686,3680],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3087],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[240],"class_list":["post-51618","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-air","tag-bahasa-badai","tag-bahasa-badai-tropis","tag-bahasa-cuaca","tag-bahasa-dinamika-atmosfer","tag-bahasa-hujan","tag-bahasa-hutan-hujan","tag-bahasa-iklim","tag-bahasa-perubahan-iklim","type-bahasa-analisis"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Hutan versus Badai - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51618\/hutan-versus-badai\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Hutan versus Badai\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Tidak terjadinya badai topan besar yang melanda daratan Amerika Serikat selama 12 tahun terakhir berakhir tahun ini: Badai Harvey, Badai Irma &#8230; mungkin daftar dan kerusakan ini akan berlanjut. Tapi apa hubungan kejadian ini dengan hutan? Sebagai ahli ekologi yang peduli dengan bagaimana hutan merespons kerusakan, saya tahu betapa badai besar yang merusak &#8211; badai, [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51618\/hutan-versus-badai\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-09-18T08:15:30+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/35973025253_35764fd808_b.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"576\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Douglas Sheil\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51618\\\/hutan-versus-badai#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51618\\\/hutan-versus-badai\"},\"author\":{\"name\":\"Douglas Sheil\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/1f9ca383ac3d7ce01750067ee6920702\"},\"headline\":\"Hutan versus Badai\",\"datePublished\":\"2017-09-18T08:15:30+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51618\\\/hutan-versus-badai\"},\"wordCount\":1308,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51618\\\/hutan-versus-badai#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/09\\\/35973025253_35764fd808_b.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51618\\\/hutan-versus-badai#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2017\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51618\\\/hutan-versus-badai\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51618\\\/hutan-versus-badai\",\"name\":\"Hutan versus Badai - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51618\\\/hutan-versus-badai#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51618\\\/hutan-versus-badai#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/09\\\/35973025253_35764fd808_b.jpg\",\"datePublished\":\"2017-09-18T08:15:30+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51618\\\/hutan-versus-badai#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51618\\\/hutan-versus-badai\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51618\\\/hutan-versus-badai#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/09\\\/35973025253_35764fd808_b.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/09\\\/35973025253_35764fd808_b.jpg\",\"width\":1024,\"height\":576,\"caption\":\"Sebuah gambar dari Badai Tropis Harvey di atas Teluk Meksiko pada tanggal 24 Agustus 2017. Teori dan bukti yang berkembang menunjukkan adanya hubungan yang masuk akal antara kehilangan hutan dan meningkatnya kejadian badai siklon yang merusak seperti ini.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51618\\\/hutan-versus-badai#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Hutan versus Badai\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51618\\\/hutan-versus-badai#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51618\\\/hutan-versus-badai#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/1f9ca383ac3d7ce01750067ee6920702\",\"name\":\"Douglas Sheil\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/82537190cb1b073ba3f1025568fa1bb77d6d55f1b58ca5dffa18d1cf31c0e31f?s=96&d=mm&r=g163326888d3b853929ac58b98a2395db\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/82537190cb1b073ba3f1025568fa1bb77d6d55f1b58ca5dffa18d1cf31c0e31f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/82537190cb1b073ba3f1025568fa1bb77d6d55f1b58ca5dffa18d1cf31c0e31f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Douglas Sheil\"},\"description\":\"Douglas's training is in forest ecology, management and conservation and his multidisciplinary research interests address the assessment and management of biodiversity and ecological processes in changing forest landscapes. His main field experience is in East Africa and Southeast Asia and worked at CIFOR from 1998 to 2008 to lead the \u201cMultidisciplinary Landscape Assessment\u201d and \u201cLife After Logging\u201d activities among others. He remains a CIFOR senior associate and now works at the Norwegian University of Life Sciences.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/douglas-sheil\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51618\\\/hutan-versus-badai#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Hutan versus Badai - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51618\/hutan-versus-badai","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Hutan versus Badai","og_description":"Tidak terjadinya badai topan besar yang melanda daratan Amerika Serikat selama 12 tahun terakhir berakhir tahun ini: Badai Harvey, Badai Irma &#8230; mungkin daftar dan kerusakan ini akan berlanjut. Tapi apa hubungan kejadian ini dengan hutan? Sebagai ahli ekologi yang peduli dengan bagaimana hutan merespons kerusakan, saya tahu betapa badai besar yang merusak &#8211; badai, [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51618\/hutan-versus-badai","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2017-09-18T08:15:30+00:00","og_image":[{"width":1024,"height":576,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/35973025253_35764fd808_b.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Douglas Sheil","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51618\/hutan-versus-badai#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51618\/hutan-versus-badai"},"author":{"name":"Douglas Sheil","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/1f9ca383ac3d7ce01750067ee6920702"},"headline":"Hutan versus Badai","datePublished":"2017-09-18T08:15:30+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51618\/hutan-versus-badai"},"wordCount":1308,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51618\/hutan-versus-badai#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/35973025253_35764fd808_b.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51618\/hutan-versus-badai#respond"]}],"copyrightYear":"2017","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51618\/hutan-versus-badai","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51618\/hutan-versus-badai","name":"Hutan versus Badai - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51618\/hutan-versus-badai#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51618\/hutan-versus-badai#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/35973025253_35764fd808_b.jpg","datePublished":"2017-09-18T08:15:30+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51618\/hutan-versus-badai#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51618\/hutan-versus-badai"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51618\/hutan-versus-badai#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/35973025253_35764fd808_b.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/35973025253_35764fd808_b.jpg","width":1024,"height":576,"caption":"Sebuah gambar dari Badai Tropis Harvey di atas Teluk Meksiko pada tanggal 24 Agustus 2017. Teori dan bukti yang berkembang menunjukkan adanya hubungan yang masuk akal antara kehilangan hutan dan meningkatnya kejadian badai siklon yang merusak seperti ini."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51618\/hutan-versus-badai#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Hutan versus Badai"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51618\/hutan-versus-badai#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51618\/hutan-versus-badai#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/1f9ca383ac3d7ce01750067ee6920702","name":"Douglas Sheil","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/82537190cb1b073ba3f1025568fa1bb77d6d55f1b58ca5dffa18d1cf31c0e31f?s=96&d=mm&r=g163326888d3b853929ac58b98a2395db","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/82537190cb1b073ba3f1025568fa1bb77d6d55f1b58ca5dffa18d1cf31c0e31f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/82537190cb1b073ba3f1025568fa1bb77d6d55f1b58ca5dffa18d1cf31c0e31f?s=96&d=mm&r=g","caption":"Douglas Sheil"},"description":"Douglas's training is in forest ecology, management and conservation and his multidisciplinary research interests address the assessment and management of biodiversity and ecological processes in changing forest landscapes. His main field experience is in East Africa and Southeast Asia and worked at CIFOR from 1998 to 2008 to lead the \u201cMultidisciplinary Landscape Assessment\u201d and \u201cLife After Logging\u201d activities among others. He remains a CIFOR senior associate and now works at the Norwegian University of Life Sciences.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/douglas-sheil"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51618\/hutan-versus-badai#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/35973025253_35764fd808_b.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51618","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/45"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=51618"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51618\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/51621"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=51618"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=51618"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=51618"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=51618"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=51618"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=51618"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=51618"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=51618"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=51618"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=51618"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=51618"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=51618"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=51618"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}