{"id":51440,"date":"2017-09-11T11:00:21","date_gmt":"2017-09-11T04:00:21","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=51440"},"modified":"2018-02-07T15:47:29","modified_gmt":"2018-02-07T08:47:29","slug":"perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51440\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan","title":{"rendered":"Perubahan bentang alam: Dari hasil hutan menjadi makanan"},"content":{"rendered":"<p>Makin tingginya kebutuhan pangan \u2013yang akan berlipat dua kali pada 2050 \u2013 mengarah pada meluasnya ekspansi pertanian, terutama dengan mengorbankan hutan. Diperkirakan, antara 1980 hingga 2000, lebih dari separuh lahan pertanian baru di wilayah tropis dikembangkan di atas lahan berhutan, dan 28 persen lain dibuka di atas lahan hutan sekunder. Meski ekspansi dan langkah signifikan ini telah berhasil mengurangi kelaparan, <a href=\"http:\/\/www.un.org\/apps\/news\/story.asp?NewsID=43235#.Wa4aICTJmfR\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">PBB memperkirakan<\/a> bahwa lebih dari 840 juta orang di seluruh dunia masih tetap kelaparan dan kurang gizi.<\/p>\n<p>Ketahanan pangan makin dihubungkan pada berbagai sektor seperti keragaman hayati, konservasi, pemeliharaan jasa lingkungan, produksi pangan, penghidupan berkelanjutan, dan mitigasi perubahan iklim.<\/p>\n<p>Sejumlah teori telah diajukan untuk menemukan keseimbangan antara keamanan pangan, konservasi dan penghidupan. Namun, apakah gagasan-gagasan itu bisa berjalan?<\/p>\n<p>Sebanyak 20 ilmuwan dari <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR)<\/a> dan lembaga mitra dari berbagai disiplin ilmu mencoba menjawab pertanyaan ini.<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p>Dipimpin oleh ilmuwan CIFOR, Terry Sunderland, tim meneliti enam bentang alam pantropis, di Zambia, Burkina Faso, Kamerun, Ethiopia, Indonesia dan Bangladesh, untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.<\/p>\n<p>\u201cKami ingin menantang pandangan konvensional bahwa ketika ekonomi dan masyarakat berkembang, kita harus bertransisi dari hutan ke pertanian ke manufaktur dan kemudian ke industri jasa, dan berasumsi hasilnya selalu positif,\u201d kata Sunderland.<\/p>\n<p>\u201cKami ingin menguji jika ini benar, khususnya bagi penduduk desa, dan apakah ini akan memberi manfaat jangka panjang,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Sunderland menyatakan bahwa tim peneliti ingin mendapat perspektif lebih luas mengenai dampak transisi tersebut pada pertanian di area berhutan. Jadi mereka menggunakan pendekatan lebih luas, tidak hanya pada aspek sosio-ekologis, tetapi juga faktor sosio-ekonomi.<\/p>\n<p>\u201cKami menemukan bahwa ini bukan proses linier. Transisi memberi dampak jangka pendek dan jangka panjang. Transisi juga mempengaruhi lingkungan, kesehatan, diet, sosial dan kultural,\u201d katanya.<\/p>\n\n<p><strong>TIDAK BISA GENERALISASI<\/strong><\/p>\n<p>Salah satu poin terkuat yang muncul dari penelitian, bahwa ketika kita melihat masyarakat desa dalam perubahan bentang alam, kita tidak boleh hanya memeriksa tiap faktor, tetapi bagaimana faktor-faktor itu berhubungan dalam situasi tertentu. Sunderland menyatakan bahwa salah satu masalahnya adalah, kita sering melakukan generalisasi kehidupan masyarakat yang tinggal di desa.<\/p>\n<p>\u201cKita cenderung keluar dengan pernyataan besar mengenai dependensi hutan, keterikatan hutan dengan diet dan seterusnya, namun hal ini sejatinya bergantung pada keseluruhan eksternalitas lain, seperti budaya dan ekonomi, selain juga pentingnya konteks lokal,\u201d kata Sunderland.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Salah satu temuan mengejutkan muncul <a href=\"http:\/\/cifor.org\/library\/6506\/indirect-contributions-of-forests-to-dietary-diversity-in-southern-ethiopia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">di Ethiopia<\/a>, misalnya, para ilmuwan menemukan bahwa masyarakat yang tinggal jauh dari hutan, sejatinya lebih miskin karena tidak memiliki akses pada kayu bakar. Masyarakat di sana terpaksa membakar limbah ternak sebagai bahan bakar, bukan sebagai pupuk.<\/p>\n<p>\u201cKondisi ini mengarah pada menurunnya panen dan lahan gembala, serta membuat masyarakat makin miskin,\u201d kata Sunderland.<\/p>\n<p>Contoh lain ketergantungan pada asumsi lama ada di <a href=\"http:\/\/www.cifor.org\/library\/6121\/forests-trees-and-micronutrient-rich-food-consumption-in-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Indonesia<\/a>. Ada pendapat umum bahwa sawit sangat berkontribusi pada ekonomi lokal. Hal ini bisa saja benar, kata Sunderland, namun terlalu disederhanakan.<\/p>\n<p>Ketika para peneliti berbicara dengan pekerja sawit, mereka menemukan transisi besar dalam diet. Dari diet yang sangat bervariasi, bernutrisi, seringkali dari pangan hutan, menjadi diet sangat tersederhanakan yang bergantung pada gula dan lemak.<\/p>\n<p>\u201cSemacam diet \u2018mi instan\u2019. Ketika masyarakat punya sedikit uang di sakunya, mereka cenderung membeli makanan kemasan. Ini juga soal status. Dan hal seperti ini tak terpikirkan sebelumnya,\u201d kata Sunderland.<\/p>\n<p>Menurut dia, keamanan pangan tidak seharusnya hanya menghitung kalori, tetapi juga memasukkan diet aktual masyarakat dan nutrisinya.<\/p>\n<p><strong>PERTANYAAN SEJUTA DOLAR  <\/strong><\/p>\n<p>Jadi, bagaimana kita menjaga pertumbuhan ekonomi dan keamanan pangan tanpa merusak lingkungan?<\/p>\n<p>\u201cPenelitian ini menyatakan, bahwa ini bukan soal agar masyarakat terus bergantung pada hutan, tetapi menjaga masyarakat tetap menyadari fakta bahwa hutan berperan penting dalam keamanan pangan, misalnya dalam hal ekosistem dan dampaknya pada pertanian hutan,\u201d kata Sunderland.<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p>Ia menyatakan, saat berada di lapangan, kita dengan cepat menyadari bahwa banyak konsep seperti berbagi lahan dan hemat lahan, terlalu konseptual, dan sebuah \u2018desain besar\u2019 pada skala bentang alam yang tidak ada di lapangan. Ia menegaskan perlunya benar-benar terjun memahami kompleksitas bentang alam tersebut.<\/p>\n<p><strong>DARI SINI TERUS KE MANA?<\/strong><\/p>\n<p>Selama bertahun-tahun, kritik mempertanyakan: bagaimana kita memberi makan dunia jika kita tidak melakukan ekspansi masif di bentang alam? Tetapi, penelitian menunjukkan bahwa ini bukan pertanyaan \u2018atau\u2019. Hutan dan pohon <a href=\"http:\/\/www.fao.org\/fileadmin\/user_upload\/hlpe\/hlpe_documents\/HLPE_Reports\/HLPE-Report-11_EN.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">memiliki peran kunci untuk dimainkan<\/a>.<\/p>\n<p>Penelitian baru ini merujuk pada <a href=\"http:\/\/www.un.org\/esa\/forests\/pdf\/session_documents\/unff10\/EcoContrForests.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penelitian sebelumnya<\/a> yang memperkirakan bahwa lebih dari 1,3 miliar orang memanfaatkan hutan, dan bahwa pohon dan hutan bentang alam menghasilkan pemasukan signifikan bagi masyarakat lokal dengan mencari makan di hutan dan alam bebas seperti dari budi daya tanaman.<\/p>\n\n<p>\u201cKini ada bukti dikotomi yang jelas antara lingkungan dan ketahanan pangan. Jadi ini tidak hitam dan putih seperti kelihatannya,\u201d kata Sunderland.<\/p>\n<p>Sunderland menyatakan bahwa dampak perubahan iklim pada bentang alam menegaskan pesan ini, terdapat kebutuhan membantu petani melakukan diversifikasi di masa depan, dan melalukan hal yang lebih dengan apa yang mereka miliki.<\/p>\n<p>\u201cPetani yang membudidayakan delapan jenis tanaman berbeda akan lebih sedikit terpengaruh  dampak lingkungan atau ekonomi akibat perubahan iklim. Sebaliknya petani yang hanya bercocok tanam gandum dan mengalami tahun bencana, maka semuanya akan hilang,\u201d lanjutnya.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Para peneliti juga memperhatikan proyek bantuan yang diimplementasikan di area penelitian mereka. Proyek-proyek tersebut terfokus pada isu, antara lain pertanian, keberlanjutan dan penghidupan, serta berlangsung relatif pendek, tiga sampai lima tahun.<\/p>\n<p>\u201cIni bagus untuk jangka pendek, tetapi tidak untuk jangka panjang. Kami menyarankan untuk melepaskan intervensi berorientasi proyek ke arah orientasi proses, dan mencoba memahami bagaimana dan mengapa bentang alam berubah seiring waktu,\u201d kata Sunderland.<\/p>\n<p>Melangkah maju berdasar hasil penelitian ini, tim mengakui kebutuhan besar untuk melakukan pendekatan multi-disiplin \u2013 ketika para ilmuwan sosial bekerja sama dengan ilmuwan lingkungan, lanjut Sunderland, penelitian mendapat hasil lebih baik.<\/p>\n<p>\u201cTidak ada peluru perak. Yang ada hanya realitas kompleks dan kita benar-benar harus berpegangan padanya untuk maju. Kita perlu memahami bentang alam sebelum kita dapat mengelolanya,\u201d ringkasnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Makin tingginya kebutuhan pangan \u2013yang akan berlipat dua kali pada 2050 \u2013 mengarah pada meluasnya ekspansi pertanian, terutama dengan mengorbankan hutan. Diperkirakan, antara 1980 hingga 2000, lebih dari separuh lahan pertanian baru di wilayah tropis dikembangkan di atas lahan berhutan, dan 28 persen lain dibuka di atas lahan hutan sekunder. Meski ekspansi dan langkah signifikan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":214,"featured_media":51441,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[182,188,6090,95,1072],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[2587,2542,7102,2489,2569,2550,2520,2589,2615,2586,2480],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[6193],"class_list":["post-51440","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-community-forestry","category-food-and-diets","category-forests-news","category-human-wellbeing","category-landscapes","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-bentang-alam","tag-bahasa-jasa-lingkungan","tag-bahasa-kalori","tag-bahasa-keanekaragaman-hayati","tag-bahasa-kesehatan","tag-bahasa-ketahanan-pangan","tag-bahasa-konservasi","tag-bahasa-mata-pencaharian","tag-bahasa-nutrisi","tag-bahasa-pendekatan-bentang-alam","tag-bahasa-pertanian","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Perubahan bentang alam: Dari hasil hutan menjadi makanan - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51440\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Perubahan bentang alam: Dari hasil hutan menjadi makanan\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Makin tingginya kebutuhan pangan \u2013yang akan berlipat dua kali pada 2050 \u2013 mengarah pada meluasnya ekspansi pertanian, terutama dengan mengorbankan hutan. Diperkirakan, antara 1980 hingga 2000, lebih dari separuh lahan pertanian baru di wilayah tropis dikembangkan di atas lahan berhutan, dan 28 persen lain dibuka di atas lahan hutan sekunder. Meski ekspansi dan langkah signifikan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51440\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-09-11T04:00:21+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-02-07T08:47:29+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/36894682881_80dcaa00da_c.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"534\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Suzanna Dayne\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51440\\\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51440\\\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan\"},\"author\":{\"name\":\"Suzanna Dayne\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/58a733990351598cdbdb28584f5f3abd\"},\"headline\":\"Perubahan bentang alam: Dari hasil hutan menjadi makanan\",\"datePublished\":\"2017-09-11T04:00:21+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:47:29+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51440\\\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan\"},\"wordCount\":934,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51440\\\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/09\\\/36894682881_80dcaa00da_c.jpg\",\"articleSection\":[\"Community forestry\",\"Food &amp; diets\",\"Forests News\",\"Human well-being\",\"Landscapes\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51440\\\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2017\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51440\\\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51440\\\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan\",\"name\":\"Perubahan bentang alam: Dari hasil hutan menjadi makanan - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51440\\\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51440\\\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/09\\\/36894682881_80dcaa00da_c.jpg\",\"datePublished\":\"2017-09-11T04:00:21+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:47:29+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51440\\\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51440\\\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51440\\\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/09\\\/36894682881_80dcaa00da_c.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/09\\\/36894682881_80dcaa00da_c.jpg\",\"width\":800,\"height\":534,\"caption\":\"Silas Matoke, memanen sagu yang dikenal sebagai 'pangkur' di tepian hutan Tuba di desa Honitetu, Kabupaten Seram Barat, Maluku. Ketahanan pangan semakin dikaitkan dengan berbagai sektor seperti keanekaragaman hayati, konservasi, pemeliharaan layanan ekosistem, produksi pangan, penyediaan mata pencaharian yang berkelanjutan, dan mitigasi perubahan iklim.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51440\\\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Perubahan bentang alam: Dari hasil hutan menjadi makanan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51440\\\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51440\\\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/58a733990351598cdbdb28584f5f3abd\",\"name\":\"Suzanna Dayne\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c29181bddd0ffefe3699042513c74c7ab9ae0054fd6d5dfbfcd1fecf62127869?s=96&d=mm&r=g8f9b7cd57542c3c1abe44e5e11afc6e7\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c29181bddd0ffefe3699042513c74c7ab9ae0054fd6d5dfbfcd1fecf62127869?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c29181bddd0ffefe3699042513c74c7ab9ae0054fd6d5dfbfcd1fecf62127869?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Suzanna Dayne\"},\"description\":\"Suzanna Dayne is a communication consultant and writer\\\/producer. She currently works with UN agencies and non profits on issues linked to the SDGs, including the environment and climate change. She is a former writer\\\/producer for CNN International and international broadcaster for Voice of America radio.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/suzanna\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51440\\\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Perubahan bentang alam: Dari hasil hutan menjadi makanan - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51440\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Perubahan bentang alam: Dari hasil hutan menjadi makanan","og_description":"Makin tingginya kebutuhan pangan \u2013yang akan berlipat dua kali pada 2050 \u2013 mengarah pada meluasnya ekspansi pertanian, terutama dengan mengorbankan hutan. Diperkirakan, antara 1980 hingga 2000, lebih dari separuh lahan pertanian baru di wilayah tropis dikembangkan di atas lahan berhutan, dan 28 persen lain dibuka di atas lahan hutan sekunder. Meski ekspansi dan langkah signifikan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51440\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2017-09-11T04:00:21+00:00","article_modified_time":"2018-02-07T08:47:29+00:00","og_image":[{"width":800,"height":534,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/36894682881_80dcaa00da_c.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Suzanna Dayne","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51440\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51440\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan"},"author":{"name":"Suzanna Dayne","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/58a733990351598cdbdb28584f5f3abd"},"headline":"Perubahan bentang alam: Dari hasil hutan menjadi makanan","datePublished":"2017-09-11T04:00:21+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:47:29+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51440\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan"},"wordCount":934,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51440\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/36894682881_80dcaa00da_c.jpg","articleSection":["Community forestry","Food &amp; diets","Forests News","Human well-being","Landscapes"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51440\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan#respond"]}],"copyrightYear":"2017","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51440\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51440\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan","name":"Perubahan bentang alam: Dari hasil hutan menjadi makanan - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51440\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51440\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/36894682881_80dcaa00da_c.jpg","datePublished":"2017-09-11T04:00:21+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:47:29+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51440\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51440\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51440\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/36894682881_80dcaa00da_c.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/36894682881_80dcaa00da_c.jpg","width":800,"height":534,"caption":"Silas Matoke, memanen sagu yang dikenal sebagai 'pangkur' di tepian hutan Tuba di desa Honitetu, Kabupaten Seram Barat, Maluku. Ketahanan pangan semakin dikaitkan dengan berbagai sektor seperti keanekaragaman hayati, konservasi, pemeliharaan layanan ekosistem, produksi pangan, penyediaan mata pencaharian yang berkelanjutan, dan mitigasi perubahan iklim."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51440\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Perubahan bentang alam: Dari hasil hutan menjadi makanan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51440\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51440\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/58a733990351598cdbdb28584f5f3abd","name":"Suzanna Dayne","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c29181bddd0ffefe3699042513c74c7ab9ae0054fd6d5dfbfcd1fecf62127869?s=96&d=mm&r=g8f9b7cd57542c3c1abe44e5e11afc6e7","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c29181bddd0ffefe3699042513c74c7ab9ae0054fd6d5dfbfcd1fecf62127869?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c29181bddd0ffefe3699042513c74c7ab9ae0054fd6d5dfbfcd1fecf62127869?s=96&d=mm&r=g","caption":"Suzanna Dayne"},"description":"Suzanna Dayne is a communication consultant and writer\/producer. She currently works with UN agencies and non profits on issues linked to the SDGs, including the environment and climate change. She is a former writer\/producer for CNN International and international broadcaster for Voice of America radio.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/suzanna"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51440\/perubahan-bentang-alam-dari-hasil-hutan-menjadi-makanan#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/36894682881_80dcaa00da_c.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51440","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/214"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=51440"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51440\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/51441"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=51440"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=51440"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=51440"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=51440"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=51440"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=51440"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=51440"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=51440"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=51440"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=51440"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=51440"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=51440"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=51440"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}