{"id":51324,"date":"2017-09-06T16:33:05","date_gmt":"2017-09-06T09:33:05","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/?p=51324"},"modified":"2018-02-07T14:53:48","modified_gmt":"2018-02-07T07:53:48","slug":"mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51324\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd","title":{"rendered":"Mengapa perlindungan sosial penting dalam mengelola imbal-balik REDD+"},"content":{"rendered":"<p>Masyarakat lokal bisa mendapat manfaat dari skema mitigasi perubahan iklim dengan menjaga tegakan hutan tropis dan meningkatkan tutupan hutan &#8211; jika kombinasi insentif dan sanksi pas. Demikian ditunjukkan sebuah <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/library\/6560\/balancing-carrots-and-sticks-in-redd-implications-for-social-safeguards\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">riset terbaru<\/a>.<\/p>\n<p>Mitigasi perubahan iklim global merupakan salah satu tantangan terbesar saat ini, dan konservasi hutan tropis menjadi salah satu bagian pentingnya. Namun <a href=\"http:\/\/www.fao.org\/forestry\/livelihoods\/en\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">jutaan orang<\/a> di negara tropis bergantung pada sumber daya hutan untuk kehidupannya.<\/p>\n<p>Inilah mengapa, skema REDD+  &#8212; upaya reduksi  deforestasi, degradasi hutan dan meningkatkan stok karbon \u2013 yang didukung PBB menetapkan syarat perlindungan sosial bagi negara pelaksana, sebagai upaya menjamin masyarakat lokal agar terbantu, dan bukannya terancam oleh implementasi REDD+<\/p>\n<p>Namun, apakah ini bisa berjalan? Perlindungan sosial bisa jadi sulit diterapkan dan dipantau, mengingat aspek-aspek lain dalam REDD+, seperti misalnya sistem pemantauan juga belum terbangun. Meski masyarakat adat dan komunitas lokal mendapat tempat penting di dalam arena perubahan iklim, hanya ada sedikit bukti empiris mengenai dampak awal inisiatif REDD+ terhadap hak dan penghidupan mereka.<\/p>\n<p>Melalui <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/gcs\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Studi Komparatif Global REDD+<\/a>, tim peneliti dari <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional<\/a> (CIFOR) dan para mitranya sudah berdialog dengan sekitar 4.000 keluarga di enam negara tropis untuk mempelajari persepsi keamanan tenurial dan kesejahteraan, pada fase sebelum dan setelah invervensi perlindungan hutan diimplementasikan di lingkungan mereka. Para peneliti juga menilai partisipasi masyarakat dalam inisiatif REDD+ setempat.<\/p>\n\n<p>Hasilnya, secara umum menjelaskan &#8220;adanya kemajuan tetapi juga masih ada potensi tak tergarap&#8221; dalam menjamin terealisasinya manfaat sosial REDD+. Demikian menurut kepala peneliti dan ilmuwan senior CIFOR, Amy Duchelle.<\/p>\n<p><strong>Wortel dan Tongkat <\/strong><\/p>\n<p>Terdapat variasi beragam dalam pemanfatan \u201cwortel\u201d (insentif) dan \u201ctongkat\u201d (sanksi) di berbagai lokasi penelitian \u2013 dan, menurut Duchelle, keseimbanganlah yang membedakannya.<\/p>\n<p>Penggunaan helikopter polisi untuk patroli dan denda tinggi yang diterapkan di Amazon Brazil, serta petani terdampak di lokasi REDD+ dan non-REDD+, sedikit berbeda dengan upaya pengendalian yang melibatkan masyarakat lokal dalam penerapannya, seperti dalam pemantauan hutan masyarakat di beberapa lokasi REDD+ di Tanzania dan Indonesia.<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p>Meski ada <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/library\/5773\/post-crackdown-effectiveness-of-field-based-forest-law-enforcement-in-the-brazilian-amazon\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">bukti<\/a> bahwa pendekatan perintah-dan-kendali bisa efektif meningkatkan konservasi hutan, \u201cjika kita tidak dilengkapi insentif, maka kita akan menghadapi timbal-balik antara manfaat karbon dan non-karbonnya,\u201d katanya. Sampel masyarakat lokal di dunia yang mengalami pembatasan penebangan dan akses ke hutan dilaporkan mengalami penurunan kesejahteraan dan keamanan tenurial, ketika tidak mendapatkan insentif yang cukup.<\/p>\n<p>Dan, ini bukan kejutan, kata Duchelle. \u201cPerlu jelas benar manfaat bagi masyarakat lokal untuk menjaga hutan, bukan sekadar mematuhi aturan.\u201d<\/p>\n<p>Benih Acai, pupuk campuran nitrogen, dan kolam ikan lebih menjawab kebutuhan daripada mitigasi perubahan iklim termaju sekalipun. Meskipun begitu, di <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/library\/5262\/acres-state-system-of-incentives-for-environmental-services-sisa-brazil\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Provinsi Acre, Brasil<\/a>, terdapat sebuah strategi untuk membantu petani mengembangkan sistem produksi lebih berkelanjutan. Acre merupakan satu  dari sedikit yurisdiksi subnasional yang telah mengembangkan sistem perlindungan dalam <a href=\"https:\/\/www.cifor.org\/library\/5773\/post-crackdown-effectiveness-of-field-based-forest-law-enforcement-in-the-brazilian-amazon\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Sistem Insentif Jasa Lingkungan<\/a>.<\/p>\n\n<p><strong>Partisipasi: Bukan Sekedar \u201cMengisi Formulir\u201d<\/strong><\/p>\n<p>Namun, tidak semua \u201cwortel\u201d juga cocok di segala situasi. Para peneliti menemukan sejumlah situasi ketika kompensasi yang ditawarkan tidak menyentuh realitas lokal.<\/p>\n<p>Pada beberapa inisiatif, insentif uang dan dukungan teknis yang ditawarkan \u2013 dengan harapan mendorong petani mengubah praktik pertanian tradisional \u2013 tidaklah cukup.<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p>Agar lebih baik dalam merancang intervensi yang bermanfaat bagi hutan dan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitarnya, petani lokal perlu secara aktif terlibat dalam desain inisiatif sejak tahap awal proses, kata Duchelle: \u201cbanyak peluang meningkatkan partisipasi lokal\u201d. Salah satu prasyarat penting dalam perlindungan REDD+, yaitu partisipasi bermakna masih \u201cberjarak di banyak lokasi penelitian kami,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Penelitian memaparkan, kurang dari 50 persen keluarga yang disurvei terlibat dalam aspek desain atau implementasi proyek. Dan, bentuk partisipasinya, umumnya hanya menghadiri pertemuan yang digelar implementator, \u201csekadar mencentang kotak partisipasi itu,\u201d paparnya.<\/p>\n<p>Sebagian besar masyakat lokal tidak memainkan peran aktif dalam pengambilan keputusan, atau bisa berbagi \u201cgagasan apa yang baik untuk meningkatkan konservasi dan membantu pembangunan mereka sendiri,\u201d katanya.<\/p>\n<p><strong>Lebih Dari Sekedar Karbon<\/strong><\/p>\n<p>Agar dapat dilaksanakan dalam jangka panjang, kata Duchelle, REDD+ perlu melayani kesejahteraan masyarakat hutan dan hutan tempat mereka bergantung. &#8220;Data menunjukkan, ada peluang membenahi aspek tersebut &#8211; untuk memperkuat hak dan penghidupan lokal.&#8221;<\/p>\n<p>Hal ini berarti, secara bersungguh-sungguh melibatkan masyarakat lokal dalam desain dan implementasinya, serta mengembangkan sistem pemantauan untuk  menjejak bagaimana perlindungan REDD+ berjalan sesuai praktik. &#8220;Perlindungan mencerminkan tujuan pembangunan berkelanjutan &#8230; sejatinya menunjukkan bahwa REDD+ bukan sekedar dari karbon,&#8221; katanya.<\/p>\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Masyarakat lokal bisa mendapat manfaat dari skema mitigasi perubahan iklim dengan menjaga tegakan hutan tropis dan meningkatkan tutupan hutan &#8211; jika kombinasi insentif dan sanksi pas. Demikian ditunjukkan sebuah riset terbaru. Mitigasi perubahan iklim global merupakan salah satu tantangan terbesar saat ini, dan konservasi hutan tropis menjadi salah satu bagian pentingnya. Namun jutaan orang di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":264,"featured_media":51326,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,180,11,151,184],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[2522,2500,2567,7164,3680,2819,2538],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[7144],"class_list":["post-51324","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-mitigating-climate-change","category-mrv-2","category-redd-2","category-value-chains-finance","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-deforestasi","tag-bahasa-emisi-karbon","tag-bahasa-gas-rumah-kaca","tag-bahasa-perlindungan-sosial","tag-bahasa-perubahan-iklim","tag-bahasa-redd","tag-bahasa-target-pengurangan-emisi","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Mengapa perlindungan sosial penting dalam mengelola imbal-balik REDD+ - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51324\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mengapa perlindungan sosial penting dalam mengelola imbal-balik REDD+\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Masyarakat lokal bisa mendapat manfaat dari skema mitigasi perubahan iklim dengan menjaga tegakan hutan tropis dan meningkatkan tutupan hutan &#8211; jika kombinasi insentif dan sanksi pas. Demikian ditunjukkan sebuah riset terbaru. Mitigasi perubahan iklim global merupakan salah satu tantangan terbesar saat ini, dan konservasi hutan tropis menjadi salah satu bagian pentingnya. Namun jutaan orang di [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51324\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-09-06T09:33:05+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-02-07T07:53:48+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/36618666170_fe9ca9b720.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"333\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Monica Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51324\\\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51324\\\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd\"},\"author\":{\"name\":\"Monica Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\"},\"headline\":\"Mengapa perlindungan sosial penting dalam mengelola imbal-balik REDD+\",\"datePublished\":\"2017-09-06T09:33:05+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T07:53:48+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51324\\\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd\"},\"wordCount\":689,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51324\\\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/09\\\/36618666170_fe9ca9b720.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Mitigation\",\"MRV\",\"REDD+\",\"Value chains &amp; finance\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51324\\\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2017\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51324\\\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51324\\\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd\",\"name\":\"Mengapa perlindungan sosial penting dalam mengelola imbal-balik REDD+ - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51324\\\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51324\\\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/09\\\/36618666170_fe9ca9b720.jpg\",\"datePublished\":\"2017-09-06T09:33:05+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T07:53:48+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51324\\\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51324\\\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51324\\\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/09\\\/36618666170_fe9ca9b720.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/09\\\/36618666170_fe9ca9b720.jpg\",\"width\":500,\"height\":333,\"caption\":\"Penduduk membahas pemetaan sumber daya alam partisipatif di desa Honitetu, Kabupaten Seram Barat, Provinsi Maluku.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51324\\\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mengapa perlindungan sosial penting dalam mengelola imbal-balik REDD+\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51324\\\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51324\\\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\",\"name\":\"Monica Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Monica Evans\"},\"description\":\"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/monica-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/51324\\\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Mengapa perlindungan sosial penting dalam mengelola imbal-balik REDD+ - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51324\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Mengapa perlindungan sosial penting dalam mengelola imbal-balik REDD+","og_description":"Masyarakat lokal bisa mendapat manfaat dari skema mitigasi perubahan iklim dengan menjaga tegakan hutan tropis dan meningkatkan tutupan hutan &#8211; jika kombinasi insentif dan sanksi pas. Demikian ditunjukkan sebuah riset terbaru. Mitigasi perubahan iklim global merupakan salah satu tantangan terbesar saat ini, dan konservasi hutan tropis menjadi salah satu bagian pentingnya. Namun jutaan orang di [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51324\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2017-09-06T09:33:05+00:00","article_modified_time":"2018-02-07T07:53:48+00:00","og_image":[{"width":500,"height":333,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/36618666170_fe9ca9b720.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Monica Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51324\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51324\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd"},"author":{"name":"Monica Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70"},"headline":"Mengapa perlindungan sosial penting dalam mengelola imbal-balik REDD+","datePublished":"2017-09-06T09:33:05+00:00","dateModified":"2018-02-07T07:53:48+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51324\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd"},"wordCount":689,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51324\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/36618666170_fe9ca9b720.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Mitigation","MRV","REDD+","Value chains &amp; finance"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51324\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd#respond"]}],"copyrightYear":"2017","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51324\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51324\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd","name":"Mengapa perlindungan sosial penting dalam mengelola imbal-balik REDD+ - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51324\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51324\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/36618666170_fe9ca9b720.jpg","datePublished":"2017-09-06T09:33:05+00:00","dateModified":"2018-02-07T07:53:48+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51324\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51324\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51324\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/36618666170_fe9ca9b720.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/36618666170_fe9ca9b720.jpg","width":500,"height":333,"caption":"Penduduk membahas pemetaan sumber daya alam partisipatif di desa Honitetu, Kabupaten Seram Barat, Provinsi Maluku."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51324\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mengapa perlindungan sosial penting dalam mengelola imbal-balik REDD+"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51324\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51324\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70","name":"Monica Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","caption":"Monica Evans"},"description":"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/monica-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/51324\/mengapa-perlindungan-sosial-penting-dalam-mengelola-imbal-balik-redd#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/36618666170_fe9ca9b720.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51324","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/264"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=51324"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51324\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/51326"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=51324"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=51324"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=51324"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=51324"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=51324"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=51324"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=51324"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=51324"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=51324"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=51324"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=51324"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=51324"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=51324"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}