{"id":50589,"date":"2017-07-20T12:07:45","date_gmt":"2017-07-20T05:07:45","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=50589"},"modified":"2018-02-07T16:08:28","modified_gmt":"2018-02-07T09:08:28","slug":"flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50589\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil","title":{"rendered":"FLEGT di Indonesia: Tantangan atau peluang bagi usaha kecil?"},"content":{"rendered":"<p>Indonesia telah mengambil langkah besar dengan mengadopsi lisensi legalitas kayu Uni Eropa yang baru. Transisi dari sistem nasional yang ada berlangsung , mulus.<\/p>\n<p>Lisensi Penegakkan Hukum, Tata Kelola dan Perdagangan Hutan (FLEGT) UE tersebut kompatibel dengan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu Indonesia (SVLK). Artinya, pelaku usaha yang memegang lisensi nasional, secara otomatis dapat langsung melakukan ekspor ke UE tanpa pemeriksaan lebih lanjut.<\/p>\n<p>Perkembangan ini menjadi berita baik bagi pelaku usaha berlisensi, karena membuka akses ke pasar global, dan memberikan jaminan rantai nilai bebas penebangan ilegal. Namun, tantangan tetap ada bagi usaha kecil, yang sebagian besar tak berlisensi.<\/p>\n<p>Menemukan cara memaksimalkan manfaat FLEGT bagi usaha kecil dan menengah (UKM) menjadi fokus <a href=\"\/\/www.cifor.org\/event\/national-policy-dialogue-flegt-licensing-and-supporting-small-and-medium-sized-wood-enterprises-access-to-global-markets\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">dialog kebijakan nasional<\/a> di Jakarta pekan lalu. Lebih dari 200 pengambil kebijakan, ilmuwan, pemilik usaha, pengrajin, dan lainya bergabung untuk mencari solusi berkeadilan agar sistem SVLK dan FLEGT bisa bermanfaat bagi perdagangan, konservasi dan penghidupan.<\/p>\n\n<p><strong>ANAK EMAS ATAU KELINCI PERCOBAAN?<\/strong><\/p>\n<p>Indonesia merupakan negara pertama yang mengadopsi sistem FLEGT UE, sejak mulai memberikan lisensi November tahun lalu. Perubahan ini diharapkan memberi Indonesia keunggulan komparatif di pasar Eropa, serta memberi jaminan legalitas kayu bagi importir dan konsumen.<\/p>\n<p>\u201cKami ingin melepas stigma, Indonesia adalah sumber kayu ilegal,\u201d kata Ida Bagus Putera Parthama, Direktur Jenderal Tata Kelola Hutan Berkelanjutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, saat menyampaikan pidato pembukaan.<\/p>\n<p>\u201cFLEGT itu, bisa dikatakan seperti anak soleh \u2013 yang kelahirannya telah lama ditunggu. Artinya semua orang seharusnya memberikan dukungan,\u201d katanya. \u201cNamun, kita ada di negara yang beragam di segala hal, termasuk dalam mempersepsi penebangan ilegal. Masih ada sedikit yang tidak menyambut anak soleh ini.\u201d<\/p>\n<p>Analogi <em>anak soleh<\/em>, atau \u2018<em>anak emas<\/em>\u2019 terbawa terus dalam diskusi hari itu.<\/p>\n<p>Charles-Michel Geurts, Wakil Ketua Delegasi Uni Eropa di Indonesia, memberikan selamat pada negara tuan rumah karena berhasil memberikan contoh regional.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>\u201c<em>Anak soleh<\/em> merupakan panutan, setiap orang menyukainya, setiap orang ingin mengadopsinya,\u201d katanya. \u201cUE bekerja keras dengan negara ketiga seperti AS, Jepang, Australia, atau bahkan China, untuk memberi pengakuan terhadap lisensi Indonesia.\u201d<\/p>\n<p>Su-Lin Garbett-Shiels dari Unit Perubahan Iklim Inggris (UKCCU) di Indonesia, berkelakar, saking banyaknya ucapan selamat, Indonesia pasti sudah lelah mendengarnya.<\/p>\n<p>\u201cSaya tahu ini sudah hampir setahun, namun hingga ada negara kedua yang memiliki lisensi, Saya pikir Anda akan terus mendapat ucapan selamat,\u201d katanya. \u201cKami benar-benar bangga atas kerja sama dalam mengatasi kayu ilegal di Indonesia.\u201d<\/p>\n<p>Namun, Basuki Kurniawan, Wakil Sekretaris Jenderal Himpunan Industri Meubel dan Kriya Indonesia (HIMKI), mempertanyakan manfaat lisensi bagi pemilik usaha kecil.<\/p>\n<p>\u201cJelas sekali, Indonesia telah menjadi anak yang sangat-sangat baik. Namun kita juga menjadi kelinci percobaan. Dan sebagai kelinci percobaan, jujur saja, kita menghadapi banyak masalah,\u201d katanya. Mendapatkan lisensi SVLK atau FLEGT masih menjadi tantangan besar bagi usaha kecil, mereka yang hidup dari keuntungan harian, atau dikerjakan oleh satu atau dua orang saja.<\/p>\n<p>Diskusi mengupas tantangan bagi usaha kecil, bagaimana mengurangi beban, dan bagaimana menjamin sistem berkeadilan dan berkelanjutan yang mampu memberi manfaat bagi semua kelas usaha.<\/p>\n\n<h4>MASALAH UKURAN<\/h4>\n<p>Jajag Suryo Putro, yang mengelola usaha meubel kelas menengah di Jawa Tengah menyatakan, dalam sistem yang baru, tidak menjadi masalah baginya untuk mendapatkan lisensi legalitas kayu.<\/p>\n<p>\u201cSatu lisensi membutuhkan biaya Rp 15-30 juta, namun ini investasi dalam niat baik untuk mendapatkan kepercayaan,\u201d katanya. \u201cSertifikasi itu fundamental \u2013 pikiran kita lah yang menghalanginya, karena pada akhirnya sertifikasi dapat digunakan pelaku usaha sebagai sebuah alat.\u201d<\/p>\n<p>Namun, bagi usaha kecil, sebagian pihak menyatakan investasi sebesar itu tak terjangkau. Usaha kecil seringkali tidak memiliki perizinan untuk mendapatkan lisensi, tidak tahu tahapan, dan mungkin menghadapi diskriminasi dari aparat dalam pengurusannya.<\/p>\n<p>Diah Suradirejda dari Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) menyatakan bahwa area kunci untuk mendukung lisensi adalah dalam pelayanan, antara lain dari pemerintah daerah. Dalam hal ini, sudah banyak kemajuan dicapai.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>\u201cKita seharunya tidak lagi mendekati lisensi dari isu pelaku usaha kecil yang tidak memiliki kartu tanda penduduk, tidak mampu mengisi formulir, atau hambatan biaya \u2013 itu stigma lama,\u201d katanya.<\/p>\n<p>\u201cSudah banyak kemajuan dalam hal dukungan, instrumen-instrumen baru dalam pemerintah. Dan kita seharusnya bangga terhadap perubahan itu,\u201d tambahna.<\/p>\n<p>Victoria Simanungkalit, dari Kementerian Koperasi dan UKM menyatakan, daripada mencari-cari alasan, upaya lebih besar seharusnya dilakukan untuk mempercepat usaha kecil mendapatkan lisensi.<\/p>\n<p>\u201cTidak selayaknya kita memanjakan usaha kecil, kita harus mempersiapkan mereka bertarung di pasar global,\u201d katanya.<\/p>\n<h4>KAITAN PADA PENGHIDUPAN<\/h4>\n<p>Sementara itu, Su-Lin Garbett-Shiels dari UKCCU menggarisbawahi kaitan yang perlu ditarik atas kontribusi rumah tanggga pada usaha kecil.<\/p>\n<p>\u201cSaya pikir, sangat penting mengakui pentingnya melindungi penghidupan sejalan dengan peningkatan perdagangan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Herry Purnomo, ilmuwan <a href=\"\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR)<\/a> dan salah satu panitia dialog, memiliki banyak pengalaman di bidang ini. Ia telah bekerja lebih dari satu dekade meneliti mengenai keadilan dan keberlanjutan usaha kecil pada Asosiasi Pengrajin Kayu Jepara di Jawa Tengah.<\/p>\n<p>Menurut Purnomo, pemerintah daerah perlu lebih adaptif terhadap perbedaan situasi yang dihadapi berbagai ukuran usaha, alih-alih memaksakan pendekatan satu untuk semua.<\/p>\n\n<p>\u201cPemerintah daerah seharusnya memberi fasilitasi finansial dan regulasi agar ini terakses untuk UKM,\u201d katanya. \u201cMisalnya, pengusaha meubel tidak bisa menggunakan rumahnya sendiri untuk bengkel kerja, karena merupakan tempat tinggal, namun mereka juga tidak mampu memiliki tempat usaha.\u201d<\/p>\n<p>Margono, seorang anggota AKPJ, menambahkan, bahwa untuk usaha kecil, pemerintah perlu menjamin bahwa lisensi legalitas kayu \u201cseharusnya tidak membebani masyarakat, tetapi memberi manfaat.\u201d<\/p>\n<p>Dari perspektif ini, dialog multi-pemangku kepentingan di Jakarta menawarkan titik awal yang penting dalam membuka peluang bagi usaha kecil, meningkatkan keadilan dan penghidupan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Indonesia telah mengambil langkah besar dengan mengadopsi lisensi legalitas kayu Uni Eropa yang baru. Transisi dari sistem nasional yang ada berlangsung , mulus. Lisensi Penegakkan Hukum, Tata Kelola dan Perdagangan Hutan (FLEGT) UE tersebut kompatibel dengan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu Indonesia (SVLK). Artinya, pelaku usaha yang memegang lisensi nasional, secara otomatis dapat langsung melakukan ekspor [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":221,"featured_media":50598,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[182,6090,95,184],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[2522,2565,7097,7111,2516,2520,7109,7112,2530,3680,2659,2507,6446,7110],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[6545],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[6538],"class_list":["post-50589","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-community-forestry","category-forests-news","category-human-wellbeing","category-value-chains-finance","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-deforestasi","tag-bahasa-ekonomi-hijau","tag-bahasa-eu-flegt","tag-bahasa-ikm","tag-bahasa-kehutanan-masyarakat","tag-bahasa-konservasi","tag-bahasa-lisensi-kayu","tag-bahasa-pengrajin-kayu","tag-bahasa-pertumbuhan-ekonomi","tag-bahasa-perubahan-iklim","tag-bahasa-petani-kecil","tag-bahasa-sertifikasi","tag-bahasa-svlk","tag-bahasa-ukm","type-bahasa-liputan-acara"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>FLEGT di Indonesia: Tantangan atau peluang bagi usaha kecil? - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50589\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"FLEGT di Indonesia: Tantangan atau peluang bagi usaha kecil?\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Indonesia telah mengambil langkah besar dengan mengadopsi lisensi legalitas kayu Uni Eropa yang baru. Transisi dari sistem nasional yang ada berlangsung , mulus. Lisensi Penegakkan Hukum, Tata Kelola dan Perdagangan Hutan (FLEGT) UE tersebut kompatibel dengan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu Indonesia (SVLK). Artinya, pelaku usaha yang memegang lisensi nasional, secara otomatis dapat langsung melakukan ekspor [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50589\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-07-20T05:07:45+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-02-07T09:08:28+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/35939402936_8a02480086.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"332\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Catriona Croft-Cusworth\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50589\\\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50589\\\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil\"},\"author\":{\"name\":\"Catriona Croft-Cusworth\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/f35814b7624c461123485a4cba48f021\"},\"headline\":\"FLEGT di Indonesia: Tantangan atau peluang bagi usaha kecil?\",\"datePublished\":\"2017-07-20T05:07:45+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T09:08:28+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50589\\\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil\"},\"wordCount\":879,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50589\\\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/35939402936_8a02480086.jpg\",\"articleSection\":[\"Community forestry\",\"Forests News\",\"Human well-being\",\"Value chains &amp; finance\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50589\\\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2017\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50589\\\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50589\\\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil\",\"name\":\"FLEGT di Indonesia: Tantangan atau peluang bagi usaha kecil? - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50589\\\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50589\\\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/35939402936_8a02480086.jpg\",\"datePublished\":\"2017-07-20T05:07:45+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T09:08:28+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50589\\\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50589\\\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50589\\\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/35939402936_8a02480086.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/35939402936_8a02480086.jpg\",\"width\":500,\"height\":332,\"caption\":\"Pemerintah daerah sepatutnya memberi fasilitasi finansial dan regulasi agar sertifikasi dapat terakses untuk UKM.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50589\\\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"FLEGT di Indonesia: Tantangan atau peluang bagi usaha kecil?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50589\\\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50589\\\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/f35814b7624c461123485a4cba48f021\",\"name\":\"Catriona Croft-Cusworth\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/41f574f15320751606cc8609c99c5f07245c52bb9eb9f3f255f4265d480dbaa5?s=96&d=mm&r=g77fddd7045adb9631a1f5570fbaec8b8\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/41f574f15320751606cc8609c99c5f07245c52bb9eb9f3f255f4265d480dbaa5?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/41f574f15320751606cc8609c99c5f07245c52bb9eb9f3f255f4265d480dbaa5?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Catriona Croft-Cusworth\"},\"description\":\"Catriona Croft-Cusworth is an editor and writer. She was formerly editor of Forests News (2017-2018). She has worked in media and communications in Indonesia since 2010, and holds degrees in Arts and Asian Studies from the Australian National University.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/c-cusworth\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50589\\\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"FLEGT di Indonesia: Tantangan atau peluang bagi usaha kecil? - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50589\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"FLEGT di Indonesia: Tantangan atau peluang bagi usaha kecil?","og_description":"Indonesia telah mengambil langkah besar dengan mengadopsi lisensi legalitas kayu Uni Eropa yang baru. Transisi dari sistem nasional yang ada berlangsung , mulus. Lisensi Penegakkan Hukum, Tata Kelola dan Perdagangan Hutan (FLEGT) UE tersebut kompatibel dengan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu Indonesia (SVLK). Artinya, pelaku usaha yang memegang lisensi nasional, secara otomatis dapat langsung melakukan ekspor [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50589\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2017-07-20T05:07:45+00:00","article_modified_time":"2018-02-07T09:08:28+00:00","og_image":[{"width":500,"height":332,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/35939402936_8a02480086.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Catriona Croft-Cusworth","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50589\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50589\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil"},"author":{"name":"Catriona Croft-Cusworth","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/f35814b7624c461123485a4cba48f021"},"headline":"FLEGT di Indonesia: Tantangan atau peluang bagi usaha kecil?","datePublished":"2017-07-20T05:07:45+00:00","dateModified":"2018-02-07T09:08:28+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50589\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil"},"wordCount":879,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50589\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/35939402936_8a02480086.jpg","articleSection":["Community forestry","Forests News","Human well-being","Value chains &amp; finance"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50589\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil#respond"]}],"copyrightYear":"2017","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50589\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50589\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil","name":"FLEGT di Indonesia: Tantangan atau peluang bagi usaha kecil? - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50589\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50589\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/35939402936_8a02480086.jpg","datePublished":"2017-07-20T05:07:45+00:00","dateModified":"2018-02-07T09:08:28+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50589\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50589\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50589\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/35939402936_8a02480086.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/35939402936_8a02480086.jpg","width":500,"height":332,"caption":"Pemerintah daerah sepatutnya memberi fasilitasi finansial dan regulasi agar sertifikasi dapat terakses untuk UKM."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50589\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"FLEGT di Indonesia: Tantangan atau peluang bagi usaha kecil?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50589\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50589\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/f35814b7624c461123485a4cba48f021","name":"Catriona Croft-Cusworth","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/41f574f15320751606cc8609c99c5f07245c52bb9eb9f3f255f4265d480dbaa5?s=96&d=mm&r=g77fddd7045adb9631a1f5570fbaec8b8","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/41f574f15320751606cc8609c99c5f07245c52bb9eb9f3f255f4265d480dbaa5?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/41f574f15320751606cc8609c99c5f07245c52bb9eb9f3f255f4265d480dbaa5?s=96&d=mm&r=g","caption":"Catriona Croft-Cusworth"},"description":"Catriona Croft-Cusworth is an editor and writer. She was formerly editor of Forests News (2017-2018). She has worked in media and communications in Indonesia since 2010, and holds degrees in Arts and Asian Studies from the Australian National University.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/c-cusworth"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50589\/flegt-di-indonesia-tantangan-atau-peluang-bagi-usaha-kecil#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/35939402936_8a02480086.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50589","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/221"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=50589"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50589\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/50598"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=50589"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=50589"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=50589"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=50589"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=50589"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=50589"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=50589"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=50589"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=50589"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=50589"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=50589"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=50589"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=50589"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}