{"id":50571,"date":"2017-07-19T12:14:28","date_gmt":"2017-07-19T05:14:28","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=50571"},"modified":"2018-02-07T14:56:24","modified_gmt":"2018-02-07T07:56:24","slug":"kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50571\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi","title":{"rendered":"Kemajuan dan konservasi, sebuah pertarungan dikotomi"},"content":{"rendered":"<p>Awalnya adalah kehadiran perusahaan kayu, kemudian datang perkebunan karet dan sawit. Selama tiga dekade terakhir, hutan di pulau Kalimantan rusak dalam kecepatan yang tak terduga. Estimasi antara 1973 hingga 2015, 18,7 juta hektare hutan tua Kalimantan digunduli, sementara hutan industri meluas 9,1 juta hektare. Hal tersebut terungkap dalam <a href=\"https:\/\/www.ncbi.nlm.nih.gov\/pmc\/articles\/PMC5015015\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penelitian pada 2016 <\/a>yang dilakukan <a href=\"\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR)<\/a>.<\/p>\n<p>Kondisi ini didorong oleh tingginya keuntungan produksi sawit. Menurut Asosiasi Produsen Minyak Sawit Indonesia dan Kementerian Pertanian, pada 2016 saja, Indonesia mengekspor minyak sawit senilai 18,6 miliar dolar AS.<\/p>\n<p>Untuk menyelamatkan keragaman hayati yang tersisa di pulau Kalimantan, diluncurkan lah inisiatif Heart of Borneo 10 tahun lalu. Inisiatif ini merupakan kerja sama  Indonesia, Malaysia dan Brunei untuk melindungi 22 juta hektare wilayah berhutan di pulau yang dihuni tiga negara tersebut. Meski tinggal di dalam wilayah hutan hujan lintas batas terbesar di dunia, banyak masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan.<\/p>\n<p>Pada 2012, sekelompok peneliti dari CIFOR dan lembaga mitra menuju provinsi Kalimantan Barat Indonesia tersebut, dan mengunjungi desa-desa di wilayah lindung Heart of Borneo.  Mereka meneliti bagaimana masyarakat menghadapi pesatnya ekspansi perkebunan industri. Setiap tahun, para peneliti kembali untuk mencatat perubahan.<\/p>\n\n<p>Baru-baru ini mereka mempublikasikan <a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/6389\/estate-crops-more-attractive-than-community-forests-in-west-kalimantan-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">hasil kajian<\/a>, bagaimana petani kecil dan masyarakat adat menghadapi peluang dan ancaman dari kecepatan perluasaan perkebunan industri.<\/p>\n<p>\u201cBahkan dalam periode waktu singkat seperti itu, kami temukan perubahan nilai masyarakat, dan hal ini sering kali terkait dengan pembangunan,\u201d kata James Langston, kandidat Ph.D di Universitas James Cook. \u201cKetika orang makin terlibat dalam ekonomi pasar, mereka harus menemukan jalan menyeimbangkan kepentingan ekonomi dengan nilai bentang alam lain.\u201d<\/p>\n<p>Masyarakat di wilayah ini telah lama menghormati tradisi hutan lahan adat \u2013 lahan yang dipandang berada dalam domain masyarakat tertentu \u2013 dan memanfaatkan lahan sebagai sumber tanaman untuk upacara dan obat-obatan. Namun, insentif ekonomi membuat lahan ini diubah jadi perkebunan.<\/p>\n<p>Ketika agribisnis masuk, masyarakat lokal meninggalkan diversifikasi tanaman dan mengarah pada sistem mono-kultur \u2013 biasanya karet atau sawit. Kemauan mereka untuk menjaga lingkungan dan budaya terkalahkan oleh kebutuhan hidup dan keinginan menjadi kaya.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Para peneliti juga menemukan, tidak ada model bisnis yang jelas di wilayah tersebut. Keterlibatan masyarakat dengan perusahaan perkebunan berlangsung dalam beragam cara. Masalah perjanjian legal formal kurang dinegiosiakan secara langsung dengan perusahaan pada  sebagian masyarakat lokal, dibanding negosiasi keuntungan informal \u2013 atau perjanjian bagi hasil. Keluarga dipandang lebih berhasil, ketika mereka memiliki koneksi lebih baik ke luar kota atau ke pasar.<\/p>\n<p>\u201cPeluang ekonomi terbangun akibat akses jalan yang awalnya distimulasi oleh industri membuat kehidupan meningkat,\u201d kata responden lokal, dikutip dalam penelitian tersebut. \u201cAda biaya sosial, namun kami sekarang lebih menginginkan peralatan modern dan hidup sejahtera.\u201d<\/p>\n<p><strong>RESEP UNTUK KONSERVASI?<\/strong><\/p>\n<p>Banyak pakar pertanian internasional menyebut konservasi yang dikelola masyarakat sebagai satu solusi dalam melibatkan aktor lokal dalam proses pengambilan keputusan yang mempengaruhi lingkungan mereka. Namun di Kalimantan, para peneliti menemukan bahwa kemiskinan merupakan ancaman terbesar keberhasilan metode ini.<\/p>\n<p>Hal ini mendorong para peneliti melembagakan pendekatan lebih komprehensif dalam merekonsiliasikan konservasi dan pembangunan yang secara simultan mengatasi isu kemiskinan, keamanan pangan, perubahan iklim dan keragaman hayati. Para ahli mengakui, hampir tidak mungkin membangun keseimbangan untuk seluruh empat area ini di satu bentang alam; tujuannya jadi lebih pada mengelola timbal balik dengan lebih baik.<\/p>\n<p>\u201cTantangan nyatanya kini adalah bagaimana kita menyeimbangkan biaya dan manfaat,\u201d kata Langston. \u201cApalagi, kita perlu mempertimbangkan urbanisasi \u2013 lebih banyak generasi muda ingin pergi dan mencari peluang baru di perkotaan.\u201d<\/p>\n<p>Ketika insentif ekonomi yang tinggi bermain untuk mengubah lahan, para peneliti menemukan bahwa insentif yang disediakan REDD+ &#8212; meski berbekal  reputasi sebagai resep penyelesaian masalah \u2013 tetap tidak cukup.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>\u201cSaya pikir ada masalah, REDD+ yang terlalu heboh,\u201d kata Langston. \u201cBanyak uang dihabiskan untuk urusan birokratis, sementara tidak cukup uang yang mengalir ke masyarakat. Jadi sebagian masyarakat mengeluh. Biaya riil agar perusahaan besar menjauh dari hutan lebih dari dugaan awal, jadi seluruh inisiatif REDD+ di Indonesia perlu benar-benar diperiksa lagi.\u201d<\/p>\n<p>Lebih jauh, penelitian mengungkap bahwa sejumlah LSM yang bekerja sama dengan masyarakat lokal seringkali bekerja dengan asumsi yang lemah.<\/p>\n<p>\u201cSeringkali LSM mempengaruhi pemikiran masyarakat tanpa memberi bukti, dan meyakinkan masyarakat bahwa satu hal itu buruk tanpa ada bukti timbal baliknya,\u201d kata Langstong.<\/p>\n<p>Para peneliti menemukan bahwa masalah dengan beberapa organisasi ini adalah bahwa mereka berbicara mewakili sebagian masyarakat, meski sebenarnya pandangan mereka berbeda. Hal ini  mengarah pada hasil yang tidak memuaskan bagi masyarakat lokal.<\/p>\n<p>\u201cAgar lebih efektif, LSM jangan berbicara mewakili kelompok, namun mendesentrasilasi cara mereka bekerja dan berbicara dengan kelompok lokal yang mereka berdayakan, dan membangun koalisi konsensus lokal,\u201d kata Langston.<\/p>\n<p>Para peneliti juga menemukan, terdapat keyakinan umum bahwa masyarakat lokal mengamati kebijaksanaan adat mengenai hidup harmoni dengan alam, padahal kelompok tersebut saat ini ingin meningkatkan penghasilan dan memberikan kehidpan lebih baik untuk anak-anak mereka. Alam di prioritas kedua.<\/p>\n<p>\u201cAda organisasi konservasi, dikenal sebagai \u2018pencaplok hijau,\u2019 yang menguasai lahan untuk melindungi \u2013 dengan alasan yang baik,\u201d kata Langstong, \u201cNamun penelitian kami menunjukkan bahwa hal ini tidak bisa terjadi jika masyarakat di wilayah itu masih hidup dalam kemiskinan, atau tertutupi dari jalur pembangunan yang menarik.\u201d<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Singkatnya, lahan perlu dilindungi, namun masyarakat juga perlu dikelola agar konservasi berhasil.<\/p>\n<h4><strong>MENYEIMBANGKAN KEDUA SISI<\/strong><\/h4>\n<p>Terdapat pandangan bahwa kemiskinan dan deforestasi terkait dalam hubungan menang-kalah. Deforestasi menjadi harga yang harus dibayar untuk pembangunan. Namun, para peneliti menemukan jalan menyeimbangkan keduanya jika seluruh hal-hal yang baik ditempatkan secara sesuai.<\/p>\n<p>Mereka menunjuk sebuah wilayah di hulu Sungai Kapuas. Pemerintah dan masyarakat lokal mampu melawan kekuatan perkebunan besar dan menjaga lingkungan dengan menyusun rencana tata ruang secara demokratis, membuat perusahaan dan masyarakat ko-eksis.<\/p>\n<p>Langston menyatakan bahwa hal ini dapat lebih sering dicapai dengan kepemiminan yang baik di tingkat provinsi dan kabupaten, disertai pemetaan, pemantauan dan metode evaluasi yang lebih baik dalam mendukung kebijakan lahan yang jelas.<\/p>\n<p>\u201cLembaga tata kelola perlu memikirkan kebijakan jangka panjang, menyediakan jalan pembangunan yang memberi manfaat bagi masyarakat dan peradaban saat ini,\u201d katanya. \u201cKonservasi bisa tidak menghalangi pembangunan. Pembangunan lah yang perlu mengarahkan konservasi \u2013 bukan sebaliknya.\u201d<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Awalnya adalah kehadiran perusahaan kayu, kemudian datang perkebunan karet dan sawit. Selama tiga dekade terakhir, hutan di pulau Kalimantan rusak dalam kecepatan yang tak terduga. Estimasi antara 1973 hingga 2015, 18,7 juta hektare hutan tua Kalimantan digunduli, sementara hutan industri meluas 9,1 juta hektare. Hal tersebut terungkap dalam penelitian pada 2016 yang dilakukan Pusat Penelitian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":214,"featured_media":50575,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,161,151,184],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[2522,7107,2721,7106,2696,2616,2633,2520,2589,3680,2819,7108,3057],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[6193],"class_list":["post-50571","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-deforestation","category-redd-2","category-value-chains-finance","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-deforestasi","tag-bahasa-heart-of-borneo","tag-bahasa-indonesia","tag-bahasa-james-langston","tag-bahasa-kalimantan","tag-bahasa-kelapa-sawit","tag-bahasa-kemiskinan","tag-bahasa-konservasi","tag-bahasa-mata-pencaharian","tag-bahasa-perubahan-iklim","tag-bahasa-redd","tag-bahasa-sungai-kapuas","tag-bahasa-universitas-james-cook","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Kemajuan dan konservasi, sebuah pertarungan dikotomi - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50571\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Kemajuan dan konservasi, sebuah pertarungan dikotomi\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Awalnya adalah kehadiran perusahaan kayu, kemudian datang perkebunan karet dan sawit. Selama tiga dekade terakhir, hutan di pulau Kalimantan rusak dalam kecepatan yang tak terduga. Estimasi antara 1973 hingga 2015, 18,7 juta hektare hutan tua Kalimantan digunduli, sementara hutan industri meluas 9,1 juta hektare. Hal tersebut terungkap dalam penelitian pada 2016 yang dilakukan Pusat Penelitian [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50571\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-07-19T05:14:28+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-02-07T07:56:24+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/24921488143_e099fc7ef7.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"333\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Suzanna Dayne\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50571\\\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50571\\\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi\"},\"author\":{\"name\":\"Suzanna Dayne\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/58a733990351598cdbdb28584f5f3abd\"},\"headline\":\"Kemajuan dan konservasi, sebuah pertarungan dikotomi\",\"datePublished\":\"2017-07-19T05:14:28+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T07:56:24+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50571\\\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi\"},\"wordCount\":963,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50571\\\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/24921488143_e099fc7ef7.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Deforestation\",\"REDD+\",\"Value chains &amp; finance\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50571\\\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2017\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50571\\\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50571\\\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi\",\"name\":\"Kemajuan dan konservasi, sebuah pertarungan dikotomi - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50571\\\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50571\\\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/24921488143_e099fc7ef7.jpg\",\"datePublished\":\"2017-07-19T05:14:28+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T07:56:24+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50571\\\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50571\\\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50571\\\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/24921488143_e099fc7ef7.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/24921488143_e099fc7ef7.jpg\",\"width\":500,\"height\":333,\"caption\":\"Ketika agribisnis masuk, masyarakat lokal meninggalkan diversifikasi tanaman dan mengarah pada sistem mono-kultur \u2013 biasanya karet atau sawit.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50571\\\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Kemajuan dan konservasi, sebuah pertarungan dikotomi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50571\\\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50571\\\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/58a733990351598cdbdb28584f5f3abd\",\"name\":\"Suzanna Dayne\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c29181bddd0ffefe3699042513c74c7ab9ae0054fd6d5dfbfcd1fecf62127869?s=96&d=mm&r=g8f9b7cd57542c3c1abe44e5e11afc6e7\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c29181bddd0ffefe3699042513c74c7ab9ae0054fd6d5dfbfcd1fecf62127869?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c29181bddd0ffefe3699042513c74c7ab9ae0054fd6d5dfbfcd1fecf62127869?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Suzanna Dayne\"},\"description\":\"Suzanna Dayne is a communication consultant and writer\\\/producer. She currently works with UN agencies and non profits on issues linked to the SDGs, including the environment and climate change. She is a former writer\\\/producer for CNN International and international broadcaster for Voice of America radio.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/suzanna\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50571\\\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Kemajuan dan konservasi, sebuah pertarungan dikotomi - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50571\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Kemajuan dan konservasi, sebuah pertarungan dikotomi","og_description":"Awalnya adalah kehadiran perusahaan kayu, kemudian datang perkebunan karet dan sawit. Selama tiga dekade terakhir, hutan di pulau Kalimantan rusak dalam kecepatan yang tak terduga. Estimasi antara 1973 hingga 2015, 18,7 juta hektare hutan tua Kalimantan digunduli, sementara hutan industri meluas 9,1 juta hektare. Hal tersebut terungkap dalam penelitian pada 2016 yang dilakukan Pusat Penelitian [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50571\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2017-07-19T05:14:28+00:00","article_modified_time":"2018-02-07T07:56:24+00:00","og_image":[{"width":500,"height":333,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/24921488143_e099fc7ef7.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Suzanna Dayne","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50571\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50571\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi"},"author":{"name":"Suzanna Dayne","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/58a733990351598cdbdb28584f5f3abd"},"headline":"Kemajuan dan konservasi, sebuah pertarungan dikotomi","datePublished":"2017-07-19T05:14:28+00:00","dateModified":"2018-02-07T07:56:24+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50571\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi"},"wordCount":963,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50571\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/24921488143_e099fc7ef7.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Deforestation","REDD+","Value chains &amp; finance"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50571\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi#respond"]}],"copyrightYear":"2017","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50571\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50571\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi","name":"Kemajuan dan konservasi, sebuah pertarungan dikotomi - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50571\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50571\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/24921488143_e099fc7ef7.jpg","datePublished":"2017-07-19T05:14:28+00:00","dateModified":"2018-02-07T07:56:24+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50571\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50571\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50571\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/24921488143_e099fc7ef7.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/24921488143_e099fc7ef7.jpg","width":500,"height":333,"caption":"Ketika agribisnis masuk, masyarakat lokal meninggalkan diversifikasi tanaman dan mengarah pada sistem mono-kultur \u2013 biasanya karet atau sawit."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50571\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Kemajuan dan konservasi, sebuah pertarungan dikotomi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50571\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50571\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/58a733990351598cdbdb28584f5f3abd","name":"Suzanna Dayne","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c29181bddd0ffefe3699042513c74c7ab9ae0054fd6d5dfbfcd1fecf62127869?s=96&d=mm&r=g8f9b7cd57542c3c1abe44e5e11afc6e7","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c29181bddd0ffefe3699042513c74c7ab9ae0054fd6d5dfbfcd1fecf62127869?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c29181bddd0ffefe3699042513c74c7ab9ae0054fd6d5dfbfcd1fecf62127869?s=96&d=mm&r=g","caption":"Suzanna Dayne"},"description":"Suzanna Dayne is a communication consultant and writer\/producer. She currently works with UN agencies and non profits on issues linked to the SDGs, including the environment and climate change. She is a former writer\/producer for CNN International and international broadcaster for Voice of America radio.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/suzanna"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50571\/kemajuan-dan-konservasi-sebuah-pertarungan-dikotomi#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/24921488143_e099fc7ef7.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50571","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/214"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=50571"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50571\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/50575"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=50571"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=50571"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=50571"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=50571"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=50571"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=50571"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=50571"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=50571"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=50571"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=50571"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=50571"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=50571"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=50571"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}