{"id":50458,"date":"2017-07-10T14:23:19","date_gmt":"2017-07-10T07:23:19","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=50458"},"modified":"2018-02-07T14:56:28","modified_gmt":"2018-02-07T07:56:28","slug":"menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50458\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia","title":{"rendered":"Menguji pemantauan partisipatoris REDD+ di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>Tumbuh besar di sebuah desa di Jawa Tengah, Indonesia pada 1980-an, Dian Ekowati mengunjungi ke Posyandu setiap bulan.<\/p>\n<p>Pada pusat pelayanan kesehatan terpadu masyarakat itu, tinggi dan berat badannya dicatat untuk dilaporkan pada pemerintah oleh kader relawan kesehatan lokal. Salah seorang kadernya adalah ibunya sendiri. Bertahun-tahun menjadi relawan, ia hanya mendapat uang keringat \u2013 yang hanya cukup untuk membayar ongkos bus.<\/p>\n<p>Program Posyandu dimulai pada 1984 oleh mantan Presiden Indonesia Suharto untuk meningkatkan imunisasi dan nutrisi, serta mengatasi tingginya kematian anak. Program yang sangat berhasil. Pada 1990, terdapat 250.000 posyandu masyarakat di seluruh kepulauan, dan banyak yang masih beroperasi hingga hari ini.<\/p>\n<p>Bertahun-tahun kemudian, sebagai anggota tim peneliti <a href=\"\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR)<\/a>, Ekowati menyadari bahwa sistem Posyandu dapat menjadi contoh bagi REDD+. Skema dukungan PBB yang bertujuan memotivasi negara-negara tropis seperti Indonesia untuk mengurangi deforestasi dan degradasi hutan dalam memerangi perubahan iklim.<\/p>\n<p>Menjaga hutan dan kesehatan anak? Hubungannya mungkin tidak lantas jelas. Namun, sebelum mendapat kompensasi dari reduksi emisi, masyarakat perlu melakukan pengukuran, pelaporan dan verifikasi aktivita mereka, sebagai sebuah proses yang dikenal sebagai MRV.<\/p>\n\n<p>Mengingat sebagian besar inisiatif REDD+ berlangsung di wilayah terpencil, dan dana terbatas, sudah disarankan melibatkan masyarakat hutan dalam melakukan pemantauan ini. Langkah ini diduga akan lebih murah dibanding mengirim pakar dari luar, selain juga dapat meningkatkan transparansi, dan membuat masyarakat merasa lebih diberdayakan dan terlibat dalam REDD+.<\/p>\n<p>Namun, apakah ini mungkin? Apa tantangannya? Apa yang perlu diupayakan?<\/p>\n<p>Pertanyaan tersebut merupakan sebagian pertanyaan yang dijawab oleh rangkaian 12 makalah dalam <a href=\"http:\/\/collections.plos.org\/redd\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">bunga rampai khusus terbaru<\/a> dalam jurnal ilmiah <a href=\"http:\/\/blogs.plos.org\/collections\/redd\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">PLOS ONE<\/a>.<\/p>\n<p>Secara bersama-sama, para penulis menilai feasibilitas pemantauan partisipatoris (PMRV) untuk REDD+ dari perspektif luas, mulai dari ilmu sosial, pemerintahan hingga penginderaan jarak jauh.<\/p>\n<p>Dari sisi teknis, PMRV sangat mungkin dilakukan, kata Martin Herold, mitra CIFOR dari Universitas Wageningen, dan menjadi editor tamu <a href=\"http:\/\/blogs.plos.org\/collections\/redd\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">bunga rampai<\/a> tersebut.<\/p>\n<p>Ia menyatakan bahwa teknologi baru <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/20624\/new-technologies-key-to-community-monitoring-for-redd?fnl=en\">memungkinkan <\/a> masyarakat mengakses data satelit mengenai perubahan hutan pada telepon genggam mereka, memeriksa penyebab perubahan di lapangan, dan melaporkan informasi pada pihak berwenang.<\/p>\n<p>Kajian dalam bunga rampai tersebut menyatakan bahwa mengadopsi PMRV jelas dapat mendukung implementasi REDD+. Masyarakat, kata Herold dapat berkontribusi untuk memantau perubahan hutan maupun elemen lain seperti perlindungan dan bagi manfaat. \u201cKini tidak ada alasan untuk tidak melakukannya.\u201d<\/p>\n<p>Tinggal aspek sosial PMRV yang masih perlu dibenahi, kata Manuel Boissiere, ilmuwan CIFOR dan <a href=\"http:\/\/www.cirad.fr\/en\/home-page\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">CIRAD<\/a> yang menjadi koordinator penyusunan bunga rampai tersebut.<\/p>\n<p>Secara keseluruhan, penelitian mengungkap banyak pertimbangan penting yang perlu dipertimbangkan ketika membangun sistem PMRV.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>\u201cPenelitian seperti ini dapat membantu menyediakan informasi mengenai kondisi yang perlu ditangani dalam melakukan PMRV,\u201d kata Boissiere.<\/p>\n<p><strong>MOTIVASI SAYA<\/strong><\/p>\n<p>Salah satu pertanyaan kunci adalah bagaimana memotivasi individu untuk mau melakukan aktivitas ini.<\/p>\n<p>\u201cMengapa masyarakat harus berpartisipasi dalam MRV untuk REDD+?\u201d tanya Boissiere. \u201cApakah mereka punya waktu? Apakah mereka punya kapasitas, sumber daya, keinginan dan minta untuk melakukannya? Jika mereka berpartisipasi, akankah penghidupan harian terancam jika aktivitas mereka menyebabkan degradasi hutan?<\/p>\n<p>\u201cMotivasi adalah kunci. Anda tidak bisa berharap masyarakat berpartisipasi jika mereka tidak melihat dengan jelas kepentingannya.\u201d<\/p>\n<p>Pada titik inilah <a href=\"http:\/\/journals.plos.org\/plosone\/article?id=10.1371\/journal.pone.0159480\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penelitian Posyandu<\/a> berperan. Penelitian ini merupakan bagian <a href=\"http:\/\/www1.cifor.org\/pmrv\/home.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">proyek lebih besar<\/a> Boissi\u00e8re dan timnya di tiga provinsi di Indonesia \u2013 Kalimantan Barat, Jawa Tengah dan Papua.<\/p>\n<p>\u201cSatu hal yang menarik mengenai sistem pelaporan Posyandu adalah keberlangsungan dalam rentang akses yang sangat beragam,\u201d kata Boissiere. \u201cDi Jawa, masyarakat dapat mengirim data melalui SMS, dan di desa mereka memiliki jaringan 3G hingga dapat mengirim via surat elektronik.\u201d<\/p>\n<p>\u201cDi Papua, mereka harus menggunakan kano ke ibukota kabupaten untuk mengirim informasi. Sangat beragam \u2013 namun berhasil.\u201d<\/p>\n<p>Dian Ekowati dan Carola Hofstee <a href=\"http:\/\/journals.plos.org\/plosone\/article?id=10.1371\/journal.pone.0159480\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">berfoku<\/a>s pada apa yang memotivasi kader Posyandu menjadi relawan.<\/p>\n<p>\u201cMungkin tampak berbeda, berpartisipasi dalam pemantauan kesehatan dibanding pemantauan lingkungan, namun jika dilihat lebih dalam, terdapat banyak kesamaan,\u201d katanya. \u201cBahkan pada Posyandu, masyarakat tidak lantas ikut serta juga.\u201d<\/p>\n<p>Mereka <a href=\"http:\/\/journals.plos.org\/plosone\/article?id=10.1371\/journal.pone.0159480\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">menemukan<\/a> bahwa masyarakat sangat skeptis saat pertama Posyandu dikenalkan. Penduduk desa bergantung pada tabib tradisional, dan tidak percaya pentingnya pengukuran tinggi dan berat badan anak secara teratur.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Pemerintah melakukan kampanye promosi besar-besaran untuk meyakinkan masyarakat mengenai nilai penting posyandu dan menjadi kader. Ekowati ingat pernah disuruh menyanyikan lagu mengenai Posyandu di sekolahnya: <em>Aku Anak Sehat<\/em>.<\/p>\n<p>\u201cWaktu kecil, lagu ini diputar di seluruh radio,\u201d katanya. \u201cLagu ini sangat masif, bahkan ada versi parodinya.\u201d<\/p>\n<p>Para peneliti <a href=\"http:\/\/journals.plos.org\/plosone\/article?id=10.1371\/journal.pone.0159480\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">menemukan<\/a> bahwa para kader bekerja sukarela karena mereka merasa bertanggung jawab dan dapat berkontribusi pada masyarakat.  Sebagian memang memiliki minat mengurus anak, atau bergabung karena diminta oleh tokoh masyarakat.<\/p>\n<p>Di Jawa Tengah, masyarakat termotivasi oleh nilai-nilai relijius, dan di Kalimantan Barat, sebagian relawan berlatar kebanggaan desa \u2013 karena mereka akan malu jika desa tetangga memiliki Posyandu, dan mereka tidak.<\/p>\n<p>Ekowati yakin,  motivasi seperti itu juga bisa didorong dalam sistem PMRV REDD+.<\/p>\n<p>\u201cKita tidak lantas yakin bahwa PMRV REDD+ bisa berjalan di Indonesia \u2013 negara yang sangat beragam, tingkat literasi, akses komunikasi dan transportasi  yang berbeda-beda \u2013 namun Posyandu memberi kami harapan. Seperti sulitnya meminta masyarakat untuk menimbang anaknya di 1980-an, seperti sekarang meminta mereka mengukur pohon \u2013 ini bukan hal yang tidak mungkin.\u201d<\/p>\n<h4><strong>PENGHIDUPAN DAN LOKALITAS<\/strong><\/h4>\n<p>Dalam <a href=\"http:\/\/journals.plos.org\/plosone\/article?id=10.1371\/journal.pone.0145330\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">makalah<\/a> lain pada bunga rampai tersebut, ilmuwan CIFOR Indah Waty Bong dan koleganya menganalisis penyebab lokal deforestasi dan degradasi hutan, dan relasinya dengan penghidupan anggot masyarakat.<\/p>\n<p>Teknologi penginderaan jarak jauh dapat menunjukkan lokasi dan kecepatan deforestasi terjadi \u2013 namun masyarakat lokal dapat memberi informasi penting, mengapa hal itu terjadi.<\/p>\n\n<p>Meskipun di beberapa kasus, deforestasi mungkin didorong oleh aktivitas penghidupan sehari-hari \u2013 seperti menebang pohon, atau membersihkan lahan untuk perladangan berpindah.<\/p>\n<p>Hal ini, kata Bong, berarti proponen inisiatif REDD+ perlu menginvestigasi dan memahami hubungan tersebut, jika hendak meminta masyarakat lokal berpartisipasi dalam pemantauan.<\/p>\n<p>\u201cJika Anda ingin menangani penyebab tertentu deforestasi dan mayoritas keluarga di desa itu justru menggantungkan penghidupannya di sana, maka Anda menghadapi potensi kehilangan besar \u2013 dan mereka mungkin akan kurang ingin terlibat dalam pemantauan.<\/p>\n<p>Terdapat juga potensi konflik, ketika sekelompok masyarakat diminta memantau dan melaporkan aktivitas yang dilakukan oleh anggota masyarakat lain. \u201cDari perspektif proyek, hal ini menjadi isu etis yang perlu dipikirkan,\u201d kata Bong.<\/p>\n<p>Sebuah temuan kunci menunjukkan bahwa proses lokal perubahan tutupan hutan bersifat dinamis, dan bervariasi di antara dan di dalam masyarakat. Sebuah penyebab \u2013 seperti penebangan \u2013 mungkin berperan relatif besar dalam degradasi hutan, meski hanya menjadi proporsi kecil pemasukan bagi masyarakat.<\/p>\n<p>Hal ini, menurut Bong, berarti intervensi dan insentif dapat ditargetkan secara langsung pada masyarakat tersebut, untuk menjamin keadilan dan efisiensi lebih baik.<\/p>\n<h4><strong>SIAPAKAH \u2018MASYARAKAT\u2019 ITU?<\/strong><\/h4>\n<p>MRV partisipatoris, sebagiannya didorong oleh kebutuhan menjamin kepentingan masyarakat lokal terepresentasikan dalam REDD+. Dalam meminta masyarakat lokal berpartisipasi, kata Boissiere, dibutuhkan kejelasan mengenai siapa yang tengah kita bicarakan.<\/p>\n<p>Dalam <a href=\"http:\/\/journals.plos.org\/plosone\/article\/authors?id=10.1371\/journal.pone.0155636\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">makalah<\/a> lain dalam bunga rampai tersebut, ilmuwan CIFOR Stibniati Atmadja menginvestigasi bagaimana para peneliti menilai \u2018persepsi masyarakat\u2019 mengenai REDD+.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>\u201cKita tidak bisa di semua tempat bersamaan \u2013 kita harus mengambil sampel, dan melakukan generalisasi ke area lebih luas,\u201d katanya. \u201cJadi penelitian mengenai persepsi masyarakat berisi pilihan fundamental mengenai bagaimana merepresentasikan masyarakat heterogen.\u201d<\/p>\n<p>Selama peneliti menjelaskan pilihan tersebut dan alasannya, menurut Atmadja, hal ini tidak masalah.<\/p>\n<p>\u201cSebagian besar makalah akademik yang <a href=\"http:\/\/journals.plos.org\/plosone\/article\/authors?id=10.1371\/journal.pone.0155636\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">kami periksa<\/a> tidak benar-benar memberi pembaca informasi yang cukup untuk menjawab pertanyaan sederhana: <em>Siapa sampelnnya? Siapa yang direpresentasikan sampel tersebut?<\/em><\/p>\n<p>Penelitian ini tidak menganalisis laman (websites), berita dan materi advokasi \u2013 yang terdiseminasi lebih luas dibanding penelitian akademis \u2013 namun sumber-sumber tersebut, kata Atmadja, cenderung lebih tidak  menyediakan informasi mengenai metode samplingnya.<\/p>\n<p>\u201cMereka menyatakan, \u2018kami ke lapangan, kami menemui masyarakat lokal\u2019 \u2013 bagian mana? Bagian termudah yang dapat dijangkau? Masyarakat mana \u2013 mereka yang telah kecewa? Seberapa besar kita bisa melakukan generalasisasi berdasar pada persepsi masyarakat tersebut.<\/p>\n<p>Baik peneliti maupun non-peneliti, katanya, dapat dan seharusnya melakukan upaya lebih baik. Hal ini penting karena inisiatif REDD+ cenderung berlangsung di area terpencil, di hutan yang sulit dijangkau.<\/p>\n\n<p>\u201cPernyataan kecil yang disuarakan memberi bobot besar \u2013 jadi penting untuk berhati-hati,\u201d kata Atmadja.<\/p>\n<h4><strong>TAK ADA RESEP TUNGGAL<\/strong><\/h4>\n<p>Secara keseluruhan, <a href=\"http:\/\/journals.plos.org\/plosone\/article?id=10.1371\/journal.pone.0176897#sec002\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">bunga rampai ini<\/a> menunjukkan perlunya merangkul keberagaman dalam merancang sistem PMRV untuk REDD+.<\/p>\n<p>\u201cBahkan di satu negara, tidak ada resep tunggal dalam melibatkan masyarakat,\u201d kata Boissi\u00e8re. \u201cAktivitas masyarakat tidak sama, mereka juga secara serupa bergantung pada produk hutan, begitu pula terkait akses jalan atau infrastruktur. Kita benar-benar perlu mengembangkan sesuatu yang adaptif.<\/p>\n<p>Meski tampaknya PMRV berjalan di tingkat lokal, katanya, untuk berhasil, langkah selanjutnya adalah memikirkan bagaimana memperluas menjadi sebuah sistem yang berhasil di berbagai tingkat tata kelola.<\/p>\n<p>\u201cKita perlu memiliki konsistensi dalam hal data yang dikumpulkan masyarakat, dan mampu menggabungkannya dalam sebuah sistem nasional.\u201d<\/p>\n\n<p>Para praktisi juga perlu mengakui bahwa hal itu tidak lantas bisa berjalan di setiap tempat.<\/p>\n<p>\u201cSetiap proyek atau program pemerintah yang bermaksud meningkatkan partisipasi lokal dalam REDD+ atau MRV perlu melakukan penelitian awal untuk melihat alasan mengapa mereka perlu melibatkan masyarakat di tempat itu,\u201d kata Boissi\u00e8re.<\/p>\n<p>\u201cDari situ, mereka dapat memahami apakah cukup berharga untuk dilakukan, dan merancang sesuatu untuk terlibat dengan masyarakat \u2013 atau apakah malah lebih baik mengirim  tim ahli.\u201d<\/p>\n<p>Banyak kendala yang perlu diatasi \u2013 namun pengetahuan baru yang komprehensif  dari penelitian terinci ini meletakan dasar bagi penerapan MRV partisipatoris.<\/p>\n<p><em><strong>Penelitian ini didukung oleh USAID, AUSAID, Norwegian Agency for Development Cooperation (Norad), International Climate Initiative (IKI) &#8211; German Federal Ministry for the Environment, Nature Conservation, Building and Nuclear Safety (BMUB).<\/strong><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tumbuh besar di sebuah desa di Jawa Tengah, Indonesia pada 1980-an, Dian Ekowati mengunjungi ke Posyandu setiap bulan. Pada pusat pelayanan kesehatan terpadu masyarakat itu, tinggi dan berat badannya dicatat untuk dilaporkan pada pemerintah oleh kader relawan kesehatan lokal. Salah seorang kadernya adalah ibunya sendiri. Bertahun-tahun menjadi relawan, ia hanya mendapat uang keringat \u2013 yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":63,"featured_media":50460,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,182,6090,11,151],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[2522,2590,3127,2819,2538],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[545],"class_list":["post-50458","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-community-forestry","category-forests-news","category-mrv-2","category-redd-2","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-deforestasi","tag-bahasa-masyarakat-lokal","tag-bahasa-mrv","tag-bahasa-redd","tag-bahasa-target-pengurangan-emisi","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Menguji pemantauan partisipatoris REDD+ di Indonesia - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50458\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Menguji pemantauan partisipatoris REDD+ di Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Tumbuh besar di sebuah desa di Jawa Tengah, Indonesia pada 1980-an, Dian Ekowati mengunjungi ke Posyandu setiap bulan. Pada pusat pelayanan kesehatan terpadu masyarakat itu, tinggi dan berat badannya dicatat untuk dilaporkan pada pemerintah oleh kader relawan kesehatan lokal. Salah seorang kadernya adalah ibunya sendiri. Bertahun-tahun menjadi relawan, ia hanya mendapat uang keringat \u2013 yang [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50458\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-07-10T07:23:19+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-02-07T07:56:28+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/8207806874_060f4594a4.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"326\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Kate Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50458\\\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50458\\\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia\"},\"author\":{\"name\":\"Kate Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e\"},\"headline\":\"Menguji pemantauan partisipatoris REDD+ di Indonesia\",\"datePublished\":\"2017-07-10T07:23:19+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T07:56:28+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50458\\\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia\"},\"wordCount\":1496,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50458\\\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/8207806874_060f4594a4.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Community forestry\",\"Forests News\",\"MRV\",\"REDD+\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50458\\\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2017\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50458\\\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50458\\\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia\",\"name\":\"Menguji pemantauan partisipatoris REDD+ di Indonesia - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50458\\\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50458\\\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/8207806874_060f4594a4.jpg\",\"datePublished\":\"2017-07-10T07:23:19+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T07:56:28+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50458\\\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50458\\\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50458\\\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/8207806874_060f4594a4.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/8207806874_060f4594a4.jpg\",\"width\":500,\"height\":326,\"caption\":\"Fitur bentang alam, pemanfaatan lahan, dan tutupan lahan dapat diidentifikasi dengan memanfaatkan pemetaan partisipatoris melalui diskusi kelompok terfokus.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50458\\\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Menguji pemantauan partisipatoris REDD+ di Indonesia\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50458\\\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50458\\\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e\",\"name\":\"Kate Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g3f27c3c2db0b6432a0c0a78c2749a7a0\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Kate Evans\"},\"description\":\"Kate Evans is a freelance journalist originally from New Zealand. After studying journalism at the University of Sydney and international relations at the Australian National University, she worked as a multimedia journalist at the Australian Broadcasting Corporation for three years...and then ran off to West Africa armed with a video camera and a love of African dance. She is now a writer, filmmaker and photographer.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/kate-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50458\\\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Menguji pemantauan partisipatoris REDD+ di Indonesia - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50458\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Menguji pemantauan partisipatoris REDD+ di Indonesia","og_description":"Tumbuh besar di sebuah desa di Jawa Tengah, Indonesia pada 1980-an, Dian Ekowati mengunjungi ke Posyandu setiap bulan. Pada pusat pelayanan kesehatan terpadu masyarakat itu, tinggi dan berat badannya dicatat untuk dilaporkan pada pemerintah oleh kader relawan kesehatan lokal. Salah seorang kadernya adalah ibunya sendiri. Bertahun-tahun menjadi relawan, ia hanya mendapat uang keringat \u2013 yang [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50458\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2017-07-10T07:23:19+00:00","article_modified_time":"2018-02-07T07:56:28+00:00","og_image":[{"width":500,"height":326,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/8207806874_060f4594a4.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Kate Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50458\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50458\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia"},"author":{"name":"Kate Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e"},"headline":"Menguji pemantauan partisipatoris REDD+ di Indonesia","datePublished":"2017-07-10T07:23:19+00:00","dateModified":"2018-02-07T07:56:28+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50458\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia"},"wordCount":1496,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50458\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/8207806874_060f4594a4.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Community forestry","Forests News","MRV","REDD+"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50458\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia#respond"]}],"copyrightYear":"2017","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50458\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50458\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia","name":"Menguji pemantauan partisipatoris REDD+ di Indonesia - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50458\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50458\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/8207806874_060f4594a4.jpg","datePublished":"2017-07-10T07:23:19+00:00","dateModified":"2018-02-07T07:56:28+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50458\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50458\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50458\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/8207806874_060f4594a4.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/8207806874_060f4594a4.jpg","width":500,"height":326,"caption":"Fitur bentang alam, pemanfaatan lahan, dan tutupan lahan dapat diidentifikasi dengan memanfaatkan pemetaan partisipatoris melalui diskusi kelompok terfokus."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50458\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Menguji pemantauan partisipatoris REDD+ di Indonesia"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50458\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50458\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e","name":"Kate Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g3f27c3c2db0b6432a0c0a78c2749a7a0","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g","caption":"Kate Evans"},"description":"Kate Evans is a freelance journalist originally from New Zealand. After studying journalism at the University of Sydney and international relations at the Australian National University, she worked as a multimedia journalist at the Australian Broadcasting Corporation for three years...and then ran off to West Africa armed with a video camera and a love of African dance. She is now a writer, filmmaker and photographer.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/kate-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50458\/menguji-pemantauan-partisipatoris-redd-di-indonesia#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/8207806874_060f4594a4.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50458","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/63"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=50458"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50458\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/50460"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=50458"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=50458"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=50458"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=50458"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=50458"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=50458"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=50458"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=50458"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=50458"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=50458"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=50458"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=50458"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=50458"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}