{"id":50099,"date":"2017-06-09T10:00:49","date_gmt":"2017-06-09T03:00:49","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=50099"},"modified":"2017-06-05T15:40:48","modified_gmt":"2017-06-05T08:40:48","slug":"melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50099\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut","title":{"rendered":"Melawan dampak kesehatan akibat kebakaran gambut"},"content":{"rendered":"<p>Selama 360 juta tahun, wilayah lahan terendam air di planet bumi menutupi pembusukan vegetasi hitam dan padat yang dikenal sebagai gambut. Sebagian lahan gambut terbentuk dalam ribuan abad, dan menjadi timbunan karbon paling efisien di dunia.<\/p>\n<p>Namun, dalam kurang dari sejam, tanah yang sangat mudah terbakar ini bisa terbakar dan hancur, melepas asap gas karbon dan partikel beracun yang dapat menghancurkan bentang alam dan kesehatan masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut.<\/p>\n<p>Selain menghasilkan asap lebih dari kebakaran biasa, api pada temperatur lebih rendah pada lahan gambut juga sulit untuk dipadamkan \u2013 yang menurut Badan Perlindungan Lingkungan Hidup AS \u2013 juga masih kurang kita pahami dengan benar.<\/p>\n<p>Dalam upaya meningkatkan pemahaman umum, panel pembicara dari Perserikatan Bangsa Bangsa, sebuah laboratorium teknik Jakarta, dan organisasi penelitian dan bantuan global duduk bersama pada diskusi ilmiah <a href=\"http:\/\/www.landscapes.org\/peatlands\/agenda-item\/thursday-18-may-2017\/science-behind-peatlands\/peat-fires-health-impacts\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><em>Kebakaran gambut, asap dan kesetahan<\/em><\/a> pada acara tematik <a href=\"http:\/\/www.landscapes.org\/peatlands\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><i>Global Landscapes Forum: Peatlands Matter<\/i><\/a> di Jakarta, 18 Mei. Para panelis mendiskusikan berbagai upaya yang dilakukan dalam meredam efek berbahaya asap di 14 kabupaten rentan kebakaran di Indonesia.<\/p>\n\n\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_box related_promo_glf_peatland17'>\n\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_fullwidth'>\n\t\t\t\t\t\t<div class='bg_sevent_box'><img src='https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/04\/10-04-17-peatlands-blog-3.png'><\/div>\n\t\t\t\t\t\t<div class='sevent'>\n\t\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_left'>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\n\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_right'>\n\t\t\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_right_text'>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<div class='sevent_right_text_heading'>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<div>\r\n<a href=\"http:\/\/www.landscapes.org\/peatlands\/?utm_source=Forests+News&amp;utm_medium=Widget+single+button&amp;utm_campaign=CIFOR+event\" target=\"_blank\">\r\n<span class=\"sevent_sub_heading\">This topic was featured at the<\/span>\r\n<span class=\"sevent_main_heading\">Global Landscapes Forum:<br> Peatlands Matter<\/span>\r\n<span class=\"sevent_sub_desc\">18 May 2017, Jakarta<\/span>\r\n<span class=\"sevent_view_link\">See event details here <\/span>\r\n<\/a>\r\n<\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t<\/div><div class='clear clearfix'><\/div>\n\t\t\t\t\t\t<\/div><div class='clear clearfix'><\/div>\n\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t\t<div class='clear clearfix'><\/div>\n\t\t\t\t\t<style>\n\t\t\t\t\t.related_promo_glf_peatland17 .bg_sevent_box {\n\t\t\t\t\t\tposition: absolute;\n\t\t\t\t\t\ttop: 0;\n\t\t\t\t\t\theight: 230px;\n\t\t\t\t\t\tleft: -315px;\n\t\t\t\t\t\toverflow: hidden;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_glf_peatland17 .bg_sevent_box img{ height:100%; }\n\t\t\t\t\t.related_promo_glf_peatland17 .sevent {\n\t\t\t\t\t\twidth: 100%;\n\t\t\t\t\t\tmargin: 0 auto;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_glf_peatland17 .sevent_main_heading{\n\t\t\t\t\t\tfont-size: 24px;\n\t\t\t\t\t\tfont-weight: bold;\n\t\t\t\t\t\tfont-family: \"PT Serif\", serif;\n\t\t\t\t\t\tline-height: 30px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_glf_peatland17 a .sevent_main_heading{\n\t\t\t\t\t\tcolor:#444;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_glf_peatland17 .sevent_view_link{\n\t\t\t\t\t\tdisplay: block;\n\t\t\t\t\t\tmargin: 0px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_glf_peatland17 .sevent_aprs_logo{\n\t\t\t\t\t\tmargin-top: 16px;\n\t\t\t\t\t\tdisplay: block;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_glf_peatland17 .sevent_sub_heading{\n\t\t\t\t\t\tfont-size: 18px;\n\t\t\t\t\t\tdisplay: block;\n\t\t\t\t\t\tfont-family: roboto;\n\t\t\t\t\t\tfont-weight: normal;\n\t\t\t\t\t\tcolor: #a4a4a4;\n\t\t\t\t\t\tpadding-top:10px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_glf_peatland17 .sevent_sub_desc{\n\t\t\t\t\t\tfont-size: 15px;\n\t\t\t\t\t\tdisplay: block;\n\t\t\t\t\t\tfont-family: roboto;\n\t\t\t\t\t\tfont-weight: normal;\n\t\t\t\t\t\tcolor: #a4a4a4;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_glf_peatland17 .sevent_left{\n\t\t\t\t\t\tpadding-top: 35px;\n\t\t\t\t\t\tpadding-left: 35px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_glf_peatland17 .sevent_right{\n\t\t\t\t\t\twidth:80%;\n\t\t\t\t\t\tpadding:20px 25px;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_glf_peatland17 .sevent_fullwidth{\n\t\t\t\t\t\tbackground-color: #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\tborder-left: 600rem solid #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\tborder-right: 600rem solid #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\tpadding:0px 0px;\n\t\t\t\t\t\toverflow: hidden;\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t.related_promo_glf_peatland17 .bg_sevent_box {\r\n    height: 210px;\r\n    left: -260px\r\n}\n\t\t\t\t\t@media all and (max-width: 767px){\n\t\t\t\t\t\t.related_promo_glf_peatland17 .sevent_fullwidth{\n\t\t\t\t\t\t\tborder-left: 0rem solid #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\t\tborder-right: 0rem solid #eaeaea;\n\t\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t\t.related_promo_glf_peatland17 .sevent_right {\n\t\t\t\t\t\t\twidth: 100%;\n\t\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t\t.sevent_main_heading br{\n\t\t\t\t\t\t\tdisplay:none;\n\t\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t\t.related_promo_glf_peatland17 .sevent_aprs_logo img{\n\t\t\t\t\t\t\tmax-width:100%;\n\t\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t\t}\n\t\t\t\t<\/style>\n<p><strong>MENGHITUNG USIA<\/strong><\/p>\n<p>Pada awal musim panas, udara penuh dengan serbuk sari atau serbuk jamur di tempat berdebu, Indeks Kualitas Udara biasanya berada pada tingkat konsentrasi materi partikel 10 (PM10). Meski kondisi ini memicu alergi, namun udara belum sampai menyebabkan ancaman serius.<\/p>\n<p>Namun, pada PM2,5 \u2013 indeks kualitas udara pada kondisi berasap \u2013 artinya udara dipenuhi partikel, logam berat, dan materi beracun, mulai dari sianida hingga amonia dan formaldehida yang dapat memicu aborsi spontan, kelahiran dini, kematian anak di bawah lima tahun, asma, dan kelainan mental pada bayi.<\/p>\n<p>\u201cTerdapat dampak karsinogenik yang bersifat segera maupun panjang,\u201d kata Richard Wecker, spesialis reduksi risiko dan kedaruratan bencana UNICEF Indonesia. \u201cTerutama anak-anak terpapar asupan racun lebih tinggi karena metabolismenya lebih cepat, dan bahkan meski mereka merasa dampak asap, mereka tetap saja ingin ke luar dan bermain.\u201d<\/p>\n<p>Salah satu pekerjaan Wecker adalah mencari dan menemukan alat untuk membantu masyarakat paling berisiko terpapar asap dan efek berbahaya, khususnya anak-anak. Ini berarti, tidak sekadar meningkatkan akses, tetapi juga mendesain ulang peralatan yang ada. Masker pelindung partikel N95, misalnya, menjadi awal bantuan yang dapat didistribusikan, namun sering kali masker ini terlalu besar di wajah anak-anak.<\/p>\n<p>\u201cPuskesmas lokal tidak mampu menyediakannya karena anggaran, meski masker ini perlu disesuaikan ulang untuk anak-anak,\u201d kata Wecker.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Saat asap mencapai puncaknya, bahkan masker N95 tidak cukup. Solusinya adalah mengisolasi kamar dari luar dan disertai sistem penyaringan udara yang layak. Namun kondisi ini jauh dari terwujud di sebagian besar sekolah dan rumah di Indonesia.<\/p>\n<p>Pemerintah seharusnya juga menyusun prosedur operasi standar ketika kondisi udara menjadi berbahaya. \u201cDimulai dengan memasang sensor berbiaya murah, agar masyarakat dapat menjejak dan memonitor udara ketika mendekati ambang. Jadwal sekolah juga perlu diubah dan dikomunikasikan,\u201d kata Wecker.<\/p>\n<p>Yang juga hilang dari resep bantuan umum adalah data yang lebih baik mengenai kelompok berisiko, agar dapat lebih memahami skala dampak kesehatan dari asap gambut. \u201cData dari kebakaran lahan gambut berbeda dari data kebakaran hutan biasa. Kita perlu melihat apa yang terjadi pada masyarakat di kelompok usia muda, bukan hanya pada usia 25 ke atas.<\/p>\n<p>Wecker mengusulkan beberapa cara agar ini bisa tercapai: mengaitkan data satelit dengan penelitian jangka panjang polusi udara dan kesehatan manusia, serta melalui metode mengkaitkan statistik epidemiologi puskesmas dan rumah sakit dengan data polusi udara.<\/p>\n<p>Memperluas tujuan dari upayanya, Wecker menekankan bahwa penyelamatan manusia diawali dengan melihat lebih komprehensif penyebab dan dampak perubahan bentang alam alami lahan gambut.<\/p>\n<p>\u201cSelain melihat mortalitas dan morbiditas, kita juga perlu melihat implikasi keputusan pemanfaatan lahan terhadap kesehatan. Keputusan untuk membersihkan petak tertentu lahan gambut \u2013 dan apa artinya bagi beban kehidupan manusia dan sistem kesehatan? Apa beban jangka panjang pembersihan lahan pada populasi manusia?\u201d<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p><strong>AKAR MASALAH<\/strong><\/p>\n<p>Jalan paling berkelanjutan mengurangi dampak merugikan kondisi asap adalah mengurangi waktu respon dan frekuensi kebakaran gambut secara berbarengan.<\/p>\n<p>Derval Usher, Kepala <a href=\"http:\/\/www.unglobalpulse.org\/jakarta\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pulse Lab Jakarta<\/a> \u2013 sebuah ruang inovasi yang didirikan pada 2012 oleh PBB dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia \u2013 diminta melakukan hal ini dengan menghubungkan mata dan telinga masyarakat lahan gambut dengan pemerintah. Bagaimanapun, siapakah yang lebih baik dalam memantau kondisi lahan gambut dibanding masyarakat yang tinggal di ekosistem tersebut?<\/p>\n<p>Pulse Lab mengembangkan <a href=\"http:\/\/www.unglobalpulse.org\/blog\/haze-gazer-crisis-analysis-tool\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pemantau  Asap<\/a>, layar petunjuk analitis yang merujuk beragam basis data digital dalam memantau kondisi lahan gambut Indonesia sesuai waktu dan menyampaikan informasi ini langsung ke kantor kepresidenan Indonesia, selain juga pada publik.<\/p>\n<p>\u201cTujuan kami adalah menangkap apa yang terjadi di lapangan, jadi pemerintah dapat membuat intervensi cepat,\u201d kata Usher. \u201cDi Indonesia, upaya ini berhasil, karena popularitas media sosial. <em>Twitter<\/em>, citra satelit, jurnalisme warga, <em>YouTube, Instagram<\/em> \u2013 semuanya masuk dalam satu layar petunjuk dan langsung pada orang yang dapat memanfaatkannya untuk pengambilan keputusan dan kebijakan.<\/p>\n<p><strong>KECEPATAN REAKSI<\/strong><\/p>\n<p>Bagaimanapun, manfaat terbesar alat seperti Pemantau Asap ini akan lebih terasa pada tujuan mitigasi jangka panjang. Kebakaran lahan gambut menyebar dengan cepat. Jadi tergantung pada pemadam kebakaran masyarakat lokal untuk bertindak cepat mengisolasi dan memadamkan api.<\/p>\n<p>\u201cLahan gambut terbakar pada tingkat kelembaban 55 persen, sangat tinggi. Sangat sulit dan mahal untuk diatasi ketika api masuk ke bawah permukaan,\u201d kata Nico Oosthuizen, Direktur Divisi Kebakaran Internasional, sebuah organisasi tata kelola kebakaran terintegrasi yang bekerja di lima benua. \u201cAnda benar-benar perlu mendeteksi dan merespon dalam 15 menit. Setelah 45 menit Anda dalam masalah. Pohon mulai bertumbangan dalam satu jam.\u201d<\/p>\n<p>\u201cKebakaran itu ilmiah, sama di semua tempat,\u201d katanya. \u201cJika terjadi di lahan gambut dan Anda gagal merespon dengan benar, arahnya adalah bencana.\u201d<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p>Dalam menangani kebakaran, katanya, terdapat empat tahap: reduksi, kesiapan, respon, dan pemulihan. Jika paradigma dapat digeser pada fokus reduksi dan kesiapan, idealnya, dua fase terakhir jarang terjadi.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Untuk mempercepat pergeseran ini, Johan Kieft, Penasihat Teknis Regional Senior UN Environment, terlibat dalam pengembangan <a href=\"http:\/\/kebakaranhutan.or.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Sistem Peringatan Dini Risiko Kebakaran<\/a> yang memungkinkan pemadam kebakaran lebih mampu memprediksi dan mencegah kebakaran lahan gambut sebelum terjadi.<\/p>\n<p>\u201cKaitan antara El Nino dan kebakaran Kalimantan sudah diketahui,\u201d katanya. \u201cSekarang, soal bagaimana memanfaatkan sistem peringatan dini untuk mitigasi risio kesehatan di wilayah rentan kebakaran. Kita perlu mengajak sektor kesehatan dalam upaya merespon kebakaran.\u201d<\/p>\n<p>Jenis kolaborasi lintas sektor ini jelas dibutuhkan bukan hanya dalam praktik, tetapi juga dalam pendanaan. \u201cPemanfaatan sistem risiko kebakaran dalam merencanakan dan merancang instrumen fiskal yang lebih baik untuk pemerintah lokal dapat menggeser pendanaan dari pemadaman menjadi pencegahan kebakaran, dan ini lebih murah,\u201d kata Sonny Mumbunan, peneliti dan ekonom World Resources Institute (WRI) Indonesia. \u201cTindakan preventif dan pendidikan dapat menghemat biaya ruang darurat dan asuransi.\u201d<\/p>\n<p>Untuk memutar upaya ini secara penuh, berinvestasi pada petugas pemadam dan tindakan preventif dapat juga meningkatkan manfaat bagi perempuan dan generasi muda. Di Afrika Selatan, yang menjadi fokus kerja Oosthuizen selama ini, pemadaman kebakaran mempekerjakan perempuan dan pemuda.<\/p>\n<p>\u201cIni cara terbaik membangun pengaruh di masyarakat,\u201d katanya \u2013 tidak hanya memberdayakan secara fiskal dan kemampuan, tetapi juga membantu memitigasi dampak kesehatan jangka panjang masyarakat dan juga generasi masa depan.\u201d<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selama 360 juta tahun, wilayah lahan terendam air di planet bumi menutupi pembusukan vegetasi hitam dan padat yang dikenal sebagai gambut. Sebagian lahan gambut terbentuk dalam ribuan abad, dan menjadi timbunan karbon paling efisien di dunia. Namun, dalam kurang dari sejam, tanah yang sangat mudah terbakar ini bisa terbakar dan hancur, melepas asap gas karbon [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":259,"featured_media":50100,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[2522,4462,7045,2548,5853,2680,2622,2590,7044,7047,7049,7048,2538,7050,7046],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[6545],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[7023],"class_list":["post-50099","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-deforestasi","tag-bahasa-johan-kieft","tag-bahasa-karsinogenik","tag-bahasa-kebakaran-hutan","tag-bahasa-kesehatan-masyarakat","tag-bahasa-lahan-basah","tag-bahasa-lahan-gambut","tag-bahasa-masyarakat-lokal","tag-bahasa-monitor-udara","tag-bahasa-nico-oosthuizen","tag-bahasa-pulse-lab-jakarta","tag-bahasa-richard-wecker","tag-bahasa-target-pengurangan-emisi","tag-bahasa-un-environment","tag-bahasa-unicef-indonesia","type-bahasa-liputan-acara"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Melawan dampak kesehatan akibat kebakaran gambut - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50099\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Melawan dampak kesehatan akibat kebakaran gambut\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Selama 360 juta tahun, wilayah lahan terendam air di planet bumi menutupi pembusukan vegetasi hitam dan padat yang dikenal sebagai gambut. Sebagian lahan gambut terbentuk dalam ribuan abad, dan menjadi timbunan karbon paling efisien di dunia. Namun, dalam kurang dari sejam, tanah yang sangat mudah terbakar ini bisa terbakar dan hancur, melepas asap gas karbon [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50099\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-06-09T03:00:49+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/22164834839_d091b083b5.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"332\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Forests News staff\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50099\\\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50099\\\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut\"},\"author\":{\"name\":\"Gabrielle Lipton\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/765401318cb29a487ccdb9c913f91481\"},\"headline\":\"Melawan dampak kesehatan akibat kebakaran gambut\",\"datePublished\":\"2017-06-09T03:00:49+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50099\\\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut\"},\"wordCount\":1113,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50099\\\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/06\\\/22164834839_d091b083b5.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50099\\\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50099\\\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50099\\\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut\",\"name\":\"Melawan dampak kesehatan akibat kebakaran gambut - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50099\\\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50099\\\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/06\\\/22164834839_d091b083b5.jpg\",\"datePublished\":\"2017-06-09T03:00:49+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50099\\\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50099\\\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50099\\\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/06\\\/22164834839_d091b083b5.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/06\\\/22164834839_d091b083b5.jpg\",\"width\":500,\"height\":332,\"caption\":\"Anak-anak memakai masker karena asap beracun dari kebakaran lahan gambut. di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50099\\\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Melawan dampak kesehatan akibat kebakaran gambut\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50099\\\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50099\\\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/765401318cb29a487ccdb9c913f91481\",\"name\":\"Gabrielle Lipton\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/46dbcff6d2395ce72464543eb11c846060fe4786524237e1a4d13c97db814bcb?s=96&d=mm&r=g97ba9d991e9e2538aba894dd8855aba2\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/46dbcff6d2395ce72464543eb11c846060fe4786524237e1a4d13c97db814bcb?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/46dbcff6d2395ce72464543eb11c846060fe4786524237e1a4d13c97db814bcb?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Gabrielle Lipton\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/gabrielle-lipton\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/50099\\\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Melawan dampak kesehatan akibat kebakaran gambut - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50099\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Melawan dampak kesehatan akibat kebakaran gambut","og_description":"Selama 360 juta tahun, wilayah lahan terendam air di planet bumi menutupi pembusukan vegetasi hitam dan padat yang dikenal sebagai gambut. Sebagian lahan gambut terbentuk dalam ribuan abad, dan menjadi timbunan karbon paling efisien di dunia. Namun, dalam kurang dari sejam, tanah yang sangat mudah terbakar ini bisa terbakar dan hancur, melepas asap gas karbon [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50099\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2017-06-09T03:00:49+00:00","og_image":[{"width":500,"height":332,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/22164834839_d091b083b5.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Forests News staff","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50099\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50099\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut"},"author":{"name":"Gabrielle Lipton","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/765401318cb29a487ccdb9c913f91481"},"headline":"Melawan dampak kesehatan akibat kebakaran gambut","datePublished":"2017-06-09T03:00:49+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50099\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut"},"wordCount":1113,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50099\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/22164834839_d091b083b5.jpg","articleSection":["Forests News"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50099\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50099\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50099\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut","name":"Melawan dampak kesehatan akibat kebakaran gambut - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50099\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50099\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/22164834839_d091b083b5.jpg","datePublished":"2017-06-09T03:00:49+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50099\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50099\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50099\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/22164834839_d091b083b5.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/22164834839_d091b083b5.jpg","width":500,"height":332,"caption":"Anak-anak memakai masker karena asap beracun dari kebakaran lahan gambut. di Palangka Raya, Kalimantan Tengah."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50099\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Melawan dampak kesehatan akibat kebakaran gambut"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50099\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50099\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/765401318cb29a487ccdb9c913f91481","name":"Gabrielle Lipton","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/46dbcff6d2395ce72464543eb11c846060fe4786524237e1a4d13c97db814bcb?s=96&d=mm&r=g97ba9d991e9e2538aba894dd8855aba2","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/46dbcff6d2395ce72464543eb11c846060fe4786524237e1a4d13c97db814bcb?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/46dbcff6d2395ce72464543eb11c846060fe4786524237e1a4d13c97db814bcb?s=96&d=mm&r=g","caption":"Gabrielle Lipton"},"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/gabrielle-lipton"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/50099\/melawan-dampak-kesehatan-akibat-kebakaran-gambut#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/22164834839_d091b083b5.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50099","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/259"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=50099"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50099\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/50100"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=50099"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=50099"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=50099"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=50099"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=50099"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=50099"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=50099"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=50099"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=50099"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=50099"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=50099"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=50099"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=50099"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}