{"id":49154,"date":"2017-03-30T13:26:16","date_gmt":"2017-03-30T06:26:16","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=49154"},"modified":"2017-03-30T13:46:24","modified_gmt":"2017-03-30T06:46:24","slug":"mengkaitkan-pohon-dan-air","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/49154\/mengkaitkan-pohon-dan-air","title":{"rendered":"Mengkaitkan pohon dan air"},"content":{"rendered":"<p style=\"background: white; margin: 11.25pt 0cm 15.0pt 0cm;\"><em><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: 'PT Serif'; color: #333333;\">Menandai <\/span><\/em><span lang=\"EN-US\"><a href=\"http:\/\/www.worldwaterday.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><i><span style=\"font-family: 'PT Serif'; color: #24a2b8; text-decoration: none; text-underline: none;\">Hari Air Dunia<\/span><\/i><\/a><\/span><span class=\"apple-converted-space\"><i><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: 'PT Serif'; color: #333333;\"> <\/span><\/i><\/span><em><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: 'PT Serif'; color: #333333;\">22 Maret, kami menyoroti kaitan esensial antara hutan dan air. Lebih dalam mengenai topik, ikuti simposium virtual langsung <\/span><\/em><span lang=\"EN-US\"><a href=\"\/\/www.cifor.org\/cool-insights-for-a-hot-world-virtual-symposium\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><i><span style=\"font-family: 'PT Serif'; color: #24a2b8; text-decoration: none; text-underline: none;\">\u2018Wacana sejuk untuk dunia yang panas\u2019<\/span><\/i><\/a><\/span><em><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: 'PT Serif'; color: #333333;\">, pada 21-22 Maret 2017 bagian dari Program Penelitian CGIAR mengenai <\/span><\/em><span class=\"apple-converted-space\"><i><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: 'PT Serif'; color: #333333;\"> <\/span><\/i><\/span><span lang=\"EN-US\"><a href=\"http:\/\/foreststreesagroforestry.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><i><span style=\"font-family: 'PT Serif'; color: #24a2b8; text-decoration: none; text-underline: none;\">Hutan, Pohon dan Agroforestri (Forests, Trees and Agroforestry<\/span><\/i><\/a><\/span><span class=\"apple-converted-space\"><i><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: 'PT Serif'; color: #333333;\">\/<\/span><\/i><\/span><em><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: 'PT Serif'; color: #333333;\">FTA).<\/span><\/em><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/pii\/S0959378017300134\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Penelitian<\/a> terbaru mengungkap beragam cara hutan menciptakan hujan dan mendinginkan iklim lokal, sekaligus mendesak untuk melihat lebih dekat kapabilitas hutan, lebih dari sekadar mitigasi perubahan iklim.<\/p>\n<p>Dalam sebuah <a href=\"http:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/pii\/S0959378017300134\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">makalah<\/a> terbarunya, 22 peneliti dari berbagai institusi, <a href=\"http:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/pii\/S0959378017300134\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">menyerukan<\/a> pergeseran paradigma masyarakat internasional dalam memandang hutan dan pohon, dari model karbon-sentris menuju pengakuan pentingnya siklus air lintas-benua, selain siklus di tingkal lokal.<\/p>\n<p>\u201cMasyarakat terbiasa mendengar gagasan bahwa hutan sangat penting, namun kini kita memiliki wawasan lebih dalam mengapa hilangnya tutupan hutan berdampak besar pada ketersediaan air \u2013 khususnya masyarakat di hilir angin,\u201d kata salah seorang penulis, Douglas Sheil dari Universitas Ilmu Hayati Norwegia.<\/p>\n<p>\u201cKaitannya lebih kuat dari apa yang terpikir sebelumnya. Jika pengambil kebijakan dan perencana pemanfaatan lahan tidak menyadarinya, akan terjadi kesalahan besar pengambilan keputusan.\u201d<\/p>\n<p>Jadi apa yang sekarang kita tahu mengenai hutan dan air?<\/p>\n\n<p><strong>Hutan membantu terbentuknya hujan<\/strong><\/p>\n<p>Setiap hari, hutan mengisi suplai uap air di atmosfer. Hutan mengangkat air dari akar, dan melepasnya dari daun melalui transpirasi. Bersama dengan evaporasi dari lautan dan badan air lain, proses ini memutar siklus air dan mengisi atmosfer dengan uap air.<\/p>\n<p>\u201cProses ini begitu kuat hingga dapat dilihat dari luar angkasa,\u201d kata salah seorang penulis, David Gaveau dari <a href=\"\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR)<\/a>. \u201cJika Anda lihat citra satelit (di atas) Amazon, Afrika tengah, atau Asia Tenggara, kita bisa melihat kilau uap air menggelembung naik.\u201d<\/p>\n<p>\u201cKita selalu menggunakan istilah \u2018paru-paru bumi\u2019, tetapi di sini kita benar-benar bisa melihat ritme alami hutan menghembuskan uap air ke atmosfer.\u201d<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/www.nature.com\/nature\/journal\/v496\/n7445\/abs\/nature11983.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Penelitian<\/a> terbaru menunjukkan, 70 persen kelembaban atmosfer dari wilayah permukaan lahan dihasilkan dari tanaman (dibedakan dengan evaporasi dari danau atau sungai), jauh lebih banyak dari dugaan sebelumnya.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/onlinelibrary.wiley.com\/wol1\/doi\/10.1111\/gcb.12447\/full\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Penelitian<\/a> baru mengungkap bahwa hutan juga berperan penting ketika uap air <a href=\"http:\/\/www.nature.com\/articles\/ncomms14065\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">membentuk awan<\/a> dan kemudian jatuh sebagai hujan.<\/p>\n<p>Pohon mengeluarkan aerosol yang mengandung partikel biologis kecil \u2013 spora jamur, serbuk sari, mikroorganisme dan debu biologis lain \u2013 yang tersapu ke dalam atmosfer. Hujan hanya dapat turun ketika air atmosfer terkondensasi menjadi butiran, dan partikel kecil ini mempermudahnya dengan memberi permukaan agar air terkondensasi.<\/p>\n<p>Sebagian mikroorganisme berbasis tanaman ini bahkan membantu molekul air membeku pada temperatur lebih tinggi \u2013 langkah krusial dalam formasi awan di zona hangat.<\/p>\n<p>\u201cSejak awal, partikel tersebut sangat penting untuk turunnya hujan,\u201d kata ketua peneliti, David Ellison dari Ellison Consulting dan Universitas Ilmu Pertanian Swedia. \u201cJika mereka tidak ada, hujan bisa tidak terjadi, atau frekuensinya sedikit.\u201d<\/p>\n\n<p><strong>Pohon dapat meningkatkan ketersediaan air<\/strong><\/p>\n<p>Penelitian lain juga menjadi <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/40702\/finding-water-amid-the-trees?fnl=en\">\u201cpengubah keadaan\u201d<\/a>, membongkar asumsi ortodok di kepala kita, bahwa pohon mencuri air dari tangkapan, dan bahwa menanam pohon mengurangi ketersediaan air bagi masyarakat lokal.<\/p>\n<p>\u201cDi lingkungan minim-air, masyarakat menggali sumur lebih dalam lagi karena air permukaan menghilang. Ini dipercaya sebagai timbal-balik antara menanam pohon dengan kebutuhan air,\u201d kata Sheil. \u201cBanyak donor menghindari menanam pohon di wilayah arid dunia, karena mereka memandang ini sebagai konflik.\u201d<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Namun, <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/40702\/finding-water-amid-the-trees?fnl=en\">penelitian<\/a>  Ulrik Ilstedt dari Universitas Ilmu Pertanian Swedia, dan salah seorang penulis penelitian <a href=\"http:\/\/www.nature.com\/articles\/srep21930\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">menunjukkan<\/a> bahwa di bentang alam kering, pohon (dengan kepadatan tertentu) dapat meningkatkan ketersediaan air, dengan membantu mengisi kembali air permukaan.<\/p>\n<p>\u201cUlrik <a href=\"http:\/\/www.nature.com\/articles\/srep21930\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">menunjukkan<\/a>,  jika kita mulai menanam pohon di lahan kering Afrika, kita memperoleh kenaikan awal jumlah air di bentang alam, karena pohon menggunakan lebih sedikit air dibanding suntikan jumlah air yang diinfiltrasikan pohon ke dalam tanah,\u201d kata Sheil.<\/p>\n<p>Akar pohon \u2013 dan binatang yang mereka tarik seperti semut, rayap dan cading \u2013 membantu membuat lubang di tanah agar air mengalir.\u201d<\/p>\n<p>\u201cSangat menarik,\u201d kata Sheil. \u201cDi keluasan Afrika, kini masyarakat dapat mulai menanam pohon. Jika kita hanya tertarik pada karbon, memang banyak manfaat karbon,\u201d katanya. \u201cDi sini semuanya menang,\u201d<\/p>\n<p><strong>Hutan pendingin lokal dan global<\/strong><\/p>\n<p>Di wilayah tropis dan hangat, hutan mendinginkan permukaan bumi. Hutan tidak saja menjadi peneduh \u2013 air transpirasi juga mendinginkan udara sekitar.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>\u201cSatu pohon setara dengan dua pendingin udara, dan dapat menurunkan suhu hingga 2 derajat,\u201d kata salah seorang penulis, Daniel Murdiyarso, dari CIFOR.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, menurut para penulis, menjaga tutupan hutan dapat mengurangi tinggiya suhu dan menyangga kemunculan ekstremitas terkait perubahan iklim.<\/p>\n<p>Efeknya bahkan dapat dilihat di lingkungan kota, kata Gaveau. \u201cKita semua merasakannya \u2013 jika di hari yang panas kita pergi ke taman, dan berada ke bawah pohon, kita langsung merasa efek dingin.\u201d<\/p>\n<p><strong>Hutan bisa menarik kelembaban ke jantung benua<\/strong><\/p>\n<p>Para penulis juga menyoroti sebuah<a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/13658\/forests-as-rainmakers-cifor-scientist-gains-support-for-a-controversial-hypothesis?fnl=en\"> teori<\/a> baru yang mengusulkan bahwa hutan menciptakan angin, menarik hujan ke jantung benua \u2013 dan tanpa jalur tutupan hutan dari pesisir ke dalam benua, hujan akan secara drastis berkurang.<\/p>\n<p>Teori <a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/2770\/how-forests-attract-rain-an-examination-of-a-new-hypothesis\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">\u2018pompa biotik\u2019<\/a> yang didasari mekanisme fisika tidak ditampilkan dalam model iklim saat ini, dan masih belum terbukti, namun ilmuwan <a href=\"\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">CIFOR<\/a> percaya teori ini <a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/2770\/how-forests-attract-rain-an-examination-of-a-new-hypothesis\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">kredibel<\/a>.<\/p>\n<p>Model ini menyatakan bahwa hutan menciptakan tekanan atmosfer rendah, menyedot udara lembab dari lautan ke daratan, menciptakan putaran balik positif.<\/p>\n<p>\u201cSalah satu nilai teori ini adalah membuat kita dapat menjelaskan bagaimana terjadi curah hujan tinggi di dalam benua \u2013 Basin Amazon di Amerika Selatan dan Basin Kongo di Afrika \u2013 ketika sumber asli air, lautan, jauh dari tempat hujan turun,\u201d kata Sheil.<\/p>\n<p>Penulis lain, Dominic Spracklen, <a href=\"http:\/\/www.nature.com\/nature\/journal\/v489\/n7415\/full\/nature11390.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">sebelumnya menunjukkan<\/a> bahwa di wilayah tropis, udara yang melewati vegetasi ekstensif dalam beberapa hari sebelumnya, menghasilkan hujan sedikitnya dua kali lebih banyak dibanding udara yang melewati sedikit vegetasi Hal ini menunjukkan efek langsung deforestasi terhadap pola hujan.<\/p>\n<p>[youtube id=&#8221;2_R4Sp_-Kfg&#8221;]<\/p>\n<p><strong>Hutan mempengaruhi ketersediaan air di hilir angin \u2013 bukan sekadar hilir sungai<\/strong><\/p>\n<p>Kelembaban atmosfer yang dihasilkan hutan tidak hanya  menjadi tangkapan lokal. Faktanya, sebagian besarnya ditiup angin ke wilayah, negara, atau bahkan benua lain.<\/p>\n<p>\u201cMakin kita menggunduli hutan dan tutupan vegetasi dari permukaan bumi, makin besar kerusakan ransportasi air lintas-benua,\u201d says Ellison.<\/p>\n<p>Konsekuensi geo-politik tersebut belum cukup dipahami.<\/p>\n<p>\u201cKita ingin masyarakat mulai berpikir dinamika \u2018hulu angin dan hilir angin\u2019. Dari mana air-mu datang, dan bagaimana basin tangkapan di wilayah kita berkontribusi pada hujan di hilir angin?\u2019<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>\u201cJika Anda seorang perencana pemanfaatan lahan atau perencana tata kelola air, apa yang terjadi jika Anda menggunduli hutan? Bagaimana dampaknya pada masyarakat di hilir angin? Jika anda tinggal di daerah tangkapan air yang mengalami penurunan suplai air, bagaimana kita bisa mempengaruhi hal tersebut melalui intervensi hulu angin?\u201d<\/p>\n<p>Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan kolaborasi ekstensif antar negarai, kerangka kelembagaan baru yang belum ada saat ini, dan cara berpikir baru mengenai tangkapan air.<\/p>\n<p>Misalnya, kemitraan internasional <a href=\"http:\/\/www.nilebasin.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Inisiatif Basin Sungai Nil<\/a> saat ini hanya melibatkan negara yang menjadi bagian basin tangkapan dan pengguna air Nil, kata Ellison. Tetapi negara-negara Afrika tengah di mana hujan turun tidak dilibatkan.<\/p>\n<p>\u201cJadi pertanyaannya, siapa yang seharusnya terlibat dalam tata kelola basin tangkapan air, jika sumber kelembaban satu negara datang dari tempat lain? Bagaimana mereka dilibatkan? Dapatkah Anda membuat mereka mengakui bahwa apa yang terjadi di negara mereka bisa sangat terkait dengan apa yang terjadi di negara Anda?\u2019<\/p>\n<p>\u201cKita dengan mudah memahami bagaimana hal ini menjadi dilema,\u201d katanya.<\/p>\n<p><strong>Seruan beraksi<\/strong><\/p>\n<p>Kaitan antara hutan dan iklim bersifat intuitif, dan mudah dipahami oleh semua orang, kata Gaveau. \u201cKetika kita lihat kabut pagi muncul dari hutan, kita menjadi saksi bahwa hutan mentranspirasi uap air. Jika kita duduk di bawah pohon di kota yang panas, kita merasa lebih sejuk.\u201d<\/p>\n<p>\u201cPada saat ini, hubungan antara hutan dan air terabaikan hanya sebagai manfaat sampingan cerita karbon, meski seharusnya berada di depan dan di tengah. Karbon bisa tampak abstrak bagi banyak orang, namun segelas air minum lah bentuk nyatanya.\u201d<\/p>\n<p>Menggunungnya bukti ilmiah yang menunjukkan kuatnya hubungan ini, mendorong sejumlah penulis penelitian mengeluarkan \u201cseruan beraksi\u201d.<\/p>\n<p>Kita perlu cara baru melihat hutan dengan memprioritaskan air, kata mereka \u2013 bahkan di dalam kerangka kerja perubahan iklim global.<\/p>\n<p>Melindungi hutan untuk menjaga akses air akan sekaligus meningkatkan simpanan karbon, mitigasi perubahan iklim, dan manfaat langsung lainnya,\u201d kata Murdiyarso.<\/p>\n<p>\u201cJika kita berbicara mengenai karbon, kita akan melihat hasilnya 15, 50, atau 100 tahun. Namun kita menyaksikan siklus proses air ini setiap hari.\u201d<\/p>\n<p>\u201cHarapannya, pendekatan ini dapat mengubah paradigma, serta arah perdebatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.\u201d<\/p>\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menandai Hari Air Dunia 22 Maret, kami menyoroti kaitan esensial antara hutan dan air. Lebih dalam mengenai topik, ikuti simposium virtual langsung \u2018Wacana sejuk untuk dunia yang panas\u2019, pada 21-22 Maret 2017 bagian dari Program Penelitian CGIAR mengenai Hutan, Pohon dan Agroforestri (Forests, Trees and Agroforestry\/FTA). Penelitian terbaru mengungkap beragam cara hutan menciptakan hujan dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":63,"featured_media":49092,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":true,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,6090],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[2679,6971,2640,4365,6970,3680],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[545],"class_list":["post-49154","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-forests-news","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-air","tag-bahasa-hari-air-dunia","tag-bahasa-hujan","tag-bahasa-hutan-hujan","tag-bahasa-karbon","tag-bahasa-perubahan-iklim","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Mengkaitkan pohon dan air - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/49154\/mengkaitkan-pohon-dan-air\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mengkaitkan pohon dan air\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Menandai Hari Air Dunia 22 Maret, kami menyoroti kaitan esensial antara hutan dan air. Lebih dalam mengenai topik, ikuti simposium virtual langsung \u2018Wacana sejuk untuk dunia yang panas\u2019, pada 21-22 Maret 2017 bagian dari Program Penelitian CGIAR mengenai Hutan, Pohon dan Agroforestri (Forests, Trees and Agroforestry\/FTA). Penelitian terbaru mengungkap beragam cara hutan menciptakan hujan dan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/49154\/mengkaitkan-pohon-dan-air\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-03-30T06:26:16+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2017-03-30T06:46:24+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/15456455326_156a2338a0_k.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1900\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1072\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Kate Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/49154\\\/mengkaitkan-pohon-dan-air#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/49154\\\/mengkaitkan-pohon-dan-air\"},\"author\":{\"name\":\"Kate Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e\"},\"headline\":\"Mengkaitkan pohon dan air\",\"datePublished\":\"2017-03-30T06:26:16+00:00\",\"dateModified\":\"2017-03-30T06:46:24+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/49154\\\/mengkaitkan-pohon-dan-air\"},\"wordCount\":1324,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/49154\\\/mengkaitkan-pohon-dan-air#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/03\\\/15456455326_156a2338a0_k.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/49154\\\/mengkaitkan-pohon-dan-air#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2017\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/49154\\\/mengkaitkan-pohon-dan-air\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/49154\\\/mengkaitkan-pohon-dan-air\",\"name\":\"Mengkaitkan pohon dan air - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/49154\\\/mengkaitkan-pohon-dan-air#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/49154\\\/mengkaitkan-pohon-dan-air#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/03\\\/15456455326_156a2338a0_k.jpg\",\"datePublished\":\"2017-03-30T06:26:16+00:00\",\"dateModified\":\"2017-03-30T06:46:24+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/49154\\\/mengkaitkan-pohon-dan-air#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/49154\\\/mengkaitkan-pohon-dan-air\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/49154\\\/mengkaitkan-pohon-dan-air#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/03\\\/15456455326_156a2338a0_k.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/03\\\/15456455326_156a2338a0_k.jpg\",\"width\":1900,\"height\":1072,\"caption\":\"Bar-Khorog, Tajikistan. Photo by S. Nazari\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/49154\\\/mengkaitkan-pohon-dan-air#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mengkaitkan pohon dan air\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/49154\\\/mengkaitkan-pohon-dan-air#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/49154\\\/mengkaitkan-pohon-dan-air#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e\",\"name\":\"Kate Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g3f27c3c2db0b6432a0c0a78c2749a7a0\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Kate Evans\"},\"description\":\"Kate Evans is a freelance journalist originally from New Zealand. After studying journalism at the University of Sydney and international relations at the Australian National University, she worked as a multimedia journalist at the Australian Broadcasting Corporation for three years...and then ran off to West Africa armed with a video camera and a love of African dance. She is now a writer, filmmaker and photographer.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/kate-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/49154\\\/mengkaitkan-pohon-dan-air#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Mengkaitkan pohon dan air - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/49154\/mengkaitkan-pohon-dan-air","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Mengkaitkan pohon dan air","og_description":"Menandai Hari Air Dunia 22 Maret, kami menyoroti kaitan esensial antara hutan dan air. Lebih dalam mengenai topik, ikuti simposium virtual langsung \u2018Wacana sejuk untuk dunia yang panas\u2019, pada 21-22 Maret 2017 bagian dari Program Penelitian CGIAR mengenai Hutan, Pohon dan Agroforestri (Forests, Trees and Agroforestry\/FTA). Penelitian terbaru mengungkap beragam cara hutan menciptakan hujan dan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/49154\/mengkaitkan-pohon-dan-air","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2017-03-30T06:26:16+00:00","article_modified_time":"2017-03-30T06:46:24+00:00","og_image":[{"width":1900,"height":1072,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/15456455326_156a2338a0_k.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Kate Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/49154\/mengkaitkan-pohon-dan-air#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/49154\/mengkaitkan-pohon-dan-air"},"author":{"name":"Kate Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e"},"headline":"Mengkaitkan pohon dan air","datePublished":"2017-03-30T06:26:16+00:00","dateModified":"2017-03-30T06:46:24+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/49154\/mengkaitkan-pohon-dan-air"},"wordCount":1324,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/49154\/mengkaitkan-pohon-dan-air#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/15456455326_156a2338a0_k.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Forests News"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/49154\/mengkaitkan-pohon-dan-air#respond"]}],"copyrightYear":"2017","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/49154\/mengkaitkan-pohon-dan-air","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/49154\/mengkaitkan-pohon-dan-air","name":"Mengkaitkan pohon dan air - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/49154\/mengkaitkan-pohon-dan-air#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/49154\/mengkaitkan-pohon-dan-air#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/15456455326_156a2338a0_k.jpg","datePublished":"2017-03-30T06:26:16+00:00","dateModified":"2017-03-30T06:46:24+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/49154\/mengkaitkan-pohon-dan-air#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/49154\/mengkaitkan-pohon-dan-air"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/49154\/mengkaitkan-pohon-dan-air#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/15456455326_156a2338a0_k.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/15456455326_156a2338a0_k.jpg","width":1900,"height":1072,"caption":"Bar-Khorog, Tajikistan. Photo by S. Nazari"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/49154\/mengkaitkan-pohon-dan-air#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mengkaitkan pohon dan air"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/49154\/mengkaitkan-pohon-dan-air#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/49154\/mengkaitkan-pohon-dan-air#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e","name":"Kate Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g3f27c3c2db0b6432a0c0a78c2749a7a0","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g","caption":"Kate Evans"},"description":"Kate Evans is a freelance journalist originally from New Zealand. After studying journalism at the University of Sydney and international relations at the Australian National University, she worked as a multimedia journalist at the Australian Broadcasting Corporation for three years...and then ran off to West Africa armed with a video camera and a love of African dance. She is now a writer, filmmaker and photographer.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/kate-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/49154\/mengkaitkan-pohon-dan-air#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/15456455326_156a2338a0_k.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/49154","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/63"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=49154"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/49154\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/49092"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=49154"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=49154"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=49154"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=49154"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=49154"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=49154"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=49154"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=49154"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=49154"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=49154"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=49154"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=49154"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=49154"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}