{"id":48653,"date":"2017-03-07T12:30:50","date_gmt":"2017-03-07T05:30:50","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=48653"},"modified":"2018-02-07T15:45:54","modified_gmt":"2018-02-07T08:45:54","slug":"mengapa-produk-hutan-makin-langka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48653\/mengapa-produk-hutan-makin-langka","title":{"rendered":"Mengapa produk hutan makin langka?"},"content":{"rendered":"<p>Di negara berkembang, petani dan masyarakat desa mendapatkan hampir seperempat penghasilan dari hutan sekitar mereka. Namun, <a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/6326\/why-do-forest-products-become-less-available-a-pan-tropical-comparison-of-drivers-of-forest-resource-degradation\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penelitian <\/a>terbaru menunjukkan bahwa sumber daya tersebut makin langka, ketersediaannya pun terus berkurang.<\/p>\n<p>Menurut penelitian, meningkatnya konsumsi produk hutan dan deforestasi merupakan alasan utama meningkatnya  kelangkaan, dan menempatkan basis sumber daya  maupun penghidupan masyarakat dalam potensi risiko.<\/p>\n<p>\u201cKami melihat tren degradasi basis sumber daya terhadap waktu,\u201d kata Sven Wunder, ekonom senior <a href=\"\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR)<\/a>. Wunder menganalisis data dari <a href=\"http:\/\/www1.cifor.org\/pen\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Jaringan Kemiskinan dan Lingkungan Hidup (PEN) CIFOR<\/a>, sebuah penelitian yang dimulai pada 2004 dan sejak saat itu mengumpulkan data dari lebih 8.000 rumah tangga di 24 negara.<\/p>\n<p>\u201cSaya terkejut melihat begitu banyak &#8212; 9 dari 10 \u2013 desa menunjukkan tanda penurunan ketersediaan sumber daya hanya dalam setengah dekade,\u201d kata Wunder.<\/p>\n<p>Hasil ini menunjukkan perlunya melihat lebih dekat konsistensi praktik tata kelola hutan masyarakat, serta dampak masa depan degradasi hutan.<\/p>\n\n<p>\u201cKarena mereka adalah masyarakat yang secara langsung hidup dari sumber daya hutan, implikasinya bisa dipandang cukup negatif,\u201d kata ketua penulis penelitian ini, Kathleen Hermans-Neumann dari  UFZ-Helmholtz Center for Environmental Research di Leipzig, Jerman. \u201cMakin sedikit ketersediaan sumber daya alam, makin sulit untuk mempertahankan penghidupan lokal.\u201d<\/p>\n<p><strong>MAKIN LANGKA<\/strong><\/p>\n<p>Penelitian mengeksaminasi pemanfaatan enam jenis sumber daya hutan \u2013 kayu bakar dan arang; batang pohon dan kayu lainnya; pangan; obat-obatan; pakan ternak; dan lainnya \u2013 di 233 desa tropis dan subtropis Asia, Afrika dan Amerika Latin.<\/p>\n<p>Menurut Hermans-Neuman, jika sebagian besar penelitian pemanfaatan sumber daya desa dilakukan secara lokal, basis data PEN memungkinkan peneliti melihat tren pan-tropis.<\/p>\n<p>Sebagai bagian dari survei PEN, yang dilakukan antara 2005 hingga 2010, penduduk ditanya, apakah ketersediaan sumber daya utama hutan berubah dalam lima tahun terakhir, dan jika ya, menurut pandangan mereka, mengapa hal ini terjadi.<\/p>\n<p>Tiga sumber daya terpenting yang disebutkan oleh penduduk desa adalah kayu bakar dan arang;  batang pohon dan kayu lainnya; dan pangan. Pakan ternak dan obat-obatan kurang dominan, meski 75 persen desa dilaporkan memanfaatkan setidaknya salah satunya.<\/p>\n<p>Secara keseluruhan, 209 dari 233 desa melaporkan bahwa mereka melihat penurunan ketersediaan sedikitnya satu produk hutan. Sementara 87 desa mengalami penurunan ketersediaan seluruh produk hutan.<\/p>\n<p>Kebalikannya, 89 desa melaporkan sedikitnya ada satu peningkatan produk hutan. Di beberapa desa, produk tersebut adalah kayu bakar, dan peningkatan terjadi akibat deforestasi; tidak lantas karena tata kelola lebih lestari.<\/p>\n<p>Dua alasan utama penurunan ketersediaan sumber daya hutan adalah meningginya konsumsi (terutama karena peningkatan populasi desa), dan hilangnya tutupan hutan. Pertumbuhan penduduk terkait dengan imigrasi dan tingginya angka kelahiran.<\/p>\n\n<p>Desa yang mengalami peningkatan produk hutan, umumnya memiliki pertumbuhan penduduk lebih rendah dan dilaporkan kurang menggunakan sumber daya hutan. Hasil ini menyokong pandangan \u201cneo-Malthusian\u201d, bahwa peningkatan populasi menyebabkan eksploitasi berlebihan dan berkurangnya suplai pangan dan sumber daya lain. Teori ini mengambil nama penyusunnya, Thomas Robert Malthus, di akhir abad 18.<\/p>\n<p>Pandangan alternatifnya, disebut \u201cneo-Boserupian\u201d diambil dari nama ekonom Denmark Ester Boserup. Teori ini menyatakan bahwa masyarakat akan bereaksi terhadap kelangkaan sumber daya dengan mencari cara pengelolaan lebih baik.<\/p>\n<h4><strong>MANAJEMEN SUMBER DAYA<\/strong><\/h4>\n<p>Meski penelitian ini tampaknya memperkuat teori \u201cneo-Malthusian\u201d, hasil penelitian menunjukkan bahwa tenurial hutan berperan memperlambat degradasi sumber daya hutan. Desa dengan sedikitnya sepertiga wilayah hutan dimiliki masyarakat dilaporkan hanya mengalami sedikit penurunan produk hutan.<\/p>\n<p>Para peneliti menulis, masyarakat dapat termotivasi mengubah cara mengelola hutan mereka ketika melihat penurunan drastis ketersediaan produk hutan.<\/p>\n<p>\u201cTransisi dari hutan masyarakat dengan akses bebas menjadi hutan yang dikelola secara aktif sering terjadi ketika terjadi degradasi substansial,\u201d tulis para peneliti.<\/p>\n<p>Para peneliti mengingatkan bahwa data PEN berdasar pada persepsi masyarakat atas perubahan hutan mereka, bukan pengukuran ilmah stok sumber daya. Namun, Wunder menyatakan konsistensi temuan dalam jumlah besar desa menunjukkan bahwa indikasi persepsi cenderung valid.<\/p>\n<p>Namun, lanjut Wunder, penelitian komparatif melalui pengukuran lapangan mengenai kualitas sumber daya hutan dapat memberi masukan derajat degradasi, penyebab, dan dampaknya pada penghidupan masyarakat hutan.<\/p>\n\n<p>Hermans-Neumann menyatakan keinginannya meneliti perubahan populasi lebih dekat, khususnya \u201cmengapa orang berimigrasi dan sampai tingkat mana perbedaan penggunaan  sumber daya oleh mereka dibanding masyarakat lokal yang ada.\u201d<\/p>\n<p>Hasil penelitian ini dapat menjadi peringatan dini bagi pengambil kebijakan dan pengelola hutan yang masih berpandangan ideal, petani dan masyarakat hidup selaras dengan sumber alam tanpa menipiskan stok sumber daya.<\/p>\n<p>\u201cTampak di sini, cara masyarakat lokal memanfaatkan hutan dan produk hutan, tidak sepenuhnya berkelanjutan,\u201d kata Hermans-Neumann. \u201cSesekali, tata kelola hutan masyarakat memang berhasil mengatasi masalah, namun tidak selalu begitu. Kini dengan kita tahu lebih banyak mengenai penyebab degradasi, kita bisa lebih baik memprioritaskan area penyempurnaan manajemen.\u201d<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di negara berkembang, petani dan masyarakat desa mendapatkan hampir seperempat penghasilan dari hutan sekitar mereka. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa sumber daya tersebut makin langka, ketersediaannya pun terus berkurang. Menurut penelitian, meningkatnya konsumsi produk hutan dan deforestasi merupakan alasan utama meningkatnya kelangkaan, dan menempatkan basis sumber daya maupun penghidupan masyarakat dalam potensi risiko. \u201cKami melihat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":84,"featured_media":48658,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[182,6090,95],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[2522,6417,6942,2554,6521],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[831],"class_list":["post-48653","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-community-forestry","category-forests-news","category-human-wellbeing","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-deforestasi","tag-bahasa-hasil-hutan-bukan-kayu","tag-bahasa-ntfp","tag-bahasa-tata-kelola-hutan","tag-bahasa-tenurial","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Mengapa produk hutan makin langka? - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48653\/mengapa-produk-hutan-makin-langka\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mengapa produk hutan makin langka?\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Di negara berkembang, petani dan masyarakat desa mendapatkan hampir seperempat penghasilan dari hutan sekitar mereka. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa sumber daya tersebut makin langka, ketersediaannya pun terus berkurang. Menurut penelitian, meningkatnya konsumsi produk hutan dan deforestasi merupakan alasan utama meningkatnya kelangkaan, dan menempatkan basis sumber daya maupun penghidupan masyarakat dalam potensi risiko. \u201cKami melihat [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48653\/mengapa-produk-hutan-makin-langka\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-03-07T05:30:50+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-02-07T08:45:54+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/OO0A0470.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"683\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Barbara Fraser\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@barbara_fraser\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48653\\\/mengapa-produk-hutan-makin-langka#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48653\\\/mengapa-produk-hutan-makin-langka\"},\"author\":{\"name\":\"Barbara Fraser\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/3f84c53b70c9b8fa7a5689aaa3c5076f\"},\"headline\":\"Mengapa produk hutan makin langka?\",\"datePublished\":\"2017-03-07T05:30:50+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:45:54+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48653\\\/mengapa-produk-hutan-makin-langka\"},\"wordCount\":718,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48653\\\/mengapa-produk-hutan-makin-langka#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/03\\\/OO0A0470.jpg\",\"articleSection\":[\"Community forestry\",\"Forests News\",\"Human well-being\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48653\\\/mengapa-produk-hutan-makin-langka#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2017\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48653\\\/mengapa-produk-hutan-makin-langka\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48653\\\/mengapa-produk-hutan-makin-langka\",\"name\":\"Mengapa produk hutan makin langka? - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48653\\\/mengapa-produk-hutan-makin-langka#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48653\\\/mengapa-produk-hutan-makin-langka#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/03\\\/OO0A0470.jpg\",\"datePublished\":\"2017-03-07T05:30:50+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:45:54+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48653\\\/mengapa-produk-hutan-makin-langka#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48653\\\/mengapa-produk-hutan-makin-langka\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48653\\\/mengapa-produk-hutan-makin-langka#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/03\\\/OO0A0470.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/03\\\/OO0A0470.jpg\",\"width\":1024,\"height\":683,\"caption\":\"Riset menemukan terjadi penurunan ketersediaan sedikitnya satu produk hutan.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48653\\\/mengapa-produk-hutan-makin-langka#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mengapa produk hutan makin langka?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48653\\\/mengapa-produk-hutan-makin-langka#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48653\\\/mengapa-produk-hutan-makin-langka#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/3f84c53b70c9b8fa7a5689aaa3c5076f\",\"name\":\"Barbara Fraser\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1599345ef9d1d6961691591c0797e4b826044aa2a784b0c28436e3e6469a0b88?s=96&d=mm&r=g1ae95544d84bf46eb90aaaeb70d88c67\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1599345ef9d1d6961691591c0797e4b826044aa2a784b0c28436e3e6469a0b88?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1599345ef9d1d6961691591c0797e4b826044aa2a784b0c28436e3e6469a0b88?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Barbara Fraser\"},\"description\":\"Barbara Fraser has lived for more than two decades in Peru, where her work as a freelance journalist has taken her from the desert coast to the foot of Andean glaciers to native communities in the Amazon basin. She has a bachelor's degree in communications and a Master's in environmental studies and specializes in reporting on environmental, public health, indigenous and social issues.\",\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/x.com\\\/@barbara_fraser\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/barbara-fraser\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48653\\\/mengapa-produk-hutan-makin-langka#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Mengapa produk hutan makin langka? - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48653\/mengapa-produk-hutan-makin-langka","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Mengapa produk hutan makin langka?","og_description":"Di negara berkembang, petani dan masyarakat desa mendapatkan hampir seperempat penghasilan dari hutan sekitar mereka. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa sumber daya tersebut makin langka, ketersediaannya pun terus berkurang. Menurut penelitian, meningkatnya konsumsi produk hutan dan deforestasi merupakan alasan utama meningkatnya kelangkaan, dan menempatkan basis sumber daya maupun penghidupan masyarakat dalam potensi risiko. \u201cKami melihat [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48653\/mengapa-produk-hutan-makin-langka","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2017-03-07T05:30:50+00:00","article_modified_time":"2018-02-07T08:45:54+00:00","og_image":[{"width":1024,"height":683,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/OO0A0470.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Barbara Fraser","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@barbara_fraser","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48653\/mengapa-produk-hutan-makin-langka#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48653\/mengapa-produk-hutan-makin-langka"},"author":{"name":"Barbara Fraser","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/3f84c53b70c9b8fa7a5689aaa3c5076f"},"headline":"Mengapa produk hutan makin langka?","datePublished":"2017-03-07T05:30:50+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:45:54+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48653\/mengapa-produk-hutan-makin-langka"},"wordCount":718,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48653\/mengapa-produk-hutan-makin-langka#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/OO0A0470.jpg","articleSection":["Community forestry","Forests News","Human well-being"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48653\/mengapa-produk-hutan-makin-langka#respond"]}],"copyrightYear":"2017","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48653\/mengapa-produk-hutan-makin-langka","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48653\/mengapa-produk-hutan-makin-langka","name":"Mengapa produk hutan makin langka? - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48653\/mengapa-produk-hutan-makin-langka#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48653\/mengapa-produk-hutan-makin-langka#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/OO0A0470.jpg","datePublished":"2017-03-07T05:30:50+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:45:54+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48653\/mengapa-produk-hutan-makin-langka#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48653\/mengapa-produk-hutan-makin-langka"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48653\/mengapa-produk-hutan-makin-langka#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/OO0A0470.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/OO0A0470.jpg","width":1024,"height":683,"caption":"Riset menemukan terjadi penurunan ketersediaan sedikitnya satu produk hutan."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48653\/mengapa-produk-hutan-makin-langka#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mengapa produk hutan makin langka?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48653\/mengapa-produk-hutan-makin-langka#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48653\/mengapa-produk-hutan-makin-langka#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/3f84c53b70c9b8fa7a5689aaa3c5076f","name":"Barbara Fraser","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1599345ef9d1d6961691591c0797e4b826044aa2a784b0c28436e3e6469a0b88?s=96&d=mm&r=g1ae95544d84bf46eb90aaaeb70d88c67","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1599345ef9d1d6961691591c0797e4b826044aa2a784b0c28436e3e6469a0b88?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1599345ef9d1d6961691591c0797e4b826044aa2a784b0c28436e3e6469a0b88?s=96&d=mm&r=g","caption":"Barbara Fraser"},"description":"Barbara Fraser has lived for more than two decades in Peru, where her work as a freelance journalist has taken her from the desert coast to the foot of Andean glaciers to native communities in the Amazon basin. She has a bachelor's degree in communications and a Master's in environmental studies and specializes in reporting on environmental, public health, indigenous and social issues.","sameAs":["https:\/\/x.com\/@barbara_fraser"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/barbara-fraser"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48653\/mengapa-produk-hutan-makin-langka#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/OO0A0470.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48653","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/84"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=48653"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48653\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/48658"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=48653"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=48653"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=48653"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=48653"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=48653"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=48653"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=48653"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=48653"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=48653"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=48653"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=48653"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=48653"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=48653"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}