{"id":48085,"date":"2017-02-03T05:06:11","date_gmt":"2017-02-02T22:06:11","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=48085"},"modified":"2018-02-07T15:05:24","modified_gmt":"2018-02-07T08:05:24","slug":"dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48085\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove","title":{"rendered":"Dimana daratan bertemu laut: Mengelola hutan mangrove"},"content":{"rendered":"<p>Pada 26 Desember 2004, gempa berkekuatan 9,1 mengguncang Sumatera Indonesia, memicu tsunami Samudera Hindia. Gelombang merangsek hingga dua kilometer ke darat, menyapu kota, tanaman, kehidupan dan penghidupan. Di provinsi Aceh saja, 167.000 orang meninggal.<\/p>\n<p>Adakah yang dapat mengurangi kerusakan? Setelah bencana tsunami, perhatian global mengarah pada potensi mangrove. Banyak hutan mangrove di Indonesia hilang sebelum 2004, dibuka untuk tambak udang \u2013 dan kemudian <a href=\"http:\/\/www.pnas.org\/content\/108\/46\/18612.full.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penelitian<\/a> menunjukkan bahwa mangrove dan berbagai hutan lain dapat <a href=\"http:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/pii\/S0960982205006032\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">membantu melindungi<\/a> garis pesisir dan masyarakat dari ancaman tsunami, badai, dan kenaikan permukaan laut.<\/p>\n<p>Masyarakat di Pulau Pahawang sudah tahu soal ini. Pada 1980 dan 1990-an hutan mangrove yang melingkari pulau kecil di lepas pantai ujung timur Sumatera habis dieksploitasi. Sebuah perusahaan Korea mengubah mangrove menjadi arang. Pohon ditebang untuk diambil kayunya, dan lahannya dikonversi menjadi tambak ikan oleh migran dari Jawa Timur.<\/p>\n<p>Pada awal 2000-an, erosi pesisir menimbulkan masalah besar bagi penduduk. Rumah, lahan pertanian dan tambak ikan tersapu badai; ikan tidak lagi bisa bertelur di kelindan akar mangrove; wabah malaria dan demam berdarah menjadi hal biasa<\/p>\n<p>Tokoh desa berkumpul dan merintis sistem tata kelola mangrove secara mandiri dan inovatif. Mereka mengembangkan struktur organisasi. Mangrove dibagi dalam tiga area \u2013 zona lindung, zona produksi non-kayu hanya untuk kayu bakar, dan \u2018zona pemanfaatan\u2019 untuk pengambilan kayu meski tetap dibatasi. Mereka juga menentukan wilayah untuk dihutankan kembali, dan melakukan pembibitan dan pengumpulan dana.<\/p>\n<p>Banyak yang bisa dipelajari dari pengalaman lokal seperti ini, kata ilmuwan <a href=\"\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional<\/a>, yang baru saja merilis <a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/6376\/where-land-meets-the-sea-a-global-review-of-the-governance-and-tenure-dimensions-of-coastal-mangrove-forests\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penelitian global terbaru mengenai tata kelola mangrove<\/a>. Penelitian ini berdasar pada kajian literatur internasional, dan dilengkapi studi kasus di Indonesia dan Tanzania.<\/p>\n\n<p><strong>MANFAAT PENDEKATAN DARI BAWAH-KE-ATAS<\/strong><\/p>\n<p>\u201cDi Indonesia semuanya jelas: mereka mengelola mangrove untuk melindungi hidup, penghidupan dan aset mereka dari ancaman badai dan laut,\u201d kata Esther Mwangi, yang memimpin keseluruhan penelitian. \u201cMangrove adalah benteng menghadapi energi dan kekuatan lautan.\u201d<\/p>\n<p>Mani Ram Banjade memimpin penelitian lapangan di Indonesia, terfokus di tiga desa di provinsi Lampung.<\/p>\n<p>Di Pahawang, proteksi mangrove merupakan inisiatif dari masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cTokoh masyarakat memimpin inisiatif ini dan mengembangkan mekanisme aturan, regulasi dan tata kelola sendiri. Baru kemudian mereka mendapat persetujuan dari pemerintah lokal, dan juga dari koneksi personal dan politik, selain juga mendapat sumber daya dari pihak luar.\u201d<\/p>\n<p>Di Pahawang, katanya, prosesnya berlangsung mulus karena pemerintah setempat mengakui hak penduduk atas lahan dan mendukung upaya mereka \u2013 selain juga karena para tokoh berhasil membangun kesadaran masyarakat mengenai peran mangrove dalam melindungi pesisir.<\/p>\n<p>\u201cBahkan jika pun mereka tidak mendapat manfaat langsung dari mangrove, mereka tetap menjunjung konservasi,\u201d kata Banjade.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>\u201cIni jadi model yang bagus,\u201d kata Steven Lawry, Direktur Penelitian Hutan dan Tata Kelola CIFOR, yang juga ambil bagian dalam penelitian. \u201cIni contoh bagaimana kepemimpinan yang kuat dan konsisten menghasilkan sesuatu yang baik dalam konservasi mangrove. Masyarakat menyingsingkan baju, menanam mangrove, karena merasakan pentingnya mangrove bagi penghidupan mereka.\u201d<\/p>\n<p><strong>MEMBONGKAR BENTENG PEMISAH<\/strong><\/p>\n<p>Menurut Mwangi, di tempat lain di dunia, pendekatan tata kelola dari bawah-ke-atas ini diperlukan, karena mangrove seringkali jatuh di antara celah tata kelola tingkat nasional.<\/p>\n<p>Terus-menerus disapu pasang di antara daratan dan lautan, mangrove tidak secara tepat ditempatkan dalam struktur pemerintahan. Secara gobal, jarang ada negara memiliki aturan spesifik untuk mangrove. Mereka bisa berada di bawah campur-aduk dua atau tiga kementerian, atau jatuh di kementerian kehutanan.<\/p>\n<p>Ini bukan tempat yang tepat, kata Mwangi.<\/p>\n<p>\u201cDi hutan mangrove, kayu bukan hal utama, nilainya ada pada melindungi pesisir, ikan, sekuestrasi karbon \u2013 bukan soal-soal kehutanan. Ketika sumber daya ini berada di tangan departemen kehutanan. Muncullah ketegangan.<\/p>\n<p>Ketika tata kelola tersebar di berbagai kementerian, koordinasi menjadi masalah. Sudah sering upaya memperbaikinya gagal. Indonesia menyatukan manajemen mangrove dan rencana koordinasi pada 2012 \u2013 meski belum pernah sepenuhnya terimplementasikan.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Kasus di Tanzania lebih bercerita. Pada 1991, Tanzania menjadi negara pertama menyusun rencana tata kelola mangrove terintegrasi \u2013 dan hingga saat ini, setelah 25 tahun, belum juga terimplementasikan.<\/p>\n<p>Alasan di balik kegagalan ini menjadi area penting penelitian masa depan, kata Mwangi. Meskin, pendekatan yang lebih baik, katanya, tetap akan menuju pada penyusunan legislasi baru yang memang khusus untuk mangrove, seperti peraturan yang dirintis di Pahawang.<\/p>\n<p>\u201cDengan mudah, orang bisa menyatakan bahwa regulasi desa mensubtitusi ketiadaan regulasi spesifik mangrove nasional,\u201d kata Mwangi.<\/p>\n<p><strong>DINAMIKA JENDER DALAM KONSERVASI<\/strong><\/p>\n<p>Satu hal yang terasa kurang di seluruh level \u2013 mulai desa nelayan hingga akademisi \u2013 adalah apresiasi terhadap dinamika jender.<\/p>\n<p>\u201cKajian literatur jarang sekali membahas jender, dan ketika diperiksa di tingkat lapangan, kami melihat hal serupa \u2013 merebaknya buta jender dalam tata kelola mangrove.\u201d<\/p>\n<p>Hubungan masyarakat dengan mangrove, kata Mwangi, dibedakan secara jender. Perempuan biasa mengumpulkan kayu bakar, sementara lelaki mengambil kayu dan ikan.<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p>Baik di Tanzania maupun di Indonesia Indonesia, perempuan jarang sekali duduk dalam kepengurusan. Partisipasi mereka dalam pengambilan keputusan terhalangi.<\/p>\n<p>Di Tanzania, peneliti menemukan bahwa pertemuan sering dilakukan sore hari, ketika sebagian besar perempuan mengumpulkan kayu bakar dan mengambil air untuk menyiapkan makan malam. Saat perempuan hadir, adat mengharuskan mereka duduk di belakang lelaki dan \u2018cukup bilang ya\u2019, bahkan saat mereka tidak setuju.<\/p>\n<p>\u201cBukan semata soal hak, tetapi juga agar efektif, sangat beralasan ada perempuan dalam kepengurusan,\u201d kata Mwangi. \u201cMereka juga punya pengetahuan dan kebutuhan terhadap sumber daya. Kehadiran dan masukan mereka dalam pengambilan keputusan menjadi penting.\u201d<\/p>\n<p>Di samping jender, banyak yang dapat dipelajari pemerintah dari langkah inovatif masyarakat lokal mengelola mangrove. Dan penting sekali, kata Mwangi, desa-desa tersebut menerima dukungan dan bantuan dari lembaga pemerintah regional dan nasional.<\/p>\n<p>\u201cBerbekal kepemimpinan lokal yang baik dan dukungan di berbagai level pemerintah, masyarakat dapat mengatur, menyusun aturan dan bekerja sama melindungi mangrove mereka.\u201d<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p>Penelitian menemukan bahwa transisi menuju peningkatan partisipasi masyarakat dalam tata kelola mangrove tengah berlangsung di beberapa negara. Meski Amerika Latin paling antusias, kata Lawry, pemerintah Tanzania juga mulai bereksperimen dengan pendekatan berbasis masyarakat di beberapa wialyah mangrove.<\/p>\n<p>Ini menggembirakan, katanya, karena model lama tata kelola mangrove \u2013 rejim atas-ke-bawah yang mencoba melindungi mangrove dengan mengunci masyarakat di luar \u2013 tidak berjalan baik, di Tanzania, Indonesia dan di mana pun.<\/p>\n<p>\u201cMeski ada niat pemerintah mengelola secara berkelanjutan, rejim tata kelola umumnya tidak efektif untuk melindungi mangrove. Mereka biasanya gagal melibatkan masyarakat, dan seringkali tidak secara efektif mengatur pengguna mangrove komersial skala besar. Hasilnya kehilangan mangrove makin cepat,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Di mana kita lihat ada langkah maju menuju tata kelola mangrove berkelanjutan, di sana lah masyarakat mengantungi kejelasan hak, dan menikmati manfaat nyata.\u201d<\/p>\n<p><em>*Penelitian ini didukung oleh USAID.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada 26 Desember 2004, gempa berkekuatan 9,1 mengguncang Sumatera Indonesia, memicu tsunami Samudera Hindia. Gelombang merangsek hingga dua kilometer ke darat, menyapu kota, tanaman, kehidupan dan penghidupan. Di provinsi Aceh saja, 167.000 orang meninggal. Adakah yang dapat mengurangi kerusakan? Setelah bencana tsunami, perhatian global mengarah pada potensi mangrove. Banyak hutan mangrove di Indonesia hilang sebelum [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":63,"featured_media":48095,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,6090,190],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222,12269],"tag-bahasa":[],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[545],"class_list":["post-48085","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-forests-news","category-peatlands","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","location-tanzania","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Dimana daratan bertemu laut: Mengelola hutan mangrove - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48085\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Dimana daratan bertemu laut: Mengelola hutan mangrove\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Pada 26 Desember 2004, gempa berkekuatan 9,1 mengguncang Sumatera Indonesia, memicu tsunami Samudera Hindia. Gelombang merangsek hingga dua kilometer ke darat, menyapu kota, tanaman, kehidupan dan penghidupan. Di provinsi Aceh saja, 167.000 orang meninggal. Adakah yang dapat mengurangi kerusakan? Setelah bencana tsunami, perhatian global mengarah pada potensi mangrove. Banyak hutan mangrove di Indonesia hilang sebelum [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48085\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-02-02T22:06:11+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-02-07T08:05:24+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/5594075177_e8f4b372ce.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"333\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Kate Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48085\\\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48085\\\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove\"},\"author\":{\"name\":\"Kate Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e\"},\"headline\":\"Dimana daratan bertemu laut: Mengelola hutan mangrove\",\"datePublished\":\"2017-02-02T22:06:11+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:05:24+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48085\\\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove\"},\"wordCount\":1033,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48085\\\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/02\\\/5594075177_e8f4b372ce.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Forests News\",\"Peatlands\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48085\\\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2017\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48085\\\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48085\\\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove\",\"name\":\"Dimana daratan bertemu laut: Mengelola hutan mangrove - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48085\\\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48085\\\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/02\\\/5594075177_e8f4b372ce.jpg\",\"datePublished\":\"2017-02-02T22:06:11+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:05:24+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48085\\\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48085\\\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48085\\\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/02\\\/5594075177_e8f4b372ce.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/02\\\/5594075177_e8f4b372ce.jpg\",\"width\":500,\"height\":333,\"caption\":\"With three million hectares, Indonesia is home to a quarter of the world's mangrove forests. Photo credit: CIFOR\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48085\\\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Dimana daratan bertemu laut: Mengelola hutan mangrove\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48085\\\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48085\\\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e\",\"name\":\"Kate Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g3f27c3c2db0b6432a0c0a78c2749a7a0\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Kate Evans\"},\"description\":\"Kate Evans is a freelance journalist originally from New Zealand. After studying journalism at the University of Sydney and international relations at the Australian National University, she worked as a multimedia journalist at the Australian Broadcasting Corporation for three years...and then ran off to West Africa armed with a video camera and a love of African dance. She is now a writer, filmmaker and photographer.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/kate-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/48085\\\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Dimana daratan bertemu laut: Mengelola hutan mangrove - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48085\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Dimana daratan bertemu laut: Mengelola hutan mangrove","og_description":"Pada 26 Desember 2004, gempa berkekuatan 9,1 mengguncang Sumatera Indonesia, memicu tsunami Samudera Hindia. Gelombang merangsek hingga dua kilometer ke darat, menyapu kota, tanaman, kehidupan dan penghidupan. Di provinsi Aceh saja, 167.000 orang meninggal. Adakah yang dapat mengurangi kerusakan? Setelah bencana tsunami, perhatian global mengarah pada potensi mangrove. Banyak hutan mangrove di Indonesia hilang sebelum [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48085\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2017-02-02T22:06:11+00:00","article_modified_time":"2018-02-07T08:05:24+00:00","og_image":[{"width":500,"height":333,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/5594075177_e8f4b372ce.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Kate Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48085\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48085\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove"},"author":{"name":"Kate Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e"},"headline":"Dimana daratan bertemu laut: Mengelola hutan mangrove","datePublished":"2017-02-02T22:06:11+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:05:24+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48085\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove"},"wordCount":1033,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48085\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/5594075177_e8f4b372ce.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Forests News","Peatlands"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48085\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove#respond"]}],"copyrightYear":"2017","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48085\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48085\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove","name":"Dimana daratan bertemu laut: Mengelola hutan mangrove - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48085\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48085\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/5594075177_e8f4b372ce.jpg","datePublished":"2017-02-02T22:06:11+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:05:24+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48085\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48085\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48085\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/5594075177_e8f4b372ce.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/5594075177_e8f4b372ce.jpg","width":500,"height":333,"caption":"With three million hectares, Indonesia is home to a quarter of the world's mangrove forests. Photo credit: CIFOR"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48085\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Dimana daratan bertemu laut: Mengelola hutan mangrove"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48085\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48085\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e","name":"Kate Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g3f27c3c2db0b6432a0c0a78c2749a7a0","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g","caption":"Kate Evans"},"description":"Kate Evans is a freelance journalist originally from New Zealand. After studying journalism at the University of Sydney and international relations at the Australian National University, she worked as a multimedia journalist at the Australian Broadcasting Corporation for three years...and then ran off to West Africa armed with a video camera and a love of African dance. She is now a writer, filmmaker and photographer.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/kate-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/48085\/dimana-daratan-bertemu-laut-mengelola-hutan-mangrove#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/5594075177_e8f4b372ce.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48085","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/63"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=48085"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48085\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/48095"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=48085"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=48085"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=48085"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=48085"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=48085"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=48085"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=48085"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=48085"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=48085"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=48085"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=48085"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=48085"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=48085"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}