{"id":47320,"date":"2016-12-19T15:00:42","date_gmt":"2016-12-19T08:00:42","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=47320"},"modified":"2018-02-07T15:08:20","modified_gmt":"2018-02-07T08:08:20","slug":"belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/47320\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan","title":{"rendered":"Belajar dari Amerika Latin: Memanfaatkan regenerasi alami hutan"},"content":{"rendered":"<p>Saat berpikir mengenai restorasi hutan, sebagian besar orang hanya berpikir soal menanam pohon.<\/p>\n<p>Tetapi untuk sampai pada tingkat yang diperlukan dalam mencapai <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/43501\/qa-lessons-from-latin-america-for-forest-landscape-restoration?fnl=en\">target restorasi lahan global<\/a>, biaya yang diperlukan terlampau tinggi \u2013 mulai dari membeli jutaan bibit hingga membayar orang untuk menanam dan memeliharanya. Namun, ada alternatif kuat dan berbiaya efektif: alam itu sendiri.<\/p>\n<p>Dalam <a href=\"http:\/\/onlinelibrary.wiley.com\/doi\/10.1111\/btp.12381\/full\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">laporan baru<\/a>, Manuel Guariguata dari <a href=\"\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional<\/a> (CIFOR) dan Robin Chazdon dari Universitas Connecticut menyatakan, menangkap kemampuan alami hutan untuk memperbaiki dan bertumbuh kembali menjadi kunci bagi negara-negara yang ingin mencapai target restorasi <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/38554\/restoration-as-a-local-solution-with-global-benefits?fnl=en\">Tantangan Bonn<\/a> dan <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/25807\/latin-american-countries-pledge-to-restore-20-million-ha-of-degraded-land\">Inisiatif 20\u00d720<\/a>.<\/p>\n<p>\u201cTerutama bagi negara-negara yang telah menjanjikan beberapa juta hektare, seperti Meksiko, ini jadi tidak realistis \u2013 atau setidaknya sangat mahal \u2013 dengan hanya melakukan penanaman pohon,\u201d kata Guariguata.<\/p>\n<p>Jadi apa yang bisa dilakukan? Chazdon menunjukkan contoh wilayah Guanacaste di Kosta Rika. Pada akhir 1970-an, sebagian besar wilayah hutan kering ditebang saat petani mencetak padang gembala, menikmati lonjakan harga daging sapi. Ketika pasar internasional mendadak jatuh sekitar 1980, petani di lahan lebih marjinal tidak mampu memenuhi kebutuhan.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Sebagian besar pergi \u2013 dan hutan merayap balik menghijaukan ladang.<\/p>\n<p>Vegetasi kayu cepat tumbuh berdiri, pohon kecil dan semak menguasai lahan terlantar. Mereka segera menghalau rumput, menarik burung dan kelelawar bertengger, memakan buah-buah kecil dan menebar benih. Tahun berlalu, tumbuhan dan hewan baru berdatangan \u2013 dan sedikit demi sedikit, hutan kembali.<\/p>\n<p>Dalam kasus Kosta Rika, perubahan ekonomi menjadi pendorong utama regenerasi dan perubahan politik \u2013 termasuk larangan penggundulan hutan dan program pembayaran jasa lingkungan (PES) \u2013 membantu menjaga keberlangsungan hutan baru.<\/p>\n<p>\u201cWilayah tersebut kini tertutupi 50 persen hutan dan mendapatkan kembali kehidupan liar dalam petak-petaknya,\u201d kata Chazdon.<\/p>\n<p><strong>MELAWAN REGENERASI  <\/strong><\/p>\n<p>Meski ada keberhasilan, regenerasi alami seringkali diabaikan dalam rencana reforestasi. Chazdon menyebut wilayah regenerasi sebagai \u2018lahan yatim piatu\u2019<\/p>\n<p>\u201cOrganisasi konservasi meyatimkan mereka karena tidak melihat pertumbuhan kembali berharga bagi konservasi; pertanian mempiatukan mereka karena bertumbuh  di lahan yang dipandang sangat bermanfaat untuk pertanian, dan kehutanan meyatimkan mereka karena lebih suka melihat barisan rapi pohon kecil dibanding regenerasi <a href=\"http:\/\/repositorio.inpa.gov.br\/bitstream\/123\/3640\/1\/sucessional.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">tak terduga<\/a> spesies non-komersial,\u201d katanya. \u201cMereka tidak punya tempat \u2013 jadi kami mencoba memberi mereka peran lebih utama.\u201d<\/p>\n\n<p>Sebagian masalah muncul dari persepsi hutan regenerasi sebagai lahan terlantar.<\/p>\n<p>Di Kosta Rika, kata Chazdon, petani sering kali membersihkan apa yang mereka sebut vegetasi belukar \u201ckarena mereka hendak mereforestasi, dan mereka tidak tahu telah menebang spesies pohon sangat bernilai yang baru berdiri dan tidak ada yang menanamnya.\u201d<\/p>\n<p>Ada pula tekanan sosial melawan regenerasi alami.<\/p>\n<p>\u201cDi banyak negara tropis, lahan kosong membuat petani tampak buruk, memberi kesan diterlantarkan,\u201d kata Guariguata.<\/p>\n<p>\u201cKami tidak bilang bahwa lahan terlantar seharusnya diabaikan agar alam mengambil alih. Tidak \u2013 kita perlu menciptakan insentif agar regenerasi hutan terjaga, dan mengkompensasi pemilik lahan untuk tidak menggunakan lahan untuk aktivitas pertanian.<\/p>\n<p>Hal ini tidak berarti memberikan pembayaran langsung \u2013 meski juga bisa berhasil dalam jangka pendek. Namun Chazdon dan Guariguata tidak melihat hal ini bisa berlanjut secara ekonomi dalam jangka panjang. Nilai dari hutan sekunder bisa tercipta melalui sejumlah cara, kata mereka \u2013 meningkatkan dan secara selektif memanen spesies dari hutan sekunder, atau mengamankan harga premium produk hutan non-kayu.<\/p>\n<p>Insentif juga bisa sosial, kata Chazdon.<\/p>\n<p>\u201cPetani bisa menjadi penjaga regenerasi alami \u2013 tidak ada status terkait hal ini. Bisa saja berupa hadiah, kelompok \u2013 manfaat sosial dan keberterimaan dalam program tertentu jika mereka melakukannya.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>\u201cIni tidak akan terjadi semalam. Perubahan budaya selalu perlahan, tetapi saya melihat ada perubahan sikap di Kosta Rika dalam 30 tahun bekerja di sini,\u201d katanya.<\/p>\n<p>\u201cMasyarakat sangat membanggakan hutan sekunder mereka. Jadi mereka perlu semacam lingkungan sosial, dorongan dan pendidikan yang tepat untuk bisa berperan aktif dalam keseluruhan proses ini.\u201d<\/p>\n<p>Pada tingkat nasional, program reforestasi biasanya dilakukan oleh kementerian kehutanan, di mana para pakar mengembangkan beberapa jenis spesies pohon perkebunan \u2013 hingga muncul kecenderungan melompat pada solusi. Penanaman pohon dapat dipandang sebagai \u2018obat manjur\u2019, membuat politisi seperti tampil melakukan sesuatu \u2013 dan terdapat manfaat ekonomi menanam spesies pohon terprediksi dan komersial.<\/p>\n<p>Tetapi Chazdon dan Guariguata menyatakan bahwa pemerintah bisa belajar mengidentifikasi area yang mengalami regenerasi alami, dan memfokuskan pendanaan penanaman pohon di tempat lain yang benar-benar diperlukan.<\/p>\n\n<p>Penelitian terbaru Chazdon dan mitranya di Brasil menemukan peluang memetakan potensi regenerasi alami memanfaatkan informasi bentang alam dan informasi iklim lain \u2013 curah hujan, kemiringan, ketinggian, proksimitas terhadap fragmen hutan dan sungai.<\/p>\n<p>Guariguata menyatakan, upaya lebih perlu dilakukan dalam pelatihan dan alat pengambilan keputusan untuk membantu rimbawan, ekologis dan manajer sumber daya alam mengidentifikasi \u201clokasi terbaik alam memutuskan jalannya sendiri.\u201d<\/p>\n<p>\u201cAda alat canggih, tetapi tidak tersedia atau dikenali secara luas di banyak negara berkembang, ketika kebutuhannya tinggi. Peta yang menunjukkan luasan degradasi agak biasa dalam kerangka pengambilan keputusan, tetapi informasi jenis ini hanyalah bagian dari keseluruhan gambar \u2013 alat seperti ini perlu menggabungkan data biofisik dan sosioekonomi.\u201d<\/p>\n<p>Manfaat pendekatan ini cukup masif. Menurut para ilmuwan \u2013 tidak hanya menghemat keuangan negara, pendekatan ini juga menjadi dorongan besar <a href=\"http:\/\/www.fs.fed.us\/global\/iitf\/pubs\/ja_iitf_2009_chazdon001.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">keragaman hayati<\/a> dibanding jenis perkebunan pohon monokultur yang seringkali bergantung pada program reforestasi. Dan ini, kata Chazdong akan meningkatkan resiliensi.<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p>\u201cSaat perubahan iklim dan dampak lain mulai terasa, memiliki heterogenitas dan lebih banyak varietas lokal menjadi sangat penting \u2013 saya melihat risikonya lebih kecil dibanding perkebunan monokultur skala besar.\u201d<\/p>\n<p>\u201cKit perlu berpikir jangka panjang, dan sejauh ini kita tidak melakukan itu \u2013 ini satu alasan lahan terdegradasi terjadi di dunia.\u201d<\/p>\n<p>\u201cRegenerasi alami bukan panasea, lebih berupa komplemen,\u201d tambah Guariguata. \u201cTetapi merupakan satu hal yang seringkali diabaikan dan kurang dimanfaatkan. Padahal potensinya sangat besar.\u201d<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saat berpikir mengenai restorasi hutan, sebagian besar orang hanya berpikir soal menanam pohon. Tetapi untuk sampai pada tingkat yang diperlukan dalam mencapai target restorasi lahan global, biaya yang diperlukan terlampau tinggi \u2013 mulai dari membeli jutaan bibit hingga membayar orang untuk menanam dan memeliharanya. Namun, ada alternatif kuat dan berbiaya efektif: alam itu sendiri. Dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":63,"featured_media":47328,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,161,6090],"tags":[],"language":[2171],"location":[12237],"tag-bahasa":[2522,6663,2520,2589,6815,2647],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[545],"class_list":["post-47320","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-deforestation","category-forests-news","language-bahasa-indonesia","location-latin-america","tag-bahasa-deforestasi","tag-bahasa-energi-terbarukan","tag-bahasa-konservasi","tag-bahasa-mata-pencaharian","tag-bahasa-regenerasi-hutan","tag-bahasa-restorasi","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Belajar dari Amerika Latin: Memanfaatkan regenerasi alami hutan - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/47320\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Belajar dari Amerika Latin: Memanfaatkan regenerasi alami hutan\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Saat berpikir mengenai restorasi hutan, sebagian besar orang hanya berpikir soal menanam pohon. Tetapi untuk sampai pada tingkat yang diperlukan dalam mencapai target restorasi lahan global, biaya yang diperlukan terlampau tinggi \u2013 mulai dari membeli jutaan bibit hingga membayar orang untuk menanam dan memeliharanya. Namun, ada alternatif kuat dan berbiaya efektif: alam itu sendiri. Dalam [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/47320\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2016-12-19T08:00:42+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-02-07T08:08:20+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/12\/6374374335_edb61de042.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"331\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Kate Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/47320\\\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/47320\\\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan\"},\"author\":{\"name\":\"Kate Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e\"},\"headline\":\"Belajar dari Amerika Latin: Memanfaatkan regenerasi alami hutan\",\"datePublished\":\"2016-12-19T08:00:42+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:08:20+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/47320\\\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan\"},\"wordCount\":886,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/47320\\\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/12\\\/6374374335_edb61de042.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Deforestation\",\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/47320\\\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2016\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/47320\\\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/47320\\\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan\",\"name\":\"Belajar dari Amerika Latin: Memanfaatkan regenerasi alami hutan - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/47320\\\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/47320\\\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/12\\\/6374374335_edb61de042.jpg\",\"datePublished\":\"2016-12-19T08:00:42+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:08:20+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/47320\\\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/47320\\\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/47320\\\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/12\\\/6374374335_edb61de042.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/12\\\/6374374335_edb61de042.jpg\",\"width\":500,\"height\":331,\"caption\":\"Faktor regenerasi alami alam seringkali diabaikan dalam rencana reforestasi hutan.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/47320\\\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Belajar dari Amerika Latin: Memanfaatkan regenerasi alami hutan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/47320\\\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/47320\\\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e\",\"name\":\"Kate Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g3f27c3c2db0b6432a0c0a78c2749a7a0\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Kate Evans\"},\"description\":\"Kate Evans is a freelance journalist originally from New Zealand. After studying journalism at the University of Sydney and international relations at the Australian National University, she worked as a multimedia journalist at the Australian Broadcasting Corporation for three years...and then ran off to West Africa armed with a video camera and a love of African dance. She is now a writer, filmmaker and photographer.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/kate-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/47320\\\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Belajar dari Amerika Latin: Memanfaatkan regenerasi alami hutan - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/47320\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Belajar dari Amerika Latin: Memanfaatkan regenerasi alami hutan","og_description":"Saat berpikir mengenai restorasi hutan, sebagian besar orang hanya berpikir soal menanam pohon. Tetapi untuk sampai pada tingkat yang diperlukan dalam mencapai target restorasi lahan global, biaya yang diperlukan terlampau tinggi \u2013 mulai dari membeli jutaan bibit hingga membayar orang untuk menanam dan memeliharanya. Namun, ada alternatif kuat dan berbiaya efektif: alam itu sendiri. Dalam [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/47320\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2016-12-19T08:00:42+00:00","article_modified_time":"2018-02-07T08:08:20+00:00","og_image":[{"width":500,"height":331,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/12\/6374374335_edb61de042.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Kate Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/47320\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/47320\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan"},"author":{"name":"Kate Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e"},"headline":"Belajar dari Amerika Latin: Memanfaatkan regenerasi alami hutan","datePublished":"2016-12-19T08:00:42+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:08:20+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/47320\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan"},"wordCount":886,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/47320\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/12\/6374374335_edb61de042.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Deforestation","Forests News"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/47320\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan#respond"]}],"copyrightYear":"2016","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/47320\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/47320\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan","name":"Belajar dari Amerika Latin: Memanfaatkan regenerasi alami hutan - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/47320\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/47320\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/12\/6374374335_edb61de042.jpg","datePublished":"2016-12-19T08:00:42+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:08:20+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/47320\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/47320\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/47320\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/12\/6374374335_edb61de042.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/12\/6374374335_edb61de042.jpg","width":500,"height":331,"caption":"Faktor regenerasi alami alam seringkali diabaikan dalam rencana reforestasi hutan."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/47320\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Belajar dari Amerika Latin: Memanfaatkan regenerasi alami hutan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/47320\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/47320\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e","name":"Kate Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g3f27c3c2db0b6432a0c0a78c2749a7a0","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g","caption":"Kate Evans"},"description":"Kate Evans is a freelance journalist originally from New Zealand. After studying journalism at the University of Sydney and international relations at the Australian National University, she worked as a multimedia journalist at the Australian Broadcasting Corporation for three years...and then ran off to West Africa armed with a video camera and a love of African dance. She is now a writer, filmmaker and photographer.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/kate-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/47320\/belajar-dari-amerika-latin-memanfaatkan-regenerasi-alami-hutan#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/12\/6374374335_edb61de042.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47320","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/63"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=47320"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47320\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/47328"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=47320"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=47320"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=47320"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=47320"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=47320"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=47320"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=47320"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=47320"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=47320"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=47320"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=47320"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=47320"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=47320"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}