{"id":46538,"date":"2016-11-12T13:00:02","date_gmt":"2016-11-12T06:00:02","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=46538"},"modified":"2018-02-07T15:15:49","modified_gmt":"2018-02-07T08:15:49","slug":"meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/46538\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh","title":{"rendered":"LAPORAN KHUSUS COP22: Meninjau kembali kebakaran lahan dan hutan di Marrakesh"},"content":{"rendered":"<p>Ketika para pemimpin dunia berkumpul untuk mendiskusikan prioritas aksi Perjanjian Paris pada COP22 Marrakesh, Indonesia menandai satu tahun krisis lingkungan yang menimbulkan akibat buruk bagi perubahan iklim dunia.<\/p>\n<p>Pada 2015,  api konversi lahan mengamuk di lahan gambut padat-karbon di beberapa provinsi di Indonesia, dan memicu krisis polusi udara lintas wilayah. Peneliti CIFOR menyimpulkan bahwa 884 juta ton karbon dioksida dilepaskan ke wilayah tersebut tahun lalu \u2013 97% berasal dari <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/42098\/on-land-and-in-space-understanding-the-impacts-of-fires?fnl=en\">kebakaran di Indonesia<\/a>. Emisi karbon terkait sebesar 289 juta ton, dan emisi karbon dioksida ekuivalen sebesar 1,2 miliar ton.<\/p>\n<p>Meski telah hampir setahun berlalu sejak krisis tersebut, kebakaran tetap berulang setiap tahun, kembali muncul bersama musim kering seperti putaran jam. Ada tahun-tahun yang lebih buruk, bergantung pada kondisi cuaca, ekonomi dan politik. Tahun 2016 bukan kekecualian. Api dan asap menyapu  Sumatera dan Kalimantan \u2013 meski tidak sebesar tahun lalu.<\/p>\n<p>Kebakaran 2015 mendorong Presiden Indonesia, Joko Widodo berjanji merestorasi dua juta hektare lahan gambut terdegradasi pada 2020 untuk mencegah kebakaran di masa depan. Sumber daya pemantauan dan pemadaman kebakaran kini digunakan secara lebih efektif memerangi api. Kelompok pemantau dan lembaga nirlaba juga mengawasi ketat pola kebakaran dan menuntut perusahaan-persuhaan melakukan praktik tata kelola lebih berkelanjutan.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Ini semua berita baik \u2013  namun menghadapi luasnya wilayah, seringkali terpencil, dan merasakan betapa sensitifnya masalah ini \u2013 bagaimana kita benar-benar tahu siapa yang mulai membakar?<\/p>\n<p><strong>Seperti menguliti bawang<\/strong><\/p>\n<p>Para ilmuwan dari <a href=\"\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR)<\/a> menyusun peta untuk menjawab pertanyaan itu dengan menganalisis lebih dari 160 konsesi sawit dan bubur kertas di Provinsi Riau, Sumatera, lokasi kebakaran parah hutan dan lahan gambut berulang. Mereka menemukan bahwa masalahnya tidak seperti garis lurus, dan menyadari bahwa praktik biasa menggabungkan peta konsesi dan titip api tidak menjelaskan seluruh cerita.<\/p>\n<p>\u201cKita punya asumsi bahwa perusahaan bertanggungjawab atas seluruh aktivitas dalam konsesinya, dan petani bertanggungjawab atas aktivitas di luarnya,\u201d kata Dr. David Gaveau, ilmuwan CIFOR. \u201cNamun faktanya, kebakaran lahan gambut bisa bermula dari luar dan menyebar ke dalam konsesi. Kebalikannya juga bisa terjadi.\u201d<\/p>\n\n<p><strong>Lahan siapa yang terbakar?<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/onlinelibrary.wiley.com\/doi\/10.1111\/conl.12256\/abstract\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Penelitian <\/a> menemukan bahwa terkait sawit, hutan industri terdeteksi berada di luar batas konsesi. Di wilayah utara Riau, lebih dari 28 persen dari total lahan yang dikuasai perkebunan sawit oleh perusahaan terdaftar ditemukan berada di luar batas konsesi legal. Padahal menurut ilmuwan CIFOR, Romain Pirard, perusahaan tidak boleh beroperasi di luar batas legalnya.<\/p>\n<p>\u201cIni estimasi konservatif, karena tidak memasukkan lahan tak tercatat yang dikuasai perkebunan skala menengah yang beroperasi seperti perusahaan, namun tanpa status perusahaan formal,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Menganalisa data 2013 dan 2014, ilmuwan juga menemukan bahwa sebagian besar kebakaran, yaitu mencapai 75 persen \u2013 tidak terjadi di hutan. Gumpalan api mengincar lahan terlantar \u2013 lahan gambut kosong yang ditutupi semak rentan api, paku-pakuan dan batang pohon mati. Sepuluh persen kebakaran terjadi di lahan tanam, seperti perkebunan akasia, dan 15 persen di hutan gambut terdegradasi akibat penebangan.<\/p>\n<p>Perkebunan yang berada dekat dengan lahan kosong berisiko terkena sambaran api, khususnya pada gambut kering di mana api mudah sekali menyebar tak terkendali di luar area pembakaran.<\/p>\n<p>\u201cPenelitian ini menunjukkan bahwa api yang keluar dari pembersihan lahan gambut menyebabkan kerugian finansial besar bagi investor perkebunan di dalam dan di luar konsesi,\u201d kata Gaveau.<\/p>\n<h5><em>Gambar bawah:\u00a0Wilayah penelitian 4,1 juta hektare di provinsi Riau Sumatera (lokasi lihat foto inset).\u00a0(a) 404.713 ha wilayah terbakar pada 2013 dan 2014 (merah) di lahan gambut (biru muda), di dalam (hitam) dan di luar konsesi bubur kertas dan sawit. (b) Lahan yang dikuasai konsesi bubur kertas (akasia). Gambar inset yang merupakan pembesaran citra LANDSAT (03 Nov 2014) menungkap kelompok lahan dengan bentuk tak-beraturan, berbagai ukuran, dan mengarah pada konsesi akasia. Pola spasial ini menunjukkan lahan yang dikuasai petani mandiri (baik yang telah ditanami atau masih dikembangkan). (c) Lahan yang dikuasai konsesi sawit. Dalam foto inset terlihat petak lahan mirip barisan di luar konsesi. Pola spasial ini menunjukkan lahan yang dikuasai perusahaan (baik telah ditanami atau tengah dibangun). <\/em><\/h5>\n<p><strong><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-46121 size-full\" src=\"\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/Figure1_300dpi_revised1-1.jpg\" alt=\"figure1_300dpi_revised1\" width=\"1100\" height=\"372\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/Figure1_300dpi_revised1-1.jpg 1100w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/Figure1_300dpi_revised1-1-566x191.jpg 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/Figure1_300dpi_revised1-1-768x260.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/Figure1_300dpi_revised1-1-832x281.jpg 832w\" sizes=\"auto, (max-width: 1100px) 100vw, 1100px\" \/><br \/>\n\u201cKami tidak memicu kebakaran\u201d<\/strong><\/p>\n<p>Pertanyaan siapa yang memicu kebakaran berubah menjadi saling lempar kesalahan, pemilik konsesi menuduh petani mandiri dan begitu pula kebalikannya.<\/p>\n<p>Penelitan menunjukkan, sekitar separuh kebakaran terjadi dalam konsesi milik perusahaan. Perusahaan mungkin melakukan pembakaran sebagai pencegahan \u2013 dengan membakar lahan yang sudah ditanami petani mandiri dalam upaya menguasai kembali wilayah sengketa.<\/p>\n<p>Para peneliti juga menemukan bahwa petani mandiri membakar dan menguasai lahan dalam area konsesi atau sepanjang batas konsesi di hampir seluruh wilayah penelitian. Meski penelitian tambahan diperlukan, hasil awal ini menunjukkan bahwa petani mandiri mungkin bertanggungjawab atas sebagian kebakaran yang terdeteksi dalam konsesi.<\/p>\n<p>Namun, tidak sepenuhnya jelas apa motivasi petani melakukan pembakaran \u2013 apakah mereka membakar lahan untuk kepentingan sendiri, disewa pemilik konsesi untuk membersihkan lahan, atau membakar untuk menyelesaikan sengketa.<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p>\u201cPerdebatan seputar siapa yang salah seringkali terjadi antara petani dan perusahaan besar,\u201d kata Rachel Carmenta, mitra postdoktoral CIFOR. \u201cMelalui penelitian kami, diketahui bahwa kita perlu lebih mengungkap keluasan tipologi tersebut. Para petani tidak lantas seragam.\u201d<\/p>\n<p>Penelitian juga menunjukkan kaitan antara lokasi kubah gambut di dalam konsesi dengan lokasi kejadian kebakaran di wilayah luarnya.<\/p>\n<p>\u201cFaktor penting lain dalam kompleksitas ini adalah biofisik \u2013 lebih dari 80 persen konsesi bubur kertas berlokasi dalam kubah gambut dan hampir 60 persen wilayah terbakar di luar konsesi terjadi dalam wilayah penyangga lima kilometer dekat perbatasan konsesi bubur kertas tersebut,\u201d kata Gaveau. \u201cHal ini menunjukkan gambut dalam yang mengering di konsesi bubur kertas meningkatkan peluang kebakaran yang dipicu di dekatnya.\u201d<\/p>\n<p>Secara bersama, hasil ini menunjukkan bahwa sebagian perusahaan, baik itu langsung atau tidak, bertanggungjawab atas kebakaran di luar konsesi. Seringkali, mereka tidak memiliki izin konsesi formal dari ibukota Jakarta, dan hanya mendapat lampu hijau dari pejabat lokal untuk beroperasi di lahan yang tidak diperuntukkan untuk pertanian.<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p>\u201cDi Indonesia, lebih penting mengetahui siapa yang menguasai lahan daripada siapa pemiliknya untuk mengetahui siapa yang bertanggungjawab,\u201d kata Pirard. \u201cIni bukan sekadar masalah pencatatan tenurial lahan, tetapi juga penegakkan hukum. Jadi masalahnya akan panjang.\u201d<\/p>\n<p><strong>Lihat sendiri<\/strong><\/p>\n<p>Indonesia kini berupaya keras mengurangi kebakaran dan deforestasi, namun gambaran lebih jelas kepemilikan dan kontrol atas petak lahan diperlukan agar upaya ini bisa efektif.<\/p>\n<p>Untuk saat ini satelit menjadi sumber informasi utama. Satelit menyediakan data hampir <em>real-time<\/em> yang dapat memantau komitmen pemilik konsesi untuk tidak membakar lahan. Tetapi, apakah ini cukup?<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>\u201cKami menemukan bahwa pemetaan terinci dari data satelit saja tidak mengungkap seluruh cerita. Kita perlu mengkombinasikan data satelit beresolusi tinggi dengan investigasi lapangan untuk memetakan kepemilikan de-fakto (legal dan ilegal), klaim dan sengketa lahan di dalam dan di luar konsesi,\u201d kata Gaveau.<\/p>\n<p>Ini pekerjaan besar. Jutaan petak lahan yang terlihat di satelit perlu diperiksa di lapangan untuk mengidentifikasi kepemilikannya, potensi klaim dan sengketa di wilayah-wilayah terpencil di garis depan yang terdampak kebakaran di Indonesia.<\/p>\n<p>Lebih dari itu, penyelidik di lapangan seringkali menghadapi risiko. Pada September, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melaporkan bahwa tujuh penyelidik mereka <a href=\"http:\/\/www.thejakartapost.com\/news\/2016\/09\/05\/palm-oil-firm-takes-officials-hostage-resists-law.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">diculik<\/a> dan diancam oleh ratusan orang yang diduga bagian asosiasi petani yang terkait dengan perusahaan sawit yang beroperasi di luar konsesi di provinsi Riau.<\/p>\n<figure id=\"attachment_46126\" aria-describedby=\"caption-attachment-46126\" style=\"width: 850px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-46126\" src=\"\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/PT_Andika-Permata-Sawit.jpg\" alt=\"pt_andika-permata-sawit\" width=\"850\" height=\"779\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/PT_Andika-Permata-Sawit.jpg 1100w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/PT_Andika-Permata-Sawit-437x400.jpg 437w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/PT_Andika-Permata-Sawit-768x704.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/PT_Andika-Permata-Sawit-453x415.jpg 453w\" sizes=\"auto, (max-width: 850px) 100vw, 850px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-46126\" class=\"wp-caption-text\">Location of the unregistered concession of PT. Andika Permata Sawit Lestari, where the kidnapping incident occurred.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Gaveau menyatakan aktivitas tersebut seharusnya berada di bawah \u2018Kebijakan Satu Peta\u2019 yang bertujuan menyatukan data pemanfaatan lahan, tenurial lahan dan data spasial lain ke dalam satu basis data yang akan mendasari kepemilikan legal lahan, tenurial lahan dan hak lahan.<\/p>\n<p>Indonesia meningkatkan upaya untuk dapat membawa perusahaan dan petani pemicu kebakaran ke pengadilan. Ratusan orang sudah ditahan karena memicu kebakaran, termasuk sejumlah orang yang terkait langsung dengan perusahaan. Tetapi sampai kita tahu siapa pemilik lahan tempat api dipicu, akan sangat sulit menunjuk secara tepat siapa yang bertanggungjawab atas seluruh kerusakan lingkungan, kesehatan masyarakat dan perubahan iklim global.<\/p>\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketika para pemimpin dunia berkumpul untuk mendiskusikan prioritas aksi Perjanjian Paris pada COP22 Marrakesh, Indonesia menandai satu tahun krisis lingkungan yang menimbulkan akibat buruk bagi perubahan iklim dunia. Pada 2015, api konversi lahan mengamuk di lahan gambut padat-karbon di beberapa provinsi di Indonesia, dan memicu krisis polusi udara lintas wilayah. Peneliti CIFOR menyimpulkan bahwa 884 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":214,"featured_media":46579,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":true,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,6090,1072,151],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[2500,2567,2721,2548,2680,2622,2538],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[6193],"class_list":["post-46538","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-forests-news","category-landscapes","category-redd-2","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-emisi-karbon","tag-bahasa-gas-rumah-kaca","tag-bahasa-indonesia","tag-bahasa-kebakaran-hutan","tag-bahasa-lahan-basah","tag-bahasa-lahan-gambut","tag-bahasa-target-pengurangan-emisi","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>LAPORAN KHUSUS COP22: Meninjau kembali kebakaran lahan dan hutan di Marrakesh - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/46538\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"LAPORAN KHUSUS COP22: Meninjau kembali kebakaran lahan dan hutan di Marrakesh\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Ketika para pemimpin dunia berkumpul untuk mendiskusikan prioritas aksi Perjanjian Paris pada COP22 Marrakesh, Indonesia menandai satu tahun krisis lingkungan yang menimbulkan akibat buruk bagi perubahan iklim dunia. Pada 2015, api konversi lahan mengamuk di lahan gambut padat-karbon di beberapa provinsi di Indonesia, dan memicu krisis polusi udara lintas wilayah. Peneliti CIFOR menyimpulkan bahwa 884 [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/46538\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2016-11-12T06:00:02+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-02-07T08:15:49+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/21730596023_a27b4dabaa.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"332\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Suzanna Dayne\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/46538\\\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/46538\\\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh\"},\"author\":{\"name\":\"Suzanna Dayne\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/58a733990351598cdbdb28584f5f3abd\"},\"headline\":\"LAPORAN KHUSUS COP22: Meninjau kembali kebakaran lahan dan hutan di Marrakesh\",\"datePublished\":\"2016-11-12T06:00:02+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:15:49+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/46538\\\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh\"},\"wordCount\":1242,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/46538\\\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/11\\\/21730596023_a27b4dabaa.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Forests News\",\"Landscapes\",\"REDD+\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/46538\\\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2016\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/46538\\\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/46538\\\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh\",\"name\":\"LAPORAN KHUSUS COP22: Meninjau kembali kebakaran lahan dan hutan di Marrakesh - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/46538\\\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/46538\\\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/11\\\/21730596023_a27b4dabaa.jpg\",\"datePublished\":\"2016-11-12T06:00:02+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:15:49+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/46538\\\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/46538\\\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/46538\\\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/11\\\/21730596023_a27b4dabaa.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/11\\\/21730596023_a27b4dabaa.jpg\",\"width\":500,\"height\":332},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/46538\\\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"LAPORAN KHUSUS COP22: Meninjau kembali kebakaran lahan dan hutan di Marrakesh\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/46538\\\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/46538\\\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/58a733990351598cdbdb28584f5f3abd\",\"name\":\"Suzanna Dayne\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c29181bddd0ffefe3699042513c74c7ab9ae0054fd6d5dfbfcd1fecf62127869?s=96&d=mm&r=g8f9b7cd57542c3c1abe44e5e11afc6e7\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c29181bddd0ffefe3699042513c74c7ab9ae0054fd6d5dfbfcd1fecf62127869?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c29181bddd0ffefe3699042513c74c7ab9ae0054fd6d5dfbfcd1fecf62127869?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Suzanna Dayne\"},\"description\":\"Suzanna Dayne is a communication consultant and writer\\\/producer. She currently works with UN agencies and non profits on issues linked to the SDGs, including the environment and climate change. She is a former writer\\\/producer for CNN International and international broadcaster for Voice of America radio.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/suzanna\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/46538\\\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"LAPORAN KHUSUS COP22: Meninjau kembali kebakaran lahan dan hutan di Marrakesh - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/46538\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"LAPORAN KHUSUS COP22: Meninjau kembali kebakaran lahan dan hutan di Marrakesh","og_description":"Ketika para pemimpin dunia berkumpul untuk mendiskusikan prioritas aksi Perjanjian Paris pada COP22 Marrakesh, Indonesia menandai satu tahun krisis lingkungan yang menimbulkan akibat buruk bagi perubahan iklim dunia. Pada 2015, api konversi lahan mengamuk di lahan gambut padat-karbon di beberapa provinsi di Indonesia, dan memicu krisis polusi udara lintas wilayah. Peneliti CIFOR menyimpulkan bahwa 884 [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/46538\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2016-11-12T06:00:02+00:00","article_modified_time":"2018-02-07T08:15:49+00:00","og_image":[{"width":500,"height":332,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/21730596023_a27b4dabaa.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Suzanna Dayne","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/46538\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/46538\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh"},"author":{"name":"Suzanna Dayne","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/58a733990351598cdbdb28584f5f3abd"},"headline":"LAPORAN KHUSUS COP22: Meninjau kembali kebakaran lahan dan hutan di Marrakesh","datePublished":"2016-11-12T06:00:02+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:15:49+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/46538\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh"},"wordCount":1242,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/46538\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/21730596023_a27b4dabaa.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Forests News","Landscapes","REDD+"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/46538\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh#respond"]}],"copyrightYear":"2016","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/46538\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/46538\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh","name":"LAPORAN KHUSUS COP22: Meninjau kembali kebakaran lahan dan hutan di Marrakesh - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/46538\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/46538\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/21730596023_a27b4dabaa.jpg","datePublished":"2016-11-12T06:00:02+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:15:49+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/46538\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/46538\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/46538\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/21730596023_a27b4dabaa.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/21730596023_a27b4dabaa.jpg","width":500,"height":332},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/46538\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"LAPORAN KHUSUS COP22: Meninjau kembali kebakaran lahan dan hutan di Marrakesh"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/46538\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/46538\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/58a733990351598cdbdb28584f5f3abd","name":"Suzanna Dayne","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c29181bddd0ffefe3699042513c74c7ab9ae0054fd6d5dfbfcd1fecf62127869?s=96&d=mm&r=g8f9b7cd57542c3c1abe44e5e11afc6e7","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c29181bddd0ffefe3699042513c74c7ab9ae0054fd6d5dfbfcd1fecf62127869?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c29181bddd0ffefe3699042513c74c7ab9ae0054fd6d5dfbfcd1fecf62127869?s=96&d=mm&r=g","caption":"Suzanna Dayne"},"description":"Suzanna Dayne is a communication consultant and writer\/producer. She currently works with UN agencies and non profits on issues linked to the SDGs, including the environment and climate change. She is a former writer\/producer for CNN International and international broadcaster for Voice of America radio.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/suzanna"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/46538\/meninjau-kembali-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-cop22-marrakesh#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/21730596023_a27b4dabaa.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46538","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/214"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46538"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46538\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46579"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46538"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46538"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46538"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=46538"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=46538"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=46538"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=46538"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=46538"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=46538"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=46538"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=46538"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=46538"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=46538"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}