{"id":45364,"date":"2016-10-25T12:00:18","date_gmt":"2016-10-25T05:00:18","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=45364"},"modified":"2018-02-07T15:18:14","modified_gmt":"2018-02-07T08:18:14","slug":"utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/45364\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi","title":{"rendered":"Ketahanan pangan: Utamakan kualitas, bukan kuantitas"},"content":{"rendered":"<p>Sebagian besar orang mungkin terkejut mengetahui bahwa <a href=\"https:\/\/foodfirst.org\/publication\/we-already-grow-enough-food-for-10-billion-people-and-still-cant-end-hunger\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">produksi pangan  global cukup untuk memberi makan 10 miliar orang.<\/a> Jumlah ini cukup untuk menyokong estimasi pertumbuhan populasi hingga 2050. Bagaimana mungkin kita memproduksi pangan untuk 10 miliar orang, namun masih perlu berjuang memberi makan 7 miliar populasi saat ini? Jelas sekali, kelaparan dunia disebabkan oleh kemiskinan dan ketidakadilan, bukan semata karena kekurangan produksi.<\/p>\n<p>Pekan lalu, masalah-masalah ini diungkapkan pada audiens global dalam sesi langsung Tanya-Jawab Twitter membahas keamanan dan keberlanjutan pangan dalam rangka Hari Pangan Dunia yang digelar oleh Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), bekerjasama dengan Kelompok Konsultasi Pusat Penelitian Pertanian Internasional (CGIAR).<\/p>\n<p>Sesi Twitter bertujuan memberi ruang bagi masyarakat mendiskusikan masalah dan bertanya secara langsung pada para pakar yang memiliki kapasitas menjawabnya. Terry Sunderland, ilmuwan terkemuka Bentang Alam Berkelanjutan dan Sistem Pangan CIFOR, bergabung dalam diskusi untuk menguji gagasan apakah kita perlu memproduksi lebih banyak pangan untuk mengimbangi meningkatnya konsumsi dan populasi.<\/p>\n<blockquote class=\"twitter-tweet\" data-lang=\"en\">\n<p dir=\"ltr\" lang=\"en\">Is production or demand the problem. Evidence suggests we currently grow enough food for 10 billion people: <a href=\"https:\/\/t.co\/0iTamh10qW\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">https:\/\/t.co\/0iTamh10qW<\/a> <a href=\"https:\/\/t.co\/atDR3aL4gj\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">https:\/\/t.co\/atDR3aL4gj<\/a><\/p>\n<p>\u2014 Terry Sunderland (@TCHSunderland) <a href=\"https:\/\/twitter.com\/TCHSunderland\/status\/786199634729324544\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">October 12, 2016<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><script async src=\"\/\/platform.twitter.com\/widgets.js\" charset=\"utf-8\"><\/script><\/p>\n<p><strong>Populasi dan produksi<\/strong><\/p>\n<p>Mengawali T&amp;J Twitter, CGIAR bertanya: \u201cBagaimana kita bisa meningkatkan produksi pangan secara berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang bertambah?\u201d Diskusi mengarah pada sebuah jawaban pendek: tidak bisa. Kita tidak hanya menghadapi masalah pertumbuhan penduduk, tetapi yang juga meningkat adalah konsumsi pada item sumberdaya intensif yang memerlukan produksi dalam proporsi yang besar. Penelitian menunjukkan bahwa <a href=\"http:\/\/www.who.int\/nutrition\/topics\/3_foodconsumption\/en\/index4.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">kebutuhan daging meningkat<\/a> sejalan dengan peningkatan penghasilan: ketika uang yang didapat mulai meningkat, orang mulai makan lebih banyak daging.<\/p>\n<blockquote class=\"twitter-tweet\" data-lang=\"en\">\n<p dir=\"ltr\" lang=\"en\">Q1: How can we sustainably increase food production to meet the demand of a growing population? <a href=\"https:\/\/twitter.com\/hashtag\/CGIARGoals?src=hash\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">#CGIARGoals<\/a><a href=\"https:\/\/twitter.com\/hashtag\/WorldFoodDay?src=hash\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">#WorldFoodDay<\/a> <a href=\"https:\/\/twitter.com\/hashtag\/WFD2016?src=hash\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">#WFD2016<\/a> <a href=\"https:\/\/t.co\/weThV5lCu7\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">pic.twitter.com\/weThV5lCu7<\/a><\/p>\n<p>\u2014 CGIAR (@CGIAR) <a href=\"https:\/\/twitter.com\/CGIAR\/status\/786190195012034560\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">October 12, 2016<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><script async src=\"\/\/platform.twitter.com\/widgets.js\" charset=\"utf-8\"><\/script><\/p>\n<p>Pesatnya pembangunan India dan China, diiring pergerakan menjauh dari menu sedikit daging atau atau vegetarian. Di dua negara paling banyak penduduknya ini mendekati tingkat konsumsi Barat. Hal ini berpotensi mendorong konsumsi dunia melampaui titik keberlanjutan dan menjauh dari catatan kesetaraan di masa lalu, bagi mereka yang tidak mampu bersaing dengan daya belanja Barat.<\/p>\n<p>Merujuk <a href=\"http:\/\/www.tandfonline.com\/doi\/full\/10.1080\/10440046.2012.695331\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">laporan yang dipubliasikan dalam the Journal of Sustainable Agriculture<\/a>, \u201cSejumlah besar hasil panen industrial disalurkan untuk biofuel dan pangan peternakan besar, daripada untuk memberi makan satu miliar manusia yang kelaparan. Seruan melipat gandakan produksi pangan pada 2050 hanya berlaku jika kita tetap memprioritaskan pertumbuhan ternak dan mobil di atas orang lapar.\u201d<\/p>\n<p>Fakta menyedihkannya adalah bahwa sebagian besar panen yang dihasilkan digunakan untuk biofuel dan produksi daging \u2013 hanya karena itu lebih menguntungkan daripada untuk pangan. Masalahnya kemudian, adalah bahwa orang yang berpenghasilan kurang dari 2 dolar per hari tidak mampu membeli hasil panen itu untuk pangan. Sementara realitas di negara paling maju dan paling kaya, harga produk tidak mencerminkan biaya asli pembuatan produk itu. Berita lebih buruknya adalah bahwa orang dari negara maju cukup beruntung untuk dapat dan akan mengalahkan pengeluaran keluarga desa yang tinggal dengan 2 dolar AS per hari tanpa mereka menyadarinya.<\/p>\n<blockquote class=\"twitter-tweet\" data-lang=\"en\">\n<p dir=\"ltr\" lang=\"en\">Be careful what you wish for. More income doesn&#8217;t mean better diets: <a href=\"https:\/\/t.co\/cUg7gV8hwE\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">https:\/\/t.co\/cUg7gV8hwE<\/a>. Also: <a href=\"https:\/\/t.co\/5hDDqlGzll\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">https:\/\/t.co\/5hDDqlGzll<\/a>. More to come. <a href=\"https:\/\/t.co\/atDR3aL4gj\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">https:\/\/t.co\/atDR3aL4gj<\/a><\/p>\n<p>\u2014 Terry Sunderland (@TCHSunderland) <a href=\"https:\/\/twitter.com\/TCHSunderland\/status\/786210784082743296\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">October 12, 2016<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><script async src=\"\/\/platform.twitter.com\/widgets.js\" charset=\"utf-8\"><\/script><\/p>\n<p>Masalahnya juga bukan hanya pada kuantitas pangan yang tersedia. <a href=\"http:\/\/glopan.org\/sites\/default\/files\/ForesightReport.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO)<\/a>, malnutrisi dialami sebanyak 2 miliar orang dibanding 1 miliar orang yang kelaparan. Tingkat obesitas terus meninggi di seluruh negara, sementara tingkat malnutrisi tidak cukup cepat menurun. Cara kita berpikir mengenai menu makanan harus berubah.<\/p>\n<blockquote class=\"twitter-tweet\" data-lang=\"en\">\n<p dir=\"ltr\" lang=\"en\">Let&#8217;s examine our food systems to look beyond calories and towards dietary diversity and better nutrition: <a href=\"https:\/\/t.co\/GoSgRmC3Bq\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">https:\/\/t.co\/GoSgRmC3Bq<\/a> <a href=\"https:\/\/t.co\/atDR3aL4gj\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">https:\/\/t.co\/atDR3aL4gj<\/a><\/p>\n<p>\u2014 Terry Sunderland (@TCHSunderland) <a href=\"https:\/\/twitter.com\/TCHSunderland\/status\/786204866238517248\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">October 12, 2016<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><script async src=\"\/\/platform.twitter.com\/widgets.js\" charset=\"utf-8\"><\/script><\/p>\n<p><strong>Kaitan hutan<\/strong><\/p>\n<p>Ilmuwan CIFOR Amy Ickowitz dan  Terry Sunderland tengah meneliti hubungan antara hutan dengan pola makan. <a href=\"http:\/\/journals.plos.org\/plosone\/article?id=10.1371%2Fjournal.pone.0154139\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Dalam laporan terbaru<\/a> mereka menunjukkan bahwa anak yang tinggal di masyarakat yang memiliki tutupan pohon lebih rapat memiliki menu makanan lebih beragam dibanding anak-anak yang di daerah tutupan pohon lebih sedikit. Masyarakat yang tinggal dekat hutan memiliki akses pada beragam buah, kacang dan daging yang dapat dicari atau diburu. Kondisi ini memberi alternatif pilihan menu dibanding dominasi tanaman pokok di tempat lain.<\/p>\n<blockquote class=\"twitter-tweet\" data-lang=\"en\">\n<p dir=\"ltr\" lang=\"en\">For World Food Day, CIFOR scientist Amy Ickowitz shares her views on why forests are important for nutrition. <a href=\"https:\/\/t.co\/8npVn94nKJ\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">https:\/\/t.co\/8npVn94nKJ<\/a> <a href=\"https:\/\/twitter.com\/CIFOR\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">@cifor<\/a><\/p>\n<p>\u2014 Terry Sunderland (@TCHSunderland) <a href=\"https:\/\/twitter.com\/TCHSunderland\/status\/788233405003542528\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">October 18, 2016<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><script async src=\"\/\/platform.twitter.com\/widgets.js\" charset=\"utf-8\"><\/script><\/p>\n<p><strong>Ruang perubahan<\/strong><\/p>\n<p>Selalu ada ruang perubahan yang dapat dilakukan setiap orang agar hidup lebih adil dan memilih gaya hidup lebih berkelanjutan. Berdasarkan <a href=\"http:\/\/www.unep.org\/resourcepanel\/Portals\/24102\/PDFs\/PriorityProductsAndMaterials_Report.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">sebuah laporan terbaru UNEP<\/a>  mengenai dampak lingkungan dari konsumsi dan produksi, PBB merekomendasikan kita semua harus bergerak menuju menu bebas daging dan olahan susu untuk meningkatkan kesetaraan akses pangan dan memerangi dampak perubahan iklim. Bagi sebagian orang upaya ini merupakan langkah besar. Namun, kita bisa pahami bahwa kebutuhan kita adalah suara kita; setiap pilihan kita untuk setiap pembelian, baik itu pangan, bahan bakar atau teknologi, adalah suara dukungan kita terhadap produk tersebut. Sederhananya, jika kita membeli, produsen akan terus membuatnya.<\/p>\n<p>Masalah utamanya adalah kurangnya kesadaran mengenai gaya hidup tidak berkelanjutan. Tidak banyak yang bisa dilakukan pengambil kebijakan dan pejabat pemerintah untuk mengurangi kebutuhan itu. Sejatinya, tanggungjawab ada pada setiap kita. Inilah mengapa perlu mendiskusikan masalah ini secara terbuka dan inklusif dalam media seperti Twitter dan Facebook. Media seperti ini dapat menjangkau lebih luas, tidak peduli dengan tempat mereka berada. Jika kita ingin mengubah pandangan dan perilaku masyarakat luas, media sosial memberi ruang bagi setiap orang berdiskusi secara terbuka mengenai kekhawatiran mereka dan bertanya secara langsung pada orang yang dapat menjawabnya.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, kekuatan untuk mengubah dunia dan memberi makan masyarakat yang lapar ada di tangan dan dompet kita \u2013 dan ruang perubahan itu mungkin ada di dunia daring.<\/p>\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagian besar orang mungkin terkejut mengetahui bahwa produksi pangan global cukup untuk memberi makan 10 miliar orang. Jumlah ini cukup untuk menyokong estimasi pertumbuhan populasi hingga 2050. Bagaimana mungkin kita memproduksi pangan untuk 10 miliar orang, namun masih perlu berjuang memberi makan 7 miliar populasi saat ini? Jelas sekali, kelaparan dunia disebabkan oleh kemiskinan dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":239,"featured_media":45367,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,188,180],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[2587,6660,2522,6737,6717,2550,2520,2590,2589,2530,2943],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3087],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[6718],"class_list":["post-45364","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-food-and-diets","category-mitigating-climate-change","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-bentang-alam","tag-bahasa-biofuel","tag-bahasa-deforestasi","tag-bahasa-hari-pangan-dunia","tag-bahasa-keragaman-nutrisi","tag-bahasa-ketahanan-pangan","tag-bahasa-konservasi","tag-bahasa-masyarakat-lokal","tag-bahasa-mata-pencaharian","tag-bahasa-pertumbuhan-ekonomi","tag-bahasa-terry-sunderland","type-bahasa-analisis"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Ketahanan pangan: Utamakan kualitas, bukan kuantitas - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/45364\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ketahanan pangan: Utamakan kualitas, bukan kuantitas\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Sebagian besar orang mungkin terkejut mengetahui bahwa produksi pangan global cukup untuk memberi makan 10 miliar orang. Jumlah ini cukup untuk menyokong estimasi pertumbuhan populasi hingga 2050. Bagaimana mungkin kita memproduksi pangan untuk 10 miliar orang, namun masih perlu berjuang memberi makan 7 miliar populasi saat ini? Jelas sekali, kelaparan dunia disebabkan oleh kemiskinan dan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/45364\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2016-10-25T05:00:18+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-02-07T08:18:14+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/6417314063_c5fc3f3cf9.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"333\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Charlie Nelson\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CDE_Nelson\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/45364\\\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/45364\\\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi\"},\"author\":{\"name\":\"Charlie Nelson\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/9cfc66b6da5e595d5d1b902b7d6e5ee9\"},\"headline\":\"Ketahanan pangan: Utamakan kualitas, bukan kuantitas\",\"datePublished\":\"2016-10-25T05:00:18+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:18:14+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/45364\\\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi\"},\"wordCount\":928,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/45364\\\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/10\\\/6417314063_c5fc3f3cf9.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Food &amp; diets\",\"Mitigation\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/45364\\\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2016\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/45364\\\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/45364\\\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi\",\"name\":\"Ketahanan pangan: Utamakan kualitas, bukan kuantitas - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/45364\\\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/45364\\\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/10\\\/6417314063_c5fc3f3cf9.jpg\",\"datePublished\":\"2016-10-25T05:00:18+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:18:14+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/45364\\\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/45364\\\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/45364\\\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/10\\\/6417314063_c5fc3f3cf9.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/10\\\/6417314063_c5fc3f3cf9.jpg\",\"width\":500,\"height\":333,\"caption\":\"Danau Sentarum mencukupi kebutuhan ikan masyarakat. Aksi tingkat lokal dapat berdampak pada masalah keamanan dan keberlanjutan pangan dunia.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/45364\\\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ketahanan pangan: Utamakan kualitas, bukan kuantitas\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/45364\\\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/45364\\\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/9cfc66b6da5e595d5d1b902b7d6e5ee9\",\"name\":\"Charlie Nelson\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/92d6e060994253348c73687fbedf07c626defc3fb3691194754408f8f4c4eb12?s=96&d=mm&r=g147fa7731e2d1c85e3b3898faf9c4dee\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/92d6e060994253348c73687fbedf07c626defc3fb3691194754408f8f4c4eb12?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/92d6e060994253348c73687fbedf07c626defc3fb3691194754408f8f4c4eb12?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Charlie Nelson\"},\"description\":\"Charlie was formerly the Social Media Coordinator for the Global Landscapes Forum and CIFOR between 2016 and 2019. In the past, Charlie he worked at the Delhi Sustainable Development Summit as a rapporteur coordinator and for The Energy and Resources Institute as a research assistant. He received his Bachelors degree in Environmental Science and Sustainability from the University of Glasgow.\",\"sameAs\":[\"http:\\\/\\\/\\\/\\\/www.cifor.org\\\/\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/@CDE_Nelson\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/charlie-nelson\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/45364\\\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ketahanan pangan: Utamakan kualitas, bukan kuantitas - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/45364\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Ketahanan pangan: Utamakan kualitas, bukan kuantitas","og_description":"Sebagian besar orang mungkin terkejut mengetahui bahwa produksi pangan global cukup untuk memberi makan 10 miliar orang. Jumlah ini cukup untuk menyokong estimasi pertumbuhan populasi hingga 2050. Bagaimana mungkin kita memproduksi pangan untuk 10 miliar orang, namun masih perlu berjuang memberi makan 7 miliar populasi saat ini? Jelas sekali, kelaparan dunia disebabkan oleh kemiskinan dan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/45364\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2016-10-25T05:00:18+00:00","article_modified_time":"2018-02-07T08:18:14+00:00","og_image":[{"width":500,"height":333,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/6417314063_c5fc3f3cf9.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Charlie Nelson","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CDE_Nelson","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/45364\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/45364\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi"},"author":{"name":"Charlie Nelson","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/9cfc66b6da5e595d5d1b902b7d6e5ee9"},"headline":"Ketahanan pangan: Utamakan kualitas, bukan kuantitas","datePublished":"2016-10-25T05:00:18+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:18:14+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/45364\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi"},"wordCount":928,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/45364\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/6417314063_c5fc3f3cf9.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Food &amp; diets","Mitigation"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/45364\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi#respond"]}],"copyrightYear":"2016","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/45364\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/45364\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi","name":"Ketahanan pangan: Utamakan kualitas, bukan kuantitas - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/45364\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/45364\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/6417314063_c5fc3f3cf9.jpg","datePublished":"2016-10-25T05:00:18+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:18:14+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/45364\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/45364\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/45364\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/6417314063_c5fc3f3cf9.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/6417314063_c5fc3f3cf9.jpg","width":500,"height":333,"caption":"Danau Sentarum mencukupi kebutuhan ikan masyarakat. Aksi tingkat lokal dapat berdampak pada masalah keamanan dan keberlanjutan pangan dunia."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/45364\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ketahanan pangan: Utamakan kualitas, bukan kuantitas"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/45364\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/45364\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/9cfc66b6da5e595d5d1b902b7d6e5ee9","name":"Charlie Nelson","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/92d6e060994253348c73687fbedf07c626defc3fb3691194754408f8f4c4eb12?s=96&d=mm&r=g147fa7731e2d1c85e3b3898faf9c4dee","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/92d6e060994253348c73687fbedf07c626defc3fb3691194754408f8f4c4eb12?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/92d6e060994253348c73687fbedf07c626defc3fb3691194754408f8f4c4eb12?s=96&d=mm&r=g","caption":"Charlie Nelson"},"description":"Charlie was formerly the Social Media Coordinator for the Global Landscapes Forum and CIFOR between 2016 and 2019. In the past, Charlie he worked at the Delhi Sustainable Development Summit as a rapporteur coordinator and for The Energy and Resources Institute as a research assistant. He received his Bachelors degree in Environmental Science and Sustainability from the University of Glasgow.","sameAs":["http:\/\/\/\/www.cifor.org\/","https:\/\/x.com\/@CDE_Nelson"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/charlie-nelson"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/45364\/utamakan-kualitas-bukan-kuantitas-untuk-perubahan-pola-pangan-dan-konsumsi#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/6417314063_c5fc3f3cf9.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45364","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/239"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=45364"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45364\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45367"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=45364"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=45364"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=45364"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=45364"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=45364"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=45364"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=45364"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=45364"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=45364"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=45364"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=45364"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=45364"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=45364"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}