{"id":42559,"date":"2016-08-09T12:00:43","date_gmt":"2016-08-09T05:00:43","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=42559"},"modified":"2018-02-07T15:20:31","modified_gmt":"2018-02-07T08:20:31","slug":"dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42559\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga","title":{"rendered":"Dampak bahan bakar kayu bagi lingkungan tidak seburuk yang diduga"},"content":{"rendered":"<p>Pepohonan yang tumbang dan digunakan sebagai bahan bakar merupakan praktik tradisional ribuan tahun, namun kini tengah mendapat kritikan dari para konservasionis. Riset terbaru dari <a href=\"\/\/www.cifor.org\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional<\/a> (CIFOR), dampak lingkungan dari kebutuhan bahan bakar kayu sesungguhnya perlu dipahami lebih baik sebelum kebijakan berkelanjutan diformulasikan dengan benar.<\/p>\n<p>\u201cKesimpulan umum bahwa bahan bakar kayu adalah penyebab utama deforestasi perlu ditinjau ulang mengingat situasi yang terjadi lebih kompleks,\u201d pendapat dari ilmuwan ICRAF, Phosiso Sola, yang berpartisipasi dalam penelitian tersebut.<\/p>\n<p>Secara global, pemanfaatan bahan bakar kayu memberi kontribusi signifikan terhadap aspek sosioekonomi, dengan lebih dari dua miliar masyarakat bergantung pada energi ini, demikian menurut <a href=\"http:\/\/www.fao.org\/home\/en\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa<\/a> (FAO). Contohnya, di Sub-Sahara Afrika (SSA), lebih dari 70 persen dari populasi masyarakat bergantung pada bahan bakar kayu untuk memasak dan menghangatkan rumah.<\/p>\n<p>Tetapi pemanfaatan sumber daya ini dianggap mengorbankan lingkungan dan kesehatan.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Pengambilan kayu untuk bahan bakar di SSA dinyatakan mengakibatkan deforestasi dan penggunaannya dianggap bertanggung jawab sebagai salah satu sumber emisi gas rumah kaca di wilayah ini. Lebih jauh lagi, polusi dari dalam rumah akibat kurang sempurnanya sistem operasi tungku dan buruknya ventilasi dapur diyakini menjadi penyebab utama penyakit pernafasan.<\/p>\n<p>Namun, di tengah sorotan ini, penelitian Sola dan rekan-rekannya menyatakan bahwa pemanfaatan kayu sebagai bahan bakar hanyalah satu dari banyak penyebab saling terkait kerusakan lingkungan.<\/p>\n<p>Setelah memeriksa kurang lebih 131 penelitian terdahulu, penelitian mereka menyimpulkan bahwa faktor kontekstual penelitian ini menghadapi persepsi bahwa deforestasi terutama terkait dengan terjadinya kebakaran semak, perambahan berlebihan dan penebangan, selain bahan bakar kayu.<\/p>\n<p>\u201cKenyataannya, ada pendapat bahwa ekspansi pertanian adalah faktor lebih besar, meski secara rumit terkait dengan penjualan kayu untuk bahan bakar yang menjadi resultannya,\u201d kata Sola.<\/p>\n<p>Salah satu tujuan penelitian adalah melakukan pemetaan sistematis yang menghitung dampak dari rantai nilai bahan bakar kayu secara sosioekonomi, kesehatan dan lingkungan di SSA. Walaupun menurut Sola, analisis lebih banyak diperlukan untuk mengungkap gambaran sesungguhnya tentang dampak bahan bakar kayu.<\/p>\n<p>\u201cKami menyatakan bahwa penelitian yang telah dipublikasikan sejauh ini belum cukup untuk memberi informasi yang cukup bagi pembuat kebijakan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>\u201cAnda menemukan bahwa sebagian besar laporan melihat faktor lingkungan dan membuat kesimpulan besar dari itu, atau faktor kesehatan dimana bahan bakar kayu menyebabkan gangguan pernafasan dan banyak yang berfokus pada aspek ekonomi. Tetapi kita tidak punya penelitian yang mencoba melihat seluruh masalah secara bersama dan, yang terpenting, terjadi imbal-balik di antara hal-hal tersebut.\u201d<\/p>\n<p>\u201cDan ini yang diperlukan \u2013 jadi kami merekomendasikan penelitian lebih besar dan lebih kuat untuk melihat secara benar masalah-masalah yang ada secara simultan. Selain itu, penting juga untuk melihat reliabilitas bukti yang dihasilkan \u2013 penelitian kuat yang dapat meningkatkan atribusi perubahan pada pemanfaatan bahan bakar kayu.<\/p>\n\n<p><strong>Kehutanan berbasis bukti <\/strong><\/p>\n<p>Proses kajian sistematis penelitian yang ada menjadi bagian dorongan lebih besar dalam sektor konservasi kehutanan untuk mendapatkan pendekatan yang berasal dari ilmu kesehatan.<\/p>\n<p>Pada 1970, seorang dokter Skotlandia bernama <a href=\"http:\/\/www.ncbi.nlm.nih.gov\/pubmed\/11146263\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Archie Cochrane<\/a> mempublikasikan makalah yang mengkritisi kurangnya percobaan terkontrol yang menjadi alasan pemanfaatan praktik medis yang diasumsikan efektif.<\/p>\n<p>Karyanya mengarah pada terbentuknya Perpustakaan Cochrane \u2013 koleksi kajian sistematis penelitian medis \u2013 dan <a href=\"http:\/\/www.cochrane.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">proyek lain<\/a> yang menguatkan apa yang kemudian disebut sebagai \u201cpendekatan berbasis bukti\u201d.<\/p>\n<p>Empat dekade kemudian, \u201c<a href=\"http:\/\/www1.cifor.org\/ebf\/reviews.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">kehutanan berbasis bukti<\/a>\u201d adalah sintesis lintas sektor terbaru dari metode ini, sebuah upaya memperkuat fondasi ilmu lingkungan, dan implikasi kebijakan berkelanjutan.<\/p>\n<p>Menurut Paolo Cerutti, yang terlibat sebagai penulis dalam penelitian ini, hal tersebut bisa dipahami sebagai bentuk \u201cpenghancuran mitos\u201d<\/p>\n<p>\u201cSelama beberapa dekade, banyak yang telah ditulis soal \u2018krisis\u2019 lingkungan bahwa pemanfaatan skala kecil hutan bagi kebutuhan energi merupakan penyebab,\u201d katanya. \u201cSementara yang membawa dampak, di banyak area mungkin malah lebih berkelanjutan dari yang sebelumnya dipikirkan.\u201d<\/p>\n<p>\u201cTentu saja, poin utamanya adalah diperlukan bukti untuk mendukung cerita tersebut.\u201d<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Bermitra dengan <a href=\"https:\/\/www.gov.uk\/government\/organisations\/department-for-international-development\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Departemen Pembangunan Internasional Kerajaan Inggris (DFID)<\/a>, CIFOR melakukan sejumlah kajian sistematis sebagai bagian dari <a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/4342\/the-evidence-based-forestry-initiative\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Inisiatif Kehutanan Berbasis Bukti<\/a>, termasuk penelitian bahan bakar kayu yang dilakukan oleh Cerutti dan Sola.<\/p>\n<p>Sifat multi-dimensi kehutanan berbasis bukti \u2013 yang melihat secara simultan faktor sosio ekonomi, kesehatan dan lingkungan \u2013 menyokong praktik \u201ckehutanan sosial\u201d; di mana keterlibatan masyarakat yang bergantung pada hutan bagi penghidupan lebih disarankan dibandingkan pantangan umum pengambilan kayu untuk keperluan energi, atau penebangan, atau praktik merusak lainnya.<\/p>\n<p>\u201cDalam soal ini, kini kami melihat secara holistik penilaian ulang mengenai apa yang dianggap sebagai berkelanjutan,\u201d kata Cerutti.<\/p>\n<p>Topik ini telah ditampilkan dalam acara diskusi \u201c<a href=\"http:\/\/www.fao.org\/about\/meetings\/cofo\/programme\/en\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Menghijaukan Rantai Nilai Bahan Bakar Kayu<\/a>\u201d yang digelar CIFOR pada <a href=\"http:\/\/www.fao.org\/about\/meetings\/cofo\/en\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Komite mengenai Kehutanan (COFO) Pekan Hutan Dunia<\/a>, 18-22 Juli, di Roma.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pepohonan yang tumbang dan digunakan sebagai bahan bakar merupakan praktik tradisional ribuan tahun, namun kini tengah mendapat kritikan dari para konservasionis. Riset terbaru dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), dampak lingkungan dari kebutuhan bahan bakar kayu sesungguhnya perlu dipahami lebih baik sebelum kebijakan berkelanjutan diformulasikan dengan benar. \u201cKesimpulan umum bahwa bahan bakar kayu adalah penyebab [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":182,"featured_media":42560,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,182,161,1072,184],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[6590,2522,2567,2590,2663],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[2078],"class_list":["post-42559","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-community-forestry","category-deforestation","category-landscapes","category-value-chains-finance","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-bahan-bakar-kayu","tag-bahasa-deforestasi","tag-bahasa-gas-rumah-kaca","tag-bahasa-masyarakat-lokal","tag-bahasa-pembangunan-berkelanjutan","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Dampak bahan bakar kayu bagi lingkungan tidak seburuk yang diduga - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42559\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Dampak bahan bakar kayu bagi lingkungan tidak seburuk yang diduga\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Pepohonan yang tumbang dan digunakan sebagai bahan bakar merupakan praktik tradisional ribuan tahun, namun kini tengah mendapat kritikan dari para konservasionis. Riset terbaru dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), dampak lingkungan dari kebutuhan bahan bakar kayu sesungguhnya perlu dipahami lebih baik sebelum kebijakan berkelanjutan diformulasikan dengan benar. \u201cKesimpulan umum bahwa bahan bakar kayu adalah penyebab [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42559\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2016-08-09T05:00:43+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-02-07T08:20:31+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/5593844193_52d5897ef1-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"334\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Jack Hewson\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@jack_s_hewson\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42559\\\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42559\\\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga\"},\"author\":{\"name\":\"Jack Hewson\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/3a64a92c6a0f90742c52e31196d3bd78\"},\"headline\":\"Dampak bahan bakar kayu bagi lingkungan tidak seburuk yang diduga\",\"datePublished\":\"2016-08-09T05:00:43+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:20:31+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42559\\\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga\"},\"wordCount\":730,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42559\\\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/08\\\/5593844193_52d5897ef1-1.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Community forestry\",\"Deforestation\",\"Landscapes\",\"Value chains &amp; finance\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42559\\\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2016\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42559\\\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42559\\\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga\",\"name\":\"Dampak bahan bakar kayu bagi lingkungan tidak seburuk yang diduga - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42559\\\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42559\\\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/08\\\/5593844193_52d5897ef1-1.jpg\",\"datePublished\":\"2016-08-09T05:00:43+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:20:31+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42559\\\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42559\\\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42559\\\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/08\\\/5593844193_52d5897ef1-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/08\\\/5593844193_52d5897ef1-1.jpg\",\"width\":500,\"height\":334,\"caption\":\"Bahan bakar kayu masih digunakan oleh banyak penduduk di pedesaan.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42559\\\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Dampak bahan bakar kayu bagi lingkungan tidak seburuk yang diduga\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42559\\\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42559\\\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/3a64a92c6a0f90742c52e31196d3bd78\",\"name\":\"Jack Hewson\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/3baba62d79359dcb0cdf81cd0611fca07997b4c843f360a1434f51ba644473c5?s=96&d=mm&r=gbf00a2bf5110f830d8c59b9822f45205\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/3baba62d79359dcb0cdf81cd0611fca07997b4c843f360a1434f51ba644473c5?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/3baba62d79359dcb0cdf81cd0611fca07997b4c843f360a1434f51ba644473c5?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Jack Hewson\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/x.com\\\/@jack_s_hewson\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/jackhewson\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42559\\\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Dampak bahan bakar kayu bagi lingkungan tidak seburuk yang diduga - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42559\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Dampak bahan bakar kayu bagi lingkungan tidak seburuk yang diduga","og_description":"Pepohonan yang tumbang dan digunakan sebagai bahan bakar merupakan praktik tradisional ribuan tahun, namun kini tengah mendapat kritikan dari para konservasionis. Riset terbaru dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), dampak lingkungan dari kebutuhan bahan bakar kayu sesungguhnya perlu dipahami lebih baik sebelum kebijakan berkelanjutan diformulasikan dengan benar. \u201cKesimpulan umum bahwa bahan bakar kayu adalah penyebab [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42559\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2016-08-09T05:00:43+00:00","article_modified_time":"2018-02-07T08:20:31+00:00","og_image":[{"width":500,"height":334,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/5593844193_52d5897ef1-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Jack Hewson","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@jack_s_hewson","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42559\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42559\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga"},"author":{"name":"Jack Hewson","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/3a64a92c6a0f90742c52e31196d3bd78"},"headline":"Dampak bahan bakar kayu bagi lingkungan tidak seburuk yang diduga","datePublished":"2016-08-09T05:00:43+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:20:31+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42559\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga"},"wordCount":730,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42559\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/5593844193_52d5897ef1-1.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Community forestry","Deforestation","Landscapes","Value chains &amp; finance"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42559\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga#respond"]}],"copyrightYear":"2016","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42559\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42559\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga","name":"Dampak bahan bakar kayu bagi lingkungan tidak seburuk yang diduga - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42559\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42559\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/5593844193_52d5897ef1-1.jpg","datePublished":"2016-08-09T05:00:43+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:20:31+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42559\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42559\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42559\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/5593844193_52d5897ef1-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/5593844193_52d5897ef1-1.jpg","width":500,"height":334,"caption":"Bahan bakar kayu masih digunakan oleh banyak penduduk di pedesaan."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42559\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Dampak bahan bakar kayu bagi lingkungan tidak seburuk yang diduga"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42559\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42559\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/3a64a92c6a0f90742c52e31196d3bd78","name":"Jack Hewson","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/3baba62d79359dcb0cdf81cd0611fca07997b4c843f360a1434f51ba644473c5?s=96&d=mm&r=gbf00a2bf5110f830d8c59b9822f45205","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/3baba62d79359dcb0cdf81cd0611fca07997b4c843f360a1434f51ba644473c5?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/3baba62d79359dcb0cdf81cd0611fca07997b4c843f360a1434f51ba644473c5?s=96&d=mm&r=g","caption":"Jack Hewson"},"sameAs":["https:\/\/x.com\/@jack_s_hewson"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/jackhewson"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42559\/dampak-bahan-bakar-kayu-bagi-lingkungan-tidak-seburuk-yang-diduga#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/5593844193_52d5897ef1-1.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42559","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/182"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42559"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42559\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/42560"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42559"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42559"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42559"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=42559"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=42559"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=42559"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=42559"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=42559"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=42559"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=42559"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=42559"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=42559"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=42559"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}