{"id":42368,"date":"2016-07-22T02:00:32","date_gmt":"2016-07-21T19:00:32","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=42368"},"modified":"2018-02-07T15:20:37","modified_gmt":"2018-02-07T08:20:37","slug":"langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42368\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak","title":{"rendered":"Langkah mundur kesetaraan jender: dampak sawit pada perempuan Dayak"},"content":{"rendered":"<p>Pe Ligit* menyaksikan perubahan besar dalam hidupnya, ketika gelombang migrasi, penebangan dan pembangunan sawit mengubah Kalimantan, Indonesia. Pada usia 65 tahun, perempuan Dayak ini tinggal di Long Segar, Kalimantan Timur sejak masih anak-anak.<\/p>\n<p>\u201cSaya dan saudara laki-laki dibawa dengan keranjang besar ketika pindah ke sini,\u201d katanya. \u201cKami menggunakan perahu&#8230; kemudian berjalan sepanjang sungai untuk tiba di tempat ini.\u201d<\/p>\n<p>Saat itu masih hutan tropis. Tidak ada jalan, dan perlu dua hari berperahu dari ibukota provinsi, Samarinda. Ayah Pe Ligit membersihkan lahan untuk menanam padi, mendirikan rumah, dan membantu membangun masyarakat. Mereka hidup dari pertanian \u2013 dan dari hutan, berburu, memancing, serta mengumpulkan rotan dan bambu.<\/p>\n<p>Long Segar tidak berubah banyak ketika pada 1970 antropologis Carol Corfer, kini mitra senior <a href=\"\/\/www.cifor.org\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR)<\/a>, pertama kali masuk ke masyarakat itu untuk meneliti interaksi antara masyarakat dan hutan di Kalimantan. Hal pertama yang ia catat adalah hubungan antara laki-laki dan perempuan \u2013 lebih egaliter dibanding sebagian Amerika Utara pada saat itu.<\/p>\n<p>\u201cSeberapa banyak orang dalam keluarga dan bagaimana pengaruhnya lebih menjadi soal kepribadian daripada jender,\u201d katanya. \u201cLelaki sangat terbuka terlibat dalam pembicaraan domestik \u2013 mereka memang tidak mencuci pakaian dalam perempuan tetapi tetap saja mencuci pakaian.\u201d<\/p>\n\n<p>\u201cSetiap orang mengasuh anak-anak \u2013 perempuan melakukan lebih, tetapi tidak ada alasan bahwa ini pekerjaan perempuan dan bukan lelaki. Jadi ini melegakan buat saya!\u201d<\/p>\n<p>Kedua jender bekerja di sawah, kata Colfer, tetapi dipandang sebagai profesi utama perempuan. Perempuan seperti Pe Ligit, pada waktu gadis diajarkan bahwa peran utama hidupnya adalah menghasilkan beras.<\/p>\n<p>\u201cHal ini penting bagi citra perempuan itu sendiri, dan mereka bangga kemampuan itu,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Di sisi lain, lelaki fokus berburu, memancing dan kerja berupah, dan beranjak dewasa mereka berharap melakukan \u201cekspedisi\u201d, atau bekerja selama beberapa tahun jauh dari masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cMereka kembali dari perjalanan tersebut dan punya sesuatu untuk diceritakan, orang-orang berkumpul mendengarkan \u2013 itu bagian utama identitas lelaki, atau itulah setidaknya,\u201d kata Colfer.<\/p>\n<p>Colfer kembali ke Long Segar beberapa kali dalam dua dekade berikutnya, dan menjejak perubahan masyarakat ketika penebangan dan perusahaan tanaman industri masuk, selain juga pemerintah Indonesia menempatkan puluhan ribu \u2018transmigran\u2019 Jawa di sekitarnya. Pendatang baru ini punya gagasan sangat berbeda soal jender.<\/p>\n<p>\u201cMereka berpikir bahwa lelaki harus menjadi kepala keluarga, dan berbicara hanya pada kepala keluarga, bukan pada perempuan \u2013 kecuali mencoba mengajak tidur, karena kemerdekaan perempuan Dayak membuat orang luar berpikir mereka liar, dibanding perempuan dari kelompok etnis lain,\u201d kata Colfer.<\/p>\n<p>\u201cMereka berpikir Dayak itu liar, terbelakang, bodoh, menggunakan sihir, bahkan punya buntut \u2013 ini stereotip sangat buruk mengenai Dayak.\u201d<\/p>\n<p>Aktivitas perempuan mulai dibatasi karena khawatir pelecehan pihak luar. Colfer menilai hal ini dan kuatnya narasi baru mengenai jender mulai mengubah masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cAda misionaris masuk dan memberi kuliah, orang pemerintah, orang industri, program televisi, semuanya membawa ide baru bahwa lelaki harus bekerja dan perempuan tinggal di rumah,\u201d kata Colfer.<\/p>\n<p>\u201cSaya tidak berpikir orang harus menerima begitu saja, tetapi saya takut tekanan dari pihak luar memberi efek buruk.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p><strong>SETELAH GELOMBANG<\/strong><\/p>\n<p>Pada awal 2000, ketika Colfer melakukan perjalanan terakhir ke desa itu, banyak ketakutannya terwujud. Tetapi pada 2004, gelombang besar sawit yang membelah Kalimantan mencapai Long Segar.<\/p>\n<p>Ketika Rebecca Elmhirst dari Universitas Brighton menawarkan penelitian  kembali ke masyarakat itu untuk menilai dampak pembangunan sawit terhadap jender, Colfer menyambut peluang untuk terlibat walaupun ia tidak bisa secara personal kembali ke Kalimantan.<\/p>\n<p>\u201cSaya sangat penasaran dan sangat khawatir, karena berbagai tekanan pada masyarakat \u2013 penebangan, tanaman industri, transmigrasi, kemudian sawit \u2013 mengurangi akses lahan mereka dan, saya curiga, mendorong semua gagasan gila soal jender,\u201d kata Colfer.<\/p>\n<p>Pada 2014, Elmhirst dan Mia Siscawati dari Universitas Indonesia, bersama dengan asisten peneliti dari Kalimantan Timur menginap selama dua pekan di Long Segar, melakukan penelitian yang kemudian menjadi bagian buku yang dipublikasikan CIFOR: <a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/6077\/gender-and-forests-climate-change-tenure-value-chains-and-emerging-issues\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Jender dan Hutan.<\/a><\/p>\n<p>\u201cBagi saya, hal menakjubkan adalah pergi ke sebuah tempat yang telah banyak saya baca dari laporan Carol,\u201d katanya. \u201cKami benar-benar memanfatkan fakta bahwa kami memiliki kekayaan data etnografis yang dirangkai Carol bertahun-tahun, yang dapat kami manfaatkan sebagai basis dasar, atau sebagai cara interpretasi beberapa hal yang kami lihat hari ini.\u201d<\/p>\n<p>Tim Elmhirst mewawancarai individu dan menggelar diskusi kelompok terfokus, tidak hanya mengingat, tetapi juga mengangkat konsep baru jender yang belum terbentuk saat penelitian Colfer.<\/p>\n\n<p>\u201cKami ingin coba membangun gambaran bernuansa mengenai dampak sawit dari banyak cerita sebelumnya, yang cenderung memberi gambaran seragam wanita sebagai korban. Hal ini tidak lantas benar buat saya, sesuai analisis awal Carol mengenai posisi perempuan di Long Segar. Kami juga tertarik melihat apakah ada keragaman pengalaman, berdasar pada pemahaman mengenai bagaimana jender berperan sangat berbeda di tempat berbeda, serta bagaimana jender bekerja terkait etnisitas, usia, kelas sosial, dengan sejarah tiap tempat tertentu.<\/p>\n<p>Elhmirst <a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/6094\/revisiting-gender-and-forestry-in-long-segar-east-kalimantan-indonesia-oil-palm-and-divided-aspirations\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">menemukan<\/a> bahwa \u201cbanyak norma jender yang diidentifikasi Colfer pada 1980-an tetap resilien berhadapan dengan perubahan bentang alam skala besar. Sentralitas budidaya padi masih menjadi pilar penting, tidak hanya bagi ketahanan pangan rumah tangga tetapi bagi identitas keperempuanan di masyarakat.\u201d<\/p>\n<p>Mengingat padi menjadi penghasilan kurang diandalkan, Pe Ligit, seperti juga perempuan Long Segar lain, kini melakukan pekerjaan berupah di perkebunan sawit. Tetapi tarikan tradisi masih kuat. Banyak perempuan menjalani \u2018tiga shift\u2019, bekerja untuk upah di pagi hari, di sawah serta rumah pada siang hari. Seringkali mereka meninggalkan kerja berupah ketika banyak yang perlu dikerjakan di sawah.<\/p>\n<p>\u201cSaya tidak ingin mengolah sawah, tetapi ketika melihat orang melakukannya, jadi tidak enak (jika tidak ikut),\u201d kata Pe Ligit.<\/p>\n<p>Salah satu perubahan kunci yang diamati Elmhirst adalah sawah di dekat desa diambil alih oleh sawit. Mereka kini bergantung pada sepeda motor untuk mencapai sawah yang jauh, dan karena sulitnya medan dan beratnya sepeda motor, perempuan lebih tua seperti Pe Ligit, yang dulu mandiri, kini perlu bergantung pada lelaki untuk mengantar mereka.<\/p>\n<p>Perempuan muda, seperti Hero (20 tahun), memiliki aspirasi berbeda. Ia membantu orangtuanya di sawah ketika masih kecil, tetapi kemudian sekolah menjadi prioritas. Seperti banyak rekan sebaya, ia ingin menjadi pegawai negeri atau bekerja di kantor perusahaan perkebunan.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>\u201cPerempuan lebih muda makin kurang terlibat di sawah, dan banyak tekanan agar mereka mengikuti pendidikan formal, jadi mendaftar sekolah makin penting,\u201d kata Elmhirst. \u201cIni juga yang mulai dilihat Carol ketika ia meneliti, tetapi makin besar saat ini.\u201d<\/p>\n<p>\u201cAnda bisa berpikir itu hal yang bagus, dan sepertinya dapat menjauhkan perempuan dari situasi tidak sehat jender (seperti pelecehan seksual orang luar) dan aspirasi mereka untuk tidak berurusan dengan tekanan yang ada secara lokal.\u201d<\/p>\n<p>Berada di sekolah berarti para gadis tidak belajar secara khusus pengetahuan budidaya padi \u2013 dan faktanya, sangat terbatas peluang bagi pemuda berpendidikan di Long Segar.<\/p>\n<p>\u201cApa yang akan mereka lakukan ketika kembali dari pendidikan SMA? Nyatanya tidak banyak kerja kantoran.\u201d<\/p>\n<p><strong>RAKUS LAHAN<\/strong><\/p>\n<p>Ada tekanan lain di Long Segar. Penelitian Elmhirst menemukan bahwa kedatangan sawit meningkatkan ketidakadilan sosial di masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cSawit tampak sangat transformatif dibanding apa yang tidak bisa dilakukan penebangan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Meskipun kayu-kayu telah hilang, orang Dayak tetap dapat memanfaatkan hutan untuk mengumpulkan produk hutan dan berburu. Meski sistem pencaharian terganggu, mereka tidak tersingkir sepenuhnya. Cara sawit diperkenalkan \u2013 menggunduli hutan dan menanami persawahan \u2013 sangat berbeda.<\/p>\n<p>\u201cSawit rakus lahan \u2013 orang bilang seperti itu,\u201d kata Elmhirst.<\/p>\n<p>Sementara apa manfaat keberadaan sawit tidak secara adil terdistribusikan.<\/p>\n<p>Pe Ligit adalah salah satu yang tertinggal. \u201cSaya punya sepetak lahan, dan perusahaan menyewanya,\u201d katanya. \u201cTetapi mereka tidak memberi saya kompensasi sedikitpun.\u201d<\/p>\n<p>\u201cSaya menangis saat itu. Saya tidak dilibatkan dalam negosiasi. Saya sangat sedih&#8230; sebagian orang dapat uang, tetapi saya tidak. Orang pertama yang melangkah ke tanah ini adalah kakak dan ayah saya, tetapi saya tidak mendapat apapun.\u201d<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p>Jurang antara yang lebih baik dan lebih buruk di masyarakat melebar, kata Elmhirst.<\/p>\n<p>\u201cIni cerita klasik nyata penguasaan, ketika perjanjian dibuat oleh orang tertentu di masyarakat dengan perkebunan dan ini tidak bermanfaat bagi mayoritas masyarakat,\u201d katanya. \u201cSangat memecah belah.\u201d<\/p>\n<p>\u201cCarol Colfer masih merasa ada hubungan dengan tempat yang lama ia tinggali untuk meneliti. Ia masih berhubungan dengan beberapa orang di Long Segar melalui Facebook \u2013 seperti banyak orang Indonesia lain, mereka punya telepon pintar.<\/p>\n<p>\u201cOrang berubah, ini bukan berarti akhir dunia jika mereka tidak seperti biasanya,\u201d katanya. \u201cHanya sedikit sedih melihat ini dijejalkan ke tenggorokan orang, khususnya ketika sesuatu jadi kurang adil dibanding sebelumnya.\u201d<\/p>\n<p>*Nama telah diganti.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pe Ligit* menyaksikan perubahan besar dalam hidupnya, ketika gelombang migrasi, penebangan dan pembangunan sawit mengubah Kalimantan, Indonesia. Pada usia 65 tahun, perempuan Dayak ini tinggal di Long Segar, Kalimantan Timur sejak masih anak-anak. \u201cSaya dan saudara laki-laki dibawa dengan keranjang besar ketika pindah ke sini,\u201d katanya. \u201cKami menggunakan perahu&#8230; kemudian berjalan sepanjang sungai untuk tiba [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":63,"featured_media":42370,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,161,173],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[2887,6582,2560,2767,2616,6585,6586,2530,6583,6584,6587],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[545],"class_list":["post-42368","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-deforestation","category-gender-justice-tenure","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-carol-colfer","tag-bahasa-gender","tag-bahasa-jender","tag-bahasa-kalimantan-timur","tag-bahasa-kelapa-sawit","tag-bahasa-long-segar","tag-bahasa-mia-siscawati","tag-bahasa-pertumbuhan-ekonomi","tag-bahasa-rebecca-elmhirst","tag-bahasa-universitas-brighton","tag-bahasa-universitas-indonesia","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Langkah mundur kesetaraan jender: dampak sawit pada perempuan Dayak - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42368\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Langkah mundur kesetaraan jender: dampak sawit pada perempuan Dayak\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Pe Ligit* menyaksikan perubahan besar dalam hidupnya, ketika gelombang migrasi, penebangan dan pembangunan sawit mengubah Kalimantan, Indonesia. Pada usia 65 tahun, perempuan Dayak ini tinggal di Long Segar, Kalimantan Timur sejak masih anak-anak. \u201cSaya dan saudara laki-laki dibawa dengan keranjang besar ketika pindah ke sini,\u201d katanya. \u201cKami menggunakan perahu&#8230; kemudian berjalan sepanjang sungai untuk tiba [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42368\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2016-07-21T19:00:32+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-02-07T08:20:37+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/07\/6417389071_c95f48b2dd.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"333\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Kate Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42368\\\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42368\\\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak\"},\"author\":{\"name\":\"Kate Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e\"},\"headline\":\"Langkah mundur kesetaraan jender: dampak sawit pada perempuan Dayak\",\"datePublished\":\"2016-07-21T19:00:32+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:20:37+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42368\\\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak\"},\"wordCount\":1324,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42368\\\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/07\\\/6417389071_c95f48b2dd.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Deforestation\",\"Gender, justice &amp; tenure\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42368\\\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2016\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42368\\\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42368\\\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak\",\"name\":\"Langkah mundur kesetaraan jender: dampak sawit pada perempuan Dayak - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42368\\\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42368\\\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/07\\\/6417389071_c95f48b2dd.jpg\",\"datePublished\":\"2016-07-21T19:00:32+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:20:37+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42368\\\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42368\\\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42368\\\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/07\\\/6417389071_c95f48b2dd.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/07\\\/6417389071_c95f48b2dd.jpg\",\"width\":500,\"height\":333,\"caption\":\"Norma tradisionl egaliter jender di Kalimantan Timur mulai berubah dalam dekade terakhir.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42368\\\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Langkah mundur kesetaraan jender: dampak sawit pada perempuan Dayak\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42368\\\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42368\\\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e\",\"name\":\"Kate Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g3f27c3c2db0b6432a0c0a78c2749a7a0\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Kate Evans\"},\"description\":\"Kate Evans is a freelance journalist originally from New Zealand. After studying journalism at the University of Sydney and international relations at the Australian National University, she worked as a multimedia journalist at the Australian Broadcasting Corporation for three years...and then ran off to West Africa armed with a video camera and a love of African dance. She is now a writer, filmmaker and photographer.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/kate-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/42368\\\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Langkah mundur kesetaraan jender: dampak sawit pada perempuan Dayak - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42368\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Langkah mundur kesetaraan jender: dampak sawit pada perempuan Dayak","og_description":"Pe Ligit* menyaksikan perubahan besar dalam hidupnya, ketika gelombang migrasi, penebangan dan pembangunan sawit mengubah Kalimantan, Indonesia. Pada usia 65 tahun, perempuan Dayak ini tinggal di Long Segar, Kalimantan Timur sejak masih anak-anak. \u201cSaya dan saudara laki-laki dibawa dengan keranjang besar ketika pindah ke sini,\u201d katanya. \u201cKami menggunakan perahu&#8230; kemudian berjalan sepanjang sungai untuk tiba [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42368\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2016-07-21T19:00:32+00:00","article_modified_time":"2018-02-07T08:20:37+00:00","og_image":[{"width":500,"height":333,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/07\/6417389071_c95f48b2dd.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Kate Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42368\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42368\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak"},"author":{"name":"Kate Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e"},"headline":"Langkah mundur kesetaraan jender: dampak sawit pada perempuan Dayak","datePublished":"2016-07-21T19:00:32+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:20:37+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42368\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak"},"wordCount":1324,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42368\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/07\/6417389071_c95f48b2dd.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Deforestation","Gender, justice &amp; tenure"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42368\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak#respond"]}],"copyrightYear":"2016","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42368\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42368\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak","name":"Langkah mundur kesetaraan jender: dampak sawit pada perempuan Dayak - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42368\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42368\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/07\/6417389071_c95f48b2dd.jpg","datePublished":"2016-07-21T19:00:32+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:20:37+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42368\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42368\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42368\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/07\/6417389071_c95f48b2dd.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/07\/6417389071_c95f48b2dd.jpg","width":500,"height":333,"caption":"Norma tradisionl egaliter jender di Kalimantan Timur mulai berubah dalam dekade terakhir."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42368\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Langkah mundur kesetaraan jender: dampak sawit pada perempuan Dayak"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42368\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42368\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e","name":"Kate Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g3f27c3c2db0b6432a0c0a78c2749a7a0","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g","caption":"Kate Evans"},"description":"Kate Evans is a freelance journalist originally from New Zealand. After studying journalism at the University of Sydney and international relations at the Australian National University, she worked as a multimedia journalist at the Australian Broadcasting Corporation for three years...and then ran off to West Africa armed with a video camera and a love of African dance. She is now a writer, filmmaker and photographer.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/kate-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/42368\/langkah-mundur-kesetaraan-jender-dampak-sawit-pada-perempuan-dayak#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/07\/6417389071_c95f48b2dd.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42368","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/63"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42368"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42368\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/42370"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42368"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42368"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42368"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=42368"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=42368"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=42368"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=42368"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=42368"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=42368"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=42368"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=42368"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=42368"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=42368"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}