{"id":41667,"date":"2016-05-27T09:30:11","date_gmt":"2016-05-27T02:30:11","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=41667"},"modified":"2018-02-07T15:20:44","modified_gmt":"2018-02-07T08:20:44","slug":"siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/41667\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd","title":{"rendered":"Siapa sesungguhnya menanggung biaya REDD+?"},"content":{"rendered":"<p>Lembaga pemerintahan lokal dan pusat dalam yurisdiksi di mana REDD+ (reduksi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan) diimplementasikan menanggung beban finansial, demikian menurut penelitian <a href=\"\/\/www.cifor.org\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR)<\/a>, yang dapat mengancam kelayakan perluasan skema ini di tahun-tahun mendatang. \u201cIni salah satu penelitian pertama yang mengidentifikasi lembaga dan aktor yang menanggung biaya inisiatif REDD+ sub-nasional di wilayah tropis. Ini benar-benar uji kenyataan,\u201d kata Cecilia Lutrell, mitra senior CIFOR sebaligus penulis utama makalah ini.<\/p>\n<p>\u201cBanyak inisiatif REDD+ bergerak di bawah asumsi bahwa biaya menurunkan deforestasi akan tertutupi dana dari masyarakat internasional dan bahwa REDD+ akan menghasilkan surplus yang bisa dibagi antar beragam pemangku kepentingan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Satu temuan mengejutkan adalah bahwa 84% lembaga sub-nasional pemerintah yang terlibat dalam inisiatif REDD+ mengeluarkan lebih daripada apa yang mereka dapat dari REDD+.<\/p>\n<p>\u201cMereka mungkin melakukan ini karena mencoba memposisikan diri untuk  menangkap aliran pendanaan masa depan REDD+ atau karena mereka mengakui manfaat lokal konservasi hutan,\u201d kata Luttrell.<\/p>\n<p>\u201cTetapi dalam jangka pendek mereka menanggung biaya nyata.\u201d<\/p>\n<p>Penelitian ini hadir pada saat tepat bagi pendanaan berbasis hasil ini \u2013 perunding iklim akan segera berkumpul di Bonn, Jerman, untuk mulai menetapkan landasan kerja eksekusi perjanjian Paris.<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p>Dana Iklim Hijau diharapkan memberi pendanaan utama bagi REDD+. Satu pertanyaan kunci yang dihadapi desain Dana adalah bagaimana harga karbon seharusnya ditetapkan. \u201cJika biaya REDD+ dipandang enteng, maka ada risiko satuan harga untuk karbon tidak menutupi seluruh biaya nyatanya,\u201d kata Luttrel.<\/p>\n<p>Tujuan utama REDD+ adalah menyediakan insentif positif ekonomi pada masyarakat di negara berkembang untuk melindungi hutan dan oleh karena itu mengurangi emisi gas rumah kaca. Salah satu <a href=\"http:\/\/mudancasclimaticas.cptec.inpe.br\/%7Ermclima\/pdfs\/destaques\/sternreview_report_complete.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">asumsi kunci<\/a> REDD+ adalah bahwa reduksi emisi karbon dari deforestasi lebih murah daripada reduksi emisi dari sektor lain, seperti transportasi dan produksi energi.<\/p>\n<p>Estimasi <a href=\"http:\/\/www.mckinsey.com\/%7E\/media\/mckinsey\/dotcom\/client_service\/sustainability\/cost%20curve%20pdfs\/pathways_lowcarbon_economy_version2.ashx\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">biaya REDD+ <\/a>telah lama <a href=\"http:\/\/www.illegal-logging.info\/sites\/default\/files\/uploads\/McReddEnglish.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">dikritik<\/a> karena mengeluarkan biaya transaksi dan implementasi serta <a href=\"http:\/\/pubs.iied.org\/pdfs\/G02489.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">menilai rendah aktivitas pasar informal<\/a> seperti mata pencaharian pertanian.<\/p>\n<div class=\"extra-box right\">\n<p><strong>Selalu tiga<\/strong><\/p>\n<p>Total biaya sebuah negara menghindari deforestasi dan degradasi bisa dibagi menjadi tiga: peluang, transaksi dan biaya implementasi.<\/p>\n<p><strong>Biaya peluang<\/strong> REDD+ adalah keuntungan yang didapat dari melindungi hutan. Misalnya, sebuah keluarga yang menjual arang untuk pencaharian akan kehilangan pendapatan jika proyek REDD+ menghentikan mereka dari mengambil kayu untuk produksi arang. Mengetahui biaya ini penting untuk menghitung pendapatan REDD+ yang perlu disediakan agar pengguna lahan secara sukarela menghentikan deforestasi. Biasanya ini dihitung dalam dolar AS per hektare.<\/p>\n<p><strong>Biaya implementasi<\/strong> REDD+ adalah biaya yang ditelan ketika mengawali dan menjalankan proyek REDD+, termasuk biaya administratif dan operasional. Misalnya, lokakarya dan konsultasi masyarakat dalam membangun konsensus bagaimana lahan dimanfaatkan memerlukan biaya gaji dan transportasi. Biaya implementasi telah diabaikan atau terlalu disederhanakan dalam diskusi kebijakan karena ketidakpastian desain REDD+ menyulitkan estimasi.<\/p>\n<p><strong>Biaya transaksi<\/strong> REDD+ adalah biaya partisipasi di pasar karbon. Biaya ini mencakup negosiasi dan penegakkan kontrak legal, pemantauan dan verifikasi simpanan karbon, serta mendapatkan sertifikasi. Biaya transaksi tampak paling menantang untuk estimasi.\n<\/div>\n<p>\u201cSiapa menanggung biaya REDD+?\u201d adalah pertanyaan penting dalam <a href=\"\/\/www.cifor.org\/knowledge-tree\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">pohon pengetahuan bagi-manfaat REDD+<\/a>, yang bertujuan membantu pengambil kebijakan memahami potensi dampak keputusan mereka dalam membagi manfaat REDD+.<\/p>\n<p>Luttrell dan mitra CIFOR lainnya menganalisis inisiatif subnasional REDD+ sejak 2009 sebagai bagian dari <a href=\"\/\/www.cifor.org\/gcs\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Penelitian Komparatif Global mengenai REDD+<\/a>. Berulangkali mereka mendengar kekhawatiran mengenai biaya REDD+ dan siapa yang menanggung biaya tersebut<\/p>\n<p>\u201cOrang takut kelompok marjinal, seperti petani kecil yang tidak punya lahan sendiri, tidak sepenuhnya terkompensasi untuk biaya yang mereka tanggung,\u201d kata Erin Sills, profesor Universitas Negeri Carolina Utara sekaligus penulis utama laporan yang akan segera dipublikasikan.<\/p>\n<p>\u201cKetakuan lain adalah REDD+ akan menjadi mandat tak-berbayar untuk lembaga negara REDD+, yang akan menanggung biaya substansial tak terakui dan tak terkompensasikan.<\/p>\n<p>\u201cKami ingin tahu apakah ketakutan tersebut benar-benar ada.\u201d<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p><strong>SIAPA PENANGUNG TERBERAT BIAYA IMPLEMENTASI?<\/strong><\/p>\n<p>Untuk menentukan siapa penanggung terberat biaya implementasi, para peneliti menanyai 22 <a href=\"\/\/www.cifor.org\/gcs\/modules\/redd-subnational-initiatives\/methods\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">inisiatif subnasional REDD+<\/a> untuk menyusun daftar institusi yang memiliki kontrol setidaknya 5% dari total anggaran inisiatif, atau menghabiskan sedikitnya lima hari dalam sebulan untuk implementasi.<\/p>\n<p>\u201cDari inisiatif yang ada terdapat 139 institusi dalam daftar tersebut. Sebanyak 60 adalah organisasi masyarakat sipil, 54 insitutsi pemerintah, dan hanya 10 perusahaan swasta yang menangguk untung,\u201d kata Sill, mitra senior CIFOR.\u2019<\/p>\n<p>Informan kunci tiap inisiatif mengkategorikan institusi menjadi tiga kelompok:<\/p>\n<ol>\n<li>Institusi yang biayanya ditutupi penuh (atau berpotensi surplus) oleh anggaran inisiatif REDD+<\/li>\n<li>Institusi yang biayanya tertutupi sebagaian<\/li>\n<li>Institusi dengan ragam peran yang tertutupi sebagian maupun menerima surplus<\/li>\n<\/ol>\n<p>Menggali lebih dalam, mereka menemukan beberapa dasar sorotan biaya implementasi REDD+ jatuh pada institusi negara berkembang, khususnya pemerintah lokal dan regional. Pertama, tidak ada institusi pemerintah terlibat dalam implementasi iniisiatif REDD+ yang menjual kredit karbon. Kedua, inisiatif REDD+ gagal atau kedaluwarsa, lebih dari sepertiga institusi implementasi pemerintah. Ketiga, kurang dari seperempat institusi pemerintah terlibat dalam implementasi REDD+ tertutup biayanya dari pendanaan REDD+.<\/p>\n<p>\u201cIni tampaknya bertentangan dengan ekspektasi REDD+ yang akan menghasilkan manfaat untuk dapat dibagi,\u201d kata Sills.<\/p>\n<p>\u201cJumlah tersebut menyatakan bahwa sangat sedikit klaim aktor atau persepsi menguntungkan secara finansial dari REDD+ saat ini.\u201d<\/p>\n<p>Malahan, dalam upaya awal menggulirkan REDD+ di lapangan, tampak bahwa tantangannya adalah menutupi biaya, bukan memutuskan membagi surplus.<\/p>\n<p>Temuan ini diketahui dengan baik oleh Rob Dodson. Rob mengepalai Operasi Lapangan Afrika untuk <a href=\"http:\/\/wildlifeworks.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Wildlife Works<\/a> \u2013 sebuah perusahaan swasta yang mengimplementasikan  proyek REDD+ di seluruh dunia.<\/p>\n\n<p>\u201cBiaya awal proyek tersebut jelas faktor pembatas,\u201d katanya. \u201cKami hanya bisa menjaga srigala jauh dari pintu, dan meskipun kami mungkin proyek terdanai lebih baik. Kami benar-benar berjuang.\u201d<\/p>\n<p><strong>SIAPA PALING TERDAMPAK BIAYA PELUANG?<\/strong><\/p>\n<p>Peneliti kemudian memeeriksa pemanfaatan lahan yang bisa terhalangi oleh REDD+, serta kelompok pemangku kepentingan yang paling terdampak pembatasan itu.<\/p>\n<p>\u201cDari inisiatif yang kami kaji, pertanian dan peternakan adalah aktivitas terpenting yang akan terdampak implementasi REDD+, dalam hal keuntungan finansial serta jumlah orang terdampak,\u201d kata Luttrell.<\/p>\n<p>Banyak perhitungan biaya peluang mengasumsikan bahwa masyarakat lokal akan memiliki keamanan tenurial lahan dengan definisi jelas dan penegakkan hak kepemilikan.<\/p>\n<p>\u201cIni asumsi besar,\u201d kata Luttrell, \u201cdan bisa berarti Anda tidak paham biaya peluang sebenarnya bagi masyarakat lokal yang terlibat dalam aktivitas tradisional yang tidak secara formal diakui hukum.\u201d<\/p>\n<p>Untuk lebih memahami ini, mereka mengklasifikasi apakah tiap kelompok pemangku kepentingan terdampak beroperasi secara legal atau ilegal dalam hal tenurial.<\/p>\n<p>Mereka menemukan bahwa pengguna lahan dari sejumlah besar orang cenderung ilegal atau tidak jelas legalitasnya: hanya enam lokasi REDD+ yang pengguna lahannya legal.<\/p>\n\n<p>\u201cMungkin yang lebih mengejutkan, lebih dari separuh lokasi, para pengguna lahan yang paling menguntungkan beraa pada tenurial ilegal atau tidak jelas legalitasnya.<\/p>\n<p>Hal ini memantik pertanyaan siapa yang memiliki legitimasi mengklaim pendapatan REDD+: perlukah pengguna hutan ilegal didaftarkan mendapat manfaat?<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lembaga pemerintahan lokal dan pusat dalam yurisdiksi di mana REDD+ (reduksi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan) diimplementasikan menanggung beban finansial, demikian menurut penelitian Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), yang dapat mengancam kelayakan perluasan skema ini di tahun-tahun mendatang. \u201cIni salah satu penelitian pertama yang mengidentifikasi lembaga dan aktor yang menanggung biaya inisiatif REDD+ sub-nasional [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":41671,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_hide_featured_image":false,"_jetpack_featured_image_duplicate_dismissed":0,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,151,184],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[3634,2522,2523,2539,4778,6516,6517,2819,6518,6520,2562,6519],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[199],"class_list":["post-41667","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-redd-2","category-value-chains-finance","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-cecilia-luttrell","tag-bahasa-deforestasi","tag-bahasa-degradasi","tag-bahasa-emisi","tag-bahasa-erin-sills","tag-bahasa-green-climate-fund","tag-bahasa-north-carolina-state-university","tag-bahasa-redd","tag-bahasa-rob-dodson","tag-bahasa-stok-karbon","tag-bahasa-studi-komparatif-global","tag-bahasa-wildlife-works","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.8 (Yoast SEO v28.8) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Siapa sesungguhnya menanggung biaya REDD+? - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/41667\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Siapa sesungguhnya menanggung biaya REDD+?\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Lembaga pemerintahan lokal dan pusat dalam yurisdiksi di mana REDD+ (reduksi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan) diimplementasikan menanggung beban finansial, demikian menurut penelitian Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), yang dapat mengancam kelayakan perluasan skema ini di tahun-tahun mendatang. \u201cIni salah satu penelitian pertama yang mengidentifikasi lembaga dan aktor yang menanggung biaya inisiatif REDD+ sub-nasional [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/41667\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2016-05-27T02:30:11+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-02-07T08:20:44+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/05\/moneytree.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"640\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"449\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Michelle Kovacevic\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@kovamic\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/41667\\\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/41667\\\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd\"},\"author\":{\"name\":\"Michelle Kovacevic\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/ea3bb60d30245a7892854e6208008e10\"},\"headline\":\"Siapa sesungguhnya menanggung biaya REDD+?\",\"datePublished\":\"2016-05-27T02:30:11+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:20:44+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/41667\\\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd\"},\"wordCount\":1047,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/41667\\\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/05\\\/moneytree.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"REDD+\",\"Value chains &amp; finance\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/41667\\\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2016\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/41667\\\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/41667\\\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd\",\"name\":\"Siapa sesungguhnya menanggung biaya REDD+? - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/41667\\\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/41667\\\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/05\\\/moneytree.jpg\",\"datePublished\":\"2016-05-27T02:30:11+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:20:44+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/41667\\\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/41667\\\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/41667\\\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/05\\\/moneytree.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/05\\\/moneytree.jpg\",\"width\":640,\"height\":449,\"caption\":\"Biaya pelaksanaan REDD+ di lapangan mungkin jatuh jadi beban lokal.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/41667\\\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Siapa sesungguhnya menanggung biaya REDD+?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/41667\\\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/41667\\\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/ea3bb60d30245a7892854e6208008e10\",\"name\":\"Michelle Kovacevic\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bdd27143b32a221f7b8765de66dc686f70ed015e690112d4588896301cf8e684?s=96&d=mm&r=gf09723b4498b0f4039b2359ebc29f05c\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bdd27143b32a221f7b8765de66dc686f70ed015e690112d4588896301cf8e684?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bdd27143b32a221f7b8765de66dc686f70ed015e690112d4588896301cf8e684?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Michelle Kovacevic\"},\"description\":\"Michelle is a science\u00a0communicator with an honours degree in neuroscience from the University of Melbourne, Australia. She has experience across many science communication platforms including magazines, radio, presenting (to students, policymakers and practitioners), corporate PR, academia and capacity building. She was formerly editor of Forests News and social media coordinator.\",\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/x.com\\\/@kovamic\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/michelle-kovacevic\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/41667\\\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Siapa sesungguhnya menanggung biaya REDD+? - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/41667\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Siapa sesungguhnya menanggung biaya REDD+?","og_description":"Lembaga pemerintahan lokal dan pusat dalam yurisdiksi di mana REDD+ (reduksi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan) diimplementasikan menanggung beban finansial, demikian menurut penelitian Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), yang dapat mengancam kelayakan perluasan skema ini di tahun-tahun mendatang. \u201cIni salah satu penelitian pertama yang mengidentifikasi lembaga dan aktor yang menanggung biaya inisiatif REDD+ sub-nasional [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/41667\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2016-05-27T02:30:11+00:00","article_modified_time":"2018-02-07T08:20:44+00:00","og_image":[{"width":640,"height":449,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/05\/moneytree.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Michelle Kovacevic","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@kovamic","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/41667\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/41667\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd"},"author":{"name":"Michelle Kovacevic","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/ea3bb60d30245a7892854e6208008e10"},"headline":"Siapa sesungguhnya menanggung biaya REDD+?","datePublished":"2016-05-27T02:30:11+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:20:44+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/41667\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd"},"wordCount":1047,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/41667\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/05\/moneytree.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","REDD+","Value chains &amp; finance"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/41667\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd#respond"]}],"copyrightYear":"2016","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/41667\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/41667\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd","name":"Siapa sesungguhnya menanggung biaya REDD+? - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/41667\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/41667\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/05\/moneytree.jpg","datePublished":"2016-05-27T02:30:11+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:20:44+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/41667\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/41667\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/41667\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/05\/moneytree.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/05\/moneytree.jpg","width":640,"height":449,"caption":"Biaya pelaksanaan REDD+ di lapangan mungkin jatuh jadi beban lokal."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/41667\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Siapa sesungguhnya menanggung biaya REDD+?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/41667\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/41667\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/ea3bb60d30245a7892854e6208008e10","name":"Michelle Kovacevic","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bdd27143b32a221f7b8765de66dc686f70ed015e690112d4588896301cf8e684?s=96&d=mm&r=gf09723b4498b0f4039b2359ebc29f05c","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bdd27143b32a221f7b8765de66dc686f70ed015e690112d4588896301cf8e684?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bdd27143b32a221f7b8765de66dc686f70ed015e690112d4588896301cf8e684?s=96&d=mm&r=g","caption":"Michelle Kovacevic"},"description":"Michelle is a science\u00a0communicator with an honours degree in neuroscience from the University of Melbourne, Australia. She has experience across many science communication platforms including magazines, radio, presenting (to students, policymakers and practitioners), corporate PR, academia and capacity building. She was formerly editor of Forests News and social media coordinator.","sameAs":["https:\/\/x.com\/@kovamic"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/michelle-kovacevic"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/41667\/siapa-sesungguhnya-menanggung-biaya-redd#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/05\/moneytree.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41667","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41667"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41667\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/41671"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41667"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41667"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41667"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=41667"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=41667"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=41667"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=41667"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=41667"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=41667"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=41667"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=41667"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=41667"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=41667"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}