{"id":40246,"date":"2016-02-24T12:32:55","date_gmt":"2016-02-24T05:32:55","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=40246"},"modified":"2018-02-07T15:29:50","modified_gmt":"2018-02-07T08:29:50","slug":"menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/40246\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia","title":{"rendered":"Menjawab tantangan REDD+ di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>Setelah REDD+ disepakati pada <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/39224\/kesepakatan-paris-meski-tidak-sempurna-tapi-ini-pencapaian-terbaik?fnl=id\">Konferensi Iklim Paris,<\/a> Indonesia melangkah cepat inisiatif ini diterapkan sepenuhnya di lapangan.<\/p>\n<p>\u201cKita tidak lagi berbicara soal tantangan atau peluang (REDD+). Tetapi, kini kita berbicara bagaimana menjawab tantangan,\u201d kata Nur Masripatin, Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pada Festival Iklim di Jakarta awal Februari 2016.<\/p>\n<p>Sejak tahun 2000 Indonesia telah mendorong agenda REDD+, sejak masih bernama RED hingga sekarang berproses menambahkan \u2018D\u2019 untuk degradasi lahan dan \u2018+\u2019. Tercatat hingga saat ini, terdapat 17 keputusan COP yang dapat diterjemahkan menjadi kebijakan nasional di negara-negara yang mengadopsi skema REDD+.<\/p>\n<p>Di tingkat nasional, pengembangan REDD+ dalam hal institusionalisasi, pembuatan kebijakan, dan aktivitas di lapangan sangatlah dinamis.<\/p>\n<p>Sebelum dilebur dan menjadi bagian Kementerian Lingkungan dan Kehutanan (KLHK), Indonesia membentuk lembaga REDD+ yang juga menjadi bagian kesepakatan bilateral dengan Norwegia.<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p>Dengan usia yang terbilang singkat, kurang dari setahun, Satuan Tugas Persiapan Kelembagaan REDD+ (Satgas REDD+) berhasil memfasilitasi enam provinsi percontohan yang rentan kebakaran hutan dan lahan, termasuk membentuk Strategi Nasional REDD+ dan penegakkan hukum.<\/p>\n<p>\u201cProyek REDD+ sangat beragam, dari skala, lingkup aktivitas, metodologi, asumsi karbon, dan banyak yang perlu dicatat lagi. Kami perlu mengidentifikasi beberapa fokus pada Tahap 2 (kesepakatan dengan Norwegia) pada 2013 dan kami perlu mengkaji lagi mana yang berjalan dan mana yang tidak,\u201d kata Masripatin.<\/p>\n<p>Ia menyatakan bahwa penundaan pengembangan REDD+ terjadi karena perubahan politik, khususnya penggabungan kementerian lingkungan hidup dan kehutanan.<\/p>\n<p>\u201cDengan integrasi ini, kami hanya baru mulai proses operasional pada 1 Juni 2015. Kami (Indonesia dan Norwegia) sepakat tahap transisi hingga pertengahan tahun,\u201d katanya seraya menambahkan target tenggat waktu 2018 untuk implementasi penuh REDD+.<\/p>\n<div class='short-image short-image--left'>\n\t\t\t\t<a class='fancybox-image GTMshortImage' href='' target='_self'>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__thumb'>\n\t\t\t\t\t\t<img src='' width='260'>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__type'><h3><\/h3><\/div>\n\t\t\t\t\t<div class='short-image__title'><h4><\/h4><\/div>\n\t\t\t\t<\/a>\n\t\t\t<\/div>\n<p>Sebagai tambahan, ia menyatakan program REDD+ akan juga mencakup mata pencaharian dan peningkatan kapasitas.<\/p>\n<p>\u201cKini digabung program pembendungan kanal, pembasahan kembali lahan gambut dengan penghidupan dan peningkatan kapasitas dengan harapan hal ini dapat langgeng,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Daniel Murdiyarso, ilmuwan utama <a href=\"\/\/www.cifor.org\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR)<\/a>, menyatakan bahwa tantangan masa depan REDD+ adalah seputar tenurial, berupa <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/29029\/menghitung-mundur-konferensi-paris-10-isu-iklim-terkait-hutan-dan-tata-guna-lahan?fnl=id\">tenurial lahan<\/a>, tenurial pohon dan tenurial karbon yang perlu diatasi.<\/p>\n<p>\u201cJika seseorang mengelola lahan, menanam pohon dan memelihara lahan gambut yang bukan miliknya tetapi memberi jasa lingkungan, bagaimana kita dapat mengakui peran dan memberikan penghargaan (atas tindakan) tersebut. Belum ada mekanisme dan terjadi kebingungan di tingkat nasional,\u201d kata Murdiyarso.<\/p>\n<p>Lebih jauh, ia mengatakan bahwa tiap-tiap lokasi memiliki tantangan berbeda, seperti pembendungan kanal, desa hijau, dan desa bebas kebakaran.<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p>\u201cBagian menarik dari aktivitas ini adalah (mereka) berbasis proyek yang seringkali melupakan tunjuan lebih besar aktivitas yang bukan hanya karbon. Bisa beragam dan (karbon) mungkin menjadi prioritas akhir,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Sementara, Abdon Nababan, Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), mengingatkan akan tuntutan \u201cTidak Ada Hak Tidak Ada REDD\u2019 dari masyarakat adat sebagai syarat skema ini dapat diterima.<\/p>\n<p>\u201c(Mengakui) hak masyarakat adat adalah dasar mendukung REDD karena mereka lah tulang punggung implementasi REDD+,\u201d kata Nababan. \u201cBerbicara mengenai masalah lingkungan, pembangunan berkelanjutan maka masyarakat adat adalah solusinya karena mereka ingin melindungi lingkungan.\u201d<\/p>\n<p>Lebih jauh, ia menyatakan bahwa masyarakat adat memiliki pengetahuan untuk melindungi dan menjaga wilayah mereka dengan hukum adat, lembaga adat, dan sistem tenurial yang berbeda dengan sistem Barat.<\/p>\n<p>\u201cMasyarakat adat menerapkan kepemilikan komunal, mereka tidak mengerti hal milik properti. Anda hanya punya hak atas lahan ketika mati. Ini mengapa disebut \u2018tanah leluhur\u2019,\u201d katanya menambahkan bahwa sistem ini dirusak oleh sistem sertifikasi lahan.<\/p>\n\n<p>Selama lima tahun terakhir, AMAN juga melakukan kesiapan REDD+ mandiri dengan memetakan lahan adat di negara ini dan juga berkontribusi menyerap emisi gas rumah kaca.<\/p>\n<p>\u201cDari 84 juta hektare (lahan adat), jika masyarakat adat diperkuat, maka 32,7 Gigatons CO2 dicegah untuk teremisi,\u201d katanya. \u201cArtinya bahwa kontribusi masyarakat adat mencegah pemanasan global sangat potensial.\u201d<\/p>\n<p>Sebagai tambahan, AMAN telah melakukan peningkatan kapasitas masyarakat adat dalam mendapatkan sumber ekonomi alternatif, merehabilitasi area mereka, dan mengubah hutan adat sebagai pembibitan untuk menyediakan bibit murah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setelah REDD+ disepakati pada Konferensi Iklim Paris, Indonesia melangkah cepat inisiatif ini diterapkan sepenuhnya di lapangan. \u201cKita tidak lagi berbicara soal tantangan atau peluang (REDD+). Tetapi, kini kita berbicara bagaimana menjawab tantangan,\u201d kata Nur Masripatin, Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pada Festival Iklim di Jakarta awal Februari 2016. Sejak tahun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":217,"featured_media":40250,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":true,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,13,11,151,184],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[3184,6806,2891,2500,2567,2721,2670,2512,3139,2819,2584,2554],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[6389],"class_list":["post-40246","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-governance","category-mrv-2","category-redd-2","category-value-chains-finance","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-abdon-nababan","tag-bahasa-artikel-pilihan-2016","tag-bahasa-daniel-murdiyarso","tag-bahasa-emisi-karbon","tag-bahasa-gas-rumah-kaca","tag-bahasa-indonesia","tag-bahasa-kepemilikan-dan-hak-atas-lahan","tag-bahasa-negosiasi-iklim","tag-bahasa-nur-masripatin","tag-bahasa-redd","tag-bahasa-tata-guna-lahan","tag-bahasa-tata-kelola-hutan","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Menjawab tantangan REDD+ di Indonesia - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/40246\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Menjawab tantangan REDD+ di Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Setelah REDD+ disepakati pada Konferensi Iklim Paris, Indonesia melangkah cepat inisiatif ini diterapkan sepenuhnya di lapangan. \u201cKita tidak lagi berbicara soal tantangan atau peluang (REDD+). Tetapi, kini kita berbicara bagaimana menjawab tantangan,\u201d kata Nur Masripatin, Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pada Festival Iklim di Jakarta awal Februari 2016. Sejak tahun [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/40246\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2016-02-24T05:32:55+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-02-07T08:29:50+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/02\/children.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"332\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Fidelis E. Satriastanti\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@satriastanti\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/40246\\\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/40246\\\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia\"},\"author\":{\"name\":\"Fidelis E. Satriastanti\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/0e0b255adedb447de0948b15fa762108\"},\"headline\":\"Menjawab tantangan REDD+ di Indonesia\",\"datePublished\":\"2016-02-24T05:32:55+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:29:50+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/40246\\\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia\"},\"wordCount\":622,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/40246\\\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/02\\\/children.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Governance\",\"MRV\",\"REDD+\",\"Value chains &amp; finance\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/40246\\\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2016\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/40246\\\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/40246\\\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia\",\"name\":\"Menjawab tantangan REDD+ di Indonesia - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/40246\\\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/40246\\\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/02\\\/children.jpg\",\"datePublished\":\"2016-02-24T05:32:55+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:29:50+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/40246\\\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/40246\\\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/40246\\\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/02\\\/children.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/02\\\/children.jpg\",\"width\":500,\"height\":332,\"caption\":\"Seorang anak mengayuh kano di desa Pengerak, Danau Sentarum, Kalimantan Barat. Setiap wilayah Indonesia memiliki tantangan berbeda untuk pelaksanaan REDD+.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/40246\\\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Menjawab tantangan REDD+ di Indonesia\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/40246\\\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/40246\\\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/0e0b255adedb447de0948b15fa762108\",\"name\":\"Fidelis E. Satriastanti\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f2aa4df1586c96ce39a86f118d21fc0de7e119bd698ddee340164859644fe24d?s=96&d=mm&r=gcc4055a5094e3d938e1fb7cdbf844b25\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f2aa4df1586c96ce39a86f118d21fc0de7e119bd698ddee340164859644fe24d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f2aa4df1586c96ce39a86f118d21fc0de7e119bd698ddee340164859644fe24d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fidelis E. Satriastanti\"},\"description\":\"Fidelis E. Satriastanti is a freelance writer based in Jakarta, Indonesia, with interests in environment, forestry, climate change, and sustainable development issues.\",\"sameAs\":[\"http:\\\/\\\/fidelisgreenblog.blogspot.com\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/@satriastanti\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/fidelis-e-satriastanti\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/40246\\\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Menjawab tantangan REDD+ di Indonesia - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/40246\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Menjawab tantangan REDD+ di Indonesia","og_description":"Setelah REDD+ disepakati pada Konferensi Iklim Paris, Indonesia melangkah cepat inisiatif ini diterapkan sepenuhnya di lapangan. \u201cKita tidak lagi berbicara soal tantangan atau peluang (REDD+). Tetapi, kini kita berbicara bagaimana menjawab tantangan,\u201d kata Nur Masripatin, Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pada Festival Iklim di Jakarta awal Februari 2016. Sejak tahun [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/40246\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2016-02-24T05:32:55+00:00","article_modified_time":"2018-02-07T08:29:50+00:00","og_image":[{"width":500,"height":332,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/02\/children.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Fidelis E. Satriastanti","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@satriastanti","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/40246\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/40246\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia"},"author":{"name":"Fidelis E. Satriastanti","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/0e0b255adedb447de0948b15fa762108"},"headline":"Menjawab tantangan REDD+ di Indonesia","datePublished":"2016-02-24T05:32:55+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:29:50+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/40246\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia"},"wordCount":622,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/40246\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/02\/children.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Governance","MRV","REDD+","Value chains &amp; finance"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/40246\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia#respond"]}],"copyrightYear":"2016","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/40246\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/40246\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia","name":"Menjawab tantangan REDD+ di Indonesia - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/40246\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/40246\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/02\/children.jpg","datePublished":"2016-02-24T05:32:55+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:29:50+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/40246\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/40246\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/40246\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/02\/children.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/02\/children.jpg","width":500,"height":332,"caption":"Seorang anak mengayuh kano di desa Pengerak, Danau Sentarum, Kalimantan Barat. Setiap wilayah Indonesia memiliki tantangan berbeda untuk pelaksanaan REDD+."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/40246\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Menjawab tantangan REDD+ di Indonesia"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/40246\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/40246\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/0e0b255adedb447de0948b15fa762108","name":"Fidelis E. Satriastanti","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f2aa4df1586c96ce39a86f118d21fc0de7e119bd698ddee340164859644fe24d?s=96&d=mm&r=gcc4055a5094e3d938e1fb7cdbf844b25","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f2aa4df1586c96ce39a86f118d21fc0de7e119bd698ddee340164859644fe24d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f2aa4df1586c96ce39a86f118d21fc0de7e119bd698ddee340164859644fe24d?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fidelis E. Satriastanti"},"description":"Fidelis E. Satriastanti is a freelance writer based in Jakarta, Indonesia, with interests in environment, forestry, climate change, and sustainable development issues.","sameAs":["http:\/\/fidelisgreenblog.blogspot.com","https:\/\/x.com\/@satriastanti"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/fidelis-e-satriastanti"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/40246\/menjawab-tantangan-upaya-nyata-redd-di-indonesia#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2016\/02\/children.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40246","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/217"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=40246"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40246\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/40250"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=40246"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=40246"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=40246"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=40246"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=40246"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=40246"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=40246"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=40246"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=40246"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=40246"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=40246"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=40246"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=40246"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}