{"id":37479,"date":"2015-11-10T16:17:17","date_gmt":"2015-11-10T09:17:17","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=37479"},"modified":"2015-11-10T16:55:46","modified_gmt":"2015-11-10T09:55:46","slug":"menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/37479\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan","title":{"rendered":"Menghalau kabut asap: Sebab dan dampak kebakaran lahan"},"content":{"rendered":"<p>Pada September 2015, kebakaran besar berkobar di hutan, lahan rusak dan lahan gambut di provinsi Riau, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan dan bagian lain Indonesia. Dan api terus dinyalakan.<\/p>\n<p>Hingga akhir Oktober, lebih dari <a href=\"http:\/\/www.globalfiredata.org\/updates.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">115.000 <\/a>kebakaran <a href=\"http:\/\/fires.globalforestwatch.org\/#v=home&amp;x=115&amp;y=0&amp;l=5&amp;lyrs=Active_Fires\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">menyala di negeri ini,<\/a> terkonsentrasi di provinsi Riau dan Jambi, selain juga provinsi Kalimantan Tengah dan provinsi Kalimantan Barat.<\/p>\n<p>Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia, kebakaran menghanguskan kurang lebih <a href=\"http:\/\/www.thejakartapost.com\/news\/2015\/10\/21\/2-russian-jets-land-indonesia-help-douse-forest-fires.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">1,7 juta hektare lahan di Sumatera dan Kalimantan<\/a>.<\/p>\n<p>Kebakaran menjadi kejadian rutin tahunan di lahan gambut dan hutan Indonesia, puncaknya terjadi sekitar September atau Oktober. Deforestasi dan berulangnya kebakaran membuat bentang alam Indonesia menjadi lebih rentan akan kebakaran.<\/p>\n\n<p>Kebakaran makin parah dengan intensitas tak biasa El Nino, yang diprediksi akan <a href=\"http:\/\/iri.columbia.edu\/news\/october-climate-briefing-el-nino-flexes-its-strength\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">berlangsung hingga awal 2016<\/a>.<\/p>\n<p><a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/5025\/major-atmospheric-emissions-from-peat-fires-in-southeast-asia-during-non-drought-years-evidence-from-the-2013-sumatran-fires\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Penelitian CIFOR<\/a> menunjukkan bahwa polusi udara besar-besaran tidak lagi terbatas pada tahun kering, ketika deforestasi lahan gambut dan degradasi lahan terus menjadikan bentang alam jadi lebih rentan terbakar.<\/p>\n<p>Kerugian akibat kebakaran lahan dan kabut kabut asap terus meningkat. Akar penyebabnya kompleks. Menemukan <a href=\"http:\/\/theconversation.com\/playing-with-fire-the-economics-and-network-of-fire-and-haze-47284\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">solusi jangka panjang<\/a> untuk mencegah kebakaran masa depan perlu waktu, koordinasi dan bukti nyata.<\/p>\n<p><strong>Menghitung kerugian kebakaran dan kabut asap<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Tahun 1997-98 kita menyaksikan peristiwa El Nino yang kuat. Pada saat itu, kebakaran menghanguskan lebih dari<a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/2100\/climate-anomalies-indonesian-vegetation-fires-and-terrestrial-carbon-emissions\/?pub=2100\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"> 6 juta hektare di Indonesia<\/a>, menimbulkan kerugian sedikitnya<a href=\"\/\/www.cifor.org.publications\/pdf_files\/FireReport.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"> 8,5 miliar dolar AS<\/a>, terutama sektor kehutanan dan perkebunan.<\/li>\n<li>Kabut asap dari kebakaran 1997-98 diperkirakan menimbulkan kerugian sektor pariwisata sebesar <a href=\"http:\/\/www.eepsea.org\/pub\/rr\/10536124150ACF62.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">4,5 miliar dolar AS<\/a> dan kesehatan jangka pendek di seluruh wilayah. Dua estimasi itu merupakan estimasi konservatif kerugian karbon. Padahal emisi karbon 1997-98 cukup tinggi untuk mengangkat Indonesia menjadi <a href=\"http:\/\/www.asb.cgiar.org\/content\/fire-people-and-pixels-linking-remote-sensing-and-social-science-understand-underlying-cause\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">salah satu penyebab polusi terbesar dunia<\/a>.<\/li>\n<li>Penelitian CIFOR menunjukkan 1,45 miliar ton karbon dioksida teremisi saat kebakaran 1997-98, bernilai <a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/2100\/climate-anomalies-indonesian-vegetation-fires-and-terrestrial-carbon-emissions\/?pub=2100\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">3,6 miliar dolar AS<\/a> pada nilai pasar karbon 2005. Dengan harga karbon yang secara jangka panjang akan naik, kebakaran di masa depan akan menimbulkan kerugian lebih besar.<\/li>\n<li><a href=\"http:\/\/www.theguardian.com\/world\/2015\/oct\/26\/indonesias-fires-crime-against-humanity-hundreds-of-thousands-suffer\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Laporan <\/a>menyebutkan sejauh ini kebakaran telah menimbulkan kerugian 30 miliar dolar AS bagi pemerintah Indonesia.<\/li>\n<\/ul>\n<div class='short-video sv_new short-video--left' >\n            <a class='short-video-trigger GTMshortVideo' href='#' data-video-url=''>\n                <div class='short-video__thumb'>\n                    <img src='' width='260' alt=''>\n                    <div class='short-video__icon'><i class='fa fa-play-circle-o'><\/i><\/div>\n                <\/div>\n                <div class='short-video__type'><\/div>\n                <div class='short-video__title'><\/div>\n            <\/a>\n        <\/div>\n<p><strong>Bagaimana kebakaran bermula di Indonesia dan mengapa berlanjut?<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Kebakaran di lahan gambut sangat sulit dipadamkan, <a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/1130.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">seringkali membara berhari-hari<\/a> atau berminggu-minggu, dan setiap saat bisa menyala kembali. Hanya lebatnya curah air musim hujan bisa benar-benar memadamkannya.<\/li>\n<li>Gambut adalah campuran tanah dengan sebagian vegetasi membusuk, membentuk lahan basah mengelilingi pesisir kepulauan Indonesia.<\/li>\n<li>Deforestasi mengekspos gambut di bawah pohon dan ditambah pengeringan, mengeringkan material. Pembersihan dan pembakaran berulang juga mendorong tumbuhnya paku dan semak yang lebih rentan kebakaran.<\/li>\n<li>Pembakaran adalah cara murah dan mudah bagi petani kecil dan perusahaan besar untuk membersihkan lahan untuk pertanian seperti sawit.<\/li>\n<li>Secara tradisional, petani lokal menggunakan teknik tebang-dan-bakar untuk membuka petak kecil hutan hujan untuk tanaman dan ternak.<\/li>\n<li><a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/2101\/community-fire-use-resource-change-and-livelihood-impacts-the-downward-spiral-in-the-wetlands-of-southern-sumatra\/?pub+2101\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pembangunan skala besar berkontribusi<\/a> memperbesar penggunaan api oleh masyarakat ketika pembangunan menarik migran dan memperluas akses ke area terpencil sebelumnya.<\/li>\n<li><a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/2158\/local-to-global-perspectives-on-forest-and-land-fires-in-southeast-asia\/?pub=2158\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Lemahnya tata kelola dan buruknya perencanaan lahan kemudian membuka spekulator lahan dan investor lain untuk masuk<\/a>.<\/li>\n<li>Ketidakjelasan atau tidak tegaknya tenurial lahan menjadi panggung konflik antara petani kecil, migran, badan pemerintah, masyarakat dan korporasi. <a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/2158\/local-to-global-perspectives-on-forest-and-land-fires-in-southeast-asia\/?pub=2158\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Kebakaran sering digunakan untuk memancang klaim<\/a>.<\/li>\n<li>Walaupun <a href=\"http:\/\/www.wri.org\/blog\/2013\/06\/peering-through-haze-what-data-can-tell-us-about-fires-indonesia\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">observasi satelit<\/a> menyatakan sekitar 1 dari 5 kebakaran terjadi dalam konsesi sawit, penelitian terbaru CIFOR menceritakan kisah yang lebih rumit, ketika <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/23479\/new-maps-reveal-more-complex-picture-of-sumatran-fires?utm_source=Fire+research+landing+page&amp;utm_medium=bellow+story&amp;utm_campaign=Fire+research+Package#.VgfzGGSqqko\">masyarakat lokal juga menguasai lahan di dalam konsesi, dan kebakaran di luar merangsek ke dalam konsesi<\/a>.<\/li>\n<li>Industri sawit Indonesia didorong oleh tuntutan global dan investasi antara lain perusahaan Malaysia dan Singapura. Pada 2014, Indonesia menyuplai sekitar <a href=\"http:\/\/www.exim.com.my\/sites\/default\/files\/industry_assessment_-_palm_oil_and_palm_mill_industry_-_an_update_march_2015.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">52 persen minyak sawit dunia<\/a>, yang digunakan untuk beragam produk, mulai dari keripik kentang, kosmetik hingga minyak goreng dan pasta gigi.<\/li>\n<li>Sawit adalah penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia dan wilayah ini. <a href=\"http:\/\/www.indonesia-investments.com\/business\/commodities\/palm-oil\/item166\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Secara total, sekitar 11 juta hektare perkebunan sawit memproduksi 33 juta ton minyak, dan menghasilkan 21 miliar dolar AS pada 2014<\/a>.<\/li>\n<\/ul>\n\n<p><strong>Pengorbanan manusia akibat kebakaran dan kabut asap<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Tahun ini kabut asap dari kebakaran yang tampaknya paling buruk sejak 1997\u201398, diperkirakan memberi efek buruk bagi kesehatan, properti dan penghidupan sekitar <a href=\"http:\/\/www.asb.cgiar.org\/content\/fire-people-and-pixels-linking-remote-sensing-and-social-science-understand-underlying-cause\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">75 juta orang di Indonesia dan regional.<\/a><\/li>\n<li>Kebakaran dan kabut asap menyebabkan <a href=\"https:\/\/www.health.ny.gov\/environmental\/outdoors\/air\/smoke_from_fire.htm\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">beragam masalah kesehatan<\/a>, langsung dan tidak langsung.<\/li>\n<li>Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) <a href=\"http:\/\/www.pri.org\/stories\/2015-10-26\/toxic-haze-threatens-millions-southeast-asia\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">melaporkan <\/a>estimasi 500.000 orang menderita gejala sakit pernafasan akibat kabut asap dari kebakaran tahun ini.<\/li>\n<li>Kabut asap beracun dari kebakaran hutan dan gambut adalah campuran \u00a0jelaga (material partikulat atau PM) dan <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/36467\/dont-inhale-scientists-look-at-what-the-indonesian-haze-is-made-of?fnl=en\">beragam zat kimia berbahaya<\/a>, antara lain karbon monoksida, amonia, sianida, asam formiat, formaldehida dan lain-lain.<\/li>\n<li>Efek kesehatan langsung kabut asap mencakup sakit kepala, pusing, sulit tidur, kalut dan lelah\u2014semuanya secara substansial bisa mengurangi produktivitas dan memicu penyakit lain.<\/li>\n<li>Risiko kesehatan jangka panjang tidak begitu jelas tetapi kekhawatiran meningkat seiring menebalnya kabut asap dan makin lamanya paparan.<\/li>\n<li><a href=\"http:\/\/www.ncbi.nlm.nih.gov\/pmc\/articles\/PMC4219417\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Penelitian 2013 <\/a>memperkirakan kabut asap 1997-98 menyebabkan kematian dini 11.000 orang dewasa akibat penyakit kardiovaskuler. Mortalitas anak-anak (yang berjumlah lebih dari separuh populasi regional) tidak diestimasi, tetapi diperkirakan lebih tinggi lagi.<\/li>\n<li>Di Kalimantan Tengah, pada paruh-Oktober 2015, CIFOR mengukur tingkat karbon monoksida <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/36467\/dont-inhale-scientists-look-at-what-the-indonesian-haze-is-made-of?fnl=en\">30 kali lebih tinggi dari normal<\/a>, di dalam ruangan dan berjarak lebih dari 30 kilometer dari kebakaran terdekat.<\/li>\n<li>Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) <a href=\"http:\/\/www.theguardian.com\/world\/2015\/oct\/26\/indonesias-fires-crime-against-humanity-hundreds-of-thousands-suffer\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">dilaporkan<\/a> telah menyatakan sedikitnya 43 juta orang di Sumatera dan Kalimantan telah terpapar kabut asap beracun.<\/li>\n<\/ul>\n<div class='short-video sv_new short-video--left' >\n            <a class='short-video-trigger GTMshortVideo' href='#' data-video-url=''>\n                <div class='short-video__thumb'>\n                    <img src='' width='260' alt=''>\n                    <div class='short-video__icon'><i class='fa fa-play-circle-o'><\/i><\/div>\n                <\/div>\n                <div class='short-video__type'><\/div>\n                <div class='short-video__title'><\/div>\n            <\/a>\n        <\/div>\n<p><strong>Kelindan kebakaran dan perubahan iklim <\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Dalam kondisi alami, karbon dari kebakaran hutan diserap dari atmosfer ketika vegetasi bertumbuh. Ketika gambut dibersihkan atau dibakar, ada peningkatan bersih kadar karbon dioksida di atmosfer.<\/li>\n<li><a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/5025\/major-atmospheric-emissions-from-peat-fires-in-southeast-asia-during-non-drought-years-evidence-from-the-2013-sumatran-fires\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Penelitian CIFOR<\/a> menunjukkan, tahun 2013, seminggu kebakaran, sebagian besar pulau Sumatera, menghasilkan emisi gas rumah kaca setara 5-10 persen rata-rata tahunan emisi Indonesia selama 2000-2005.<\/li>\n<li>Pada tahun 2005, <a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/3876.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">kebakaran gambut terhitung sekitar 40 persen dari emisi gas rumah kaca Indonesia<\/a>.<\/li>\n<li><a href=\"http:\/\/www.globalfiredata.org\/updates.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Analisis terbaru Global Fire Emissions Database <\/a>menyatakan bahwa emisi harian kebakaran gambut sejak awal September 2015, pada beberapa kejadian, melampaui emisi harian Amerika Serikat.<\/li>\n<li>Kebakaran cenderung memburuk pada tahun kering, dan diperburuk kondisi terkait iklim di Samudera Hinda dan Pasifik.<\/li>\n<li>El Nino, misalnya, biasanya menurunkan curah hujan di Pasifik Barat. Ramalan terakhir menyatakan kondisi El Nino akan bertahan hingga awal 2016, yang memperburuk risiko kebakaran.<\/li>\n<li>Tanpa perlawanan, pemanasan global <a href=\"http:\/\/www.nature.com\/nclimate\/journal\/v4\/n2\/full\/nclimate2100.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">diprediksi<\/a> secara substansial meningkatkan frekuensi peristiwa El Nino.<\/li>\n<li><a href=\"http:\/\/www.nature.com\/articles\/srep06112\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Penelitian CIFOR <\/a>menunjukkan bahwa peristiwa besar polusi udara tidak lagi terbatas tahun kering, ketika deforestasi dan degradasi lahan terus membuat sebagian besar bentang alam menjadi lebih rentan kebakaran.<\/li>\n<li><a href=\"http:\/\/climateactiontracker.org\/countries\/indonesia\/html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Estimasi terbaru<\/a> menyatakan bahwa kebakaran bisa menambah lebih dari 1 miliar ton karbon ke dalam beban emisi Indonesia. Ini memberi implikasi signifikan dalam pembicaraan iklim PBB mendatang di Paris serta target Indonesia memotong emisi dari sektor lahan sebesar 29 persen di bawah tindakan biasa business-as-usual pada 2030.<\/li>\n<li>Deforestasi serta degradasi hutan dan lahan menjadi ancaman banyak spesies tumbuhan dan hewan, termasuk populasi orangutan tersisa.<\/li>\n<li>Ratusan kebakaran <a href=\"http:\/\/www.theguardian.com\/environment\/2015\/oct\/26\/indonesias-forest-fires-threaten-a-third-of-world-wild-orangutans\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">dilaporkan<\/a> terjadi di dalam tempat perlindungan dan taman nasional di Kalimantan, rumah bagi sekitar sepertiga orangutan liar yang tersisa di dunia.<\/li>\n<li>Beberapa organisasi perlindungan satwa langka <a href=\"http:\/\/www.takepart.com\/article\/2015\/10\/22\/orangutans-are-dying-indonesia-burns\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">melaporkan<\/a> bahwa orangutan keluar dari hutan untuk menghindari kebakaran. Ini memunculkan risiko kontak langsung dengan manusia.<\/li>\n<li>Orangutan di Kalimantan <a href=\"http:\/\/www.iucnredlist.org\/details\/17975\/0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">sudah masuk daftar terancam punah<\/a> oleh International Union for Conservation of Nature.<\/li>\n<li>Dampak pada serangga penyerbuk tampaknya juga sangat tinggi.<\/li>\n<\/ul>\n\n<p><strong>Restriksi legal soal kebakaran jarang berhasil<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li><a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/2158.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Memperketat restriksi legal pada perusahan besar terbukti sulit<\/a>, sebagian karena terpecahnya tanggungjawab pada beragam tingkat pemerintahan dan hukum.<\/li>\n<li><a href=\"http:\/\/www.asb.cgiar.org\/content\/fire-people-and-pixels-linking-remote-sensing-and-social-science-understand-underlying-cause\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Merangkai bukti yang cukup dalam mendukung tuntutan hukum sulit sekali<\/a>. Dalam beberapa kasus pengadilan yang berupaya menuntut tersangka pembakaran ilegal, baik tanggungjawab kriminal maupun kewajiban warga negara ternyata sulit dibuktikan.<\/li>\n<li>Institusi lokal seringkali <a href=\"\/\/www.cifor.org\/fire\/pdf\/pdf45.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">tidak memiliki kapasitas, sumber daya atau kemauan politis<\/a> untuk menegakkan hukum, bagi pejabat daerah, menegakkan larangan melakukan pembakaran akan menjadi \u201cbunuh diri politik\u201d.<\/li>\n<li><a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/3561.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Moratorium hutan Indonesia<\/a> mencegah otoritas menerbitkan izin baru pembangunan di lahan gambut. Namun, konversi ke perkebunan sawit dapat terus dilakukan pada konsesi yang telah diberikan, termasuk di beberapa lahan gambut.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Pengaturan diri perusahan dan tak jernihnya keberhasilan <\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Perusahaan sawit, bubur kertas dan kertas <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/33778\/zero-deforestation-special-are-we-getting-any-closer#.Vgf9RmSqqko\">membuat komitmen baru keberlanjutan lingkungan hidup<\/a>, sementara sumber daya pemetaan baru meningkatkan kapabilitas pemantauan pihak ketiga.<\/li>\n<li>Sementara beberapa perusahaan sawit besar membuat komitmen praktik lebih berkelanjutan; namun,<a href=\"http:\/\/www.slideshare.net\/CIFOR\/political-economy-study-of-fire-and-haze-in-indonesia-51202120\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"> tindakan staf dan subkontraktor di lapangan dapat melunturkan ikrar perusahaan<\/a>.<\/li>\n<li><a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/2158.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Penelitian tahun lalu<\/a> menunjukkan bahwa sebagian perusahaan besar mau mengambil risiko membayar denda, daripada membayar untuk tindakan pencegahan.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Mengatasi kompleksitas akar penyebab kebakaran<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Akar masalah kebakaran di Indonesia terletak pada kemiskinan dan lemahnya tata kelola. Mereka tidak, secara langsung, menjadi masalah lingkungan hidup tetapi jadi masalah kemanusiaan.<\/li>\n<li>Kebakaran tidak terjadi karena penyebab tunggal. Kebakaran adalah hasil aktivitas <a href=\"http:\/\/www.slideshare.net\/CIFOR\/political-economy-study-of-fire-and-haze-in-indonesia-51202120\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">beragam jejaring aktor<\/a> masyarakat, pemerintah, non-pemerintah, dan sektor swasta.<\/li>\n<li>Kelompok-kelompok tersebut beroperasi di <a href=\"http:\/\/www.slideshare.net\/CIFOR\/political-economy-study-of-fire-and-haze-in-indonesia-51202120\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">beberapa jenis lahan<\/a>: konsesi perusahaan, lahan negara dan privat\/komunal. Dalam banyak kasus, tidak jelas siapa pemilik hak lahan.<\/li>\n<\/ul>\n\n<p><strong>Mencari solusi jangka panjang: dari supresi ke pencegahan<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Puluhan ribu personel dikerahkan tidak mampu membuat kebakaran terkenalikan. P<a href=\"http:\/\/www.slideshare.net\/CIFOR\/political-economy-study-of-fire-and-haze-in-indonesia-51202120\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">emadam kebakaran seringkali kurang dilengkapi peralatan dan tidak terkoordinasi dengan baik<\/a>.<\/li>\n<li>Solusi jangka panjang perlu waktu untuk dikembangkan. Area fokus mencakup upaya menghindari konversi hutan, mengurangi ketergantungan pada api, serta menjauhi kultivasi lahan gambut. <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/32534\/political-economy-of-fire-and-haze-moving-to-long-term-solutions?fnl=en\">Memahami ekonomi politik kebakaran di Indonesia adalah kuncinya<\/a>.<\/li>\n<li>Saat ini, <a href=\"http:\/\/www.slideshare.net\/CIFOR\/political-economy-study-of-fire-and-haze-in-indonesia-51202120\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">berbagai pihak\u00a0<\/a>mengambil manfaat besar dari kebakaran, petani, politisi, pebisnis, pejabat pemerintah, bahkan akademisi. Ini artinya insentif finansial untuk mengubah kebutuhan penggunaan lahan alternatif perlu pendekatan substansial.<\/li>\n<li>Meredam kebakaran menjadi penting tetapi hanya itu saja akan<a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/32534\/political-economy-of-fire-and-haze-moving-to-long-term-solutions?fnl=en\"> menghambat solusi jangka panjang<\/a>, karena alasan yang sangat jelas, menciptakan lapangan kerja lokal, serta menarik dana dan peralatan.<\/li>\n<li><a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/2161\/fires-in-tropical-forests-what-is-really-the-problem-lessons-from-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Tidak semua kebakaran menyebabkan kerusakan dan tidak diinginkan<\/a>; banyak petani kecil mengandalkan pertanian tebang bakar bagi penghidupan mereka.<\/li>\n<li><a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/36585\/preventing-fire-and-haze-sustainable-solutions-for-indonesias-peatlands?fnl=en\">Fokus jangka panjang seharusnya berfokus pada penyediaan dukungan fiskal pada masyarakat miskin desa dan alternatif yang mampu bersaing dengan pertanian berbasis-api<\/a>.<\/li>\n<\/ul>\n\n<p>[metaslider id=36551]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada September 2015, kebakaran besar berkobar di hutan, lahan rusak dan lahan gambut di provinsi Riau, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan dan bagian lain Indonesia. Dan api terus dinyalakan. Hingga akhir Oktober, lebih dari 115.000 kebakaran menyala di negeri ini, terkonsentrasi di provinsi Riau dan Jambi, selain juga provinsi Kalimantan Tengah dan provinsi Kalimantan Barat. Menurut [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":31,"featured_media":37482,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[2500,2548,2680,2622],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3088],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[4903],"class_list":["post-37479","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-emisi-karbon","tag-bahasa-kebakaran-hutan","tag-bahasa-lahan-basah","tag-bahasa-lahan-gambut","type-bahasa-berkas-fakta"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Menghalau kabut asap: Sebab dan dampak kebakaran lahan - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/37479\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Menghalau kabut asap: Sebab dan dampak kebakaran lahan\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Pada September 2015, kebakaran besar berkobar di hutan, lahan rusak dan lahan gambut di provinsi Riau, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan dan bagian lain Indonesia. Dan api terus dinyalakan. Hingga akhir Oktober, lebih dari 115.000 kebakaran menyala di negeri ini, terkonsentrasi di provinsi Riau dan Jambi, selain juga provinsi Kalimantan Tengah dan provinsi Kalimantan Barat. Menurut [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/37479\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2015-11-10T09:17:17+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2015-11-10T09:55:46+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/11\/boat.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"332\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"CIFOR\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@cifor\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/37479\\\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/37479\\\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan\"},\"author\":{\"name\":\"CIFOR\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/33964b2bd6b16891f0f4e65f2ead043d\"},\"headline\":\"Menghalau kabut asap: Sebab dan dampak kebakaran lahan\",\"datePublished\":\"2015-11-10T09:17:17+00:00\",\"dateModified\":\"2015-11-10T09:55:46+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/37479\\\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan\"},\"wordCount\":1525,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/37479\\\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/11\\\/boat.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/37479\\\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2015\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/37479\\\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/37479\\\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan\",\"name\":\"Menghalau kabut asap: Sebab dan dampak kebakaran lahan - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/37479\\\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/37479\\\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/11\\\/boat.jpg\",\"datePublished\":\"2015-11-10T09:17:17+00:00\",\"dateModified\":\"2015-11-10T09:55:46+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/37479\\\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/37479\\\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/37479\\\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/11\\\/boat.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/11\\\/boat.jpg\",\"width\":500,\"height\":332,\"caption\":\"Kebakaran lahan dan hutan yang terus berulang membuat bentang alam menjadi lebih rentan. Aulia Erlangga\\\/CIFOR\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/37479\\\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Menghalau kabut asap: Sebab dan dampak kebakaran lahan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/37479\\\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/37479\\\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/33964b2bd6b16891f0f4e65f2ead043d\",\"name\":\"CIFOR\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/d0edacc662331b3e7f1482139a1705cd2919ba8ff1d7457d158c9c5fdcfc56ae?s=96&d=mm&r=ge7d947aa879a614a2298e7a079243687\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/d0edacc662331b3e7f1482139a1705cd2919ba8ff1d7457d158c9c5fdcfc56ae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/d0edacc662331b3e7f1482139a1705cd2919ba8ff1d7457d158c9c5fdcfc56ae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"CIFOR\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/x.com\\\/cifor\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/cifor\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/37479\\\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Menghalau kabut asap: Sebab dan dampak kebakaran lahan - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/37479\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Menghalau kabut asap: Sebab dan dampak kebakaran lahan","og_description":"Pada September 2015, kebakaran besar berkobar di hutan, lahan rusak dan lahan gambut di provinsi Riau, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan dan bagian lain Indonesia. Dan api terus dinyalakan. Hingga akhir Oktober, lebih dari 115.000 kebakaran menyala di negeri ini, terkonsentrasi di provinsi Riau dan Jambi, selain juga provinsi Kalimantan Tengah dan provinsi Kalimantan Barat. Menurut [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/37479\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2015-11-10T09:17:17+00:00","article_modified_time":"2015-11-10T09:55:46+00:00","og_image":[{"width":500,"height":332,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/11\/boat.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"CIFOR","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@cifor","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/37479\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/37479\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan"},"author":{"name":"CIFOR","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/33964b2bd6b16891f0f4e65f2ead043d"},"headline":"Menghalau kabut asap: Sebab dan dampak kebakaran lahan","datePublished":"2015-11-10T09:17:17+00:00","dateModified":"2015-11-10T09:55:46+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/37479\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan"},"wordCount":1525,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/37479\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/11\/boat.jpg","articleSection":["Forests News"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/37479\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan#respond"]}],"copyrightYear":"2015","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/37479\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/37479\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan","name":"Menghalau kabut asap: Sebab dan dampak kebakaran lahan - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/37479\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/37479\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/11\/boat.jpg","datePublished":"2015-11-10T09:17:17+00:00","dateModified":"2015-11-10T09:55:46+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/37479\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/37479\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/37479\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/11\/boat.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/11\/boat.jpg","width":500,"height":332,"caption":"Kebakaran lahan dan hutan yang terus berulang membuat bentang alam menjadi lebih rentan. Aulia Erlangga\/CIFOR"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/37479\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Menghalau kabut asap: Sebab dan dampak kebakaran lahan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/37479\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/37479\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/33964b2bd6b16891f0f4e65f2ead043d","name":"CIFOR","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d0edacc662331b3e7f1482139a1705cd2919ba8ff1d7457d158c9c5fdcfc56ae?s=96&d=mm&r=ge7d947aa879a614a2298e7a079243687","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d0edacc662331b3e7f1482139a1705cd2919ba8ff1d7457d158c9c5fdcfc56ae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d0edacc662331b3e7f1482139a1705cd2919ba8ff1d7457d158c9c5fdcfc56ae?s=96&d=mm&r=g","caption":"CIFOR"},"sameAs":["https:\/\/x.com\/cifor"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/cifor"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/37479\/menghalau-kabut-asap-sebab-dan-akibat-kebakaran-lahan#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/11\/boat.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/37479","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/31"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=37479"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/37479\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/37482"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=37479"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=37479"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=37479"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=37479"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=37479"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=37479"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=37479"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=37479"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=37479"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=37479"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=37479"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=37479"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=37479"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}