{"id":36963,"date":"2015-10-29T14:38:31","date_gmt":"2015-10-29T07:38:31","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=36963"},"modified":"2015-10-29T14:38:31","modified_gmt":"2015-10-29T07:38:31","slug":"mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/36963\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia","title":{"rendered":"Mencegah kebakaran dan kabut asap: Solusi lestari bagi lahan gambut Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>Api dalam pertanian bisa disebut berkah. Sebagai sebuah cara efektif bagi petani kecil, api menjadi kunci produksi pangan selama ratusan tahun. Pada tahun 2000, p<a href=\"ftp:\/\/ftp.fao.org\/docrep\/fao\/009\/A0969E\/A0969E00.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">embakaran vegetasi mencapai 350 Mha<\/a> \u2013 atau sekitar 3% area lahan dunia \u2013 sebagian besar terjadi di Sub-Sahara Afrika. Manfaat api harus diakui. Tata kelola <a href=\"ftp:\/\/ftp.fao.org\/docrep\/fao\/009\/j9255e\/j9255e00.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">pembakaran yang baik memiliki peran penting<\/a> dalam beragam bentang alam dan kondisi ekologis.<\/p>\n<p>Amat jelas,<a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/17676\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara?fnl=id\"> pembakaran lahan gambut di Indonesia saat ini tidak masuk dalam kategori ini<\/a>. Berdasarkan kadar kerugian, api menyebabkan bencana kesehatan, perpindahan masyarakat, masalah produksi pangan, gangguan usaha, degradasi lahan, dampak iklim, kericuhan politik dan memburuknya hubungan internasional.<\/p>\n<p>Nyata sekali, <a href=\"http:\/\/www.ibtimes.com\/indonesia-seeks-help-4-countries-fight-forest-fires-malaysia-singapore-aircraft-carry-2132221\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">selang dan bom air <\/a>tidak banyak berpengaruh dalam pemadaman kebakaran (hanya air hujan yang dibutuhkan), dan sama sekali tak ada perbedaan dalam mengatasi penyebab mendasarnya.<\/p>\n<div class='short-video sv_new short-video--left' >\n            <a class='short-video-trigger GTMshortVideo' href='#' data-video-url=''>\n                <div class='short-video__thumb'>\n                    <img src='' width='260' alt=''>\n                    <div class='short-video__icon'><i class='fa fa-play-circle-o'><\/i><\/div>\n                <\/div>\n                <div class='short-video__type'><\/div>\n                <div class='short-video__title'><\/div>\n            <\/a>\n        <\/div>\n<p>Seperti terus diulang dalam bulan-bulan terakhir, <a href=\"\/\/www.cifor.org\/publications\/pdf_files\/OccPapers\/OP-038.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">cerita ini berulang tiap tahun<\/a>. Pola berulang lain adalah <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/19147\/kebakaran-dan-asap-bagaimana-mempertahankan-perhatian?fnl=id\">cepat hilangnya perhatian<\/a> ketika hujan mengakhiri musim kebakaran lahan.<\/p>\n<p>Saat ini, sentimen berulang sejak tahun sebelumnya adalah apa yang bisa kita lakukan untuk memutus siklus asap ini? Bagaimana kita mengatasi penyebab mendasar dan mencapai solusi berkelanjutan?<\/p>\n<p>Untuk memberi versi baru dalam narasi ini, Saya menyatakan bahwa mengatasi dampak pada perubahan iklim bukan prioritas utama dalam mengatasi krisis, di tengah besarnya emisi gas rumah kaca, <a href=\"http:\/\/www.wri.org\/blog\/2015\/10\/indonesia%E2%80%99s-fire-outbreaks-producing-more-daily-emissions-entire-us-economy\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">seperti dikutip media<\/a>. Fokus utama tidak pula harus pada konservasi keragaman hayati atau integritas ekosistem lahan gambut, walaupun mereka juga penting.<\/p>\n<p>Dari perspektif solusi, kita bisa merancang kegagalan jika dimulai dengan mencoba menjawab kekhawatiran lingkungan hidup. Akan lebih konstruktif memandang pengurangan dampak iklim dan lingkungan sebesar dan sepenting solusi terhadap masalah kesehatan, kemiskinan, pangan dan tata kelola.<\/p>\n<div class='short-quote'>\n\t\t\t<blockquote>\n\t\t\t\t<p><\/p>\n\t\t\t\t<footer>\n\t\t\t\t\t<cite title='Source Title'><\/cite>\n\t\t\t\t<\/footer>\n\t\t\t<\/blockquote>\n\t\t<\/div>\n<p><strong>Jadi bagaimana sekarang?<\/strong><\/p>\n<p>Hujan akan menandai berakhirnya musim penggundulan lahan dan mematikan sisapsaia kebakaran. Kemudian kita akan bebas kabut asap untuk tiga hingga sembilan bulan.<\/p>\n<p>Reportase berita akan cepat menghilang dan membuka jalan untuk kejadian terkini yang lebih nyata dan laku. Secara bersamaan, motivasi politik untuk keterlibatan jangka panjang juga merosot.<\/p>\n<p>Mengatasi faktor mendasar perlu waktu. Kini saatnya untuk memutuskan tindakan jangka panjang yang sesuai, sebelum kabut asap dan perhatian tertiup angin.<\/p>\n<p>Di Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), kami mendiskusikan jalan ke depan, bersama para mitra. Kami berangkat bersama mendapatkan beberapa kesamaan titik pandangan bahwa kebakaran dan kabut asap perlu diangkat ke tingkat lebih tinggi dan menjawab tantangan pembangunan secara lebih luas.<\/p>\n<p>Melangkah maju, kami mengidentifikasi sebuah rentang manfaat langsung penting yang harus dicapai, yaitu:<\/p>\n<ul>\n<li>Secara drastis mengurangi konversi hutan menjadi pertanian<\/li>\n<li>Mengurangi penggunaan api dalam pertanian<\/li>\n<li>Reduksi total kultivasi lahan gambut<\/li>\n<li>Meningkatkan peluang penghidupan dan penghasilan lokal<\/li>\n<li>Meningkatkan pasar dan rantai nilai produk berkelanjutan<\/li>\n<li>Restorasi lahan gambut terdegradasi<\/li>\n<\/ul>\n<p>Kami yakin dampak lanjutan seharusnya diformulasikan dengan terminologi luas:<\/p>\n<ul>\n<li>Meningkatnya kesehatan<\/li>\n<li>Berkurangnya kemiskinan<\/li>\n<li>Berkurangnya risiko produksi pangan<\/li>\n<li>Berkurangnya kerugian usaha beragam sektor<\/li>\n<li>Berkurangnya emisi gas rumah kaca<\/li>\n<\/ul>\n<p>Lebih jauh, sejalan upaya kita memperluas pencegahaan kebakaran, tindakan harus menargetkan transformasi sikap dan praktik yang dapat diperluas. Fokus seharusnya pada tindakan yang memberi kaum miskin alternatif selain pertanian berbasis-api di lahan gambut (sebagai pekerja atau petani). Hal ini akan melibatkan kebijakan fiskal luas yang diarahkan untuk menyokong kaum miskin.<\/p>\n<p>Perubahan perilaku juga diperluas kepada investor, dengan penguatan kesadaran dan pelibatan lembaga finansial sebagai kuncinya. Penindakan efektif akan tetap memainkan peran kunci. Penelitian, penyebaran, edukasi, peningkatan kesadaran publik dan pengembangan kapasitas menjadi komponen penting solusi.<\/p>\n<p>Terakhir dan juga penting, kita perlu kemitraan program tahun-jamak lintas-disiplin sektor kehutanan, pertanian, kesehatan, finansial, penegakkan hukum, bisnis skala besar, dan pendidikan.<\/p>\n<p>Beberapa tindakan untuk dipertimbangkan, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Investasi publik (kebijakan fiskal untuk menjawab kebutuhan masyarakat desa, seperti sekolah, pelayanan kesehatan, lapangan kerja, insentif pertanian non-api);<\/li>\n<li>Keterlibatan perbankan dan institusi finansial untuk meredam investasi tak layak (di Indonesia dan luar negeri) dengan mengkondisikan pelayanan keuangan;<\/li>\n<li>Pelibatan lebih dalam korporasi yang aktif memanfaatkan lahan skala besar;<\/li>\n<li>Memperingkas birokrasi dan meningkatkan akuntabilitas lembaga publik;<\/li>\n<li>Reformasi kebijakan penggunaan lahan, rencana tata ruang dan kepemilikan lahan;<\/li>\n<li>Kampanye peningkatan kesadaran publik (edukasi, TV, media, jejaring sosial) dalam mempromosikan pembangunan berkelanjutan, teknologi\/investasi alternatif untuk reformasi pertanian dan penegakkan hukum;<\/li>\n<li>Penelitian dampak kebakaran dan asap pada iklim, termasuk aspek di luar pemanasan global (seperti pendinginan lokal);<\/li>\n<li>Penelitian dan percontohan tindakan restorasi lahan gambut efektif.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Jelas, bahwa ini tugas berat, tetapi ini saatnya untuk memilih jalan ke depan.<\/p>\n<p>Jika tidak, ini hanya akan menjadi artikel biasa yang akan dikutip di tahun mendatang untuk menggambarkan masa lalu yang kurang memiliki kemauan politik dan moral dalam menemukan solusi berkelanjutan.<\/p>\n\n<p><strong>Semasa berkarir sebagai Kepala Pengembangan Sumber Daya Hutan di Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Perserikatan Bangsa-Bangsa, Peter Holmgren bertanggung jawab terhadap dua publikasi penting terkait penggunaan api: <a href=\"ftp:\/\/ftp.fao.org\/docrep\/fao\/009\/A0969E\/A0969E00.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Manajemen api \u2013 penilaian global tahun 2006 <\/a>dan <a href=\"ftp:\/\/ftp.fao.org\/docrep\/fao\/009\/j9255e\/j9255e00.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Manajemen api: Pedoman sukarela. Prinsip dan tindakan strategis<\/a>.<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Api dalam pertanian bisa disebut berkah. Sebagai sebuah cara efektif bagi petani kecil, api menjadi kunci produksi pangan selama ratusan tahun. Pada tahun 2000, pembakaran vegetasi mencapai 350 Mha \u2013 atau sekitar 3% area lahan dunia \u2013 sebagian besar terjadi di Sub-Sahara Afrika. Manfaat api harus diakui. Tata kelola pembakaran yang baik memiliki peran penting [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":71,"featured_media":36973,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[190],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[2522,2548,2622],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[2967],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[680],"class_list":["post-36963","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-peatlands","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-deforestasi","tag-bahasa-kebakaran-hutan","tag-bahasa-lahan-gambut","type-bahasa-kolom-dirjen"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Mencegah kebakaran dan kabut asap: Solusi lestari bagi lahan gambut Indonesia - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/36963\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mencegah kebakaran dan kabut asap: Solusi lestari bagi lahan gambut Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Api dalam pertanian bisa disebut berkah. Sebagai sebuah cara efektif bagi petani kecil, api menjadi kunci produksi pangan selama ratusan tahun. Pada tahun 2000, pembakaran vegetasi mencapai 350 Mha \u2013 atau sekitar 3% area lahan dunia \u2013 sebagian besar terjadi di Sub-Sahara Afrika. Manfaat api harus diakui. Tata kelola pembakaran yang baik memiliki peran penting [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/36963\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2015-10-29T07:38:31+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/10\/Farmer-and-haze.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"332\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Peter Holmgren\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/36963\\\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/36963\\\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia\"},\"author\":{\"name\":\"Peter Holmgren\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4c6a8d0ab7b85160a0d57a15381a8122\"},\"headline\":\"Mencegah kebakaran dan kabut asap: Solusi lestari bagi lahan gambut Indonesia\",\"datePublished\":\"2015-10-29T07:38:31+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/36963\\\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia\"},\"wordCount\":769,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/36963\\\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/10\\\/Farmer-and-haze.jpg\",\"articleSection\":[\"Peatlands\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/36963\\\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2015\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/36963\\\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/36963\\\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia\",\"name\":\"Mencegah kebakaran dan kabut asap: Solusi lestari bagi lahan gambut Indonesia - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/36963\\\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/36963\\\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/10\\\/Farmer-and-haze.jpg\",\"datePublished\":\"2015-10-29T07:38:31+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/36963\\\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/36963\\\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/36963\\\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/10\\\/Farmer-and-haze.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/10\\\/Farmer-and-haze.jpg\",\"width\":500,\"height\":332,\"caption\":\"Kecil kawan besar menjadi lawan. Membakar lahan dengan api adalah cara efektif dan murah bagi petani kecil. Api menjadi kunci produksi pangan selama ratusan tahun. Aulia Erlangga\\\/CIFOR\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/36963\\\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mencegah kebakaran dan kabut asap: Solusi lestari bagi lahan gambut Indonesia\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/36963\\\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/36963\\\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4c6a8d0ab7b85160a0d57a15381a8122\",\"name\":\"Peter Holmgren\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/aa69ea55c5eb3ce7e51b7a48f9770470173b080e13f619a8240df8f0566c2ccb?s=96&d=mm&r=g0c3481ae3266f4336ce557c5eb1271ec\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/aa69ea55c5eb3ce7e51b7a48f9770470173b080e13f619a8240df8f0566c2ccb?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/aa69ea55c5eb3ce7e51b7a48f9770470173b080e13f619a8240df8f0566c2ccb?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Peter Holmgren\"},\"description\":\"Dr. Peter Holmgren was the Director General of the Center for International Forestry Research (CIFOR) from 2012 to October 2017. Under his leadership, CIFOR updated its strategy in 2016, emphasizing the role of forestry in achieving each of the 17 Sustainable Development Goals. Dr. Holmgren has a PhD in Forestry and 26 years of experience in international forestry and agriculture. Prior to CIFOR, Dr. Holmgren worked at the Food and Agriculture Organization (FAO), where he led FAO\u2019s work on climate change and its contributions to the UNFCCC process. While at FAO he also coordinated the Global Forest Resources Assessment, played a leading role in establishing the UN-REDD program and led the development of the Climate Smart Agriculture concept. Dr. Holmgren is credited for leading the dialogue to enhance and broaden the role of forestry in the Global Development Agenda to address the major challenges of our time: poverty, food security, climate change and green economy. An early champion of the landscape approach, Dr. Holmgren launched the Global Landscapes Forum, which is today the world\u2019s largest conference on integrated land use.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/peter-holmgren\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/36963\\\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Mencegah kebakaran dan kabut asap: Solusi lestari bagi lahan gambut Indonesia - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/36963\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Mencegah kebakaran dan kabut asap: Solusi lestari bagi lahan gambut Indonesia","og_description":"Api dalam pertanian bisa disebut berkah. Sebagai sebuah cara efektif bagi petani kecil, api menjadi kunci produksi pangan selama ratusan tahun. Pada tahun 2000, pembakaran vegetasi mencapai 350 Mha \u2013 atau sekitar 3% area lahan dunia \u2013 sebagian besar terjadi di Sub-Sahara Afrika. Manfaat api harus diakui. Tata kelola pembakaran yang baik memiliki peran penting [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/36963\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2015-10-29T07:38:31+00:00","og_image":[{"width":500,"height":332,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/10\/Farmer-and-haze.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Peter Holmgren","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/36963\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/36963\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia"},"author":{"name":"Peter Holmgren","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4c6a8d0ab7b85160a0d57a15381a8122"},"headline":"Mencegah kebakaran dan kabut asap: Solusi lestari bagi lahan gambut Indonesia","datePublished":"2015-10-29T07:38:31+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/36963\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia"},"wordCount":769,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/36963\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/10\/Farmer-and-haze.jpg","articleSection":["Peatlands"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/36963\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia#respond"]}],"copyrightYear":"2015","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/36963\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/36963\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia","name":"Mencegah kebakaran dan kabut asap: Solusi lestari bagi lahan gambut Indonesia - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/36963\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/36963\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/10\/Farmer-and-haze.jpg","datePublished":"2015-10-29T07:38:31+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/36963\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/36963\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/36963\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/10\/Farmer-and-haze.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/10\/Farmer-and-haze.jpg","width":500,"height":332,"caption":"Kecil kawan besar menjadi lawan. Membakar lahan dengan api adalah cara efektif dan murah bagi petani kecil. Api menjadi kunci produksi pangan selama ratusan tahun. Aulia Erlangga\/CIFOR"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/36963\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mencegah kebakaran dan kabut asap: Solusi lestari bagi lahan gambut Indonesia"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/36963\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/36963\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4c6a8d0ab7b85160a0d57a15381a8122","name":"Peter Holmgren","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/aa69ea55c5eb3ce7e51b7a48f9770470173b080e13f619a8240df8f0566c2ccb?s=96&d=mm&r=g0c3481ae3266f4336ce557c5eb1271ec","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/aa69ea55c5eb3ce7e51b7a48f9770470173b080e13f619a8240df8f0566c2ccb?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/aa69ea55c5eb3ce7e51b7a48f9770470173b080e13f619a8240df8f0566c2ccb?s=96&d=mm&r=g","caption":"Peter Holmgren"},"description":"Dr. Peter Holmgren was the Director General of the Center for International Forestry Research (CIFOR) from 2012 to October 2017. Under his leadership, CIFOR updated its strategy in 2016, emphasizing the role of forestry in achieving each of the 17 Sustainable Development Goals. Dr. Holmgren has a PhD in Forestry and 26 years of experience in international forestry and agriculture. Prior to CIFOR, Dr. Holmgren worked at the Food and Agriculture Organization (FAO), where he led FAO\u2019s work on climate change and its contributions to the UNFCCC process. While at FAO he also coordinated the Global Forest Resources Assessment, played a leading role in establishing the UN-REDD program and led the development of the Climate Smart Agriculture concept. Dr. Holmgren is credited for leading the dialogue to enhance and broaden the role of forestry in the Global Development Agenda to address the major challenges of our time: poverty, food security, climate change and green economy. An early champion of the landscape approach, Dr. Holmgren launched the Global Landscapes Forum, which is today the world\u2019s largest conference on integrated land use.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/peter-holmgren"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/36963\/mencegah-kebakaran-dan-kabut-asap-solusi-lestari-bagi-lahan-gambut-indonesia#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/10\/Farmer-and-haze.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36963","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/71"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=36963"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36963\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/36973"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=36963"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=36963"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=36963"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=36963"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=36963"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=36963"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=36963"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=36963"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=36963"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=36963"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=36963"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=36963"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=36963"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}