{"id":32886,"date":"2015-09-01T10:13:53","date_gmt":"2015-09-01T03:13:53","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=32886"},"modified":"2018-02-07T15:51:24","modified_gmt":"2018-02-07T08:51:24","slug":"politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/32886\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang","title":{"rendered":"Politik ekonomi kebakaran dan asap: Melangkah ke solusi jangka panjang"},"content":{"rendered":"<p>Lima puluh tahun lalu, Indonesia kaya dengan hutan lebat.<\/p>\n<p>Dan kemudian bum!<\/p>\n<p>Antara 1980 dan 2000 \u2013 ledakan penebangan kayu terjadi. Diikuti dengan penebangan kayu ilegal \u2013 selanjutnya, ledakan lain dalam 10 tahun sejak 2000, dan kemudian ledakan sawit mengikuti.<\/p>\n<p>Hutan primer yang lebat  digunduli dan berubah menjadi hutan terdegradasi, kemudian ditebang dan dibakar, disiapkan untuk perkebunan sawit dan kayu dengan skala berbeda.<\/p>\n<p>Transformasi bentang alam ini memberi manfaat dan kerugian bagi aktor berbeda. Tetapi <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/fire\/#.VdvhDaCqqko\">kebakaran dan asap<\/a> menjadi bagian transformasi bentang alam.<\/p>\n<p>Pemerintahan Presiden Joko Widodo, Indonesia berkomitmen mengurangi \u2013 atau bahkan menihilkan \u2013 kejadian kebakaran di Indonesia. Dan walaupun beberapa peningkatan dibuat, kebakaran dan asap berlanjut.<\/p>\n<p>Tahun ini, Indonesia menghadapi <a href=\"http:\/\/www.elnino.noaa.gov\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">El Ni\u00f1o,<\/a> yang akan menyebabkan cuaca lebih kering dan meningkatkan kejadian kebakaran dan asap.<\/p>\n<p>Solusi diperlukan, karena aksi selama ini sebagian besar memerangi kebakaran dan tidak secara sistematis mentautkannya dengan politik dan ekonomi kebakaran.<\/p>\n<blockquote><p><em>El Nino menyebabkan cuaca lebih kering dan bisa meningkatkan intensitas kebakaran dan asap<\/em><\/p><\/blockquote>\n<p>Mengkaji kebijakan dan perundangan kebakaran (yang berjalan maupun yang tidak) memetakan aktor, jejaring dan ekonomi, menyediakan peta tata ruang yang jelas dan transparan, serta melibatkannya dengan pembuat kebijakan dan praktisi kunci adalah jalan penting mengurangi kebakaran dan asap.<\/p>\n<p><strong>DIPERLUKAN RENCANA TATA RUANG<\/strong><\/p>\n<p>Tidak jelasnya rencana tata ruang berpengaruh dalam menghambat upaya penurunan kebakaran.<\/p>\n<p>Pada temu konsultatif pemangku kepentingan di Pekanbaru pada 25 Maret, perlunya memiliki kesepakatan dan rencana tata ruang yang bisa ditegakkan menjadi catatan khusus.<\/p>\n<p>Namun, ini tidaklah cukup.<\/p>\n<p>Semua pemangku kepentingan perlu kembali duduk dan mendiskusikan <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/25057\/colupsia-project-forests-land-use-spatial-planning#.VdvfaqCqqko\">pemetaan tata ruang<\/a> dan mencoba mencapai kesepakatan. Menegosiasikan kepentingan konservasi, legalitas, bisnis, penghidupan lokal, reduksi emisi karbon dll. sangat penting, seraya juga memahami solusi \u201cideal\u201d mungkin tidak ada.<\/p>\n<p>Ketika mendiskusikan sejarah wilayah terdegradasi, negosiasi seharusnya mendiskusikan tidak hanya <strong><em>ruang<\/em><\/strong> tetapi juga <strong><em>durasi<\/em><\/strong>. Misalnya, sebuah wilayah yang dikonversi secara ilegal dari wilayah konservasi menjadi sawit, bisa tetap sawit untuk beberapa tahun tertentu untuk mengkompensasi investasi sektor swasta atau masyarakat lokal.<\/p>\n<blockquote><p><em>Perlu untuk duduk bersama menegoisasikan kepentingan konservasi, legalitas, bisnis, penghidupan lokal, pengurangan emisi karbon mencapai kesepakatan <\/em><\/p><\/blockquote>\n<p>Namun, setelah periode waktu terencana ada waktu merestorasi menjadi hutan.<\/p>\n<p>Transaksi lahan ilegal dapat, dan memang terjadi dalam lahan konsesi dan lahan negara, ketika wilayah itu tidak benar-benar diamankan. Tuntutan ekonomi untuk lahan terdegradasi, terbakar dan sawit merupakan penyebab besar transformasi hutan primer menjadi perkebunan tanaman yang memberi manfaat besar bagi aktor tertentu.<\/p>\n<p>Pemerintah perlu menciptakan disinsentif terhadap kebutuhan lahan terdegradasi, terbakar dan tertanami sawit dengan menetapkan standar legalitas atas lahan yang telah dijual.<\/p>\n<p><strong>MENGHENTIKAN AKTIVITAS ILEGAL<\/strong><\/p>\n<p>Mendeteksi, mengantisipasi dan menindak kejahatan terorganisasi yang terlibat dalam transaksi lahan ilegal penyebab kebakaran dan asap harus dilakukan oleh institusi hukum. Pada saat yang sama, melatih polisi, jaksa dan hakim terkait hukum hutan dan lingkungan harus dilakukan.<\/p>\n<p>Presiden Joko Widodo telah menetapkan satuan tugas untuk menyelesaikan konflik hutan di Indonesia.<\/p>\n<p>Satuan tugas akan merupakan kolaborasi antara Kementerian Lingkungan Hidup and Kehutanan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Agraria, serta <a href=\"http:\/\/jakartaglobe.beritasatu.com\/news\/kpk-govt-form-joint-forestry-task-force\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). <\/a>Untuk menjamin keberhasilan satuan tugas ini, kesadaran publik melalui media massa dan media sosial mengenai pentingnya mengurangi kebakaran dan asap diperlukan.<\/p>\n<p><strong>MENCEGAH DEGRADASI GAMBUT<\/strong><\/p>\n<p>Degradasi gambut adalah sumber utama emisi karbon Indonesia akibat kebakaran. Gambut tidak hanya soal ekosistem berharga, tetapi juga soal orang yang tinggal di sana.<\/p>\n<p>Untuk mengurangi kebakaran lahan gambut, kita perlu segera mengembangkan penghidupan dan sumber penghasilan bagi masyarakat asli dan lokal yang tinggal di lahan terdegradasi. Ini mencakup tanaman tahunan, hortikultur, agroforestri dan penanaman pohon sesui dengan kedalaman gambut, dan terkait industri skala kecil sepanjang rantai nilai.<\/p>\n<p>Pada saat yang sama, masyarakat yang tinggal di lahan gambut yang baik juga perlu bantuan mengembangkan penghidupan dan sumber penghasilan mereka \u2013 melalui bantuan <a href=\"\/\/www.cifor.org\/project-websites\/payment-environmental-services\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">pembayaran jasa lingkungan<\/a> dan <a href=\"http:\/\/www.un-redd.org\/aboutredd\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">REDD+<\/a>.<\/p>\n<blockquote><p><em>Untuk mengurangi kebakaran lahan gambut, kita perlu segera mengembangkan penghidupan dan sumber penghasilan bagi masyarakat asli dan lokal yang tinggal di lahan terdegradasi<\/em><\/p><\/blockquote>\n<p>Memperkuat dan menyediakan dukungan finansial untuk organisasi akar rumput seperti <a href=\"http:\/\/gunungleuser.or.id\/pengendalian-kebakaran\/masyarakat-peduli-api\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><em>Masyarakat Peduli Api<\/em><\/a> akan menjamin efektivitas mereka mendukung deteksi kebakaran dan sistem peringatan dini.<\/p>\n<p>Inisiatif lokal pada level skala-mikro seharusnya merestorasi lahan gambut dengan membendung kanal, membasahi gambut dan menanam <a href=\"http:\/\/www.frim.gov.my\/jelutong-the-local-latex-tree\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><em>Jelutung<\/em><\/a>, karet dan nanas.<\/p>\n<p>Meningkatkannya pada <a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/4448\/combining-hydrological-modeling-and-gis-approaches-to-determine-the-spatial-distribution-of-groundwater-recharge-in-an-arid-irrigation-scheme\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">level bentang alam atau unit hidrologi<\/a> akan memerlukan pemikiran lebih dalam dan pendekatan multi-pemangku kepentingan karena air adalah sumber langka dan dapat menjadi sumber konflik di musim kering.<\/p>\n<p>Merencanakan dan mengeksekusi manajemen level air dalam skala lanskap melalui \u2013 antara lain aksi \u2013 <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/25554\/for-redd-initiative-in-central-kalimantan-politics-in-the-peatlands#.Vdvlu6Cqqko\">bendung kanal<\/a>, akan menjamin keadilan baik bagi aktor skala kecil maupun besar.<\/p>\n<p>Pembangunan masyarakat dan penghidupannya peru ditempatkan untuk melanggengkan restorasi gambut. Berbagi praktik terbaik inisiatif lokal dan sektor swasta dalam restorasi ekosistem gambut serta mendorong adopsi praktik tersebut akan membantu menciptakan keseragaman.<\/p>\n<p>Akhirnya, mengurangi kebakaran dan asap tidak hanya sebuah daftar \u201cTINDAKAN\u201d yang harus diikuti seperti dipaparkan di atas, tetapi juga BAGAIMANA melakukannya dan SIAPA yang seharusnya melakukan itu.<\/p>\n<p><strong>BAGAIMANA DAN SIAPA<\/strong><\/p>\n<p>Kita dapat menggunakan<a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/23834\/landscape-approach-defies-simple-definition-and-thats-good#.VdrdQqCqqko\"> \u2018pendekatan bentang alam\u2019<\/a> untuk menyatukan pertanian, konservasi, dan perebutan penggunaan lahan lain untuk menjawab pertanyaan BAGAIMANA.<\/p>\n<p>Dalam pendekatan ini, pemerintah, petani kecil dan pemangku kepentingan lain akan terpanggil untuk mempertimbangkan keragaman tujuan mereka dalam bentang alam, <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/25043\/negotiating-the-landscape-approach-holmgren#.VFim6_SUdV\">memahami penyebab, menyusun prioritas,<\/a> bertindak dan memantau kemajuan.<\/p>\n<p>Memahami SIAPA sejatinya adalah \u201cpemangku kepentingan kebakaran\u201d sebagai kunci menuju keberhasilan pendekatan bentang alam. Pendekatan ini akan dipandu oleh <a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/4136\/ten-principles-for-a-landscape-approach-to-reconciling-agriculture-conservation-and-other-competing-land-uses\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">sepuluh prinsip pendekatan bentang<\/a> alam, yang menekankan manajemen adaptif, pelibatan pemangku kepentingan dan keberagaman tujuan.<\/p>\n<p>Aksi bersama di antara negara anggota <a href=\"http:\/\/www.asean.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">ASEAN<\/a> \u2013 untuk mengurangi <a href=\"http:\/\/www.asean.org\/archive\/pdf\/fsh.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">kebakaran dan asap<\/a> melalui dialog berlanjut, pengumpulan dana dan aksi nyata di lapangan \u2013 perlu dilakukan untuk merealisasikan visi ASEAN bebas-asap 2020.<\/p>\n<p>Akhirnya, berpikir global, mengaitkan dengan pencapaian <a href=\"https:\/\/sustainabledevelopment.un.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs)<\/a> diperlukan untuk mendapat dukungan masyarakat nasional dan internasional.<\/p>\n<p><strong>Herry Purnomo adalah ilmuwan berbasis di CIFOR di Bogor. Untuk informasi lebih jauh mengenai kebakaran dan asap Indonesia, silahkan hubungi <\/strong><a href=\"mailto:h.purnomo@cgiar.org\"><strong>h.purnomo@cgiar.org<\/strong><\/a><\/p>\n<p><em>Penelitian CIFOR mengenai kebakaran di Indonesia didukung oleh DFID dan menjadi bagian dari <\/em><a href=\"http:\/\/www.foreststreesagroforestry.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><em>Program Penelitian CGIAR mengenai Hutan, Pohon dan Agroforestri<\/em><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lima puluh tahun lalu, Indonesia kaya dengan hutan lebat. Dan kemudian bum! Antara 1980 dan 2000 \u2013 ledakan penebangan kayu terjadi. Diikuti dengan penebangan kayu ilegal \u2013 selanjutnya, ledakan lain dalam 10 tahun sejak 2000, dan kemudian ledakan sawit mengikuti. Hutan primer yang lebat digunduli dan berubah menjadi hutan terdegradasi, kemudian ditebang dan dibakar, disiapkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":147,"featured_media":35801,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,182,161,137,173,13,95,1072,151],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[2522,2531,2906,2721,2548,2616,2520,2680,2622,2626,2630,2806],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3087],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[1632],"class_list":["post-32886","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-community-forestry","category-deforestation","category-forest-management-restoration","category-gender-justice-tenure","category-governance","category-human-wellbeing","category-landscapes","category-redd-2","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-deforestasi","tag-bahasa-ekonomi","tag-bahasa-herry-purnomo","tag-bahasa-indonesia","tag-bahasa-kebakaran-hutan","tag-bahasa-kelapa-sawit","tag-bahasa-konservasi","tag-bahasa-lahan-basah","tag-bahasa-lahan-gambut","tag-bahasa-perkebunan","tag-bahasa-politik","tag-bahasa-provinsi-riau","type-bahasa-analisis"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Politik ekonomi kebakaran dan asap: Melangkah ke solusi jangka panjang - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/32886\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Politik ekonomi kebakaran dan asap: Melangkah ke solusi jangka panjang\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Lima puluh tahun lalu, Indonesia kaya dengan hutan lebat. Dan kemudian bum! Antara 1980 dan 2000 \u2013 ledakan penebangan kayu terjadi. Diikuti dengan penebangan kayu ilegal \u2013 selanjutnya, ledakan lain dalam 10 tahun sejak 2000, dan kemudian ledakan sawit mengikuti. Hutan primer yang lebat digunduli dan berubah menjadi hutan terdegradasi, kemudian ditebang dan dibakar, disiapkan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/32886\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2015-09-01T03:13:53+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-02-07T08:51:24+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/09\/land-clearing_bhs.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"681\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Herry Purnomo\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/32886\\\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/32886\\\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang\"},\"author\":{\"name\":\"Herry Purnomo\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/88063a0cf65c7a301de7240fe11a440b\"},\"headline\":\"Politik ekonomi kebakaran dan asap: Melangkah ke solusi jangka panjang\",\"datePublished\":\"2015-09-01T03:13:53+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:51:24+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/32886\\\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang\"},\"wordCount\":958,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/32886\\\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/09\\\/land-clearing_bhs.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Community forestry\",\"Deforestation\",\"Forest management &amp; restoration\",\"Gender, justice &amp; tenure\",\"Governance\",\"Human well-being\",\"Landscapes\",\"REDD+\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/32886\\\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2015\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/32886\\\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/32886\\\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang\",\"name\":\"Politik ekonomi kebakaran dan asap: Melangkah ke solusi jangka panjang - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/32886\\\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/32886\\\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/09\\\/land-clearing_bhs.jpg\",\"datePublished\":\"2015-09-01T03:13:53+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:51:24+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/32886\\\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/32886\\\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/32886\\\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/09\\\/land-clearing_bhs.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/09\\\/land-clearing_bhs.jpg\",\"width\":1024,\"height\":681,\"caption\":\"Memadamkan kebakaran hutan bukan sekedar mengerahkan tenaga teknis ke lapangan dan menciptakan hujan buatan. Foto @CIFOR\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/32886\\\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Politik ekonomi kebakaran dan asap: Melangkah ke solusi jangka panjang\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/32886\\\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/32886\\\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/88063a0cf65c7a301de7240fe11a440b\",\"name\":\"Herry Purnomo\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/cfebbea0238fd78c5af9ad2a66ba4fe4c453df1aada6223397de2c9840739487?s=96&d=mm&r=g0ed1c00a9181b5d67090c8efd5d682a0\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/cfebbea0238fd78c5af9ad2a66ba4fe4c453df1aada6223397de2c9840739487?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/cfebbea0238fd78c5af9ad2a66ba4fe4c453df1aada6223397de2c9840739487?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Herry Purnomo\"},\"description\":\"Herry Purnomo has a PhD in forest management and policy (2002) and a BSc in agricultural meteorology from Bogor Agricultural University, as well as an MSc in computer science from a joint programme between the University of Indonesia and the University of Maryland, USA. He conducts research on criteria and indicators of sustainable forest management, adaptive collaborative management of forest, company\u2013community partnership, forest governance, mitigation (REDD+), adaptation to climate change and furniture value chains. Purnomo has participated in scientific conferences, workshops and seminars and has visited forests in Asia, Africa, Europe, Australia and South America.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/herry-purnomo\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/32886\\\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Politik ekonomi kebakaran dan asap: Melangkah ke solusi jangka panjang - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/32886\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Politik ekonomi kebakaran dan asap: Melangkah ke solusi jangka panjang","og_description":"Lima puluh tahun lalu, Indonesia kaya dengan hutan lebat. Dan kemudian bum! Antara 1980 dan 2000 \u2013 ledakan penebangan kayu terjadi. Diikuti dengan penebangan kayu ilegal \u2013 selanjutnya, ledakan lain dalam 10 tahun sejak 2000, dan kemudian ledakan sawit mengikuti. Hutan primer yang lebat digunduli dan berubah menjadi hutan terdegradasi, kemudian ditebang dan dibakar, disiapkan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/32886\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2015-09-01T03:13:53+00:00","article_modified_time":"2018-02-07T08:51:24+00:00","og_image":[{"width":1024,"height":681,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/09\/land-clearing_bhs.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Herry Purnomo","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/32886\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/32886\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang"},"author":{"name":"Herry Purnomo","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/88063a0cf65c7a301de7240fe11a440b"},"headline":"Politik ekonomi kebakaran dan asap: Melangkah ke solusi jangka panjang","datePublished":"2015-09-01T03:13:53+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:51:24+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/32886\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang"},"wordCount":958,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/32886\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/09\/land-clearing_bhs.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Community forestry","Deforestation","Forest management &amp; restoration","Gender, justice &amp; tenure","Governance","Human well-being","Landscapes","REDD+"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/32886\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang#respond"]}],"copyrightYear":"2015","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/32886\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/32886\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang","name":"Politik ekonomi kebakaran dan asap: Melangkah ke solusi jangka panjang - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/32886\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/32886\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/09\/land-clearing_bhs.jpg","datePublished":"2015-09-01T03:13:53+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:51:24+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/32886\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/32886\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/32886\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/09\/land-clearing_bhs.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/09\/land-clearing_bhs.jpg","width":1024,"height":681,"caption":"Memadamkan kebakaran hutan bukan sekedar mengerahkan tenaga teknis ke lapangan dan menciptakan hujan buatan. Foto @CIFOR"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/32886\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Politik ekonomi kebakaran dan asap: Melangkah ke solusi jangka panjang"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/32886\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/32886\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/88063a0cf65c7a301de7240fe11a440b","name":"Herry Purnomo","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/cfebbea0238fd78c5af9ad2a66ba4fe4c453df1aada6223397de2c9840739487?s=96&d=mm&r=g0ed1c00a9181b5d67090c8efd5d682a0","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/cfebbea0238fd78c5af9ad2a66ba4fe4c453df1aada6223397de2c9840739487?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/cfebbea0238fd78c5af9ad2a66ba4fe4c453df1aada6223397de2c9840739487?s=96&d=mm&r=g","caption":"Herry Purnomo"},"description":"Herry Purnomo has a PhD in forest management and policy (2002) and a BSc in agricultural meteorology from Bogor Agricultural University, as well as an MSc in computer science from a joint programme between the University of Indonesia and the University of Maryland, USA. He conducts research on criteria and indicators of sustainable forest management, adaptive collaborative management of forest, company\u2013community partnership, forest governance, mitigation (REDD+), adaptation to climate change and furniture value chains. Purnomo has participated in scientific conferences, workshops and seminars and has visited forests in Asia, Africa, Europe, Australia and South America.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/herry-purnomo"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/32886\/politik-ekonomi-kebakaran-dan-asap-melangkah-ke-solusi-jangka-panjang#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/09\/land-clearing_bhs.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32886","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/147"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=32886"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32886\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/35801"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=32886"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=32886"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=32886"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=32886"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=32886"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=32886"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=32886"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=32886"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=32886"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=32886"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=32886"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=32886"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=32886"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}